Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JUNI 2019

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

POLIP NASI

Disusun Oleh:
Fauziyah Abidah, S.Ked
111 2017 2035
Pembimbing:
dr. Rismayanti, Sp. THT-KL

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019

1
LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:
Nama : Fauziyah Abidah, S.Ked
Stambuk : 111 2017 2035
Judul Referat : Polip Nasi
Rumah Sakit : RSUD Sayang Rakyat

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu Kesehatan THT-
KL, Fakultas Kedokteran, Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, Juni 2019

Pembimbing

dr. Rismayanti, Sp. THT-KL

2
PENDAHULUAN

Sumbatan hidung adalah salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan pasien ke
dokter pada pelayanan primer. Ini adalah gejala bukan diagnosis, banyak faktor dan kondisi
anatomi yang dapat menyebabkan sumbatan hidung. Penyebab dari sumbatan hidung dapat
berasal dari struktur maupun sistemik. Yang disebabkan struktur termasuk perubahan jaringan,
trauma, dan gangguan congenital. Yang disebabkan sistemik terkait dengan perubahan fisiologis
dan patologis. Polip merupakan salah satu dari penyebab rasa hidung tersumbat.1
Polip hidung sampai saat ini masih merupakan masalah medis, selain itu juga memberikan
masalah sosial karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya seperti di sekolah, di
tempat kerja, aktifitas harian dsb. Gejala utama yang paling sering dirasakan adalah sumbatan di
hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat keluhannya, hal ini dapat mengakibatkan
hiposmia sampai anosmia. Bila menyumbat ostium sinus paranasalis mengakibatkan terjadinya
sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan hidung berair. 1
Polip nasi merupakan massa edematous yang lunak berwarna putih atau keabu-abuan
yang terdapat di dalam rongga hidung dan berasal dari pembengkakan mukosa hidung atau sinus.
Etiologi dan patogenesis dari polip nasi belum diketahui secara pasti. Sampai saat ini, polip nasi
masih banyak menimbulkan perbedaan pendapat. Dengan patogenesis dan etiologi yang masih
belum ada kesesuaian, maka sangatlah penting untuk dapat mengenali gejala dan tanda polip nasi
untuk mendapatkan diagnosis dan pengelolaan yang tepat. 1

3
BAB I

ANATOMI & FISIOLOGI HIDUNG

1.1.Anatomi Hidung Luar

Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian luar menonjol
pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas; struktur hidung luar dibedakan atas tiga
bagian: yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan; di bawahnya terdapat
kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan; dan yang paling bawah adalah lobulus hidung
yang mudah digerakkan. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari
atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge), 2) batang hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung
(hip), 4) ala nasi, 5) kolumela, dan 6) lubang hidung (nares anterior).2
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari : 1) tulang hidung (os nasal) , 2) prosesus
frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal ; sedangkan kerangka tulang rawan
terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1)
sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior
yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor dan 3) tepi anterior kartilago septum. 2

Gambar 1. Anatomi Kerangka Hidung

1.2.Anatomi Hidung Dalam

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang,
dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu

4
atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang
disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Bagian
dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anteriror,
disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar
sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. 2
Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan
superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang
rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os
maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina
kuadrangularis) dan kolumela. 2

Gambar 2. Septum nasi

Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian
tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding lateral
hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi
sebagian besar dinding lateral hidung. Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang
terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah
konka media, lebih kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka
suprema. Konka suprema disebut juga rudimenter. 2
Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin
etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut
meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan

5
superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding
lateral rongga hidung. 2

Gambar 3. Dinding Lateral Kavum Nasi

Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius
terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius
terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. Hiatus
semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal,
sinus maksila dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang di
antara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus
sfenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan
os palatum. Dinding superior atau 7 atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina
kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung.2

1.3.Pendarahan dan Persarafan Hidung

Gambar 4. Perdarahan dan persarafan hidung.


