Anda di halaman 1dari 17

TUGAS ORIENTASI KIMIA

Pembimbing : dr. Meita Hendrianingtyas, Sp.PK., Msi. Med

Oleh : Iraisa Rosaria

I. PEMERIKSAAN FUNGSI HATI


Sebagai organ tubuh yang memiliki banyak fungsi penting, seperti menetralkan racun
yang masuk ke dalam tubuh dan merombak nutrisi menjadi energi. Dalam pemeriksaan
fungsi hati, ada beberapa parameter yang harus diperhatikan, antara lain:
1. SGOT
SGOT merupakan singkatan dari serum glutamic oxaloacetic transaminase. Beberapa
laboratorium sering juga memakai istilah AST (aspartate aminotransferase). SGOT
merupakan enzim yang tidak hanya terdapat di hati, melainkan juga terdapat di otot jantung,
otak, ginjal, dan otot-otot rangka.
Adanya kerusakan pada hati, otot jantung, otak, ginjal dan rangka bisa dideteksi
dengan mengukur kadar SGOT. Pada kasus seperti alkoholik, radang pancreas, malaria,
infeksi liver stadium akhir, adanya penyumbatan pada saluran empedu, kerusakan otot
jantung, orang-orang yang selalu mengkonsumsi obat-obatan seperti antibiotik dan obat TBC,
kadar SGOT bisa meninggi, bahkan bisa menyamai kadar SGOT pada penderita hepatitis.
Kadar SGOT dianggap abnormal jika nilai yang didapat 2-3 kali lebih besar dari nilai
normalnya.

2. SGPT
SGPT adalah singkatan dari serum glutamic pyruvic transaminase,sering juga disebut
dengan istilah ALT (alanin aminotansferase). SGPT dianggap jauh lebih spesifik untuk
menilai kerusakan hati dibandingkan SGOT. SGPT meninggi pada kerusakan liver kronis dan
hepatitis. Sama halnya dengan SGOT, nilai SGPT dianggap abnormal jika nilai hasil
pemeriksaan anda 2-3 kali lebih besar dari nilai normal. Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT
lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan pada proses
kronis didapat sebaliknya.

3. Bilirubin
Pada pemeriksaan rutin, biasanya yang diperiksa adalah bilirubin total dan bilirubin
direk. Adajuga istilah bilirubin indirek yaitu selisih bilirubin total dengan bilirubin direk.
Bilirubin merupakan suatu pigmen atau zat warna yang berwarna kuning, hasil metabolisme
dari penguraian hemoglobin (Hb) di dalam darah.
Pada penyakit hati yang menahun (kronis), dapat terjadi peningkatan kadar bilirubin
total yang tentunya juga diiringi peningkatan bilirubin indirek atau bilirubin direk.
Peningkatan ini berhubungan dengan peningkatan produksi bilirubin atau akibat adanya
penyumbatan pada kandung empedu sebagai orgam tubuh yang menyalurkan bilirubin ke
dalam usus. Akibat penumpukan bilirubin ini, wajah, badan dan urin akan berwarna kuning.

4. Gamma GT
Gamma GT (glutamil tranferase) merupakan enzim hati yang sangat peka terhadap
penyakit hepatitis dan alkoholik. Kadarnya yang tinggi bisa bertahan beberapa lama pasca
penyembuhan hepatitis.

5. Alkali Fosfatase
Alkali Fosfatase merupakan enzim hati yang dapat masuk ke saluran empedu.
Kandung empedu terletak persis di bawah hati atau lever. Meningkatnya kadar fosfatase
alkali terjadi apabila ada hambatan pada saluran empedu. Hambatan pada saluran empedu
dapat disebabkan adanya batu empedu atau penyempitan pada saluran empedu.

6. Cholinesterase
Umunya kadar cholinesterase menurun pada kerusakan parenkim hati seperti hepatitis
kronis dan adanya lemak dalam hati. Pemeriksaan ini sering dipakai sebagai pemeriksaan
tunggal pada pasien yang mengalami keracunan hati akibat obat-obatan (termasuk keracunan
insektisida).

7. Protein Total (rasio albumin/globulin)


Protein dalam darah yang penting terdiri dari protein albumin dan globulin. Albumin
sepenuhnya diproduksi di hati, sedangkan globulin hanya sebagian yang diproduksi di hati,
sisanya diproduksi oleh system kekebalan dalam tubuh. Albumin dan globulin merupakan
suatu zat yang sangat berguna dalam sistem kekebalan tubuh. Perubahan kadar keduanya bisa
menunjukkan adanya gangguan pada organ hati atau juga bisa pada organ tubuh lainnya
misalnya ginjal.
Pada pemeriksaan laboratorium, penting untuk menilai kadar protein total, kadar
globulin dan kadar albumin. Pada penyakit-penyakit hati, kadar protein bisa meninggi dan
bisa juga menurun. Begitu pula kadar albumin dan globulin. Sebagai contoh, jika terjadi
infeksi pada hati yang baru diketahui kira-kira dalam tiga bulan terakhir, dapat terjadi
peningkatan kadar globulin dan penurunan kadar albumin.

8. Prothrombine Time
Tergantung pada pertimbangan dokter, beberapa tes tambahan mungkin diperlukan
untuk melengkapi PT (prothrombine time). Pemeriksaan Massa Prothrombin (PT) bertujuan
sebagai indikasi apakah penyakit hati semakin buruk atau tidak. Peningkatan angka
menunjukkan penyakit kronik menjadi semakin buruk.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMERIKSAAN

Jenis Kondisi Bilirubin ALT & AST ALP Albumin PT


Biasanya
Normal atau sangat
Kerusakan meningkat meningkat; Normal atau
hati akut biasanya ALT hanya Biasanya
Normal
(infeksi, setelah umumnya meningkat normal
racun, obat) peningkatan lebih tinggi sedikit
ALT & AST daripada
AST
Normal atau
Penyakit hati Normal atau Sedikit
sedikit Normal Normal
kronis meningkat meningkat
meningkat
AST
Normal atau
Hepatitis Normal atau biasanya dua
lumayan Normal Normal
alkoholik meningkat kali kadar
meningkat
ALT
Sirosis Bisa jadi AST Normal atau Biasanya Biasanya
meningkat biasanya meningkat menurun memanjang
tapi hanya lebih tinggi
pada kondisi dari ALT,
yang sudah namun
berlanjut kadarnya
biasanya
lebih rendah
daripada
penyakit
alkoholik
Biasanya
Normal atau
Meningkat, normal,
Obstruksi meningkat; Normal
sering lebih namun jika
duktus meningkat hingga Biasanya
tinggi 4 kali berlangsung
biliaris, pada lumayan normal
dari nilai kronis, kadar
kolestasis obstruksi meningkat
normal dapat
penuh
menurun
Kanker yang
sudah Normal atau Biasanya
Biasanya
menyebar ke sedikit sangat Normal Normal
normal
hati meningkat meningkat
(metastases)
AST lebih
tinggi dari
Kanker yang Mungkin
ALT, namun
asli berasal meningkat,
kadar lebih Normal atau Biasanya Biasanya
dari hati umumnya
rendah meningkat menurun memanjang
(hepatoselular jika penyakit
daripada
karsinoma) progresif
penyakit
alkoholik
Normal atau
Normal atau Lumayan Normal atau
Autoimmune sedikit Normal
meningkat meningkat menurun
meningkat

TAHAP-TAHAP PEMERIKSAAN
A. Tahap Pra Analitik
a. Persiapan Pasien
Umumnya untuk pemeriksaan enzim pasien tidak perlu puasa. Namun demikian perlu
diketahui bahwa makan sebelum pemeriksaan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan,
walaupun tidak terlalu besar. Hal ini terutama terlihat pada aktivitas Fosfatase alakali.
Variasi biologis juga terjadi pada enzim. Aktivitas enzim lebih tinggi pada siang hari
daripada pagi hari. Oleh karana itu pengambilan darah untuk pemeriksaan enzim sebaiknya
dilakukan pada pagi hari, kecuali memang ingin dipantau aktivitas enzim tertentu seperti
LDH dan SGOT pada kasus Penyakit Jantung Koroner.
b. Pengambilan Sampel
Sampel darah harus dicegah terjadi hemolisis karena beberapa pemeriksaan enzim
tidak boleh mengunakan sampel darah hemolisis. Hemolisis berat akan mengakibatkan terjadi
efek pengenceran terhadap zat-zat yang banyak terdapat dalam plasma tetapi kecil
kandungannya dalam eritrosit. Tetapi akibat yang lebih jelas akan terlihat kandungannya
dalam eritrosit.
Enzim yang kandungannya dalam eritrosit lebih tinggi adalah adolase, asam fosfatase,
Laktat dehidroginase dan AST. Aktivitas AST (SGOT) dalam serum meningkat 2% dan LDH
10% pada setiap peningkatan 10 mg/dl kandungan Hb dalam serum.
Pembendungan vena yang terlalu lama selain dapat menyebabkan hemolisis juga
dapat meningkatkan aktivitas enzim, sebagai contoh aktivitas AST akan meningkat 9% bila
bendungan vena 3 menit dibandingkan bendungan vena 1 menit.

c. Posisi Pengambilan Darah


Volume darah orang dewasa pada saat berdiri berkurang 600-700 ml dibandingkan
pada saat berbaring. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan protein plasma. Dengan
demikian enzim sebagai protein juga akan meningkat pada saat berdiri daripada berbaring.
Posisi pengambilan darah sebaiknya duduk, kecuali pada kasus penyakit berat
sehingga pasien harus tidur maka pengambilan darah boleh dilakukan pada posisi berbaring.

d. Persiapan Sampel
Serum/plasma sebaiknya secepat mungkin dipisahkan (<2 jam) pada beberapa
keadaan yang memaksa sehingga perlu penundaan pemeriksaan, maka sebaiknya
diperhatikan mengenai stabilitas enzim dan bahan sampel yang disimpan harus serum, bukan
whole blood karena relative lebih stabil dalam suhu dingin.

