Anda di halaman 1dari 8

ANALISA JURNAL

(Buku I, Buku II, Buku III, Dan Buku IV)

A
N
A
L
I
S
A

Dosen : Dr. Abdul Hakim, S.H., M.Hum

Disusun Oleh :

Adithya Mahendra (1706200320)


Yulia Martha Prayudati (1706200344)
Riyanda Irfan Maulana (1706200350)
Fitriadi Marwan (1706200349)

Semester II/B - Siang

Program Studi : Ilmu Hukum

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
T.A. 2017/2018
BUKU I
Undang-Undang Perkawinan Dalam Pluralitas Hukum Agama
(Judicial Review Pasal Perkawinan Beda Agama)
Sebenarnya yang menjadi plolemik dalam Undang-Undang Perkawinan ini adanya
redaksi pasal demi pasal yang memberi kesan membuka kran selebar- lebarnya bagi warganya
untuk memilih pasangannya masing-masing. Meskipun Undang-Undang Perkawinan ini telah
berlaku selama 41 tahun, seperti telah disinggung diatas, bukan berarti tidak ada masalah dalam
hal pelaksanaannya. Permasalahan tersebut antara lain adalah tentang perkawinan beda agama.
Undang-Undang Perkawinan tidak mengatur secara eksplisit tentang perkawinan beda agama.
Undang-Undang perkawinan juga tidak melarang perkawinan beda agama. Diantara pasal yang
menjadi perdebatan adalah: Pasal 2 Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa:
1).Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan
kepercayaannya itu. 2). Tiap- tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Sah atau tidaknya perkawinan ditentukan oleh hukum agama masing-masing calon
mempelai. Sedangkan pencatatan tiap-tiap perkawinan itu merupakan persyaratan formil
administratif. Menjadi titik poin perdebatan adalah pencatatan yang boleh dilakukan di Kantor
Urusan Agama (KUA) bagi yang beragama Islam, dan Kantor catatan Sipil bagi diluar agama
Islam. Sehingga “boleh” menikah beda agama asalkan dicatat. Problem perkawinan antar agama
di Indonesia menjadi krusial karena menyentuh persoalan teologis yang memang sangat sensitif.

Konsepsi Perkawinan Beda Agama dan Implikasinya Menurut Pandangan Islam yaitu
Keputusan Majelis Ulama Indonesia tersebut lebih mempertegas keharaman pernikahan antara
muslim dan non muslim, baik terhadap laki-laki maupun perempuan, seperti yang telah
ditetapkan dalam Munas MUI ke II tahun 1980 di Jakarta, yang menegaskan “Seorang laki-laki
muslim diharamkan mengawini wanita yang bukan muslim.

Pernikahan adalah hal yang sakral, jadi, pernikahan tidak hanya peristiwa hukum semata.
Di Indonesia, masyarakatnya religius sehingga pernikahan merupakan peristiwa sakral, bahkan
pernikahan adalah ibadah. Tidak diakuinya nikah beda agama oleh Mahkamah Konstitusi
merupakan salah satu ketentuan agama dan itu mencerminkan keindonesiaan kita. Melalui
putusan MK yang menolak perkawinan beda Agama merupakan prinsip ketuhanan yang
diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 merupakan perwujudan dari pengakuan
keagamaan. Sebagai negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, tindakan atau
perbuatan yang dilakukan oleh warga negara mempunyai hubungan yang erat dengan agama dan
salah satunya adalah perkawinan. Perkawinan merupakan salah satu bidang permasalahan yang
diatur dalam tatanan hukum di Indonesia. Untuk itu, segala tindakan dan perbuatan yang
dilakukan oleh warga negara, termasuk yang menyangkut urusan perkawinan, harus taat dan
tunduk serta tidak bertentangan atau melanggar peraturan Perundang- undangan. Mengutip
pernyataan Menteri Agama, tidak diakuinya nikah beda agama, merupakan salah satu ketentuan
agama.
BUKU II
KAJIAN TERHADAP PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAGIAN HARTA
WARISAN ATAS TANAH AKIBAT TIDAK DILAKSANAKANNYA WASIAT OLEH
AHLI WARIS DIHUBUNGKAN DENGAN BUKU II KITAB UNDANG-UNDANG
HUKUM PERDATA TENTANG BENDA (VAN ZAKEN)

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu :

1. Latar belakang munculnya sengketa dalam pembagian harta warisan dapat berasal dari
faktor internal, seperti adanya hibah orang tua adil dan tidak disertai akta hibah, pasangan suami
istri (sebagai bakal pewaris) yang tidak memiliki anak atau keturunan, keserakahan ahli waris,
ketidakpahaman ahli waris, kekeliruan dalam menegakkan siri’ dan tertundanya pembagian harta
warisan. Selain itu, fakta penyebab konflik atau sengketa yang bersumber dari faktor eksternal,
seperti: adanya anak angkat yang diberi hibah oleh orang tua angkatnya, hadirnya provokator,
dan harta warisan dipinjamkan kepada kerabat yang bukan ahli waris dan tidak dikembalikan.

2. Proses pembagian warisan hak atas tanah yang dilandasi surat wasiat, sesuai aturan
berlaku adalah menurut Kompilasi Hukum Islam, yang dapat dirujuk dari pasal-pasal sebagai
berikut:

a. Pasal 194 ayat (2), menyebutkan bahwa harta benda yang diwasiat- kan harus
merupakan hak dari pewasiat;

b. Pasal 195 ayat (1), menyebutkan bahwa wasiat dilakukan secara lisan di hadapan dua
orang saksi, atau tertulis di hadapan dua orang saksi, atau di hadapan notaris;

c. Pasal 195 ayat (3), menyebutkan bahwa wasiat kepada ahli waris hanya berlaku bila
disetujui oleh semua ahli waris;

d. Pasal 200, menyebutkan bahwa harta wasiat yang berupa barang tak bergerak bila
karena sesuatu sebab yang sah mengalami penyusutan atau kerusakan yang terjadi sebelum
pewasiat meninggal dunia, maka penerima wasiat hanya akan menerima harta yang tersisa;

e. Pasal 204 ayat (1), menyebutkan bahwa Jika pewasiat meninggal dunia, maka surat
wasiat yang tertutup dan disimpan pada notaris, dibuka olehnya di hadapan ahli waris, disaksikan
dua orang saksi dan dengan membuat berita acara pembukaan surat wasiat itu;

f. Pasal 204 ayat (2), menyebutkan bahwa Jika surat wasiat yang tertutup disimpan bukan
pada notaris, maka penyimpan harus menyerahkan kepada notaris setempat atau kantor urusan
agama tersebut membuka sebagai- mana ditentukan dalam ayat (1) pasal ini;

g. Pasal 204 ayat (3), menyebutkan bahwa Setelah semua isi serta maksud surat wasiat itu
diketahui maka oleh notaris atau kantor urusan agama diserahkan kepada penerima wasiat guna
penyelesaian selanjutnya.
3. Penyelesaian yang dapat dilakukan para ahli waris penerima wasiat sebagai akibat
tidak dilaksanakannya surat wasiat adalah menggunakan cara penyelesaian di pengadilan atau di
luar pengadilan antara lain:

1. Sebagai penghargaan terhadap pewaris yang memberikan wasiat sebaiknya


pelaksanaan pembagian warisan dapat dilaksanakan sebagai- mana telah disepakati para
ahli warisnya, dan pembagian warisan tersebut harus dilaksanakan sesuai amanat atau
wasiat pewaris semasa hidupnya.

2. Hendaknya dalam pembagian warisan para ahli waris menghindari dari


konflik/sengketa waris, karena dapat berdampak pada terganggunya hubungan
kekeluargaan di antar pewaris. 3. Penyelesaian sengketa waris dapat diselesaikan melalui
pengadilan/ di luar pengadilan, namun demikian sebaiknya penyelesaian sengketa waris
dilakukan diluar pengadilan.
BUKU III
ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA JASA
KONSTRUKSI
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi juncto Undang- undang
Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa junco Peraturan
Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi serta peraturan lain,
mengisyaratkan bahwa penyelesaian sengketa jasa konstruksi dilakukan melalui jalur di luar
pengadilan. Dalam tabel 3 adalah perbandingan penyelesaian sengketa menurut peraturan-
peraturan tersebut di atas. Dari uraian dalam tabel 3, jelaslah bahwa pada dasarnya penyelesaian
sengketa jasa konstruksi yang tidak dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat,
diarahkan pada penyelesaian di luar pengadlan dan bermuara pada penyelesaian sengketa melalui
jalur arbitrase. Dalam hal kasus sengketa yang bersifat kontraktual atau sengketa dimasa
pelaksanaan pekerjaan sedang belangsung, maka penyelesaian sengketa tersebut dapat melalui
jalur-jalur sebagaimana dalam tabel 3, yaitu :

1). Jalur Konsultasi Konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat


“personal” antara satu pihak tertentu, yang disebut dengan “klien” dengan pihak lain
yaitu konsultan. Pihak konsultan ini memberikan pendapat kepada klien untuk memenuhi
kebutuhan klien tersebut. Dalam jasa konstruksi, konsultan berperan penting dalam
penyelesaian masalah-masalah teknis lapangan, apalagi apabila konsultan tersebut
merupakan konsultan perencana dan atau konsultan pengawas proyek. Pendapat mereka
sangat dominan untuk menentukan kelancaran proyek

2). Jalur Negosiasi Pada dasarnya negosiasi adalah upaya untuk mencari
perdamaian di antara para pihak yang bersengketa sesuai Pasal 6 ayat (2) Undang-undang
Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Selanjunya dalam Pasal 1851 sampai dengan Pasal 1864 Bab Kedelapanbelas Buku III
Kitab Undang-undang Hukum Perdata tentang Perdamaian, terlihat bahwa kesepakatan
yang dicapai kedua belah pihak yang bersengketa, harus dituangkan secara tertulis dan
mengikat semua pihak. Perbedaan yang ada dari kedua aturan tersebut adalah bahwa
kesepakatan tertulis tersebut ada yang cukup ditandatangani para pihak dengan tambahan
saksi yang disepakati kedua belah pihak. Sedangkan yang satu lagi, kesepakatan yang
telah diambil harus didaftarkan ke Pangadilan Negeri. Negosisi merupakan salah satu
lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang dilaksanakan di luar pengadilan,
sedangkan perdamaian dapat dilakukan sebelum proses sidang pengadilan atau sesudah
proses sidang berlangsung, baik di luar maupun di dalam sidang pengadilan (Pasal 130
HIR).

3). Jalur Mediasi Dari beberapa pengertian yang ada, maka pengertian mediasi
adalah pihak ketiga (baik perorangan atau lembaga independen), tidak memihak dan
bersifat netral, yang bertugas memediasi kepentingan dan diangkat serta disetujui para
pihak yang bersengketa. Sebagai pihak luar, mediator tidak memiliki kewenangan
memaksa, tetapi bertemu dan mempertemukan para pihak yang bersengketa guna
mencari masukan pokok perkara. Berdasarkan masukan tersebut, mediator dapat
menentukan kekurangan atau kelebihan suatu perkara, kemudian disusun dalam proposal
yang kemudian dibicarakan kepada para pihak secara langsung. Peran mediasi ini cukup
penting karena harus dapat menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif sehingga para
pihak yang besengketa dapat berkompromi dan menghasilkan penyelesaian yang saling
menguntungkan di antara para pihak yang bersengketa. Mediasi juga merupakan salah
satu alternatif penyelesaian sengketa.

4). Jalur Konsiliasi Konsiliasi menurut sumber lain, dapat disebut sebagai
perdamaian atau langkah awal perdamaian sebelum sidang pengadilan ( ligitasi )
dilaksanakan, dan ketentuan perdamaian yang diatur dalam Kitab Undang-undang
Hukum Perdata, juga merupakan bentuk alternatif penyelesaian sengketa di luar
pengadilan, dengan mengecualikan untuk hal-hal atau sengketa yang telah memperoleh
suatu putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

5). Jalur Pendapat Hukum oleh Lembaga Arbitrase Arbitrase adalah bentuk
kelembagaan, tidak hanya bertugas untuk menyelesaikan perbedaan atau perselisihan atau
sengketa yang terjadi antara para pihak dalam perjanjian pokok, akan tetapi juga dapat
memberikan konsultasi dalam bentuk opini atau pendapat hukum atas permintaan para
pihak dalam perjanjian. Pendapat hukum lembaga arbitrase bersifat mengikat, dan setiap
pelanggaran terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran
terhadap perjanjian ( breach of contract – wanprestasi ). Sifat dari pendapat hukum
lembaga arbitrase ini termasuk dalam pengertian atau bentuk “putusan” lembaga
arbitrase.

