Anda di halaman 1dari 139

1

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kehamilan

1. Definisi

Menurut Federasi Obstetri Genikologi Internasional, kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari

saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung

dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender

internasional. Kehamilan terbagi menjadi 3 trimester, dimana trimester

satu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu

ke-13 hingga ke-27), dan trimester ke tiga 13 minggu, minggu ke-28

hingga ke-40 (Prawirohardjo, 2016).

Kehamilan merupakan peristiwa yang terjadi pada seorang

wanita, dimulai dari proses fertilisasi (konsepsi) sampai kelahiran bayi.

Masa kehamilan dimulai dari periode akhir menstruasi sampai kelahiran

bayi, sekitar 266-280 hari atau 3-40 minggu, yang terdiri dari tiga

trimester, yaitu trimester I. Trimester II, dan trimester III. Periode

perkembangan kehamilan terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama,

perkembangan zigot, yaitu pembentukan sel, pembelahan sel menjadi

blastosit, dan implantasi. Tahap kedua perkembangan embrio, yaitu dari

diferensiasi sampai organogenesis, tahap ketiga perkembangan fetus

(janin) atau pertumbuhan bakal bayi. Proses kehamilan mengakibatkan


2

tubuh ibu mengalami perubahan dari kondisi sebelum hamil. Terjadi

perubahan pada mekanisme pengaturan dan fungsi-fungsi organ tubuh,

yang meliputi perubahan secara fisiologis, metabolic dan anatomis

(Hardinsyah dan Supariasa, 2017).

Kehamilan adalah peryumbuhan dan perkembangan janin

intrauterine mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan

persalinan (Manuaba, 2010).

Kehamilan adalah merupakan kelanjutan dari proses konsepsi,

yaitu sperma bertemu dengan ovum, terjadi penyatuan sperma dan

ovum, sampai dengan terjadi perubahan fisik dan kimiawi, ovum sperma

hingga menjadi buah kehamilan (Sulistyawati, 2011).

Kesimpulan dari pengertian kehamilan diatas yaitu, kehamilan

adalah hasil dari pertemuan antara sperma dan ovum yang berlangsung

selama 40 minggu dan berakhir sampai permulaan persalinan.

2. Tanda Kehamilan

a. Tanda Pasti (Positive Sign)

Tanda pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung

keberadaan janin, yang dapat dilihat langsung oleh pemeriksa.

Tanda pasti kehamilan terdiri atas hal-hal berikut:

1) Gerakan janin dalam rahim

Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh

pemeriksa. Gerakan janin baru dapat dirasakan pada usia

kehammilan sekitar 20 minggu.


3

2) Denyut jantung janin

Dapat didengar pada usia 12 minggu dengan menggunakan

fetal electrocardiograf (misalnya dopler). Degan stethoscope

leneac, DJJ baru dapat didengar pada usia kehamilan 18-20

minggu.

3) Bagian-bagian Janin

Bagian-bagian janin yaitu besar janin (kepala dan bokong)

serta bagian kecil janin (lengan dan kaki) dapat diraba dengan

jelas pada usia kehamilan lebih tua (trimester terakhir). Bagian

janin ini dapat dilihat lebih sempurna lagi menggunakan USG

(Walyani, 2015)

3. Perubahan Fisiologi pada Kehamilan Trimester III

a. Sistem Reproduksi

1) Uterus

Pada akhir kehamilan biasanya kontraksi dangat jarang dan

menningkat pada satu atau dua minggu sebelum persalinan.

Peningkatan kontraksi myometrium ini menyebabkan otot

fundus tertarik keatas. Segmen atas uterus yang berkontraksi

secara aktif menjadi lebih tebal dan memendek serta

memberikan tarikan yang lambat dan stabil terhadap serviks

yang relative terfiksasi yang menyebabkan dimulainya

peregangan dan pematangan serviks yang diseut dengan

pembukaan serviks.
4

2) Serviks

Akibat bertambah aktivitas uterus selama kehamilan, serviks

mengalami pematangan secara bertahap, dank anal mengalami

dilatasi. Secara teoritis pembukaan serviks biasanya terjadi pada

primigravida selama 2 minggu terakhir kehamilan, tapi biasanya

tidak terjadi pada multigravida hingga persalinan dimulai.

Namun demikian, secara klinis terdapat berbagai variasi tentang

kondisi serviks pada persalinan.

Pembukaan serviks merupakan mekanisme yang terjadi saat

jaringan ikat serviks yang keras dan panjang secara progresif

melunak dan memendek dari atas ke bawah. Serat otot yang

melunak sejajar os serviks internal tertarik ke atas, masuk ke

segman bawah uterus dan berada di sekitar bagian presentasi

janin dan air ketuban. Kanal yang tadi berukuran kira-kira 2,5

cm menjadi orifisium dengan bagian tepinya yang setipis kertas.

3) Vagina

Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang

merupakan persiapan untuk mengalami peregangan pada waktu

persalinan dengan meningkatkan ketebalan mukosa,

mengendornya jaringan ikat, dan hipertrofi itit polos. Perubahan

ini mengakibatkan bertambah panjangnya dinding vagina.

Papilla mukosa juga mengalami hipertrofi dengan gambaran

seperti paku sepatu.


5

Peningkatan volume sekresi vagina juga terjadi, dimana

sekresi akan berwarna keputihan menebal, dan pH antara 3,5 – 6

yang merupakan hasil dari peningkatan produksi asam laktat

glokogen yang dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari

lactobacillus acidopillus.

b. Payudara

Di akhir kehamilan kolostrum dapat keluar dari payudara,

progesterone menyebabkan putting lebih mononjol dan dapat

digerakkan. Peningkatan prolactin akan merangsang sintesis lactose

dan akhirnya akan meningkatkan produksi air susu. Pada bulan yang

sama areola akan lebih besar dan kehitaman.

c. Sistem Endokrin

Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran

(ductless) yang menghasilkan hormone yang tersirkulasi dirubuh

melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain.

Hormone bertindak sebagai “pembawa pesan” dan dibawa oleh

aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya kan

menerjemahkan “pesan” tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem

endokrin ridak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar

ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran

gastrointestin. Kelenjar endokrin (endocrineglarul) terdiri dari:

1) Kelenjar hipofise atau pituitary (hypophysisor pituitary granrl)

yang terletak didalam rongga kepala dekat dasar otal.


6

2) Kelenjar tiroid (thyroid glanrl) atau kelenjar gondok yang

terletak di leher bagian depan.

3) Kelenjar paratiroid (parathyroid glanrl) dekat kelenjar tiroid.

4) Kelenjar suprarenal (suprarenalgranrl) yang terletak di kutub

atas ginjal kiri-kanan.

5) Pulau Langerhans (islets of Langerhans) didalam jaringan

kelenjar pancreas.

6) Kelnjar kelamin (gonarl) laki-laki di testis dan indung telur pada

wanita.

7) Plasenta dapat juga dikategorikan sebegai kelenjar endokrin

karena menghasilkan hormone.

Perubahan-perubahan hormone endokrin selama kehamilan

antara lain:

1) Kelenjar Hipofisis Ibu

Kelenjar ini bertambah besar kira-kira sepertiga dimana

unsur utama pertambahan besar ini adalah hyperplasia laktotrof

sebagai respons terhadap kadar estrogen plasma yang tinggi.

PRL yaitu produk dari laktrotof, merupakan satu-satunya

hormone hipofisis anterior yang menningkat progresif selama

kehamilan, yaitu dengan kontribusi dari hipofisis anterior dan

desidua.

2) Kelenjar Tiroid Ibu

Tiroid teraba membesar selama trimester pertama dan dapat

didengarkan adanya bruit. Perubahan-perubahan ini sebagian


7

besar disebabkan oleh meningkatnya bersihan iodida ginjal

yang menyebabkan suatu defisiensi ioudium relative.

3) Kelenjar Paratiroid Ibu

Kebutuhan akan klasium untuk perkembangan kerangka

janin diperkirakan sekitar 30 gr menjelang aterm. Kebutuhan ini

dapat dipenuhi melalui hyperplasia kelenjar paratiroid dan

peningkatan kadar serum hormone paratiroid.kadar serum ibu

menurun mencapai nadir pada kehamilan 28-32 minggu,

terutama karena hipoalbumenia kehamilan. Kalsium ion

dipertahankan dalam kadar normal selama kehamilan.

4) Pancreas Ibu

Ukuran pulau-pulau pancreas bertambah, dan sel-sel

pengahsil insulin mengalami hyperplasia. Kadar insulin basal

leih rendah atau tidak berubah pada awal kehamilan, namun

meningkat pada trimester kedua.

d. Sistem Kekebalan

Janin sebenarnya merupakan benda asing bagi ibu karena

merupakan hasil pertemuan dua gamet yang berlainan, namun

ternyata janin dapat diterima oleh sistem imunitas tubuh ibu.

Pada ibu hamil aka muncul ‘Mekanisme Imun Depresion’

yaitu suatu mekanisme tubuh yang menekan sistem imun sehingga

menahan respon yang telah bangkit seperti pada HCG yang dapat

menekan progress transformasi sel limfosit T, sistem pertahanan ibu

selama kehamilan akan tetap utuh, kadar immunoglobulin dalam


8

kehamilan tidak berubah. Sistem imunitas seluler terhadap antigen

plasma akan mulai terjadi pada trimester II yang semakin lama

semakin meningkat sesuai usia kehamilan. Immunoglobulin G atau

IgG merupakan komponen utama immunoglobulin janin didalam

uterus dan neonatal dini dimuali sekitar usia 16 minggu usia

kehamilan dan terus meningkat sampai 4 minggu terakhhir

kehamilan. Imunoglubulin G merupakan satu-satunya

immunoglobulin yang dapat menembus plasenta sehingga

immunitas pasif akan diperoleh bayi. Kekebalan ini dapat

melindungi bayi dari infeksi.

e. Sistem Perkemihan

Saluran perkemihan adalah sistem yang berkaitandengan

fungsi eliminasi dan produksi urin dalam tubuh, sistem ini juga

dianggap penting yang berhubungan dengan control keseimbangan

air dan elektrolit serta tekanan darah. Uterus pada wanita tidak hamil

berada tepat dibelakang dan sebagian diatas kandung kemih. Saat

hamil, uterus membesar mempengaruhi semua bagian saluran kemih

pada waktu yang berbeda dan hormone kehamilan memberikan

pengaruh yang lebih besar dibandingkan efek mekanis. Yang

termasuk organ sistem perkemihan adalah:

1) Ginjal (Ren)

Pada kehamilan ginjal berfungsi untuk mengelola zat-zat

sisa dan kelebihan yang dihasilkan akibat peningkatan volume

darah dan curah jantung juga produk metabolisme tetapi juga


9

menjadi organ utama yang mensekresi produk sisa dari janin.

Pada trimester III biasanya terjadi hidronefrosis terjadi pada 80-

90% wanita. Mungkin disebabkan oleh respons ginjal oleh

progesterone dan peningkatan tekanan intraureter superior

terhadap tepi pelviks. Hidronefrosis lebih sering terjadi pada

ginjal kanan, dan kemungkinan besar disebabkan oleh

peningkatan ditensi urethra kanan.

2) Ureter

Merupakan saluran yang menghubungkan dari Ren menuju

ke vesika urinaria. Ureter memanjang dan membentuk kurva

tunggal atau ganda yang tampak seperti sebuah belitan pada

pemeriksaan sinar-X. Pada trimester III akibat tekanan pada

ureter kanan tersebut, lebih sering terjadi hidroureter,.

Hidroureter terjadi saat uterus mulai keluar dari panggul dan

masuk kedalam abdomen dan menekan ureter saat melewati tepi

panggul. Hidroureter lebih menonjol pada bagian kanan

daripada bagian kiri akibat Dekstrotasi uterus saat keluar dari

panggul.

3) Vesika urinaria

Merupakan suatu kantong muskulomembran yang berfungsi

untuk menampung urine. Pada Trimester III permukaan mukosa

menjadi hiperemia dan edema sehingga terjadi peningkatan

resiko trauma pada persalinan. Jika pada kandung kemih penuh

maka akan disalurkan ke urethra.


10

4) Urethra

Merupakan saluran terakhir dari saluran kemih. Memiliki

panjang 4 cm pada wanita dan terdiri dari saluran sempit yang

berada didalam lapisan luar dinding vagina anterior. Urethra

bermula dari leher vesika urinaria dan terbuka kedalam

vestibulum vulva sebagai meatus urethra. Selama kehamilan

Trimester I, urethra sedikit memanjang dan pada Trimester II

urethra akan lebih memanjang terutama pada Trimester III,

urethra akan lebih memanjang karena vesika urinaria tertarik

keatas kea rah abdomen dan dapat bertambah panjang beberapa

sentimeter.

Pola normal berkemih pada wanita tidak hamil, pada siang

hari, berkeballikan denga pola pada waita hamil. Wanita yang

hamil mengumpulkan cairan (air dan Natrium) selama siang hari

dalam bentuk edema dependen akibat tekanan uterus pada

pembuluh darah panggul dan vena kava inferior. Dan kemudian

mensekresikan cairan tersebut pada malam hari melalui kedua

ginjal ketika wanita berbaring.

f. Sistem Pencernaan

Wanita hamil sering mengeluhkan perubahan nafsu makan,

jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, dan toleransinya

terhadap makanan tertentu. Walaupun beberapa perubahan mungkin

dipengaruhi oleh faktor sosial budaya, faktor anatomi dan pengaruh


11

hormone pada saluran pencernaan mengubah fungsi-fungsi yang

biasa dijalankan oleh sistem pencernaan. Diantaranya adalah:

1) Mulut

Banyak wanita mengalami perubahan pengecapan segera

setelah konsepsi. Deadaan ini disebabkan pengaruh hormone

saliva, dan juga indra penciuman. Saliva menjadi lebih asam

selama kehamilan. Walaupun studi terdahulu mengatakan

adanya penningkatan produksi saliva, studi lain berpendapat

bahwa keadaan ini hanya suatu persepsi yang disebabkan oleh

penurunan kemampuan menelan selama periode mual dan

muntah. Beberapa wanita tercatat mengalami ptialisme

(hipersaliva) yang terjadi pada siang hari dan berakhir pada saat

persalinan. Dibawah pengaruh estrogen, gusi menjadi lebih

berpembuluh, terjadi hyperplasia dan edema. Penurunan

ketebalan permukaan epital gusi berkontribusi terhadap

peningkatan frekuensi penyakit gusi selama kehamilan.

Pendarahan mungkin terjadi pada saat menggosok gigi atau

mengunyah dan permukaan yang rapuh menyebabkan mudah

terkena radang gusi.

Diperkirakan 50-77% wanita mengalami radang gusi selama

kehamilannya. Insidennya meningkat apabila sedang mengalami

masalah gusi lainnya, umur ibu lebih tua dan meningkatnya

paritas. Pada kurang dari 2% wanita hamil, hyperplasia gusi

menyebabkan terbentuknya masa yang rapuh, menyerupai tumor


12

yang disebut epulis. Epulis biasanya sembuh secara spontan

setelah melahirkan, tetapi mungkin perlu diinsisi selama

kehamilan. Berlangsung jika terjadi pendarahan yang banyak

dan muncul penyakit gusi dan gigi.

2) Esofagus

Tonus pada sfingter esofagus bagian bawah melemah

dibawah pengaruh progesterone, yang menyebabkan relaksasi

otot polos. Penunrunan tonus ini berkaitan dengan terjadinya

refluks asam dari lambung ke esofagus. Perubahan pada

diafragma akan lebih berkontribusi menimbulkan masalah

dengan mengubah secara akut sudut esofagus-gaster, sehingga

makin memperberat refluks.

3) Lambung

Penyebab dari progesterone dapat menurunkan tonus dan

motilitas lambung. Selain itu juga menurunkan tonus sfingter

pylorus, menyebabkan refluksnya isi cairan basa duodenum

kedalam lambung. Semakin kehamilan berlanjut, tekanan pada

lambung oleh uterus yang membesar dapat menurunkan jumlah

makanan yang dikonsumsi tanpa menimbulkan rasa tidak

yaman. Penurunan produksi asam dan pepsin juga

mungkinmemperlambat penvernaan. Walaupun efek kehamilan

pada sekresi asam lambung belum dipahami dengan baik.


13

4) Usus Besar dan Kecil

Relaksasi otot polos karena pengaruh progesterone

menyebabkan penyrunan tonus dan motilitas usus. Penurunan

motilitas lebih jauh dipengaruhi oleh penurunan motilitin, suatu

hormone peptide. Penurunan pada tonus menimbulkan

perpanjangan waktu transit, yang akan makin lama seiring

dengan berkembangnya kehamilan. Penelitian telah

menunjukkan bahwa peningkatan lama waktu transit pada akhir

kehamilan disebabkan penghambatan kontraksi otot polos pada

usus. Perpanjangan waktu transit dan ditambah dengan adanya

hipertrofi vili Duodenum, menyebabkan peningkatan kapasitas

absorbs. Peningkatan absorbs zat besi, kalsium, lisin, valin,

glisin, prolin, glukosa, natrium, klorida dan air. Pengaruh

progesterone pada ensin pentranspir mungkin menyebabkan

menurunnya absorbsi niasin, riboflavin, dan vitamin B6.

Penurunan motilitas dan memanjangnya waktu transit di

kolon menyebabkan penningkatan absorbs air, yang kemudian

meningkatkan resiko terjadinya konstipasi. Peningkatan

flatulens juga ditemukan. Seiring dengan berkembangnya

uterus, apendiks, dan sekum terdorong keatas dan lateral.

Perubahan anatomis ini penting untuk diingat pada saat ibu

mengeluhkan nyeri akut abdomen dan apendisitis.

Hemoroid bisa terjadi selama kehamilan. Disebabkan oleh

relaksasi pembuluh darah sekunder akibat peningkatan


14

progesterone, dan penekanan vena oleh berat dan ukuran uterus

yang semakin membesar, usaha mengejan pada saat defekasi

karena adanya konstipasi juga berperan terhadap munculnya

hemoroid.

g. Sistem Muskuloskeletal

Pada kehamilan Trimester I belum terjadi lordosis hanya

nyeri pada punggung. Pada Trimester II sudah terjadi lordosis yang

diakibatkan kompensasi dari pembesaran uterus ke posisi anterior,

lordosis menggeser daya pusat ke belakang kearah dua tungkai.

Sendi sakroilliaka, sakrokogsigis dan pubis akan meningkat

mobilitasnya, yang diperkirakan karena mpengaruh hormonal yaitu

pada peningkatan hormone estrogen, progesterone, dan elastin

dalam kehamilan yang mengakibatkan kelemahan jaringan ikat dan

ketidak-seimbanagan persendian dan menyebabakan perubahan

sikap ibu dan apada akhirnya menyebabkan perasaan tidak enak

pada bagian bawah punggung terutama pada trimester III. Akibat

dari perubahan fisik selama kehamilan:

1) Peregangan otot-otot

2) Pelunakan ligament-ligamen

Area yang paling dipengaruhi oleh perubahan-perubahan

tersebut adalah:

1) Tulang belakang (curva lumbar yang berlebihan).

2) otot-otot abdomal (meregang keatas uterus).

3) Otot dasar panggul (menahan berat badan dan tekanan uterus)


15

Bagi ibu hamil bagian ini merupakan titik-titik kelemahan

structural dan bagian bermasalah yang potensial dikarenakan beban

yang menekan kehamilan. Oleh karena itu, masalah postur

merupakan hal biasa dalam kehamilan.

1) Bertambahnya beban dan perubahan atruktur dalam kehamilan

mengubah dimensi tubuh dan pusat gravitasi.

2) Ibu hamil mempunyai kecenderungan besar membentur benda-

benda (dan memar biru) dan kehilangan keseimbangan lalu

jatuh.

h. Sistem Kardiovaskuler

Adalah sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke

dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh.

Sistem ini meliputi:

1) Jantung

Jantung merupakan organ muscular berongga yang

bentuknya mirip pyramid dan terletak di dalam pericardium dan

mediastinum. Jantung memiliki tiga permukaan: facies

sternocotalis, diaphragmatica, dan basis cordis. Jantung dibagi

oleh septa vertical menjadi empat ruang: atrium dextrum, atrium

sinistrum, ventriculus dexter, dan ventriculus sinister. Atrium

dextrum terdiri atas rongga utama dan sebuah kantong kecil, atau

ricula. Bagian atrium di anterior berbanding kasar atau

trabekulasi oleh karena tersusun atas berkas serabut-serabut otot,

musculi pectinati, yang berjalan melalui crista terminalis ke


16

auricular dextra. Pada atrium dextrum bermuara vena cava

superior dan inferior, sinus coronaries dan vena cordis minimae.

2) Sirkulasi sistemik

Ventrikel kiri memompakan darah ke aorta. Dari aorta darah

disalurkan masuk ke dalam aliran yang terpisah secara

progressive memasuki arteri sistematik yang membawa darah

tersebut ke organ ke seluruh tubuh kecuali sakus udara (Alveoli)

paru-paru yang disuplay oleh sirkulasi pulmonal.

Pada jaringan sistemik arteri bercabang menjadi arteriol

yang berdiameter lebih kecil yang akhirnya masuk ke bagian

lebar dari kapiler sistemik. Pertukaran nutrisi dan gas terjadi

melalui dinding kapiler yang tipis, darah melepaskan oksigen

dan mengambil CO2 pada sebagian besar kasus darah mengalir

hanya melalui satu kapiler dan kemudian masuk ke venule

sistemik.venule mmembawa darah yang miskin oksigen.

