Anda di halaman 1dari 8

PERBANDINGAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN

PEMAKAIAN FIBER BAJA DAN PEMAKAIAN FIBER BENDRAT

Rodo Roy Naldi Silalahi1, Daniel Rumbi Teruna2

Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl,Perpustakaan No.1 Kampus USU Medan
Email : rodo_766hi@yahoo.co.id
Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara. Jl Perpustakaan No.1 Kampus USU
Medan

ABSTRAK
Daya tahan beton yang rendah terhadap gaya tarik dan geser dapat ditingkatkan dengan menambahkan fiber pada
beton. Gagasan utamanya adalah memberi tulangan mikro pada beton dengan fiber yang disebar secara merata. Hal
ini akan mencegah retak awal pada beton, sehingga kemampuan beton untuk menahan gaya lentur, aksial, dan geser
akan meningkat. Pada penelitian ini dibuat 3 benda uji balok beton bertulang (ukuran 20mm x 30mm x 320 mm)
dengan rincian sebagai berikut: 1 benda uji balok beton bertulang biasa, 1 benda uji balok beton bertulang dengan
pemakaian fiber baja dan 1 benda uji balok beton bertulang dengan pemakaian fiber bendrat. Kadar fiber yang
digunakan adalah sebesar 2% dari berat semen. Benda uji diletetakkan pada tumpuan sederhana dengan tumpuan
sendi rol, kemudian diberi beban ssecara bertahap hingga mencapai keruntuhan. Dari penelitian yang dilakukan
diperoleh balok beton bertulang dengan fiber baja tidak hanya mereduksi lendutan sebesar 25,7% tetapi juga
mereduksi panjang retak total sebesar 45% bila dibandingkan dengan balok tanpa fiber. Sedangkan balok beton
bertulang dengan pemakaian fiber bendrat mereduksi lendutan sebesar 18,6% dan mengurangi panjang retak total
sebesar 36% bila dibandingkan dengan balok tanpa fiber. Akhirnya, dapat dinyatakan bahwa pemakaian fiber baja
lebih baik daripada pemakaian fiber bendrat bila ditinjau dari lendutan dan pola retak, dan pemakaian fiber pada
beton dapat meningkatkan kinerja balok beton bertulang.

Kata kunci: Balok Beton Bertulang, Fiber Baja, Fiber Bendrat, Lendutan.

ABSTRACT
Concrete’s low endurance against tensile and shear force can be improved by adding fiber into the concrete. The
main idea is to build micro reinforcement by spreading the fiber evenly throughout the concrete. This reinforcement
will prevent initial cracks on the concrete so that this materials ability to withstand bending, axial and shear force
will improve. In this research 3 specimen reinforced concrete beam test (20mm x 30mm x 320mm) have been made:
1 specimen normal reinforced concrete test beam, 1 specimen reinforced concrete beam with steel fiber and 1
specimen reinforced concrete beam with bendrat fiber. The composition of the fiber is 2% of cement’s weight. The
specimen placed on simple support hinge-roll, then loaded gradually up to failure. The results of this research is
steel fiber reinforced concrete beam does not only reduce 25.7% of deflection but also reduces 45% of total crack
length compared to normal reinforced concrete beam. While bendrat fiber reinforced concrete beam reduce
deflection by 18.6% and reduces 36% of total crack length compared to normal reinforced concrete beam. Finally, it
can be stated that the addition of steel fiber is better than the addition of bendrat fiber when viewed from the
deflection and total crack length, and reinforcing concrete beam with fiber can improve the beams performance.

