Anda di halaman 1dari 15

PERKEMBANGAN INDIVIDU

Setiap mahluk hidup cendrung mengikuti pola kehidupan yang khas


bagi spesiesnya. Spesies manusia memiliki karakteristik yang berbeda
dengan spesies mahluk yang lain. Pertumbuhan dan perkembangan manusia
secara relatif mengikuti suatu pola yang sama.
Meskipun antara individu yang satu dengan individu yang lain dalam
banyak hal adalah sama, tapi juga terdapat perbedaan diantara mereka.
Dalam pengertian secara kualitatif adalah sama tapi berbeda dalam
kuantitatif. Perbedaan yang bersifat kuantitatif ini dapat terjadi pada aspek
apapun dan dapat sangat bervariasi.
Ada tiga istilah yang seringkali dipakai secara bergantian untuk
mengatakan hal yang sama, yaitu istilah-istilah growth, maturation, dan
development. Walaupun ketiga konsep itu berbeda, tapi dalam prakteknya
seringkali sukar untuk memisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Arti kata growth menunjukkan hasil penggandaan sel, khromosom,
syaraf, dsb. yang terdapat dalam diri individu. Karena itu growth adalah
pertambahan secara kuantitatif baik dalam hal berat, panjang, besar, atau
jumlah dari suatu ogan tertentu. Walaupun tidak selalu, pertumbuhan
seringkali disertai dengan perkembangan.
Istilah maturation berarti suatu proses kemajuan dari suatu aspek
menuju ke arah berfungsinya aspek tersebut. Jadi maturation adalah proses
dari belum berfungsinya sampai dengan berfungsinya suatu aspek.
Disebutkan bahwa maturation merupakan inner process of growth.
Development dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan kualitas
atau fungsi dari suatu aspek menyertai adanya pertumbuhan aspek tersebut
dan sebagai akibat pengaruh belajar atau latihan.
Misal: aspek fisiologis individu mengalami pertumbuhan sejalan
bertambahnya usia (dan selama itu pula terjadi proses maturation menuju
pada kondisi mature) sehingga selanjutnya aspek tersebut dapat berfungsi,
yaitu menerima pengalaman. Dengan menerima pengalaman (belajar atau
latihan) maka ia mengalami perkembangan.

1
PEREKEMBANGAN TEORI KOGNITIF DARI PIAGET
Jean Piaget menyusun teorinya dengan meneliti anaknya dan anak-
anak lainnya secara kualitatif.

Konsep-konsep utama dalam teori Piaget .

Piaget memandang perkembangan kemampuan intelektual atau kognitif anak


melalui empat stage perkembangan, yang masing-masing stage dicirikan
dengan kemunculan kemampuan baru dalam pengorganisasian berfikir.
Menurutnya perkembangan kognitif sebagian besar tergantung pada
manipulasi dan interaksi anak terhadap lingkungannya, dan pengetahuan
hanya dapat diperoleh melalui perbuatan.

Skema. Pola berfikir atau pola perilaku yang digunakan anak dalam
menangani objek disebut skema. Skema bisa bersifat sederhana seperti
ketika seorang bayi mengetahui cara meraih suatu objek; atau bersifat
kompleks, seperti siswa belajar cara memecahkan soal-soal matematika.
Skema dapat diklasifikasikan dalam domain perilaku seperti memegang,
nyetir mobil; atau domain kognitif seperti memecahkan problem,
mengkatregorisasikan konsep.

Asimilasi. Asimilasi pada dasarnya adalah proses memasukkan objek atau


peristiwa baru ke dalam skema yang ada. Proses ini mirip dengan
memasukkan data baru ke dalam komputer. Tapi karena hanya data maka
harus dikoding secara benar sebelum dimasukkan, objek atau peristiwa yang
akan diasimilasi harus sesuai dengan skema yang ada. Oleh karena itu
asimiliasi meliputi bukan hanya sekedar mengambil informasi baru, tapi juga
termasuk menyaring dan memodifikasi masukan, sehingga masukan tersebut
sesuai.

