Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI KLINIK

Disusun Oleh :

Ericha Septiana R /1181036

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

DIII ANALIS KESEHATAN

2019

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | KATA PENGANTAR i


KATA PENGANTAR

Puji Syukurkehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dan menyusun Laporan Resmi
Praktikum Toksikologi ini. Dalam penyusunan Laporan Resmi Praktikim
Toksikologi ini tidaklepas dari dorongan dan bantuan dari beberapa pihak,oleh
karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada:

1. Hartono,S.Si.,M.,Si.,Apt Ketua STIKES Nasional.


2. Ardy Prian Nirwana,S.Pd.Bio.,M.Si Kepala Prodi D3 Analis Kesehatan
STIKES Nasional.
3. Wimpy,S.Pd.Kim.,M.Pd, Ister Budiman W.R,S.Pd selaku pembimbing
dalammenyusun Laporan Resmi Praktikum Toksikologi ini.
4. Orang Tua serta Saudara kami yang memberikan semangat dan dorongan.
5. Rekan-rekan dan semua pihak yang membantu baik langsung dan tidak
langsung dalam menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Toksikologi ini.

Penulis menyadari bahwa Laporan Resmi Praktikum ini masih jauh dari
sempurna, maka dari itu penulismengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna menyempurnakan Laporan Resmi Praktikum Toksikologi ini.

Akhirnya resume inidapat diselesaikan dan penulis berharap semoga


Laporan Resmi Praktikum Toksikologi ini dapat memberikan manfaat bagi
pengembangan ilmu penegtahuan dibidang kesehatan serta menambah wawasan
bagi pembaca.

Surakarta, 15 Juli 2019

Ericha Septiana Rahmawati

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | KATA PENGANTAR ii


PERSEMBAHAN

Dengan segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan atas dukungan
orang-orang tercinta, akhirnya Laporan Resmi Praktikum Toksikologi ini dapat
diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Oleh karena itu,denga rasa
bangga dan bahagia penulis sampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izin dan karunia-Nya Laporan Resmi
Praktikum Toksikologi ini dapat dibuat dan diselesaikan pada waktunya.
2. Orang Tua yang telah memberikan dukungan serta doa yang tiada hentinya
untuk kesuksesan penulis.
3. Dosen-dosen pembimbing dan pengajar,yang selama ini telah tulus dan
iklas memberikan bimbingan dan pelajaran tiada ternilai.
4. Seluruh pihak yangtelah memberikan bimbngan.
5. Almamater STIKES Nasional.

Dengan terselesainya resume ini, penulis berharap agar resume ini dapat
berguna dan menambah pengetahuan bagi pembaca dan menambah nilai bagi
penulis. Penuis menyadari bahwa resumini jauh dari sempurna. Maka penulis
meminta sran dan kritik yang membangun agar menjadi bahan referensi bagi
penulis.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | PERSEMBAHAN iii


DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii
PERSEMBAHAN .............................................................................................................. iii
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................iv
LAPORAN RESMI FRAKSI A ......................................................................................... 1
LAPORAN RESMI FRAKSI B .......................................................................................... 7
LAPORAN RESMI FRAKSI C ........................................................................................ 12
LAPORAN RESMI FRAKSI D ....................................................................................... 18
LAPORAN RESMI FRAKSI D ....................................................................................... 22
LAPORAN RESMI UJI ALKOHOL ............................................................................... 31
LAPORAN RESMI UJI FORMALIN .............................................................................. 34
LAPORAN RESMI UJI BORAX ..................................................................................... 36
LAPORAN RESMI UJI TIMBAL (Pb2+) ......................................................................... 38
LAPORAN RESMI UJI COHb dalam Darah ................................................................... 41

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | DAFTAR ISI iv


LAPORAN RESMI FRAKSI A

Sampel : Urine Lab


No Sampel :6
Percobaan : Fraksi A ( Asam Salisilat) pada urine
Prinsip : Pemisahan asam salisilat dari sampel urine dengan metode Stass
Otto (Fraksi A)

Skema Ekstraksi Fraksi A

Sampel Urine Ph 3

Ekstraksi dengan
eter

Fraksi eter ditambah


Fraksi Air
Na Bikarbonat

Na Bikarbonat Eter

Fraksi A

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI A 1


A. Hasil Percobaan
1. Uji Jorisson
Cara Uji : Ekstrak ditambah FeCl2 5% / 2N , Jika terjadi warna ungu
menunjukkan adanya salisilat
Hasil :(+) Larutan Coklat
2. Uji Vitalli-Morrin
Cara Uji : Ekstrak ditambah 1tetes HNO3 conc kemudian dipanaskan
setelah dingin tambahkan 2 tetes aseton dan 2 tetes KOH 2N dan 2 tetes
etanol,terbentuk warna kuning jika terdapat salisilat.
Hasil :(+) Larutan Jernih
3. Uji Zwikker B
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes zwikker B, terbentuk endapan
hijau jika terdapat salisilat.
Hasil : (+)Larutan Biru
4. Uji Marquis
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes formaldehid dan 3 tetes H2SO4
p.a berlebih, terbrntuk warna merah kengunguan (merah karmin) jika
terdapat salisilat.
Hasil :(+) Larutan Jernih
B. Pembahasan
Asam salisilat merupakan obat analgesik non narkotik yang sering
digunakan dalam masyarakat. Asam salisilat mempunyai aktivitas analgesik,
antipiretik dan antirematik tetapi tidak dapat digunakan secara oral karena
terlalu toksik, sehingga yang banyak digunakan sebagai analgesik adalah
senyawa turunannya seperti asam asetilsalisilat. Asam asetil salisilat yang
lebih dikenal dengan aspirin atau asetosal digunakan sebagai analgesik,
antipiretik dan antirematik. Pemberian asam asetilsalisilat dalam dosis rendah
digunakan untuk mencegah serangan jantung dan pengobatan trombosis
karena memiliki efek antiplatelet (Purwanto dan Susilowati, 2000).
Asam asetilsalisilat diperoleh dengan mereaksikan asam 2-hidroksi
benzoat dengan anhidrida asetat yang menghasilkan asam asetilsalisilat dan

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI A 2


asam asetat yang disebut dengan reaksi anhidrida asam. Obat ini dapat
digunakan secara peroral pada pengobatan analgetik-antipiretik.Asam
asetilsalisilat bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin (PG) dari
asam arakhidonat. Prostaglandin jika berada dalam kadar melebihi batas
normal dalam aliran darah dapat menyebabkan nyeri, demam dan inflamasi
(Forsythe, 1991).
Asam asetilsalisilat dalam pemakaiannya memiliki efek samping yang
toksik. Efek samping dari asam asetilsalisilat yang sering terjadi adalah
induksi tukak lambung atau tukak peptik yang kadang-kadang disertai anemia
sekunder karena pendarahan pada saluran pencernaan. Dalam beberapa kasus,
pemakaian asam asetilsalisilat dikaitkan dengan Reye’s syndrome yaitu suatu
keadaan metabolik yang menyebabkan kerusakan otak dan gagal hati pada
anak-anak di bawah umur 16 tahun (BPOM, 2003).
Toksisitas
Data pada manusia
LDLo (kulit, pria) = 57 mg/kgBB; LDLo (intermittent skin, wanita) = 111
mg/kgBB/ 10 hari
Data pada hewan
LC50 (inhalasi, tikus) > 900 mg/m3/1 jam; LD50 (oral, tikus) = 480
mg/kg; LD50 (intraperitional, tikus (rat) ) = 157 mg/kg; LD50 (oral, tikus
(mouse) ) = 300 mg/kg; LD60 (subkuntan, tikus) = 520 mg/kg; LD50
(intravena, tikus) = 184 mg/kg; LD50 (oral, kucing) = 400 mg/kg; LD50
(oral, kelinci) = 1300 mg/kg; LD50 (skin, kelinci) > 10 g/kg;
LD50(subkuntan, kelinci) =6 g/kg; LC50 (inhalasi, mamalia)>300 mg/m3.
Data Mutagenik
Mutasi pada mikroorganisme – Salmonella typhimurium 100 DNA repair
– Bacillus subtilis 5 mg/cawan – lsaccharomyes cerevisae 1 mmol/L (-S9) 3
jam(s); inhalasi-tikus (mouse) 100 mg/kg.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI A 3


