Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT. Tuhan semesta alam, atas
segala karunia, rahmat, hidayah, dan taufiknya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
pembuatan tugas ini(langkah-langkah penelitian). Shalawat serta salam semoga tercurah
kepada nabi besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya.

Pembuatan tugas ini memuat tentang masalah langkah-langkah penelitian mengenai


suatu objek. Keberhasilan penulisan tugas ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu, dengan segala kerendahan hati, kami ucapkan terimakasih.

Penulis menyadari tugas ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna perbaikan di
masa yang akan datang.

Bengkulu, November 2012-11-25

Kelompok 3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...........................................................................................................i

KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii

DAFTAR ISI........................................................................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar belakang penulisan

B. Tujuan penulisan

BAB 2 LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

A. Heuristik

BAB 3 PENUTUP

A. kesimpulan

B. Lampiran
BAB II

Riwayat hidup

Langkah-langkah penelitian

Untuk menyusun karya tulis ini ada 4 langkah-langkah penelitian yaitu:

1.Heuristik,
Adalah langkah menemukan sumber-sumber dalam hal ini kami mengumpulkan
sumber-sumber tertulis dan sumber lisan

A. Sumber tertulis

-Akte kelahiran:

-Ijazah TK

-Ijazah SD

-Ijazah SMP

-Piagam

-Foto-foto

B. Sumber Lisan

Untuk mengetahui lebih lengkap maka kami telah mewawancarai nara sumber. Hasil
wawancaranya kami lampirkan pada karya tulis ini.

-Tentang Kelahiran :

1. Anda lahir di mana ?


2. Anak keberapakah anda dan siapa nama orang tua anda?

-Tentang Pendidikan

1. Dimana sajakah anda besekolah ??


2. Pelajran apakah yang nada sukai di sekolah ??

-Tentang Prestasi

1.