Akomodasi. Kadang-kadang, cara-cara lama untuk melakukan atau


menyelesaikan sesuatu tidak berhasil. Misalnya, bayi disuruh pegang telur
maka telur itu akan pecah karena bayi mempunyai skema memegang erat
suatu objek. Sebagai akibat yang tidak diharapkan bayi akan mengubah

2
skemanya. Piaget menggunakan istilah akomodasi untuk menerangkan
perubahan skema karena berhubungan dengan objek baru.
Ekuilibrasi.
Individu yang menghadapi objek atau tugas baru dan tidak dapat
menyelesaikan dengan skema yang dimiliki akan menghasilkan suatu
keadaan yang disebut oleh Piaget sebagai disekuilibrium atau imbalance
antara apa yang dimengerti dengan apa yang dihadapi. Secara alamiah orang
akan berusaha mengurangi keadaan imbalance seperti itu dengan
memfokuskan pada stimulus yang menyebabkan keadaan imbalance, dan
kemudian mengembangkan skema baru atau mengadaptasi yang lama
sampai keadaan balance kembali. Proses memperbaiki balance ini disebut
ekuilibrasi. Menurut Piaget, belajar tergantung pada proses ini. Ketika
ekuilibrium atau keadaan balance terganggu, justru anak mempunyai
kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.(motivasi)

TAHAPAN PERKEMBANGAN KOGNITIF


Piaget membagi perkembangan kognitif anak dan remaja ke dalam
empat tahapan (stage), yaitu (1) sensorimotor, (2) praoperasional, (3)
operasional kongkrit, dan (4) operasional formal. Perkembangan semua anak
melalui keempat tahapan secara urut, tak ada yang melompat, meskipun
anak yang satu dan anak yang lain melewatinya dengan kecepatan yang
beda.

Stage Sensorimotor (Lahir-2tahun)


Stage ini disebut sensorimotor karena pada stage ini bayi mengeksplor
dunianya dengan menggunakan indranya dan kemampuan motoriknya.
Semua bayi memiliki perilaku bawaan sejak lahir yang disebut refleks.
Misalnya kalau kita menempelkan jari kita ke bibir bayi, maka ia akan
mengisap jari kita; menempatkan jari kita di telapak tangan bayi maka ia akan
menggenggamnya.
Berikutnya muncul perilaku yang bertujuan. Bayi hanya akan
mengulangi perilaku yang menghasilkan hal menarik atau menyenangkan.
Selanjutnya memecahkan problem yang sangat sederhana, seperti mencari
hal-hal yang berada di luar pandangannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa

3
bayi mengerti bahwa objek itu ada dan bersifat kontinyu, bahkan ketika ia
tidak melihat objek tersebut. Ini menunjukkan bahwa anak mengerti tentang
kepermanenan objek (object permanence). Ketika bayi menyadari benda itu
ada tapi berada di luar pandangannya, berarti bayi mulai dapat
menggunakan simbul.
Tanda lain stage sensorimotor adalah munculnya belajar dengan trial
and error. Misalnya objek yang diinginkan ditempatkan di atas selimut yang
masih dalam jangkauan. Bayi akan mencoba beberapa kali untuk meraih
objek tersebut dan berhenti ketika tak mampu meraihnya, tapi bayi yang lebih
tua, ia akan mencobanya dengan cara lain, yaitu dengan cara menarik
selimut sehingga objek dapat diraih.

Stage praoperasional (2-7tahun)


Kalau pada masa bayi anak mempelajari dunianya dengan
memanipulasi objek secara fisik, maka pada periode prasekolah, anak sudah
memiliki kemampuan menggunakan simbul-simbul untuk mengatakan suatu
objek. Misalnya huruf “a” dapat berarti “apel” atau anak menyuarakan huruf
“a” untuk mrngatakan apel. Selama stage praoperasional ini, pemahaman
konsep dan bahasa berkembang dengan cepat (masa peka).
Penemuan Piaget terpenting pada stage ini adalah bahwa anak belum
mengerti prinsip konservasi. Misalnya dua gelas yang sama berisi susu
dengan volume yang sama; susu di gelas pertama dituangkan pada gelas
ketiga yang lebih besar; anak mengatakan bahwa volume pada gelas kedua
lebih banyak daripada volume susu pada gelas ketiga. Kesalahan kesimpulan
anak pada tugas-tugas konservasi semacam itu disebut centration, (dalam
contoh volume susu tersebut anak melihat pada tingginya isi susu dalam
gelas dan mengabaikan lebarnya gelas).
Jalan fikiran anak pada stage ini dapat juga dicirikan sebagai tidak
dapat diubah (irreversible). Menurut Piaget kemampuan mengubah cara
berfikir (reversibility) merupakan satu aspek penting dalam berfikir seseorang,
dan secara sederhana diartikan sebagai kemampuan mengubah arah dalam
berfikir seseorang sehingga ia dapat kembali pada titik pangkal (starting
point). Jika anak dapat berfikir bahwa 7 jeruk ditambah 5 jeruk menjadi 12
jeruk, maka ia akan mengerti bahwa apabila ia memiliki 12 jeruk diambil

