Anda di halaman 1dari 15

MODUL PERKULIAHAN

DISTINCTIVE STRATEGIC MANAGEMENT


Types of Strategic in Action
Integration Strategies
Intensive Strategies
Diversication Strategies
Defensive Strategies

Fakultas Program Studi E learning Kode MK Disusun Oleh

06 Dr. Ir. Hakiman Thamrin MM

DAFTAR PUSTAKA

1. Thomas L. Wheelen & J.David Hunger, (2010) Strategy Management and Business Policy, 12th ed
2. Hill. (1995), Strategic Management an integrated approach, consepts and cases.
3. David R. Fred, (2010) Strategic Management consepts and cases , Thirteen Edition.
A. Types of Strategic in Action
Sukses Faktor;

 Value. Leaders harus selalu memaksimalkan nilai-nilai kepada “customers and


end-users, shareholders, employees, and business”
 Catalyst. Leaders harus secara proactive membuat perubahan.
 Action. Leaders haruslah secara terus menerus memperbaiki dan mempertajam
startegi yang digunakan.
 Leadership. Leaders harus terlibat secara langsung dalam implementasi strategi
di-setiap level.
 Partnership. Leaders harusmenjaga komunikasi dengan semua pihak.
 People. Leaders haruslah membantu / melayani semua pihak agar dapat
menjalankan strategi
 Ownership. Leaders haruslah bersikap seperti pemilik dan menjaga komitmen
berjalannya seluruh strategi.

Tujuh Fase dari Strategy-in-action

Sustaining momentum

Catalytic action

Leadership

Indicators of success

Strategic objectives Time

Strategic intent

Shared understanding

Fig. 1: Pyramids of strategy-in-action over time.


Shared understanding is essential at all levels.
Phase 1. Shared understanding
Dimulai dengan kelompok kecil biasanya terdiri dari 15-25 pimpinan dari seluruh
bagian dalam perusahaan untuk membahas situasi terkini dan factor-faktor kunci
yang harus segera diselesaikan.

Phase 2. Strategic intent


Pada fase ini visi perusahaan hendaklah dijabarkan menjadi sesuatu yang dapat
dicapai

Phase 3. Strategic objectives


Tahap ini biasanya tinggal menjalankan 3-5 strategy. Dimana setiap strategic
mempunyai target yang hendak dicapai.

Phase 5. Leadership
Fase penguatan leadership ini biasanya membutuhkan waktu yang panjang. Perlu
diperhatikan disini adalah latar belakang dari pimpinan (leader) dan yang dipimpin.

Phase 6. Catalytic actions


Disini dimatangkan kemungkinan yang akan terjadi akibat penerapan strategi dan
langkah-langkah alternatif yang harus diambil.

Phase 7. Sustaining momentum

Untuk me-maximalkan sustainability, hendaklah focus pada dua pertanyaan berikut;

(1) apakah strategy-nya dynamic atau static?

(2) apakah memberikan nilai tambah?


Berikut Sustainability Matrix

High Added Value

Tree: Mid-term sustainability Bull: Long-term sustainability

Flower: Minimal Fly: Short-term sustainability


sustainability

Low Added Value


Static Strategy Dynamic Strategy

B. Integration Strategies
Strategi integrasi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu “Vertical integration” dan
“horizontal integration”

1. Vertical integration; adalah strategi dimana perusahaan mengambil alih control


satu tingkat ataulebih dari tahapan produksi atau distribusi produk. Perusahaan
melakukan integrasi vertical ini untuk menjamin control dari suplai bahan baku
atau rantai distribusi produk.

2. Horizontal integration adalah mengambil alih perusahaan competitor. Dalam


dunia academic biasa disebut “acquisition”

1. Vertical integration

Ada tiga type dari vertical integration;

 backward integration strategies

 forward integration strategies.

 balanced integration strategies


Berikut gambaran dari masing-masing strategi vertical tersebut;

Credit: strategicmanagementinsight.com

Alternative dari Vertical Integration dapat digambarkan sebagai berikut;


Kapan vertical integration digunakan?

 Suppliers bahan baku atau distributors dari product, tidak dapat dipercaya.
 Harga bahan baku tidak stabil atau distributors mengambil fees yang tinggi.
 Margin dari suppliers atau distributors terlalu besar.
 Perusahaan mempunyai sumberdaya untuk me-manage business baru yang
sekarang ini di-handle oleh suppliers atau distributors
 Industry diperkirakan akan tumbuh pesat.

Keuntungan dari vertical integration

 Terjaminnya supply chain.


 Lebih efisiennya distribution dan after-sales service.
 Keuntungan di level upstream dan downstream dapat di-serap.
 Meningkatkan “entry barriers” bagi pendatang baru.
 Meningkatkan dan mengembangkan “core competencies”

Kerugian dari vertical integration

 Dapat menurunkan mutu bahan baku karena tidak adanya kompetisi.


 Kurangnya fleksibilitas untuk meningkatkan dan menurunkan suplai bahan baku
ke tingkat “economies of scale”.

2. Horizontal integration

Berikut beberapa contoh horizontal integration:

Credit: aventalearning.com
Kapan horizontal integration menarik dilakukan?

 Ketika industry sedang tumbuh dengan baik

 Ketika perusahaan competitor tidak memiliki “expertise” dimana kita memilikinya.

 Ketika “economies of scale” dapat dicapai

 Ketika perusahaan dapat me-manage operasionalisasinya dalam skala


besardengan efisien, setelah integration

Keuntungan dari horizontal integration

 Economies of scale: perusahaan dapat memproduksi barang dengan biaya


murah.

 Increased differentiation: perusahaan mampu untuk mendiferensiasi produk


untuk memenuhi permintaan customers.

 Increased market power: perusahaan memiliki customer yang lebih besar,


sehinggga ini akan meningkatkan daya tawar terhadap distributors.

 Ability to enter new markets

Kerugian dari horizontal integration; ada kemungkinan akan bermasalah dengan


undang-undang anti monopoli.

C. Intensive Strategies
Intensive strategies; adalah usaha untuk meningkatkan kinerja dari produk yang
sudah ada di-pasar.
Types dari Intensive Strategies

1. Market Penetration
2. Market Development
3. Product Development

1. Market Penetration:

Perusahaan berusaha untuk meningkatkan penjualan dari produk yang ada focus
kepada usaha peningkatan pasar

Usaha ini biasanya dilakukan dengan cara;

 Menambah jumlah tenaga penjualan.


 Meningkatkan iklan.
 Menambah item-item yang dipromosikan
 Melakukan usaha-usaha lain untuk memperkenalkan produk kepada public.

Kapan Market Penetration dilakukan?:

 Ketika pasar belum jenuh.


 Customers yang ada bisa didorong untuk meningkatkan penggunaan produk.
 Market share dari competitors turun ketika rata-rata industry penjualan
meningkat.

2. Market Development:
Market development strategy adalah mengembangkan pemasaran produk yang ada
ke-daerah pemasaran yang baru.

Kapan Market Development dilakukan? Antara lain:


 Jika saluran distribusi baru tersebut tidak mahal, reliable & dan bagus
 Sumberdaya manusia & modal, tersedia
 Kapasitas produksi mencukupi.

3. Product Development
Disini perusahaan mencoba untuk meningkatkan posisi kompetisi dan penjualannya
melalui peningkatan dan modifikasi dari produk yang ada.

Kapan strategi Product Development dilakukan?:

1. Ketika produk berada pada posisi maturity dari tahap product life cycle
2. Tersedianya banyak technological canggih untuk mengembangkan produk baru.
3. Sebagian kompetitors sudahmenawarkan produk dengan kualitas lebih baik.
4. Pertumbuhan industry sangat baik untuk mengembangkan produk

D. Diversication Strategies
Diversification Strategies dapat dikelompokkan menjadi ;

1. Concentric diversification
2. Conglomerate diversification
3. Horizontal diversification

1. Concentric diversification adalah menambah produk atau layanan namun masih


berkaitan dengan produk dan layanan yang sudah ada.

Contoh:
Sebuah bank, National Westminister Bank PLC in Britain membeli British
insurance company, Legal & General Group PLC

Kapan Concentric diversification strategies dilakukan?


 Tidak ada atau lembatnya pertumbuhan industry
 Penambahan produk baru akan meningkatkan penjualan dari produk yang ada
 Produk baru tersebut menawarkan harga yang kompetitive.
 Produk yang ada berada pada posisi “decline” dari “product life cycle”
 Memiliki management team yang kuat

2. Conglomerate diversification adalah menambah produk atau layanan namun


tidak berkaitan dengan produk dan layanan yang sudah ada.

Contoh:
Sebuah perusahaan Consultant Construction Engineering mengakuisis sebuah
pabrik

Kapan Conglomerate diversification strategies dilakukan?

 Turunnya “annual sales dan profits”


 Adanya kemampuan managerial dan modal untuk berkompetisi di “new
industry”
 Adanya sinergi “Financial” setelah akuisis
 Produk yang ada sudah jenuh di pasar.

3. Horizontal diversification adalah menambah produk atau layanan baru untuk


customers sekarang.

Contoh:
Sebuah perusahaan rokok yang memproduksi rokok kretek menambah
produknya dengan memproduksi rokok mild

Kapan Conglomerate diversification strategies dilakukan?

 Revenues dari produk/layanan sekarang akan meningkat dengan menambah


produk baru.
 Kompetisi yang ketat dan tidak adanya pertumbuhan industry dengan margin
dan return yang rendah.
 Jalur distribusi yang ada bisa digunakan untuk memasarkan produk baru
untuk customer sekarang ini.

E. Defensive Strategies
Defensive strategy adalah startegi yang membantu perusahaan dalam menjaga
kemungkinan beralihnya loyalitas konsumen potensial kepada competitor.
Kompetitor disini adalah perusahaan lain yang pasarnya berlokasi padai pasar yang
sama atau menjual produk yang sama kepada segmen pasar yang sama.
Ketika persaingan ini ada, setiap perusahaan mempunyai tantangan untuk
melindungi produknya dari pertumbuhan, dan tingkat keuntungan dalam rangka
memiliki kekuatan bersaing dan reputasi diantara produk-produk lainnya.

Pendekatan Defensive Strategy

Ada dua macam pendekatan dari defensive strategy.

Pertama adalah pendekatan agresive dengan melakukan “blocking competitors”


terhadap kompetitor yang akan menggerus (mengambil) market share perusahaan.
Misalnya dengan melakukan pemotongan harga produk, menambah incentives atau
discounts atau meningkatkan iklan dengan harapan akan mendorong customers
untuk membeli produk perusahaan.

Kedua adalah pendekatan yang lebih lunak (passive). Disini perusahaan


memberitahu inovasi produk baru, rencana ekspansi perusahaan yang akan
membuka jaringan baru atau menghubungi pelanggan lama dan mendorongnya
untuk membeli dari perusahaan. Pendekatan ini lebih “rileks” dan tidak begitu
agresive dibandingkan dengan pendekatan pertama yang lebih agresive dan
langsung.
Keuntungan Defensive Strategy

1. Meningkatkan “marketing and advertising” untuk menjaring customers lama dan


baru.

2. Defensive strategies lebih kecil risikonya dibandingkan dengan offensive


strategies. Perusahaan memiliki opsi untuk bersikap passive tanpa merasa
adanya ancaman atas setiap kebijakan yang diambil.

3. Perusahaan selalu bekerja untuk meningkatkan nilai produk dan layanan.


Penekanan atas keuntungan dari “brand”, secara bersamaan akan menurunkan
nilai dari kompetitor. Strategini ini akan efektive untuk strategi jangka panjang
untuk produk dan service pada pasar “niche market”.

Kerugian Defensive Strategy

Kerugian utama dari “defensive strategy” adalah tidak mengetahui siapa target
pemasarannya. Product dan jasa harus sesuai untuk spesifik “demographics” dari
pasar. Misalnya jika akan menjual barang untuk anak-anak, maka sasaran
konsumennya adalah anak-anak bukan remaja

Tiga type “defensive strategies” yaitu; Retrenchment, Divestiture danLiquidation

1. Retrenchment:

Ketika penjualan dan keuntungan mulai menurun, maka “retrenchment strategy”


sering digunakan yaitu dengan mengurangi assets dan pemotongan biaya-biaya.
Tindakan ini secara langsung mengakibatkan penurunan keuntungan dan
penjualan. Strategi ini sering juga disebut dengan “turnaround strategy”. Perlu
diingat bahwa ketika strategi ini dijalankan maka tekanan dari “shareholders”,
media & karyawan akan meningkat.

Tindakan yang biasa dijalankan adalah;

 Menjual gedung dan tanah untuk menaikkan “cash” untuk bisnis


 Mengurangi “product lines”
 Menutup produk-produk yang merugi atau keuntungan kecil(marginal)..
 Menutup pabrik-pabrik yang sudah tua.
 Memodernisasi proses produksi.
 Mengurangi jumlah pegawai.
 Mengontrol dengan ketat pengeluaran biaya-biaya perusahaan.

Kapan Retrenchment dilakukan ?:

Beberapa kondisi umum sebelum “retrenchment strategy” dilakukan adalah;;

 Organisasi yang memiliki “distinctive competencies” namun gagal untuk


mencapai goalnya.
 Situasi dimana keuntungannya rendah, moral pegawai rendah, tidak efficien &
tekanan dari “shareholders” untuk meningkatkan kinerja.
 Managers strategic gagal mencapai target objective-nya
 Organisasi tumbuh dengan cepat (membesar), namun tidak diiringi dengan
peningkatan kinerja, ini membutuhkan reorganisasi besar-besaran.

2. Divestiture:

Divestiture adalaha salah satu dari “defensive strategies” yaitu dengan menjual
salah satu unit bisnisnya. Peningkatan modal adalah melalui divestasi unit bisnis.
Unit yang di-tutup (dijual) adalah unit yang membutuhkan modal besar namun
tidak menguntungkan.

Kapan Divestiture dilakukan?:

 Ketika “retrenchment” sudah dilakukan namun hasilnya tidak menggembirakan


 Ketika kebutuhan akan sumberdaya melebihi kapasitas yang ada.
 Kurang baiknya kinerja akibat tidak efisiennya beberapa unit kerja.
 Tidak sejalannya unit kerja dengan organisasi secara keseluruhan.
Divestiture baik dilakukan untuk mengembalikan konsentrasiusaha kepada “core
bisnis-nya”.

3. Liquidasi

Liquidasi adalah menjual menjual seluruh kekayaan perusahaan untuk


mendapatkan “cash”. Biasa dilakukan ketika perusahaan mengalami kerugian
secara total sehingga seluruh kegiatan operasinal harus ditutup untuk
menghindarai kerugian yang berkelanjutan.

Kapan liquidasi dilakukan?:

 Ketika “retrenchment & divestiture strategies” telah dilakukan namun gagal.


 Ketika jelas-jelas perusahaan menuju bankrut.