Berjalan dari jaringan dan bergabung membentuk vena systemic

yang lebih besar dan pada akhirnya darah mengalir kembali ke

atrium kanan.

3) Pembuluh darah

Ada tiga macam pembuluh darah: arteri, vena dan kapiler.

Arteri membawa darah dari jantung dan mendistribusikannya ke

seluruh jaringn tubuh melalui cabang-cabangnya. Arteri yang

kecil disebut arteriola persatuan cabang-cabang disebut

anastomosis.vena adalah pembuluh yang membawa kembali


17

darah menuju jantung. Banyak diantaranya yang mempunyai

katup. Vena yang terkecil disebut venula, vena yang lebih besar

atau muara-muaranya, bergabung membentung vena yang lebih

besar lagi, yang biasanya membentuk satu hubungan dengan

yang lain menjadi plexus venosus. Vena yang keluar dari

gastrointestinal tidak langsung menuju ke jantung tapi bersatu

membentuk vena porta. Kapiler adalah pembuluh yang sangat

kecil dan menghubungkan arteriola dengan venula.

Sistem sirkulasi pada ibu hamilL

a) Posisi dan ukuran jantung

Seperti halnya uterus yang membesar dan diafragma yang

mengalami elevasi, jantung bergeser keatas dan sedikit

kearah kiri dengan rotasi pada aksis jantung, sehingga

denyut jantung pada apeks bergerak lateral. Kapasitas

jantung meningkat 70-80 ml, yang mungkin disebabkan oleh

peningkatan volume atau hipertropi otot jantung. Ukuran

jantung meningkat 12%.

b) Perubahan fisiologi sistem kardiovaskuler pada kehamilan

normal yang terutama adalah perubahan hemodinamik

maternal meliputi: retensi cairan (bertambahnya beban

volume dan curah jantung), anemia relative, akibat pengatuh

hormone tahanan perifer vascular menurun, tekanan darah

arterial menurun, curah jantung bertambah 30-50%

(maksimal akhir trimester I, menetap sampai akhir


18

kehamilan), volume darah maternal keseluruhan bertambah

sampai 50%, volume plasma bertambah lebih cepat pada

awal kehamilan, kemudian bertambah secara perlahan

sampai akhir kehamilan.

4) Kardiak Output

Selama trimester terkahir posisi terlentang akan membuat

fungsi ginjal menurun jika dibandingkan posisi miring. Karena

alasan inilah tidak dianjurkan ibu hamil dalam posisi terlentang

pada akhir kehamilan.

Peningkatan curah jantung pada kehamilan antara 35-50%

dari rata-rata 5 menit sebelum kehamilan menjadi sekitar 7 menit

pada minggu ke-20, frekuensi jantung wanita hamil biasanya 10-

15 denyut/menit lebih cepat dari pada wanita yang tidak hamil,

meningkat dari sekitar 75 menjadi 90 denyut nadi/menit. Wanita

yang jantungnya normal sering menyadari adanya

ketidakteraturan pada frekuensi jantungnya selama kehamilan.

Namun isi sekuncup (jumlah darah yang dipompakan oleh

jantung dengan 1 kali denyut) tidak bertambah hingga volume

plasma bertambah. Volume darah akan meningkat secara

progresif mulai minggu ke 6-8 kehamilan dan mencapai

puncaknya pada minggu ke 32-34 dengan perubahan kecil

setelah minggu tersebut. Volume plasma akan meningkat kira-

kira 40-45%. Hal ini dipengaruhi oleh aksi progesterone dan

estrogen pada ginjal yang dinisiasi oleh jalur enin-angitensin dan


19

aldosterone. Penambahan volume darah ini sebagian besar

berupa plasma dan eritrosit.

Hypervolemia selama kehamilan mempunyai fungsi sebagai

berikut:

a) Untuk menyesuaikan pembesaran uterus terhadap hipertrofi

sistem vascular.

b) Untuk melindungi ibu dan janinterhadap efek yang merusak

dari arus balik vena dalam posisi terlentang dan berdiri.

c) Untuk menjaga ibu dari efek kehilangan darah yang banyak

pada saat persalinan. Terjadi suatu “auto transfuse” dari

sistem vaskularisasi dengan mengompensasi kehilangan

darah 500-600 ml pada persalinan pervaginam tunggal atau

1000 ml pada persalinan deng seksio caesaria atau persalinan

pervaginam gemeli. Volume darah ini akan kembali seperti

sediakala pada 2-6 minggu setelah persalinan.

Selama kehamilan jumlah leukosit akan meningkat yakni

berkisar antara 5000-12.000/µl. penyebab peningkatan ini belum

diketahui. Respons yang sama diketahui terjadi selama dan

setelah melakukan latihan berat. Distribusi tipe soal juga akan

mengalami perubahan. Pada kehamilan terutama trimester 3

terjadi peningkatan jumlah granulosit dan limfosit CD8 T secara

bersamaan penurunan limfosit dan monosit CD4 T. Pada awal

kehamilan aktivitas leukosit alkalin fosfatase juga meningkat.

Demikian juga konsentrasi dari penanda inflamasi seperti C-


20

reactive protein (CRP). Suatu reaktan serum akut dan

erythrocyte sedimentation rate (ESR) juga akan meningkat

karena peningkatan plasm globulin dan fibrinogen.

Kehamilan juga mempengaruhi keseimbangan koagulasi

intravascular dan fibrinolysis sehingga menginduksi suatu

keadaan hiperkoagulasi. Dengan pengecualian pada faktor XI

dan XII, semua konsentrasi plasma dan faktor-faktor pembekuan

darah dan fibrinogen akan meningkat. Produksi platelet juga

meningkat, tetapi karena adanya dilusi dan konsumsinya,

kadarnya akan menurun.

i. Sistem Integumen

Sistem integumen adalah sistem yang membedakan,

memisahkan, melindungi, dan menginformasikan terhadap

lingkungan sekitarnya. Sistem ini sringkali merupakan bagian

sistem organ yang terbesar yang mencakup kelenjar keringat dan

produknya. Kata ini berasal dari “integumentum” yang berarti

:penutup”. Kulit merupakan organ yang paling besar pada tubuh

manusia dan terletak paling luar sehingga mudah mengalami trauma

atau terkontaminasi oleh mikro-organisme serta dilihat individu

maupun orang lain. Kulit merupakan jalinan pembuluh darah, saraf

dan kelenjar yang tidak berujung, semuanya memiliki potensi untuk

terserang penyakit. Luas kulit orang dewasa 1,5 ml dengan berat

kira-kira 15% dari berat badan. Kulit mencerminkan kesehatan

seseorang yang erat hubungannya dengan kecantikan, keindahan,


21

kondisi psikologis, penyakit yang diderita, dan citra diri atau

kepribadian seseorang.

Kulit pada wajah secara khusus membawa dampak sosial

yang besar karena kelainan kulit pada wajah sulit untuk ditutupi dan

dapat dengan mudah dilihat oleh orang lain. Jika kelainan kulit

tersebut diderita oleh seorang wanita, dampak sosial dan psikologis

yang timbul akan lebih besar dibandingkan jika yang menderita

adalah seorang laki-laki. Kulit yang licin, halus, dan bebas jerawat

disertakan dengan kecantikan dan keelokan paras.

Secara miskrokopis, struktur kulit terdiri dari tiga lapisan,

yaitu lapisan epidermis, dermis dan subkutis. Bagian-bagian kulit

dan penampang yang ada pada kulit dapat dilihat pada gambar

berikut:

1) Sistem integument pada ibu hamil

Beberapa masalah perubahan kulit yang kerap dialami

selama kehamilan:

a) Stretch Mark

Perubahan kulit yang terjadi pada saat kehamilan

disebabkan oleh peningkatan kadar hormone estrogen dan

progesterone, peregangan kulit lantaran tubuh membesar

atau juga karena faktor genetik. Pada dasarnya kulit

mempunyai kemampuan untuk berkembang mengikuti

kondisi tubuh atau disebut dengan elastisitas kulit. Elastisitas

kulit tersebut dipengaruhi oleh keturunan, berat badan, dan


22

faktor usia. Pada ibu hamil, elastisitas kulit dipaksa

mengembang sampai pada level maksimum untuk

mengakomodasi pertumbuhan janin, akibatnya timbul

stretch mark.

Stretch mark merupakan tanda parut berupa gurat-gurat

putih yang muncul pada permukaan kulit, berbentuk garis

yang berliku seperti anak sungai. Masalah ini muncul karena

peregangan kulit secara cepat, seperti pada kehamilan atau

peningkatan berat badan yang drastic, atau karena pengaruh

obat yang mengandung steroid, yang merusak jaringan yang

terdapat didalamnya sehingga kulit mengalami over

stretched dan kolagennya rusak.

Stretch mark biasanya muncul pada dinding perut,

lengan atas, pinggul, paha, bokong dan payudara pada tubuh

wanita hamil. Stretch mark karena kehamilan umumnya

berwana merah jambu dan lebar, kemudian berangsur

berubah menjadi garis tipis berwarna putih atau kecoklatan.

Bagi mereka yang memiliki jenis kulit kering kecenderungan

akan mengalami ini saat hamil. Biasanya terjadi pada

kehamilan trimester dua atau usia kandungan sekitar empat

bulan.

b) Linea Nigra

Pada sebagian besar wanita hamil akan muncul garis

vertikal berwarna coklat kehitaman di kulit sepanjang tengah


23

perut yang disebut linea nigra karena melanosit yang

menyebabkan warna kulit lebih gelap. Garis ini aka nada

selama kehamilan dan akan menghilang setelah melahirkan.

c) Selulit

Selulit merupakan suatu lapisan lemak di bawah kulit

yang terletak diatas otot. Selulit pada wanita hamil terjadi

karena adanya peningkatan hormone estrogen dan

progesterone secara drastic sehingga menghasilkan lebih

banyak lemak yang disimpan untuk melindungi janin. Pada

selulit tampak permukaan kulit bergelombang seperti kulit

jeruk dan umumnya terjadi di bagian paha, bokong, perut,

pinggul, betis dan lengan.

Belum ada terapi yang di klaim dapat mengatasi selulit

100%. Namun, selulit dapat dicegah atau diminimalisasi

dengan berolahraga ringan secara teratur, terutama untuk

membakar lemak dibagian tubuh-tubuh tertentu, makan

makanan dengan gizi lengkap dan seimbang terutama

mengurangi makanan berlemak, penggunaan lotion secara

teratur sejak dini terutama pada awal kehamilan.

Penggunaan lotion sebaiknya dibarengi dengan efek pijatan

untuk membantu memperlancar peredaran darah dan

menghancurkan lemak. Selulit ada dua jenis, ringan dan

berat. Pada kondisi ringan, selulit tidak terlihat. Baru jika

bagian tersebut dicubit akan terlihat. Sementara pada jenis


24

yang berat meski tidak dicubit kehadiran selulit sudah

terlihat.

d) Rasa Gatal

Rasa gatal sering dialami oleh wanita hamil, terutama

pada bagian perut, pusar dan payudara. Rasa gatal timbul

karena beberapa sebab, yakni peregangan kulit yang

menyebabkan kulit menjadi lebih kering, iritasi yang muncul

pada lipatan-lipatan tubuh, seperti lipatan dibawah payudara,

perut, selangkangan da ketiak. Rasa gatal dapat pula muncul

karena perubahan hormone estrogen dan progestin sehingga

terjadi penumpukan bilirubin dan asam empedu ringan

dalam tubuh.

Hindari garukan pada kulit yang dapat menyebabkan

cedera. Selain menimbulkan infeksi, akan menyebabkan

pula adanya garis kehitaman pada kulit. Rasa gatal ini dapat

terjadi pada trimester pertama, kedua, maupun selama

kehamilan.

e) Jerawat

Masalah jerawat ketika kehamilan terjadi disebabkan

karena adanya faktor hormonal. Kulit muka menjadi lebih

berminyak sehingga dapat menimbulkan jerawat. Menjaga

kebersihan kulit dan diet makanan yang seimbang serta

sehat, terutama mempertinggi makanan yang mengandung

protein dan vitamin C akan membantu.


25

f) Varises

Varises bisa terjadi lantaran hamil. Pada ibu hamil, aliran

dari tubuh bagian atas biasanya lebih deras dari pada aliran

darah sebaliknya, lantaran beban tubuh yang bertambah pada

bagian atas tubuh. Akibatnya, darah memenuhi pembuluh da

membuat pembuluh darah pada tubuh bagian bawah

menonjol dan berkelok-kelok.

Pada ibu hamil varises bisa dicegah dengan meninggikan

posisi kaki dengan mengganjal dengan bantal ketika

beristirahat. Bisa juga menggunakan stocking khusus yang

dikenakan pada paha. Stocking berfungsi memperlambat

aliran darah dari bagian atas tubuh sehingga

menyeimbangkan aliran tubuh dari bagian atas ke bawah dan

sebaliknya.

g) Areola mammae dan putting susu

Areola mammase adalah daerah yang warnanya hitam

disekitar putting susu, pada kehamilan warnanya akan lebih

hitam, daerah sekitar yang biasanya tidak berwarna akan

menjadi berwarna hitam (secundair areola mammae).

Putting susu juga menghitam dan membesar lebih menonjol.

Payudara secara bertahap mengalami pembesaran karena

peningkatan perumbuhan jaringan alveolar dan suplay darah.

Pada awal kehamilan keluar cairan jernig (kolostrum).

Pigmen di sekitar putting (areola) tumbuh lebih gelap.


26

h) Linea Alba

Garis hitam yang terbentang dari atas symphisis sampai

pusat. Warna lebih hitam kecuali akan timbul garis baru yang

terbentang di tengah-tengah atas pusat ke atas (linea nigra).

Pada bagian ini kecuali ada hiperpigmentasi akan

menyebabkan garis-garis pada kulit (striae gravidarum).

i) Hiperpigmentasi

Lebih dari 90% wanita hamil mengalami

hiperpigmentasi, atatu perubahan pigmen dengan derajat

yang berbeda-beda. Hiperpigmentasi inilah yang

menyebabkan melisma, atau sering disebut juga topeng

kehamilan. Yaitu lapisan kehitaman yang biasanya

menghampiri bagian pipi, dahi dan hidung. Selain wajah,

bagian tubuh yang lain ada juga yang tidak terhindar dari

hiperpigmentasi. Mulai dari areola, ketiak, genitalia, paha

dan pusar. Tahi lalat atauvlek lain yang sebelumnya sudah

ada kemungkinan besar juga akan bertambah hitam.

Hiperpigmentasi akan terlihat lebih nyata pada wanita

yang pada dasarnya berkulit gelap. Hal yang sama umumnya

juga terjadi pada wanita yang sebelumnya menggunakan

kontrasepsi hormonal. Penyebabnya diduga karena adanya

peningkatan jumlah melanosit dan peningkatan kerentanan

terhadap stimulus hormone Melanocyte Stimulating

Hormone (MSH), estrogen dan progesterone.


27

Terlalu lama berada dibawah paparan sinar matahari juga

dapat memperburuk keadaan, oleh arena itu sebaiknya calon

ibu tetap menggunakan tabir surya. Hamper semua jenis

krim tabir surya relative aman digunakan oleh ibu hamil dan

pilihlah yang spectrum perlindungannya luas (anti UV-A

dan UV-B).

Hiperpigmentasi ini umumnya akan hilang dengan

sendirinya, maksimal satu tahun pasca persalinan. Memang

ada juga yang tidak bisa hilang, biasanya karena

menggunakan kontrasepsi hormonal.

Beberapa wanita juga kan mendapatkan pigmentasi yang

merupakan kondisi yang disebabkan oleh produksi

berlebihan melanotropin. Ini dapat muncul secara tak

terduga selama 4 atau 5 bulan kehamilan. Sejak bulan ke 3

hingga kehamilan cukup bulan, beberapa tingkat perubahan

warna kulit menjadi gelap terjadi pada 90% wanita hamil.

Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna

menjadi kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan

mengenai daerah payudara dan paha. Perubahan ini dikenal

dengan nama striae graviduarum. Pada multipara selain

striae kemerahan innin seringkali ditemukan garis berwarna

perak berkilau yang merupakan sikatrik dari striae

sebelumnya.
28

j. Sistem Metabolisme

Pada dasarnya kehamilan mempunyai efek pada

metabolisme, karena itu wanita yang sedang hamil perlu

mendapatkan makanan yang bergizi dan dalam keadaan yang sehat.

Kehamilan akan menyebabkan meningkatnya kebutuhan energy dan

zat gizi lainnya. Bertambahnya energi dan zat gizi tersebut

diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Jika wanita

kekurangan gizi tertentu saat hamil, maka pertumbuhan janin tidak

sempurna. Perubahan metabolisme yang dialami wanita hamil:

1) Tingkat metabolisme basal (basal metabolic rate) pada wanita

yang sedang hamil meningkat 15-25% terutama pada trimester

akhir.

2) Keseimbangan asam alkali (acid base balance) sedikit

mengalami perubahan konsentrasi alkali:

a) Wanita tidak hamil : 155 mEg/liter

b) Wanita hamil : 145 mEg/liter

c) Natrium serum : turun dari 142 menjadi 135 mEg/liter

d) Bikarbonat plasma : turun dari 25 menjadi 22 mEg/liter

3) Dibutuhkan banyak protein untuk perkembangan fetur, alat

kandungan, payudara, dan badan ibu, serta untuk persiapan

laktasi. Jumlah kebutuhan protein saat hamil sangat meningkat,

bahkan mencapai 68% dari sebelum hamil. Jumlah protein yang

harus tersedia sampai akhir kehamilan diperkirakan 925g yang

tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta dan janin.


29

4) Hidrat arang: seorang wanita hamil sering merasa haus, nafsu

makan bertambah, sering kencing, dan kadang kala dijumpai

glukosuria yang mengingatkan kita pada diabetes mellitus.

Dalam keadaan hamil pengaruh kelnjar endokrin agak terasa,

seperti somatomatropin, plasma insulin dan hormone-hormon

adrenal 17-ketosteroid.

5) Metabolisme lemak juga terjadi. Kadar kolestrol meningkat

hingga 350 mg atau lebh per 100cc. hormone somatomatropin

mempunyai peranan dalam pembentukan lemak pada payudara.

Deposit lemak lainnya terdapat di badan, perut, paha dan lengan.

6) Metabolisme mineral:

a) Kalsium dibutuhkan rata-rata 1,5 gram sehari, sedangkan

untuk pembentukan tulang terutama dalam trimester terakhir

dibutuhkan 30-49 g/hari

b) Fosfor dibutuhkan rata-rata 2 g/hari

c) Zat besi: dibutuhkan tambahan zat besi kurang lebih 500 mg,

atau 30-50 mg sehari. Kebutuhan Fe dan zat besi disebabkan

karena adanya penambahan volume darah pada saat hamil.

d) Air: wanita yang sedang hamil cenderung mengalami retensi

air.

7) Berat badan wanita yang sedang hamil akan naik sekitar 6,5-16,5

kg. kenaikan berat badan yang terlalu banyak ditemukan pada

keracunan hamil pre-eklampsi dan eklamsi. Kenaikan berat

badan wanita hamil disebabkan oleh:


30

a) Janin, uri, air ketuban, uterus.

b) Payudara, kenaikan volume darah, lemak, protein dan retensi

air.

8) Kebutuhan kalori meningkat selama kehamilan dan laktasi.

Kalori yang dibutuhkan untuk ini terutama diperoleh dari

pembakaran zat arang. Khususnya sesudah kehamilan 5 bulan

keatas. Namun bila dibutuhkan, dipakai lemak ibu untuk

mendapatkan tambahan kalori.

9) Wanita hamil memerlukan makanan yang bergizi dan harus

mengandung nbanyak protein. Di Indonesia masih banyak

dijumpai penderita defisiensi zat besi dan vitamin B, oleh karena

itu wanita hamil harus diberikan Fe da roboransia yang berisis

mineral dan vitamin.

Peningkatan jumlah cairan selama kehamilan adalah hal

fisiologis. Hal ini dikarenakan oleh turunnya osmolaritas dari 10

mOsm/kg yang diinduksi oleh makin rendahya ambang rasa haus

dan sekresi vasopressin. Penambahan tekanan vena dibagian bawah

uterus dan mengakibatkan oklusi parsial vena kava yang

bermanifestasi pada adanya pitting edema kaki dan tungkai terutama

pada akhir kehamilan. Penurunan tekanan osmotic koloid di

interstisial juga akan menyebabkan edema pada akhir kehamilan.

Hasil konsepsi, uterus dan darah ibu secara relative mempunyai

kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan lemak dan karbohidrat.

WHO menganjurkan asupan protein per hari pada ibu hamil 51


31

gram. Pada kehamilan normal akan terjadi hipoglikemi puasa yang

disebabkan oleh kenaikan kadar insulin, hhiperglikemia

postprandial dan hiperinsulinemia.