4
kakanya 5, maka ia mengerti masih memiliki 7 jeruk. Kemampuan mental
yang dapat diubah atau dibalik (reversible) semacam ini disebut operasi.

Stage operasional Kongkrit (7-11 tahun).


Anak pada stage ini tidak banyak mengalami kesukaran dengan
problem-problem konservasi karena mereka telah memperoleh kosep
reversibility.
Perkembangan aspek kognitif anak ditandai dengan munculnya
kemampuan berfikir secara logis tentang objek-objek kongkrit. Anak dapat
menarik kesimpulan berdasar nalarnya, tidak hanya berdasar persepsi.
Satu perbedaan mendasar antara stage praoperasional dan
operasional kongkrit adalah bahwa pada anak yang berada dalam stage
praoperasional, memberi respon pada penampakan suatu objek, sedangkan
anak pada stage operasional kongkrit memberikan respon pada kenyataan
yang ia simpulkan (inferred reality). Flavell mencontohkannya dengan
menunjukkan mobil mainan berwarna merah kepada anak, kemudian mobil
itu dibungkus dengan warna hitam sehingga nampak berwarna hitam. Ketika
anak ditanya tentang warna mobil tersebut, anak usia 3 tahun mengatakan
“hitam” sedangkan anak usia 6 tahun mengatakan “merah”. Jadi anak pada
stage praoperasional menjawab berdasar tampilan luarnya, sedangkan anak
pada stage operasional belum mampu menyimpulkan arti dibalik apa yang ia
lihat.
Anak sudah mampu berfikir secara logis yang tidak terbatas hanya
pada objek yang nyata saja, tapi juga pada objek yang bersifat hipotetik dan
abstrak. Anak sudah mampu memecahkan problem abstrak secara sistematis
dan menggeneralisasikan hasilnya. Flavell mengidentifikasi ada tiga
karakteristik berfikir operasional, yaitu (1) berfikir secara abstrak, (2) berfikir
secara sistematis, dan (3) berfikir secara hipotetik dan deduktif.

Stage Operasional formal (11 tahun-masa dewasa).


Dalam stage operasional formal pola berfikir remaja berkembang
menuju bentuk karakteristik berfikirnya orang dewasa. Pada masa remaja
awal anak mulai mampu berfikir secara abstrak dan dapat melihat
kemungkinan-kemungkinan di sebalik “di sini dan sekarang”.

5
Dengan munculnya kemampuan berfikir operasional formal untuk
menghadapi situasi-situasi potensial dan hipotetik, maka pemahaman anak
tentang “bentuk” bebeda dengan pemahaman tentang “isi”. Contoh: Anak
pada stage operasional kongkrit ketika diberitahu bahwa Anggi lebih tinggi
dari Rian dan Rian lebih tinggi dari Evan, mereka ia akan mengerti bahwa
Anggi lebih tinggi dari Evan. Akan tetapi apabila problemnya dibuat seperti
Rian lebih pendek dari Anggi, dan Rian lebih tinggi dari Evan, siapa di antara
ketiganya yang paling tinggi? Anak pada stage operasional kongkrit masih
mengalami kesukaran untuk menjawabnya, tapi tidak demikian bagi anak
pada stage operasional formal. Anak pada stage operasional kongkrit
umumnya masih tenggelam dalam kombinasi “hubungan lebih tinggi dari” dan
“lebih rendah dari”.