-Tentang hal-hal yang berkesan


TUGAS PKN

DASAR NEGARA DAN KONSTITUSI

NAMA : KEKE MARGARETA

KELAS : X5

DINAS PENDIDIKAN KOTA BENGKULU

SMA PLUS NEGERI 7


Hubungan Pacasila dengan UUD 1945
Pancasila dasar negara kita dirumuskan dari nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia yang berasal
dari pandangan hidup bangsa yang merupakan kepribadian, bangsa perjanjian luhur serta tujuan
yang hendak diwujudkan. Karena itu pancasila di jadikan idiologi negara.
Pancasila merupakan kesadaran cita-cita hukum serta cita-cita moral luhur yang memiliki suasana
kejiwaan serta watak bangsa Indonesia, melandasi prolamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Untuk mewujudkan tujuan proklamasi kemerdekaan maka panitia persiapan kemerdekaan Indonesia
(PPKI) telah menetapkan UUD 1945 merupak hukum dasar yang tertulis yang Mengikat pemerintah,
setiap lembaga/masyarakat, warga negara dan penduduk RI pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari
setelah proklamasi kemerdekaan tersebut. Dalam Pembagian pembukaannya terdapat pokok-pokok
pikiran tentang kehidupan bermasyarakat, bernegara yang tiada laindalah pancasila pokok-pokok
pikitran tersebut yang diwujudkan dalam pasal-pasal batang tubuh UUD 1945 yang merupakan
aturan aturan pokok dalam garis-garis besar sebagai intruksi kepada pemerintah dan lain-lain
penyelenggara negara untuk melaksanakan tugasnya.
Menurut penjelasan UUD 1945 pokok-pokok pikiran tersebut meliputi suasana kebatinan dari
undang-undang negara Indonesia, dan mewujudkan cita-cita hukum (Rechtsidee) yang menguasai
hukum negara baik hukum yang tertulis maupun tidak tertulis. Pokok-pokok pikiran itu dijelmakan
dalam pasal-pasal dan UUD itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suasana kebatianan
UUD1945 dan cita-cita hukum UUD 1945 tidak lain adalah bersumber kepada atau dijiwai dasar
falsafah negara pancasila. Disinilah arti dan fungsi Pancasila sebagai dasar negara.
Atau dengan kata lain bahwa pembukaan UUD 1945 yang membuat dasar falsafah negara pancasila,
merupakan satu keasatuan nilai dan norma yang terpadau yang tidak dapat dipisahkan dengan
rangkaian pasal-pasal dan batang tubuh UUD 1945. hal inilah yang harus kita ketahui, dipahami dan
dihayati oleh setiap orang Indonesia.
Jadi pancasila itu disamping termuat dalam pembukaan UUD 1945 (rumusannya dan pokok-pokok
pikiran yang terkandung didalamnya) dijabarkan secara pokok dalam wujud pasal-pasal batang
tubuh UUD 1945.
Ketuhanan yang merupakan perintah secara pokok itu perlu diberi penjelasan. Hal itialh yang
termuat dalam penjelasan otentik UUD 1945.
Jidi pancasila adalah jiwa, ini sumber dan landasan UUD 1945. secara teknis dapat dikatakan bahwa
pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam pembukaanUUD 1945 adalah garis besar cita- yang
terkandung dalam pancasila. Batang tubuh UUD 1945 merupakan pokok-pokok nilai-nilai pnacasila
yang disusun dalam pasal-pasal.
Kedua bagian (kompenan) UUD 1945 tersebutr dijelaskan dalam penjelasan otentik Seperti telah
dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan undang-undang dasar adalah hukum dasr yang
tertulis.hal ini mengandung pengertian bahwa sebagai hukum,maka undang-undang dasar adalah
mengikat;mengikat perintah,mengikat tembaga negara dan lembaga masyarakatdan juga mengikat
semua negaraindonesia dimana saja dan setiap penduduk warga indonesi.dan sebagai hukum,maka
undang-undang dasar berisi norma-norma,atura-aturanatu ketentuan-ketantuanyang harus
dilaksanakandan ditaati.
UUD bukanlah hukum dasar biasa,melainkan hukum dasar yang merupakan sumber hukum.setiap
produk hukum misalnya undang-undang,peraturan pemerinytah atau keputusan pemerintah,bahkan