Tabel 2.1
Tabel Kebutuhan Zat Gizi Wanita Hamil

Zat Gizi Kebutuhan Kebutuhan Sumber makanan


Wanita wanita hamil
Dewasa
Energi 2500 +300 Padi-padian, jagung, umbi-
(kalori) umbian, mi, roti
Protein 40 +10 Daging, ikan, telur, kacang-
(gram) kacangan, tahu, tempe
Kalsium 0,5 +0,6 Susu, ikan teri, kacang-
(mg) kacangan, sayuran hijau
Zat besi 28 +2 Daging, hati, sayuran hijau.
(mg)
Vit.A 3500 +500 Hati, kuning telur, sayur dan
(SI) buah berwarna hijau dan
kuning kemerahan.
Bit. B1 0,8 +0,2 Biji-bijian, padi-padian,
(mg) kacanf-kacangan, daging.
Vit. B2 1,3 +0,2 Hati, telur, sayur, kacang-
(mg) kacangan.
Vit, B6 12,4 +2 Hati, daging, ikan, biji-bijian,
(mg) kacang-kacangan.
Vit. C 20 +20 Buah dan sayur.
(mg)
(Sumber: Dewi, 2011)

k. Berat Badan dan Indeks Massa Tubuh

Kenaikan berat badan yang baik memang secara bertahap

dan kontinyu. Bisa jadi catatan bahwa adanya penambahan berat

badan yang berlebih dan secara cepat bisa jadi indikasi awal

keracunan kahamilan atau diabetes.

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dijadikan bahan

pertimbangan untuk penambahan berat badan selama hamil:


32

1) Jika sebelum hamil berat badan wanita sudah normal, maka

kenaikan berat badan sebaiknya 9-12 kg

2) Jika berat badan sebelum hamil berlebih, sebaiknya

penambahan berat badan cukup 6-9 kg

3) Jika berat badan sebelum hamil kurang, sebaiknya penambahan

12-15 kg

4) Pada trimester ke-2 dan ke-3 pada perempuan dengan gizi baik

dianjurkan menambah berat badan perminggu sebesar 0,4 kg,

sementara pada perempuan denga gizi kurang atau berlebih

dianjurkan menambah berat badan per minggu masing-masing

sebesar 0,5 kg dan 0,3 kg.

Penambahan berat badan selama kehamilan rata-rata

mencapai 12,5 kg. oleh Karen atubuh seorang wanita yang sedang

hamil membutuhkan sekitar 70.000-80.000 kalori saat hamil.

Penambahan kalori tersebut diperlukan terutama pada 20 minggu

terakhir kehamilan, yaitu ketika pertumbuha jnain berlangsung

sangat pesat. Bila 80.000 kalori tersebut dibagi 40 makan hasilnya

adalah 280, maka kebutuhan kalori ibu yang sedang hamil adalah

antara 280-300 kalori per hari.

Perhitungan berat badan berdasarkan indeks massa tubuh:

BB²
IMT =
TB
Dimana : IMT = Indeks Massa Tubuh
BB = Berat Badan (kg)
TB = Tinggi Badan (m)
33

Tabel 2.2
Tabel Berat Badan yang Dianjurkan pada Masa Kehamilan

Profil Penambahan berat badan


Berat badan normal (BMI : 18,5 – 24,9) 11,5 – 16,0 kg (25 - 35 lb)
Berat badan rendah (BMI: <18,5) 12,5 – 18,0 (28 - 40 lb)
Berusia dibawah 19 tahun 12,5 – 18,0 (28 - 40 lb)
Kelebihan berat badan (BMI : 25-29,9) 7,0 – 11,5 kg (15 – 25 lb)
Obese (BMI : 30-39,9) 6,8 kg (setidaknya 15 lb)
Hamil bayi kembar 16,0 – 20,5 (35 -45 lb)
(Sumber: Dewi, 2011)

l. Darah dan Pembekuan Darah

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk

hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi

mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan

tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga

sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. istilah medis

yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau

hemato- yang berasal darhi bahasa yunani atau haima yang berarti

darah.

Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang

diperlulkan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai

jaringan tubuh dengan nitrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme,

dan mengandung berbagai bahan penyusun imun yang bertujuan

untuk mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormone-

hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.

Tubuh manusia tersusun dari milyaran sel darah yang

memiliki fungsi yang vital. Terdapat tiga tipe sel darah pada

manusia, sel darah merah yang merupakan jumlah sel darah


34

terbanyak, sel darah putih dan trombosit yang masing-masing

memiliki fungsi dan kadar yang berbeda dalam tubuh. Pada

hemailan ibu dapat mengalami:

1) Anemia

Penyakit anemia defisiensi besi memang paling sering

dialami ibu hamil. Masalahnya, saat hamil kebutuhan akan zat-

zat makanan bertambah. Konsentrasi darah dan sumsum

tulangpun berubah. Akibatnya, ibu hamil kekurangan zat besi

dalam darahnya. Anemia defisiensi besi bisa juga terjadi karena

adanya gangguan pencernaa, sehingga unsur zat besi tidak

terserap dengan baik oleh tubuh.

Saat hamil, keperluan akan suplai darah bertambah.

Terjadilah perubahan volume darah yang dihasilkan dari

peningkatan plasma darah. Namun sering kali, peningkatan

plasma darah tidak diimbangi dengan peningkatan sel-sel darah.

Harusnya perbandingan susunan pertambahan elemen darah

merah adalah sel darag 18%, plasma 30% dan hemmoglobin

19%.

Yang penting diingat, dalam kondisi ini ibu hamil perlu

menjaga agar jangan sampai terjadi anemia. Sebab, hemodelusi

sering kali membuat haemoglobin atau kadar darahnya menjadi

lebih rendah, kurang dari 10g?dl, dibandingkan cairan ekstranya.

Standar WHO minimalnya adalah 12g/dl. Akibatnya, gejala

yang muncul ibu hamil mudah letih, lesu, lemah, lelah, lunglai
35

dan mata berkunang-kunang. Bahkan pada banyak kasus anemia

bisa sangat membahayakan karena dapat terjadi perdarahan

sehingga mengancam kehamilan.

2) Hipertensi

Hipertensi atau penyakit darah tinggi terjadi karena adanya

pembuluh darah yang menegang sehingga membuat tekanan

darah meningkat. Tekanan darah bisa mencapai 150/90

sementara batas normal untuk tekanan darah atas antara 100-120

dan tekanan bawah 70-85.

Ada ibu yang sudah mengidap hipertensi sebelumnya namun

ada juga hipertensi yang justru baru terjadi saat hamil, yang

disebut dengan preeklamsia dan eklamsia. Preeklamsia biasanya

terjadi pada kehamilan lebih dari 20 minggu dan harus segera

ditanagni agar tak meningkat menjadi eklamsia yang tak saja

bahaya buat ibu tapi juga janin.

Hipertensi berbahaya karena pembuluh darah menyempit

hingga asupan makanan ke bayi menjadi sedikit. Tak jarang,

hipertensi pada kehamilan bisa membuat janin meninggal,

plasenta terputus, pertumbuhan terganggu. Gejala hipertensi

adalah pusing dan sakit kepala, kadang disertai bengkak di

daerah tungkai, penglihatan menjadi kabur, perut terasa sakit

atau panas, denyut nadi yang cepat dan tes laboratorium

menunjukkan protein yang tinggi dalam urine.


36

m. Sistem Persyarafan

Fungsi system saraf pusat dan otak sangat kompleks dan

mencakup semua aktifitas mulai dari reflex dasar sampai perubahan

kemampuan kognitif dan emosional. Kinerjanya sangat berpengaruh

dan dipengaruhi hormone. Perubahan yang terjadi menyangkut

ketidaknyamanan tulang dan otot, gangguan tidur, perubahan

sensasi, pengalaman terhadap nyeri.

Hormon kehamilan mempengaruhi system saraf pusat,

namun efek yang ditimbulkan tidak terlalu dimengerti. Banyak

wanita hamil mengeluhkan bahwa kemampuan kognitif mereka

menurun selama kehamilan dengan kesulitan berkonsentrasi

kelemahan menyimpan memori.

Perubahan fisiologi akibat kehamilan dapat menyebabkan

timbulnya gejala neurologis dan neuromuskular berikut:

1) Kompresi saraf panggul akibat pembesaran uterus memberikan

tekanan pada pembuluh darah panggul yang dapat mengganggu

sirkulasi dan saraf yang menuju ektremitas bagian bawah

sehingga menyebebabkan kram tungkai.

2) Lordosis dorsolumbal dapat menyebabkan nyeri akibat tarikan

pada saraf atau kompresi akar syaraf.

3) Edema yang melibatkan saraf perifer dapat menyebabkan carpal

tunel syndrom selama trimester akhir kehamilan. Edema

menekan saraf median di bawah ligamentum karpalis

pergelangan tangan. Sindrom ini ditandai parestesia (sensasi


37

abnormal seperti rasa terbakar atau gatal akibat gangguan pada

sistem saraf sensori) dan nyeri pada tangan yang menjalar ke

situ. Tangan yang dominan biasanya paling banyak terkena.

4) Akroestesia ( rasa baal dan gatal di tangan ) yang timbul akibat

posisi bahu yang membungkuk dirasakan oleh beberapa wanita

selama hamil. Keadaan ini berkaitan dengan tarikan pada

segmen pleksus brakialis. Hal ini dapat dihilangkan dengan

menyokong bahu dengan bantal pada malam hari dan menjaga

postur tubuh yang baik selama siang hari.

5) Nyeri kepala akibat ketegangan umum timbul saat ibu merasa

cemas dan tidak pasti tentang kehamilannya. Nyeri kepala dapat

juga dihubungkan dengan gangguan penglihatan, sinusitis, atau

migren.

6) Nyeri kepala ringan, rasa ingin pingsan, dan bahkan pingsan

(sinkop) sering terjadi pada awal kehamilan. Ketidakstabilan

vasomotor, hipotensi postural, atau hiperglikemia mungkin

merupakan keadaan yang bertanggung jawab atas gejala ini.

7) Hipokalsemia yang menyebabkan timbulnya masalah

neuromuskular seperti kram otot atau tetani.

4. Perubahan dan Adaptasi Psikologi pada Kehamilan Trimester III

Pada trimester III, calon ibu semakin peka perasaannya. Tingkat

kecemasan ibu semakin meningkat. Calon ibu akan lebih sering

mengelus-elus perutnya untuk menunjukkan perlindungannya kepada

janin, senang berbicara kepada janin, terutama ketika janin berubah


38

posisi. Banyak calon ibu yang sering berkhayal atau bermimpi tentang

apabila hal-hal negatif akan terjadi kepada bayinya saat melahirkan

nanti. Khayalan-khayalan tersebut seperti kelainan letak bayi, tidak

dapat melahirkan, atau bahkan janin akan lahir dengan kecacatan. Calon

ibu menjadi sangat merasa bergantung kepada pasangannya.

Pada trimester III ini, terutama pada minggu-minggu terakhir

kehamilan atau menjelang kelahiran membutuhkan lebih banyak

perhatian dan cinta dari pasangannya. Mulai takut jika akan terjadi

sesuatu terhadap suaminya. Maka dari itu, calon ibu ingin memastikan

bahwa pasangannya mendukung dan selalu ada di sampingnya.

Tidak semua wanita dapat mengekspresikan perasaan

ketergantungan terhadap pasangannya. Akan tetapi, tetap

mengharapkan bahwa perhatian, dukungan, dan kasih sayang dapat

tercurah dari pasangannya tersebut. Selain itu, calon ibu akan menjadi

lebih mudah lelah dan iritabilita. Beberapa wanita akan sulit untuk

berkonsentrasi dan fokus akan penjelasan-penjelasan baru yang

diberikan oleh perawat. Maka dari itu, penjelasan yang diberikan harus

jelas dan ringkas agar calon ibu dapat menyerapnya dengan lebih

mudah.

Pada fase ini, calon ibu mulai sibuk mempersiapkan diri untuk

persiapan melahirkan dan mengasuh anaknya setelah dilahirkan.

Mempersiapkan segala kebutuhan bayi, seperti baju, nama, dan tempat

tidur. Bernegosiasi dengan pasangannya tentang pembagian tugas

selama masa-masa menjelang melahirkan sampai nanti setelah bayi


39

lahir. Pergerakan dan aktivitas bayi akan semakin sering terasa, seperti

memukul, menendang, dan menggelitik.

Perasaan bahwa janin merupakan bagian terpisah semakin kuat

dan meningkat. Peningkatan keluhan somatik & ukuran tubuh pada

trimester III dapat menyebabka kenikmatan & rasa tertarik terhadap

aktivitas seksual menurun (Astuti, 2012).

5. Ketidaknyamanan dalam Kehamilan Trimester III

a. Pusing

Disebabkan hipertensi postural yang berhubungan dengan

perubahan-perubahan hemodinamis, pengumpulan darah di dalam

pembuluh tungkai. Penanganan penggunaan kompres hangat atau es

pada leher, istirahat, mandi air hangat.

b. Keputihan

Disebabkan hyperplasia mukoa vagina, peningkatan

produksi lender dan kelenjar endocorvikal sebagai akibat dari

peningkatan kadar esterogen.

Penanganannya tingkatkan kebersihan dengan mandi setiap

hari, memakai pakaian dalam yang terbuat dari kain katun, hindari

pakaian dalam yang terbuat dari nilon, hindari pencucian vagina.

c. Sering buang air kecil

Disebabkan karna meningkatnya peredaran darah ketika

hamil, tekanan pada kandung kemih akibat membesarnya Rahim,

ekresi sodium yang meningkat bersamaa dengan terjadinya

pengeluaran air.
40

Penanganannya kosongkan saat terasa dorongan untung

kencing, perbanyak minum pada siang hari, kurangi minum

dimalam hari untuk mengurangi nocturia mengganggu tidur dan

menyebabkan keletihan, btasi minum bahan diuretika alami seperti

kopi, teh, soda, caffeine, jelaskan tanda tanda UTI, posisi miring.

d. Bengkak pada kaki

Disebabkan air yang selalu mengalir ketempat yang lebih

rendah. Penanganannya mengurangi makanan yang mengandung

garam, setelah banguntidur angkat kaki selama beberapa menit, pada

saat duduk posisi kan kaki lebih tinggi, jangan menyilangkan kaki

ketika duduk.

e. Nyeri ligamentum

Disebabkan hipertropi dan peregangan ligamentum selama

kehamilan, tekanan dalam uterus pada ligamentum.

Penanganannya menjelaskan mengenai penyebab rasa nyeri,

tekuk tulutut kearah abdomen, mandi air hangat, gunakan bantalan

pada area yang tersa sakit, topang uterus dengan bantal dan

dibawahnya menggunakan bantal diantara lutut pada waktu

berbaring (Rismalinda, 2015).

Berikut beberapa ketidaknyamanan pada trimester II dan

III menurut Sulistiyani (2009):


41

Tabel 2.3
Tabel Ketidaknyamanan dalam Kehamilan

No Ketidaknyamanan Cara Mengatasi


1 Sering buang air kecil pada Kosongkan saat ada dorongan saat kencing.
TM II dan III Perbanyak minum pada siang hari.
Jangan kurangi minum untuk mencegah
nokturia, kecuali jika nokturia sangat
mengganggu tidur di malam hari.
Jelaskan tentang bahaya infeksi saluran
kemih dengan menjaga posisi tidur, yaitu
dengan berbaring miring ke kiri dan kaki
ditinggikan untuk mencegah diuresis.
2 Striae Gravidarum Gunakan emolien topical atau antipruritic
jika ada indikasinya.
Gunakan baju longa yang dapat menopang
payudara dan abdomen.
3 Hemoroid Hindari Konstipasi.
Makan makanan yang berserat dan banyak
minum.
Gunakan kompres es atau air hangat.
Dengan perlahan masukkan kembali anus
setiap selesai BAB.
4 Keputihan Tingkatkan kebersihan dengan mandi tiap
hari.
Memakai pakaian dalam dari bahan katun
dan mudah menyerap.
Tingkatkan daya tahan tubuh dengan makan
buah dan sayur, istirahat cukup.
5 Sembelit Tingkatkan diet asupan cairan.
Minum cairan dingin atau hangat, terutama
saat perut kosong.
Membiasakan buang air besar secara teratur.
6 Kram pada kaki Kurangi konsumsi susu (kandungan
fosfornya tinggi).
Latihan dorsofleksi pada kaki dan
meregangkan otot yang terkena.
Gunakan penghangat untuk otot.
Senam hamil.
7 Nafas sesak Dorong agar secara sengaja mengatur laju
dan dalamnya pernafasan pada kecepatan
normal yang terjadi.
Merentangkan tangan di atas kepala serta
menarik nafas panjang.
8 Perut kembung Hindari makan yang mengandung gas.
Mengunyah makanan secara sempurna.
Lakukan senam secara teratur.
42

Pertahankan buang air besar secara teratur.


9 Pusing/ sinkop Bangun secara perlahan dari posisi istirahat.
Hindari berdiri terlalu lama dalam
lingkungan yang hangat dan sesak.
Hindari berbaring dalam posisi terlentang.
10 Sakit punggung atas dan Gunakan posisi tubuh yang baik.
bawah Gunakan bra yang menopang dengan ukura
yang tepat.
Gunakan bantal ketika tidur untuk
meluruskan punggung.
11 Varises pada kaki Tinggikan kaki sewaktu berbaring.
Jaga agar kaki tidak bersilangan.
Hindari berdiri atau duduk terlalu lama.
Senam untuk melancarkan peredaran darah.
Hindari pakaian atau korset yang ketat.
(Sumber: Sulistyawati, 2009)

6. Tanda Bahaya Kehamilan

a. Perdarahan Pervaginam

Perdarahan pada kehamilan lanjut adalah perdarahan pada

trimester terakhir dalam kehamilan sampai bayi dilahirkan.

Perdarahan yang tidak normal berupa darah merah, banyak dan

kadang-kadang tapi tidak selalu, disertai dengan rasa nyeri.

b. Sakit kepala hebat

Sakit kepala yang menunjukkan satu masalah serius adalah

sakit kepala yang menetap dan tidak hilang dengan istirahat. Sakit

kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari pre

eklampsia.

c. Penglihatan kabur

Karena pengaruh pembengkakan pupil, vasopasme dan

oedema retina. Ketajaman penglihatan ibu hamil dapat mengalami

perubahan.
43

Masalah yang mengindikasikan keadaan yang mengancam

adalah perubahan visual/pandangan yang mendadak misalnya

pandangan kabur dan berbayang, perubahan penglihatan ini

disertai sakit kepala yang hebat dan mungkin menandakan pre

eklampsia.

d. Bengkak di wajah dan jari-jari tangan

Bengkak menunjukkan adanya masalah serius jika muncul

pada muka dan tangan, tidak hilang setelah istirahat disertai dengan

keluhan fisik yang lain. Hal ini dapat merupakan pertanda anemia,

gagal jantung dan preeclampsia.

e. Keluar cairan pervaginam

Ketuban pecah dini merupakan bocornya cairan amnion

sebelum persalinan dimulai. Penyebabnya diantaranya

korioamniotis, kehamilan ganda, hidramnion dan kelainan letak

janin. Hal ini dapat mempengaruhi terjadinya kelahiran

prematuritas, gawat janin, infeksi intrauterine dan persalinan

patologis.

f. Gerakan janin tidak terasa

Pergerakan janin dimulai pada usia kehamilan 20-24

minggu, dan sebagian ibu merasakan pergerakan lebih awal.

Gerakan janin akan lebih terasa sewaktu ibu berbaring, setelah ibu

makan dan minum. Yang dikhawatirkan adalah jika ibu tidak

merasakan gerakan janin sesudah kehamilan trimester III, tanda

gejala gerakan bayi kurang dari 3 kali dalam periode 3 jam.


44

Gerakan janin yang berkurang dan tidak terasa dimungkinkan

terjadinya IUFD (Intra Uterin Fetal Death).

g. Nyeri perut hebat

Nyeri pada perut yang mungkin menunjukkan masalah yang

mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap, dan

tidak hilang setelah beristirahat. Hal ini bisa berarti kehamilan

ektopik, penyakit radang panggul, persalinan preterm atau infeksi

lain (Astuti, 2012).

7. Pemantauan Khusus Krimester

Pengawasan wanita hamil secara teratur dan tertentu ternyata

menyebabkan angka mortalitas serta mordibitas ibu dan bayi jelas

menurun. Pada pengawasan wanita hamil hubungan dan pengertian baik

antara dokter dan warnita hamil tersebut harus ada. Tujuan pengawasan

wanita hamil ialah menyiapkan sebaik-baiknya fisik dan mental, serta

meyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan wanita

nifas, sehingga keadaan mereka postpartum sehat dan normal, tidak

hanya fisik tetapi juga mental. Ini berarti dalam antenatal care harus

diusahakan segera agar: wanita hamil sampai akhir kehamilannya

sekurang-kurangnya harus sama sehatnya atau lebih sehat, adanya

kelainan fisik atau psikologik harus ditemukan dini dan diobati, wanita

melahirkan tanpa kesulitan dan bayi yang dilahirkan sehat pula fisik dan

mental. Semakin tua kehamilan semakin cepat permeriksaan harus

diulang (Putri, 2017).


45

a. Pemeriksaan pertama

Sangat ideal bila tiap wanita hamil mau memeriksakan diri

ketika haidnya terlambat sekurang-kurangnya satu bulan.

Keuntungannya adalah bahwa kelainan-kelainan yang mungkin ada

atau akan timbul cepat diketahui dan diatasi. Sebelum berpengaruh

tidak baik terhadap kehamilan tersebut.

Bila seorang wanita datang dengan haid terlambat dan

diduga ada kehamilan, maka dapat ditentukan tanggal perkiraan

partus, jika hari pertama haid terakhir diketahui dan siklus ± 28 hari,

Rumus yang dipakai ialah rumus Naegele. Perkiraan partus menurut

rumus ini: hari +7, bulan -3, tahun +1.

Bila hari pertama haid terakhir tidak diingat lagi, maka

sebagai pegangan dapat dipakai antara lain gerakan janin, Umumnya

pada primigravida gerakan janin dirasakan oleh ibunya pada

kehamilan 18 minggu dan pada multigravida pada kehamilan 16

minggu. Dapat pula sebagai pegangan perasaan nausea yang

biasanya hilang pada kehamilan 12-14 minggu. Hal-hal yang

sekiranya mempunyai hubungan dengan kehamilan yang sedang

dikandung hendaknya perlu ditanyakan secara hati-hati. Riwayat

kehamilan, persalinan dan nifas yang perlu ditanyakan beserta

beratnya bayi waktu dilahirkan. Pula riwayat-riwayat penyakit yang

dideritanya seperti jantung, diabetes mellitus, ginjal, tuberculosis

paru-paru, dan sebagainya.


46

Pada pemeriksaan seluruh tubuh wanita harus diperiksa

dengan teliti. Keadaan umum harus baik, tekanan darah, nadi, suhu,

pernafasan harus diperiksa dan dicatat. Jantung, paru-paru, mamae.

harus terpelihara baik, pappila mamae sebaiknya dibersihkan secara

teratur dan diberi minyak supaya kulitnya tetap lemas.

b. Pemeriksaan obstetric

Wanita hamil diperiksa, dengan posisi berbaring terlentang

dengan bahu dan kepala sedikit lebih tinggi, dan pemeriksa berada

disebelah kanan yang diperiksa. Pemeriksaan ini dikenal dengan

beberapa cara palpasi, antara lain menurut Leopold, Alfeld, Budin,

Knebel. Yang lazim dipakai ialah cara palpasi menurut Leopold

karena telah hamper mencakup semua.

Setiap wanita hamil yang akan diperiksa berbaring, dilihat

apakah uterus berkontraksi atau tidak, jika berkontraksi harus

ditunggu dahulu. Dinding perut juga harus lemas sehingga

pemeriksaan dapat dilakukan dengan teliti, untuk ini tungkai dapat

ditekuk pada pangkal dan lutut. Suhu tangan pemeriksa hendaknya

disesuaikan dengan wanita tersebut, dengan maksud supaya dinding

perut ibu tidak tiba-tiba menjadi kontraksi. Sebelum mengadakan

palpasi, kedua telapak tangan dapat digosokkan terlebih dahulu.

Cara pemeriksaan mennurut Leopold dibagi menjadi empat

tahap. Pada pemeriksaan menurut leopold I, II, III pemeriksa

menghadap kearah muka wanita yang diperiksa. Pada pemeriksaan


47

menurut Leopold IV pemeriksa menghadap kearah kaki wanita yang

diperiksa.

c. Koitus

Bila dalam anamnesa ada abortus sebelum kehamilanyang

sekarang, sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu.

Pada waktu itu plasenta telah terbentuk, serta kemungkinan abortus

menjadi lebih kecil.

d. Kebersihan pakaian

Kebersihan harus selalu dijaga pada masa hamil. Baju

hendaknya yang longgar dan mudah dipakai. Hindari pemakaian

sepatu atau alas kaki yang lain dengan tumit yang tinggi.

e. Diet dari pengawasan berat badan

Kekurangan dan kelebihan nutrisi dapat menyebabkan

kelainan yang tidak diinginkan oleh wanita hamil tersebut.

Kekurangan makanan dapat menyebabkan anemia, abortus, partus

prematurus, inversion uteri, hemoragia postpartum, sepsis

puerperalis dan sebagainya. Sedangkan makan secara berlebihan

dapat menyebabkan komplikasi antara lain preeklamsi, bayi terlalu

besar, dan sebagainya. Penambahan berat badan hamil (PBBH)

merupakan indikator utama yang menentukan hasil kehamilan,

disamping berat badan pra hamil (BBpH) yaitu 12,5 kg. Lila

menunjukkan status gizi ibu hamil dimana <23,5 menunjukkan

status gizi kurang dan ≥ 23,5 menunjukkan status gizi baik.


48

f. Merokok

Wanita-wanita yang terlalu banyak merokok melahirkan

anak yang lebih kecil, atau mengalami abortus dan partus

prematurus (Putri, 2017).

Pada kebijakan program kunjungan ulang dilakukan paling

sedikit 4 kali yaitu, 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II dan 2

kali pada trimester III.

1) Kunjungan I (16 minggu) dilakukan untuk:

a) Penapisan dan pengobatan anemia.

b) Perencanaan persalinan.

c) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.

2) Kunjungan II (24-28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu)

dilakukan untuk:

a) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.

b) Penapisan PE (preeklamsi), gemeli (hamil kembar), infeksi alat

reproduksi dan saluran perkemihan.

c) Mengulang perencanaan persalinan.

3) Kunjungan IV (36 minggu sampai dengan lahir) dilakukan untuk:

a) Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III.

b) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi.

c) Memantapkan rencana persalinan.

d) Mengenali tanda-tanda persalinan (Jannah, 2012).


49

8. ANC (Antenatal Care)

a. Definisi

Asuhan antenatal atau Antenatal Care (ANC) adalah

perawatan yang diberikan pada ibu selama masa kehamilan, dimulai

dari konsepsi sampai lahirnya janin. Pemeriksaan ini dilakukan

untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil.

Sehingga mampu menghadapi persalinan, masa nifas, persiapan

pemberian ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencegah adanya komplikasi

obstetric bila mungkin dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi

sedini mungkin serta ditangani secara memadai (Suweno, 2015).

Dalam bahasa program kesehatan ibu dan anak, pemeriksaan

antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3 dan K4. Hal ini berarti

minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia

kehamilan 28 minggu, sekali kunjungan antenatal selama usia

kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak 2 kali kunjungan pada usia

kehamilan diatas 36 minggu (Prawirohardjo, 2014).

b. Tujuan

1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan

ibu dan tumbuh kembang bayi.

2) Meiningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental

dan sosial ibu serta bayi.


50

3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi

yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit

secara umum, kebidanan, dan pembedahan.

4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan

selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal

mungkin.

5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan dengan normal dan

pemberian ASI Eksklusif,

6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima

kelahiran bayiagar dapat tumbuh kembang secara normal

(Jannah, 2012).

c. Standar Asuhan

Pelayanan ANC minimal 5T, meningkat menjadi 7T, dan

sekarang menjadi 12T, sedangkan untuk daerah gondok dan

endemik malaria menjadi 14T yakni :

1) Timbang berat badan dan tinggi badan

Tinggi badan ibu dikategorikan adanya resiko apabila hasil

pengukuran < 145 cm. berat badan ditimbang setiap ibu dating

atau berkunjung untuk mengetahui kenaikan BB dan penurunan

BB. Kenaikan BB ibu hamil normal rata-rata antara 6,5 kg

sampai 16 kg.

2) Tekanan darah

Diukur setiap kali ibu datang atau berkunjung. Deteksi

tekanan darah yang cenderung naik diwaspadai adanya gejala


51

hipertensi dan preeklamisa. Apabila turun di bawah normal kita

pikirkan kearah anemia. Tekanan darah normal berkisar

systole/diastole 110/80 – 120/80 mmHg.

3) Pengukuran tinggi fundus uteri

Menggunakan pita sentimeter, letakan titik nol pada tepi atas

sympisis dan rentamgkan sampai fundus uteri (fundus tidak

boleh ditekan).

Tabel 2.4
TFU Menurut Penambahan Per Tiga Jari

Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri (TFU)


(minggu)
12 3 jari diatas simfisis
16 Pertengahan pusat simfisis
20 3 jari dibawah simfisis
24 Setinggi pusat
28 3 jari diatas simfisis
32 Peretngahan pusat – prosesus
xhipoideus (px)
36 3 jari di bawah prpsesus xiphoideus
(px)
40 Peretngahan pusat – prosesus
xhipoideus (px)
(Sumber: Jannah, 2012).

Tabel 2.5
Pengukuran Tinggi Fundus Uteri (cm)

Usia Kehamilan (minggu) Tinggi Fundus Uteri (TFU)


12 12 cm
16 16 cm
20 20 cm
24 24 cm
28 28 cm
32 32 cm
36 36 cm
40 40 cm
(Sumber: Putri, 2017)
52

4) Pemberian tablet tambah darah (tablet Fe)

Untuk memenuhi kebutuhan volume darah pada ibu hamil

dan nifas, karena masa kehamilan kebutuhan meningkat seiring

dengan pertumbuhan janin.

5) Pemberian imunisasi (TT)

Untuk melindungi tetanus neonatorum. Efek samping TT

yaitu nyeri, kemerah-kemerahan dan bengkak untuuk 1-2 hari

pada tempat penyuntikan.

Tabel 2.6
Jadwal Imunisasi TT

Antigen Interval (selang Lama %


waktu minimal) perlindungan Perlindungan
TT 1 Pada kunjungan - -
antenatal pertama
TT 2 4 minggu setelah TT 1 3 tahun 80
TT 3 6 bulan setelah TT 2 5 tahun 95
TT 4 1 tahun setelah TT 3 10 tahun 99
TT 5 1 tahun setelah TT 4 25 tahun/ 99
seumur hidup
(Sumber: Jannah, 2012)

6) Pemeriksaan Hb

Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan ibu hamil yang

pertama kali, lalu diperiksa lagi menjelang persalinan.

Pemeriksaan Hb adalah salah satu upaya untuk mendeteksi

anemia pada ibu hamil.

7) Pemeriksaan protein urine

Untuk mengetahui adanya protein dalam urine ibu hamil.

Protein urine ini untuk mendeteksi ibu hamil kearah

preeklamsia.
53

8) Pengambilan darah untuk pemeriksaan VDRL

Pemeriksan Veneral Desease Research Laboratory (VDRL)

untuk mengetahui adanya treponema palidum/penyakit menular

seksual, antara lain syphilis.

9) Pemriksaan urine reduksi

Dilakukan pemeriksaan urine reduksi hanya kepada ibu

dengan indikasi penyakit gula/DM atau riwayat penyakit gula

pada keluarga ibu atau suami.

10) Perawatan payudara

Meliputi senam payudara, perawatan payudara, pijat tekan

payudara yang ditunjukan kepada ibu hamil. Manfaat perawatan

payudara adalah :

a) Menjaga kebersihan payudara, terutama putting susu.

b) Mengencangkan serta memperbaiki bentuk putting susu

(pada putting susu terbenam).

c) Merangsang kelenjar – kelenjar susu sehingga produksi ASI

lancer.

d) Mempersiapkan ibu dalam laktasi

Perawatan payudara dilakukan 2 kali sehari sebelum mandi

dan mulai pada kehamilan 6 bulan.

11) Senam ibu hamil

Bermanfaat membantu ibu dalam persalinan dan

mempercepat pemulihan setelah melahirkan dan mencegah

sembelit.
54

12) Pemberian obat malaria

Pemberian obat malaria diberikan khsuus untuk pada ibu

hamil didaerah endemik malaria atau kepad aibu dengan gejala

khas malaria yaitu panas tinggi disertai menggigil.

13) Pemberian kapsul minyak beryodium

Kekurangan yodium dipengaruhi oleh faktor-faktor

lingkungan dimana tanah dan air tidak mengandung unsur

yodium. Akibat kekurangan yodium dapat mengakibatkan

gondok dan kretin yang ditandai :

a) Gangguan fungsi mental

b) Gangguan fungsi pendengaran

c) Ganguan pertumbuhan

d) Gangguan kadar hormon yang rendah

14) Temu wicara

a) Definisi

Konseling adalah suatu bentuk wawancara (tatap

muka) untuk menolong orang lain memperoleh pengertian

yang lebih baik mengenai dirinya dalam usahanya untuk

memahami dan mengatasi permasalahan yang sedang

dihadapinya.

b) Prinsip-prinsip konseling

Ada 5 prinsip pendekatan kemanusiaaan yaitu

Keterbukaan, Empati, Dukungan, Sikap dan respon positif,

singkat atau sederajat.


55

c) Tujuan konseling pada antenatal care

(1) Membantu ibu hamil memahami kehamilannya dan

sebagai upaya preventif terhadap hal-hal yang tidak

diinginkan

(2) Membantu ibu hamil untuk menemukan kebutuhan

asuhan kehamilan, penolong persalinan yang bersih

dan aman atau tindakan klinik yang mungkin

diperlukan (Walyani, 2016).

B. Persalinan

1. Definisi

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput

ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika

prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu)

tanpa disertai penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus

berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan

menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu

belum dapat dikategorikan inpartu jika kontraksi uterus tidak

mengakibatkan perubahan atau pembukaan serviks (Wiknjosastro,

2014).

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi

(janin+uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir

atau dengan jalan lain (Sofian, 2017).

Persalinan adalah pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluat kandungan
56

melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan

(kekuatan sendiri). Proses ini dimulai dengan adanya kontraksi

persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara

progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Sulistyawati &

Nugraheny, 2010).

Kesimpulan dari pengertian persalinan diatas, persalinan adalah

pengeluaran hasil konsepsi yaitu janin dan plasenta, baik melalui jalan

lahir ataupun jalan lain.

2. Teori Permulaan Persalinan

a. Teori penurunan kadar hormone progesterone

Hormon progesteron merupakan hormone yang

menimbulkan relaksasi pada otot-otot rahim. Sedangkan hormon

estrogen menimbulkan kerentaan otot rahim. Selama kehamilan

terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen di

dalam darah. Progesterone menghambat kontraksi uterus selama

kehamila, sehingga membantu mencegah ekspulsi fetus. Sebaliknya

estrogen mempunyai kecenderungan meningkatkan derajat

kontraktilitas uterus. Baik estrogen maupun progesterone

desekresikan dalam jumlah yang secara progresif makin bertambah

selama kehamilan, teteapi mulai kehamilan bulan ke-7 dan

seterusnya sekresi estrogen terus meningkat sedangkan sekresi

progesterone tetap konstan atau mungkin sedikit menurun sehingga

terjadi kontraksi baxton hicks saat terakhir kehamilan yang

selanjutnya bertindak sebagai kontraksi persalinan.


57

b. Teori oksitosin

Menjelang persalinan terjadi peningkatan reseptor oksitosin

dalam otot rahim, sehingga mudah terangsang saat disuntikka

oksitosin dan menimbulkan kontraksi, diduga bahwa oksitosin dapat

menimbulkan pembentukan prostaglandin dan persalinan dapat

berlangsung.

c. Teori plasenta menjadi tua

Plasenta yang menjadi tua sering bertambahnya usia

kehamilan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone,

hal ini menyebabkan kejang pada pembuluh darah sehingga akan

menimbbulkan kontraksi.

d. Teori prostaglandin

Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, menjadi salah

satu sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan

bahwa prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena dan

exramnial menimbulkan kontraksi myometrium pada setiap umur

kehamilan. Hal ini juga disokong dengan adanya kadar

prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah

parifer pada ibu hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan.

e. Distensi rahim

Seperti halnya dengan kandung kemih yang bila dindingnya

teregang oleh karena isisnya bertambah maka timbul kontraksi

untuk mengeluarkan isinya. Demikian pula dengan rahim. Seiring

bertambahnya usia kehamilan maka otot-otot rahim akan semakin


58

teregang. Rahim yang membesar dan meregang menyebabkan

iskemi otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-

plasenter sehingga timbul adanya kontraksi.

f. Teori iritasi mekanik

Dibelakang serviks terdapat ganglion servikale (fleksus

franken hauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya

oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.

g. Pengaruh janin

Hypofise dan kelenjar suprarenal jain juga memegang

peranan dalam terjadinya persalinan. Pada janin anancepalus

(keadaan abnormal pada otak dan batang otak), kehamilan sering

lebih lama dari biasanya (Eriyati dan Putri, 2012).

3. Tanda dan Gejala Persalinan

a. Kala pendahuluan persalinan (preparatory stage of labor) dapat

diduga ketika ditemui:

1) Lightening (settling atau dropping) yang merupakan penurunan

kepala mamasuki pintu atas panggul

2) sering miksi atau sulit berkemih

3) serviks mulai lembek dan mendatar

4) adanya his permulaan atau his palsu (rasa nyeri bagian bawah,

datang tidak teratur, durasi pendek, hilang saat istirahat)

b. karakteristik atau tanda-tanda persalinan sesungguhnya adalah:

1) pengeluaran lender bercampur darah (“show”)

2) serviks menipis dan membuka


59

3) intervensi antara rasa nyeri yang secara perlahan semakin

pendek

4) waktu dan kekuatan kontraksi semakin bertambah

5) rasa nyeri terasa dibagian belakang dan menyebar kedepan

6) dengan berjalan bertambah intensitasnya

7) ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi dengan

intensitas nyeri

8) ada penurunan bagian terendah janin

9) kepala janin sudah terfiksasi di PAP diantara kontraksi

10) pemberian obat penenang tidak menghentikan proses persalinan

sesungguhnya (Eniyati dan Putri, 2012).

Sedangkan tanda dan gejala persalinan menurut Manuaba (2014)

adalah sebagai berikut:

1) Terjadinya his persalinan

His persalinan mempunyai ciri khas pinggang terasa nyeri yang

menjalar kedepan, sifatnya teratur, interval makin pendek, dan

kekuatannya makin besar, mempunyai pengaruh terhadap

perubahan serviks, maka beraktivitas (jalan) kekuatan mankin

bertambah.

2) Pengeluaran lendir darah

Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang

menimbulkan pendataran dan pembukaan. Pembukaan

menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas.

Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah.


60

3) Pengeluaran cairan

Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan

pengeluaran cairan. Sebagian besar ketuban baru pecah menjelang

pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban diharapkan

persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam (Manuaba, 2014).

4. Faktor yang Mempengaruhi Persalinan

a. Power (Kekuatan)

Power adalah kekuatan atau tenaga yang mendorong janin

keluar. Kekuatan tersebut meliputi:

1) His Pendahuluan atau His Palsu

Merupakan peningkatan kontraksi dari Braxton Hicks.

Frekuensi dari jenis his ini tidak teratur dan menyebabkan nyeri

di perut bagian bawah dan lipat paha, tetapi tidak menyebabkan

nyeri yang memancar dari pinggang ke perut bagian bawah

seperti his persalinan. Lamanya kontraksi pendek dan tidak

bertambah kuat dengan majunya waktu, bertentangan dengan

his persalinan yang makin lama makin kuat. His pendahuluan

tidak memberikan pengaruh pada serviks (Sondakh, 2013).

2) Pembagian his dan sifat-sifatnya :

a) His Pendahuluan: his tidak kuat, datangnya tidak teratur,

menyebabkan keluarnya lendir darah atau bloody show.

b) His Pembukaan (Kala I): menyebabkan pembukaan serviks,

semakin kuat, teratur dan sakit.


61

c) His Pengeluaran (Kala II): untuk mengeluarkan janin,

sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinasi.

d) His Pelepasan Plasenta (Kala III): kontraksi sedang untuk

melepaskan dan melahirkan plasenta.

e) His Pengiring (Kala IV): kontraksi lemah, masih sedikit

nyeri, terjadi pengecilan dalam beberapa jam atau hari

(Nurasiah, 2012).

3) Tenaga Mengedan

Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah atau

dipecahkan, serta sebagian presentasi sudah berada didasar

panggul, sifat kontraksi berubah, yakni bersifat mendorong

keluar dibantu dengan keinginan ibu untuk mengedan atau

usaha volunteer. Keinginan mengedan ini disebabkan karena:

a) Kontraksi otot-otot dinding perut yang mengakibatkan

peninggian tekanan intra abdominal dan tekanan ini menekan

uterus pada semua sisi dan menambah kekuatan untuk

mendorong keluar.

b) Tenaga ini serupa dengan tenaga mengedan sewaktu buang

air besar (BAB), tapi jauh lebih kuat.

c) Saat kepala sampai kedasar panggul, timbul reflex yang

mengakibatkan ibu menutup glotisnya, mengkontraksikan

otot-otot perut dan menekan diafragma ke bawah.

d) Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil bila pembukaan

sudah lengkap dan paling efektif sewaktu ada his.


62

e) Tanpa tenaga mengedan bayi tidak akan lahir (Nurasiah,

2012).

b. Passage (Jalan Lahir)

1) Bagian keras : Tulang Panggul

a) Os Coxae (Tulang Innominata)

Tabel 2.7
Tabel pembagian tulang Innominata

Jenis Tulang Terdapat


Os ilium (tulang usus) (1) Crista iliaca
(2) Spina iliaca anterior superior
(3) Spina iliaca posterior superior
(4) Spina iliaca posterior inferior
(5) Spina iliaca anterior inferior
(6) Incisura ischiadica mayor
(7) Linea inominata
(8) Corpus os ilii
Os ischium (tulang duduk) (1) Spina ischiadica
(2) Inchisura ischiadica minor
(3) Tuber ischiadicum
(4) Acetabulum
(5) Ramus superior ossis ischii
(6) Ramus inferior inferior ossis
ischii
(7) Corpus os ischii
Os pubis (tulang kemaluan) (1) Foramen obturatorium
(2) Ramus superior ossis pubis
(3) Ramus inferior ossis pubis
(4) Linea illiopectinea
(5) Corpus pubis
(6) Tuber culum pubicum
(7) Arcus pubis
(8) Simfisis pubis
Os sacrum (tulang (1) Promontorium
kelangkang) (2) Foramen sacralia anterior
(3) Crista sacralis
(4) Vertebra sacralis
(5) Ala sacralis
(6) Vertebra lumbalis
Os coccygeus (tulang (1) Vertebra coccyges
tungging)
(Sumber: Nurasiah, 2012)
63

2) Bagian lunak : Otot – otot dan ligament – ligament

Bagian lunak panggul terdiri dari otot-otot dan ligamentum

yang meliputi dinding panggul sebelah dalam dan menutupi

panggul sebelah bawah (Nurasiah, 2012).

c. Passanger (Janin dan Plasenta)

1) Janin

Janin merupakan passanger utama dan dapat memengaruhi

jalannya persalinan karena besar dan posisinya. Bagian janin

yang paling penting adalah kepala karena mempunyai ukuran

yang paling besar, sebesar 90% bayi di Indonesia dilahirkan

dengan letak kepala.

2) Plasenta

Plasenta merupkan bagian dari passanger yang menyerupai

janin yang dilahirkan melalui jalan lahir. Kehadiran plasenta

jarang menjadi hambatan dalam persalinan normal (Sondakh,

2013).

d. Psikologis

Persalinan merupakan proses dramatis dari kondisi biologis

dan psikologis yang dialami oleh sebagian besar ibu hamil. Sebagian

besar wanita menganggap hal tersebut sebagai salah satu hal yang

kodrati. Banyak persiapan yang dilakukan sejak awal kehamilan dan

banyak faktor yang dapat mempengaruhi, serta yang akan

mendukung lancarnya proses persalinan. Faktor psikologi


64

merupakan salah satu faktornya yang dapat memengaruhi

kelancaran dari proses persalinan (Sondakh, 2013).

e. Pysician (Penolong)

Penolong persalinan adalah seseorang yang memiliki

pengetahuan dan keterampilan tertentu untuk membantu ibu dalam

menjalankan proses persalinan. Faktor penolong ini memegang

peranan penting dalam membantu ibu bersalin karena memengaruhi

kelangsungan hidup ibu dan bayi (Sondakh, 2013).

5. Mekanisme Persalinan

Mekanisme persalinan sebenarnya mengadu pada bagaimana

janin menyesuaikan dan melolokan diri dari panggul ibu, yang meliputi

gerakan:

a. Turunya Kepala Janin

Sebetulnya janin mengalami penurunan terus menerus dalam

jalan lahir sejak kehamilan trimester III, antara lain masuknya

bagian terbesar janin kedalam pintu atas panggul (PAP) yang ppada

primigravida 38 minggu atau selambat-lambatnya awal kala II.

b. Fleksi

Pada permulaan persalinan kepala janin biasanya berada

dalam sikap fleksi. Dengan adanya his dan tahan dari dasar panggul

yang makin besar, maka kepala janin makin turun dan semakin fleksi

sehingga dagu janin menekan pada dada dan belakang kepala

(oksiput) menjadi bagian bawah. Keadaan ini dinamakan fleksi

maksimal.
65

c. Rotasi Dalam / Putaran Paksi Dalam

Makin turunnya kepala janin dalam jalan lahir, kepala janin

akan berputar sedemikian rupa sehingga diameter trpanjang panggul

atau diameter anterior posterior kepala janin akan bersesuaian

dengan diameter terkecil antero posterior Pintu Bawah Panggul

(PBP). Hal ini mungkin karena kepala janin tertegak spiral atau

seperti sekrup sewaktu turun dalam jalan lahir. Bahu tidak berputar

bersama-sama dengan kepala akan membentuk sudut 45, keadaan

demikian disebut putaran paksi dalam dan ubun-ubun kecil berada

dibawah simfisis.

d. Ekstensi

Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai didasar

panggul, terjadilah ekstensi atau depleksi dari kepala. Hal ini

disebabkan karena sumbu jalan lahir pada PBP mengarah kedepan

dan keatas, sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk

melaluinya kalau tidak terjadi ekstensi maka kepala akan terketan

pada pertemuan dan menembusnya. Dengan ekstensi ini maka sub.

Oksiput bertindak sebagai Hipomochlion (sumbu putar). Kemudian

larilah berturut-turut sinsiput (puncak kepala), dahi, hidung, mulut,

dan akhir dagu.

e. Rotasi Luar / Putaran Paksi Luar

Setelah ekstensi kemudain diikuti dengan putaran paksi luar

yang pada hakikatnya kepala janin menyesuaikan kembali dengan


66

sumbu panjang bahu, sehingga panjang bahudengan sumbu panjang

kepala janin berada pada satu garis lurus.

f. Ekspulsi

Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai dibawah

simfisis dan menjadi hipomochlion untuk kelahiran bahu belakang.

Kemudian bahu belakang menyusul dan selanjutnya seluruh tubuh

bayi searah dengan paksi jalan lahir (Rukiah, 2015).

6. Tahap Persalinan Normal

a. Kala I

Pada kala I serviks membuka sampai pembukaan 10 cm.

kala I dinamakan pula kala pembukaan. Dapat dinyatakan partus

bila timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang

bersemu darah disertai dengan pendataran (effacement). Proses

membukanya serviks dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

1) Fase Laten

Berlangsung selama 7-8 jam. Pembukaan terjadi sangat

lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.

2) Fase Aktif

Fase ini berlangsung selama 6 jam dan dibagi menjadi 3

macam:

a) Fase Akselerasi: Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm

menjadi 4 cm.

b) Fase Dilatasi Maksimal: Dalam waktu 2 jam pembukaan

berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.


67

c) Fase Deselarasi: Pembukaan menjadi lambat, dalam

waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.

b. Kala II

Kala ini disebut sebagai kala pengeluaran. Kala ini

dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya janin. Pada

kala ini his menjadi semakin lebih cepat kira-kira 2 sampai 3

menit sekali. Dalam fase ini dirasakan tekanan pada otot-otot

dasar panggul yang dapat menimbulkan rasa mengedan.

Wanita merasa pula tekanan pada rectum dan hendak buang air

besar. Kemudian perineum mulai menonjol dan dan menjadi

lebar dengan anus membuka. Labia mulai membuka dan tidak

lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu

his.

Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi maka kepala

janin tidak masuk lagi diluar his, dan dengan his dan kekuatan

mengejan maksimal, kepala janin dilahirkan dengan

suboksiput dibawah simpisis dan dahi, muka dan dagu

melewati perineum. Seteelah istirahat sebentar, his mulai lagi

untuk mengeluarkan badan dan anggota bayi. Pada

primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada

multigravida rata-rata 0,5 jam.

c. Kala III

Disebut juga sebagai kala uri. Setelah bayi lahir, uterus

teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat. Beberapa


68

menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan

plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6

sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau

dengan tekanan pada fundus uteri. Pengeluaran plasenta

disertai dengan pengeluaran darah, kira-kira 100-200 cc

(Kuswanti, 2014).

Cara melahirkan plasenta adalah menggunakan teknik

dorsokranial. Kala III terdiri dari 2 fase, yaitu:

1) Fase pelepasan plasenta

a) Schultze: proses lepas plasenta seperti menutup payung.

Ini merupakan cara yang paling sering terjadi (80%).

b) Duncan: pada cara ini lepasnya plasenta mulai dari

pinggir 20%. Darah akan mengalir keluar antara selaput

ketuban. Pengeluaran juga serempak dari tengah dan

pinggir plasenta.

2) Fase pengeluaran plasenta

a) Kustner: meletakkan tangan disertai tekanan di atas

simfisis, tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat

masuk berarti belum lepas. Jika diam atau maju berarti

sudah lepas.

b) Klein: sewaktu ada his, rahim didorong sedikit. Bila tali

pusat kembali berarti belum lepas, diam atau turun

berarti lepas.
69

c) Strassman: tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus,

bila tali pusat bergetar berarti plasenta belum lepas, tidak

bergetar berarti sudah lepas. Tanda-tanda plasenta telah

lepas adalah rahim menonjol di atas simfisis, tali pusat

bertambah panjang, rahim bundar dan keras, serta keluar

darah tiba-tiba (Sondakh, 2013).

d. Kala IV

Kala IV adalah pengawasan selama 1-2 jam setelah

bayi dan uri lahir, untuk mengamati keadaan ibu terutama

terhadap bahaya perdarahan postpartum.

Pada primigravida, lama kala 1 yaitu 13 jam, kala dua

1 jam, kala tiga ½ jam, lama persalinan 14 ½ jam. Pada

multigravida, lama kala satu 7 jam, kala dua ½ jam, kala tiga

¼ jam, lama persalinan 7 ¾ jam (Kuswanti, 2014).

7. Perubahan Fisiologi pada Ibu Saat Bersalin

a. Uterus

Saat ada his, uterus teraba sangat keras karena seluruh

ototnya berkontraksi. Proses ini akan efektif hanya jika his bersifat

fundaldominan, yaitu kontraksi didominasi oleh otot fundus yang

menarik otot bawah rahim ke atas sehingga akan menyebabkan

pembukaan serviks dan dorongan janin ke bawah secara alami.


70

b. Serviks

Pada kala II, serviks sudah menipis dan dilatasi maksimal.

Saat dilakukan pemeriksaan dalam, portio sudah tidak teraba dengan

pembukaan 10cm.

c. Pergeseran Organ Dasar Panggul

Tekanan pada otot dasar panggul oleh kepala janin akan

menyebabkan pasien ingin meneran, serta diikuti dengan perineum

yang menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka. Labia

mulai membuka dan tak lama kemudian kepala janin tampak pada

vulva saat ada his.

d. Ekspulsi Janin

Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi kepala janin

sudah tidak masuk lagi diluar his. Dengan his serta kekuatan

meneran maksimal kepala janin dilahirkan dengan sub oksiput

dibawah simfisis, kemudian dahi, muka dan dagu melewati

perineum setelah istirahat sbentar, his mulai lagi untuk

mengeluarkan badan dan angota tubuh bayi. Pada primi gravida,

kala II berlangsun kira-kira 1 setengah jam sedangkan pada multi

gravida setengah jam.

e. Tekanan Darah

Tekanan darah dapat meningkat lagi 15-25 mmHg selama

kala II persalinan upaya meneran juga akan mempengaruhi tekanan

darah, dapat meningkat dan kemudian menurun kemudian ahirnya


71

kembali lagi sedikit diatas normal . rata-rata normal peningkatan

tekanan darah selama kala II adalah 10 mmHg.

f. Metabolisme

Peningkatan metabolisme terus berlanjut hingga kala II

persalinan. Upaya meneran pasien menambah aktivitas otot-otot

rangka sehingga meningkatkan metabolisme.

g. Denyut nadi

Frekuensi denyut nadi bervariasi tiap kali pasien meneran.

Secara keseluruhan frekuensi nadi meningkat selama kala II di sertai

takikardi yang nyata ketika mencapai puncak menjelang kelahiran

bayi.

h. Suhu

Peningkatan suhu tertinggi pada saat proses persalinan dan

segera setelahnya. Peningkatan suhu normal 0.5° – 1° C.

i. Pernapasan

Sedikit peningkatan frekuensi pernafasan dianggap normal

selama persalinan hal tersebut mencerminkan peningkatan

metabolisme meskipun sulit untuk memperoleh temuan yang akurat

mengenai frekuensi pernafasan karena sangat dipengaruhi oleh rasa

senang, nyeri, rasa takut, dan penggunaan teknik pernafasan.

j. Perubahan renal (berkaitan dengan ginjal)

Poliuri sering terjadi selama persalian kondisi ini dapat

diakibatkan kerena peningkatan lebih lanjut curah jantung selama

persalinan dan kemungkinan peningkatan laju filtrasi glomerolus


72

dan aliran plasma ginjal poliuri menjadi kurang jelas pada posisi

telentang karena posisi membuat aliran urine berkurang selama

kehamilan. Kandung kemih harus sering dikontrol (setiap 2 jam)

yang bertujuan agar tidak menghambat penurunan bagian terendah

janin dan trauma pada kandung kemih serta menghindari retensi urin

setelah melahirkan. Protein dalam urin (+1) selama persalinan

merupakan hal yang wajar, tetapi Protein uri (+2) merupakan hal

yang tidak wajar, keadaan ini lebih sering pada ibu Primipara,

Anemia, persalinan lama atau pada kasus Pre-eklamsia.

k. Gastrointestinal

Motilitas dan absorpsi lambung terhadap makanan padat

jauh berkurang apabila kondisi ini diperburuk oleh penurunan lebih

lanjut sekresi asam lambung selama persalinan, maka saluran cerna

bekerja dengan lambat sehingga waktu pengosongan lambung

menjadi lebih lama.

l. Hematologi

Hemoglobin meningkat rata-rata 1,2 mg % selama

persalinan dan kembali kekadar sebelum persalinan pada hari

pertama pascapersalinan jika tidak ada kehilangan darah yang

abnormal (Sulistyawati, 2010).

8. 60 Langkah Persalinan Menurut APN

a. Melihat Tanda Dan Gejala Kala II

1) Mengamati tanda dan gejala perslinan kala II.

a) Ibu mempunyai keinginan untuk meneran.


73

b) Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rectum

dan/ atau vaginanya.

c) Perineum menonjol.

d) Vulva-vagina dan sfingter anal membuka.

b. Menyiapkan Pertolongan Persalinan

2) Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obtan esensial siap

digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan

menempatkan tabung suntik steril sekali pakai didalam partus

set.

3) Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.

4) Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku,

mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang

mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk 1 kali pakai/

pribadi yang bersih.

5) Memakai 1 sarung dengan DTT atau steril untuk semua

pemeriksaan dalam.

6) Mengiap oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (dengan

memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan

letakan kembali dipartus set/wadah disinfeksi tingkat tinggi atau

steril tanpa mengontaminasi tabung suntik.

c. Memastikan Pembukaan Lengkap Dengan Janin Baik

7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-

hati dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas atau

kassa yang sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi. Jika


74

mulut vagina, perineum, atau anus terkontaminasi oleh kotoran

ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka

dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kassa yang

terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung

tangan jika terkontaminasi (meletakan kedua sarung tangan

tersebut dengan benar di dalam larutan dekontaminasi).

8) Dengan menggunakan teknik aseptik, lakukan pemeriksaan

dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah

lengkap. Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan

pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.

9) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan

tangan yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam

larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam

keadaan terbalik serta merendamnya di dalam larutan klorin

0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan.

10) Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi

berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal

(100-180 kali/menit).

a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.

b) Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ,

dalam semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada

partograf.
75

d. Menyiapkan Ibu Dan Keluarga Untuk Membantu Proses

Pimpinan Meneran

11) Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin

baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai

dengan keinginannya.

a) Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk

meneran. Melanjutkan pemantauan kesehatan dan

kenyamanan ibu serta jani sesuai dengan pedoman

persalinan aktif dan mendokumentasikan temuan-temuan.

b) Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka

dapat mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat

ibu mulai meneran.

12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk

meneran. (pada saat ada HIS, bantu ibu dalam posisi setengah

duduk dan pastikan ia merasa nyaman).

13) Lakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang

kuat untuk meneran :

a) Membimbing ibu untuk menran saat ibu mempunyai

keinginan untuk meneran.

b) Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk

meneran.

c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai

dengan pilihannya (tidak maminta ibu berbaring terlentang).

d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.


76

e) Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi

semangat pada ibu.

f) Menganjurkan asupan cairan per oral.

g) Menilai DJJ setiap 5 menit.

h) Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi

segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu

primipara atau 60 menit (1jam)untuk ibu multipara, merujuk

segera. Jika ibu tidak mempunyai keinginan meneran.

i) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau

mengambil posisi yang aman. Jika ibu belum ingin meneran

dalam 60 menit, anjurkan ibu untuk mulai meneran pada

puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat diantara

kontraksi.

j) Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi

segera setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan

segera.

e. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi

14) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,

letakkan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan

bayi.

15) Letakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong

bayi.

16) Membuka partus set.

17) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
77

f. Menolong Kelahiran Bayi

Lahirnya Kepala

18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,

lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi,

letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan

yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, biarkan

kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran

perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir.

19) Dengan lembut menyeka muka, mulut, dan hidug bayi dengan

kain atau kassa yang bersih.

20) Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang

sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera

proses kelahiran bayi:

a) Jika tali pusat melilit janin dengan longgar, lepaskan lewat

bagian atas kepala bayi.

b) Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya

di dua tempat dan memotongnya.

Lahir Bahu

21) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar

secara spontan.

22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua

tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu

untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut

ybymenariknya ke arah bawah dan ke arah luar hingga bahu


78

anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan

lembut menarik ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan

bahu posterior.

23) Setelah kedua bahu di lahirkan, menelusurkan tangan mulai

kepala bayi yang berada di bawah ke arah perineum,

membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan tersebut.

Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati

perineum, gunakan lengan bawah untuk menyangga tubuh bayi

saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior (bagian atas)

untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat

keduanya lahir.

24) Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada

di atas (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk

menyangganya saat punggung kaki lahir. Memegang kedua

mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

g. Penanganan Bayi Baru Lahir

25) Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik), kemudian

meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi

sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek,

meletakkan bayi di tempat yang memungkinkan). Bila bayi

mengalami asfiksia, lakukan resusitasi.

26) Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan

biarkan kontak kulit ibu-bayi. Lakukan penyuntikan

oksitosin/IM.
79

27) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat

bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah

ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (ke arah

ibu).

28) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari

gunting dan memotong tali pusat diantara kedua klem tersebut.

29) Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang basah dan

menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan

kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat

membuka. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, ambil

tindakan yang sesuai.

30) Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk

memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu

menghendakinya

h. Oksitosin

31) Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi

abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi

kedua.

32) Memberitahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin 10

IU.

33) Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntikan

oksitosin 10 unit I.M. di gluteus atau 1/3 atas paha kanan ibu

bagian luar, setelah mengaspirasinya terlebih dahulu.


80

i. Penegangan Tali Pusat Terkendali

34) Memindahkan klem pada tali pusat.

35) Meletakan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat

diatas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk

melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus.

Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.

36) Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan

penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut.

Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah

uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakang

(dorso kranial) dengan hati-hati untuk membantu mencegah

terjadinya inversio uteri. Jila plasenta tidak lahir setelah 30-40

detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga

kontraksi berikut mulai.

a) Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang

anggota keluarga untuk melakukan rangsangan puting susu.

j. Mengeluarkan Plasenta

37) Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil

menarik tali pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas,

mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan

berlawanan arah pada uterus.

a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga

berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva.


81

b) Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali

pusat selama 15 menit :

(1) Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit I.M.

(2) Menilai kandung kemih dan dilakukan kateterisasi

kandung kemih dengan menggunakan teknik aseptik jika

perlu.

(3) Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan

(4) Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit

berikutnya.

(5) Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30

menit sejak kelahiran bayi.

38) Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran

plasenta dengan menggunakan kedua tangan. Memegang

plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati memutar

plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut

perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.

a) Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan

disinfeksi tingkat tinggi atau steril dan memeriksa vagina

dan servick ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari

tangan atau klem atau forseps disinfeksi tingkat tinggi

atau steril untuk melepaskan bagian selaput yang

tertinggal.
82

k. Pemijatan Uterus

39) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan

massase uterus, meletakkan telapak tangan di fundus dan

melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut

hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).

l. Menilai Perdarahan

40) Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu

maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa

plasenta dan selaput ketubanlengkap dan utuh. Meletakkan

plasenta di dalam kantung plastik atau tempat khusus.

a) Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase

selama 15 detik mengambil tindakan yang sesuai.

41) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan

segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.

Laserasi atau rupture atau perlukaan jalan lahir adalah

robekan yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan.

Rupture perineum dibagi menjadi 4 (empat) derajat:

a) Derajat 1 : meliputi mukosa vagina, komisura posterior

dan kulit perineum.

b) Derajat 2 : meliputi mukosa vagina, komisura posterior

kulit perineum dan otot perineum.

c) Derajat 3 : meliputi mukosa vagina, komisura posterior

kulit perineum, otot perineum dan otot sfing

-ter ani.
83

d) Derajat 4 : meliputi mukosa vagina, komisura posterior

kulit perineum, otot perineum, otot sfingter-

ani dan dinding depan rectum.

Yang dapat menyebabkan ruptute perineum:

a) Partus presipitatus,

b) Kepala janin besar dan janin besar,

c) Pada presentasi defleksi (dahi, muka),

d) Pada primigravida (para),

e) Pada letak sungsang dan after coming head,

f) Pimpinan persalinan yang salah,

g) Pada obstetric operatif pervaginam: ekstraksi forsep, versi

dan ekstraksi serta embriotomi.

m. Melakukan Prosedur Pasca Persalinan

42) Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan

baik.

43) Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke

dalam larutan klorin 0,5% ; membilas kedua tangan yang masih

bersarung tangan tersebut dengan air disinfeksi tingkat tinggi

dan mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering.

44) Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril

atau mengingatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dan simpul mati

sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.

45) Mengikat satu lagi simpul mati di bagian pusat yang

berseberangan dengan simpul mati yang pertama.


84

46) Melepaskan klem bedah dan meletakkannya kedalam larutan

klorin 0,5%.

47) Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya.

Memastikan handuk atau kainnya bersih atau kering.

48) Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.

49) Melanjutan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan

pervaginam :

a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan.

b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan.

c) Setiap 20 – 30 menit pada jam kedua pascpersalinan.

d) Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, laksanakan

perawatan yang sesuai untuk menatalaksanakan atonia uteri.

e) Jika di temukan laserasi yang memerlukan penjahitan,

lakuakn penjahitan dengan anastesia lokal dan menggunakan

teknik yang sesuai.

50) Mengajarkan pada ibu /keluarga bagaimana melakukanmasase

uterus dan memeriksa kontraksi uterus.

51) Mengevaluasi kehilangan darah.

52) Memeriksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung kemih

setiap 15 menit selama 1 jam pertama pascapersalinan dan

setiap 30 menit selama jam kedua pascapersalinan.

a) Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam dua jam

pertama pascapersalinan.
85

b) Melakukan tindakan yang sesuai dengan temuan yang tidak

normal.

n. Kebersihan dan Keamanan

53) Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5%

untuk dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas

peralatan setelah dekontaminasi.

54) Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi kedalam tempat

sampah yang sesuai.

55) Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat

tinggi. Membersihkan cairan ketuban, lendir, dan darah.

Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.

56) Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan

ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman

dan makanan yang di inginkan.

57) Mendekontaminasi darah yang di gunakan untuk melahirkan

dengan larutan klorin 0,5 % dan membilas dengan air bersih.

58) Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5

%, membalikkan bagian dalam keluar dan merendamnya dalam

larutan klorin 0,5 % selama 10 menit.

59) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

o. Dokumentasi

60) Melengkapi patograf (halaman depan dan belakang)

(Prawirohardjo, 2014).
86

9. Partograf

a. Definisi

Partograf adalah alat bantu untuk mengobservasi kemajuan

kala 1 persalinan dan memberikan informasi untuk membuat

keputusan klinik (Sondakh, 2013).

Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama

persalinan. (Prawirohardjo, 2014).

Partograf adalah alat untuk mencatat informasi berdasarkan

observasi dan pemeriksaan fisik pada ibu dalam persalinan dan alat

penting khususnya untuk membuat keputusan selama kala I (Rohani,

2011).

Kesimpulan dari pengertian diatas yaitu, partograf adalah

alat bantu untuk memantau kemajuan persalinan dan sebagai

informasi untuk mengambil keputusan klinik.

b. Manfaat

1) Dapat mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan

menilai pembukaan serviks dengan pemeriksaan dalam.

2) Dapat mendeteksi apakah proses persalinan berjalan normal.

Dengan demikian, juga dapat mendeteksi secara dini

kemungkinan terjadinya partus lama.

3) Data lengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu,

kondisi bayi, grafik kemajuan proses persalinan (Rohani, 2011).


87

c. Fungsi

1) Mengamati dan mencatat informasi kemajuan persalinan

dengan memeriksa dilatasi serviks selama pemeriksaan dalam.

2) Menentukan persalinan berjalan normal dan mendeteksi dini

persalinan lama sehingga bidan dapat membuat deteksi dini

mengenai kemungkinan persalinan lama Jika digunakan secara

tepat dan konsisten, amak partograf akan membantu penolong

untuk: pemantauan kemajuan persalinan kesejahteraan ibu dan

janin, mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan

kelahiran, mengidentifikasi secara dini adanya penyulit,

membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu (Rohani,

2011).

d. Cara Pencatatan

Halaman Depan Partograf

1) Identifikasi Ibu

Nama, umur, gravida, para, abortus, nomer rekam medis /

nomor klinik, tanggal dan waktu mulai dirawat, waktu pecahnya

ketuban.

2) Kondisi Janin

Kolom lajur dan skala pada partograf bagian atas adalah untuk

pencatatan.

a) Denyut Jantung Janin

Detak Janin Janin dinilai setiap 30 menit (lebih sering

jika ada tanda-tanda gawat janin). Kisaran normal Denyut


88

Janin Janin terpapar dapa partograf didantara garis tebal

angka 180 dan 100, nilai normal sekitar 120 s/d 160, apabila

ditemukan Denyut Jantung Janin dibawah 120 dan diatas

160, maka penolong harus waspada (Prawirohardjo, 2014).

b) Warnan Dan Adanya Air Ketuban

U : Jika ketuban utuh belum pecah

J : Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

M : Jika ketuban sudah pecah dan air ketubabercampur

dengan mekonium

D : Jika ketuban sudah pecah dan bercampur dengan

darah

K : Jika ketuban sudah pecah dan air ketuban kering

Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu

menunjukan gawat janin, jika terdapat mekonium pantau

Denyut Jantung Janin dengan mengenali tanda-tanda gawat

janin (denyut jantung janin < 100 atau >180 kali per menit.

e) Penyusupan / Moulase Kepala Janin

0 : tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan

mudah dapat diraba

1 : tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan

2 : tulang-tulang kepala janin saling tumpah tindih,

tetapi masih dapat dipisahkan

3 : tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak

dapat dipisahkan (Prawirohardjo, 2014).


89

3) Kemajuan Persalinan

a) Dilatasi Serviks

Kolom kedua dari partograf adalah pencatatan

kemajuan persalinan. Angka 0-10 yang tertera pada tepi kiri

adalah besarnya dilatasi serviks. Kotak diatas menunjukan

penambahan dilatasi sebesar 1 cm. Pada pertama kali

menulis pembesaran dilatasi serviks harus ditulis tepat pada

garis waspada. Cara pencatatannya dengan memberi tanda

silang (x) pada garis waspada sesuai hasil pemeriksaan

dalam / VT. Hasil pemeriksaan dalam / VT selanjutkan

dengan garis lurus dengan hasil sebelumnya. Apabila

dilatasi serviks melewati garis waspada, perlu diperhatikan

apa penyebab dan penolong hatus menyiapkan ibu untuk

dirujuk.

b) Penurunan Bagian Terendah Janin

Skala 0 sampai dengan 5 pada garis tepi sebelah kiri

ke atas, juga menunjukan seberapa jauh penurunan kepala

janin kedalam panggul. Dibawah lajur kotak dilatasi serviks

dan penurunan kepla menunjukan waktu / jam dimulainya

fase aktif, tertera kota-kotak untuk mencatat waktu aktual

saat pemeriksaan fase aktif mulai, setiap kotak menunjukan

30 menit. Penurunan kepala janin diukur seberapa jauh dari

tepi simfisis pubis. Dibagi menjadi 5 kategori dengan

simbol 5/5 sampai 0/5. Simbol 5/5 menyatakan bagian


90

kepala janin belum memasuki tepi atas simfisis pubis,

sedangkan simbol 0/5 menyatakan bahwa bagian kepala

jnin sudah tidak dapat lagi dipalpasi di atas simfisis pubis.

Kata-kata “Turunya Kepala” dan garis terputus dari 0-5,

tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan serviks.

Berikan tanda (o) pada garis waktu sesuai. Sebagai contoh

jika kepala dipalpasi 4/5, tuliskan tanda (o) dari setiap

pemeriksaan dengan garis terputus (Prawirohardjo, 2014).

c) Garis Waspada Dan Garis Bertindak

Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm

dan berakhir pada titik dimana pembukaan lengkap

diharapkan terjadi jika laju pembukaan serviks 1 cm per

jam. Pencatatan selama fase aktif harus dimulai di garis

waspada.

d) Jam Dan Waktu

Dibagian bawah partograf (pembukaan serviks dan

penurunan) tertera kotak-kotaak diberi angka 1-16. Setiap

kotak menyatakan waktu satu jam dimulainya fase aktif.

e) Waktu Aktual Pemeriksaan

Dilakukan.Di bawah lajur kotak untuk waktu

mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat

waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak

menyatakan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak

waktu tiga puluh menit pada lajur kotak di atasnya atau lajur
91

kontraksi dibawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif

persalinan catatkan pembukaan serviks digaris waspada.

kemudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak

waktu yang sesuai (Prawirohardjo, 2014).

f) Kontraksi Uterus / His

Dibawah lajur waktu pada partograf terdapat lima

kotak dengan tilisan “kontraksi“ tiap 10 menit disebelah

luar kolam. Setiap kontak untuk satu kali kontraksi. Jumlah

kotak yang diisi ke arah atas menunjukan frekuensi

kontraksi dalam 10 menit. Setiap 30 menit, periksa dan

dokumentasikan frekuensi kontraksi yang datang dalam 10

menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.

(1) Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk menyatakan

kontraksi yang lamanya kurang dari 20 detik

(2) Beri garis-garis di kotak yang sesuai untuk menyatakan

kontraksi yang lamanya 20-40 detik

(3) Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan

kontraksi yang lemahnya lebi dari 40 detik.

g) Obat - Obatan Dan Cairan Yang Diberikan

Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus

tertera lajur kotak untuk mencatat oksitosin, obat-obat

lainnya dan cairan I.V.


92

(1) Oksitosin

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah mulai,

dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin

yang di berikan per volume cairan. I.V. dan dalam

satuan tetesaan per menit

(2) Obat - Obatan Dan Cairan Lain IV

Catat semua pemberian obat-obatan tambahan atau

cairan I.V dalam kotak yang sesuai dengan kolom

waktunya (Prawirohardjo, 2014).

h) Kesehatan Dan Kenyamanan Ibu

(1) Nadi, Tekanan Darah, Dan Temperatur Tubuh

(a) Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase

aktif persalinan (lebih sering jika dicurigai adanya

penyulit). Beri tanda titik pada kolom waktu yang

sesuai.

(b)Nilai dan catat tekanan darah ibu selama 4 jam

selama fase aktif persalinan (lebih sering di anggap

adanya penyulit). Beri tanda tanda panah pada

pertograf pada kolom waktu yang sesuai.

(c) Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering

jika meningkat atau dianggap adanya infeksi) setiap

2 jam dan catat temperatur tubuh ibu pada kotak

yang sesuai.
93

(2) Volume Urin, Protein Dan Aseton

Ukur dan catat produksi urin ibu sedikitnya setiap 2

jam (setiap kali ibu berkemih).

Gambar 2.1
Halaman depan partograf

Halaman Belakang Partograf

1) Data Dasar

Data dasar terdiri atas tanggal, nama bidan, tempat

persalinan, alamat tempat persalinan, catatan, alasan merujuk,

tempat rujukan, dan pendamping pada saat merujuk

(Prawirohardjo, 2014).
94

a) Kala I.

Kala I terdiri dari pernyataan-pernyataan tentang

partograf saat melewati garis waspada, masalah-masalah yang

dihadapi, penatalaksaan dan hasil penatalaksaan tersebut.

b) Kala II

Kala II terdiri atas episotmi persalinan, gawat janin,

distosia bahu, masalah penyerta, penatalaksaan dan hasilnya.

Beri tanda “√” pada kotak disamping jawaban yang sesuai.

c) Kala III

Kala III terdiri atas lama kala III, pemberian oksitosin,

penengangan tali pusat terkeendali, pemijatan fundus, plasenta

lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30 menit, laserasi, atonia

uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksaan dan

hasilnya.

d) Bayi Baru Lahir

Informasi bayi baru lahir terdiri dari atas berat dan

panjang badan, jenis kelamin, penilaian kondisi janin bayi baru

lahir pemberian ASI, masalah penyerta, tatalaksana terpilih dan

hasilnya.

e) Kala IV

Kala IV berisi tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi

fundus uteri, kontraksi uterus, kandung kemih dan perdarahan.

Pemantauan pada kala IV ini sangat penting terutama untuk

menilai apakah terdapat risiko atau terjadi perdarahan pasca


95

persalinan. Pengisian pemantauan kala IV dilakukan setiap 15

menit pada satu jam pertama setelah melahirkan dan setiap 30

menit pada satu jam berikutnya (Prawirohardjo, 2012).

Gambar 2.2
Halaman belakang partograf

10. IMD (Inisiasi Menyusu Dini)

a. Definisi

Inisiasi menyusu dini yaitu segera setelah bayi lahir dan tali

pusat diikat, letakkan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi

bersentuhan langsung ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit ke kulit ini


96

berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih, bahkan sampai bayi dapat

menyusu sendiri (Rohani, 2011).

Sentuhan kulit dengan kulit mampu menghadirkan efek

psikologis yang dalam diantara ibu dan anak. Naluri bayi akan

membimbingnya saat bayi baru lahir. Satu jam pertama setelah bayi

dilahirkan, insting bayi membawanya untuk mencari puting ibunya.

Prilaku bayi ini disebut dengan istilah Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

(Rukiyah, 2013).

Inisiasi menyusui dini atau permulaan menyusui dini adalah

bayi mulai menyusu sendiri segeraa setelah lahir. Kontak antara kulit

bayi dengan kulit ibunya dibiarkan setidaknya selama satu jam

segera setelah lahir, kemudian bayi akan mencari payudara ibu

dengan sendirinya (Sondakh, 2013).

Kesimpulan dari pengertian diatas, inisiasi menyusu dini

adalah sentuhan kulit antara ibu dan bayi segera setelah bayi lahir

yang dilakukan setidaknya selama satu jam.

b. Manfaat

1) Untuk Bayi

a) Mempertahankan suhu bayi tetap hangat. Menenangkan ibu

dan bayi serta meregulasi pernapasan dan detak jantung.

b) Kolonisasi bakterial di kulit dan usus bayi dengan bakteri

badan ibu yang normal.

c) Mengurangi bayi nangis sehingga mengurangi stress dan

tenaga yang dipakai bayi.


97

d) Memungkinkan bayi untuk menemukan sendiri payudara

ibu untuk mulai menyusui.

e) Mengatur tingkat kadar gula dalam darah, dan biokimia lain

dalam tubuh bayi.

f) Mempercepat keluarnya mekonium (kotoran bayi berwarna

hijau agak kehitaman yang pertama keluar dari bayi karena

meminum air ketuban).

g) Bayi akan terlatih motoriknya saat menyusu, sehingga

mengurangi kesulitan menyusu.

h) Membantu perkembangan persyarafan bayi.

i) Memperoleh kolostrum yang sangat bermanfaat bagi

system kekebalan bayi.

j) Mencegah terlewatnya puncak reflex mengisap pada bayi

yang terjadi 20-30 menit setelah lahir. Jika bayi tidak

disusui, reflex akan berkurang cepat, dan hanya akan

muncul kembali dalam kadar secukupnya 40 jam kemudian.

2) Untuk Ibu

a) Meningkatkan hubungan khusus ibu dan bayi.

b) Merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi

risiko perdarahan sesudah melahirkan.

c) Memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan

melanjutkan kegiatan menyusui selama bayi.

d) Mengurangi strees ibu setelah melahirkan (Sondakh, 2013).


98

c. Kriteria Pelaksanaan

Melahirkan dan melakukan penilaian terhadap bayi dan

keringkan, lakukan kontak dengan kulit selama paling sedikit 1 jam,

biarkan bayi mencari dan menemukan putting ibu dan mulai

menyusu (Sondakh, 2013).

d. Syarat Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

1) Ibu tanpa komplikasi saat persalinan, seperti ibu dengan eklamsi

atau preeklamsi.

2) Ibu tidak mempunyai komplikasi saat persalinan

3) Ibu tidak mempunyai penyakit infeksi akut yang bisa menular

pada bayi seperti tuberkolosis

4) Ibu mau dan mampu menyusui bayinya

5) Ibu tidak mempunyai karsinoma payudara

6) Ibu tidak menderita psikosis, yaitu suatu keadaan dimana ibu

tidak bisa mengontrol jiwanya (Prawirohardjo, 2012).

C. Bayi Baru Lahir

1. Definisi

Bayi baru lahir disebut juga dengan neonatus merupakan

individu yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma

kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan

intrauterine ke kehidupan ekstrauterin (Dewi, 2010).

Bayi baru lahir normal ialah bayi yang lahir dalam presentasi

belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia

kehamilan genap 37 minggu sampai 42 minggu, dengan berat badan


99

2500 – 4000 gram, nilai Apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan (Rukiyah

dan Yulianti, 2010).

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia

kehamilan 37 – 42 minggu dengan berat lahir antara 2500-4000 gram

(Sondakh, 2013).

Kesimpulan dari pengertian diatas yaitu, bayi baru lahir adalah

individu yang baru saja lahir dari intrauterine ke ekstrauterin dan

dikatakan normal jika lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dan lahir

dengan berat antara 2.500-4.000 gram.

2. Karakteristik Bayi Baru Lahir Normal

Bayi Baru Lahir yang normal memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Lahir aterm antara 37-42 minggu.

b. Berat badan 2.500-4.000 gram.

c. Panjang badan 48-52 cm.

d. Lingkar dada 30-38 cm.

e. Lingkar kepala 33-35cm.

f. Lingkar lengan 11-12 cm.

g. Frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit.

h. Pernafasan 40-60 x/menit.

i. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan yang

cukup.

j. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah

sempurna.

k. Kuku tidak terlalu panjang dan lemas.


100

l. Nilai APGAR >7

Nilai APGAR adalah suatu sistem penilaian yang dipakai intuk

mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan kelima setelah

kelahirannya. Jika terdapat masalah, maka nilai APGAR dapat

membantu dalam menentukan tingkat keseriusan dari depresi bayi

baru lahir yang terjadi serta langkah yang dapat diambil. Jumlah

nilai keseluruhannya didapat dengan jalan mengevaluasi kelima

tanda, yaitu:

A : Appearance (penampakan/kelainan warna)

P : Pulse (nadi atau detak jantung)

G : Grimace (ringisan atau respon wajah bayi ketika kakinya

disentuh)

A : Activity (aktifitas tonus otot dan lengan kaki)

R : Respiration (pernafasan)

Cara memberi penilaian yaitu dengan memberikan nilai 0

sampai 2 yang dapat dilihat pada tabel sistem penilaian APGAR ini:

Tabel 2.8
Tabel cara memberi penilaian APGAR

Tanda-tanda 0 1 2
Rupa/warna Pucat atau biru Tubuh merah, Seluruhnya
(penampakan) tangan dan kaki merah
biru
Nadi/detak Tidak terdapat Lambat-dibawah Diatas 100.
jantung detak jantung 100. Detak jantung
Detak jantung kuat
lemah
Wajah Tidak ada Menyeringai atau Menangis, batuk
menyeringai/ respon atau wajahnya tampak atau bersin
respon reaksi kecut
101

terhadap
sentuhan
Aktivitas/ Tangan dan kaki Ada sedikit Pergerakan
tonus otot lumpuh (tidak pergerakan aktif. Kaki dan
ada gerakan) sebagai reaksi tangan bergerak.
terhadap
rangsangan
Upaya Tidak ada Pernafasan Menangis kuat
bernafas pernafasan. perlahan/tidak
Tidak ada teratur. Dinding
tangis. dada tertarik.
Merintih atau
tangisannya
lemah.
(Sumber: Maryunani, 2013)

Kesimpulan:

1) 8 – 10 : bayi dalam keadaan baik

2) 6 – 7 : bayi keadaan kurang baik (depresi)

3) < dari 6 : keadaan buruk (harus dalam pengawasan dokter)

(Maryunani, 2013).

m. Gerak aktif

n. Bayi langsung menagis kuat.

o. Refleks rooting (mencari puting susu dengan rangsangan taktil pada

pipi dan daerah mulut) sudah terbentuk dengan baik.

p. Refleks sucking (isap dan menelan) sudah terbentuk dengan baik.

q. Refleks morro (gerakan memeluk bila dikagetkan) sudah terbentuk

dengan baik.

r. Refleks grasping (menggenggam) sudah baik.

s. Genitalia

1) Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada

pada skrotum dan penis yang berlubang.


102

2) Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uretra

yang berlubang, serta adanya labia minora dan mayora.

t. Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya mekonium dalam 24

jam pertama dan berwarna hitam kecoklatan (Dewi, 2013).

3. Karakteristik Perilaku

a. Reflex

4) Reflex kedipan (GlabelarReflex)

Merupakan respon terhadap cahaya terang yang

mengindikasikan normalnya syaraf optik.

5) Reflex menghisap (Rooting Reflex)

Merupakan reflex bayi yang membuka mulut atau mencari

puting saat akan menyusui.

6) Sucking Reflex, yang dilihat pada waktu bayi menyusu.

7) Tonick Neck Reflex

Letakan bayi dalam posisi terlentang, putar kepala ke satu

sisi dengan badan ditahan, ekstremitas terekstensi pada sisi

kepala yang diputar, tetapi ekstremitas pada sisi lain fleksi. Pada

keadaan normal bayi akan berusaha untuk mengembalikan

kepala ketika diputar ke sisi pengujian saraf asesori.

8) Gasfing Reflex

Normalnya bayi akan menggenggam dengan kuat saat

pemeriksaan meletakan jari telunjuk pada Palmar yang ditekan

dengan kuat.
103

9) Reflex Moro

Tangan pemeriksa menyangga pada punggung dengan

posisi 45º dalam keadaan rileks kepala dijatuhkan 10°.

Normalnya akan terjadi abduksi sendi bahu dan ekstensi lengan.

10) Walking Reflex

Bayi akan menunjukan respons berupa gerakan berjalan

dan kaki akan bergantian dari fleksi ke ekstensi.

11) Babinsky Reflex

Dengan menggores telapak kaki, dimulai dari tumit lalu

gores pada sisi lateral telapak kaki kearah atas kemudian

gerakkan jari sepanjang telapak kaki.

b. Menangis

Paling banyak dilakukan bayi baru lahir, seperti ketika bayi

mengantuk, lapar, kesepian, merasa tidak nyaman, atau bisa juga

menangis tanpa alasan.

c. Pola tidur

Bayi baru lahir biasanya akan tidur pada sebagian besar

waktu diantara waktu makan, namun akan waspada dan bereaksi

ketika terjaga, ini adalah hal yang normal dalam 2 minggu pertama.

Perlahan bayi sering terjaga diantara waktu menyusui. Dapat

disimpulkan bahwa penanganan dan perilaku bayi baru lahir adalah

penanganan terhadap reflex, menangis, dan pola tidur (Dewi, 2013).


104

4. Asuhan dan Penanganan Segera BBL

Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang

diberikan pada bayi baru lahir dimulai sejak proses persalinan hingga

kelahiran bayi (dalam 1 jam kehidupan) (Elmeida, 2015).

a. Membebaskan jalan nafas

b. Memotong dan merawat tali pusat

c. Mempertahankan suhu tubuh bayi

d. Kontak dini dengan ibu

e. Perawatan mata

Memberikan salep mata untuk mencegah infeksi

f. Memberi vitamin K

g. Identifikasi bayi

(Sondakh, 2013).