6
Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid anterior dan posterior
yang merupakan cabang dari a.oftalmika, sedangkan a.oftalmika berasal dari a.karotis interna.
Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris interna, di
antaranya ialah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen
sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung
posterior konka media. 2
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian
depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior,
a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach. Pleksus
Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi
sumber epistaksis terutama pada anak. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan
berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung
bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung
tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran
infeksi sampai ke intrakranial. 2
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis
anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus. Rongga
hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion
sfenopalatina. Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini
menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila, serabut parasimpatis dari n.petrosus
superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus. Ganglion
sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media. Fungsi
penghidu berasal dari Nervus olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribosa dari
permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu
pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. 2

1.4.Fisiologi Hidung
 Sebagai jalan nafas
 Pengatur kondisi udara (air conditioning)
 Sebagai penyaring dan pelindung
7
 Indra penghidu
 Resonansi suara
 Proses bicara
 Refleks nasal

8
BAB II

POLIP NASI

2.1. Definisi

Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung. Kebanyakan polip
berwarna putih bening atau keabu-abuan, mengkilat, lunak karena banyak mengandung cairan
(polip edematosa). Polip yang sudah lama dapat berubah menjadi kekuning-kuningan atau
kemerah-merahan, suram dan lebih kenyal (polip fibrosa). Polip kebanyakan berasal dari mukosa
sinus etmoid, biasanya multipel dan dapat bilateral. Polip yang berasal dari sinus maksila sering
tunggal dan tumbuh ke arah belakang, muncul di nasofaring dan disebut polip koanal.1,3

Gambar 5. Polip Nasi

2.2. Etiologi
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada
mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti
tetapi ada keragu-raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan
bersamaan dengan adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa
hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat.
Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak
mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. 1,3
Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak-anak. Pada anak-anak,
polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. Yang dapat menjadi faktor predisposisi
terjadinya polip antara lain: 1,3
1. Alergi terutama rinitis alergi.

9
2. Sinusitis kronik.
3. Iritasi.
4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka.
2.3. Patofisiologi
Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di daerah
meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler, sehingga mukosa yang
sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan
kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terbentuk
polip. 1,4,5
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab tersering adalah
sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama, vasodilatasi lama dari
pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Mukosa akan menjadi ireguler dan
terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi
di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Setelah polip terus membesar di antrum, akan turun ke
kavum nasi. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering
dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama
rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim
sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus
membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media. 1,4,5
Beberapa teori tentang pembentukan polip yaitu: 4,5
1. Ketidakseimbangan Vasomotor
Teori ini terjadi karena mayoritas polip hidung pada pasien tidak atopik dan tidak ada
alergen yang jelas yang dapat ditemukan. Pasien sering memiliki periode prodomal
rhinitis sebelum terjadinya polip. Polip hidung sering memiliki vaskularisasi yang buruk
dan tidak memiliki persarafan vasokonstriktor. Vaskularisasi terganggu dan permeabilitas
pembuluh darah meningkat dapat menyebabkan edema dan pembentukan polip.4,5
2. Alergi
Alergi dicurigai karena 3 faktor yaitu mayoritas pasien polip hidung mempunyai
eosinofil, berhubungan dengan asma, dan mempunyai gejala dan tanda mirip dengan
alergi 4,5