B. Tahap Analitik
a. Reagen
1) Fisik kemasan kadaluarsa
2) Suhu penyimpanan
3) Penyimpanan reagen sebelum pemeriksaan (suhu, pelarutan dan stabilitas)

b. Alat
1) Bagian-bagian fotometer dan alat ukur otomatis lainnya berfungsi dengan baik
(kalibrasi alat).
2) Peralatan bantu (pipet, penangas air) juga harus dipantau secara teratur
ketepatannya.
3) Alat-alat yang tidak memenuhi standar seperti kuvet pecah, retak, lampu fotometer
suram dan filter yang berjamur serta pengagas air yang tidak teratur temperaturnya
sebaiknya diganti.

c. Metode Pemeriksaan
Beberapa pemeriksaan enzim sudah dilakukan metode pemeriksaannya oleh WHO,
IFCC, seperti SGOT dan SGPT. Namun sebagian lagi masih belum dilakukan. Dalam
memilih metode pemeriksaan hendaknya dipertimbangkan :
1) Reagen yang mudah diperoleh
2) Alat yang tersedia dapat untuk memeriksa dengan metode tersebut.
3) Suhu temperature metode pemeriksaan dipilih sesuai dengan tempat kerja. Suhu
30OC lebih baik daripada suhu 37OC dan lebih baik lagi dari pada suhu 25OC untuk
pemeriksaan yang dilakukan di Negara tropis seperti Indonesia.
4) Metode pemeriksaan yang mudah dan sederhana
5) Kemampuan tenaga pemeriksa.

C. Tahap Pasca Analitik


a. Pencatatan dan Pelaporan
Hasil pemeriksaan yang telah diperoleh harus dicatat dan segera dilaporkan. Makin
cepat hasil pemeriksaan sampai ke tangan dokter makin bermanfaat pemeriksaan tersebut.
b. Hasil Pemeriksaan
Hasil pemeriksaan yang disajikan mencakup
1) Bilangan
Umumnya hasil pemeriksaan aktivitas enzim disajikan dalam bilangan tanpa desimal.
2) Satuan
Satuan hasil pemeriksaan aktivitas enzim umumnya disajikan dalam unit/volume
satuan.
3) Suhu
Suhu Pemeriksaan harus disajikan karena mempunyai nilai normal yang berbeda.
4) Nilai Normal
Perlu disajikan nilai normal menurut suhu pemeriksaan sebagai pembanding pada
beberapa keadaan perlu dicantumkan nilai normal menurut umur dan jenis kelamin
pasien. Beberapa hasil pemeriksaan ternyata berbeda menurut umur dan gender
misalnya Fosfatase alkali, pada bayi aktivitas tinggi, anak-anak lebih rendah,
kemudian meningkat pada pubertas dan pada dewasa kembali menurun (khususnya
wanita). Setelah menopause aktivitas Fosfatase alkali meningkat kembali dan lebih
tinggi dari pada pria usia lanjut.
Secara umum aktivitas enzim seluler yang dapat ditemukan pada sel otot mempunyai
nilai normal lebih tinggi pada pria dari pada wanita. Hal ini dihubungkan dengan
masa otot pria relatif lebih besar dari pada wanita.

II. PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL


1. BUN (NITROGEN UREA)

Normal : 6-20 mg/dl

Urea merupakan hasil metabolisme protein utama pada manusia. Biosintesis urea dari
asam amino diperantarai oleh enzim hepar dalam siklus urea. Selama proses katabolisme
protein, asam amino diubah menjadi urea di hepar melalui siklus yang dikenal dengan urea
cycle enzym(siklus krebs-Henselit).Lebih dari 90% urea diekskresikan melewati ginjal,
sisanya melewati gastrointestinal dan kulit. Sebagai akibatnya penyakit pada ginjal
menyebabkan akumulasi urea dalam darah yang disebut dengan azotemia. Urea difiltrasi
secara bebas oleh glomerulus tetapi tidak disekresi maupun direabsorbsi oleh tubulus.

Keadaan tingginya urea nitrogen dalam darah disebut uremia. Peningkatan kadar urea dan
kreatinin plasma pada penderita insufisiensi ginjal disebut azotemia. Penurunan kadar
biasanya tidak mempunyai makna klinis. Selama masa kehamilan, kadar urea nitrogen dapat
lebih rendah dari normal. Azotemia dapat berasal dari pre-renal, renal, post-renal.

 Pre-renal azotemia disebabkan karena perfusi ginjal yang buruk. Perfusi yang buruk
disebabkan oleh dehidrasi, shock, pengurangan volume darah, atau gagal jantung
kongestif. Penyebab lain adalah peningkatan pemecahan protein seperti pada febris,
stres atau luka bakar yang berat.
 Renal azotemia
Disebabkan oleh pengurangan filtrasi glomerulus yang merupakan konsekuensi dari
penyakit ginjal akut / kronik. Penyebabnya antara lain akut dan kronik
glomerulonephritis, penyakit ginjal polikistik, nephrosclerosis.
 Post-renal azotemia
Hal ini biasanya disebabkan adanya obstruksi yang menyebabkan urea direabsorbsi
kedalam sirkulasi. Obstruksi dapat disebabkan karena adanya batu, pembesaran
prostat dan tumor.

Untuk membedakan azotemia pre-renal atau post-renal digunakan ratio nitrogen urea darah :
kreatinin. Pada individu dengan diet normal, nilai rujukan normal antara 12-20 urea/mg
kreatinin (49-81 mol urea/mol kreatinin). Rasio ini menurun pada akut tubuler nekrosis,
intake protein yang rendah, kelaparan atau penyakit hati yang berat (penurunan sintesa urea).
Peningkatan urea dengan kreatinin yang normal memberikan nilai rasio yang tinggi pada
kelainan pre-renal seperti yang disebutkan sebelumnya.

SPESIMEN

Sampel serum, plasma heparin (sodium/ lithium heparin), urin. Anti koagulan yang
mengandung fluoride tidak dianjurkan karena fluoride menghambat reaksi urease. Urea
dipengaruhi oleh aktifitas bakteri oleh karena itu pemeriksaan harus segera dilaksanakan
setelah pengumpulan spesimen / disimpan dalam lemari es. Penyimpanan pada suhu 4 0-80C
bertahan sampai 72 jam. Hindari sampel yang keruh, ikterik atau hemolisis.

METODE

Metode lama untuk pengukuran urea dengan menambahkan enzim urease ke dalam darah,
serum atau plasma. Urea akan diubah menjadi amonium karbonat oleh urease.

Metode automatik yang digunakan saat ini menggunakan metode indirek berdasar pada
langkah awal hidrolisis dimana keberadaan urea diubah menjadi amonia oleh enzim urease.
Pengukuran enzimatik NH3 dibentuk dengan menggunakan indikator reaksi glutamate
dehidogenase (GLDH) untuk mengoksidasi perubahan NADH menjadi NAD+ . Pengukuran
NADPH pada gelombang 340nm yang sangat spesifik untuk urea dan cepat pemeriksaannya.

NILAI RUJUKAN

Urea Nitrogen Urea Nitrogen (urin)


(serum)
Dewasa 7-18 mg/dl 12-20 gr/24jam
>60th 8-21 mg/dl
Bayi/ anak 5-18 mg/dl
Urea dihasilkan oleh tubuh sebagai produk metabolisme protein hepatik. Cara
pembuangannya dari tubuh adalah melalui ekskresi ginjal. Peningkatan BUN biasanya
menunjukkan reduksi pada fungsi ginjal.

 Faktor yang dapat meningkatkan BUN :


a. Penurunan fungsi ginjal
Bila peningkatan BUN semata akibat penurunan fungsi ginjal, kadar kreatinin serum
akan meningkat dengan kecepatan hampir saman (ratio kreatinin terhadap BUN akan
menjadi 1: 10-20)
b. Masukkan protein berlebihan
c. Perdarahan gastro intestinal : karena pencernaan darah pada usus
d. Peningkatan katabolisme jaringan pada demam, sepsis, penggunaan steroid
antianabolik
e. Dehidrasi
Ekskresi urea bervariasi terhadap kelebihan air. Pada dehidrasi, penurunan ekskresi air
menyebabkan penurunan ekskresi urea.

2. KREATININ

Kreatinin dalam darah merupakan hasil dari pembentukan kreatin dan kreatin
phosphat. Kadarnya dalam darah konstan dan berhubungan dengan masa otot sehingga
menyebabkan konsentrasi kreatinin bervariasi pada umur dan jenis kelamin. Pada orang
normal, kadar kreatinin relatif konstan walaupun dipengaruhi oleh diet. Klirens kreatinin
plasma merupakan indikator pengukuran untuk laju filtrasi glomerulus. Spesimen serum/
plasma lebih dianjurkan daripada darah lengkap karena keberadaan kromogen non kreatinin
terdapat pada sel eritrosit yang dapat menyebabkan peningkatan palsu dari hasil kreatinin.

Kreatinin disintesis di ginjal, liver dan pankreas oleh 2 reaksi enzimatik. Yang pertama
transamidasi arginin dan glisin membentuk asam guanindinoacetic, selanjutnya metilasi
guanidinoacetic dengan S-adenosylmethionine sebagai donor metal. Selanjutnya kreatinin
ditransport ke dalam darah dan organ lain seperti otot dan otak, yang mana terjadi
phosphorilasi menjadi phosphocreatinin yang mengandung energi tinggi.

Kreatinin dengan berat molekul 113 Da adalah produk penguraian kreatin, suatu senyawa
yang mengandung nitrogen yang terutama terdapat di otot. Kreatinin mengalam fosforilasi
oleh enzim CPK atau CK menjadi senyawa fosfat berenergi tinggi yang ikut serta dalam
reaksi metabolit yang membutuhkan energi. Kreatinin bebas difiltrasi oleh glomerulus dan
disekresi tubulus namun tidak direabsorbsi.
Ginjal normal memiliki batas keamanan yang lebar. Ginjal dapat kehilangan banyak nefron
tanpa kehilangan kemampuan mengekskresikan sisa nitrogen. Apabila kerusakan nefron
berlangsung lambat, nefron yang tersisa mengalami hipertrofi untuk mengimbangi yang rusak
dan ginjal dapat kehilangan smapai 2/3 dari jumlah nefron semula. Kadar kreatinin
meningkat tajam pada gangguan akut aliran darah ginjal/ aktifitas glomerulus.