Penatalaksanaan bayi baru lahir :

a. Letakkan bayi di atas perut ibu.

Nilai dengan cepat, memposisikan kepala lebih rendah dari

tubuhnya dan bila tali pusat terlalu pendek, letakkan bayi di tempat

yang memungkinkan.

b. Segera keringkan bayi

Bungkus kepala dan badan bayi, kecuali bagian tali pusat.

c. Jepit tali pusat

Klem diletakkan 3 cm dari pusat bayi, melakukan urutan pada

tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang klem kedua 2

cm dari klem pertama (ke arah ibu).


105

d. Potong tali diantara dua klem tersebut.

Memegang tali pusat dengan satu tangan dan melindungi bayi

dari gunting.

e. Ganti handuk yang basah

Kemudian selimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih

dan kering, menutupi bagian kepala dan membiarkan tali pusat

terbuka.

f. Memulai pemberian ASI jika ibu menghendaki

Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk

memeluk.Masa pertama kehidupannya di luar uterus, berakhir dengan

masa kedua reaktifitas. Hal ini kira-kira terjadi 2-6 hari setelah lahir.

Maka perlu disusun rencana asuhan kebidanan untuk BBL pada hari-

hari pertama kehidupannya. Rencana ini seyogyanya memperhitungkan

keinginan orang tua.

Di Rumah Sakit perawatan Bayi Baru Lahir diambil alih oleh

perawat bagan anak. Pada persalinan di rumah pasien bidan harus tetap

bertanggung jawab terhadap perawatan bayi baru lahir. Untuk itu bidan

harus mempunyai perencanaan yang sesuai dengan untuk memelihara

kesehatan bayi serta bidan harus mempunyai pengaturan yang baik

dengan petugas pediatric untuk melakukan konsultasi dan rujukan apa

bila diperlukan.

Pada beberapa saat setelah transisi awal menuju kehidupan luar

Rahim, pada bayi baru lahir seharusnya dilakukan emeriksaan fisik


106

secara lengkap dan penilaian umur kehamilan. Penilaian umur

kehamilan ini penting untuk dilakukan, sebab ketika dicocokan pada

diagram berat dan panjang badan, dapat dinilai apakah bayi tersebut

sesuai masa kehamilan, kecil untuk masa kehamilan atau besar untuk

masa kehamilan. Rencana asuhan kebidanan lengkap akan dipengaruhi

oleh hasil-hasil pemeriksaan.

Rencana perawatan/asuhan bayi baru lahir meliputi observasi

secara terus-menerus, rencana perawatan fisik, pemberian makan,

penilaian defikasi dan miksi, pemeriksaan darah serta pemberian obat-

obatan.

Kulit dan saluran gastro intestinal bayi baru lahir belum banyak

ditempati koloni berbagai macam bakteri. Oleh karena itu bayi baru lahir

tidak terlindungi dari bakteri jinak. Semua orang yang terlibat dalam

perawatan hendaknya mencuci tangan mereka selama 3 menit dengan

sabun anti bakteri sebelum menyentuh bayi baru lahir. Pemberi

perawatan hendaknya mencuci tangan kembali tangannya sebelum

kontak dengan bayi atau ibu-ibu lain. Tindakan ini merupakan satu-

satunya perindungan yang paling efektif untuk mencegah infeksi pada

bayi baru lahir.

Tanda vital bayi baru lahir harus dinilai dan dicatat setiap 4 jam.

Bidan harus mencatat waktu dan karakteristik urin pertama dan

keluarnya tinja.

Saat ini tidak dianjurkan bayi baru lahir segera dimandikan pada

hari-hari pertama kehidupannya. Perawatan awal kulit bisa berupa


107

“perawatan kering”, yakni bayi dikeringkan dan lipatan kulit dilap

bersih dengan kasa/kain lembut. Kemudian pada hari pertama, lipatan

kulit dan kulit kepala bayi baru lahir dapat dibasuh dengan bersih dari

darah dan meconium dengan air hangat dan sabun bayi. Tidak perlu

menggunakan lotion kulit, bedak atau krim pada bayi baru lahir, karena

bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan ruam dan pneumonia inhalasi.

Bayi baru lahir hendaknya mendapatkan prophilaksis mata

untuk mencegah infeksi oleh gonorrhea atau clhamidia. Perlindungan

terbaik untuk mata terhadap gonorrhea dan chlamidia ialah salf

erythromycin 0,5% yang dioleskan mulai dari bagian tengah ke pinggir

canthus dari masing-masing mata.

Pemberian vitamin K pada bayi baru lahir untuk mencegah

penyakit yang menimbulakn perdarahan. Usus bayi baru lahir tersebut

akan mensintesiskan vitamin K, yang dipakai untuk mengaktifkan zat

pendahulu/prekursos protein yang dapat membentuk protein pembeku

darah. Sintesis usus ini tidak dapat terjadi samapai usus terkolonisasi

oleh bakteri. Proses ini memakan waktu beberapa hari dan dapat

dihambat oleh penundaan pemberian ASI. Manifestasi klinis dari

perdarahan meliputi perdarahan saluran pencernaan, kulit, serta daerah-

daerah yang terluka. Vitamin K sebaiknya diberikan secara

intramuscular, I mg pada sisi paha atau 2 mg peroral selama 24 jam

setelah melahirkan.

Adapun pemenuhan kebutuhan bayi baru lahir pada minggu

pertama (2 – 6 hari) adalah sebagai berikut :


108

a. Makan dan Minum

Bayi merasa lapar setiap 2 – 4 jam sekali, dalam 24 jam.

sehingga memerlukan waktu yang banyak bagi ibu, siang maupun

malam selama berbulan-bulan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi

bayinya. Untuk membantu bayi menyesuaikan diri, bangunkan bayi

untuk makan setiap 3 – 4 jam ketika ibu terjaga. Bayi hanya

memerlukan ASI selama 6 bulan pertama, karena ASI merupakan

makanan yang ideal untuk bayi. Pemberian makanan tambahan akan

menyebabkan gangguan tidur dan reaksi alergi dan harus selalu ingat

untuk menyendawakan bayi jika setelah menyusui.

b. BAK/BAB

Selama 2 – 3 hari pertama, tinja awal bayi baru lahir bersifat

lengket, lunak, berwarna hitam (hijau-kecoklatan) yang dinamakan

mekonium. Mekonium tersusun dari sel-sel epitel yang mengelupas

dari saluran usus, mucus dan sel-sel epidermis serta lanugo (rambut

janin yang telah ditelan bersama cairan amnion). Warna yang khas

tersebut disebabkan oleh pigmen empedu. Selama kehidupan dalam

rahim dan beberapa jam setelah lahir, isi usus itu bersifat steril.

Keluarnya mekonium dan urine dalam menit-menit segera

setelah lahir atau pada beberapa jam berikutnya menunjukkan utuh

dan berfungsinya saluran gastrointestinal. Dari semua neonates,

90% mengeluarkan mekonium dalam 2 jam pertama, sebagian besar

sisanya dalam 36 jam. Pengeluaran urine, walaupun biasanya terjadi

segera setelah lahir, dapat tertunda sampai hari kedua kehidupannya.


109

Bayi yang diberi ASI akan membuat warna tinja hijau ke-

emasan, lembut, dan berbentuk biji-bijian. Sedangkan bayi yang

diberi susu botol akan memiliki kotoran/tinja yang berwarna hitam

pekat, bergumpal. Setelah hari ketiga atau empat mekonium hilang

dan digantikan dengan tinja homogeny berwarna kuning muda

dengan bau yang khas. Selama hari-hari pertama tinja tidak

berbentuk, tetapi segera setelah itu tinja berbentuk silinder.

Bayi bisa buang air besar 1 – 4 kali sehari, sedangkan buang air

kecil lebih sering yaitu 4 – 5 kali sehari. Jika bayi tidak BAK satu

kali dalam sehari segera dirujuk.

c. Tidur

Bayi memerlukan banyak tidur, yaitu 16 – 18 jam perhari. Untuk

memenuhi kebutuhannya, ciptakan suasana yang tenag dan kurangi

gangguan atau rangsangan. Letakkan bayi dengan posisi berbaring

miring untuk tidur.

Bayi baru lahir mempunyai dua kategori utama perilaku, periode

jaga/bangun dan periode tidur. Selama bulan-bulan pertama, bayi

menghabiskan waktunya dalam keadaan tidur dan hanya 15% waktu

siang harinya digunakan dalam keadaan jaga. Status bangun

meliputi menangis, aktifitas motorik yang berarti waspada dan

mengantuk (dowsy). Status tidur mencakup aktif (dangkal) dan tidur

nyenyak.

Mengetahui mengenai status perilaku bayi dapat membantu

dalam memilih kapan berinteraksi atau memeriksa keadaan bayi.


110

Keadaan waspada atau jaga/bangun ialah waktu terbaik untuk

berhubungan secara visual, memberi makan dan memeriksa seorang

bayi. Waktu menangis biasanya merupakan saat paling mengganggu

orang tua. Orang tua bayi baru lahir pada umumnya belum bisa

mengerti arti tangis bayi baru lahir mereka. Bidan dapat membantu

orang tua untuk memahami apakah tangis tersebut merupakan

ungkapan keinginan makan, ingin dipegang, ingin ditimang menetek

atau tidur. Kadang-kadang menangis merupakan ekspresi rasa nyeri.

Selama bulan pertama kehidupannya, presentasi waktu yang

digunakan pada status ini mengalami perubahan. Bayi baru lahir

yang sehat 60% menghabiskan waktunya untuk tidur. Orang tua

mungkin merasa khawatir, tetapi hal ini normal. Selama tidur dalam

terjadi sedikit gerakan motorik dan pernapasan berlangsung dalam

dan teratur. Bayi tampak damai. Bayi-bayi dalam status ini tidak

mudah untuk makan atau perawatan lain.

Pada tidur aktif bayi baru lahir mungkin memperlihatkan

berbagai kedalaman dan kecepatan pernapasan. Gerakan motorik

yang sering terlihat dan bayi dapat bereaksi seperti terkejut pada

waktu tidur. Tetapi sebagian besar tidur mereka adalah tidur yang

berlangsung sebentar-sebentar. Seiring dengan berlalunya bulan-

bulan pertama, pola tidur bayi akan bergeser dari tidur ringan

menuju tidur lebih lama dalam jumlah yang lebih banyak. Demikian

juga, terdapat pergeseran status jaga menjadi status waspada. Pada

awalnya periode juga berhubungan dengan rasa lapar, tetapi dalam


111

beberapa minggu periode jaga ini berlangsung lebih lama dan

berfungsi guna memenuhi kebutuhan interaksi sosial (Elmeida,

2015).

5. Pemeriksaan Fisik

Tujuan pemeriksaan fisik untuk mengenal atau menemukan

kelainan yang perlu mendapat tindakan segera dan mendeteksi dini

kelainan atau gangguan.

Persiapan alat: kapas, senter, thermometer, stetoskop, selimut

ayi, bengkok, timbangan, pita meter, pengukur panjang badan, sarung

tangan, buku catatan (Elmeida, 2015).

Prosedur:

a. Jelaskan pada ibu atau keluarga maksud dan tujuan dilakukan

pemeriksaan.

b. Lakukan anamnesa mengenai riwayat dari ibu meliputi factor

genetic, factor social, lingkungan, factor ibu, dan perinatal, factor

neonatal.

c. Susun alat secara ergonoms untuk memudahkan dalam bekerja.

d. Cuci tangan.

e. Letakkan bayi pada tempat yang rata dan aman untuk menghindari

bayi terjatuh.

f. Lakukan penimbangan berat badan. Periksa alat timbangan, posisi,

seimbangkan timbangan dan atur skala timbangan ke titik nol

sebelum penimbangan. Baca hasil timbangan sampai ketelitian 0,1

kg.
112

g. Lakukan pengukuran panjang badan. Letakkan bayi di tempat datar,

ukur panjang badan dari kepala sampai tumit dengan kaki atau badan

bayi diluruskan. Pegang kepala byi dan lututnya agar kaki tetap

lurus. Baca hasil pengukuran sampai ketelitian 0,1 cm.

h. Ukur lingkar kepala

Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian melingkari kepala

kembali lagi ke dahi.

i. Ukur lingkar dada

Lingkar dada diukur dari daerah dada ke punggung kembali ke dada

(pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu).

j. Lakukan pemeriksaan kepala

Lakukan pengecekan kontur tulang tengkorak, penonjolan daeraha

yang cekung, perhatikan juga hubungan kedua telinga simetris atau

tidak, dan keadaan mata, apakah ada tanda-tanda infeksi, perhatikan

juga bibir dan mulut.

k. Periksa leher

Amati apakah ada pembengkakan atau pembesaran kelenjar tyroid

atau vena jugularis.

l. Periksa dada, perhatikan bentuk putting, bunyi nafas, bunyi jantung.

m. Periksa bahu, lengan dan tangan, perhatikan gerakan dan jumlah jari.

n. Periksa system saraf, adanya reflek moro.

o. Periksa perut, perhatikan bentuk, penonjolan sekitar pusat,

perdarahan tali pusat, benjolan.

p. Periksa genetalia
113

Pada genetalia laki-laki perhatikan skrotum, apakah sudah turun,

penis berlubang, sedangkan pada genetalia perempuan, perhatikan

vagina berlubang, uretra berlubang, labia mayora dan minora.

q. Periksa tungkai dan kaki, perhatikan gerakan, jumlah jari,

bentuknya.

r. Periksa punggung dan anus, perhatikan adakah pembengkakan atau

ada ekungan, periksa anus berlubang atau tidak.

s. Periksa kulit, perhatikan verniks caseosa, warna kulit,

pembengkakan dan bercak hitam, tanda lahir.

t. Jelaskan pada ibu/keluarga tentang hasil pemeriksaanya.

u. Rapikan bayi.

v. Bereskan alat.

w. Lakukan pendokumentasian tindakan dan hasil pemeriksaan

(Elmeida, 2015).

D. Nifas

1) Definisi

Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah

plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti

keadaan semula (sebelum hamil) yang berlangsung selama kira-kira 6

minggu (Mansyur & Dahlan, 2014).

Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium

adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas

dari rahim. Sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya

kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandunga, yang mengalami


114

perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat

melahirkan (Suherni dkk, 2009).

Menurut Obstetri William masa nifas adalah masa segera setelah

kelahiran sampai dengan 6 minggu. Selama masa ini, saluran

reproduktif anatominya kembali ke keadaan tidak hamil yang normal

(Rukiyah dkk, 2011).

Kesimpulan dari beberapa pengertian diatas yaitu, masa nifas

adalah masa yang dimulai dari kelahiran bayi dan plasenta sampai 6

minggu atau jika organ reproduksi sudah kembali normal.

2) Perubahan Fisiologi Masa Nifas

Selama masa nifas alat-alat interna ataupun eksterna berangsur-

angsur kembali seperti keadaan sebelum hamil. Diantaranya:

a. Uterus

Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang

berkontraksi posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan

antara umbilikus dan simfisis, atau sedikit lebih tinggi dua hari

kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga

dalam dua minggu telah turun masuk kedalam rongga pelvik dan

tidak dapat diraba lagi dari luar. Involusi uterus melibatkan

pengreorganisasian dan pengguguran desidua serta pengelupasan

situs plasenta, sebagaimana diperlihatkan dengan pengurangan

dalam ukuran dan berta serta oleh warna dan banyaknya lokhea.
115

Tabel 2.9
TFU dan Berat Uterus Menurut Masa Involusi

Involusi TFU Berat Uterus


Bayi lahir Setinggi pusat, 2 jbpst* 1.000 gr
1 minggu Pertengahan pusat simfisis 750 gr
2 minggu Tidak teraba di atas dimfisis 500 gr
6 minggu Normal 50 gr

8 minggu Normal tapi sebelum hamil 30 gr


(Sumber: Suherni, 2009)

b. Lochea

Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri

dan vagina selama dalam nifas. Lochea terbagi dalam tiga jenis

yaitu:

1) Lochea rubra (cruenta)

Berwarna merah karena berisi darah darah segar dan sisa-

sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo

dan mekoneum selama 2 hari pasca persalinan.

2) Lochea sanguilenta

Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir yang keluar

pada hari ke 3 – 7 hari postpartum.

3) Lochea serosa

Dimulai dengan versi yang lebih pucat dari lokea rubra.

Lokea ini berbentuk serum dan berwarna merah jambu dan

kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari

ke-7 sampai hari ke-14 pascapersalinan.


116

4) Lochea alba

Dimulai dari hari ke-14 kemudian makin lama makin sedikit

hingga sama sekali berhenti sampai satu atau dua minggu

berikutnya. Bentuknya seperti cairan putih berbentuk krim serta

terdiri atas leukosit dan sel-sel desidua.

c. Endometrium

Perubahan pada endometrium adalah timbulnya thrombosis,

degenerasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari

pertama tebal endometrium 2,5 mempunyai permukaan yang kasar

akibat pelepasan desidua, dan selaput jani. Setelah tiga hari mulai

rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas

implantasi plasenta.

1) Serviks

Segera setelah berakhirnya kala TU. Servik menjadi sangat

lembek, kendur, dan terkulai. Servik tersebut bisa melepuh dan

lecet, terutama di bagian anterior.servik akan terlihat padat yang

mencerminkan vaskularitasnya yang tinggi, lubang servik lambat

laun mengecil, beberapa hari setelah persalinan diri retak karena

robekan dalam persalinan. Rongga leher serviks bagian luar akan

membentuk seperti keadaan sebelum hamil pada saat empat

minggu postpartum.

2) Vagina

Vagina dan lubang vagian pada permulaan puerperium

merupakan suatu saluran yang luas dan berdinding tipi. Secara


117

berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali kembali

seperti ukuran seorang nulipara. Rugae timbul kembali pada

minggu ketiga. Hymen tampak sebagai tonjolan jaringan yang

kecil, yang dalam proses pembentukan berubah menjadi

karunkulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara.

d. System pencernaan

Seorang wanita dapat merasa lapar dan siap menyantap

makananya dua jam seteah persalianan. Kalsium amat penting untuk

gigi pada kehamilan dan massa nifas, dimana pada masa ini terjjadi

penurunan konsentrasi ion kalsium karena meningkatnya untuk

proses pertumbuhan janin juga pada ibu dalam masa nifas. Mual dan

muntah terjadi akibat produksi saliva meningkat pada kehamilan

trimester ,1, gejala ini terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsur

kurang lebih 10 minggu juga terjadi pada ibu nifas. Pada ibu nifas

terutama yang partus lama dan terlantar mudah terjadi ileus

paralitikus, yaitu adanya obstruksi usus akibat tidak adanya

peristaltic usus. Penyebabnya adalah penekanan buah dada dalam

kehamilan dan partus lama, sehingga membatasi gerak peristaltik

usus, serta bisa juga terjadi karena pengaruh psikis takut BAB ada

luka jahitan perineum.

e. System Perkemihan

Pelvik ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi

selama kehamilan kembali normal pada akhir minggu keempat

setelah melahirkan.
118

f. Sistem Muskulosketetal

Ligament-ligamen fasia dan diafragma pelvic yang

meregang sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur

kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligament rotundum

mengendur, dapat diatsi dengan latihan-latihan tertentu. Mobilitas

sendi berkurang dan posisi lordosis kembali secara perlahan-lahan.

(Saleha, 2009).

3) Perubahan Psikologi Masa Nifas

Reva rubin membagi periode ini menjadi 3 bagian, antara lain :

a. Periode “Takin in”

1) Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan ibu baru pada

umunya pasif dan tergantung, perhatiannya tertuju pada

kekhawatiran akan tubuhnya.

2) Ia akan mengulang-ulang menceritakan pengalamannya waktu

melahirkan.

3) Tidur tanpa gangguan sangat penting untuk mengurangi

gangguan kesehatan akibat kurang istirahat.

4) Peningkatan nutrisi dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan

dan penyembuhan luka, serta persiapan proses laktasi aktif.

5) Dalam memberikan asuhan, bidan harus dapat memfasilitasi

kebutuhan psikologis ibu. Pada tahap ini, bidan dapat menjadi

pendengar yang baik ketika ibu menceritaka pengalamannya.

Berikan juga dukungan mental atau apresiasi atas hasil

perjuangan ibu sehingga dapat berhasil melahirkan anaknya.


119

Bidan harus dapat menciptakan suasana yang nyaman bagi ibu

sehingga ibu dapat dengan leluasa dan terbuka mengemukakan

permasalahan yang dihadapi pada bidan dalam hal ini, sering

terjadi kesalahan dalam pelaksanaan perawatan yang dilakukan

oleh pasien terhadap dirinya dan bayinya hanya karena

kurangnya jalinan komunikasi yang baik antara pasien dan

bidan.

b. Periode “Taking Hold”

1) Periode ini berlangsung ada hari ke 2-4 postpartum.

2) Ibu menjadi perhatian pada kemampuannya menjadi orangtua

yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayi.

3) Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya BAB,

BAK, serta kekuatan dan ketahanan tubuhnya.

4) Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan perawatan

bayi, misalnya menggendong, memandikan, memasang popok,

dan sebagainya.

5) Pada masa ini, ibu biasanya agak sensitif dan merasa tidak mahir

dalam melakukan hal-hal tersebut.