10
3. Fenomena Bernoulli
Hasil Fenomena Bernoulli dalam Penurunan tekanan yang menyebabkan vasokonstriksi.
Tampaknya bahwa tekanan negatif dapat menginduksi mukosa yang meradang pada
rongga hidung mengakibatkan pembentukan polip. Jika ini satusatunya faktor, mukosa
terdekat katup hidung akan membentuk polypoidal. 4,5
4. Teori Ruptur Epitel
Rupturnya epitel mukosa hidung akibat alergi atau infeksi dapat menyebabkan prolaps
mukosa lamina propria sehingga polip terbentuk. Mungkin dapat dipengaruhi oleh efek
gravitasi atau obstruksi drainase vena.4,5
5. Intoleransi Aspirin
Banyak konsep yang canggih untuk menjelaskan patogenesis intoleransi aspirin dan
asosiasi dengan polip hidung. Sebuah entitas klinis terkenal yang merupakan produk dari
tiga kondisi: asma, aspirin sensitivitas dan polip hidung. Ini adalah sindrom klinis yang
berbeda, ditandai dengan presipitasi serangan rhinitis dan asma oleh aspirin dan
kebanyakan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID). COX1 atau COX2 mungkin
lebih rentan terhadap AAS (Asam Asetil Salisilat) atau bisa menghasilkan metabolit yang
tidak diketahui yang merangsang cysteinyl leukotrien (Cys-LT). Metabolisme asam
arakidonat merangsang jalur inflamasi leukotrien. Hal ini menyebabkan penurunan di
tingkat PGE2, PG antiinflamasi. LTC4 sintase berlebih selanjutnya akan meningkatkan
jumlah dari LTS cysteinyl, memiringkan keseimbangan ke arah peradangan. Hal ini dapat
berkontribusi untuk respon peradangan tidak terkendali dan peradangan kronis.4,5
6. Cystic fibrosis
Cystic fibrosis adalah merupakan gangguan autosomal resesif populasi kulit putih. Cystic
fibrosis disebabkan oleh mutasi pada gen tunggal pada kromosom 7, nama transmembran
cystic fibrosis regulator (CFTR). Hal ini menyebabkan adanya siklik AMP-regulated
saluran klorida dan abnormal regulasi natrium, klorida menghasilkan impermeabilitas dan
penyerapan natrium meningkat. Peningkatan penyerapan natrium dan penurunan sekresi
klorida menyebabkan pergerakan cairan ke dalam sel dan ruang interstitial yang
menyebabkan retensi cairan, pembentukan polip, dan dehidrasi.4,5

11
7. Nitrat oksida
Oksida nitrat adalah gas radikal bebas, yang dihasilkan dari L-arginin oleh keluarga enzim
oksida nitrat synthases (Noss). Nitrat oksida memainkan peran utama dalam reaksi imun
spesifik, regulasi vaskular, pertahanan tubuh, dan peradangan jaringan. Radikal bebas
dipertahankan dalam keseimbangan oleh sistem pertahanan antioksidan superoksida
dismutase (SOD) peroksidase, katalase dan glutation. Meskipun transien, radikal bebas
bisa membanjiri antioksidan yang mengakibatkan kerusakan sel, cedera jaringan dan
penyakit kronis. Karlidag et al melaporkan peningkatan dalam kadar oksida nitrat dan
penurunan enzim (SOD) pada pasien polip hidung dibandingkan dengan kontrol,
menunjukkan adanya radikal bebasyang menyebabkan kerusakan pada polip hidung.4,5
8. Infeksi
Peran infeksi dianggap penting dalam pembentukan polip. Ini didasarkan pada model
eksperimental di mana terdapat gangguan epitel dengan proliferasi jaringan diinisiasi oleh
infeksi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, atau
Bacteroides fragilis (semua umum patogen dalam rinosinusitis) atau Pseudomonas
aeruginosa, yang sering ditemukan dalam cystic fibrosis.4,5
9. Hipotesis superantigen
Staphylococcus aureus terdapat pada musin polip hidung pada sekitar 60 sampai 70%.
Organisme ini selalu menghasilkan toxin, Staphylococcus enterotoxin A (SEA),
Staphylococcus enterotoxin B (SEB) dan Toxic shock syndrome toxin-1 (TSST-1), yang
mungkin bertindak sebagai superantigens, menyebabkan aktivasi dan klon perluasan dari
limfosit dengan dalam dinding lateral hidung. Ini diaktifkan limfosit menghasilkan sitokin
Th1 dan Th2 baik (IFN-γ, IL-2, IL-4, IL5), menyebabkan penyakit kronis
lymphocyticeosinophilic. Antibodi IgE spesifik untuk SEA dan SEB terdeteksi pada 50%
dari hidung jaringan polip dan antibodi IgE spesifik dalam serum untuk stafilokokus
(SEB, TSST) ditemukan pada 78% dari polip hidung.4,5
10. Infeksi jamur
Elemen jamur dihirup menjadi terperangkap dalam lendir sinonasal, menyebabkan
eosinofil bergeser dari mukosa pernafasan ke lumen oleh mekanisme yang belum
diketahui. Selama proses ini, mereka memproduksi mediator yang mengakibatkan