setiap kebijak sanaan pemerintah haruslah berlandaskan atau bersuberkan pada peraturan tang
lebih tinggi,yang pada akhirnya dapat di pertanggung jawaban pada ketentuan UUD 1945.
Dalam kedudukan yang demikianlah,UUDdalam kerangka tata urutan atau tata tingkatan norma
hukum yang berlaku,merupakan hukum yang berlaku yang menempati kedudukan yang
tinggi.sehubungan dengan undang-undang dasar juga berfungsi sebagai alat control untuk
mengecekapakah norma hukum yang redah yang berlaku sesuai atau tidak dengan ketentuan
undang-undang dasar.
Selain dari apayang diuraykan dimuka dan sesuai pula dengan penjelasan undang-undang dasar
1945, pembukaan undang-undsang dasar1945mempuyai fungsi atau hubungan langsung dengan
batang tubuh undang-undang dasar1945 itu sendiri.ialah bahwa;pembukaan undang-undang dasar
1945mengandung pokok-pokok pikiran itu diciptakan oleh undang-undang dasar 1945dalam pasal-
pasalnya.
Dengan tetap menyadari keagungan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan dengan
memperhatikan hubungan dengan batang tubuh UUD yang memuat dasar falsafah negara pancasali
dan UUD 1945 merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan bahkan merupakan rangkaian
kesatuan nilai dan norma yang terpadu. UUD 1945 terdiri dari rangkaian pasal-pasal yang
merupakan perwujudan dari pokok-pokok pikiranterkandung dalam UUD1945 yang tidak lain adlah
pokok pikiran: persatuan Indonesia, keadilan sosial, kedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan
dan permusyawaratan perwakilan dan ketuhanan Yang Maha Esa menurut kemanusiaan yang adil
dan beradab, yang tidak lainadalah sila dari pancasila, sedangkan pancasila itu sendiri memancarkan
nilai-nilai luhur yang telah mampu memberikan semangat kepada dan terpancang dengan khidmat
dalam perangkat UUD 1945. semangat dan yang disemangati pada hakikatnya merupakan satu
rangkaian kesatuan yang yidak dapat dipisahkan.
Seperti telah disinggung di muka bahwa di samping Undang-Undang dasar, masih ada hukum dasar
yang tidak tertulis yang juga merupkan sumber hukum, yang menurut penjelasan UUD 1945
merupakan ‘aturan-auran dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelengaraan negara,
meskipun tidak tertulis’. Inilah yang dimaksudkan dengan konvensi atau kebiasaan ketatanegaraan
sebagai pelengkap atau pengisi kekosongan yg timbul dari praktek kenegaraan, karena aturan
tersebut tidak terdapat dalam Undang-Undang dasar.
UUD 1945 yang hanya terdiri dari 37 pasal ditambah dengan Empat pasal Aturan Peralihan dan dua
ayatturan Tambahan, maka UUD 1945 termasuk singkat dan bersipat supel atau fleksibal. Dalam
hubumgan ini penjelasan UUD 1945 mengemukakan bahwa telah cukuplah kalau Undang-Undang
dasar hanya memuat aturan-aturan pokok garis-garis besar sebagai intruksi kepada Pemerintah
pusatdan lain-lain penyelengaraan negara untuk menyelenggarakan kehidupan negara. Undang-
Undang dasar yg disingkat itu sangat menguntungkan bagi negara seperti Indonesia ini yang masih
harus terus berkembang secarz dinamis, sehingga dengan aturan-aturan pokok itu akan merupakan
aturan yg luwes, kenyal, tidak mudah ketinggalan zaman, sedang aturan-aturan yg
menyelenggarakan aturan-aturan pokok iti diserahkan kepada Undang-Undang yg lebih mudah
caranya membuat, menubah dan mencabut. Oleh karena itu, makin supel (elastic)
Sifatnya aturan itu makin baik. Jadi kita harus menjadi supaya sistem Undang-Undang dasar jangan
sampai ketinggalan zaman. Yang penting dalam pemerintahan dan dalam hal hidupnya negara ialah
semangat para pemimpin pemerintahan. Yaitu semangat yang dinamis, positif dan konstuktif seperti
yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945.

