Anda di halaman 1dari 34

REFERAT

Airway Management

Pembimbing :
dr. Yudianto , Sp.An , KIC

Disusun Oleh :
Retno Setya Kemala (20190420166)

BAGIAN ILMU ANESTESI


RSU HAJI SURABAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2019

1
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
referat tentang “airway management”.
Referat ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan referat ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami
dapat memperbaiki referat ini.
Akhir kata kami berharap semoga referat “airway management” ini dapat
memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Surabaya, 25 Mei 2018


Dokter Pembimbing

dr. Yudianto , Sp.An , KIC

2
DAFTAR ISI

Lembar pengesahan....................................................................................................2
BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................................4
BAB II TINJAUAN

BAB III
KESIMPULAN...........................................................................................................15
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................................16

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bila seseorang terjadi henti nafas , jantung dapat terus memompa darah selama
beberapa menit dan sisa O2 yang ada dalam paru dan darah akan terus beredar ke dalam
otak dan organ vital lain. Penanganan awal pada korban yang mengalami henti napas
atau sumbatan jalan napas dapat mencegah terjadinya henti jantung. Bila terjadi henti
jantung , O2 tidak akan beredar dan O2 yang tersisa dalam organ vital akan habis dalam
beberapa detik. Henti jantung dapat disertai oleh fibrilasi ventrikuler takikardi ventrikular,
asistole ventrikular atau disosiasi elektromekanis.
Pada kasus ini harus ditangani dengan segera dan sangat tergantung pada
kecepatan serta ketepatan dalam memberikan pertolongan. Semakin cepat tindakan
yang dilakukan maka semakin cepat korban dapat tertolong. Kondisi kekurangan O 2 ini
dapat menyebabkan kerusakan pada otak hingga dapat menyebabkan kematian secara
cepat.
Penilaian terhadap pembebasan jalan nafas atau dikenal sebagai airway
management sangat penting. Tindakan ini dilakukan untuk memastikan agar jalan napas
terbuka dan untuk keberhasilan dari resusitasi adalah segera melakukan perbaikan pada
saluran pernapasan dengan cara triple airway manuever serta melakukan tindakan baik
dengan menggunakan alat atau tidak menggunakan alat.

1.2. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui tentang management
airway.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Airway Management adalah memastikan jalan napas agar terbuka. Tindakan yang
paling penting untuk keberhasilan resusitasi adalah segera melapangkan saluran
pernapasan dengan tujuan agar jalan masuknya udara ke paru secara normal sehingga
menjamin kecukupan oksigen tubuh.

2.2 Anatomi
a) Hidung
Jalan nafas yang normal dimulai dari hidung. Udara lewat melalui hidung yang
berfungsi sangat penting yaitu untuk penghangatan dan melembabkan (humidifikasi).
Hidung adalah jalan utama pada pernafasan normal jika tidak ada obstruksi oleh polip
atau infeksi saluran nafas atas. Selama bernafas tenang , tahanan aliran udara yang
melewati hidung sejumlah hampir dua per tiga dari total tahanan jalan nafas. Tahanan
yang melalui hidung adalah hampir dua kali bila dibandingkan melalui mulut. Ini
menjelaskan mengapa pernafasan mulut digunakan ketika aliran udara tinggi dibutuhkan
seperti pada saat aktivitas berat. Inervasi sensoris pada mukosa berasal dari nervus
trigeminal. Nervus ethmoidalis anterior menginervasi pada septum anterior, dinding
lateral, sedangkan pada area posterior di inervasi oleh nervus nasopalatina dari ganglion
sphenopalatina. Anestesi lokal dengan topikal cukup efektif memblokade nervus
ethmoidalis anterior dan nervus maksila bilateral.

b) Faring
Faring meluas dari bagian belakang hidung turun ke kartilago krikoid berlanjut
sampai esofagus. Bagian atas atau nasofaring dipisahkan dengan orofaring dibawahnya
oleh jaringan palatum mole. Prinsip kesulitan udara melintas melalui nasofaring kerena
menonjolnya struktur jaringan limfoid tonsiler. Lidah adalah sumber dari obstruksi pada
orofaring, biasanya karena menurunnya tegangan muskulus genioglosus, yang bila

5
berkontraksi berfungsi menggerakkan lidah kedepan selama inspirasi dan berfungsi
sebagai dilatasi faring.

c) Laring
Laring terbentang pada level Servikal 3 sampai 6 vertebra servikalis. Strukturnya
terdiri dari otot, ligamen dan kartilago. Ini termasuk tiroid, krikoid, aritenoid, kornikulata
dan epiglotis. Epiglotis, sebuah kartilago fibrosa, memiliki lapisan membran mukus,
merupakan lipatan glosoepiglotis pada permukaan faring dan lidah. Pada bagian yang
tertekan disebut velecula. Velecula ini adalah tempat diletakkannya ujung blade
laringokop Macinthos. Epiglotis menggantung pada bagian dalam laring dan tidak dapat
melindungi jalan nafas selama udema. 1 Rongga laring meluas dari epiglotis ke kartilago
krikoid dibagian bawah. Bagian dalam dibentuk oleh epiglotis, gabungan apek kartilago
arytnenoid, lipatan aryepiglotis, Bagian dalam rongga laring adalah lipatan vestibuler
cincin sempit dan jaringan fibrus pada tiap sisinya. Ini perluasan dari permukaan
anterolateral aritenoid, sudut tiroid, dimana yang terakhir berikatan dengan epiglotis.
Lipatan ini adalah sebagai korda vokalis palsu, yang terpisah dari korda vokalis
sesungguhnya oleh sinus laringeal atau ventrikel. Korda vokalis yang sesungguhnya
pucat, putih, struktur ligamen melekat pada sudut tiroid bagian belakang. Celah triangular
antara korda vocalis saat glotis terbuka merupakan segmen tersempit pada orang
dewasa. Pada anak kurang dari 10 tahun, bagian tersempit adalah dibawah plika vocalis
pada level setinggi cincin krikoid. Panjang rata-rata pembukaan glotis sekitar 23 mm pada
laki-laki 17 mm pada wanita. Lebar glotik adalah 6-9 mm tapi dapat direntangkan sampai
12 mm. Penampang melintang glotis sekitar 60 – 100 mm2 Bidang pembahasan pada
bab ini tidak memungkinkan membahas secara mendetail aksi dari otot-otot laring,
namun demikian otot-otot ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga group berdasarkan
aksinya pada korda: abduktor, adduktor, dan regulasi tegangan. Seluruh inervasi motorik
dan sensorik pada otot-otot laring berasal dari dua cabang nervus vagus yaitu nervus
superior dan rekuren laring, yang secara ringkas disajikan dalam tabel 4.1