12
peradangan pada mukosa. Elemen jamur ditemukan pada histologi pada 82% pasien
rinosinusitis kronis menjalani operasi sinus. 4,5
11. Predisposisi genetik
Etiologi genetik dicurigai dalam pengembangan dari poliposis hidung berdasarkan
agregasi keluarga. Cystic fibrosis merupakan resesif autosomal yang berhubungan dengan
mutasi gen CFTR dalam wilayah Q31 pada lengan panjang kromosom 7. HLA-DR
dinyatakan pada permukaan sel-sel inflamasi paranasal pada mukosa dan polip hidung.
Orang dengan HLA-DR7-DQA1 dan HLA-DQB1 haplotipe memiliki dua atau tiga kali
lebih tinggi untuk mengembangkan polip hidung. 4,5
12. Komposisi Selular
Pada sebagian besar polip hidung, eosinofil terdiri lebih dari 60% dari populasi sel,
kecuali di cystic fibrosis. Ada peningkatan sel T CD8+ diaktifkan oleh sel T lebih
mendominasi dibandingkan CD4+. Sel mast dan sel plasma juga meningkat dibandingkan
dengan mukosa hidung yang normal.4,5
13. Kimia mediator
Selain infiltrasi sel inflamasi meningkat, peningkatan ekspresi dan produksi varietas
sitokin proinflamasi dan kemokin telah telah dilaporkan dalam polip hidung. Histamine
nyata meningkat pada polip hidung, melebihi tingkat 4000 ng/ml. Peningkatan produksi
granulosit/macrophage colony-stimulating factor, IL-5, RANTES dan eotaxin dapat
berkontribusi untuk migrasi eosinofil. Peningkatan kadar IL-8 dapat menginduksi
infiltrasi neutrofil. Meningkatkan ekspresi faktor pertumbuhan endotel vaskular dan
upregulationnya dengan mengubah faktor pertumbuhan-(beta) yang dapat berkontribusi
edema dan angiogenesis dalam polip hidung. IgA dan IgE juga meningkat pada polip
hidung. Selain itu, produksi lokal IgE dalam polip hidung dapat berkontribusi pada
kekambuhan polip hidung melalui IgE-sel mast-Fc RI (epsilon) kaskade. 4,5
2.4. Gejala Klinis
Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di hidung.
Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat keluhannya. Pada sumbatan
yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus
paranasal, maka sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan
rinore. 1,3,4,5
13
Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin dan iritasi di hidung.
Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapatkan post nasal drip dan rinorhea purulen. Gejala
sekunder yang dapat timbul ialah bernapas melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan tidur
dan penurunan kualitas hidup.
Pada rinoskopi anterior polip hidung seringkali harus dibedakan dari konka hidung yang
menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaannya adalah massa berwarna pucat berasal dari
meatus medius, bertangkai, mudah digerakkan, konsistensi lunak, tidak nyeri bila ditekan, tidak
mudah berdarah dan pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.1,3

Gambar 6. Polip nasi


Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lundt (1997):5
 Stadium I: polip masih terbatas di meatus medius
 Stadium II: polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di ronggga hidung tapi belum
memenuhi rongga hidung.
 Stadium III: polip yang masif.

Gambar 7. Stadium Polip

14
BAB III
DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.1,5,6
a. Anamnesis
Keluhan utama penderita polip nasi adalah hidung rasa tersumbat dari yang ringan sampai
berat, rinore mulai yang jernih sampai purulen, hiposmia atau anosmia. Mungkin disertai
bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai rasa sakit kepala di daerah frontal. Bila
disertai infeksi sekunder mungkin didapati post nasal drip dan rinore purulen. Gejala
sekunder yang dapat timbul ialah bernafas melalui mulut, suara sengau, halitosis,
gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. Dapat menyebabkan gejala pada saluran
napas bawah, berupa batuk kronik dan mengi, terutama pada penderita polip dengan
asma. Selain itu, harus ditanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi terhadap
aspirin dan alergi obat lainnya serta alergi makanan.1,5,6
b. Pemeriksaan Fisik
Polip nasi yang massif dapat menyebabkan deformitas hidung sehingga hidung tampak
mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat
sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah
digerakkan.1,5,6
c. Pemeriksaan Penunjang
1. Naso-endoskopi
Adanya fasilitas endoskop (teleskop) akan sangat membantu diagnosis kasus polip
nasi yang baru. Polip stadium 1 dan 2 kadangkadang tidak terlihat pada pemeriksaan
rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. 1,5,6
2. Pemeriksaan Radiologi
Foto polos sinus paranasal (posisi Waters, AP, Cadwell dan lateral) dapat
memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara cairan di dalam sinus,
tetapi kurang bermanfaat pada kasus polip. Pemeriksaan tomografi computer (TK, CT
Scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus
paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada
kompleks osteomeatal.1,5,6

15
d. Penatalaksanaan
 Medikamentosa
Satu-satunya pengobatan yang efektif untuk polip nasal adalah kortikosteroid.
Baik bentuk oral maupun topikal, memberikan respon anti inflamasi non-spesifik.
yang mengurangi ukuran polip dan mengurangi gejala sumbatan hidung. Obat-obatan
lain tidak memberikan dampak yang berarti.Selain itu, terapi medikamentosa juga
bertujuan untuk menunda selama mungkin perjalanan penyakit, mencegah
pembedahan dan mencegah kekambuhan setelah prosedur pembedahan.7,8
a. Kortikosteroid Oral
Pengobatan yang telah teruji untuk sumbatan yang disebabkan polip nasal
adalah kortikosteroid oral seperti prednison. Agen anti inflamasi nonspesifik ini
secara signifikan mengurangi ukuran peradangan polip dan memperbaiki gejala
lain secara cepat. Tetapi masa kerja sebentar dan polip sering tumbuh kembali dan
munculnya gejala yang sama dalam waktu mingguan hingga bulanan.7,8
b. Kortikosteroid topikal hidung atau nasal spray
Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya diberikan kortikosteroid intranasal
selama 4-6 minggu. Bila reaksinya baik, pengobatan ini diteruskan sampai polip
atau gejalanya hilang.Respon anti-inflamasi non-spesifiknya secara teoritis
mengurangi ukuran polip dan mencegah tumbuhnya polip kembali jika digunakan
berkelanjutan. Tersedia semprot hidung steroid yang efektif dan relatif aman untuk
pemakaian jangka panjang dan jangka pendek seperti fluticson, mometason,
budesonid dan lain-lain. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal
mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian pasien, sehingga
dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. 7,8
c. Kortikosteroid Sistemik
Pengunaan kortikosteroid sistemik jangka pendek merupakan metode
alternatif untuk menginduksi remisi dan mengontrol polip. Berbeda dengan steroid
topikal, steroid sistemik dapat mencapai seluruh bagian hidung dan sinus,
termasuk celah olfaktorius dan meatus media dan memperbaiki penciuman lebih
baik dari steroid topikal. Penggunaan steroid sistemik juga dapat merupakan
pendahuluan dari penggunaan steroid topikal dimana pemberian awal steroid
16
sistemik bertujuan membuka obstruksi nasal sehingga pemberian steroid topikal
spray selanjutnya menjadi lebih sempurna.
Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga
polipektomi medikamentosa. Bila reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan dari
kortikosteroid intranasal, maka diberikan juga kortikosteroid sistemik. Dosis
kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku, pemberian masih secara
empirik misalnya diberikan Prednison 30 mg per hari selama seminggu
dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama seminggu. Menurut van Camp dan
Clement dikutip dari Mygind dan, Lidholdt untuk polip dapat diberikan
prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam beberapa dosis, yaitu 60
mg/hari selama 4 hari, kemudian dilakukan tapering off 5 mg per hari. Menurut
Naclerio pemberian kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun.
Pemberian suntikan kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi
mengingat bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat emboli. 7,8
d. Antibiotic
Polip nasi dapat menyebabkan obstruksi dari sinus yang berakibat
timbulnya infeksi. Pengobatan infeksi dengan antibiotik akan mencegah
perkembangan polip lebih lanjut dan mengurangi perdarahan selama pembedahan.
Pemililihan antibbiotik dilakukan berdasarkan kekuatan daya bunuh dan hambat
terhadap species staphylococcus dan golongan anaerob yang merupakan
mikroorganisme mikroorganisme tersering yang ditemukan pada sinusitis kronik.
Kalau ada tanda-tanda infeksi harus diberikan juga antibiotik. Pemberian
antibiotik pada kasus polip dengan sinusitis sekurangkurangnya selama 10-14 hari.
7,8

Pasien dengan gejala minimal dapat dimonitor sekali setahun atau dua kali setahun.
Pasien dengan gejala obstruktif yang mengganggu memerlukan follow up yang lebih sering,
terutama jika mereka sedang menerima kortikosteroid oral dosis tinggi atau menggunakan
semprot hidung steroid topikal dalam jangka lama. Intervensi bedah pada polip nasal
dipertimbangkan setelah terapi medikamentosa gagal dan untuk pasien dengan infeksi /
peradangan sinus berulang yang memerlukan perawatan dengan berbagai antibiotik. 7,8

17
 Non- Medikamentosa
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang
sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. 7,8
Indikasi Operasi:
 Polip menghalangi saluran nafas.
 Polip menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksisinus.
 Polip berhubungan dengan tumor.
 Pada anak-anak dengan multipel polip atau kronik rhinosinusitis yang gagal
pengobatan maksimum dengan obat- obatan.
Kontraindikasi Operasi
 Absolut- penyakit jantung dan penyakit paru
 Relatif- gangguan pendarahan, anemia, infeksi akut yang berat (eksaserbasi
asma akut)
 Tindakan Operasi
- Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF)
- Polipektomi
e. Progonosis
Polip hidung sering tumbuh kembali, oleh karena itu pengobatannya juga perlu ditujukan
kepada penyebabnya, misalnya alergi. Terapi yang paling ideal pada rinitis alergi adalah
menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi.

18
BAB IV
KESIMPULAN

Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung, berwarna putih
bening atau keabu-abuan, mengkilat, lunak karna mengandung cairan. Penyebab polip nasi
sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Polip nasi terjadi
karena adanya mukosa yang edema yang kebanyakan terdapat di daerah meatus medius,
kemudian stroma akan terisi oleh cairan intraseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi
polipoid, bila mukosa yang sembab makin membesar akan turun ke dalam rongga hidung sambil
membentuk tangkai, sehingga terbentuk polip.
Gejala utama polip nasi adalah rasa sumbatan pada hidung. Pada rinoskopi anterior polip
hidung seringkali harus dibedakan dari konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid).
Perbedaannya adalah massa berwarna pucat berasal dari meatus medius, bertangkai, mudah
digerakkan, konsistensi lunak, tidak nyeri bila ditekan, tidak mudah berdarah dan pada
pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.
Salah satu pengobatan yang efektif untuk polip nasi adalah kortikosteroid, baik oral
maupun topikal, yang dapat mengurangi ukuran polip dan mengurangu gejala sumbatan hidung.
antibiotik dapat diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi oleh karena obstruksi dari sinus.
Bila tidak membaik dengan terapi pengobatan atau polip yang sangat masif dapat
dipertimbangkan untuk terapi bedah.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunkusumo E. Wardani S R. Polip hidung. Dalam: Soepardi, Efiaty. Iskandar,


Nurbaiti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Edisi ke Enam. Jakarta:
Fakkultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. h. 123-5.
2. Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. Dalam : Soepardi EA, Iskandae N,
Ed .Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi keenam.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.h.118-119.
3. Van Der Baan. Epidemiology and natural history dalam Nasal Polyposis. Copenhagen:
Munksgaard, 1997. 13-1
4. Alper Nabi Erkan, MD, Özcan Çakmak, MD, and Nebil Bal, MD.Frontochoanal polyp
article by All Rights Reserved http://www.entjournal.com . Di akses pada tanggal 30 Juni
2015.
5. Drake Lee AB. Nasal Polyps. In: Scott Brown’s Otolaryngology, Rhinology. 5th Ed. Vol
4. Butterworths. London, 1987: 142-53.
6. John E McClay GOOD. Nasal Polyps. Associate Professor of Pediatric Otolaryngology,
Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Children's Hospital of Dallas,
University of Texas Southwestern Medical School. update Oct 22, 2008.
http://www.medicine.com. Di akses pada tanggal 30 Juni 2015 .
7. S. P. Gulati, Anshu, R. Wadhera & A. Deeo : Efficacy of Functional Endoscopic Sinus
Surgery in the treatment of Ethmoidal polyps . The Internet Journal of
Otorhinolaryngology. 2007 Volume 7 Number 1. Di akses pada tanggal 30 Juni 2015 .
8. Newton, JR. Ah-See, KW. A Review of nasal polyposis. Therapeutics and Clinical Risk
Management 2008:4(2) 507–512

20