Hubungan Pancasila dengan UUD 1945


Pancasila dasar negara kita dirumuskan dari nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia yang
berasal dari pandangan hidup bangsa yang merupakan kepribadian, bangsa perjanjian luhur serta
tujuan yang hendak diwujudkan. Karena itu pancasila di jadikan idiologi negara.Pancasila merupakan
kesadaran cita-cita hukum serta cita-cita moral luhur yang memiliki suasana kejiwaan serta watak
bangsa Indonesia, melandasi prolamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Menurut penjelasan UUD 1945 pokok-pokok pikiran tersebut meliputi suasana kebatinan
dari undang-undang negara Indonesia, dan mewujudkan cita-cita hukum (Rechtsidee) yang
menguasai hukum negara baik hukum yang tertulis maupun tidak tertulis. Pokok-pokok pikiran itu
dijelmakan dalam pasal-pasal dan UUD itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suasana
kebatianan UUD1945 dan cita-cita hukum UUD 1945 tidak lain adalah bersumber kepada atau dijiwai
dasar falsafah negara pancasila. Disinilah arti dan fungsi Pancasila sebagai dasar Negara.

Atau dengan kata lain bahwa pembukaan UUD 1945 yang membuat dasar falsafah negara
pancasila, merupakan satu kesatuan nilai dan norma yang terpadu yang tidak dapat dipisahkan
dengan rangkaian pasal-pasal dan batang tubuh UUD 1945. hal inilah yang harus kita ketahui,
dipahami dan dihayati oleh setiap orang Indonesia.
Jadi pancasila itu disamping termuat dalam pembukaan UUD 1945 (rumusannya dan pokok-pokok
pikiran yang terkandung didalamnya) dijabarkan secara pokok dalam wujud pasal-pasal batang
tubuh UUD 1945.

Jadi pancasila adalah jiwa, ini sumber dan landasan UUD 1945. secara teknis dapat dikatakan
bahwa pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam pembukaanUUD 1945 adalah garis besar cita- yang
terkandung dalam pancasila. Batang tubuh UUD 1945 merupakan pokok-pokok nilai-nilai pnacasila
yang disusun dalam pasal-pasal.

Kedua bagian (kompenan) UUD 1945 tersebut dijelaskan dalam penjelasan otentik Seperti
telah dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan undang-undang dasar adalah hukum dasar yang
tertulis.hal ini mengandung pengertian bahwa sebagai hukum,maka undang-undang dasar adalah
mengikat perintah,mengikat tembaga negara dan lembaga masyarakat dan juga mengikat semua
negara Indonesia dimana saja dan setiap penduduk warga Indonesia.dan sebagai hukum,maka
undang-undang dasar berisi norma-norma,aturan-aturan atau ketentuan-ketantuan yang harus
dilaksanakan dan ditaati.

Dalam kedudukan yang demikianlah,UUD dalam kerangka tata urutan atau tata tingkatan
norma hukum yang berlaku,merupakan hukum yang berlaku yang menempati kedudukan yang
tinggi.sehubungan dengan undang-undang dasar juga berfungsi sebagai alat control untuk mengecek
apakah norma hukum yang sedah yang berlaku sesuai atau tidak dengan ketentuan undang-undang
dasar.

Selain dari apa yang diuraikan dimuka dan sesuai pula dengan penjelasan undang-undang
dasar 1945, pembukaan undang-undang dasar 1945 mempuyai fungsi atau hubungan langsung
dengan batang tubuh undang-undang dasar1945 itu sendiri.ialah bahwa pembukaan undang-undang
dasar 1945mengandung pokok-pokok pikiran itu diciptakan oleh undang-undang dasar 1945 dalam
pasal-pasalnya.

Dengan tetap menyadari keagungan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan dengan
memperhatikan hubungan dengan batang tubuh UUD yang memuat dasar falsafah negara pancasal
dan UUD 1945 merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan bahkan merupakan rangkaian
kesatuan nilai dan norma yang terpadu. UUD 1945 terdiri dari rangkaian pasal-pasal yang
merupakan perwujudan dari pokok-pokok pikiranterkandung dalam UUD1945 yang tidak lain adlah
pokok pikiran: persatuan Indonesia, keadilan sosial, kedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan
dan permusyawaratan perwakilan dan ketuhanan Yang Maha Esa menurut kemanusiaan yang adil
dan beradab, yang tidak lainadalah sila dari pancasila, sedangkan pancasila itu sendiri memancarkan
nilai-nilai luhur yang telah mampu memberikan semangat kepada dan terpancang dengan khidmat
dalam perangkat UUD 1945. semangat dan yang disemangati pada hakikatnya merupakan satu
rangkaian kesatuan yang yidak dapat dipisahkan.

Sifatnya aturan itu makin baik. Jadi kita harus menjadi supaya sistem Undang-Undang dasar
jangan sampai ketinggalan zaman. Yang penting dalam pemerintahan dan dalam hal hidupnya
negara ialah semangat para pemimpin pemerintahan. Yaitu semangat yang dinamis, positif dan
konstuktif seperti yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945.

HUBUNGAN DASAR NEGARA (PANCASILA) DENGAN KONSTITUSI DI INDONESIA (UUD 1945)


Pasal-pasal dalam UUD1945 adalah penjabaran dari pokok-pokok pikiran yang ada dalam
Pembukaan UUD1945.
Contoh:
1. Sila pertama, dijabarkan di pasal 29 UUD 1945, pasal 28 (UUD 1945 amandemen)
2. Sila kedua, dijabarkan di pasal-pasal yang memuat mengenai hak asasi manusia.
3. Sila ketiga, dijabarkan di pasal 18, pasal 35, pasal 36 UUD 1945
4. Sila keempat dijabarkan pada pasal 2 s.d 24 UUD 1945
5. Sila kelima dijabarkan pada pasal 33 dan 34 UUD1945
Atau dengan kata lain bahwa pembukaan UUD 1945 yang membuat dasar falsafah negara Pancasila,
merupakan satu kesatuan nilai dan norma yang terpadu yang tidak dapat dipisahkan dengan
rangkaian pasal-pasal dan batang tubuh UUD 1945.
Jadi Pancasila itu disamping termuat dalam pembukaan UUD 1945 (rumusannya dan pokok-pokok
pikiran yang terkandung didalamnya) dijabarkan secara pokok dalam wujud pasal-pasal batang
tubuh UUD 1945.

Jadi Pancasila adalah jiwa, inti sumber dan landasan UUD 1945. Secara teknis dapat dikatakan bahwa
pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam pembukaanUUD 1945 adalah garis besar cita-cita yang
terkandung dalam Pancasila. Batang tubuh UUD 1945 merupakan pokok-pokok nilai-nilai Pancasila
yang disusun dalam pasal-pasal.

Berikut abstrak disertasinya Fokus disertasi ini adalah kajian peraruran pemerintah sebagai
pengganti undang-undang (Perpu), dari perspektif Hukum Tata Negara Normal dan Hukum Tata
Negara Darurat. Pasal 22 ayat (1) UUD 1945 memberikan kewenangan istimewa kepada Presiden
untuk menetapkan Perpu dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa, dengan mengenyampingkan
DPR yang menurut Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 sebagai pemegang kekuasaan membentuk undang
undang. Sejak ditetapkan, Perpu langsung mempunyai kekuatan hukum berlaku dan eksistensinya
hanya sampai dengan persidangan DPR yang berikut. Perpu, dalam kenyataan melahirkan norma
hukum baru dan sebagai norma hukum baru akan dapat menimbulkan: (a) status hukum baru, (b)
hubungan hukum baru, dan (c) akibat hukum baru. Selama ini, tidak ada ukuran yang objektif
“kegentingan yang memaksa”, sangat tergantung subjektifitas Presiden. Ukuran objektif baru
dirumuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dalam Putusan MK Nomor 138/PUU-VII/2009. Dalam
praktik, Pasal 22 UUD 1945 tidak memiliki hubungan langsung dengan keadaan bahaya,
sebagaimana dalam Pasal 12 UUD 1945, sehingga dalam penggunaan Perpu tidak pernah dikaitkan
dengan keadaan darurat atau bahaya. Hal ini dapat dimaklumi, karena ruang lingkup materi yang
diatur dalam UU keadaan bahaya terbatas, sementara pada saat sekarang, keadaan darurat memiliki
pengertian yang luas, meliputi bencana alam, invasi, pemberontakan massal, kekacauan masif,
bencana ekologi, wabah penyakit, termasuk krisis keuangan atau ekonomi, yang dapat mengancam
eksistensi negara (terhadap lembaga negara dan integritas teritorial sebuah negara). Dari semua
Presiden yang pernah menggunakan wewenang ini, menunjukkan fungsi Perpu tidak saja sebagai
pengganti undang-undang, tetapi juga berfungsi mencabut, merubah dan menunda berlakunya
undang undang serta memberlakukan surut suatu undang-undang. Luasnya fungsi Perpu, seringkali
dijadikan jalan pintas yang efektif dan sarana melanggar undang-undang secara sah sehingga
dianggap sebagai constitutional dictatorship. UUD 1945 memberikan kekuasaan yang sangat besar
kepada Presiden “a very strong position of the President”. Perubahan mendasar atas UUD 1945 tidak
saja mengurangi kekuasaan yang sangat besar dan terpusat pada Presiden (concentration of power
and responsibilities upon the President). Tetapi berhasil mengkonstruksikan kembali supra struktur
politik yang lebih demokratis. Sehingga diantara lembaga negara dapat saling mengawasi dan
mengimbangi sesuai dengan ”checks and balances system”. Salah satu kewenangan yang diberikan
kepada Mahkamah Konstitusi (MK) adalah menguji produk legislatif (undang-undang) terhadap UUD,
tetapi dalam kenyatannya MK menambah kewenangan sendiri yaitu dapat menilai Perpu. Putusan
MK ini malah melanggengkan kediktatoran, karena memberi legitimasi penggunaan Perpu, dan
dapat ditetapkan dalam keadaan normal. Padahal, dari 207 Perpu, sebagian besar – terutama pada
masa orde lama – ditetapkan pada saat kondisi negara berada dalam keadaan bahaya baik secara de
facto maupun secara de yure. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, dengan tiga
pendekatan. Pertama pendekatan historis untuk mengetahui makna tekstual dan kontekstual dari
“kegentingan yang memaksa” yang merupakan syarat imperatif sebelum ditetapkan Perpu. Kedua,
pendekatan perbandingan konstitusi, untuk mengetahui apakah terdapat peraturan sejenis Perpu
pada konstitusi dari negara-negara yang menganut sistem pemerintahan Presidensial di empat
benua. Ketiga, pendekatan perundang-undangan untuk menganalisis pengaturan Perpu baik dalam
UUD dan Peraturan yang lebih rendah. Dalam penelitian ini diketahui bahwa Perpu terinspirasi dari
Aturan-aturan pemerintah sebagai gantinya undang-undang yang terdapat dalam Pasal 5 UUD 1942
yang dibentuk oleh Soepomo, Soebardjo dan A.A Maramis. Perpu kemudian disempurnakan oleh
Soepomo, dengan nama undang undang darurat. Istilah kegentingan yang memaksa telah
kehilangan maknanya baik secara tekstual maupun secara kontekstual Dalam perbandingan
konstitusi diketahui bahwa peraturan sejenis Perpu terdapat juga di negara lain. Ada enam negara
(Afrika Selatan, Georgia, Korea Selatan, Lithuania, Malawi, dan Venezuela) yang memiliki peraturan
sejenis Perpu, tetapi peraturan tersebut hanya dapat ditetapkan oleh Presiden pada saat kondisi
negara berada dalam keadaan bahaya (state of emergency), sementara konstitusi Belarus
memberikan kewenangan ini diberikan kepada Presiden pada saat kondisi negara berada dalam
keadaan perang (martial law). Selain itu, ada tiga konstitusi (Brasil, Kyrgistan dan Peru) yang
memberikan kewenangan serupa kepada Presiden untuk menetapkan peraturan sejenis Perpu pada
saat kondisi negara berada dalam keadaan normal, tetapi dengan syarat-syarat yang sangat ketat.
Konstitusi Brasil mengatur apabila Presiden menetapkan provisional measures, maka Kongres harus
bersidang dalam waktu 5 hari. Apabila Kongres tidak menyetujui, maka provisional measures
tersebut akan kehilangan daya lakunya dalam waktu 30 hari. Konstitusi Kyrgistan memberikan
kewenangan kepada Presiden menetapkan decrees of president which have the force of law, hanya
apabila Parlemen bubar atau salah satu dari kamar Parlemen bubar. Sementara Konstitusi Peru
memberikan kewenangan kepada Presiden untuk menetapkan legislative order, which have effect to
the same standart as the law, dengan catatan kewenangan yang diberikan bukan merupakan
kewenangan Standing Committee. Sehingga untuk mengantisipasi penyalahgunaan kewenangan ini,
sebaiknya Perpu ditetapkan pada saat kondisi negara berada dalam keadaan darurat, dengan
mengikuti standar keadaan darurat Internasional.

Peraturan Pemerintah (disingkat PP) adalah Peraturan Perundang-undangan di Indonesia


yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.
Materi muatan Peraturan Pemerintah adalah materi untuk menjalankan Undang-Undang. Di
dalam UU No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
dinyatakan bahwa Peraturan Pemerintah sebagai aturan organik daripada Undang-Undang
menurut hirarkinya tidak boleh tumpangtindih atau bertolak belakang.

ierarki maksudnya peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Berikut adalah hierarki Peraturan
Perundang-undangan di Indonesia menurut UU No. 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan:
1. UUD 1945, merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. UUD 1945
ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
2. Ketetapan MPR
3. Undang-Undang (UU)/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu)
4. Peraturan Pemerintah (PP)
5. Peraturan Presiden (Perpres)
6. Peraturan Daerah (Perda), termasuk pula Qanun yang berlaku di Nanggroe Aceh Darussalam,
serta Perdasus dan Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Dari Peraturan Perundang-undangan tersebut, aturan yang mengenai ketentuan pidana hanya dapat
dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah.

 ndang-Undang/Perundang-undangan (atau disingkat UU) adalah Peraturan Perundang-


undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan persetujuan bersama
Presiden. Undang-undang memiliki kedudukan sebagai aturan main bagi rakyat untuk
konsolidasi posisi politik dan hukum, untuk mengatur kehidupan bersama dalam rangka
mewujudkan tujuan dalam bentuk Negara. Undang-undang dapat pula dikatakan sebagai
kumpulan-kumpulan prinsip yang mengatur kekuasaan pemerintah, hak rakyat, dan
hubungan di antara keduanya. Mengatur lebih lanjut ketentuan UUD 1945 yang meliputi:
hak-hak asasi manusia, hak dan kewajiban warga negara, pelaksanaan dan penegakan
kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara, wilayah dan pembagian daerah,
kewarganegaraan dan kependudukan, serta keuangan negara.
 Diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (atau disingkat Perpu) adalah


Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan
yang memaksa. Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah sama
dengan materi muatan Undang-Undang.

Perpu ditandatangani oleh Presiden. Setelah diundangkan, Perpu harus diajukan ke DPR
dalam persidangan yang berikut, dalam bentuk pengajuan RUU tentang Penetapan Perpu
Menjadi Undang-Undang. Pembahasan RUU tentang penetapan Perpu menjadi Undang-
Undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan RUU. DPR hanya
dapat menerima atau menolak Perpu.

Jika Perpu ditolak DPR, maka Perpu tersebut tidak berlaku, dan Presiden mengajukan RUU
tentang Pencabutan Perpu tersebut, yang dapat pula mengatur segala akibat dari penolakan
tersebut.

Peraturan Pemerintah (disingkat PP) adalah Peraturan Perundang-undangan di Indonesia


yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.
Materi muatan Peraturan Pemerintah adalah materi untuk menjalankan Undang-Undang. Di
dalam UU No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
dinyatakan bahwa Peraturan Pemerintah sebagai aturan organik daripada Undang-Undang
menurut hirarkinya tidak boleh tumpangtindih atau bertolak belakang.

Peraturan Pemerintah ditandatangani oleh Presiden.

Peraturan Presiden disingkat Perpres adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat


oleh Presiden. Materi muatan Peraturan Presiden adalah materi yang diperintahkan oleh
Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah.

Perpres merupakan jenis Peraturan Perundang-undangan yang baru di Indonesia, yakni sejak
diberlakukannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004.

Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah (gubernur atau bupati/wali kota).

Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan
otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran
lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Peraturan Daerah terdiri atas:

 Peraturan Daerah Provinsi, yang berlaku di provinsi tersebut. Peraturan Daerah Provinsi
dibentuk oleh DPRD Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur.
 Peraturan Daerah Kabupaten/Kota, yang berlaku di kabupaten/kota tersebut. Peraturan
Daerah Kabupaten/Kota dibentuk oleh DPRD Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama
Bupati/Walikota. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tidak subordinat terhadap Peraturan
Daerah Provinsi.

Di Provinsi Aceh, Peraturan Daerah dikenal dengan istilah Qanun. Sementara di Provinsi Papua,
dikenal istilah Peraturan Daerah Khusus dan Peraturan Daerah Provinsi.

[sunting] Mekanisme Pembentukan Peraturan Daerah


Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) dapat berasal dari DPRD atau kepala daerah (gubernur,
bupati, atau wali kota). Raperda yang disiapkan oleh Kepala Daerah disampaikan kepada DPRD.
Sedangkan Raperda yang disiapkan oleh DPRD disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Kepala
Daerah.

Pembahasan Raperda di DPRD dilakukan oleh DPRD bersama gubernur atau bupati/wali kota.
Pembahasan bersama tersebut melalui tingkat-tingkat pembicaraan, dalam rapat komisi/panitia/alat
kelengkapan DPRD yang khusus menangani legislasi, dan dalam rapat paripurna.

Raperda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan
oleh Pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk disahkan menjadi Perda, dalam
jangka waktu palinglambat 7 hari sejak tanggal persetujuan bersama. Raperda tersebut disahkan
oleh Gubernur atau Bupati/Walikota dengan menandatangani dalam jangka waktu 30 hari sejak
Raperda tersebut disetujui oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota. Jika dalam waktu 30 hari
sejak Raperda tersebut disetujui bersama tidak ditandangani oleh Gubernur atau Bupati/Walikota,
maka Raperda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan.