Anda di halaman 1dari 26

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA REFERAT &

FAKULTAS KEDOKTERAN LAPORAN KASUS


UNIVERSITAS HASANUDDIN JUNI 2019

REFERAT : TERAPI REALITAS


LAPORAN KASUS : GANGGUAN CEMAS MENYELURUH (F44.1)

Disusun Oleh:
Lia Wulandari Nadir
C014181095

Residen Pembimbing :
dr. Sri Wati Astuti

Supervisor Pembimbing :
dr. Rabiah Tanthawie, Sp. KJ

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama : Lia Wulandari Nadir
Stambuk : C014181095
Judul Referat : Terapi Realitas
Judul Lapsus : Gangguan Cemas Menyeluruh

Adalah benar telah menyelesaikan referat dan laporan kasus yang telah disetujui serta telah
dibacakan dihadapan pembimbing dan supervisor dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian
ILMU KEDOKTERAN JIWA Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Juni 2019

Supervisor Pembimbing, Residen Pembimbing,

dr. Rabiah Tanthawie, Sp. KJ dr. Sri Wati Astuti

2
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................................ 2


BAB 1 ............................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 4
1. 1. LATAR BELAKANG .................................................................................................. 4
BAB II............................................................................................................................................. 5
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................................. 5
2. 1. DEFINISI...................................................................................................................... 5
2. 2. TUJUAN....................................................................................................................... 6
2. 3. CIRI-CIRI TERAPI REALITAS.................................................................................. 6
2. 4. TEKNIK TERAPI REALITAS .................................................................................... 8
BAB III ......................................................................................................................................... 10
PENUTUP..................................................................................................................................... 10
3.1 KESIMPULAN .............................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 11

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1. 1. LATAR BELAKANG
Reality therapy adalah pendekatan kombinasi psikoterapi dan
konseling.Dikembangkan oleh William Glasser pada tahun 1960, reality therapy dianggap
variasi dari Cognitive Behavioral Therapy.
Reality therapy berbeda dengan psikiatri konvensional dan psikoanalisis dimana
fokus pada apa yang disebut Glasser dengan tiga R yaitu Realisme, Responsibility dan Right
atau Wrong, tidak melulu fokus pada gejala-gejala dari gangguan mental.
Reality therapy yang dicetuskan oleh William Glasser ini didasarkan pada teori
yang menekankan bahwa manusia merupakan makhluk sosial dan setiap perilaku yang
dikerjakan ada tujuannya. Oleh karena itu manusia tergantung dari perilaku mereka sendiri
dan bukan karena keluarga mereka, lingkungan mereka atau konflik saat usia anak-anak.
Sebaliknya perilaku dipandang sebagai pilihan, dan penggunaan secara luas untuk terapi
konseling, evaluasi serta pendidikan dimana reality therapy berusaha untuk menghindari
pemaksaan dan hukuman serta mengajarkan tanggung jawab.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2. 1. DEFINISI
Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang.
Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-
cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-
kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas
adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang dipersamakan dengan kesehatan
mental.Terapi realitas, yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang
dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas
keberhasilan”.(Corey,2010)
Terapi realitas adalah sebuah metode konseling dan psikoterapi perilaku kognitif
yang sangat berfokus dan interaktif, dan merupakan salah satu yang diterapkan dalam
berbagai macam lingkup. Fokusnya pada problem kehidupan saat ini yang dirasakan
klien (‘realitas terbaru’klien) dan penggunaan teknik mengajukan pengajuan pertanyaan
oleh terapis realitas.(Palmer, 2011)
Terapi realitas dikembangkan oleh William Glasser (1965) yang berpandangan
bahwa semua manusia memiliki kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis dan
psikologis.Kedua kebutuhan ini digabung menjadi satu kebutuhan yang utama disebut
kebutuhan identitas. Identitas merupakan cara seseorang melihat dirinya sendiri sebagai
manusia dalam hubungannya dengan orang lain dan dunia luarnya. (Latipun, 2011)
Menurut Glasser dan Zunin (1973) bahwa masing-masing individu memiliki
kekuatan ke arah kesehatan atau pertumbuhan.Pada dasarnya orang-orang ingin puas hati
dan menikmati suatu identitas keberhasilan, menunjukkan tingkah laku yang bertanggung
jawab, dan memiliki hubungan interpersonal yang penuh makna.Penderitaan bisa diubah
hanya dengan perubahan identitas. Karena individu bisa mengubah cara hidup, perasaan,
dan tingkah-lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas
bergantung pada perubahan tingkah laku.

5
Terapi realitas berlandaskan premis bahwa ada suatu kebutuhan psikologis
tunggal yang hadir sepanjang hidup, yaitu kebutuhan akan identitas yang mencakup suatu
kebutuhan untuk merasakan keunikan, keterpisahan, dan ketersendirian. Menurut Glasser,
basis dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-
kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencakup “kebutuhan untuk mencintai dan dicintai
serta kebutuhan untuk merasakan kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun orang
lain”. (Corey, 2010)

2. 2. Tujuan
Tujuan utama terapi realitas adalah membantu klien meningkatkan
hubungan dengan orang-orang yang mereka dekat dengannya untuk membuat
klien lebih berkualitas dalam kehidupannya (quality world).Yang mendasari
tujuan terapi realitas adalah membantu klien belajar cara-cara yang lebih baik
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanbya secara penuh, termasuk di dalamnya
adalah kekuatan atau prestasi (power or achievement), kebebasan (freedom) atau
kemandirian (independence), dan kegembiraan (fun). (Corey, 2010)

2. 3. Ciri – Ciri Terapi Realitas


Sekurangnya ada delapan ciri yang menentukan terapi realitas sebagai berikut:
a. Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental.
Pada terapi realitas diasumsikan bahwa bentuk gangguan tingkah laku yang
spesifik adalah akibat dari ketidakbertanggungjawaban.Pada terapi ini
dipersamakan gangguan mental dengan tingkah laku yang tidak bertanggung
jawab dan kesehatan mental dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.
b. Terapi realitas yang menekankan kesadaran atas tingkah laku saat ini, bahwa
perubahan sikap akan mengikuti perubahan tingkah laku.
c. Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada masa lampau.
Terapis terbuka untuk mengekplorasi segenap aspek dari kehidupan klien
sekarang, mencakup harapan, ketakutan, dan berbagai nilai.Terapi Realitas
menekankan pada kekuatan, potensi, keberhasilan, dan kualitas yang positif dari
klien, dan tidak hanya memperhatikan kemalangan dan gejala-gejalanya. Glasser

6
berpendapat bahwa klien dipandang sebagai “pribadi dengan potensi yang luas,
bukan hanya sebagai pasien yang memiliki masalah-masalah”.
d. Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai.
Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam
menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang
menyebabkan kegagalan yang dialaminya. Terapi beranggapan bahwa perubahan
mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan
mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.
e. Terapi realitas tidak menekankan tranferensi.
Terapi menempuh cara beradanya yang sejati, yakni bahwa mereka menjadi
diri sendiri, tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien. Glasser
menyatakan bahwa klien tidak mencari suatu pengulangan keterlibatan di masa
lampau yang tidak berhasil, tetapi mencari suatu keterlibatan manusiawi yang
memuaskan dengan orang lain dalam keberadaan mereka sekarang. Terapis bisa
menjadi orang yang membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan mereka
sekarang.
f. Terapi realitas menekankan aspek-aspek kesadaran, bukan aspek aspek
ketaksadaran.
Terapi realitas menekankan kekeliruan yang dilakukan oleh klien, bagaimana
tingkah laku klien sekarang hingga ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya,
dan bagaimana dia bisa terlibat dalam suatu rencana bagi tingkah laku yang
berhasil yang berlandaskan tingkah laku yang bertanggung jawab dan realistis.
g. Terapi realitas menghapus hukuman.
Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah
laku tidak efektif dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-
rencana mengakibatkan penguatan identitas kegagalan pada klien.Ia menentang
penggunaan peryataan yang mencela karena pernyataan semacam itu merupakan
hukuman.Glasser menganjurkan untuk membiarkan klien mengalami
konsekuensi-konsekuensi yang wajar dari tingkah lakunya.
h. Terapi realitas menekankan tanggung jawab
Terapi realitas menekankan tanggung jawab oleh Glasser didefinisikan
sebagai “Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan

7
melakukannya dengan cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam
memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka “.
Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup. Kita semua memiliki
kebutuhan untuk mencitai dan dicintai serta kebutuhan memiliki rasa berguna,
kita tidak memiliki kemampuan bawaan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
itu.Glasser menyatakan tanggung jawab adalah konsep inti dalam terapi realitas.
(Corey, 2010)

2. 4. Teknik Terapi Realitas


Terapi realitas banyak menggunakan metode pertanyaan dibandingkan
pendekatan yang lain. Wubbolding mengembangkan sistem WDEP yang
memberikan kerangka pertanyaan yang diajukan secara luwes dan tidak
dimaksudkan hanya sebagai langkah sederhana. Sebagai berikut:
a. W (What)= Ingin(menjelajahi keinginan, kebutuhan dan persepsi)
"Apa yang kamu inginkan?"Adalah pertanyaan utama terapis realitas
kepada klien.Terapis membantu klien untuk memeriksa “Quality World”
dan bagaimana perilaku mereka untuk pindah ke persepsi tentang dunia
luar yang lebih terbuka.
b. D (Doing)= Petunjuk atau arah dan melakukan
Terapi realitas menekankan perilaku saat ini, oleh karena itu mengajukan
pertanyaan: Apa yang kamu lakukan sekarang? Apa yang kamu lakukan
selama seminggu yang lalu? Apa yang akan ingin kamu lakukan secara
berbeda dengan minggu lalu? Bahkan jika sebagian besar masalah berakar
di masa lalu, masa lalu hanya dibahas jika membantu untuk merencanakan
hari esok yang lebih baik.
c. E (Evaluation)= Evaluasi
Inti dari terapi realitas adalah meminta klien untuk membuat evaluasi
berikut: "Apakah perilaku Anda sekarang memiliki kesempatan yang
layauntuk mendapatkan apa yang Anda inginkan sekarang, dan itu akan
membawa Anda ke tujuan yang ingin Anda capai ?". Proses evaluasi
dianggap penting bagi keberhasilan terapi.

8
d. P (Planning)=Perencanaan dan komitmen
Pertama apakah klien telah mengidentifikasi apa yang dia ingin ubah,

disini ada kebutuhan untuk mengembangkan rencana dari beberapa macam

aksi. Jika rencana tidak berjalan maka dapat diganti dengan yang lain.

Kekakuan dilarang dalam terapi realitas, fleksibilitas adalah suatu

kebajikan yang diperlukan. Wubbolding menggunakan SAMIC3 singkatan

untuk menjelaskan karakteristik rencana yang baik: Simple (sederhana),

mudah dimengerti; Attainable(dapat dicapai,) klien harus mampu

melakukan apa yang ditentukan; Measurable (terukur), harus dilakukan

sesegera mungkin; Involving, melibatkan klien; C3: controlled

(dikendalikan oleh perencana), committed (komitmen untuk melakukan),

continuously practiced (terus dipraktekkan). (Alfiah, 2013)

9
BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN
Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis
berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa
membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa
merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Tujuan utama terapi realitas adalah membantu
klien meningkatkan hubungan dengan orang-orang yang mereka dekat dengannya untuk
membuat klien lebih berkualitas dalam kehidupannya (quality world).

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Corey, G. Teori dan praktek konseling & psikoterapi.(PT Refika Aditama, 2010).

2. Palmer. Introduction to Counselling and Psychotherapy. (Sage Publication Ltd.,

2010).

3. Latipun. PSIKOLOGI KONSELING. (UMM Press, 2011).

4. Alfiah Indah. MENGENAL TERAPI REALITAS (REALITY THERAPY).

(2013)

11
LAPORAN KASUS
GANGGUAN CEMAS MENYELURUH (F41.1)

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. T

Tanggal Lahir : 31/12/1972

Umur : 47 tahun

Jenis kelamin : Laki-Laki

Alamat : Jln. Maleleng, Pangkep

Agama : Islam

Suku : Bugis

Status Perkawinan : Kawin

Pendidikan : SD

Pekerjaan :Wiraswasta

No.RM : 886314

Pasien datang ke Non Bedah IGD RSWS dengan keluarganya pada tanggal 19 Juni 2019
untuk yang pertama kalinya pukul 19.30

II. RIWAYAT PSIKIATRI

Diperoleh dari catatan medis, autoanamnesis dan alloanamnesis dari :


Nama : Hasnah
Usia : 48 tahun
Agama : Islam

Suku : Bugis

Pendidikan Terakhir : SMP


12
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jln. Maleleng, Pangkep

Hubungan dengan pasien : Istri pasien

Keluhan Utama : Gelisah


a. Riwayat Gangguan Sekarang

a. Keluhan dan Gejala


Seorang laki-laki usia 47 tahun datang ke Non Bedah IGD RSWS untuk
pertama kalinya pada tanggal 19 Juni 2019 diantar oleh keluarganya dengan
keluhan gelisah yang dialami sejak kira kira 2 minggu terakhir, disertai jantung
berdebar-debar, gemetar, rasa sesak, seperti ingin mati dan mual. Pasien juga sulit
tidur terutama diawal tidur, diakui pasien tiap malam hanya tidur 30 menit-1 jam
sehingga paginya mudah capek. Keluhan ini hamper tiap hari dirasakan oleh pasien
dalam 2 minggu ini dan dipicu oleh hal-hal yang tidak jelas. Nafsu makan juga
berkurang dalam 2 minggu ini. 1 hari yang lalu pasien meninju tembok karena tidak
tahan dengan keberadaannya dan selalu rasa mau mati bila keluhannya muncul.
Awal perubahan perilaku dialami pasien sejak kira kira 2 tahun yang lalu tanpa
sebab yang jelas. Pasien sulit tidur malam dan sering cemas. Pasien sudah berobat
ke dokter spesalis penyakit dalam di pangkep dengan sudah di cek lab lengkap, Ct-
scan, MRI, EKG , tapi semua dalam batas normal. 1 tahun terakhir dikonsul ke
psikiatri pangkep dan diberi 4 macam obat (Mepotilin 50 mg, Haloperidol 1,5mg,
Lorazepam 2 mg, Kalxetine 20mg) tetapi 2 minggu terakhir ini pasien sudah
merasa tidak cocok dengan obatnya karena sering rasa mau mati dan gemetar.
Setiap rasa mau matinya tidak bisa ditahan, pasien pergi ke IGD RS pangkep.
Pasien sudah menikah, pendidikan terakhir SD, Pasien anak ke 4 dari 13
bersaudara. Riwayat trauma , napza, infeksi, dan alkhol tidak ada. Merokok pernah
tapi berhenti .dulu pasien berkerja sebagai kuli bagunan setelah sakit tidak bekerja.

13
b. Hendaya dan disfungsi
 Hendaya sosial (+)
 Hendaya pekerjaan (+)
 Hendaya gangguan waktu senggang (+)

c. Faktor stress psikososial


Awal perubahan perilaku pasien dimulai sejak 1 tahun lalu dengan keluhan
yang sama. Awalnya pasien hanya mencemaskan masalah pekerjaannya,
hingga kecemasannya berkembang dan merembes ke masalah kondisi
kesehatannya. Pasien dibawa berobat di RS Pangkep namun pasien merasa
keluhannya tidak membaik.

d. Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat fisik dan psikis sebelumnya :


 Riwayat infeksi (-)
 Riwayat trauma (-)
 Riwayat kejang (-)
 Riwayat merokok (+) namun sudah berhenti. Dulu, merokok 4 bungkus/hari
selama 10 tahun
 Riawayat alkohol (-)
 Riwayat NAPZA (-)

b. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak memiliki riwayat infeksi, trauma, kejang, dan penyakit lain sebelumnya.
2. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif
Pasien pernah merokok tapi telah berhenti, konsumsi NAPZA disangkal. Pasien juga
tidak pernah mengonsumsi alkohol.
3. Riwayat Gangguan Psikiatri Sebelumnya
Pasien pernah mengalami gangguan psikiatri sebelumnya dan pernah berobat ke
psikiater.

14
Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Prenatal dan Perinatal (0-1 tahun)
Pasien lahir normal cukup bulan di rumahnya, di Kabupaten Pangkep, ditolong oleh
dukun. Tidak ditemukan cacat lahir ataupun kelainan bawaan. Ibu pasien juga tidak
pernah mengalami pendarahan dan penyakit fisik selama kehamilan. Tidak ada
konsumsi alkohol, obat-obatan atau jamu selama kehamilan dan mendapat ASI
eksklusif dari ibunya sampai usia 2 tahun.

2. Riwayat Masa Kanak Awal (sejak lahir hingga usia 1-3 tahun)
Pasien tinggal bersama orang tua dan saudaranya. Pasien lanjut minum susu formula
pada usia 2 tahun dan mulai makan makanan biasa. Pasien bertumbuh dan
berkembang seperti anak seusianya.
3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan ( usia 4-11 tahun)
Pasien mulai bersekolah di SD pada usia 6 tahun. Pasien merupakan murid yang rajin
dan tidak malas ke sekolah namun prestasi di sekolah biasa saja. Pasien adalah
seorang yang mudah bergaul dengan orang lain tetapi lebih nyaman jika berjalan
sendiri.

4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja ( usia 12-18 tahun)


Pasien dikenal sebagai seorang pendiam namun memiliki beberapa teman di
lingkungannya. Pasien lebih banyak memiliki teman di dekat rumahnya saja karena
lebih sering berinteraksi dengan orang dalam lingkup rumah dan sekitarnya. Pasien
tidak memiliki pacar sewaktu remaja. Pasien sering berkumpul dengan teman-
temannya untuk bermain sepak bola di dekat rumahnya.

5. Riwayat Masa Dewasa

 Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai wiraswasta (pemborong bahan bangunan) di Kota Pangkep.
 Riwayat Pernikahan
Pasien menikah pada tahun 1988hingga saat ini.
 Riwayat Agama
Pasien memeluk agama Islam dan menjalankan kewajiban ibadah dengan baik.
 Riwayat Pelanggaran Hukum

15
Selama ini pasien tidak pernah terlibat dengan masalah pelanggaran hukum.
c. Riwayat Kehidupan Keluarga
Pasien merupakan anak ke 4 dari 13 bersaudara. Hubungan pasien dengan
keluarganya baik. Ayahnya meninggal 5 tahun yang lalu. Pasien menikah ketika berumur
16 tahun. Ketika tengah menghadapai suatu masalah, pasien selalu bercerita kepada
istrinya. Namun sejak setahun lalu, pasien merasa dia sudah tidak bisa mengontrol
kondisi yang dialaminya sehingga keluarga sepakat untuk membawanya ke dokter
spesialis penyakit dalam namun tidak ditemukan hasil pemeriksaan klinis yang
bermakna. Sehingga pasien dirujuk ke bagian psikiatri yang bertugas di Kota Pangkep.
Pasien sudah berobat selama setahun namun tidak merasa mengalami perbaikan sehingga
memutuskan untuk berobat ke RS Wahidin.

GENOGRAM

Keterangan:

= Laki – laki = tinggal serumah

= Perempuan

= Gangguan Jiwa

= Meninggal

= Penderita

16
d. Situasi Sekarang
Saat ini pasien tinggal bersama istri, anak pertama dan keluarganya (suami dan
kedua anaknya), anak ketiga dan keempatnya yang masih berstatus sebagi pelajar. Anak
keduanya tinggal di Jayapura mengikuti suami dan akan kembali bulan Juli nanti setelah
2 tahun merantau.

e. Persepsi Pasien tentang diri dan kehidupannya


Pasien sadar bahwa dirinya sakit,tetapi menyalahkan faktor lain sebagai penyebab
sakitnya.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL (2 April 2019)


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Seorang Laki-laki berusia 47 tahun. Wajah sesuai umur, perawakan tinggi dan
kurus, perawatan diri cukup, memakai kemeja kotak –kotak dan jeans. Kontak matak
dan verbal ada.
2. Kesadaran
Baik, secara kualitas tidak berubah
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Keadaan pasien agak gelisah dan tremor
4. Pembicaraan
Spontan dan lancar. Pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan
isi hatinya dengan jelas. Pasien dapat menjawab sesuai pertanyaan dan tidak ada
hendaya berbahasa.
5. Sikap terhadap pemeriksa
Kooperatif

17
B. Keadaan Afektif (Mood), Perasaan, Empati, dan Perhatian
 Mood : Cemas
 Afek : Cemas
 Empati : Dapat dirabarasakan

C. Fungsi Intelektual (Kognitif)


1. Taraf pendidikan :
Pengetahuan umum dan kecerdasan pasien sesuai dengan taraf pendidikan.
2. Daya konsentrasi : Mudah beralih karena gelisah
3. Orientasi
 Waktu : Baik
 Tempat : Baik
 Orang : Baik
4. Daya ingat
 Jangka panjang : Baik
 Jangka pendek : Baik
 Jangka segera : Baik
5. Pikiran Abstrak : Baik
6. Bakat kreatif : Tidak ada
7. Kemampuan menolong diri sendiri: Baik

D. Gangguan Persepsi
I. Halusinasi : