Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH KARYA TULIS ILMIAH

REKAYASA IDE K3

USAHA MENCIPTAKAN KESEHATAN KESELAMATAN


KERJA

YANG DISUSUN OLEH:

LIONA RAMADANI F.

REZA PAHLEVI

WAN DANIEL
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai salah satu aspek perlindungan
tenaga kerja yang sarat dengan muatan Hak Azasi Manusia (HAM) termasuk salah
satu syarat dalam memenuhi tuntutan globalisasi dunia sehingga K3 perlu mendapat
perhatian kita untuk lebih dimasyarakatkan kepada seluruh dunia usaha dan unsur
terkait lainnya. Pengembangan dan peningkatan K3 di sector kesehatan perlu
dilakukan dalam rangka menekan serendah mungkin resiko kecelakaan dan
penyakit yang timbul akibat hubungan kerja untuk meningkatkan produktivitas dan
efisiensi kerja.
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara
umum diperkirakan termasuk rendah. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan
daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah.
Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan
pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Hal tersebut perlu
didukung dengan tenaga kerja yang kompeten. Oleh karena itu, disamping
perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau
aturan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Nuansanya harus bersifat
manusiawi atau bermartabat.

1.1 Identifikasi
Penulisan makalah mengenai keselamatan dan kesehatan kerja, dimaksudkan
untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang keselamatan dan kesehatan kerja
(K3). Berdasarkan hal tersebut, penulisan dirumuskan seperti dibawah ini.

1. Apa pengertian keselamatan dan kesehatan kerja (K3) itu?


2. Bagaimana lingkungan kerja yang aman dan sehat?
3. Apa sifat dan peran K3?
4. Apa job hazard analysis itu?
5. Hal-hal apa saja yang berhubungan dengan pelaksanaan K3 di PT Aura Sakti?
6. Permasalahan dan rekomendasi apa saja yang terdapat pada PT Aura Sakti?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


2.1.1 Keselamatan Kerja
Menurut Mondy dan Noe (2005:360) keselamatan kerja adalah
perlindungan karyawan dari luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang
terkait dengan pekerjaan. Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari
lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik,
terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan
pendengaran. Menurut Mangkunegara (2008:162) faktor-faktor penyebab
terjadinya kecelakaan kerja, yaitu:
1. Keadaan Tempat Lingkungan Kerja
a. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang
diperhitungkan keamanannya.
b. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
c. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
2. Pengaturan Udara
a. Pergantian udara di ruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor, berdebu,
dan berbau tidak enak).
b. Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya.
3. Pengaturan Penerangan
a. Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
b. Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.
4. Pemakaian Peralatan Kerja
a. Pengamanan peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
b. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengamanan yang baik.
5. Kondisi Fisik dan Mental Pegawai
a. Stamina pegawai yang tidak stabil.
b. Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang rapuh, cara berpikir
dan kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pegawai yang
ceroboh, kurang cermat, dan kurang pengetahuan dalam penggunaan fasilitas kerja
terutama fasilitas kerja yang membawa risiko bahaya.
Pendapat Dessler (2007:278) tidak jauh berbeda, kondisi tidak aman merupakan
alasan utama dari kecelakaan. Termasuk faktor-faktor seperti:
a. Peralatan yang tidak terjaga dengan baik.
b. Peralatan rusak.
c. Prosedur yang berbahaya di dalam, pada, atau di sekitar mesin atau peralatan.
d. Penyimpanan yang tidak aman-kepadatan dan kelebihan beban.
e. Penerangan yang tidak tepat-cahaya yang menyorot, tidak cukup penerangan
f. Ventilasi yang tidak baik-pertukaran udara yang tidak cukup, sumber udara yang
tidak murni.
Menurut Fathoni (2003:170) pencegahan yang harus dilakukan untuk
menghindari kecelakaaan antara lain mencakup tindakan:
a. Memperhatikan faktor-faktor keselamatan kerja.
b. Melakukan pengawasan yang teratur.
c. Melakukan tindakan koreksi terhadap kejadian, dan
d. Melaksanakan program diklat keselamatan kerja dan menghindari cara kecelakaan
dan menghadapi kemungkinan timbulnya kecelakaan.

2.1.2 Kesehatan Kerja


Menurut Mondy dan Noe (2005:360) kesehatan kerja adalah kebebasan dari
kekerasan fisik. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja
yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat
membuat stres emosi atau gangguan fisik.
Kesehatan pekerja bisa terganggu karena penyakit, stres, maupun karena
kecelakaan. Program kesehatan yang baik akan menguntungkan para pekerja secara
material, selain itu mereka dapat bekerja dalam lingkungan yang lebih nyaman,
sehingga secara keseluruhan para pekerja akan dapat bekerja secara lebih produktif.
Menurut Mondy dan Noe (2005) terdapat beberapa program kesehatan yang dapat
dilakukan oleh perusahaan, diantaranya sebagai berikut:
a. Manajemen stres,
b. Program kebugaran fisik, dan
c. Program penanggulangan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.

2.2 Lingkungan Kerja yang Aman dan Sehat


Menurut Mondy dan Noe (2005) perusahaan dapat menciptakan lingkungan
kerja yang aman dan sehat dengan cara menurunkan tingkat dan beratnya
kecelakaan-kecelakaan kerja, penyakit, dan hal-hal yang berkaitan dengan stres,
serta mampu meningkatkan kualitas kehidupan kerja para pekerjanya, perusahaan
akan semakin efektif. Peningkatan-peningkatan terhadap hal ini akan menimbulkan
manfaat. Menurut Mondy dan Noe (2005) manfaat lingkungan kerja yang aman dan
sehat antara lain.
1. Meningkatnya produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang.
2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih berkomitmen.
3. Menurunnya biaya-baya kesehatan.

2.3 Sifat dan Peran K3


Menurut Mondy dan Noe (2005), keselamatan kerja meliputi melindungi
karyawan dari cedera akibat kecelakaan kerja. Kesehatan disini meliputi bebas dari
penyakit fisik atau emosional. Masalah yang terjadi pada bidang ini akan
mempengaruhi produktivitas kerja dan kualitas hidup. Akibatnya, secara drastis
menurunkan efektivitas kerja dari perusahaan dan karyawan.
Meskipun manajer utama bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan
kesehatan di lingkungan kerja, manajer sumber daya manusia yang profesional
menyediakan staf ahli untuk membantu mereka dalam menangani masalah ini.
Selain itu, manajer sumber daya manusia bertanggung jawab untuk melakukan
koordinasi dan monitoring program keselamatan dan kesehatan di lingkungan kerja.
2.4 Job Hazard Analysis
Menurut Chao & Henshaw (2002:6) Job Hazard Analysis adalah teknik
yang berfokus pada tugas suatu pekerjaan sebagai cara untuk mengidentifikasi
bahaya sebelum bahaya tersebut terjadi. Ini berfokus pada hubungan antara pekerja,
tugas/pekerjaan yang diberikan, alat, dan lingkungan kerja. Job Hazard Analysis
merupakan salah satu komponen dari komitmen yang lebih besar dari sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan. Menurut Chao & Henshaw (2002:8) dapat
dilakukan diberbagai jenis pekerjaan. Prioritas utama berada pada beberapa tipe
pekerjaan, yaitu:
a. Pekerjaan dengan tingkat cedera atau sakit yang tinggi,
b. Pekerjaan yang berpotensi menyebabkan cedera atau sakit parah, bahkan jika tidak
ada sejarah kecelakaan sebelumnya,
c. Pekerjaan yang mana terdapat adanya kesalahan manusia yang bersifat sederhana
yang dapat mengakibatkan kecelakaan atau cedera parah,
d. Pekerjaan yang operasionalnya bersifat baru atau telah mengalami perubahan
dalam proses dan prosedur, dan
e. Pekerjaan yang cukup rumit serta membutuhkan petunjuk yang bersifat tertulis.
Menurut Chao & Henshaw (2002:8) pekerjaan-pekerjaan berbahaya yang
mendatangkan sebagian besar kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja dapat
dijumpai pada:
(1) sektor pertanian,
(2) konstruksi,
(3) pertambangan,
(4) kehutanan, dan
(5) perikanan.
Di kelima sektor inilah sering kali didapati industri-industri dengan tingkat
risiko bahaya kerja yang paling tinggi. Bersama dengan sektor perminyakan, kelima
sektor tersebut memberikan kontribusi yang sangat penting bagi perekonomian
Indonesia. (Chao & Henshaw: 2002)
Menurut Chao & Henshaw (2002:9) hal-hal yang perlu dilakukan dalam job
hazard analysis, diantaranya:
1) Melibatkan Karyawan.
Hal ini sangat penting untuk melibatkan karyawan dalam proses job hazard
analysis. Mereka memiliki pemahaman yang unik atas pekerjaannya, dan hal
tersebut merupakan informasi yang tak ternilai untuk menemukan suatu bahaya.

2) Mengulas Sejarah Kecelakaan Sebelumnya.


Mengulas dengan karyawan mengenai sejarah kecelakaan dan cedera yang pernah
terjadi, serta kerugian yang ditimbulkan, bersifat penting. Hal ini merupakan
indikator utama dalam menganalisis bahaya yang mungkin akan terjadi di
lingkungan kerja
3) Melakukan Tinjauan Ulang Persiapan Pekerjaan.
Diskusikan dengan karyawan mengenai bahaya yang ada dan mereka ketahui di
lingkungan kerja. Lakukan brainstorm dengan pekerja untuk menemukan ide atau
gagasan yang bertujuan untuk mengeliminasi atau mengontrol bahaya yang ada.
4) Membuat Daftar, Peringkat, dan Menetapkan Prioritas untuk Pekerjaan
Berbahaya.
Membuat daftar pekerjaan yang berbahaya dengan risiko yang tidak dapat diterima
atau tinggi, berdasarkan yang paling mungkin terjadi dan yang paling tinggi tingkat
risikonya. Hal ini merupakan prioritas utama dalam melakukan job hazard analysis.
5) Membuat Outline Langkah-langkah Suatu Pekerjaan.
Tujuan dari hal ini adalah agar karyawan mengetahui langkah-langkah yang harus
dilakukan dalam mengerjakan suatu pekerjaan, sehingga kecelakaan kerja dapat
diminimalisir.

2.5 Hal-hal yang Berhubungan dengan Pelaksanaan K3 di PT


RAPALA
Ada beberapa hal penting yang harus mendapatkan perhatian sehubungan
dengan pelaksanaan K3 PT yang pada dasarnya harus memperhatikan 2 (dua) hal
yaitu indoor dan outdoor, yang kalau diurai seperti dibawah ini :
Konsturksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya
Terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanaanya.
jaringan elektrik dan komunikasi.
kualitas udara.
kualitas pencahayaan.
Kebisingan.
Display unit (tata ruang dan alat).
Hygiene dan sanitasi.
Psikososial.
Pemeliharaan.
Penggunaan Komputer.

2.6 Permasalahan dan rekomendasi apa saja yang terdapat pada


PT RAPALA?
1. Konstruksi gedung:
Disain arsitektur (aspek K3 diperhatikan mulai dari tahap perencanaan)
Seleksi material, misalnya tidak menggunakan bahan yang membahayakan
seperti asbes dll.
Seleksi dekorasi disesuaikan dengan asas tujuannya misalnya penggunaan warna
yang disesuaikan dengan kebutuhan.

2. Kualitas Udara :
Kontrol terhadap temperatur ruang dengan memasang termometer ruangan.
Sistim ventilasi dan pengaturan suhu udara dalam ruang (lokasi udara masuk,
ekstraksi udara, filtrasi, pembersihan dan pemeliharaan secara berkala filter AC)
minimal setahun sekali, kontrol mikrobiologi serta distribusi udara untuk
pencegahan penyakit "Legionairre Diseases ".
Kontrol terhadap linkungan (kontrol di dalam/diluar kantor).
Misalnya untuk indoor: penumpukan barang-barang bekas yang menimbulkan
debu, bau dll.
Outdoor: disain dan konstruksi tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan
dan keselamatan, dll.
Perencanaan jendela sehubungan dengan pergantian udara jika AC mati.
Pemasangan fan di dalam lift.

3. Kualitas Pencahayaan (penting mengenali jenis cahaya) :


Mengembangkan sistim pencahayaan yang sesuai dengan jenis pekerjaan untuk
membantu menyediakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. (secara berkala
diukur dengan Luxs Meter).
Membantu penampilan visual melalui kesesuaian warna, dekorasi dll.
Menegembangkan lingkungan visual yang tepat untuk kerja dengan kombinasi
cahaya (agar tidak terlalu cepat terjadinya kelelahan mata).
Perencanaan jendela sehubungan dengan pencahayaan dalam ruang.
Penggunaan tirai untuk pengaturan cahaya dengan memperhatikan warna yang
digunakan.
Penggunaan lampu emergensi (emergency lamp) di setiap tangga.

4. Aspek K3 perkantoran (tentang penggunaan komputer)


Pergunakan komputer secara sehat, benar dan nyaman :
Memanfaatkan kesepuluh jari.
Istirahatkan mata dengan melihat kejauhan setiap 15-20 menit.
Istirahat 5-10 menit tiap satu jam kerja.
Lakukan peregangan.
Sudut lampu 45º.
Hindari cahaya yang menyilaukan, cahaya datang harus dari belakang.
Sudut pandang 15º, jarak layar dengan mata 30 – 50 cm.
Kursi ergonomis (adjusted chair).
Perlu membuat leaflet/poster yang berhubungan dengan penggunaan komputer
disetiap unit kerja.
Penggunaan komputer yang bebas radiasi (Liquor Crystal Display).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pelaksanaan K3 dalam sebuah perusahaan perlu memperhatikan 2 hal
penting yakni indoor dan outdoor, baik perhatian kontruksi gedung beserta
perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran, kualitas
udara, kualitas pencahayaan, kebisingan, hygniene dan sanitasi serta mengenai
penggunaan komputer. Hal tersebut diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan
sisi kesehatan dan keselamatan dalam melakukan pekerjaannya, namun juga dapat
dijadikan acuan dalam rangka meningkatkan K3 di perkantoran.