Anda di halaman 1dari 5

Yth Bp/Ibu, mohon diskusikan apa-apa yang terkait dengan TB Konstruktivistik.

Teori Dasarnya,
tokoh-tokohnya, kelebihan dan kelemahannya, dll. Berikan contohnya dalam konteks pembelajaran
matematika di sekolah. Silakan.

Pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan
kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman. Dalam
proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya
dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif
dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Yang terpenting dalam teori konstruktivistik adalah bahwa dalam proses pembelajaran siswalah
yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan
mereka, bukannya guru atau orang lain. Peserta didik perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah
dan menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Penekanan belajar
siswa secara aktif ini perlu dikembangkan karena kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu
mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Pembentukan pengetahuan menurut model konstruktivisme memandang subyek aktif menciptakan


struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur
kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh
realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur
kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme
yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses
rekonstruksi (Piaget,1988:60).

Belajar lebih diarahkan pada experiental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan
berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sejawat, yang kemudian
dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari
mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar. Belajar seperti ini
selain berkenaan dengan hasilnya (outcome) juga memperhatikan prosesnya dalam konteks tertentu.
Pengetahuan yang ditransformasikan diciptakan dan dirumuskan kembali (created and recreated),
bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Bentuknya bisa objektif maupun subjektif, berorientasi pada
penggunaan fungsi konvergen dan divergen otak manusia ( Semiawan, 2001: 6 ).

Pengetahuan dalam pengertian konstruktivisme tidak dibatasi pada pengetahuan yang logis
dan tinggi. Pengetahuan di sini juga dapat mengacu pada pembentukan gagasan, gambaran,
pandangan akan sesuatu atau gejala sederhana. Dalam konstruktivisme, pengalaman dan lingkungan
kadang punya arti lain dengan arti sehari-hari. Pengalaman tidak harus selalu pengalaman fisis
seseorang seperti melihat, merasakan dengan indranya, tetapi dapat pula pengalaman mental yaitu
berinteraksi secara pikiran dengan suatu obyek (Suparno, 1997 : 80). Dalam konstruktivisme kita
sendiri yang aktif dalam mengembangkan pengetahuan.

Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik

1. Proses belajar konstruktivistik

Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan
informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian
makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui prosesnya asimilasi dan akomodasi yang
bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi
prosesnya dari pada segi perolehan pangetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Pemberian
makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri
oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial, yang unik yang terbentuk baik dalam
budaya kelas maupun di luar kelas. Oleh sebab itu pengelolaan siswa dalam memperolah
gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada
unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti
nilai, ijasah, dan sebagainya.

2. Peran Siswa

Menurut pandangan kontruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan.


Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir,
menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat
dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagian
terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat
belajar siswa sendiri. Dengan istilah lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendala belajar
sepenuhnya ada pada siswa.

Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan
awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam
mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh karena itu meskipun kemamuan awal tersebut masih
sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar
pembelajaran dan pembimbingan.

3. Peranan Guru

Dalam belajar kostruksi guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian
pengetahuan oleh siswa untuk membentuk pengetahuaanya sendiri. Guru dituntut untuk lebih
memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa
satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya.

Peranan guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendali, yang meliputi;

1) Menumbuhkan kamandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan


bertindak.

2) Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak dengan meningkatkan


pengetahuan dan ketrampilan siswa.

3) Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai
peluang optimal untuk latihan.

Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar


adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan,
media, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya.

4. Sarana belajar

Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa
dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan,
lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi
kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikiranya tentang sesuatu yang dihadapinya.
Untuk menyampaikan pengalaman yaitu menyajikan bahan kepada murid-murid yang sekiranya
tidak mereka peroleh dari pengalaman langsung. Ini dapat di lakukan dengan melalui film, TV,
rekaman suara, dan lain-lain. Hal ini merupakan pengganti pengalaman yang langsung.

5. Evaluasi

Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung


munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan, serta
aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman.

Karakteristik perspektif konstruktivistik

Beberapa karakteristik yang merupakan prinsip dasar prespektif kontruktivistik dalam pembelajaran
adalah sebagai berikut :

1. Mengembangkan strategi alternatif untuk memperoleh dan menganalisis informasi.


2. Dimungkinkannya prespektif jamak dalam proses belajar.
3. Peran siswa utama dalam proses belajar, baik dalam mengatur atau mengendalikan proses
berfikirnya sendiri maupun ketika berinteraksi dengan lingkungannya.
4. Peran pendidik atau guru lebih sebagai tutor, fasilitator, dan mentor untuk mendukung
kelancaran dan keberhasilan proses belajar siswa.
5. Pentingnya kegiatan belajar dan evaluasi belajar yang otentik.

2. Berkaitan dengan konstruktivisme, terdapat dua teori belajar yang dikaji dan dikembangkan oleh
Jean Piaget dan Vygotsky, yang dapat diuraikan sebagai berikut:

* Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget


Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa
penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang
dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme
adalah sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik
yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai
dengan skemata yang dimilikinya.
Proses mengkonstruksi, sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut:

 Skemata. Sekumpulan konsep yang digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan


disebut dengan skemata. Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian
dinamakan skema (schema). Skema terbentuk karena pengalaman. Misalnya, anak senang
bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Berkat keseringannya, ia
dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci
berkaki dua. Pada akhirnya, berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk
skema tentang binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua. Semakin dewasa anak,
maka semakin sempunalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan sekema
dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
 Asimilasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi,
konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam
pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan
mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses
asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian
skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu
dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian
orang itu berkembang.
 Akomodasi. Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat
mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman
yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam
keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk
skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah
ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
 Keseimbangan. Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi
sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi
dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan
struktur dalamnya.

* Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky


Ratumanan (2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama.
Pertama, perkembangan intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari konteks historis dan
budaya pengalaman anak. Kedua, perkembangan bergantung pada sistem-sistem isyarat mengacu
pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang berfikir, berkomunikasi
dan memecahkan masalah, dengan demikian perkembangan kognitif anak mensyaratkan
sistem komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk menyesuaikan
proses-proses berfikir diri sendiri.

Menurut Slavin (Ratumanan, 2004:49) ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan.
Pertama, dikehendakinya setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar kelompok-
kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa dapat berinteraksi dalam
mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah
yang efektif di dalam daerah pengembangan terdekat/proksimal masing-masing. Kedua, pendekatan
Vygotsky dalam pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding). Dengan scaffolding, semakin
lama siswa semakin dapat mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK

Analisis Kelebihan Teori Konstruktivistik

1. Teori ini dalam proses berfikir membina pengetahuan baru, membantu siswa untuk mencari
ide, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan
2. Teori ini dalam proses pemahaman murid terlibat secara langsung dalam membina
pengetahuan baru
3. Teori ini dalam proses pengingatan siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan
ingat lebih lama semua konsep
4. Teori ini dalam kemahiran sosial siswa dapat dengan mudah berinteraksi dengan teman dan
guru dalam mebina pengetahuan baru
5. Oleh klarena siswa terlibat secara terus-menerus makan mereka akan paham, ingat, yakin,
dan berinteraksi maka akan timbul semangat dalam belajar dan membina pengetahuan baru.

Analisis Kekurangan Teori Konstruktivistik


1. Siswa membuat pengetahuan dengan ide mereka masing-masing, oleh karena itu pendapat
siswa berbeda dengan pendapat para ahli
2. Teori ini menanamkan supaya siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti
membutuhkan waktu yang lama. Apalagi untuk siswa yang malas
3. Kondisi disetiap sekolah pun mempengaruhi keaktifan siswa dalam membangun
pengetahuan yang baru dan keaktifan siswa.