Data Reproduksi
TDLo 20-21 hari terus menerus pada tikus hamil (oral-tikus) 40 mg/kgBB;
TDLo 9 hari terus menerus pada tikus hamil ( subkutan-tikus) 380 mg/kgBB;
TDLo 17 hari terus menerus pada mencit hamil 1 g/kg BB.
Efek Klinis
Keracunan akut
Terhirup Iritasi disertai batuk, bersin dan sesak napas. Paparan berat dapat
menyebabkan keracunan sistemik; gejala meliputi sakit kepala, pusing, nadi
cepat, dan tinnitus.
Kontak dengan kulit telah dilaporkan terjadinya keracunan parah akibat
penggunaan salep asam salisilat untuk mengatasi masalah dermatologi dan
untuk perawatan kulit luka bakar.
Kontak dengan mata iritasi tertelan gejala awal keracunan salisilat antara
lain mual dan muntah, nyeri epigastrium dan kadang-kadang hematemesis.
Pada intoksikasi ringan hingga sedang dapat menimbulkan gejala
hiperventilasi, berkeringat, demam, iritabilitas, tinnitus dan hilangnya
pendengaran.
Pada keracunan berat kemungkinan terjadi hipoventilasi, pingsan,
halusinasi, kejang, papiloedema dan koma terutama pada anak-anak. Dapat
pula terjadi metabolik asidosis, non-kardiogenik paru edema, hepatotoksisitas
dan disritmia jantung.Keracunan kronik Terhirup Iritasi Kontak dengan kulit
Penggunaan asam salisilat dan atau metil salisilat pada kulit dan penyakit
rematik dapat menyebabkan keracunan melalui penyerapan perkutan. Telah
dilaporkan kejadian keracunan salisilat yang mengancam jiwa akibat
penyerapan perkutan asam salisilat (salep 10%) pada anak laki-laki usia 7
tahun dengan vulgaris ichthyosis.
Penggunaan gel yang mengandung asam salisilat pada gigi dapat
menyebabkan keracunan.Kontak dengan mata Tidak tersedia informasi
mengenai efek samping yang signifikan.
Keracunan salisilat kronis terjadi akibat penggunaan yang berlebihan
selama jangka waktu 12 jam atau lebih. Jalur metabolisme asam salisilat

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI A 4


menjadi jenuh dan dengan demikian konsentrasi plasma mengalami
peningkatan sehingga menghasilkan racun. Anak kecil berisiko mengalami
overdosis terutama saat demam, berkeringat dan takikardia. Intoksikasi
salisilat diberikan ke penyakit yang mendasari dan digunakan sebagai
indikasi untuk meningkatkan dosis. Anak-anak dapat mengalami keracunan
salisilat melalui ASI.
Tanda-tanda keracunan salisilat kronis meliputi metabolik asidosis,
hipoglikemia, lesu, dan koma.Pertolongan Pertama Terhirup Bila aman
memasuki area, segera pindahkan korban dari area pemaparan. Bila perlu
gunakan kantong masker berkatup atau pernapasan penyelamatan. Segera
bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Kontak dengan kulit
Segera tanggalkan pakaian, perhiasan, dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci
dengan sabun atau detergen ringan dan air dalam jumlah yang banyak sampai
dipastikan tidak ada bahan kimia yang tertinggal (selama 15-20 menit). Bila
perlu segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.
Kontak dengan mata Segera cuci mata dengan air yang banyak atau
dengan larutan garam normal (NaCl 0,9%), dengan sesekali membuka
kelopak mata atas dan bawah sampai dipastikan tidak ada lagi bahan kimia
yang tertinggal. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan
terdekat.Tertelan Segera hubungi Sentra Informasi Keracunan atau dokter
setempat. Jangan sekali-kali merangsang muntah atau memberi minum bagi
pasien yang tidak sadar/pingsan. Bila terjadi muntah, jaga agar kepala lebih
rendah daripada panggul untuk mencegah aspirasi. Bila korban pingsan,
miringkan kepala menghadap ke samping. Segera bawa ke rumah sakit atau
fasilitas kesehatan terdekat.
C. Kesimpulan
Pada Sampel No.6 mengandung Asam Salisilat dengan hasil positif pada
tes marquis dan zwikker.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI A 5


D. Daftar Pustaka
Badan POM. 2003. Keputusan Kepala BPOM RI Nomor : HK.00.05.3.1950
tentang kriteria dan tata laksana pendaftaran obat. Jakarta : Badan
Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Forsythe,s.j.1991.FoodHigien.An Aspen Pubication.Maryland.
http://www.inchem.org/documents/pims/pharm/pim642.htm (diakses tanggal
13 April 2019)
OHS, MDL Information System, Inc., Donelson Pike, Nashville, 1997.
Purwanto,B.T.dan Susilowati,R.,200. Struktur Kimia Fisika dan Aktifitas
Biologis Obat .Airlangga University Press,Surabaya.

E. Dokumentasi

Uji Marquis Uji Vitallin Morin

Uji Jorisson
Uji Zwikker B

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI A 6


LAPORAN RESMI FRAKSI B

Sampel : Urine Lab


No Sampel :6
Percobaan : Fraksi B (Barbiturat)
Prinsip : Pemisahan Barbiturat dari sampel urine dengan metode Stass Otto
(Fraksi B)
Skema Ekstraksi Fraksi B

Sampel Urine Ph 3

DI sari dengan
Eter

Sari eter ditambah


Air
NaHCO3

Sari NaHCO3 Sari Eter


ditambah NaOH

Fraksi A Sari NaOH

Fraksi B

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI B 7


A. Hasil Percobaan
1. Uji Millon
Cara Uji : Ekstrak di tambah 2 tetes reagen millon.
Hasil : (+) Endapan putih.
2. Uji Parry
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes reagen Parry.
Hasil : (+) Endapan Biru.
3. Uji Zwikker B
Cara Uji : 10 tetes ekstrak ditambah 10 tetes CoNo3(Cobalt Nitrat)
ditambah NH4OH conc. Atau Ekstrak ditambah 2 tetes reagen Zwikker
Hasil :(+) Endapan biru larutan merah muda.
4. Uji Jorisson
Cara Uji : Ekstrak ditambah reagen FeCl3
Hasil : (+) Endapan coklat merah
5. Uji FeCl3 +K4Fe(CN)4
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes FeCl3 dan 2 tetes K4Fe(CN)4
Hasil : (+) Endapan jingga larutan biru
B. Pembahasan

Barbiturat adalah obat golongan sedatif-hipnotik. Bahan sedatif yang


efektif harus dapat mengurangi rasa cemas dan menenangkan dengan efek
terhadap fungsi mental dan motoris yang minimal. Sedangkan obat hipnotik x
adalah obat yang dapat menyebabkan rasa kantuk sehingga dapat
mempercepat onset tidur dan mempertahankan keadaan tidur. Efek hipnotik

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI B 8


adalah kondisi depresi susunan saraf pusat yang lebih kuat daripada sedasi.
Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan dosis Barbiturat. Akan tetapi kini
Barbiturat sudah jarang digunakan untuk mengobati insomnia dikarenakan
kuatnya efek depresi SSP yang ditimbulkan. Selain itu Barbiturat juga
menyebabkan ketergantungan psikologis dan fisiologis.
Farmakokinetik
Barbiturat diabsorpsi secara cepat dan sempurna secara oral, akan tetapi
dihambat dengan adanya makanan di lambung. Secara i.v. Barbiturat
digunakan untuk mengatasi status epileptikus dan induksi anestesi. Kelarutan
dalam lemak memegang peranan penting mengingat kerja Barbiturat di
susunan saraf pusat. Penurunan kadar obat dalam plasma dan otak terjadi
secara cepat pada Barbiturat yang diberikan melalui i.v. Selanjutnya obat ini
akan ditimbun di jaringan lemak dan otot. Barbiturat dimetabolisme di hati
melalui proses oksidasi oleh enzimenzim hati. Kemudian metabolitnya
diekskresi lewat ginjal.
Mekanisme Kerja
Seperti yang telah dijelaskan di atas, GABA berperan penting dalam
proses tidur. Itulah sebabnya sebagian besar obat sedatif-hipnotik bekerja
mempengaruhi reseptor GABA, dalam hal ini reseptor subtipe A (GABAA).
Barbiturat juga memfasilitasi kerja GABA. Barbiturat meningkatkan lama
pembukaan kanal ion klorida. Selanjutnya ion-ion klorida akan masuk
melewati x membran sel sehingga membuat sel dalam keadaan hiperpolarisasi
dan mengurangi eksitabilitas neural.
Dalam konsentrasi tinggi, Barbiturat bersifat GABA-mimetik. Tanpa
adanya molekul GABA, Barbiturat dapat mengaktifkan reseptor dan kanal-
kanal ion klorida secara langsung. Barbiturat bekerja secara tidak selektif.
Selain mengaktifkan reseptor GABA, Barbiturat juga mendepresi
neurotransmiter eksitatorik. Ketidakselektifan ini mungkin mendasari
kemampuan Barbiturat yang dapat berfungsi sebagai anestesi total dan
kuatnya efek depresi saraf pusat. Barbiturat mempunyai efek minimal dalam
mempengaruhi tidur NREM, tetapi secara potensial menurunkan tidur REM.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI B 9


Klasifikasi
Barbiturat diklasifikasikan berdasarkan lama kerjanya. Barbiturat dengan
kerja panjang adalah Fenobarbital yang mempunyai waktu kerja 1-2 hari.
Sedangkan Barbiturat dengan kerja singkat antara lain: Pentobarbital,
Sekobarbital, dan Amobarbital. Ketiganya mempunyai lama kerja 3-8 jam.
Tiopental adalah contoh Barbiturat dengan kerja sangat singkat yaitu 20
menit.
Keamanan turunan benzoiltiourea akan dilihat melalui parameter toksisitas
LD-50 (Lethal Dose 50). LD-50 memiliki arti suatu dosis obat yang diberikan
pada sekelompok hewan dan memberikan hasil sejumlah 50% hewan mati
(Paramveer, et al., 2010). Untuk mengetahui bioavailabilitas turunan
benzoiltiourea, digunakan parameter bioavailabilitas. Menurut FDA (2003),
bioavailabilitas adalah laju dan tingkat bahan aktif terabsorbsi dari produk
obat dan menjadi tersedia di tempat kerja bahan tersebut (site of action).

C. Kesimpulan
Pada Sampel No.6 mengandung Barbiturat dengan hasil positif pada tes
Parry,Zwikker,dan Jorisson.

D. Daftar Pustaka
Primanda,Y. 2009. Pengaruh Ekstrak Vakerin Terhadap Waktu Tidur Mencit
BALB/C (Skripsi). FakultasKedokteran Universitas Diponegoro:
Semarang.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI B 10


E. Dokumentasi

Uji Parry Uji Jorisson

Uji FeCl Uji Zwikker B

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI B 11


LAPORAN RESMI FRAKSI C

Sampel : Urine Lab


NoSampel :6
Percobaan : Coffein (Fraksi C)
Prinsip : Pemisahan coffein dari sampel urine dengan metode Stass Otto
(Fraksi C)

Skema Ekstraksi Fraksi C

Sampel Urine pH 3

Di ekstraksi
dengan eter

Sari eter ditambah Air


NaHCO3

Sari NaHCO3 Sari eter


ditambah NaOH

Fraksi A Sari NaOH Sari eter

Fraksi B Fraksi C

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI C 12


A. Hasil Percobaan
1. Uji Murexside
Cara Uji : 10 tetes ekstrak ditambah 10 tetes H2O2 ditambah 10 tetes
HCl conc (pada cawan penguap) dipanaskan sampai kering jika(+)
terbentuk warna kuning merah + NH4OH conc terbentuk merah violet.
Hasil :-
2. Uji Kalium Ferosianida
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes K4Fe(CN)4
Hasil :(+) Larutan Kuning
3. Uji Parry
Cara Uji : Ekstrak ditambah reagen Parry
Hasil :(+) Larutan biru kehijauan
4. Uji Mayer
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes reagen mayer
Hasil : (+) Laruran putih kekuningan
5. Uji NaOH+ AgNO3
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes NaOH 2N ditambah AgNO3 2N
Hasil : (+) Endapan hitam
6. Uji Jorisson
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes FeCl3
Hasil : (+) Endapan Orange
7. Uji Zwikker B
Cara Uji : 10 tetes ekstrak ditambah 10 tetes reagen cobalt nitrat
ditambah 2 tetes NH4OH conc
Hasil : (+) Endapan biru violet
8. Uji Marquis
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes reagen Marquis
Hasil : (+) cincin coklat

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI C 13


B. Pembahasan

Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam keluarga methylxanthine


bersama sama senyawa tefilin dan teobromin, berlaku sebagai perangsang
sistem saraf pusat. Pada keadaan asal, kafein ialah serbuk putih yang pahit
(Phytomedical Technologies, 2006) dengan rumus kimianya C6 H10 O2, dan
struktur kimianya 1,3,7- trimetilxantin (Farmakologi UI, 1995).
Kafein juga merupakan bahan yang dipakai untuk ramuan minuman non
alkohol seperti cola, yang semula dibuat dari kacang kola. Soft drinks
khususnya terdiri dari 10-50 miligram kafein. Coklat terbuat dari kokoa
mengandung sedikit kafein seperti. Efek stimulan yang lemah dari coklat
dapat merupakan kombinasi dari theobromine dan theophyline sebagai kafein
(Casal et al.2000).

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI C 14


Farmakodinamik

Kafein Kafein mempunyai efek relaksasi otot polos , terutama otot polos
bronchus, merangsang susunan saraf pusat, otot jantung, dan meningkatkan
diuresis.
a. Jantung, kadar rendah kafein dalam plasma akan menurunkan denyut
jantung, sebaliknya kadar kafein dan teofilin yang lebih tinggi
menyebabkan tachicardi, bahkan pada individu yang sensitif mungkin
menyebabkan aritmia yang berdampak kepada kontraksi ventrikel yang
premature.
b. Pembuluh darah, kafein menyebabkan dilatasi pembuluh darah termasuk
pembuluh darah koroner dan pulmonal, karena efek langsung pada otot
pembuluh darah
c. Sirkulasi Otak, Resistensi pembuluh darah otak naik disertai pengurangan
aliran darah dan PO 2 di otak, ini diduga merupakan refleksi adanya
blokade adenosine oleh Xantin (Farmakologi UI, 1995).
Efek jangka Pendek
Kafein Mencapai jaringan dalam waktu 5 (lima) menit dan tahap puncak
mencapai darah dalam waktu 50 menit, frekuensi pernafasan ; urin, asam
lemak dalam darah ; asam lambung bertambah disertai peningkatan tekanan
darah. Kafein juga dapat merangsang otak (7,5-150 mg) dapat meningkatkan
aktifitas neural dalam otak serta mengurangi keletihan), dan dapat
memperlambat waktu tidur (Drug Facts Comparisons, 2001).
Efek Jangka panjang
Kafein Pemakaian lebih dari 650mg dapat menyebabkan insomnia kronik,
gelisah, dan ulkus. Efek lain dapat meningkatkan denyut jantung dan berisiko
terhadap penumpukan kolesterol, menyebabkan kecacatan pada anak yang
dilahirkan (Hoeger, Turner, and Hafen, 2002).
Matabolisme Kafein
Diserap sepenuhnya oleh tubuh melalui usus kecil dalam waktu 45 menit
setelah penyerapan dan disebarkan ke seluruh jaringan tubuh. Pada orang

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI C 15


dewasa yang sehat jangka waktu penyerapannya adalah 3-4 jam, sedangkan
pada wanita yang memakai kontrasepsi oral waktu penyerapan adalah 5-10
jam. Pada bayi dan anak memiliki jangka waktu penyerapan lebih panjang
(30 jam). Kafein diuraikan dalam hati oleh sistem enzym sitokhrom P 450
oksidasi kepada 3 dimethilxanthin metabolik, yaitu :
a. Paraxanthine (84%),mempunyai efek meningkatkan lipolysis, mendorong
pengeluaran gliserol dan asam lemak bebas didalam plasma darah
b. Theobromine (12%) melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan
volume urin. Theobromine merupakan alkaloida utama didalam kokoa
(coklat)
c. Theophyline (4%), melonggarkan otot saluran pernafasan, digunakan pada
pengobatan asma. Masing masing dari hasil metabolisme ini akan
dimetabolisme lebih lanjut dan akan dikeluarkan melalui urin (Drug Facts
Comparisons, 2001).
Kafein yang dikonsumsi akan masuk ke dalam lumen usus serta
diserap dengan cepat dan komplit. Sebagian besar responden penelitian ini
merasakan efek kafein dalam satu jam setelah konsumsi, berkaitan dengan
waktu yang dibutuhkan kafein untuk mencapai konsentrasi plasma maksimal
sekitar 30 hingga 45 menit.(Griffiths,2003)

C. Kesimpulan
Pada Sampel No.6 yang diperiksa mengandung Coffein dengan hasil
positif pada tes marquis, NaOH, KaliumFerrosianida, Parry, mayer, Jorisson.

D. Daftar Pustaka
Casal,S.,Oliviera.2000.Discriminate Analysis of Rosted Coffe Varieties For
Trigonelline,Nicotinic Acid and Caffein Content.J.Agric.FoodChem.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakologi UI.
Farmakologi dan Terapi Edisi 4.UI. Jakarta.
Drug Facts Comparisons.2001. Fact Comparations. Caffein Effect.USA.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI C 16


E. Dokumentasi

Uji Kalium Ferosianad Uji Parry

Uji Zwikker B Uji Jorisson

Uji NaOH Uji Mayer

Uji Marquis Uji Mureqsid

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI C 17


LAPORAN RESMI FRAKSI D

Sampel : Urine Lab


No.Sampel :6
Percobaan :Uji Fraksi D (Papaverin)
Prinsip : Pemisahan papaverin dari sampel urine dengan Stass Otto (Fraksi
D)

Skema Ekstraksi Fraksi D

Sampel Urine
Ph 3

Disari dengan
eter

Sari eter Sari aquades


ditambah basa-Ph 8

Disari dengan
Klorofrom

Sari Kloroform

Fraksi D

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 18


A. Hasil Percobaan
1. Uji Marquis
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes reagen marquis
Hasil : Tidak Ada Perubahan
2. U ji Mayer
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes reagen mayer
Hasil : (+) Larutan Kuning
3. Uji DAB Hcl
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes DAB HCl ditambah 2 tetes
H2SO4 p.a
Hasil : (+) Endapan Oranye
4. Uji K4Fe(CN)6
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes larutan K4Fe(CN)6 ditambah 2
tetes FeCl3
Hasil : (+) Endapan Biru
5. Uji Jorisson
Cara Uji : Ekstrak ditambah reagen Jorisson
Hasil : (+) Endapan Kuning
6. Uji Zwikker B
Cara Uji : 10 tetes ekstrak+ 10 tetes Cobalt nitrat + sepucuk sendok
Na2B4O7 atau 2 tetes NH4OH conc
Hasil : Tidak Terjadi Perubahan
7. Uji Parry
Cara Uji : Ekstrak ditambah reagen parry
Hasil : Tidak Terjadi Perubahan
8. Uji NaOH
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes NaOH ditambah 2 tetes AgNO3
Hasil : (+) Endapan Hitam
9. Uji Frohde
Cara Uji : Ekstrak ditambah reagen frohde
Hasil : (+) Cincin Hijau

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 19


B. Pembahasan

Papaverin merupakan antidiare yang terbanyak dipakiuntuk


penanganan diare,yaitu pada 36 kasus(12,67%).Enterovioform digunakan
dalamjumlah yang tidak jauh berbeda dengan papaverin,yaitu 37
kasus(12,33%).
Penggunaan Papaverin sebagai antidiare sudah mulai disangsikan
indikasinya, oleh karena Papaverin merupakan spasmolitik lokal
padatraktus intestinalis.Akibatnya pada saluran tersebut ada bagian yang
hipoperistaltik. Keadaan ini menyebabkan terjadinya invaginasi yang
memerlukan perawatan yang lebih komplikatif. Pemakaian Enterovioform
(berisi klikinol) sebagai obat permasalahan. Diantaranya efek samping
gangguan nerologis yang diduga kuat mempunyaikaitan dengan
SMON(sub-acutemyelo optic neuropaty). Dilaporkan SMON dijepang dan
dilarangnya / di batasi secara ketat penggunnanya di beberapa negara,
setidaknya membuat kita lebih waspada dalam memeberikan obat tersebut
pada penderita diare.

C. Kesimpulan
Pada Sampel No.6 yang diperiksa mengandung Papaverin dengan
hasil positif pada tes Frohde

D. Daftar Pustaka
Untaria, A. 1987.Penanganan Diare di Pusat Pelayanan Kesehatan.
Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.Yogyakarta.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 20


E. Dokumentasi

Uji Mayer
Uji Zwikker B

Uji Frohde
Uji Pary

Uji DAB HCL Uji Jorisson

Uji Kalium Ferosianad Uji Marquis

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 21


LAPORAN RESMI FRAKSI D

Sampel : Urine Lab


No.Sampel :6
Percobaan :Uji Fraksi D (Diazepam)
Prinsip : Pemisahan papaverin dari sampel urine dengan Stass Otto (Fraksi
D)

A. Hasil Uji
1. Uji Marquis
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetesreagen marquis
Hasil : (+) Larutan kuning
2. Uji Dragendrof
Cara Uji : Ekstrak ditambah reagen dragendrof
Hasil : (+) Larutan Merah
3. Uji Parry
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes reagen parry
Hasil : (+) Larutan merah muda
4. Uji Zwikker B
Cara Uji :10 tetes ekstrak+ 10 tetes Cobalt nitrat + sepucuk sendok
Na2B4O7 atau 2 tetes NH4OH conc
Hasil : (+) Larutan Biru
5. Uji K4Fe(CN)6
Cara Uji : Ekstrak ditambah 2 tetes larutan K4Fe(CN)6 ditambah 2
tetes FeCl3
Hasil : (+) Larutan kuning
6. Uji Jorisson
Cara Uji : Ekstrakditambah reagen jorisson
Hasil : (+) larutan oranye
7. Uji FeCl3
Cara Uji : Ekstrak ditambah FeCl3 ditambah K4Fe(CN)6
Hasil : (+) larutan biru
8. Uji Mayer
Cara Uji : Ekstrak ditambah reagen mayer
Hasil : (+) Larutan Kuning

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 22


9. Uji NaoH
Cara Uji : Ekstrak ditambah regen NaOH ditambah reagen AgNO3
Hasil : (+) Endapan Hitam
10. Uji Parry
Cara Uji : Ekstrak ditambah alkohol ditambah reagen parry
Hasil : (+) Endapan biru kehijauna
B. Pembahasan
Berbentuk serbuk kristal padat berwarna hampir putih hingga
kuning; berbau samar, berasa agak pahit; Rumus molekul C16H13N2OCl;
Berat molekul 284,76; Titik lebur 268-275 F (131-135oC); Titik lebur
131,5-134,5 oC; Titik didih 497,4oC pada 760 mmHg; Titik nyala
254,6oC; . Praktis tidak larut dalam air. Kelarutan dalam air 0,29%. Tidak
larut dalam dietil eter. Sedikit larut dalam propilen glikol. Larut dalam
kloroform, dimetilformamid, benzen, aseton, alkohol, eter. Kelarutan
dalam kloroform 1 gram/2 mL kloroform. Kelarutan dalam eter 1 mg/39
mL eter. Kelarutan dalam alkohol 62,5 mg/mL alkohol pada suhu 25oC.
Termasuk kedalam golongan Diazides (diazos), halogenated,
aromatic; benzodiazepin. Digunakan dalam pengobatan untuk terapi
anxiolytic, relaksasi otot rangka (skelet), antikonvulsan, antagonis
kardiotoksisitas akibat keracunan klorokuin, dan meredakan gejala
ketagihan alkohol.
Indikasi dan Dosis
1. Pengobatan ansietas (anxiety) atau agitasi (keresahan atau kegelisahan)
Mula-mula berikan diazepam 0,1-0,2 mg/kg (dosis lazim anak > 5
tahun dan dewasa adalah 2-10 mg; untuk anak > 30 hari hingga 5
tahun adalah 1-2 mg) secara intravena (kecepatan pemberian tidak
melebihi 5 mg/menit pada orang dewasa; pemberian untuk anak lebih
dari 3 menit), tergantung pada tingkat keparahan (pada kasus tetanus
diperlukan dosis yang lebih besar); dapat diulang setiap 1-4 jam jika
diperlukan. Dosis oral adalah 0,1-0,3 mg/kg (dewasa 2-10 mg; pasien
lanjut usia (geriatrik) diperlukan dosis yang tidak melebihi 2,5 mg

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 23


dengan interval yang lebih kecil; anak > 6 bulan 1-2,5 mg). Dosis
harus disesuaikan dengan tingkat respons dan toleransi pasien.
Peringatan: Jangan diberikan secara intramuskular karena akan
menimbulkan absorpsi eratik dan nyeri pada tempat injeksi.
2. Pengobatan pada konvulsi
Berikan diazepam 0,1-0,2 mg/kg IV, tidak melebihi 5 mg/menit,
setiap 5-10 menit (dosis lazim yang mula-mula diberikan untuk
dewasa adalah 5-10 mg; anak > 5 tahun 1-2 mg; anak < 0,2-0,5 mg);
dosis maksimum total untuk dewasa adalah 30 mg atau 5 mg (anak
kecil) atau 10 mg (anak yang lebih dewasa).
3. Pengobatan pada intoksikasi klorokuin dan hidroksiklorokuin
Pemberian diazepam dosis tinggi 1-2 mg/kg IV (infus melebihi 30
menit) dilanjutkan dengan infus 2 mg/kg/24 jam dapat mengobati
kardiotoksisitas. Peringatan: Pengobatan ini kemungkinan dapat
menyebabkan pasien mengalami apnea sehingga pasien harus
diintubasi (tindakan medis berupa penempatan tabung plastik fleksibel
dalam trakea untuk melindungi dan mendukung jalan napas dan
memungkinkan respirasi mekanis atau buatan) dan ventilasinya harus
selalu terjaga.
4. Meredakan gejala ketagihan alkohol
Mula-mula berikan diazepam dengan dosis 5-10 mg IV, lalu 5 mg
setiap 10 menit hingga pasien tenang. Kemungkinan diperlukan dosis
yang lebih besar untuk menenangkan pasien yang mengalami
ketagihan parah. Dosis oral mula-mula adalah 10-20 mg, diulang
setiap 1-2 jam hingga pasien tenang.(Kearney,2007)

Bahaya Terhadap Kesehatan

1. Organ Sasaran Sistem saraf pusat menyebabkan depresi pernapasan dan


penurunan kesadaran.
2. Rute Paparan
a) Paparan Jangka Pendek

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 24


 Terhirup
 Kontak dengan Kulit Dosis letal pada hewan yang dilaporkan
adalah 800 mg/kg. Gejala keracunan tidak dilaporkan.
 Kontak dengan Mata Tidak tersedia informasi.
 Tertelan Dilaporkan menimbulkan gejala berupa bullae (melepuh),
nekrosis kelenjar keringat ekrin dan tinnitus. Efek lain yang
mungkin timbul adalah sakit kepala, mual, muntah, epigastric
distress, diare, inkontinensia, kantuk, lelah, pusing, lemah, relaksasi
otot, ataksia, disartria, perubahan salivasi, bicara cadel, rasa pahit,
pupil dilatasi, diplopia (penglihatan ganda), nystagmus dan
penglihatan buram, iritabilitas, gangguan mental dan fungsi
psikomotorik, gangguan ingatan jangka pendek dan anterograde
amnesia (tidak dapat mengingat apapun yang baru terjadi), serta
nyeri sendi dan nyeri pada dada. Pada dosis yang lebih besar,
terutama pada kasus intoksikasi berat, mula-mula dapat
menimbulkan rasa gembira yang kemudian diikuti dengan sedasi,
lalu berkembang menjadi stupor (pingsan), dan kemungkinan
koma. Kemungkinan dapat pula menimbulkan hipotensi dan
takikardi atau bradikardi. Dapat menyebabkan depresi pernapasan
atau sirkulasi serta kematian, namun jarang. (OHS,1997)
b) Paparan Jangka Panjang
 Terhirup Paparan jangka panjang atau berulang dapat
menyebabkan timbulnya reaksi alergi.
 Kontak dengan Kulit Paparan jangka panjang atau berulang
dapat menyebabkan timbulnya reaksi alergi.
 Kontak dengan Mata Tidak tersedia informasi.
 Tertelan Penggunaan secara berulang dapat menyebabkan
agranulositosis, trombositopenia, pansitopenia, anemia
aplastik dan asidosis laktat. Selain itu, sebagai tambahan
terhadap efek paparan akut, menelan benzodiazepin secara
berulang dapat menyebabkan reaksi paradoksikal, seperti

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 25


ansietas dan stimulasi, ruam kulit, urtikaria, edema,
agranulositosis, reaksi hepatik dan jaundice,
ketidakteraturan menstruasi, anovulasi, dan gangguan
fungsi seksual. Penggunaan benzodiazepin jangka panjang
dapat menimbulkan ketergantungan psikologis atau fisik.
Penghentian tiba-tiba dapat menyebabkan gejala putus obat.
Benzodiazepin dapat menembus plasenta dan dieksresikan
pada air susu ibu. Dapat pula menyebabkan gejala putus
obat pada neonatus. Selain itu dapat pula menyebabkan
malformasi seperti bibir sumbing, hernia inguinalis,
kerusakan jantung, mikrosefalus dan retardasi, stenosis
pilorus, atresia duodenum. Khusus untuk diazepam,
terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaannya
pada trimester pertama kehamilan dengan timbulnya bibir
sumbing pada anak.

Toksisitas

1) Data pada Hewan


LD50 oral-tikus 352 mg/kg; LD50 oral-tikus 249 mg/kg; LD50
intraperitoneal-tikus 46500 µg/kg; LD50 subkutan-tikus 6350 µg/kg;
LD50 intravena-tikus 32 mg/kg; LD50 oral-mencit 48 mg/kg; LD50
kulitmencit 800 mg/kg; LD50 intraperitoneal-mencit 37 mg/kg; LD50
subkutan-mencit 800 mg/kg; LD50 intravena-mencit 25 mg/kg; LD50
intramuskular-mencit 65 mg/kg; LD50 parenteral-mencit 150 mg/kg;
LD50 tidak dilaporkan rute paparannya-mencit 140 mg/kg; LD50
oralkelinci 328 mg/kg; LD50 intravena-kelinci 9 mg/kg; LD50 oral-
mamalia 500 mg/kg; LD50 tidak dilaporkan rute paparannya-mamalia 110
mg/kg; LD50 oral-tikus 1200 mg/kg; LD50 oral-anjing 1000 mg/kg; LD50
oral-mencit 700 mg/kg.
2) Data pada Manusia

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 26


TDLo oral-lelaki 143 µg/kg; TDLo oral-perempuan 5 mg/kg; TDLo
intramuskular-perempuan 181 µg/kg; TDLo intravena-lelaki 143 µg/kg;
TDLo intravena-lelaki 71 µg/kg/1 menit kontinyu. 4.2.Data Karsinogenik
Bukti pada manusia tidak memadai. Bukti pada hewan tidak memadai.
International Agency for Research on Cancer (IARC) Group 3 (1,9) . Pada
pemberian diazepam secara oral pada mencit jantan terjadi peningkatan
insiden tumor hati. Pada pengujian lain yang menggunakan metabolit
diazepam, yaitu oxazepam yang diberikan secara oral, diperoleh hasil
terbentuknya tumor hati pada mencit. Namun, tidak terdapat data manusia
yang dapat dievaluasi (1) . Diazepam tidak dipertimbangkan sebagai bahan
karsinogen berdasarkan IARC, National Toxicology Program (NTP), atau
Occupational Safety and Health Administration (OSHA) (9) .
3) Data Tumorigenik TDLo/ 80 minggu kontinyu oral-mencit 42 gram/kg.
4) Data Teratogenik Terdapat beberapa bukti bahwa diazepam dan
benzodiazepin lain bersifat teratotegenik terhadap manusia, dapat
meningkatkan risiko malformasi kongenital jika dikonsumsi oleh ibu
hamil pada usia kehamilan semester pertama.
5) Data Mutagenik Mutasi pada mikroorganisme – Salmonella typhimurium
958 nmol/ cawan (-S9); Kehilangan dan non disjungsi (gagal berpisah)
pada kromosom seks – Drosophila melanogaster secara oral 200 mg;
Analisis sitogenetik – perempuan (tidak dilaporkan) 328 mg/kg selama 78
minggu; Analisis sitogenetik – leukosit manusia 10 mg/L; Kehilangan dan
non disjungsi (gagal berpisah) pada kromosom seks– limfosit manusia 25
mg/L; Sistem uji mutasi lain – tikus secara subkutan 25 mg/kg selama 5
hari intermittent; Uji mikronukleus – mencit secara oral 40 mg/kg selama
24 jam; Assay cairan tubuh – mencit menggunakan Salmonella
typhimurium 200 mg/kg; Uji kematian dominan – mencit secara oral 326
mg/kg selama 15 hari intermittent; Uji sperma – mencit secara oral 300
mg/kg selama 15 hari kontinyu; Uji mikronukleus – paru hamster 10
mg/L; Transformasi morfologi – embrio hamster 30 mg/L; Sistem uji
mutasi lainnya – embrio hamster 100 mg/L; Analisis sitogenetik –

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 27


fibroblast hamster 15 mg/L; Analisis sitogenetik – paru hamster 1 gram/L
selama 27 jam; Kehilangan dan non disjungsi (gagal berpisah) pada
kromosom seks – fibroblast hamster 100 mg/L; Kehilangan dan non
disjungsi (gagal berpisah) pada kromosom seks – paru hamster 100 mg/L;
Kehilangan dan non disjungsi (gagal berpisah) pada kromosom seks – paru
hamster 75 mg/L; Hasil positif pada uji mikronuklei sumsum tulang
mencit secara in vivo; Hasil positif pada uji sumsum tulang mencit secara
in vivo; Hasil positif pada uji mikronuklei, aneuploidi, dan aberasi/
kelainan kromosom sel-sel hamster China; Hasil positif pada uji
pertukaran pasangan kromatida limfosit manusia.

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KORBAN KERACUNAN

1) Terhirup Pindahkan korban ke tempat berudara segar. Gunakan


kantung masker berkatup atau peralatan yang sejenis untuk
memberikan pernapasan buatan jika dibutuhkan. Segera bawa ke
rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.
2) Kontak dengan Kulit Segera tanggalkan pakaian, perhiasan, dan sepatu
yang terkontaminasi. Cuci kulit, kuku, dan rambut menggunakan
sabun atau deterjen ringan dan air yang banyak sampai dipastikan tidak
ada bahan kimia yang tertinggal, sekurangnya selama 15-20 menit.
Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat jika
diperlukan.
3) Kontak dengan Mata Lepaskan lensa kontak, jika ada. Segera cuci
mata dengan air yang banyak, sekurangnya selama 15-20 menit dengan
sesekali membuka kelopak mata bagian atas dan bawah sampai
dipastikan tidak ada lagi bahan kimia yang tertinggal. Jika iritasi tidak
mereda, segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.
4) Tertelan Jangan lakukan induksi muntah atau memberikan apapun
melalui mulut pada korban yang tidak sadarkan diri. Jika terjadi
muntah, posisikan kepala lebih rendah daripada panggul untuk
mencegah risiko aspirasi ke dalam paru-paru. Jika korban tidak

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 28


sadarkan diri, posisikan kepala menoleh ke arah samping. Segera bawa
ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.
C. Kesimpulan
Pada Sampel No.6 yang diperiksa mengandung diazepam dengan
hasil positif pada tes Dragendrof

D. Daftar Pustaka
Kearney. T.E. Benzodiazepines (Diazepam, Lorazepam, and Midazolam)
in Poisoning & Drug Overdose Fifth Ed. Olson, K.R., et al. (Eds.).
McGraw-Hill Companies, Inc./Lange Medical Books. New York.
2007.
OHS, MDL Information System, Inc., Donelson Pike, Nashville, 1997.
Sentra Informasi keracunan (SIKer) dan tim. Pedoman Penatalaksanaan
Keracunan untuk Rumah Sakit. 2001.
E. Dokumentasi

Uji Marquis Uji Mayer

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 29


Uji Jorissson Uji Zwikker B

Uji KaliumFerosianida Uji NaOH

Uji Parry

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI FRAKSI D 30


LAPORAN RESMI UJI ALKOHOL

Sampel : Tape
No Sampel :6
Percobaaan : Kualitatif

A. Hasil Percobaan
1. Uji Kalium Cromat
Cara Uji : Sampel ditambah 2ml K2CrO4 ditambah 1 ml H2SO4 conc
Hasil : (+) jingga
2. Uji FeCl3
Cara Uji : Sampel ditambah FeCl3 sebanyak 5 tetes kemudian
tambah H2SO4 conc sebanyak 2 tetes.
Hasil : (+) kuning
3. Reaksi Nyala
Cara Uji : Sampel masukkan kedalam cawan penguap kemudian
nyalakan dengan korek api.
Hasil : (-) Nyala api tidak berwarna biru.
4. Uji Esterifikasi
Cara Uji : Sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian
ditambah asam salisilat dipanaskan
Hasil : (+) Bau seperti tape
5. Iodform
Cara Uji : Sampel ditambah NaOH ditambah I2 kemudian
dipanaskan
Hasil : (-) Tidak ada bau lisol

No Prosedur Uji Sampel


Alkohol Ciu Vodka Jeruk Jamu Beer Tape
Liar Dinda Hitam
1. Sampel+ + + + + + + +
2ml
K2CrO4+1ml
H2SO4 (P)
2. Sampel+5 + + + - + - +
tetes FeCl3+
H2SO4
3. Reaksi + - + - - - -
Nyala
4. Esterifikasi + - + + + + +

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI ALKOHOL 31


5. Iodoform + - - + - + -

B. Pembahasan
Alkohol (C2H5OH) adalah cairan transparan, tidak berwarna,
cairan yang mudah bergerak, mudah menguap, dapat bercampur dengan
air, eter, dan kloroform, diperoleh melalui fermentasi karbohidrat dari ragi
(Prihandana dkk., 2007). Menurut Irianto (2006), menyatakan bahwa
setelah air, alkohol merupakan zat pelarut dan bahan dasar paling umum
yang digunakan di laboratorium dan di dalam industri kimia. Etil alkohol
dapat dibuat dari apa saja yang dapat difermentasi oleh khamir. Salah satu
pemanfaatan khamir yang paling penting dan paling terkenal adalah
produk etil alkohol dari karbohidrat. Proses fermentasi ini dimanfaatkan
oleh para pembuat bir, roti, anggur, bahan kimia, para ibu rumah tangga,
dan lain-lain.
Alkohol adalah obat psikoaktif yang paling banyak digunakan
(Santrock, 2002). Lebih dari 13 juta orang menganggap dirinya pecandu
alkohol (alkoholic). Alkoholisme adalah penyakit menahun yang ditandai
dengan kecenderungan untuk meminum lebih daripada yang direncanakan,
kegagalan usaha untuk menghentikan minum minuman keras dan terus
meminum minuman keras walaupun dengan konsekuensi sosial dan
pekerjaan yang merugikan. Hampir 8% orang dewasa di Amerika Serikat
memiliki masalah dalam penggunaan alkohol. Pria empat kali lebih sering
menjadi alkoholik dibanding wanita.
Gejala kecanduan alkohol yang jelas dalam bentuk fisik adalah
ketergantungan pada alkohol dan ketidakmampuan untuk berhenti
walaupun parah akibat fisik dan psikologis. Beberapa pecandu alkohol
dapat bertahan pada tingkat yang dangkal tetapi akhirnya kecanduan
menyebabkan gangguan kinerja professional dan meningkatkan hubungan
yang tegang.
Tanda-tanda fisik penyalahgunaan alkohol, yaitu: penurunan berat
badan, sakit di perut, mati rasa di tangan dan kaki, bicara meracau,
kegoyangan sementara saat mabuk. Pada orang yang menderita
ketergantungan alkohol, yaitu: berkeringat, gemetar, mual muntah,
kebingungan dan keadaan yang ekstrem yaitu kejang-kejang, serta
halusinasi.Tanda-tanda mental meliputi peningkatan penyalahgunaan
alkohol, antara lain: mudah tersinggung, marah, gelisah, menghindar dari
kegiatan yang tidak memberikan kesempatan untuk minum, kesulitan
dalam membuat keputusan; oversleeping, berlebihan menampilkan
tangisan dan emosional. Orang dewasa dibandingkan dengan pemuda, di

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI ALKOHOL 32


kelompok usia yang lebih tinggi menunjukkan kerentanan yang lebih
rendah untuk penyalahgunaan alkohol
Pengaruh alkohol terhadap tubuh terutama sebagai suatu depresan
dan dapat memperlambat kegiatan otak. Hal ini dapat terlihat pada orang
yang tampaknya cenderung malu-malu mungkin mulai berani bicara,
menari atau bahkan akrab dengan orang setelah minum beberapa teguk.
Orang ‘menjadi santai’ setelah minum satu atau dua gelas minuman karena
area dalam otak yang berperan mengontrol rasa malu dan keputusan
menjadi menurun. Orang yang minum berlebih rasa malunya menjadi
berkuranh lebih banyak dan keputusan mereka semakin tidak sempurna.
Ketrampilan seperti menyetir dan fungsi-fungsi intelektual menjadi buruk
ketika alkohol semakin banyak dikonsumsi, kadang-kadang si peminum
menjadi mengantuk dan tertidur. Tingkat keracunan yang tinggi dapat
membuat peminum menjadi koma dan meninggal. Masing-masing akibat
tersebut berbeda sesuai dengan bagaimana tubuh orang tersebut mencerna
alkohol, berat tubuhnya, jumlah alkohol yang dikonsumsi dan apakah
kegiatan minum sebelumnya telah ditoleransi.

C. Kesimpulan
Pada Sampel No.6 yang diperksa mengandungalkohol dengan hasil
positif pada tes Kalium Cromat, Uji FeCl3, Uji Esterifikasi.

D. DaftarPustaka
Irianto, K. 2006. Mikrobiologi. Bandung : CV. Yrama Widya.
Prihandana, R., Noerwijari, Adinurani, Setyaningsih, Setiadi dan
Hendroko 2007. Fermentasi Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) dan
Ubi Jalar (Ipomea batatas L. Sin). UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Skripsi.
Santrock, J. W., (2002). Perkembangan Masa Hidup (Terjemahan dari
Life-Span Development),. Edisi 5, Jilid II, Erlangga: Jakarta.
www.scumdoctor.com/indonesian/abus e, diunduh tanggal 13 Juli 2019.

E. Dokumentasi

Uji KaliumKromat Uji FeCl

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI ALKOHOL 33


LAPORAN RESMI UJI FORMALIN

Sampel : Mie Basah


No. Sampel :6
Percobaan : Kualitatif

A. Hasil Percobaan
1. Uji Tollen
Cara Uji : 1ml AgNO3 ditambah 1ml NaOH 10 tetes NH4OH
ditambah 1ml Sampel dipanaskan.
Hasi : (-) Tidak terbentuk endapan ciklat dan cermin
perak .
2. Uji Kromatofat
Cara Uji : 1ml Sampel ditambah 1ml asam kromatofat 1ml
H2SO4 conc dipanaskan.
Hasil : (+) Terbentuk merah ungu.
3. Uji KMnO4
Cara Uji : 1ml KMnO4 ditambah 1ml sampel
Hasil : (+) Warna ungu luntur
4. Uji Asam Salisilat
Cara Uji :1 ml sampelditambah 10 tetes H2SO4 conc
ditambah 10 tetes asam salisilat dipanaskan.
Hasil : (+) Warana merah tua

B. Pembahasan
Larutan Formaldehide atau formalin merupakan bahan tambahan
kimia yang dilarang ditambahkan kedalambahanpangan (makanan)
yang berfunsi untuk mengawetkan makanan yang mudah rusak,
sehingga memperlambat proses fermentasi dan penguraian mikroba.
Salah satu makanan yangsering ditambahkan pengawet yaitu mie
basah karena relatif mudah rusak dan memilik waktu yang relatif
pendek. Oleh karena itu banyak dari produsen mie basah yang
menambahkan pengawet untuk meperpanjang masa simpan.
Penambahan formali juga memberikan tekstur mie yang lebih kenyal,
lebih awet dan dapatdisimpan hingga empat hari.(Tumbel,2012)
Meskipun demikian, penggunaan formalin dalam makanan telah
dilarang oleh pemerintah dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No
722/Menkes/Per/88 tentang bahan tambahan makanan (Nurheti
Yuliarti, 2007: 10). Penggunaan formalin dalam makanan dilarang

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI FORMALIN 34


karena dapat menim bulkan efek bagi kesehatan. Efek dari bahan
makanan berformalin baru terasa beberapa tahun kemudian.
Kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan
iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker)
dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan),
serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur
darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan
adanya kegagalan peredaran darah (Wisnu Cahyadi, 2006: 234, I Made
Kawi Sukayada, 2006: 11)

C. Kesimpulan
Pada Sampel No.6 yang diperiksa mengandung formalin dengan
hasil positif pada tes Kromatofat, Asam Salisilat.

D. Daftar Pustaka
Tumbel,M. 2012. Analisis Kandungan Borak dalam Mie Basah yang
beredar di Makasar. Jurnal CHEMICA.
Wisnu Cahyadi, 2006, Bahan Tambahan Pangan, Jakarta: Bumi
Aksara.

E. Dokumentasi

Uji Tolluen Uji KaliumKromat

Uji KmnO4 Uji Kromatofat

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI FORMALIN 35


LAPORAN RESMI UJI BORAX

Sanpel : Karak
No. Sampel :6
Percobaan :Kualitatif

A. Hasil Percobaan
1. Uji Nyala
Cara Uji : Masukkan sampel kedalam cawan penguap tambah 1-2
tetes H2SO4 1 pipet etanol kemudian dinyalakan.
Hasil : (-) Nyala api merah

B. Pembahasan
Asam borat atau borax (H3BO3) merupakan senyawa yang
memiliki BM 61,83. Asam borat berbentuk serbuk halus berwarna putih
atau tidak mengkilap atau tidak berwarna, kasar, tidak berbau, dan rasa
agak asam. Borat diturunkan dari sam ortoborat (H3BO3), asam piroborat
(H2B4O7), dan asam metaborat (HBO2). Boraks merupakan senyawa
kimia turunan dari logam berat boron (B) dan biasa digunakan sebagai
bahan anti jamur, pengawet kayu, dan antiseptik pada kosmetik. Bahan
makanan yang menduduki peringkat teratas mengandung formalin dan
boraks adalah ikan laut, mie basah, tahu dan bakso (Panjaitan 2010).
Boraks adalah zat pengawet yang banyak digunakan dalam industri
pembuatan taksidermi, insektarium dan herbarium, tapi kini boraks
cenderung digunakan dalam industri rumah tangga sebagai bahan
pengawet makanan seperti pada pembuatan mie dan bakso (Tumbel,
2010). Menurut Tubagus (2013) boraks adalah senyawa berbentuk kristal
putih tidak berbau dan stabil pada suhu ruangan. Boraks sebagai pengawet
untuk bahan pangan telah dilarang penggunaannya sejak tahun 1979
(Nurhadi 2012). Borat anorganik umumnya digunakan sebagai pengawet
kayu. Boron nitrit merupakan non – metal, bahan keramik oksida dan
mengandung jenis isomer yaitu nitrit boron hexagonal, nitrit boron trigonal
dan nitrit boron kubik (Zhang 2015)

C. Kesimpulan
Pada Sampel No.6 yang diperiksa tidak mengandung borax.

D. Daftar pustaka
Panjaitan, L. 2010. Pemeriksaan dan Penetapan Kadar Boraks
dalam Bakso di Kotamadya Medan. Available at :

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI BORAX 36


http://Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1727 3/ 7/Cover.pdf
(Diakses tanggal : 13 Juli 2019)
Tumbel, M. 2010. Analisis Kandungan Boraks Dalam Mie Basah
yang Beredar di Kota Makassar. Jurnal Chemica Vol. 11 Nomor 1 Juni
2010, 57 – 64.
Zhang, N., Zhang, T., Kan, H., Wang, X. Long, H., Cui, X. 2015.
The Effect of the Boron Source Composition Ratio on the Adsorption
Performance of Hexagonal Boron Nitride Without a template. Journal of
Materials Chemistry and Physics xxx (2015) 1- 6.

E. Dokumentasi

Uji Nyala Api Borax

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI BORAX 37


LAPORAN RESMI UJI TIMBAL (Pb2+)