SPESIMEN

Serum, plasma heparin, urin yang diencerkan dapat digunakan untuk sampel. Kreatinin stabil
dalam serum/plasma dalam refrigerator selama 1 minggu. Hemolisis menyebabkan positif
palsu. Penting mencegah hemolisis dan meminimalkan produksi amonia. Urin kreatinin pada
suhu kamar stabil dalam 2-3 hari dan dalam lemari es selama 5 hari.

METODE

Metode pemeriksaan kreatinin dengan reaksi Jaffe. Kreatinin direkasikan dengan alkalin
pikrat dalam media alkali untuk membentuk senyawa yang berwarna orange-red yang akan
terukur dengan spektrofotometer. Metode ini tidak spesifik untuk kreatinin, beberapa
senyawa dilaporkan memproduksi Jaffe-like kromogen termasuk protein, glukosa, asam
askorbat, benda keton, piruvat, guanidine, golongan sephalosporin. Untuk menghindari false
positif yang disebabkan senyawa Jaffe-like kromogen dilakukan proses asidifikasi. Proses
asidifikasi “O Leary Methode) ini dengan cara mengoksidasi bilirubin menjadi biliverdin
yang dapat mengurangi pengaruh senyawa non-kromogen. Warna dari senyawa kreatinin
lebih memudar dibandingkan senyawa non-kreatinin. Perbedaan warna tersebut diukur
dengan photometriicaly. Analiser otomatis menggunakan metode kinetik alkalin pikrat dan
enzimatik. Metode kinetik dapat mengurangi pegaruh senyawa nonkreatinin kromogen.

3. ASAM URAT

Pada tubuh manusia asam urat adalah produk terbesar dari katabolisme purin dan
guanosin. Purin dari katabolisme asam nukleat pada makanan dirubah menjadi asam urat
secara langsung. Purin yang diekskresi sebagai asam urat dihasilkan dari degradasi asam
nukleat endogen. Rat-rata sintesis harian asam urat kurang lebih 400mg, ditambah dari
makanan sebesar 300mg.

Metabolisme asam urat di ginjal terjadi dalam 4 tahap :

(1) Semua asam urat dalam plasma difiltrasi glomerulus


(2) Reabsorbsi pada tubulus proksimal sebesar 98-100% dari asam urat yang terfiltrasi

(3) Sejumlah kecil sekresi asam urat kedalam lumen tubulus proksimal bagian distal

(4) Reabsorbsi di tubulus distal

Jumlah ekskresi asam urat keseluruhan sebesar 6-12% dari jumlah yang difiltrasi. Asam urat
adalah bentuk predominan yang dapat dijumpai pada Ph < 5,75.

Hiperuricemia adalah kadar asam urat> 7 mg/dl (0,42 mmol/L) pada pria dan wanita >6
mg/dl (0,36 mmol/L).

Penyebab Primer Sekunder


Peningkatan pemecahan urea Idiopatik Intake purin yang berlebih
Gangguan metabolik - Peningkatan turnover
as.nukleat (leukemia,
MM, kemotrapi,
radioterapi)
- Gangguan
metabolisme ATP
- Hypoxia jaringan
- Pre-eklamsi
- Alkohol
Penurunan ekskresi urea Idiopatik - Penyakit ginjal
akut/kronik
- Peningkatan
reabsorbsi renal
- Penuruna sekresi
- Salisilat dosis rendah
- Diuretic tiazid
- Down syndrome

Hipourisemia

Didefinisikan kadar asam urat < 2 mg/dl (0,12 mmol/L). Keadaan ini jarang ditemukan
dibanding hiperurisemia. Penyakit hepar berat dengan penurunan sintesis purin dan xantin
merupakan salah satu penyebab hipourisemia. Penyebab lain adalah gangguan eabsorbsi
tubulus renal, dapat disebabkan faktor genetik misalnya sindroma fanconi ataupun karena
didapat yang sifatnya akut karena injeksi media kontras radiopaque ataupun kronik karena
terpapar bahan toksik
4. Cystatin C

Akhir-akhir ini telah dikembangkan sebuah marker baru dalam mengevaluasi laju
fitrasi glomerulus yaitu dengan mengukur kadar cystatin C dalam serum. Cystatin C adalah
protein berbasis nonglycosylate yang diproduksi secara konstan oleh semua sel berinti.
Cystatin C bebas filtrasi dalam glomerulus dan dikatabolik dalam tubulus renal sehingga
tidak disekresi maupun direabsorbsi sebagai suatu molekul utuh. Oleh karena kadar cystatin
C serum tidak bergantung umur, jenis kelamin dan masa otot maka cystatin C dapat dipakai
sebagai marker yang lebih baik dibandingkan dengan kadar kreatinin serum dalam mengukur
laju fitrasi glomerulus.