TEORI PERKEMBANGAN PERSONAL DAN SOSIAL (PSIKOSOSIAL)


DARI ERIKSON
Selain terjadi perkembangan kemampuan kognitif, juga terjadi
perkembangan konsep diri pada diri anak, cara-cara berinteraksi dengan
orang lain, dan sikap terhadap dunia sekitar. Pemahaman terhadap
perkembangan personal dan sosial ini penting bagi guru untuk dapat
memotivasi, mengajar, dan berinteraksi dengan pelajar pada usia yang
berbeda-beda.
Teori perkembanagan psikososial dari Erik Erikson merupakan
adaptasi dari teori perkembangan yang dikemukakan Anna Freud. Teori
Erikson disebut teori psikososial karena berhubungan dengan prinsip-prinsip
perkembangan psikologis dan sosial.
Erikson menghipotesakan bahwa setiap manusia melewati delapan
stage psikologis dalam kehidupannya. Pada setiap stage ada masalah-
masalah kritis yang harus diselesaikan. Sebagian besar manusia mampu
memecahkan setiap krisis secara memuaskan, tetapi beberapa orang tidak
memecahkan krisis tersebut secara sempurna dan harus menyelesaikannya
pada tahun-tahun selanjutnya. Misalnya banyak orang dewasa harus
menyelesaikan krisis identitas masa remajanya.

STAGE PERKEMBANGAN PERSONAL DAN SOSIAL DARI ERIKSON

6
USIA KRISIS PSIKOLOGIS PERISTIWA PENTING
Lahir-18 bulan Trust vs Mistrust Feeding
18 bln – 3 tahun Autonomy vs Doubt Toilet training
3 – 6 tahun Initiative vs Guilt Independence
6 – 12 tahun Industry vs Inferiority School
12 -18 tahun Identity vs Role confusion Peer relationship
Dewasa awal Intimacy vs Isolation Love relationship
Dewasa tengah Generativity vs Stagnation Parenting
Dewasa akhir Integrity vs despair Reflection on and
acceptance of one’s life

Stage 1: Trust versus Mistrust (lahir – 18 bulan)


Tujuan perkembangan pada stage ini adalah menumbuh-kembangkan
kepercayaan dasar (basic trust) terhadap lingkungan sekitar. Erikson
mendefinisikan basic trust sebagai “kepercayaan penuh terhadap orang lain,
atau perasaan terhadap sifat dapat dipercaya yang dimiliki orang lain”. Ada
dua sifat dasar pada krisis ini: bayi bukan hanya memiliki kebutuhan-
kebutuhan yang harus dipenuhi, tapi bayi juga membantu dalam memenuhi
kebutuhan ibu. Ibu, atau figur ibu, merupakan orang penting pertama dalam
dunia anak. Ibu merupakan orang yang harus memuaskan kebutuhan makan-
minum dan afeksi bayi. Jika ibu tidak konsisten atau menolak dalam
memenuhi kebutuhan bayi, maka ibu lebih merupakan sumber frustrasi bagi
bayi daripada sumber yang menyenangkan. Ini menciptakan rasa tidak
percaya (mistrust) anak terhadap dunianya yang dapat bertahan sampai anak
menjadi dewasa.

Stage 2: Autonomy versus Doubt (18 bulan – 3 tahun)


Pada usia 2 tahun, sebagian besar bayi sudah dapat berjalan dan
menggunakan bahasa dalam berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak pada
masa “terrible twos” ini tidak ingin bergantung secara total kepada ibunya,
mereka berperilaku menuju ke arah otonomi, yaitu kemampuan untuk
melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri. Keinginan anak untuk independen
seringkali bertentangan dengan keinginan orangtua. Erikson berpendapat
bahwa anak pada stage ini mempunyai keinginan rangkap, yaitu untuk tetap
“bernaung” dan sekaligus “melepaskan” diri dari ibu. Ini paling nampak dalam

7
masalah toilet training yang biasanya terjadi pada stage ini. Erikson
mengatakan pentingnya bimbingan toilet training dari orang tua, karena kalau
tidak akan menyebabkan anak berkembang menjadi individu dewasa yang
overcompulsive.
Orangtua yang fleksibel, mengijinkan anaknya mencari dan melakukan
segala sesuatu untuk dirinya secara bebas dengan pengawasan dan
bimbingan, akan mendorong pembentukan rasa otonomi pada diri anak.
Orangtua yang secara berlebihan membatasi dan bersikap keras pada anak
akan membentuk rasa ketidakberdayaan (powerlessness) dan
ketidakmampuan (incompetence). Ini dapat berdampak anak menjadi pemalu
dan peragu.