6) Pada tahap ini, bidan harus tanggap terhadap kemungkinan

perubahan yang terjadi.

7) Tahap ini merupakan waktu yang tepat bagi bidan untuk

memberikan bimbingan cara perawatan bayi, namun harus

selalu diperhatikan teknik bimbingannya, jangan sampai

menyinggung perasaan atau membuat perasaan ibu tidak


120

nyaman karena ia sangat sensitif. Hindari kata “jangan begitu”

atau “kalo kaya gitu salah” pada ibu karena hal itu akan sangat

menyakiti perasaannya dan akibatnya ibu akan putus asa untuk

mengikuti bimbingan yang bidan berikan.

c. Periode “Letting Go”

1) Periode ini biasanya terjadi setelah ibu pulang kerumah. Periode

ini pun sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang

diberikan oleh keluarga.

2) Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi dan ia

harus beradaptasi dengan segala kebutuhan bayi yang sangat

tergantung padanya. Hal ini menyebabkan berkurangnya hak

ibu, kebebasan, dan hubungan social.

3) Depresi postpartum umumnya terjadi pada periode ini.

Faktor-faktor yang memengaruhi suksesnya masa transisi

kemasa menjadi orang tua pada saat postpartum. Anatar lain:

a. Respon dan dukungan keluarga dan teman.

Bagi ibu postpartum, apa lagi setiap postpartum apa lagi pada ibu

yang baru pertama kali melahirkan akan sangat membutuhkan

dukungan orang-orang terdekatnya karena ia belum sepenuhnya

berada pada kondisi stabil, baik fisik maupun psikologisnya. Ia

masih sangat asing dengan perubahan peran barunya yang begitu

fantastis terjadi dalam waktu yang begitu cepat, yaitu peran sebagai

seorang “ibu”.
121

Dengan respon positif dari lingkungan, akan mempercepat

proses adaptasi peran ini sehingga akan memudahkan bagi bidan

untuk memberikan asuhan yang sehat.

b. Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan

aspirasi.

Hal yang dialami oleh ibu ketika melahirkan akan sangat

mewarnai alam perasaannya terhadap perannya sebagai ibu. Ia

akhirnya menjadi tahu bahwa begitu beratnya ia harus berjuang

untuk melahirkan bayinya dan hal tersebut akan memperkaya

pengalaman hidupnya untuk lebih dewasa. Banyak kasus terjadi,

setelah seorang ibu melahirkan anaknya yang pertama, ia akan

bertekad untuk lebih meningkatkan kualitas hubungannya dengan

ibunya.

c. Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu.

Walaupun kali ini adalah bukan lagi pengalamannya yang

pertama melahirkan bayinya, namun kebutuhan untuk mendapatkan

dukungan positif dari lingkungannya tidak berbeda dengan yang

baru, melahirkan anak pertama. Hanya perbedaannya adalah teknik

penyampaian dukungan yang diberikan lebih kepada support dan

apresiasi dari keberhasilannya dalam melewati saat-saat sulit pada

persalinannya yang lalu.

d. Pengaruh budaya

Adanya adat istiadat yang di anut oleh lingkungan dan keluarga

sedikit banyak akan memengaruhi ibu dalam melewati saat transisi


122

ini. Apa lagi jika ada hal tidak singkron antara arahan dari tenaga

kesehatan dengan budaya yang di anut. Bidan harus bijaksana

menyikapi, namun tidak mengurangi kualitas asuhan yang harus di

berikan keterlibatan keluarga dari awal adalam menentukan bentuk

asuhan dan perawatan yang harus diberikan pada ibu dan bayi akan

memudahkan bidan dalam pemberian asuhan (Mansyur, 2014).

4) Tujuan Asuhan Masa Nifas

Adapun tujuan diberikannya asuhan pada ibu selama masa nifas

antara lain sebagai berikut:

a. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologis,

dimana dalam asuhan pada masa ini peranan keluarga sangat penting

dengan pemberian nutrisi dukungan psikologis maka kesehatan ibu

dan bayi selalu terjaga.

b. Melaksanakan skrining yang komprehensif (menyeluruh), dimana

bidan harus melakukan manajemen asuhan kebidanan pada ibu masa

nifas secara sistematis yaitu mulai pengkajian data subjektif,

objektif maupun penunjang.

c. Mendeteksi masalah, dilakukan setelah melaksanakan pengkajian

data dan menganalisa data.

d. Mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun

bayinya, setelah masalah ditemukan maka dapat langsung masuk ke

langkah berikutnya sehingga tujuan dapat dilaksanakan

e. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan

diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi


123

kepada bayi dan perawatan bayi sehat serta memberikan pelayanan

keluarga berencana (Rukiyah dkk, 2011).

5) Periode Masa Nifas

a. Puerperium Dini (Immediate Post Partum Periode)

Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam,

yang dalam hal ini ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-

jalan.

b. Puerperium Intermedial (Early Post Partum Periode)

Masa 24 jam setelah melahirkan sampai dengan 7 hari

(1minggu). Periode ini bidan memastikan bahwa involusi uterus

berjalan normal, tidak ada perdarahan abnormal dan lochea tidak

terlalu busuk, ibu tidak demam, ibu mendapat cukup makanan dan

cairan, menyusui dengan baik, melakukan perawatan ibu dan

bayinya sehari-hari.

c. Remote Puerperium (Late Post Partum Periode)

Masa 1 minggu sampai 6 minggu sesudah melahirkan.

Periode ini bidan tetap melanjutkan pemriksaan dan perawatan

sehari-hari serta memberikan konseling KB (Mansyur, 2014).

6) Asuhan Kebidanan Masa Nifas

a. Nutrisi dan cairan

Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang

serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat

penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet

yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi


124

protein, dan banyak mengandung cairan. Ibu yang menyusui haru

memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut:

1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.

2) Makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein,

mineral, dan vitamin yang cukup.

3) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.

4) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya

selama 40 hari pasca persalinan.

5) Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat memberikan

vitamin A kepada bayinya melalui ASI.

b. Ambulasi

Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar

secepat mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari

tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk

berjalan. Keuntungan dari ambulasi dini adalah sebagai berikut :

1) Merasa lebih sehat dan kuat dengan ambulasi dini.

2) Faal usus dan kandung kemih menjadi lebih baik.

3) Ambulasi dini memungkinkan kita mengajarkan ibu cara

merawat anaknya selama ibu berada di rumah sakit.

4) Ambulasi dini tidak mempunyai pengaruh yang buruk, tidak

menyebabkan perdarahan yang abnormal, tidak mempengaruhi

penyembuhan luka episiotomi atau luka di perut.


125

c. Eliminasi

Ibu diminta untuk buang air kecil (miksi) 6 jam post partum.

Jika dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih atau sekali

berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan katerisasi. Akan

tetapi, jika ternyata kandung kemih penuh, tidak perlu menunggu 8

jam untuk katerisasi. Berikut ini sebab terjadinya retensio urin pada

ibu post partum adalah sebagai berikut :

1) Berkurangnya tekanan intra abdominal.

2) Otot-otot perut masih lemah.

3) Edema dan uretra.

4) Dinding kandung kemih kurang sensitif.

Ibu post partum diharapkan dapat buang air besar (defekasi)

setelah hari kedua post partum. Jika hari ketiga belum juga BAB,

maka perlu diberi obat pencahar per oral atau per rektal. Jika setelah

pemberian obat pencahar masih belum bisa BAB, maka dilakukan

klisma (huknah).

d. Personal higiene

Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap

infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk

mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat

tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga. Langkah-

langkah yang dapat diperlukan untuk menjaga kebersihan diri ibu

post partum adalah sebagai berikut:

1) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum.


126

2) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin

dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk

membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu, dari

depan ke belakang kemudian membersihkan daerah sekitar

anus. Nasehati ibu untuk membersihkan vulva setiap kali selesai

BAK dan BAB.

3) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut

setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika

telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari dan

telah disetrika.

4) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air

sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.

5) Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan

kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah tersebut.

e. Istirahat dan tidur

Hal-hal yang bisa dilakukan pada ibu untuk memenuhi

kebutuhan istirahat dan tidur adalah sebagai berikut:

1) Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan

yang berlebihan.

2) Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah

tangga secara perlahan, serta untuk tidur siang dan beristirahat

selama bayi tidur.

3) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal:

a) Mengurangi jumlah ASI yang di produksi


127

b) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak

perdarahan.

c) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat

bayi dan dirinya sendiri.

f. Aktivitas seksual

Aktivitas seksual yang dapat dilakukan oleh ibu masa nifas

harus memenuhi syarat sebagai berikut :

1) Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu

darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu-satu dua

jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri, maka ibu aman untuk

memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.

2) Banyak budaya yang memiliki tradisi menunda hubungan suami

istri sampai masa waktu tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu

setelah persalinan. Keputusan ini bergantung pada pasangan

yang bersangkutan.

g. Keluarga berencana

1) Idealnya pasangan harus menunggu sekurang – kurangnya 2

tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus

menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin

merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan

dapat membantu merencanakan keluarganya dengan

mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan

yang tidak diinginkan.


128

2) Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi)

sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama menyusui. Oleh

karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid

pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru.

Resiko cara ini ialah 2% kehamilan.

3) Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko,

menggunakan kontasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu

sudah haid lagi.

4) Sebelum menggunakan metode KB, hal – hal berikut sebaiknya

dijelaskan dahulu kepada ibu :

a) Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan

efektivitasnya.

b) Kelebihan / keuntungannya,

(1) Kekurangannya,

(2) Efek samping,

(3) Bagaimana menggunakan metode itu,

(4) Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita

pascasalin yang menyusui.

Jika seseorang ibu / pasangan telah memilih metode KB

tertentu, ada baiknya untuk bertemu dengannya lagi dalam 2 minggu

untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu /

pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja

dengan baik.
129

h. Latihan dan senam nifas

Diskusikan pentingnya mengembalikan otot – otot perut dan

panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini

menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa

sakit pada punggung.

Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari

sangat membantu, seperti: Dengan tidur terlentang dengan lengan

disamping itu, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas

ke dalam dan angkat dagu ke dada : tahan satu hitungan sampai 5.

Rileks dan ulangi 10 kali. Untuk memperkuat tonus otot vagina

(latihan Kegel): Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot

– otot, pantat, dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan

dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.

Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap

gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak.

Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap

gerakan sebanyak 30 kali. (Saleha, 2009).

7) Kunjungan Masa Nifas

Berdasarkan program dan kebijakan teknik masa nifas adalah

paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas untuk menilai status ibu dan

bayi baru lahir untuk mencegah deteksi dan menangani masalah-

masalah yang terjadi, yaitu:

a. Kunjungan I, 6-8 jam setelah persalinan, yaitu : mencegah terjadinya

perdarahan masa nifas karena Atonia Uteri, mendeteksi dan merawat


130

penyebab lain perdarahan dan merujuk bila perdarahan berlanjut,

memberikan konseling pada ibu atau keluarga bagaimana mencegah

perdarahan masa nifas karena Atonia Uteri, pemberian ASI awal,

mengajarkan cara mempererat hubungan antaraibu dan bayi baru

lahir, dan menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah

Hipotermi.

b. Kunjungan II 6 hari setelah persalinan, yaitu : memastikan Involusi

Uterus berjalan normal : Uterus berkontraksi, Fundus di bawah

Umbilikus, tidak ada pendarahan abnormal, tidak ada bau, menilai

adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan, memastikan

ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat, memastikan ibu

menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda

penyulit, memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-

hari.

c. Kunjungan III 2 minggu setelah persalinan, yaitu : sama dengan

kunjungan 6 hari Postpartum.

d. Kunjungan IV 6 minggu setelah persalinan, yaitu : menanyakan

kepada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami ibu dan bayi,

memberikan konseling KB secara dini (Mansyur, 2014).

E. Keluarga Berencana

1. Definisi Program KB

Menurut WHO (Expert Commite, 1970) tindakan yang

membantu individu/pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif-


131

objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,

mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval di antara

kehamilan, dan menentukan jumlah anak dalam keluarga (Sulistyawati,

2011).

Program KB adalah peningkatan kepedulian masyarakat dalam

mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera (Undang-undang

No.10 tahun 1992). Keluarga berencana (family planning, planned

parenthood) yaitu suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan

jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi (Anggraini,

2012).

Menurut Depkes (1990), Program KB adalah bagian terpadu

(integral) dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk

menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan sosial budaya

penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan

kemampuan produksi nasional (Setyaningrum, 2016).

Kesimpulan dari beberapa pengertian KB diatas yaitu, KB

adalah tindakan atau usaha untuk menjarangkan atau merencanakan

jumlah anak yang bertujuan untuk mensejahterakan penduduk Indonesia

baik secara ekonomi, spiritual maupun sosial budaya.

2. Tujuan Program KB

Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga kecil sesuai

dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan

kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang

dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.


132

Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia

perkawinan, peningkatan, ketahanan dan kesejahteraan keluarga

(Sulistyawati, 2011).

3. Persyaratan Medis dalam Penapisan KB

Hendaknya kontrasepsi memenuhi syarat-syarat seperti berikut:

a) Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya

b) Efek samping yang merugikan tidak ada

c) Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan

d) Tidak mengganggu hubungan seksual

e) Tidak memerlukan bantuan medik atau kontrol yang ketat selama

pemakaiannya

f) Cara penggunaannya sederhana

g) Harganya murah supaya dapat dijangkau masyarakat luas

h) Dapat diterima oleh pasangan suami istri.

Sebenarnya belum ada kontrasepsi yang betul-betul ideal dan

dapat memenuhi syarat-syarat tersebut di atas.Yang ada ialah

kontrasepsi yang memenuhi sebagian syarat, atau hampir memenuhi

syarat.Yang penting sebenarnya adalah memakai salah satu cara

kontrasepsi jauh lebih baik daripada tidak memakai kontrasepsi sama

sekali.

Berhasil tidaknya sesuatu cara bergantung kepada apakah sel

mani (sperma) dapat dicegah, dilumpuhkan, dimatikan supaya tidak

memasuki arena fertilisasi atau sel telur tidak dikeluarkan atau tidak

dapat bertemu dengan sel mani. Selain itu, ada keadaan atau kondisi
133

yang mempengaruhi klasifikasi persyaratan madis dalam penggunaan

setiap metode kontrasepsi yang tidak permanen dikelompokkan dalam

4 kategori, yaitu:

a) Kondisi dimana tidak ada pembatasan apa pun dalam penggunaan

metode kontrasepsi.

b) Penggunaan kontrasepsi lebih besar manfaatnya dibandingkan

dengan risiko yang diperkirakan akan terjadi.

c) Risiko yang diperkirakan lebih besar daripada manfaat penggunaan

kontrasepsi.

d) Risiko akan terjadi bila metode kontrasepsi tersebut digunakan.

(Saifuddin, 2010).

4. Jenis KB

a. Definisi KB Suntik

Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya

kehamilan dengan melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi

hormonal jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai

karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya

relative murah dan aman.

b. Jenis KB Suntik 3 bulan

Tersedia dua jenis kontrasepsi suntikan yang hanya

mengandung progestin, yaitu:

1) Depo Provera: ialah 6-alfa-metroksiprogesteron yang

digunakan untuk tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek

progesterone yang kuat dan sangat efektif. Obat ini termasuk


134

obat depot. Nositerat termasuk dalam golongan kontraasepsi ini.

Mekanisme kerja kontrasepsi ini sama seperti kontrasepsi

hormone lainnya. Depo provera sangat cocok untuk program

post partum karena tidak mengganggu laktasi.

2) Depogeston

c. Cara Kerja

1) Menghalangi ovulasi (masa subur),

2) Mengubah lender servikks (vagina) menjadi kental,

3) Menghambat sperma dan menimbulkan perubahan pada rahim,

4) Mencegah terjadinya pertemuan sel telur dan sperma,

5) Mengubah kecepatan transportasi sel telur.

d. Cara Pemberian

1) Waktu pemberian

a) Setelah melahirkan : 6 minggu pasca salin

b) Setelah keguguran : segera setelah dilakukan kuretase

atau 30 hari setelah keguguran

c) Dalam masa haid : hari pertama sampai hari ke-lima

masa haid.

e. Indikasi

Indikasi pemakaian kontrasepsi ini antara lain jika klien

menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang, atau klien

telah mempunyai cukup anak sesuai harapan, tapi ssat ini belum

siap. Kontrasepsi ini juga cocok untuk klien yang menghendaki

tidak ingin menggunakan kontrasepsi setiap hari atau saat


135

melakukan senggama, atau klien dengan kontraindikasi oemakaian

estrogen, dank lien yang sedang menyusui. Klien yang mendekati

masa menopause atau sedang menunggu proses sterilisasi juga

cocok menggunakan kontrasepsi suntik.

f. Kontra indikasi

1) Sedang hamil,

2) Menderita sakit kuning (liver),

3) Kelainan jantung,

4) Varises (urat kaki keluar),

5) Mengidap tekanan darah tinggi,

6) Kanker payudara atau organ reproduksi,

7) Diabetes (kencing manis),

8) Perokok berat,

9) Sedang dalam persiapan operasi,

10) Pengeluaran darah yang tidak jelas dari vagina,

11) Migraine, dll.

g. Kerugian

1) Gangguan haid, siklus haid memendek atau memanjang,

perdarahan yang banyak atau sedikit, spotting, tidak haid sama

sekali,

2) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu,

3) Permasalahan berat badan,

4) Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian

pmeakaian,
136

5) Terjadinya perubahan pada lipid serum dalam pemakaian

jangka panjang,

6) Pada pemakaian jangka panjang dapat menurunkan densitas

tulang,

7) Pada penurunan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan

pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala,

nervositas dan jerawat.

F. Manajemen Kebidanan Menurut Varney

Dalam proses penatalaksanaan asuhan kebidanan menurut Varney

ada 7 langkah, meliputi:

Langkah I: Pengumpulan Data Dasar.

Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat

dari semua yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data

dapat dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik sesuai dengan

kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus dan

pemeriksaan penunjang.

Langkah ini merupakan langkah awal yang akan menentukan

langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang

dihadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam

tahap selanjutnya, sehingga dalam pendekatan ini harus yang komprhensif

meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat

menggambarkan kondisi atau masalah klien yang sebenarnya.


137

Langkah II: Interpretasi Data Dasar.

Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat

merumuskan diagnosa atau masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan

masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat di definisikan

seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan.

Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial.

Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa

potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yng sudah

diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan

dilakukan pencegahan sambil mengawasi pasien bidan bersiap-siap bila

masalah potensial benar-bena terjadi.

Langkah IV: Mengidentifikasi Dan Menetapkan Kebutuhan Yang

Memerlukan Penanganan Segera Dan Kolaborasi.

Mengantisipasi perlunya tindakan segera oleh bidan dan atau dokter

untuk konsultasi atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain.

Langkah V: Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang

sudah teridentifikasi dari kondisi atau masalah klien, tapi juga dari kerangka

pedoman antisipasi terhadap klien tersebut, apakah kebutuhan perlu

konseling, penyuluhan dan apakah pasien perlu dirujuk karena ada masalah-

maslah yang berkaitan dengan masalah kesehatan lain. Pada langkah ini

tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil

pembahasan rencana bersama klien dan keluarga, kemudian membuat

kesepatakan bersama sebelum melaksanakannya.


138

Langkah VI: Melaksanakan Asuhan.

Pada langkah ini rencana asuhan yang komprehensif yang telah

dibuat dapat dilaksanakan secara efisien seluruhnya oleh bidan atau dokter

atau tim kesehatan lain.

Langkah VII: Evaluasi

Melakukan evalusi hasil dari asuhan yang telah diberikan meliputi

pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi

sesuai dengan diagnosa atau masalah (Walyani, 2015).

G. Pendokumentasian Hasil Asuhan Kebidanan secara SOAP

Dokumentasi asuhan kebidanan merupakan bentuk catatan dari hasil

asuhan kebidanan yang meliputi pengkajian data subjektif dan objektif,

penegakan assesment dalam bentuk diagnosa masalah dan kebutuhan,

pengidentifikasian masalah terhadap tindakan segera dan melakukan

kolaborasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lain serta menyusun asuhan

kebidanan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat

pada langkah sebelumnya (Rukiyah, 2014).

Menurut Helen Varney (2007), alur pikir bidan saat menghadapi

klien meliputi 7 langkah. Orang lain mengetahui apa yang telah dilakukan

oleh seorang bidan melalui proses berfikir sistematis, didokumentasikan

dalam bentuk Subektif, Objektif, Assesment dan Planning (SOAP), yaitu:

(S): Subjektif , menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data

klien malalui anamnesa sebagai langkah 1 varney yaitu melakukan

anamnesa kepada klien, keluarga, suami atau orang yang saat itu tahu

kondisi klien tersebut.


139

(O): Objektif: menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data

klien melalui hasil pemeriksaan fisik ibu secara lengkap dan akurat

mulai dari ujung kepala sampai kaki serta data penunjang

sebagailangkah 1 Varney.

(A): Assesment: menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan

interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu indikasi dalam

diagnosa/ masalah, kebutuhan, antisipasi diagnosa/ masalah potensial,

perlunya tindakan segera oleh bidan/ dokter, konsultasi/ kolaborasi dan

rujukan sebagai langkah 2, 3 dan 4 Varney.

(P): Planning: menggambarkan pendokumentasian dari rencana, tindakan

dan evaluasi perencanaan berdasarkan assesment sebagai langkah 5, 6

dan 7 Varney (Rukiyah, 2014).