Sampel : Air Sawah


Percobaan : Kualitatif

A. Cara Kerja
1. Masukkan sampel 5ml dalam tabung reaksi
2. Ukur Ph sampel, lakukan uji jika sampel sudah ph 8 (basa)
3. Tambahan ditizon sebanyak 5ml
4. Homogenkan, dengan menggunakan vortex
5. Buangcairan baigian atas
6. Teteskan cairan bagian bawah pada droupel plate
7. Jika sampel (+) : berwarna merah
(-) : berwarna hijau
B. Hasil :
(-) Sampel tidak mengandung timbal (Pb) berwarna hijau
C. Pembahasan
Timbal (Pb) merupakan logam berat berwarna abu-abu kebiruan
yang memiliki titik lebur rendah dan mudah dibentuk serta
dikombinasikan dengan logam lain untuk membentuk logam campuran
(WHO 2010:15). Dikatakan logam berat karena memiliki densitas yang
sangat tinggi (11.3 g/cm3 ) bila dibandingkan dengan logam-logam umum
lainnya, seperti Mg yang hanya sebesar 1.7 g/cm3 (Andrews et al.
2004:170). Timbal merupakan unsur dengan nomor atom 82 yang
memiliki konduktivitas panas sebesar 35.3 W/mK, resisten elektrik sebesar
20.8 µΩ cm, dan koefisien ekspansi panas sebesar 28.9 x 106 (Dean
1999:4.3). Karena alasan ini, timbal banyak digunakan manusia dalam
beragam produk seperti: pipa, baterai, pewarna dan cat, pendingin,
pemberat, senapan dan amunisi, kabel, dan perisai radiasi (WHO
2010:15).
Menurut WHO (2010:17), ada 5 komponen jalur paparan timbal,
yaitu (1) sumber kontaminasi (seperti cat bertimbal pada dinding, pintu,
dan jendela rumah; penggunaan baterai mobil; pembakaran limbah), (2)
media lingkungan dan mekanisme transportasi (seperti debu yang
terkontaminasi timbal di lantai rumah, asap bertimbal dari pembakaran,
atau pembakaran premium bertimbal), (3) titik paparan (seperti tangan
anak-anak, lantai, atau mainan anak-anak), (4) rute paparan (seperti
memakan debu melalui perilaku makan dengan tangan), dan (5) penduduk
yang terpapar (seperti anak-anak di lingkungan rumah atau wanita hamil
pada lingkungan atau tempat kerja yang tercemar).
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI TIMBAL 38
(Pb2+)
Paparan dan keracunan timbal ternyata juga dapat menyerang
embrio dan janin yang masih dalam rahim ibunya. Dalam toksikologi,
keracunan tersebut (termasuk oleh logam berat seperti timbal) dikenal
dengan istilah developmental toxicity, yang menurut Branch (2004:251)
merupakan perubahan morfologi dan fungsional yang disebabkan oleh
gangguan kimia atau fisik yang mengganggu pertumbuhan normal,
homeostasis, perkembangan, diferensiasi, dan/atau perilaku.
Timbal (Pb) mempunyai sifat persisten dan toksik serta dapat
terakumulasi dalam rantai makanan. Absorpsi timbal di dalam tubuh
sangat lambat, sehingga terjadi akumulasi dan menjadi dasar keracunan
yang progresif. Keracunan timbal ini menyebabkan kadar timbal yang
tinggi dalam aorta, hati, ginjal, pankreas, paru-paru, tulang, limpa, testis,
jantung dan otak.
Pencemaran logam berat, salah satunya timbal kemungkinan
disebabkan oleh belum optimalnya pengelolaan limbah industri di
kawasan hulu, sehingga berdampak pada badan perairan. Hal tersebut bisa
dipastikan dengan terdapatnya kandungan timbal pada biota laut. Dalam
hal ini, Desa Grinting merupakan salah satu desa yang berada di kawasan
Kabupaten Brebes yang mana letak lokasinya terletak di pantai utara laut
jawa sebagaimana daerah pantai lainnya dan potensial terhadap pajanan
timbal. Hal itu didasari atas pemeriksaan yang dilakukan pada beberapa
produk laut dan hasilnya menunjukkan bahwa kadar timbal pada ikan
bandeng sebesar 0,039 mg/kg pada udang sebesar 0,61, pada kerang 0,72
mg/kg dan pada cumi-cumi sebesar 0,41 mg/kg. Kandungan timbal tesebut
hampir mendekati nilai ambang batas, namun jika di konsumsi secara terus
menerus akan terakumulasi didalam tubuh dan menyebabkan gangguan
kesehatan.
Efek timbal pada tubuh secara terus menerus akan menyebabkan
keracunan timbal pada manusia dari berbagai kalangan usia, namun risiko
tertinggi terutama terjadi pada wanita hamil, anakanak dan pekerja di
industri tertentu yang menggunakan bahan baku atau bahan tambahan dari
timbal. Paparan timbal pada tubuh manusia dapat meningkatkan kadar
ALA (Aminolevulinic Acid) dalam darah dan urin, menigkatkan kadar
protoporphirin dalam sel darah merah, memperpendek umur sel darah
merah (eritrosit), menurunkan jumlah sel darah merah, menurunan kadar
retikulosit (sel-sel darah merah yang masih muda) dan meningkatkan
kandungan logam Fe dalam plasma darah.

D. Kesimpulan

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI TIMBAL 39


(Pb2+)
Sampel Air sawah yang diperiksa tidak mengandung logam berat
2+
Pb

E. Daftar Pustaka
[WHO] World Health Organization. 2010. Childhood Lead Poisoning.
Geneva. WHO.
Branch S. 2004. Teratogenesis. Di dalam: Hodgson E. Editor. A Textbook
of Modern Toxicology (third edition). New Jersey. John Wiley &
Sons
Darmono. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Hubungannya dengan
Toksikologi Senyawa Logam. Jakarta: UI Press. 2001

F. Dokumentasi

Uji Pb2+

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI TIMBAL 40


(Pb2+)
LAPORAN RESMI UJI COHb dalam Darah

Sampel : Darah EDTA


Percobaan : Uji Kuantitatif
Metode : Hindsberg

A. Hasil Percobaan
Cara Kerja :
A. Penentuan Panjang Gelombang Maksimal
Larutan amonia 0,1% ditambahkan whole blood 10 μL dan 25 mg
Sodium Dithionit dimasukkan kedalam tabung reaksi, homogenkan,
kemudian masukkan kedalam kuvet dan dilakukan pembacaan absorbansi
pada panjang gelombang (𝜆) 400 – 700 nm. Panjang gelombang
maksimum didapat dari absorbansi tertinggi.
B. Penentuan Operating Time
Operating Time dilakukan dengan cara larutan amonia 0,1% 20 ml
ditambah whole blood 10 μL, homogenkan, ambil 4 mL dan 25 mg
Sodium Dithionit (nyalakan stopwatch dari awal bereaksi) homogenkan.
Larutan tersebut diukur pada detik ke 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8,....., 3600
(sampai konstan).
C. Perosedur pemerikasaan COHb
1. Disiapkan 2 tabung reaksi seukuran 5 mL, masing – masing diberi
label R1 (reagen) dan SPL (reagen sampel)
2. Memipet 20 mL larutan ammonia 0,1% dan masukan ke dalam
erlenmeyer
3. Kemudian ditambahkan 10 μL sampel darah, campur hingga
homogen
4. Memipet 4 mL larutan campuran tersebut, masukkan ke dalam tabung
SPL dan 4 ml ke tabung R1
5. Kemudian tambahkan 25 mg Sodium Dithionit ke dalam tabung SPL,
campur sampai homogen
6. Absorbansi R1 dan sampel dibaca dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang maksimal.
7. Absorbansi R1 disebut (ΔA) dan absorbansi standar sampel disebut
ΔarHb

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI COHb dalam 41


Darah
Hasil : 6,12%

B. Pembahasan
Karbon monoksida (CO) merupakan silent killer karena sifat
fisiknya yang tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak berbau, tetapi dalam
konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kematian pada manusia yang
terpapar dengan cepat (Cooper dan Alley., 2011). Semua jenis pembakaran
tidak sempurna dari proses alam yang mengandung bahan bakar karbon
menghasilkan CO. Kegiatan manusia yang paling banyak menghasilkan
CO adalah pembakaran 60 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No. 1
Janurari 2018: 59–69 mesin, peralatan berbahan bakar gas, minyak, kayu,
atau batu bara, dan pembuangan limbah padat. Penggunaan rokok atau
kayu bakar untuk memasak merupakan contoh akumulasi CO dalam
ruangan tertutup (Wu dan Wang, 2005).
Keracunan gas CO sulit untuk dideteksi karena gejalanya yang
bersifat umum dan mirip dengan gejala flu. Tetapi paparan gas CO pada
dosis tinggi dapat mempengaruhi otak, menyebabkan mual, dan kematian
(Mukono, 2011).
Timbal (Pb) dapat merusak beberapa fungsi ginjal, hati, merusak
sistem saraf, mengganggu perkembangan sel darah merah, kebutaan
bahkan keterbelakangan mental. Organ target utama timbal (Pb) adalah
sistem hematopoetik, sistem saraf pusat, sistem saraf tepi, dan ginjal.
Timbal (Pb) dapat merusak fungsi koagulasi melalui cedera jaringan
endotel dan pengurangan oksida nitrat.12 Timbal (Pb) dapat
mempengaruhi sistem hematopoetik yaitu dengan menghambat
pembentukan sel-sel darah termasuk menghambat diferensiasi leukosit dan
trombosit dari myeloblast dalam sumsum tulang. Keracunan timbal yang
kronik dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan megakariosit.

C. Kesimpulan
Kadar COHb dalam sampel darah lab yang diperiksa adalah 6,12%
lebih dari normal.

D. Daftar Pustaka
Mukono, J. 2011. Aspek Kesehatan Pencemaran Udara. Surabaya:
Airlangga University Press.
Wu, L., & Wang, R. 2005. Carbon Monoxide: Endogenous Production,
Physiological Function, and Pharmacological Applications.
Pharmacological Reviews December 2005. Vol. 57 No. 4 pp. 585–
630.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI | LAPORAN RESMI UJI COHb dalam 42


Darah