Keywords: reinforced concrete beam, steel fiber, bendrat fiber

1. PENDAHULUAN

Balok beton adalah bagian dari struktur yang berfungsi untuk menopang lantai diatasnya dan balok juga
berfungsi sebagai penyalur momen menuju kolom-kolom. Balok dikenal sebagai elemen lentur yang dominan
memikul gaya dalam berupa momen lentur dan juga geser. Namun seiring bertambahnya fungsi struktur dan beban
yang harus dipikul oleh struktur, diperlukan ukuran balok yang cukup besar untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Secara struktural beton mempunyai tegangan tekan cukup besar, sehingga sangat bermanfaat untuk struktur
dengan gaya-gaya tekan dominan. Kelemahan struktur beton adalah kuat tariknya yang sangat rendah dan bersifat
getas (brittle) sehingga untuk menahan gaya tarik beton diberi baja tulangan. Penambahan baja tulangan belum
memberikan hasil yang benar-benar memuaskan. Retak-retak melintang halus masih sering timbul didekat baja yang
mendukung gaya tarik.
Beton serat adalah material komposit yang terdiri dari beton biasa dan bahan lain yang berupa serat
(Tjokrodimuljo, 1996). Serat merupakan salah satu jenis bahan tambahan (additive) selain admixture dan fly ash (abu
terbang) yang umum digunakan untuk campuran adukan beton. Dengan penambahan serat, beton menjadi lebih tahan
retak dan tahan benturan sehingga beton serat lebih daktail daripada beton biasa. Dengan kata lain pengaruhnya
terhadap kekuatan beton adalah menigkatkan kuat tarik, sementara terhadap kuat tekan pengaruhnya tidak begitu
signifikan.

1.1. Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan tersebut, didapat rumusan masalah sebagai berikut:


1. Bagaimana perilaku balok beton dengan penambahan fiber baja terhadap kekuatan lentur?
2. Bagaimana perilaku balok beton dengan penambahan fiber bendrat terhadap kekuatan lentur?
3. Seberapa besar pengaruh penambahan fiber bendrat dan fiber baja menahan tarik akibat beban terpusat ditengah
bentang?
4. Bagaimana pola retak yang terjadi pada balok tersebut?

Pada penelitian ini akan diuji seberapa besar pengaruh pemakaian fiber baja dan fiber bendrat terhadap
kekuatan lentur dan retak pada struktur balok beton bertulang.

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah :


1. Mengetahui pengaruh pemakaian fiber baja dan fiber bendrat terhadap kekuatan lentur pada struktur balok beton
bertulang.
2. Mengetahui pola retak yang terjadi akibat penambahan fiber baja dan fiber bendrat pada balok beton bertulang.
3. Membandingkan antara teori dan praktek.

1.3. Batasan Masalah

Adapun pembatasan masalah yang diambil dalam penelitian ini, yakni :


1. Benda uji berupa balok persegi dengan penambahan fiber baja dan fiber bendrat pada campurannya.
2. Beban dianggap bekerja pada pusat geser sehingga balok tidak dibebani puntiran.
3. Dimensi benda uji adalah (20x30x320)cm.
4. Tulangan yang dipakai tulangan polos berdiameter 10mm.
5. Konsentrasi fiber 2% dari berat semen (1800 gr).
6. Kuat tekan beton rencana adalah 18,7MPa.
7. Beban pengujian merupakan beban terpusat.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu bahan tambah beton ialah serat (fiber). Beton serat merupakan campuran beton ditambah serat.
Bahan serat dapat berupa serat asbestos, serat plastik (poly-propyline), atau potongan kawat baja, serat tumbuh-
tumbuhan (rami, sabut kelapa, bambu, ijuk) (Trimulyono, 2004). Karena ditambah serat, maka menjadi suatu bahan
komposit yaitu beton dan serat. Penambahan serat kawat kedalam adukan beton adalah untuk untuk mengatasi sifat-
sifat kurang baik dari beton. Ide dasar penambahan serat adalah memberikan tulangan serat pada beton yang disebar
merata secara acak (random)untuk mencegah retak-retak yang terjadi akibat pembebanan (Sudarmoko,1990).
Adapun kelebihan dan kekurangan penggunaan beton serat adalah sebagai berikut:
• Kelebihan Penggunaan Serat
a. Dapat meningkatkan kuat lentur beton.
b. Kemungkinan terjadi segregasi kecil.
c. Daktilitas (kemampuan menyerap energi) juga meningkat.
d. Tahan benturan.
e. Retak-retak yang terjadi dapat direduksi.
f. Beton menjadi lebih kaku.
g. Meningkatkan kuat tarik, kuat tekan dan kuat desak beton.
• Kekurangan Penggunaan Serat
a. Biaya menjadi lebih mahal karena adanya penambahan material yang
berupa serat.
b. Proses pengerjaan lebih sulit dari beton biasa.
Fiber untuk campuran beton dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu: fiber metal, fiber polymeric, fiber
mineral dan fiber alam. Beton yang diberi bahan tambah serat disebut beton serat (fibre reinforced concrete). Pada
penelitian ini fiber yang digunakan adalah fiber baja dan fiber bendrat pada campuran balok beton bertulang.
Steel fiber didefenisikan sebagai bagian kecil yang rata atau bergelombang baja dingin; bagian rata atau
bergelombang potongan baja; leburan ekstrak serat atau serat baja lainnya yang sangat kecil tersebar merata dalam
campuran beton segar dengan tegangan tarik rata–rata fu, tidak kurang dari 345 MPa ( ASTM-A820 ). Berdasarkan
ASTM-A820, terdapat empat tipe umum serat baja yang digunakan sebagai material, yaitu tipe I kawat dingin; tipe
II potongan tipis; tipe III leburan ekstrak serta tipe IV serat jenis lainnya.