Stage 3: Initiative versus Guilt (3 – 6 tahun)


Pada stage ini kematangan motorik dan keterampilan bahasa anak
berkembang cepat sehingga meningkatkan semangat dan agresivitas anak
untuk mengeksplorasi lingkungan sosial dan lingkungan fisik, serta terjadi
perkembangan kemampuan inisiatif. Pada stage ini sebaiknya anak
diyakinkan bahwa ia adalah miliknya sendiri, dan ada kebebasan bagi dirinya
ingin menjadi apa”. Orangtua yang menghukum usaha inisiatif anak akan
membuat anak merasa takut terhadap dorongan-dorangan naturalnya yang
sedang tumbuh pada stage ini, dan bahkan dapat mempengaruhi secara
negatif terhadap perkembangan inisiatifnya ke depan.

Stage 4: Industry versus Inferiority (6 – 12 tahun)


Masuk sekolah membawa anak dalam dunia sosial yang luas. Guru
dan teman sekolahnya memiliki pengaruh yang penting bagi anak, sedangkan
pengaruh orangtua menurun. Pada stage ini anak berkeinginan untuk berbuat
sesuatu, menghasilkan sesuatu (sense of industry). Kegagalan akan
menciptakan self-image negatif, suatu perasaan ketidakmampuan yang dapat
menghambat belajar (sense of inferiority). Kegagalan sebenarnya bersifat
relatif; yaitu ketidakmampuan untuk mencapai standar sesuai ukuran (standar
yang ditetapkan oleh dirinya, orangtua atau guru?). Nah, bagaimana
implikasinya bagi pendidik? Pentingnya tugas-tugas individual bagi siswa.

8
Perkembangan psikososial pada stage ini terpusat pada usaha anak
untuk memperoleh pengakuan dan penghargaan atas kinerjanya. Oleh sebab
itu siswa SD sangat membutuhkan dorongan semangat dan pujian terhadap
prestasinya. Orang yang berkecimpung di bidang pendidikan akan tahu
betapa pentingnya pengalaman (perasaan) sukses bagi anak di sekolah.
Anak yang didorong dalam mengerjakan tugas belajarnya dan menerima
sanjungan atas kinerjanya akan mengembangkan sense of industry, yaitu
hasrat untuk menghasilkan sesuatu. Sebaliknya, jika anak tidak merasakan
penglaman sukses—jika hasil kerjanya dan usahanya diperlakukan sebagai
tidak layak atau dikecam, maka akan berkembang sense of inferiority pada
diri anak.

Stage 5: Identity versus Role Diffusion (12 – 18 tahun)


Pertanyaan “siapa saya” menjadi penting selama masa remaja. Krisis
perkembangan remaja pada stage ini berpusat pada usaha mereka untuk
menemukan identitas—untuk memperkenalkan diri sebagai orang yang unik.
Menurut Erikson, identitas “dialami hanya sebagai suatu perasaan
kenyamanan psikologis”.
Satu aspek penting dari sense of identity adalah aspirasi pilihan
terhadap sekolah dan pekerjaan, yang biasanya menggambarkan pilihan
kelompok sekolahnya. Sebagian besar anggota kelompok remaja aspirasinya
sama tentang karir dan pekerjaan. Pada stage ini remaja berpaling dari
orangtua ke pada kelompok sebayanya.
Remaja adalah periode pubertas, kemasakan fisiknya berkembang
cepat, dan hubungannya dengan jenis kelamin yang berbeda meningkat. Jika
interaksi alamiah remaja mendukung perasaannya tentang siapa dia, maka
pemecahan terhadap krisis perkembangannya positif. Suatu pemecahan yang
positif akan memberikan kepercayaan diri (self-confidence) dan kestabilan;
apakah itu untuk memenuhi perannya sebagai teman, anak, pelajar,
pemimpin, atau pacar. Pengalaman negatif, seperti persepsi seorang pelajar
terhadap ketidakmampuannya mengintegrasikan berbagai peranan sosialnya
dalam kelompok, dan pandangannya yang tidak stabil terhadap dirinya, akan
menimbulkan perasaan kebingungan = kekacauan peranan (diffusion,
confusion).