6
d) Trakea
Trakea adalah sebuah struktur berbentuk tubulus yang mulai setinggi Cervikal 6
columna vertebaralis pada kartilago tiroid. Trakea mendatar pada bagian posterior,
panjang sekitar 10 – 15 cm, didukung oleh 16 – 20 tulang rawan yang berbentuk tapal
kuda sampai bercabang menjadi dua atau bifurkasio menjadi brokus kanan dan kiri pada
thorakal 5 kolumna vertebaralis. Luas penampang melintang lebih besar dari glotis,
antara 150 – 300 mm2. Beberapa tipe reseptor pada trakea, sensitip terhadap stimulus
mekanik dan kimia. Penyesuaian lambat reseptor regang yang berlokasi pada otot-otot
dinding posterior, membantu mengatur rate dan dalamnya pernafasan, tetapi juga
menimbulkan dilatasi pada bronkus melalui penurunan aktivitas afferen nervus vagus.
Respon cepat resptor iritan yang berada pada seluruh permukaan trakea berfungsi
sebagai reseptor batuk dan mengandung reflek bronkokontriksi.

7
2.3 Obstruksi Jalan Napas
2.3.1 Obstruksi jalan napas atas
Obstruksi saluran napas atas adalah sumbatan yang terdapat pada saluran napas atas
(laring) yang biasanya disebabkan karena radang, benda asing, trauma, tumor dan

8
kelumpuhan nervus rekuren bilateral sehingga ventilasi pada saluran pernapasan
terganggu.
a) Etiologi
atresia koane
stenosis supraglotis, glotis dan infraglotis
kongenital kista ductus tiroglossus
kista bronkiegen besar
laringoekel yang besar
laringotrakeitis
epiglotitis
radang hipertropi adenotonsiler
angina ludwig
abses parafaring atau retrofaring
ingesti kaustik
patah tulang wajah atau mandibula
cedera laringotrakeal
traumatik
intubasi lama : edema / stenosis
dislokasi krikoaritenoid
paralisis n. laringeus rekurens bilateral
hemangioma
higroma kistik
papiloma laring rekuren
tumor
limfoma
tumor ganas tiroid
karsinoma sel skuamosa laring
benda asing
lain-lain
edema angioneurotik
 Kelainan Kongenital
Atresia koane
Koane dapat menyumbat total atau sebagian dan di satu atau dua sisi karena
kegagalan absorpsi membran bukofaringeal. Obstruksi mungkin berupa membran atau
tulang. Gejalanya ialah kesulitan bernapas dan keluar sekret hidung terus menerus.
Diagnosis mudah dibuat dengan timbulnya sianosis pada waktu diam yang menghilang
pada waktu menangis, dan melihat sumbatan di belakang rongga hidung.

9
 Radang
Angina Ludwig
Angina Ludwig adalah selulitis di dasar mulut dan leher akut yang invasif,
menyebabkan udem hebat di leher bagian atas yang dapat menyumbat jalan napas.
Kuman penyebab biasanya streptokokus atau stafilokokus.

 Trauma
Menelan bahan kaustik
Larutan asam kuat seperti asam sulfat, nitrat dan hidroklorit, atau basa kuat seperti
soda kaustik, potasium kaustik dan ammonium bila tertelan dapa mengakibatkan
terbakarnya mukosa saluran cerna. Pada penderita yang tak sengaja minum bahan
tersebut, kemungkinan besar luka baker hanya pada mulut dan faring karena bahan
tersebut tidak ditelan dan hanya sedikit saja masuk ke dalam lambung.

Trauma trakea
Trauma tajam atau tumpul pada leher dapat mengenai trakea. Trauma tumpul
tidak menimbulkan gejala atau tanda tetapi dapat juga mengakibatkan kelainan hebat
berupa sesak napas, karena penekanan jalan napas atau aspirasi darah atau emfisema
kutis bila trakea robek. Dari pemeriksaan photo roentgen dapat dilihat benda asing,
trauma penyerta seperti fraktur vertebra servikal atau emfisema di jaringan lunak di
mediastinum, leher dan subkutis.

Dislokasi krikoaritenoid
Trauma pada laring dapat menyebabkan dislokasi persendian krikoaritenoid yang
mengakibatkan suara parau disertai obstruksi jalan napas bagian atas. Pada
pemeriksaan roentgen leher tampak dislokasi struktur laring, penyempitan jalan napas,
dan udem jaringan lunak. Penanganannya berupa trakeotomi, kemudian dislokasi
direposisi secara terbuka dan dipasang bidai dalam. Kelambatan penanganan dislokasi
krikoaritenoid dapat mengakibatkan stenosis laring.

Paralisis korda vokalis bilateral


Kedua pita suara tidak dapat bergerak sedangkan posisinya paramedian dan
cenderung bertaut satu sama lain waktu inspirasi. Penderita mengalami sesak napas
hebat yang mungkin memerlukan intubasi dan atau trakeotomi.

 Tumor
Neoplasma tiroid
Karsinoma tiroid dapat berinvasi ke laring dan mempengaruhi jalan napas. Adanya
invasi ini harus dicurigai bila tumor tiroid tidak dapat digerakkan dari dasarnya, disertai
suara parau dan gangguan napas. Pada pemeriksaan photo roentgen leher terlihat
10
distorsi laring atau bayangan suatu massa yang menonjol ke lumen laring dan trakea.
Kadang tumor tiroid berada pada saluran napas atas secara primer. Diduga tumor primer
di laring atau trakea bagian atas berasal dari sisa tiroid yang terletak dalam submukosa
yang melapisi krikoid dan cincin trakea atas yang ditemukan pada 1-2 % populasi. Tumor
ini harus dieksisi dengan laringektomi.

b) Diagnosis Obstruksi Saluran Napas Atas


Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisik, serta
pemeriksaan penunjang.

Gejala dan tanda sumbatan yang tampak adalah :


 Serak (disfoni) sampai afoni
 Sesak napas (dispnea)
 Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi.
 Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal, epigastrium,
supraklavikula dan interkostal. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otot-otot
pernapasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat.
 Gelisah karena pasien kekurangan udara (air hunger)
 Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui letak obstruksi adalah
:

 Laringoskop. Dilakukan bila terdapat sumbatan pada laring.


 Nasoendoskopi
 X-ray. Dilakukan pada foto torak yang mencakup saluran nafas bagian atas.
Apabila sumbatan berupa benda logam maka akan tampak gambaran radiolusen.
Pada epiglotitis didapatkan gambaran thumb like.
 Foto polos sinus paranasal
 CT-Scan kepala dan leher
 Biopsi

c) Tindakan pada Obstruksi Saluran Napas Atas


Penanggulangan pada obstruksi saluran napas atas diinginkan agar jalan napas lancar
kembali.

 Tindakan konservatif : diberikan anti-inflamasi , anti alergi , antibiotika dan oksigen


yang disebabkan karena radang.
 Tindakan operatif/ resusitasi : memasukkan pipa endotrakeal melalui mulut atau
krikotirotomi.

Untuk mengatasi gangguan pernapasan bagian atas ada tiga cara, yaitu :
11
Intubasi
 Intubasi dilakukan dengan memasukkan pipa endotrakeal lewat mulut atau
hidung.
 Intubasi endotrakea merupakan tindakan penyelamat (lifesaving procedure) dan
dapat dilakukan tanpa atau dengan analgesia topikal dengan xylocain 10%.
 Indikasi intubasi endotrakea adalah :
- Untuk mengatasi obstruksi saluran napas bagian atas.
- Membantu ventilasi.
- Memudahkan mengisap sekret dari traktus trakeobronkial.
- Mencegah aspirasi sekret yang ada di rongga mulut atau berasal dari
lambung.
 Keuntungan intubasi, yaitu:
- Tidak cacat karena tidak ada jaringan parut.
- Mudah dikerjakan.
 Kerugian intubasi, yaitu:
- Dapat terjadi kerusakan lapisan mukosa saluran napas atas.
- Tidak dapat digunakan dalam waktu lama.
Orang dewasa 1 minggu, anak-anak 7-10 hari.
- Tidak enak dirasakan penderita.
- Tidak bisa makan melalui mulut.
- Tidak bisa bicara.
 Komplikasi : stenosis laring atau trakea.
 Teknik intubasi endotrakea:
- Posisi pasien tidur telentang, leher fleksi sedikit dan kepala ekstensi
- Laringoskop dengan spatel bengkok dipegang dengan tangan kiri,
dimasukkan melalui mulut sebelah kanan, sehingga lidah terdorong ke
kiri. Spatel diarahkan menelusuri pangkal lidah ke valekula, lalu
laringoskop diangkat keatas, sehingga pita suara dapat terlihat.
- Dengan tangan kanan, pipa endotrakea dimasukkan melalui mulut
terus melalui celah antara kedua pita suara kedalam trakea.
- Kemudian balon diisi udara dan pipa endotrakea difiksasi dengan baik.

12
- Jika menggunakan spatel laringoskop yang lurus maka pasien yang
tidur telentang itu pundaknya harus diganjal dengan bantal pasir,
sehingga kepala mudah diekstensikan maksimal.
- Laringoskop dengan spatel yang lurus dipegang dengan tangan kiri
dan dimasukkan mengikuti dinding faring posterior dan epiglotis
diangkat horizontal ketas bersama-sama sehingga laring jelas terlihat.
- Pipa endotrakea dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan
melalui celah pita suara sampai di trakea. Kemudian balon diisi udara
dan pipa endotrakea difiksasi dengan plester.

13
Laringotomi (Krikotirotomi)
 Laringotomi dilakukan dengan membuat lubang pada membran tirokrikoid
(krikotirotomi).
 Krikotiromi merupakan tindakan penyelamat pada pasien dalam keadaan gawat
napas. Bahayanya besar tetapi mudah dikerjakan, dan harus dikerjakan cepat
walaupun persiapannya darurat.
 Krikotirotomi merupakan kontraindikasi pada anak di bawah usia 12 tahun,
demikian juga pada tumor laring yang sudah meluas ke subglotik dan terdapat
laringitis.
 Bila kanul dibiarkan terlalu lama maka akan timbul stenosis subglotik karena kanul
yang letaknya tinggi akan mengiritasi jaringan-jaringan di sekitar subglotis,
sehingga terbentuk jaringan granulasi dan sebaiknya diganti dengan trakeostomi
dalam waktu 48 jam.
 Teknik krikotirotomi:
- Pasien tidur telentang dengan kepala ekstensi pada artikulasi
atlantooksipitalis.
- Puncak tulang rawan tiroid mudah diidentifikasi difiksasi dengan jari
tangan kiri.
- Dengan telunjuk jari tangan kanan tulang rawan tiroid diraba ke bawah
sampai ditemukan kartilago krikoid. Membran krikotiroid terletak di
antara kedua tulang rawan ini. Daerah ini diinfiltrasi dengan
anestetikum kemudian dibuat sayatan horizontal pada kulit.
- Jaringan di bawah sayatan dipisahkan tepat pada garis tengah.
- Setelah tepi bawah kartilago terlihat, tusukkan pisau dengan arah ke
bawah.
- Kemudian masukkan kanul bila tersedia. Jika tidak, dapat dipakai pipa
plastik untuk sementara.

14
Trakeostomi
 Trakeostomi adalah suatu tindakan bedah dengan mengiris atau membuat lubang
sehingga terjadi hubungan langsung lumen trakea dengan dunia luar untuk
mengatasi gangguan pernapasan bagian atas.
 Indikasi trakeostomi adalah:
1. Mengatasi obstruksi laring.
2. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran pernapasan atas.
3. Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus.
4. Untuk memasang alat bantu pernapasan (respirator).
5. Untuk mengambil benda asing di subglotik, apabila tidak mempunyai fasilitas
bronkoskopi.
 Keuntungan dilakukan trakeostomi yaitu:
- Dapat dipakai dalam waktu lama.
- Trauma saluran napas tidak ada.
- Penderita masih dapat berbicara sehingga kelumpuhan otot laring
dapat dihindari.
- Penderita merasa enak dan perawatan lebih mudah- Penderita dapat
makan seperti biasa.
- Menghindari aspirasi, menghisap sekret bronkus.

15
- Jalan napas lancar, meringankan kerja paru.
 Kerugian trakeostomi, yaitu:
- Tindakan lama.
- Cacat dengan adanya jaringan sikatrik.
 Jenis irisan trakeostomi ada dua macam:
- Irisan vertikal di garis median leher.
- Irisan horizontal.
 Berdasarkan jenis trakeostomi:
- Trakeostomi letak tinggi, yaitu di cincin trakea 2-3.
- Trakeostomi letak tengah, yaitu setinggi trakea 3-4.
- Trakeostomi letak rendah, yaitu setinggi cincin trakea 4-5.
 Untuk perawatan trakeostomi, yang harus diperhatikan adalah:
1. Kelembaban udara masuk.
- Dapat dilakukan dengan uap air basah hangat.
- Nebulizer.
- Kassa steril yang dibasahi diletakkan di permukaan stoma.
2. Kebersihan dalam kanul.
- Jangan tersumbat oleh sekret, dianjurkan disuksion ½ -1 jam
pada 24 jam pertama dan tidak boleh terlalu lama setiap suction,
biasanya 10-15 detik. Bila lama penderita bisa sesak atau
hipoksia atau cardiac arrest.
- Lakukanlah berkali-kali sampai bersih.
3. Anak: kanul dibersihkan setiap hari kemudian pasang kembali.

 Pengangkatan kanul dilakukan secepatnya, atau dengan indikasi berikut:


- Tutup lubang trakeostomi selama 3 menit, penderita tidak sesak.
- Dalam 25 jam tidak ada keluhan sesak bila lubang trakeostomi ditutup
waktu tidur, makan dan bekerja.
- Penderita sudah dapat bersuara.
 Komplikasi trakeostomi:
- Waktu operasi:
Perdarahan, lesi organ sekitarnya, apnea dan shock.
16
- Pasca operasi:
Infeksi, sumbatan, kanul lepas, erosi ujung kanul atau desakan cuff
pada pembuluh darah, fistel trakeokutan, sumbatan subglotis dan
trakea, disfagia, granulasi.
 Teknik trakeostomi:
- Penderita tidur telentang dengan kaki lebih rendah 30˚ untuk
menurunkan tekanan vena di daerah leher. Punggung diberi ganjalan
sehingga terjadi ekstensi. Leher harus lurus, tidak boleh laterofleksi
atau rotasi.
- Dilakukan desinfektan daerah operasi dengan betadin atau alkohol.
- Anestesi lokal subkutan, prokain 2% atau silokain dicampur dengan
epinefrin atau adrenalin 1/100.000. Anestesi lokal atau infiltrasi ini
tetap diberikan meskipun trakeostomi dilakukan secara anestesi
umum.
- Dilakukan insisi.
- Insisi vertikal: dimulai dari batas bawah krikoid sampai fossa
suprasternum, insisi ini lebih mudah dan alir sekret lebih mudah
- Insisi horizontal: dilakukan setinggi pertengahan krikoid dan fossa
sternum, membentang antara kedua tepi depan dan medial
m.sternokleidomastoid, panjang irisan 4-5 cm.
Irisan mulai dari kulit, subkutis, platisma sampai fasia colli superfisial
secara tumpul. Bila tampak ismus, maka ismus disisikan ke atas atau
ke bawah. Bila mengalami kesukaran dan tidak memungkinkan,
potong saja.

- Bila sudah tampak trakea maka difiksasi dengan kain tajam. Kemudian
suntikkan anestesi lokal kedalam trakea sehingga tidak timbul batuk
pada waktu memasang kanul.
- Stoma dibuat pada cincin trakea 2-3 bagian depan, setelah dipastikan
trakea yaitu dengan menusukkan jarum suntik dan letakkan benang
kapas tersebut. Kemudian kanul dimasukkan dengan bantuan dilator.
- Kanul difksasi dengan pita melingkar leher, jahitan kulit sebaiknya
jahitan longgar agar udara ekspirasi tidak masuk ke jaringan dibawah
kulit.

17
18
Heimlich Maneuver
 Heimlich Maneuver adalah suatu cara mengeluarkan benda asing yang
menyumbat di laring secara total atau benda asing ukuran besar yang terletak di
hipofaring.
 Prinsip mekanisme perasat heimlich adalah dengan memberi tekanan pada paru.
Diibaratkan paru sebagai sebuah botol plastik berisi udara yang tertutup oleh
sumbatan. Dengan memencet botol plastik itu sumbatan akan terlempar keluar.
 Heimlich ini dapat dilakukan pada orang dewasa dan juga pada anak.
 Komplikasi yang dapat terjadi adalah ruptur lambung, ruptur hati dan fraktur iga.
 Teknik perasat heimlich:
- Penolong berdiri di belakang pasien sambil memeluk badannya.
- Tangan kanan dikepalkan dan dengqan bantuan tangan kiri, kedua
tangan diletakkan pada perut bagian atas.
- Kemudian dilakukan penekanan pada rongga perut kearah dalam dan
kearah atas dengan hentakan beberapa kali. Diharapkan dengan
hentakan 4-5 kali benda asing akan terlempar keluar. Pada anak,
penekanan cukup dengan memakai jari telunjuk dan jari tengah kedua
tangan.
- Pada pasien yang tidak sadar atau terbaring, dapat dilakukan dengan
cara penolong berlutut dengan kedua kaki pada kedua sisi pasien.
Kepalan tangan diletakkan di bawah tangan kiri di daerah epigastrium.
- Dengan hentakan tangan kiri ke bawah dan ke atas beberapa kali
udara dalam paru akan mendorong benda asing keluar.

19
2.3.2 Obstruksi jalan napas bawah
Obstruksi Traktus Trakeo-Bronkial yaitu sumbatan yang terjadi pada trakea dan bronkus.
a. Etiologi : Sumbatan trakea antara lain disebabkan karena trakeomalasia, benda
asing, tumor, dan stenosis trakea. Sumbatan bronkus disebabkan oleh gangguan
ventilasi dan drainase secret bronkus. Secara fisiologis bronkus yang tidak
tersumbat sangat erat hubungannya dengan ventilasi dan drainase paru, daya
pertahanan paru, tekanan intrapulmonal, keseimbangan sirkulasi dan tekanan
karbondioksida.

20
Drainase paru secara normal, bila terdapat infeksi traktus trakeobronkial dilakukan
dengan:
 gerak silia
 batuk
 mendeham sehingga sekret yang terkumpul dapat dikeluarkan, sebelum
terjadi penyempitan saluran napas.
Faktor penyebab sumbatan bronkus ialah:
 Aspirasi amnion intra-uterin pada neonates
 sekret dan eksudat (benda asing endogen)
 peradangan yang menyebabkan edema mukosa, fibrosis, dan sikatriks
 obat-obat seperti opiate dan sulfas- atropine yang menyebabkan sekret
kental, sehingga sukar dibatukkan keluar
 pembedahan
Dalam tindakan pembedahan yang dapat menyebabkan sumbatan saluran napas
ialah:
 obat premedikasi, seperti sulfas atropine
 obat pasca bedah, seperti obat antitusif
o pembedahan dengan narkosis umum yang terlalu lama, sehingga drainase
sekret tidak lancar
o pengisapan sekret di traktus trakeo-bronkial yang kurang sempurna pasca
bedah
o pembedahan di rongga toraks dan abdomen. Rasa nyeri pada waktu
bernapas dan batuk menyebabkan pasien takut membatukkan sekretnya
keluar
 posisi tidur pasca bedah yang menyukarkan aliran sekret.
Faktor penyebab sumbatan lain ialah
o tumor jinak atau ganas yang terdapat di dalam atau di luar lumen yang
menekan dinding bronkus
 kelenjar getah bening yang menekan dinding bronkus
 alergi, seperti pada asma
 benda asing eksogen

21
b. faktor predisposisi
 umur
 jenis kelamin dan kelainan anatomi traktus trakeobronkial.
Lokasi penyebab sumbatan bronkus Sumbatan bronkus dapat disebabkan oleh
 sumbatan di dalam lumen bronkus
 kelainan dinding traktus trakeobronkial
 kelainan di luar traktus trakeobronkial.
Sumbatan didalam lumen bronkus, seperti oleh
a) benda asing eksogen, yaitu benda asing yang berasal dari luar traktus
trakeobronkial (misal: gigi yang copot), atau benda asing yang berasal dari
luar tubuh,
b) benda asing endogen, yaitu yang berasal dari dalam traktus
trakeobronkial, seperti sekret kental, darah, nanah, krusta.
Kelainan dinding traktus trakeobronkial, yang dapat menyebabkan terjadinya
sumbatan lumen, seperti:
a) peradangan, edema mukosa, ulkus, penebalan mukosa, jaringan
granulasi
b) kelainan cincin trakea dan bronkus, seperti adanya penonjolan
c) kelainan kelenjar limfa di mukosa dan submukosa
d) kelainan pembuluh darah pada dinding trakea dan bronkus, penebalan
pembuluh darah
e) tumor di dinding bronkus
f) jaringan sikatriks.
Kelainan di luar traktus trakeobronkial, yang menekan lumen, seperti
a) penekanan oleh pembuluh darah aorta pada aneurisma aorta, arteri
pulmonalis
b) pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar timus
c) pembesaran kelenjar limfa di sekitar trakea, bronkus, dan mediastinum,
d) kelainan di daerah mediastinum dan jantung, seperti tumor mediastinum,
pembesaran atrium kanan, benda asing di esophagus.

22
Diagnosis Diagnosis sumbatan bronkus ditentukan dengan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan radiologic. Sumbatan bronkus dapat ditemukan pada hampir semua
penyakit bronkopneumonia.
Gejalanya tergantung pada luas sumbatan, dari yang ringan sampai yang
berat. Yang ringan ialah rasa tidak nyaman ketika bernapas, sedangkan yang
berat ialah terdapatnya asfiksia. Gejalanya ialah:
1) suara mengi terdengar di mulut
2) dispnea
3) asfiksia.
Pada pemeriksaan fisik mungkin terdapat atelektasis atau emfisema paru.
Gambar radiologic juga memperlihatkan gambaran atelektasis atau emfisema
paru.
c. Tatalaksana
Penanggulangan obstuksi pada trakea bertujuan untuk memperlancar saluran
napas. Pada benda asing akan dilakukan bronkoskopi untuk mengeluarkan benda
asing tersebut.
Trakeomalasia primer, yang disebabkan karena deformitas kongenital dari
cincin trakea biasanya tidak digunakan karena pada kebanyakan kasus dapat
sembuh sendiri dalam pertumbuhannya, tetapi pada keadaan gawat dapat dibuat
trakeostomi, sebagai penyanggah (stent) pada trakea, selama pertumbuhannya
(sampai agak besar).
Trakeomalasia sekunder biasanya disebabkan oleh faktor ekstrinsik,
seperti anomali pembuluh darah atau sebagai komplikasi operasi pada fistula
trakeoesofagus. Pada tumor trakea intubasi endotrakea tidak mungkin dikerjakan,
karena berbahaya, dapat menyebabkan sumbatan komplit saluran napas,
terutama pada tumor yang terdapat pada bagian proksimal. Cara menolongnya
ialah dengan memberikan oksigen dan obat sedatif dengan berhati-hati.
Sebaiknya hal ini dilakukan di kamar operasi, dengan mempersiapkan obat-
obatan, bronkoskop kaku, dilatators, teleskop, biopsy, dan alat trakeostomi.
d. Penanggulangan Sumbatan Bronkus

23
Tujuan penanggulangan sumbatan bronkus untuk mengembalikan fisiologi,
yaitu ventilasi dan drainase sekret dengan memperbaiki gerakan silia, kekuatan
batuk . Pada sumbatan bronkus yang disebabkan oleh peradangan, pengobatan
selain terhadap infeksinya, juga ditujukan untuk drainase paru. Diberikan obat
ekspektoran dan mukolitik agar mengurangi adhesi-kohesi dari sekret, sehingga
mudah dibatukkan keluar. Pada keadaan ini tidak dibenarkan memberikan obat
penahan batuk (antitusif) dan pasien dilarang meminum alkohol. Bila sekret
mengental, mengering dan melekat, maka mekanisme gerakan silia dan batuk
tidak mampu untuk mengeluarkan sekret yang lekat dan mengental itu. Di daerah
itu akan terjadi atelektasis dan mudah terjadi infeksi sehingga perlu dilakukan
bronkoskopi. Kegunaan bronkoskopi pada sumbatan saluran napas ialah:
- Melihat keadaan mukosa
- Mengambil biopsi pada tumor
- Mengambil sekret untuk pemeriksaan mikrobiologik dan sitologik
- Mengambil benda asing yang menyumbat
- Mengambil tumor jinak dari lumen
- Memperluas lumen yang menyempit (striktur) dengan melakukan dilatasi.
Sehingga indikasi bronkoskopi pada sumbatan trakea dan bronkus ialah untuk
menegakkan diagnosis (peradangan, tumor, striktur) dan untuk terapi
(mengeluarkan sekret kental, benda asing, mengambil tumor jinak, mendilatasi
striktur lumen).
2.4 Obstructive sleep apneu
Obstructive sleep apnea (OSA) adalah gangguan pernapasan yang berhubungan
dengan tidur dan melibatkan penurunan atau penghentian total aliran udara meskipun
ada upaya berkelanjutan untuk bernafas. OSA juga merupakan penyakit kronik yang
umumnya terjadi sekita 2-4% pada orang dewasa (Spicuzza, Caruso and Maria, 2015).
Otot-otot akan rileks selama tidur, menyebabkan jaringan lunak di belakang tenggorokan
runtuh dan menghalangi jalan napas bagian atas. Hal ini menyebabkan reduksi parsial
(hipopnea) dan jeda total (apnea) dalam pernapasan yang berlangsung setidaknya 10
detik saat tidur. Sebagian besar jeda berlangsung antara 10 dan 30 detik, tetapi
beberapa mungkin bertahan selama satu menit atau lebih lama. Hal ini dapat

24
menyebabkan penurunan saturasi oksigen darah secara tiba-tiba, dengan kadar oksigen
turun hingga 40 persen atau lebih pada kasus yang parah.
Otak merespons kekurangan oksigen dengan mengingatkan tubuh, menyebabkan
gairah singkat dari tidur yang mengembalikan pernapasan normal. Pola ini dapat terjadi
ratusan kali dalam satu malam. Hasilnya adalah kualitas tidur yang terfragmentasi yang
sering menghasilkan tingkat kantuk yang berlebihan di siang hari.
Kebanyakan orang dengan OSA mendengkur keras dan sering, dengan periode hening
ketika aliran udara berkurang atau tersumbat. Mereka kemudian membuat suara
tersedak, mendengus, atau megap-megap ketika jalan napas mereka dibuka kembali.
Pengukuran umum sleep apnea adalah indeks apnea-hypopnea (AHI). Ini adalah rata-
rata yang mewakili jumlah gabungan apnea dan hipopnea yang terjadi per jam tidur.
a) Gejala Sleep apnea
 Mendengkur
 Mengantuk atau kelelahan di siang hari
 Gelisah saat tidur
 Bangun tiba-tiba dengan sensasi terengah-engah atau tersedak
 Mulut kering atau sakit tenggorokan saat bangun
 Kerusakan intelektual, seperti masalah berkonsentrasi, pelupa, atau mudah
tersinggung
 Berkeringat di malam hari
 Disfungsi seksual
 Sakit kepala
2.5 Penilaian jalan napas
Penilaian awal jalan napas dilakukan dengan inspeksi , palpasi dan auskultasi
yang bertujuan untuk menentukan apakah jalan napas terbuka dan apakah masih ada
napas yang adekuat. Langkah – langkah yang dilakukan untuk pengelolaan jalan napas:
a) Lihat gerakan napas atau pengembangan dada , adanya retraksi costa , warna
mukosa/kulit dan kesadaran. Pasien ini diamati untuk mengetahui sianosis,
frekuensi dan pola pernapasan. Napas yang lambat adalah tanda dari terjadinya
gangguan respirasi. Kelelahan otot pernapasan terjadi akibat keterlibatan otot-otot
bantu napas berupa retraksi otot suprasternal, supraklavikula atau intercostal.

25
Lihat pengembangan dada simetris atau tidak. Inspeksi dan palpasi pada wajah
baian tengah harus dilakukan karena cedera pada daerah ini akan mengakibatkan
kerusakan jalan napas.
b) Dengar : dengarkan aliran udara pernapasan. Perubahan atau hilangnya suara
merupakan tanda adanya gangguan jalan napas. Suara napas normal merupakan
tanda dari pernapasan yang baik. Stidor dapat terjadi karena sumbatan sebagian
jalan napas setinggi laring atau trakea. Snoring biasanya terdapat sumbatan
setinggi faring. Hilangnya suara napas bisa terjadi karena pneumothorax,
hemothorax, dan efusi pleura. Sesak dan mengi (wheezing) menandakan adanya
obstruksi jalan napas.
c) Rasakan : rasakan adanya aliran udara pernapasan dengan menggunakan pipi
penolong. Buka mulut dan lihat jalan napasnya. Lihat dan keluarkan benda yang
ada di dalam mulutnya dan amati jika ada pembengkakan, perdarahan atau
kelainan yang lain (Gal et al., 2016).
2.6 Airway Management
a. Tindakan jalan nafas darurat.
Letakkan pasien pada posisi terlentang pada alas keras atau letakkan papan
kalau pasien diatas kasur. Jika tonus otot menghilang, lidah akan menyumbat faring dan
epiglotis akan menyumbat laring. Lidah dan epiglotis penyebab utama tersumbatnya jalan
nafas pada pasien tidak sadar. Untuk menghindari hal ini dilakukan beberapa tindakan,
yaitu:
1. Head tilt-chin lift manuever
Perasat ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong
mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah, tangan lain mendorong dagu
dengan hati-hati tengadah, sehingga hidung menghadap keatas dan epiglotis
terbuka, sniffing position, posisi hitup.

26
chin lift

Head-tilt

2. Jaw thrust manuever


Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangakat didorong kedepan
pada sendinya tanpa menggerakkan kepala leher. Karena lidah melekat pada
rahang bawah, maka lidah ikut tertarik dan jalan nafas terbuka.

Jika henti jantung terjadi diluar rumah sakit, letakkan pasien dalam posisi
terlentang, lakukan ”manuever triple airway” (kepala tengadah, rahang didorong
kedepan, mulut dibuka) dan kalau rongga mulut ada cairan, lendir atau benda asing
lainnya, bersihkan dahulu sebelum memberikan nafas buatan.
Pasien tidak sadar hendaknya diletakan horisontal, tetapi kalau diperlukan
pembersihan jalan nafas maka pasien dapat diletakkan dengan posisi kepala dibawah
(head down tilt) untuk mengeluarkan benda asing cair oleh gravitasi. Jangan meletakkan

27
pasien pada posisi telungkup karena muka sukar dicapai, menyebabkan sumbatan
mekanis dan mengurang kekembungan dada.
Posisi lurus terlentang ditopang dianjurkan utnuk pasien koma diawasi yang
memerlukan resusitasi. Peninggian bahu dengan meletakkan bantal atau handuk yang
dilipat dibawahnya mempermudah ekstensi kepala. Akan tetapi jangan sekali-kali
meletakkan bantal dibawah kepala pasienyang tidak sadar (dapat menyebabkan leher
fleksi sehingga menyebabkan sumbatan hipofaring) kecuali pada intubasi trakea.
Pada kasus trauma pertahankanlah kepala-leher-dada pada satu garis lurus.
Ekstensikan kepala sedang, jangan maksimum. Jangan memutar kepala korban
kesamping, jangan memfleksikan kepalanya. Jika korban harus dimiringkan untuk
membersihkan jalan nafasnya, pertahankanlah kepala-leher-dada tetap dalam satu garis
lurus, sementara penolong lain memiringkan korban Posisi mantap dianjurkan utnuk
pasien koma bernafas spontan (Cahya Daris Tri Wibowo, 2013).

b. Pengelolaan Jalan Napas (Airway Management) dengan Alat


Setelah dilakukan tindakan yang cepat dan tepat, tindakan penanganan obstruksi
jalan nafas dilanjutkan dengan tindakan lain yang bertujuan agar pola nafas pasien
adekuat. Tindakan tersebut diantaranya:
1. Manuver tripel jalan nafas
1) Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital
2) Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus mandibula.
3) Mulut dibuka. Lidah terangkat dan jalan nafas bebas, sehingga udara lancar
masuk ke trakea baik melalui mulut atau hidung.

28
2. Ventilasi positif dengan oksigen 100%
Jika manuver triple jalan nafas kurang berhasil, maka dipasang alat jalan nafas :
1) Mulut faring (OPA – oropharingeal airway) lewat mulut
a. Menentukan ukuran OPA dengan meletakkan OPA disamping pipi pasien dan memilih
OPA yang panjangnya sesuai dari sudut mulut hingga ke sudut rahang bawah (angulus
mandibulae). Ukuran yang tersedia :
a) Dewasa besar = 100 cm (Guedel no. 5)
b) Dewasa sedang = 90 cm (Guedel no. 4)
c) Dewasa kecil = 80 cm (Guedel no. 3)
d) Anak-anak = Guedel no. 1 dan no. 2
b. Buka mulut pasien dengan manuever chin lift atau tehnik crossed finger
c. Memasang alat, terdapat 2 cara:

Cara pertama
a) Membuka mulut dan memasukkan OPA terbalik
b) Memutar/merotasi OPA jika telah mencapai palatum moll

Cara kedua
a) Membuka mulut dengan spatel
b) Dengan hati-hati memasukkan OPA hingga ke belakang.
d. Mengecek ketepatan pemasangan OPA dengan memberikan ventilasi pada pasien.
Jika pemasangan tepat akan tampak pengembangan dada dan suara napas terdengar
melalui auskultasi paru dengan stetoskop selama ventilasi (Cahya Daris Tri Wibowo,
2013).

29
Flange resting on lips
C olour coded bite block

(Skill and Sheet, no date)


2.8 Kriteria diasgnostik lemon score
L : Look
4 kriteria yang digunakan untuk kategori yang terlihat: trauma muka, gigi seri yang
besar, jenggot atau kumis, dan lidah yang besar.
E : Evaluate
 Evaluasi yang digunakan dengan menggunakan aturan 3-3-2
 Jarak antara gigi seri : mulut pasien dibuka dengan cukup untuk
memungkinkan penempatan 3 jari diantaranya gigi atas dan bawah.
 Jarak hyomental dimana 3 jari digunakan
 Jarak tyromental dimana 2 jari digunakan
M : Mallampathy
1. Relative pada lidah dan ukuran dari pharynx
Mallampathy test berkorelasi pada ukuran lidah dan ukuran pharynx. Test ini
ditunjukan pada pasien dalam keadaan duduk, kepala diposisi netral, lebar mulut
terbuka dan lidah menonjol sampai maximum. Pasien tidak bleh secara aktif
didorong saat berbicara karena dapat menyebabkan konstaksi dan peningkatan
langit langit lunak yang mengarah pada gambaran palsu. Klasifikasi ini sesuai
dengan tingkat pangkal lidah yang mampu menutupi fisibilitas struktur pharynx
menjadi 3 kelas:

30
Kelas 1
visualisasi palatum yang lunak, fauces, uvula, pillar anterior dan posterior
Kelas 2
visualisasi pallatum yang unak, fauces, dan uvula
Kelas 3
visualisasi pallatum yang unak, dan dasar uvula
Kelas 4
dalam Samsoon dan young modifikasi (1987) 3 dari klasifikasi mallapati
ditambahkan kelas 4
kelas 4 dimana hanya palatum yang keras yang terlihat dan pallatum yang lunak
tidak terlihat

O : Obstruction
Pasien dievaluasi untuk stridor, benda asing, dan bentuk lain dari penghalang sub dan
supragoltis termasuk tumor, abses, epiglottis yang meradang atau perluasan hematoma

N : neck mobility
Ini adalah persyaratan paling penting untuk keberhasilan intubasi. Hal ini dinilai
oleh pasien dalam keadaan pasien dengan posisi duduk untuk menempatkan dagu
mereka ke dada mereka dan kemudian untuk memperpanjang leher mereka sehingga
mereka dapat melihat ke langit langit

31
Ukuran hasil utama untuk menentukan lemon score untuk benar benar
memprediksi intubasi yang sulit yaitu nilai prediksi positif dari L-E-M-O-N. ukuran hasil
sekunder yang untuk menentukan kejadian intubasi yang sulit pada populasi pada suatu
penelitian dan untuk menemukan kegunaan berbagai fiture jalan nafas dalam
memprediksi intubasi yag sulit.

Score penilaian jalan nafas dihitung sebagai berikut :


L : Look
Trauma wajah: ( tidak ada = 0 point , ada = 1 poin)
Gigi seri besar: ( tidak ada = 0 point , ada = 1 poin)
Jenggot atau kumis: ( tidak ada = 0 point , ada = 1 poin)
Lidah besar: ( tidak ada = 0 point , ada = 1 poin)
E : Evaluate
Celah gigi seri (> 3 jari = 0 poin, <2 jari = 1 poin)
Jarak hyomental (> 3 lebar jari = 0 poin, <2 jari = 1 poin)
Jarak tyromental ( 2 lebar jari = 0 poin, 1 lebar jari = 1 poin )

M : Mallampaty
Kelas 1 atau 2 = 0 poin
Kelas 3 dan 4 = 1 poin

O : Obstruksi leher
Tidak ada = 0 poin
Ada = 1 poin

N : Neck mobility
Bagus = 0 poin
Buruk = 1 poin
(Mshelia, Nwasor and Isamade, 2018).

32
BAB III
KESIMPULAN

1. Airway management atau pembebasan jalan napas harus dilakukan dengan


segera dan sangat penting.
2. Obstruksi jalan napas dapat mengenai jalan napas bagian atas atau bawah.
3. Obstruksi jalan napas atas dapat terjadi karena kelainan kongenital,radang,
trauma, tumor,dll dan terdapat tindakan yang dapat dilakukan yaitu tindakan
konservatif , operatif serta terdapat 3 cara yaitu intubasi ,krikotirotomi,
trakeotomi ,dan Heimlich manuever
4. Obstruksi jalan napas atas dapat dilakukan penanganan yaitu dengan caa
intubasi, laringostomi, trakeostomi
5. Obstruksi jalan napas bawah dapat terjadi karena benda asing,tumor,stenosis
trakea.
6. Penanganan obstruksi jalan napas bawah dapat dilakukan bronkoskopi apabila
terdapat benda asing
7. Obstructive sleep apnea (OSA) adalah gangguan pernapasan yang
berhubungan dengan tidur dan melibatkan penurunan atau penghentian total
aliran udara dengan gejala seperti mendengkur , mengantuk atau kelelahan
disiang hari, gelisah, dll.
8. Penilaian jalan napas dapat dilakukan dengan cara inspeksi , palpasi dan
auskultasi.
9. Penanganan airway atau airway management darurat tanpa menggunakan
alat dapat dilakukan dengan head tilt, chin lift dan jaw thrust. Sedangkan airway
management dengan menggunakan alat dapat menggunakan oropharyngeal
airway yaitu guedel atau mayo dan dapat diukur.
10. Kriteria diagnostic lemon score dapat dinilai dengan berbagai kriteria dengan
look,evaluate, mallampati, obstructive dan neck mobility dan terdapat score
yang berbeda-beda.

33
DAFTAR PUSTAKA
Cahya Daris Tri Wibowo, R. D. (2013) ‘documents’.
Gal, T. J., Dan, S., Dari, F. and Nafas, J. (2016) ‘Manajemen jalan nafas’.
Hermani B, Abdurrachman. Penanggulangan sumbatan laring. Dalam: S.A.Efiaty,
I.Nurbaiti, B.Jenny, R.D.Ratna (editor). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: 2003 : 243 - 253
Mshelia, D. B., Nwasor, E. O. O. and Isamade, E. S. (2018) ‘Use of the “ L ‑ E ‑ M ‑ O ‑
N ” Score in Predicting Difficult Intubation in Africans’, pp. 17–23. doi:
10.4103/njbcs.njbcs.
Skill, C. and Sheet, I. (no date) ‘Oropharyngeal Airway ( OPA )’, pp. 1–3.
Spicuzza, L., Caruso, D. and Maria, G. Di (2015) ‘Obstructive sleep apnoea syndrome
and its management’, pp. 273–285. doi: 10.1177/2040622315590318.

34