Gambar 1. Berbagai Tipe Fiber Baja

Fiber bendrat adalah jenis kawat lokal atau kawat beton yang berdiameter ± 1mm dan dipotong-potong
dengan panjang ±6cm dan dijadikan sebagai fiber. Pada penelitian Suhendro, dipelajari pengaruh penambahan fiber
lokal (yang berupa potongan kawat yang murah harganya dan banyak tersedia di Indonesia) kedalam adukan beton
mengenai daktilitas, kuat desak dan impact resistance beton fiber yang dihasilkan. Fiber lokal tersebut dimaksudkan
untuk menggantikan steel fiber yang telah dipakai diluar negeri. Konsentrasi fiber yang diteliti adalah 0,5 dan 1 %.
Diameter kerikil maksimal yang dipakai adalah 2 cm karena akan mempermudah penyebaran fiber kawat bendrat
secara merata kedalam adukan beton. Faktor air semen 0,55. Dari hasil pengujian terhadap benda–benda uji
disimpulkan dengan adanya serat pada beton dapat mencegah retak-retak rambut menjadi retakan yang lebih besar.
Dengan penambahan serat pada adukan beton ternyata dapat meningkatkan ketahanan terhadap daktilitas, beban
kejut (impact resistance) dan kuat desak. Tingkat perbaikannya tidak kalah dengan hasil–hasil yang dilaporkan
diluar negeri dengan menambahkan steel fiber yang asli.

3. METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian
Pengecoran benda uji dilaksanakan di Laboratorium Bahan Rekayasa Fakultas Teknik Universitas
Sumatera Utara dan Pemberian beban dilaksanakan di Laboratorium Struktur Program Magister Teknik Sipil
Universitas Sumatera Utara.
Rencana Benda Uji
Dalam penelitian ini dibuat 3 benda uji balok beton bertulang dengan kuat tekan beton rencana 18,7MPa. Rencana
benda uji dapat dilihat pada tabel

Tabel 1. Rencana Benda Uji

Panjang Bentang Lebar Tinggi Kadar Fiber


Benda Uji Jumlah
(cm) (cm) (cm) (kg)
Balok Tanpa Fiber 320 20 30 - 1

Balok Fiber Baja 320 20 30 1,8 1

Balok Fiber Bendrat 320 20 30 1,8 1

Gambar 2. Penampang Memanjang Benda Uji

Gambar 3. Penampang Melintang Benda Uji

Pengecoran Benda Uji


Urutan pengecoran adalah sebagai berikut :
1. Hidupkan mesin pengaduk beton / molen.
2. Masukkan air secukupnya kedalam mesin pengaduk agar permukaan bagian
dalam mesin pengaduk basah.
3. Setelah itu masukkan material dengan urutan : pasir, semen, air, kerikil. Dan untuk benda uji dengan serat / fiber
dimasukkan pada urutan terakhir setelah keempat material diatas bercampur secara sempurna.
4. Aduk dengan kecepatan rendah selama + 5 menit agar campuran teraduk secara
sempurna. Dan untuk benda uji dengan serat / fiber dimasukkan setelah beton teraduk secara sempurna.
5. Selanjutnya, adukan beton dituangkan kedalam cetakan balok dan silinder secara bertahap. Agar beton yang
dituang terisi secara penuh dan merata dibantu dengan merojok atau menggunakan alat vibrator.
7. Setelah benda uji pertama selesai, dilanjutkan dengan benda uji kedua dan ketiga dengan tambahan serat / fiber.