9
Stage 6: Intimacy versus Isolation (Masa dewasa awal)
Pada masa dewasa awal, perasaan seseorang tentang dirinya
dipengaruhi oleh usahanya untuk membangun suatu keakraban (intimacy),
hubungan dekat secara psikologis dengan orang lain khususnya dengan
lawan jenis. Stage ini merupakan periode ketika individu berusaha mandiri
untuk memulai kerja dan membangun suatu kehidupan. Kebutuhan terhadap
hubungan keakraban dapat dilihat pada banyak tempat seperti di tempat
kerja, klub kesehatan, tim atletik, kelompok rekreasi, dsb. Kegagalan untuk
membangun hubungan dekat dengan orang lain akan menyebabkan
perasaan isolasi, perasaan ketersendirian.

Stage 7: Generativity versus Stagnation/self-absorption (Dewasa awal –


Dewasa tengah)
Erikson mengenalkan istilah generativity untuk menunjukkan
kepedulian individu terhadap generasi masa depan. Kemampuan punya anak
dan mengasuhnya mengisi fikiran dan perasaan orang pada stage ini. Banyak
orang yang memutuskan untuk berkeluarga (punya keluarga), mengasuh
serta membesarkan anak-anak mereka berkaitan dengan peran mereka bagi
kelanjutan generasi mendatang. Keputusan untuk memilih karir atau
berkeluarga merefleksikan krisis perkembangan yang terjadi pada stage ini.
Pemecahan yang tidak berhasil membawa pada perasaan stagnasi, yaitu
perasaan bahwa kehidupannya tidak ada perubahan dengan masa-masa
sebelumnya.

Stage 8: Integrity versus Despair (Dewasa akhir)


Menurut Erikson, integritas merupakan pengertian tentang bagaimana
seseorang menyesuaikan diri ke dalam budayanya dan menerima bahwa
dirinya adalah unik. Ketidakmampuan untuk menerima perasaannya tentang
dirinya sendiri akan membawa pada keadaan despair—suatu perasaan
bahwa ia tidak memiliki banyak waktu lagi atau tidak memiliki harapan untuk
mengubah diri.
Pada stage terakhir dari perkembangan psikososial ini orang melihat
ke belakang pada seluruh waktu hidupnya. Penerimaan terhadap

10
keberhasilan, kegagalan, dan keterbatasan-keterbatasannya akan membawa
seseorang pada perasaan integritas; suatu realisasi bahwa kehidupan
seseorang menjadi tanggung jawab dirinya sendiri. Akan datangnya kematian
juga harus dihadapi dan diterima. Keputus-asaan, kehilangan harapan
(despair) akan terjadi pada mereka yang menyesal dengan cara yang telah
mereka lakukan dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu jangan banyak
menyesali peristiwa masa lalu, tapi rencanakanlah secara cermat dan
bijaksana kegiatan ke depan agar tidak memunculkan penyesalan yang
berulang.

PENALARAN MORAL
Masyarakat akan kacau kalau tidak ada ketentuan yang mengatur
tentang bagaimana berkomunikasi antar sesama, bagaimana bergaul secara
baik dalam kehidupan, tidak saling menyakiti antara yang satu dengan yang
lain. Masalah-masalah tersebut berkaitan dengan penalaran atau penilaian
moral, yaitu penilaian tentang mana perilaku yang benar dan mana perilaku
yang salah.