TES PROFIL LIPID

A. Pendahuluan
Lipid adalah senyawa yang mengandung karbon dan hidrogen yang tidak larut
dalam air (hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut organik. Komponen lipid utama yang dapat
dijumpai dalam plasma adalah trigliserida, kolesterol dan fosfolipid.Kelainan lipid darah
(dislipidemia) telah diakui sebagai salah satu faktor utama penyakit jantung koroner atau
kardiovaskular atao aterosklerosis pada umumnya. Analisis lipid darah merupakan salah satu
panel pemeriksaan laboratorium yang paling sering diminta dan sudah merupakan bagian
penting dari panel atau paket pemeriksaan kesehatan dalam perkembangannya telah terjadi
pergeseran parameter dan juga cara analisis lipid darah untuk mencapai tingkat ketepatan
yangterbaik.

B.Macam-macam pemeriksaan lipid :


 Kolesterol total, yang merupakan jumlah dari berbagai jenis kolesterol.
 High-density lipoprotein (HDL) kolesterol, yang biasa disebut kolesterol
"baik". Lipoprotein dapat dianggap sebagai sistem transportasi darah . High-density
lipoprotein membawa kolesterol ke hati untuk dihilangkan.
 Low-density lipoprotein (LDL) kolesterol, umumnya dikenal sebagai kolesterol
"jahat". LDL yang membangun dalam aliran darah dapat menyumbat pembuluh darah dan
meningkatkan risiko penyakit jantung.
 Trigliserida, yang menyimpan energi sampai tubuh membutuhkannya. Jika tubuh
terlalu banyak trigliserida, pembuluh darah bisa tersumbat dan menyebabkan masalah
kesehatan
c. Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
 Obat aspirin dan kortison dapat menyebabkan penurunan atau peningkatan kadar
kolesterol serum
 Diet tinggi kolesterol yang dikonsumsi sebelum pemeriksaan menyebabkan
peningkatan kadar kolesterol serum
 Hipoksia berat dapat meningkatkan kadar kolesterol serum,
 Hemolisis pada sampel darah dapat menyebabkan hasil uji kolesterol serum
meningkat
 Diet tinggi karbohidrat dan alcohol dapat meningkatkan kadar trigliserida serum

Tahap-tahap pemeriksaan
 Pra Analitik
1. Identifikasi sampel
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen adalah tahapan yang harus
dilakukan karena merupakan hal yang sangat penting. Pemberian identitas meliputi
pengisian formulir permintaan pemeriksaan laboratorium dan pemberian label pada
wadah spesimen. Keduanya harus cocok sama. Pemberian identitas ini setidaknya
memuat nama pasien, nomor ID atau nomor rekam medis serta tanggal pengambilan.
Kesalahan pemberian identitas dapat merugikan.Untuk spesimen berisiko tinggi (HIV,
Hepatitis) sebaiknya disertai tanda khusus pada label dan formulir permintaan
laboratorium.
Sebelum pengambilan spesimen, periksa form permintaan laboratorium.
Identitas pasien harus ditulis dengan benar (nama, umur, jenis kelamin, nomor rekam
medis, dsb) disertai diagnosis atau keterangan klinis. Periksa apakah identitas telah
ditulis dengan benar sesuai dengan pasien yang akan diambil spesimen.
2. Persiapan pasien
Pemeriksaan kolesterol total dan HDL dapat diukur setiap saat sepanjang hari
tanpa puasa. Namun, jika tes ini diambil sebagai bagian dari profil lipid total, harus
puasa 12-14 jam (tidak ada makanan atau minuman, kecuali air). Untuk pemeriksaan
trigliserida dan LDL sebaiknya pasien berpuasa 12-14 jam , Agar tidak terjadi
kesalahan pengukuran akibat adanya pengaruh dari lemak yang baru
dikonsumsi. Untuk hasil yang paling akurat, tunggu setidaknya dua bulan setelah
serangan jantung, operasi, infeksi, cedera atau kehamilan
Kadar kolesterol dipengaruhi oleh beberapa obat yaitu propanolol dan agen beta-
blocker lainnya, diuretik, obat penurun lipid, kontrasepsi oral, obat pengganti hormon
dan obat penenang. Olahraga berat 15 menit sebelum pemeriksaan lipid dapat
meningkatkan kadar kolesterol sekitar 6%. Oleh karena itu, umumnya
direkomendasikan bahwa olahraga berat harus dihindari 2-3 jam sebelum
pemeriksaan lipid.
Pembendungan vena menggunakan tourniquet yang terlalu lama dapat
meningkatkan kadar kolesterol total.kadar kolerterol dapat meningkat 10-20% setelah
10 menit pembendungan, dan 2-5% setelah 2 menit. Pada pengambilan darah vena
dianjurkan pasien dalam posisi duduk. Beberapa penelitian melaporkan efek pada
kadar kolesterol total yang disebabkan oleh posisi subjek selama pemeriksaan
darah. Ada bukti bahwa perubahan posisi dari 30 menit telentang sampai 30 menit
berdiri dapat meningkatkan 9,3% dari konsentrasi total kolesterol. Penelitian lain
menunjukkan bahwa pemeriksaan darah setelah transisi dari berdiri ke terlentang
dapat menghasilkan penurunan 4-6% kolesterol total dibandingkan dengan
pemeriksaan darah setelah transisi dari berdiri ke duduk
3. Preparasi sampel
Antikoagulan yang umum direkomendasikan untuk plasma adalah disodium
Ethylenediaminetetraacetate (EDTA). Hemolisis mungkin terjadi selama pengambilan
darah dan penanganan. Ini akan menghasilkan nilai kolesterol tinggi, jika metode
langsung "Liebermann-Burchard" yang digunakan. Untuk metode enzimatik, hanya
hemolisis gross memiliki efek pada peningkatan kolesterol, Lipemik dapat
mempengaruhi pengukuran trigliserida dengan mengganggu pengukuran absorbansi.
4. Penyimpanan sampel
Direkomendasikan bahwa untuk pemeriksaan kolesterol total dan HDL harus
segera dilakukan setelah sampel diambil. Penyimpanan sampel segar selama lebih
dari tiga hari pada 4°C menyebabkan penurunan kadar kolesterol HDL sekitar 8,2%
sampai 14,9% dan pada sampel beku selama lebih dari 14 hari pada suhu -20°C juga
menurunkan kadar HDL, sedangkan penyimpanan pada suhu yang lebih rendah tidak
menghasilkan perubahan kadar tersebut.
Cara penyimpanan sebelum analisis kolesterol dan trigliserida yaitu
Penyimpanan menggunakan lemari es dan analisis tampaknya tidak menjadi penting
jika bahan yang dianalisis dalam beberapa hari dan kontaminasi bakteri
dihindari. Pembekuan dalam botol yang tepat pada suhu -20 ° C selama 1 tahun atau
pada suhu -60 ° C untuk jangka waktu lama. Namun, sebuah penelitian baru bahwa
pada penyimpanan jangka panjang serum pada -70 ° C menunjukkan penurunan 2%
per tahun untuk kolesterol total lebih dari 7 tahun 2,8% per tahun pada trigliserida,
dan 1,3% (tidak signifikan) per tahun untuk HDL- kolesterol.
5. Pengolahan sampel
Untuk persiapan serum, sampel darah diperbolehkan untuk menggumpal pada
tidak lebih dari 20°C biasanya sampai satu jam sebelum sentrifugasi. Spesimen darah
harus disentrifugasi pada suhu tidak lebih dari 20°C minimal 1500rpm selama 10
menit. Sampel darah keseluruhan tidak boleh dibekukan selama pemrosesan. Untuk
persiapan plasma, setelah pencampuran menyeluruh dari sampel darah dengan EDTA,
sampel darah harus didinginkan. Dalam waktu 3 jam (dan sebaiknya dalam waktu
satu jam), tabung harus disentrifugasi pada 4°C dalam centrifuge didinginkan pada
1500rpm selama 30 menit. Jika centrifuge didinginkan tidak tersedia dalam 3 jam
dari pmngambilan, sampel dapat disentrifugasi pada suhu kamar dalam waktu 1 jam
dari pengambilan, dan plasma disimpan pada suhu 4°C.
Analitik
1. Pemeriksaan Sampel
Metode enzimatik dengan analisa otomatis, yang telah digunakan sejak 1980-an,
telah menjadi metode standar dalam pengukuran kolesterol. Metode tersebut
memungkinkan presisi yang sangat baik, asalkan digunakan dengan hati-hati dan
dikalibrasi dengan benar.
Trigliserida diukur secara enzimatik dalam serum atau plasma dengan menggunakan
reaksi di mana trigliserida pertama kali dihidrolisis untuk menghasilkan gliserol.
Penentuan LDL secara tradisional dilakukan dengan rumus Friedewald: LDL =
kolesterol total - HDL - 0,45 × trigliserida. perhitungan ini memiliki beberapa
kelemahan. Penentuan LDL ini membutuhkan sampel dari pasien yang puasa dan
hasilnya dipengaruhi pada kadar trigliserida yang tinggi.
2. Kalibrasi Alat
Kalibrasi yang tepat dari instrumen pengukuran sangat penting untuk presisi dan
akurasi pengukuran. Hal yang penting adalah kalibrator sekunder, yang harus
menggunakan serum atau plasma manusia, idealnya dalam bentuk yang sama dengan
sampel darah. Hanya dengan kalibrator tersebut seseorang bisa memastikan bahwa
tidak ada efek matriks. Untuk keandalan kalibrator sekunder, harus dapat dilacak pada
metode referensi yang diakui secara internasional.
Pasca Analitik
Mencantumkan nilai rujukan pada tiap parameter yang diperiksa. Semua hasil
pemeriksaan idealnya harus dilaporkan ke 2 desimal dalam SI Unit
International. Namun, unit lama (misal mg/dl) masih sering digunakan. Hasil yang
diperoleh dalam mmol / l harus dihitung dan dilaporkan dengan dua desimal. Hasil
yang diperoleh dalam mg / dl harus dihitung satu desimal, tetapi konsentrasi
kolesterol total kemudian harus dilaporkan, dibulatkan ke bilangan bulat dan
konsentrasi HDL-C yang dihitung, yaitu untuk satu desimal.
III PARAMETER TES GLUKOSA
1. Gula darah puasa
Pada pemeriksaan ini pasien harus berpuasa 8-10 jam sebelum pemeriksaan
dilakukan. Spesimen darah yang digunakan dapat berupa serum atau plasma vena atau juga
darah kapiler. Pemeriksaan gula darah puasa dapat digunakan untuk pemeriksaan
penyaringan, memastikan diagnostik atau memantau pengendalian DM. Nilai normal 70-110
mg/dl.

2. Gula darah sewaktu


Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pada pasien tanpa perlu diperhatikan waktu
terakhir pasien pasien. Spesimen darah dapat berupa serum atau plasma yang berasal dari
darah vena. Pemeriksaan gula darah sewaktu plasma vena dapat digunakan untuk
pemeriksaan penyaringan dan memastikan diagnosa Diabetes Melitus. Nilai normal <200
mg/dl.

3. Gula darah 2 jam PP (Post Prandial)


Pemeriksaan ini sukar di standarisasi, karena makanan yang dimakan baik jenis
maupun jumlah yang sukar disamakan dan juga sukar diawasi pasien selama 2 jam untuk
tidak makan dan minum lagi, juga selama menunggu pasien perlu duduk, istirahat yang
tenang, dan tidak melakukan kegiatan jasmani yang berat serta tidak merokok. Untuk pasien
yang sama, pemeriksaan ini bermanfaat untuk memantau DM. Nilai normal <140 mg/dl.

4. Glukosa jam ke-2 TTGO


TTGO tidak diperlukan lagi bagi pasien yang menunjukan gejala klinis khas DM dengan
kadar gula darah atau glukosa sewaktu yang tinggi melampaui nilai batas sehinggasudah
memenuhi kriteria diagnosa DM. (Gandasoebrata, 2007 : 90-92).

5. Pemeriksaan HbA1c

HbA1c atau A1c merupakan senyawa yang terbentuk dari ikatan antar glukosa dan
hemoglobin (glycohemoglobin). Jumlah HbA1c yang terbentuk, tergantung pada kadar gula
darah. Ikatan A1c stabil dan dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan usai sel darah
merah), kadar HbA1c mencerminkan kadar gula darah rata-rata 1 sampai 3 bulan. Uji
digunakan terutama sebagai alat ukur keefektifan terapi diabetik. Kadar gula darah puasa
mencerminkan kadar gula darah saat pertama puasa, sedangkn glikohemoglobin atau HbA1c
merupakan indikator yang lebih baik untuk pengendalian Diabetes Melitus.

Nilai normal HbA1c 4-6%, Peningkatan kadar HbA1c > 8 % mengindikasi hemoglobin A
(HbA) terdiri dari 91 sampai 95 % dari jumlah hemoglobin total.
Molekul glukosa berikatan dengan HbA yang merupakan bagian dari hemoglobin A.
Pembentukan HbA1c terjadi dengan lambat yaitu 120 hari yang merupakan rentang hidup
eritrosit, HbA1c terdiri atas tiga molekul hemoglobin HbA1c, HbA1b dan HbA1c. Sebesar 70
% HbA1c dalam bentuk 70 % terglikosilasi pada jumlah gula darah yang tersedia. Jika kadar
gula darah meningkat selama waktu yang lama, sel darah merah akan tersaturasi dengan
glukosa dan menghasilkan glikohemoglobin.
Menurut Widman (1992:470), bila hemoglobin bercampur dengan larutan glukosa dengan
kadar yang tinggi, rantai beta hemoglobin mengikat glukosa secara reversible. Pada orang
normal 3 sampai 6 persen hemoglobin merupakan hemoglobin glikosilat yang dinamakan
kadar HbA1c. Pada hiperglikemia kronik kadar HbA1c dapat meningkat 18-20 % . glikolisasi
tidak mempengaruhi kapasitas hemoglobin untuk mengikat dan melepaskan oksigen, tetapi
kadar HbA1c yang tinggi mencerminkan adanya diabetes yang tidak terkontrol selama 3-5
minggu sebelumnya. Setelah keadaan normoglikemia dicapai, kadar HbA1c menjadi normal
kembali dalam waktu kira-kira 3 minggu.
Berdasarkan nilai normal kadar HbA1c pengendalian Diabetes Melitus dapt dikelompokan
menjadi 3 kriteria yaitu :
DM terkontrol baik / kriteria baik : <6,5%
DM cukup terkontrol / kriteria sedang :6,5 % - 8,0 %
DM tidak terkontrol / kriteria buruk : > 8,0 %