Pengujian Kuat Tekan Beton Benda Uji Silinder


1. Benda uji dikeluarkan dari rendaman 1 hari sebelum pengujian (28 hari) agar
Permukaan benda uji kering.
2. Kemudian timbang berat benda uji.
3. Benda uji diletakkan pada Compression Machine sehingga tepat berada pada
tengah-tengah alat penekan.
4. Secara perlahan-lahan beban tekan diberikan pada benda uji dengan mengoperasikan tuas pompa.
5. Pada saat jarum penunjuk skala beban tidak naik lagi, catat angka yang ditunjukkan jarum penunjuk yang
merupakan beban maksimum yang dapat dipikul oleh benda uji tersebut.
Pengujian Kekuatan Balok Beton Bertulang
1. Balok beton diatas perletakan yang telah disediakan, pasang dial dimana akan diukur lendutan.
2. Letakkan sumber beban tepat pada titik tengah balok.
4. Setelah semua perangkat alat-alat pengujian disiapkan, kemudian dilakukan pembebanan secara berangsur-angsur
dengan kenaikan setiap 500 kg pada pembacaan hydraulic.
5. Setiap tahap pembebanan, dilakukan pembacaan lendutan dan regangan serta mengamati deformasi yang terjadi
pada balok.
6. Pembacaan dilakukan hingga balok mencapai keruntuhan.

Gambar 4. Penempatan Pembacaan Alat Dial Lendutan

Gambar 5. Skema Pengujian Pada Compression Machine

Nilai kuat tekan beton diperoleh dari persamaan :

Ρ
f'c =
Α

dimana :

f’c = Kekuatan tekan ( kg / cm2 )


P = Beban tekan ( kg )
A = Luas permukaan benda uji ( cm2 )
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah melalui penelitian, diperoleh hasil sebagai berikut:

Kuat Tekan Beton


Kuat tekan beton dipengaruhi oleh komposisi bahan susun beton, kekuatan masing-masing bahan
penyusun, dan lekatan pasta semen dan agregat. Hasil pengujian kuat tekan ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Kuat Tekan Beton:

Kuat Tekan Kuat Tekan


Benda Uji Kode
(MPa) Rata-rata (MPa)

1A 18,49
Tanpa Fiber 18,6
2B 18,72
Pemakaian Fiber 2A 18,63
18,7
Bendrat 2B 18,77
Pemakaian Fiber 3A 18,72
18,8
Baja 3B 18,91

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa penambahan fiber baja ataupun fiber bendrat sebesar 2% dari berat
semen tidak berpengaruh banyak terhadap kuat tekan beton. Pemakaian fiber baja pada beton mampu meningkatkan
kuat tekan beton dari 18,6 MPa menjadi 18,8 MPa. Sedangkan pemakaian fiber bendrat meningkatkan kuat tekan
beton dari 18,6 MPa menjadi 18,7 MPa.

Kuat Lentur Balok


Hasil pengujian kuat lentur balok beton bertulang dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini:
Tabel 3. Data Hasil Pengujian Lendutan Pada Tengah Bentang Balok Beton Bertulang

Tanpa Fiber Fiber Baja Fiber Bendrat


Beban P (Kg)
(0,01 mm) (0,01 mm) (0,01 mm)
0 0 0 0
500 11 5 9
1000 43 21 25
1500 91 64 77
2000 195 102 108
2500 337 285 312
3000 478 393 405
3500 624 521 557
4000 973 726 763
4500 1112 834 882
5000 1296 962 1054
5500 0 1127 1210
5500

5000

4500

4000

3500
Beban (kg)
3000

2500

2000

1500

1000

500

0
0 500 1000 1500
1500
tanpa fiber fiber baja fiber bendrat

Gambar 5.. Grafik Hubungan Beban-Lendutan


Beban Tengah Bentang Pada Masing-masing
masing Balok

Dari tabel diatas pemakaian fiber baja sebanyak 1800gr dapat mereduksi lendutan sebesar 25,7% bila
dibandingkan dengan beton normal. Sedangkan dengan pemakaian fiber bendrat sebanyak 1800gr dapat mereduksi
lendutan sebanyak 18,6% bila dibandingkan dengan beton normal. Pada beban awal sampai 2000kg perbedaan
lendutan balok beton bertulang normal dengan pemakaian fiber tidak signifikan. Hal tesebut dikare
dikarenakan beton
belum retak.

Tabel 4.. Data Perbandingan Lendutan Secara Teoritis Dengan Percobaan Balok

Tanpa Fiber Fiber Baja Fiber Bendrat


Beban
P (kg) ∆ teoritis ∆ percobaan ∆ teoritis ∆ percobaan ∆ teoritis ∆ percobaan
tanpa fiber fiber baja fiber bendrat
(0,01mm) (0,01mm) (0,01mm)
(0,01mm) (0,01mm) (0,01mm)
0 0 0 0 0 0 0
500 43 11 42 5 42 9
1000 69 43 68 21 69 25
1500 95 91 95 64 95 77
2000 207 195 121 102 121 108
2500 348 337 343 285 346 312
3000 506 478 497 393 502 405
3500 665 624 657 521 661 557
4000 822 973 814 726 818 763
4500 973 1112 965 834 969 882
5000 1120 1296 1111 962 1116 1054
5500 0 0 1253 1127 1258 1210
Tabel 5. Panjang Retak Total

Balok Dengan
Balok Tanpa Balok Dengan
Beban (kg) Fiber Bendrat
Fiber (cm) Fiber Baja (cm)
(cm)
0 0 0 0
500 0 0 0
1000 0 0 0
1500 0 0 0
2000 35 0 0
2500 66 27 30
3000 97 41 53
3500 114 62 70
4000 159 78 86
4500 192 93 108
5000 230 105 121
5500 - 126 147
Berdasarkan data panjang retak total dari balok beton bertulang, pemakaian fiber baja lebih baik
dibandingkan pemakaian fiber bendrat maupun beton normal. Balok beton normal mulai retak pada beban 1500kg
dan balok beton dengan pemakaian fiber mulai retak pada beban 2000kg.

5. KESIMPULAN

Dari hasil pengujian yang dilakukan dilaboratorium, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Lendutan yang terjadi pada beton bertulang dengan penambahan serat baja sebanyak 1800gr berkurang
dari 12,96 mm menjadi 9,62 mm atau mereduksi sebesar 25,7% bila dibandingkan dengan beton normal.
2. Sedangkan dengan penambahan serat bendrat sebanyak 1800gr lendutan yang terjadi berkurang dari 12,96
mm menjadi 10,54 mm atau mereduksi sebesar 18,6% bila dibandingkan dengan beton normal.
3. Total panjang retak yang terjadi pada balok beton bertulang dengan penambahan fiber baja mengalami
pengurangan dari 230 cm menjadi 105 cm atau sebesar 45% bila dibandingkan dengan beton normal.
4. Sedangkan dengan penambahan fiber bendrat tota panjang retak mengalami pengurangan dari 230 cm
menjadi 121 cm atau sebesar 36% bila dibandingkan dengan beton normal.
5. Ditinjau dari segi lendutan dan total panjang retak, pemakaian fiber baja lebih baik dibandingkan dengan
pemakaian fiber bendrat.

6. DAFTAR PUSTAKA

Chu-K.W, Salmon, and Charles G., 1985, Reinforced Concrete Design, Harper & Row Inc.
J.K. Wight and J.G. MacGregor, 2009, Reinforced Concrete Mechanics and Dessign, New Jersey: Pearson
Education Inc.
Kwak, Yoon-Keun; Eberhard, Marc, O.; Kim, Woo-Suk and Kim, Jubum, 2002, Shear Strength of Steel Fiber-
Reinforced Concrete Beams Without Stirrups, ACI Structural Journal V.99 No. 4 July-August 2002.
Parra. Gustavo J., 2005, High-Performance Fiber Reinforced Cement Composites: An Alternative for Seismic
Design of Structures, ACI Structural Journal V.102 No. 5 September-October 2005.
SK SNI 03-2847-2002, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, Badan Standar Nasional.
Suryoatmono. Bambang (Penterjemah), 1990, Beton Bertulang (Suatu Pendekatan Dasar), Bandung: PT.Eresco.
Sembiring. Thambah, 2004, Beton Bertulang, Bandung:Rekayasa Sains.
Suhendro,B., 1991, Pengaruh Fiber Kawat pada Sifat-Sifat Beton, Seminar Mekanika Bahan Dalam Berbagai
Aspek, Yogyakarta.
Wahyono dan Sardjono,W., 2003, Pengaruh Penambahan Fiber Bendrat Pada Kuat Geser Balok Beton Bertulang
Tanpa Sengkang, Jurnal Teknik Sipil Volume 3 No. 2 2003.
Wahyono. Agt., 2005, Prediksi Kuat Geser Balok Beton Bertulang Fiber Bendrat, Jurnal Teknik Sipil Volume 6 No.
1 Oktober 2005