STAGE PERKEMBANGAN MORAL DARI KOHLBERG


Dilema moral:

11
Seorang wanita sedang mendekati ajalnya karena kanker yang
dideritanya. Satu jenis obat yang baru diketemukan akan dapat
menyelamatkan wanita tersebut tapi harganya di luar jangkauan keuangan
sang suami. Sang suami mencari pinjaman uang kesana-kemari dan berhasil
mengumpulkan uang tapi jumlahnya masih setengah dari harga obat. Sang
suami mengatakan kepada penjual obat bahwa isterinya akan meninggal
kalau tidak segera mendapatkan obat itu, dan meminta kepada penjual obat
agar harga obatnya diturunkan atau setidaknya ia dapat mengangsur, tapi si
penjual obat mengatakan tidak. Sang suami akhirnya nekat membobol toko
obat dan mencuri obat tersebut. Pertanyaan: menurut anda apakah sang
suami memang harus mencuri obat tersebut? Mengapa? Berikan jawaban
anda!
Dengan melakukan klasifikasi terhadap penalaran yang dipakai subjek
dalam menjawab pertanyaan (dilema moral = moral dilemma) tersebut,
Kohlberg mengusulkan enam stage dalam perkembangan penalaran moral
manusia, dan mengelompokkan 6 stage perkembangan moral tersebut ke
dalam tiga level, yaitu moralitas prakonvensional, moralitas konvensional, dan
moralitas pascakonvensional. Tiga level ini dibedakan oleh bagaimana
seseorang mendefinsikan apa yang ia persepsikan sebagai perilaku yang
benar atau perilaku moral.
Perkembangan perilaku moral dari yang sederhana sampai yang
kompleks dilalui oleh sebagian besar orang dengan urutan yang sama,
seperti berikut:

Tabel: Stage Perkembangan Moral dari Kohlberg


Level 1: Preconventional morality

12
Stage 1: Punishment and Obedience Orientation
Stage 2: Instrumental exchange Orientation
Level 2: Conventional morality
Stage 3: Interpersonal conformity Orientation
Stage 4: Law-and-order Orientation
Level 3: Postconventional morality
Stage 5: Prior right and social contract orientation
Stage 6: Universal ethical principles orientation
(Sumber McCown, et.al., 1996)

Stage Moralitas Prakonvensional (Lahir – 9 tahun)


Moralitas prakonvensional adalah penilaian yang dibuat anak sebelum
ia mengerti konvensi masyarakat. Anak-anak pada level ini mendasarkan
penalarannya berdasar dua konsep. Pertama, seseorang harus menghindari
punishment, dan kedua, perilaku yang baik adalah yang memberi manfaat
atau kegunaan.
Stage 1: The punishment-obedience level. Anak berperilaku untuk
menghindari hukuman. Perilaku buruk menurut anak stage 1 ini adalah
perilaku yang dihukum, sebaliknya, perilaku baik adalah perilaku yang
mendapat rewards. Berdasar dilema moral yang dihadapi sang suami dengan
pertanyaan, “Apakah sang suami memang harus mencuri obat tersebut?”.
Jawaban tipikal anak stage 1 ini “Tidak, ia dapat dihukum karena mencuri”.
Stage 2: The instrumental exchange orientation. Stage ini
menunjukkan timbal balik sosial (social reciprocity); yang berfikir begini “Kamu
mencoret-coret buku saya maka saya balas dengan mencoret-coret bukumu.”
Penilaian moral yang dibuat anak pada stage ini adalah sangat pragmatis.
Mereka akan berbuat baik pada orang lain dengan harapan orang lain
membalas kebaikan tersebut. Kembali pada pertanyaan “Apakah sang suami
memang harus mencuri obat tersebut?”, maka anak pada stage 2 ini akan
menjawab “Sang suami tidak harus mencuri obat dan penjual obat
seharusnya lebih bermurah hati pada sang suami.”