Sengketa jasa konstruksi dapat terjadi pada masa precontractual , masa contractual , dan
masa pascacontractual . Pada masa contractual , dapat saja terjadi sengketa pada saat
Perencanaan Konstruksi, Pelaksanaan Konstruksi, dan Pengawasan Konstruksi. Alternatif
penyelesain sengketa jasa konstruksi dilakukan melalui jalur konsultasi, negosisi, mediasi,
konsiliasi, pendapat hukum oleh lembaga arbitrase , atau gabungan kelima jalur tersebut sesuai
tingkat kebutuhan. Pada pelaksanaan di lapangan, penyelesaian sengketa jasa konstruksi, sering
dilakukan dengan : site meeting , arbitrase ad hoc , sedangkan jalur arbitrase institusional dan
melalui pengadilan, sedapat mungkin dihindari.
BUKU IV
PENGARUH LAMPAU WAKTU TERHADAP GUGATAN
Perbedaan antara gugatan dengan permohonan adalah dalam perkara gugatan ada suatu
sengketa atau konflik yang harus diselesaikan dan diputuskan oleh peng- adilan. Dalam suatu
gugatan ada seorang atau lebih “merasa” bahwa haknya atau hak mereka telah dilanggar, akan
tetapi orang yang “dirasa” melanggar atau dilanggar haknya mereka itu, tidak mau secara
sukarela melakukan sesuatu yang diminta itu. Untuk menentukan siapa benar dan berhak
diperlukan adanya suatu putusan hakim. Disini hakim benar-benar berfungsi sebagai hakim yang
mengadili dan memutus siapa diantara pihak-pihak tersebut yang benar dan siapa yang tidak
benar. Dalam perkara yang disebut permohonan tidak ada sengketa. Misalnya apabila segenap
ahli waris almarhum secara bersama-sama mengahadap peng- adilan untuk mendapat suatu
penetapan perihal masing-masingan dari warisan almarhum berdasarkan ketentuan pasal 236 a
HIR. Disini hakim hanya sekedar memberi jasa-jasanya sebagai seorang tenaga tata usaha
Negara.

Permohonan yang banyak diajukan di muka pengadilan negeri adalah mengenai


permohoan pengangkatan anak angkat, wali, pengampu, perbaikan akta catatan dan sebagainya.
Dalam hukum barat mengenal istilah kadaluarsa yang tertuang dalam sebuah buku yang
menyebutkan ada dua macam pengertian kadaluarsa, yaitu:

1. Kadaluarsa yang menyebabkan sese- orang dibebaskan dari suatu kewajiban atau yang
menyebabkan hak menuntut seseorang menjadi gugur.

2. Kadaluarsa yang menyebabkan sese- orang memperoleh suatu hak tertentu. Kadaluarsa
ini mengharuskan adanya iktikad baik dari orang yang akan memperoleh hak tersebut.

Kadaluarsa adalah semacam upaya hukum, sehingga tentang adanya kada- luarsa harus
dikemukakan oleh pihak lawan dalam jawabannya di muka hakim. Apabila hal itu tidak
dikemukakan, maka kadaluarsa tidak berlaku secara otomatis. Apabila dikemukakan eksepsi
bahwa hak untuk menuntut telah kada- luarsa dan alasan tersebut ternyata ber- dasar, maka
gugatan akan dinyatakan tidak dapat diterima. Namun apabila eksepsi tersebut dianggap
berdasar, maka eksepsi tersebut akan ditolak dan mengenai pokok perkara akan di putus. Dalam
hal yang pertama putusan yang akan dijatuhkan adalah putusan akhir, sedangkan dalam hal yang
kedua yang dijatuhkan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti menyimpulkan bahwa:

a. Istilah kadaluarsa adalah semacam upaya hukum, sehingga tentang adanya kadaluarsa
harus dikemukakan oleh pihak lawan dalam jawabannya, maka kadaluarsa tidak berlaku secara
otomatis.

b. Apabila dikemukan eksepsi bahwa hak untuk menuntut telah kadaluarsa dan alasan
tersebut ternyata berdasar, maka gugatan dinyatakan tidak dapat diterima. Namun apabila
eksepsi ter- sebut dianggap tidak berdasar, maka eksepsi tersebut akan ditolak dan mengenai
pokok perkara akan diputus.
c. Dalam hal pihak tergugat hendak mengemukakan pengaruh lampau waktu sebagai alat
hukum untuk dapatn berupa putusan sela. memenangkan perkaranya. Dalam hukum adat halite
pula harus dikemukakan sebagai eksepsi dalam persidangan.

d. Kesalahan penggugat jika telah sekian lama tanpa alasan yang masuk akal dalam
mengajukan gugatan sehingga tidak dapat membuktikan dalil yang menjadi dasar gugatan.

e. Pengaruh lampau waktu berakibat pada suatu gugatan, hal ini harus ditinjau dari kasus
ke kasus dan selalu diperhatikan perkembangan masya- rakat dimana kasus tersebut terjadi. Bagi
ahli waris yang mempunyai warisan harta benda yang banyak diharapkan untuk segera membagi
warisannya dengan ahli waris yang lain, dikarenakan hal ini sangat rentang terjadi sehingga
menimbulkan per- selisihan di lingkungan keluarga sendiri.