Stage Moralitas konvensional (9 tahun – dewasa awal)


Moralitas konvensional adalah penilaian berdasar pada aturan yang
menjadi konvensi masyarakat; perilaku yang baik adalah yang mematuhi dan

13
menjaga peraturan masyarakat. Penalaran pada level ini didasarkan pada
keinginan untuk menanamkan kesan baik (mengikuti aturan) pada orang lain.
Hubungan dengan kelompok sebaya menjadi sangat penting selama periode
ini.
Stage 3: Orientasi konformitas personal. Penalaran moral
memfokuskan pada harapan terhadap orang lain, terutama harapan terhadap
orang-orang pemegang otoritas dan kelompok sebaya. Agar menghasilkan
hubungan yang bagus dengan orang lain, maka yang penting adalah
menyesuaikan diri terhadap apa yang baik menurut harapan dan pandangan
orang lain. Untuk menjadi anak yang baik, persetujuan dari orang lain menjadi
acuan. Jawaban tipikal anak pada stage 3 terhadap dilema moral di atas
adalah “Jika sang suami jujur, orang lain akan bangga dengan dirinya.”
Stage 4: Orientasi pada peraturan dan hukum. Hukum adalah perlu
dalam kehidupan bermasyarakat. Individu bermoral adalah yang mengikuti
hukum-hukum masyarakat tanpa mempersoalkan dasar dan proses
penyusunan hukum tersebut. Jawaban anak pada stage 4 atas kasus sang
suami adalah “Mencuri adalah melanggar hukum.” Jika setiap orang
mengabaikan hukum, maka seluruh masyarakat kita akan rusak.”

Moralitas pascakonvensional (masa dewasa)


Moralitas pascakonvensional dicirikan melalui penilaian yang mengakui
adanya kebutuhan masyarakat terhadap kesepakatan bersama dan
menerapkan prinsip-prinsip secara konsisten dalam membuat penilaian.
Melalui berfikir dan refleksi secara seksama, orang pada stage
poskonvensional sampai pada seperangkat prinsip atau moralitas yang
ditentukan oleh diri sendiri (self-determined).
Stage 5: Orientasi pada hak dan kontrak sosial. Pada stage ini hukum
terbuka untuk dievaluasi. Hukum adalah bagus kalau ia melindungi hak-hak
individu. Hukum harus dipatuhi bukan karena ia adalah hukum tapi karena
ada kesepakatan bersama antara individu dan masyarakat di mana hukum
tersebut menjamin hak-hak individu. Jawaban tipikal atas kasus sang suami
pada stage 5 ini adalah “Kadang-kadang hukum harus diabaikan, misalnya,
jika hidup-matinya seseorang tergantung pada dilanggar-tidaknya hukum,
maka hukum dapat dilanggar demi mempertahankan kehidupan.

14
Stage 6: Orientasi pada prinsip etika umum. Prinsip-prinsip yang
menentukan perilaku moral adalah pilihan diri sendiri; yang menyatukan
kepercayaan individu tentang kesetaraan, keadilan, dan etika. Jika seseorang
sampai pada seperangkat prinsip moral, maka prinsip ini akan menjadi
pedoman umum bagi perilaku yang sesuai. Jawaban tipikal pada stage 6 ini
atas pertanyaan kasus sang suami adalah “suatu keputusan yang sesuai
harus memperhatikan semua faktor dalam situasi. Kadang-kadang secara
moral mencuri dapat dibenarkan.”

Piaget mengelompokkan perkembangan moral ke dalam dua stage,


yaitu heteronomous morality dan autonomous morality. Stage moralitas
heteronom disebut juga stage moral realism atau morality of constraint.
Heteronom berarti subjek menerima apa yang ditentukan oleh orang lain.
Selama periode ini anak berhadapan dengan orangtua dan orang dewasa
lainnya yang memberitahu tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak
boleh. Pelanggaran terhadap peraturan yang ditetapkan orangtua dipercaya
akan berdampak pada hukuman. Penalaran ini menghasilkan kepercayaan
dalam diri anak bahwa aturan-aturan moral sudah pasti dan tak dapat diubah.
Stage kedua adalah moralitas otonom atau moralitas kerjasama
(morality of cooperation). Moralitas otonom muncul sebagai akibat semakin
luasnya dunia sosial anak. Melalui inteaksi dan bergaul secara terus-menerus
dengan anak-anak lain, fikiran anak tentang peraturan dan moralitas mulai
berubah. Sekarang peraturan yang ada dalam fikiran mereka adalah perilaku
seperti apa yang diharapkan dari mereka. Hukuman terhadap pelanggaran
tidak secara otomatis tapi dengan mempertimbangkan alasannya dan
keadaan-keadaan lain yang dapat meringankan.

15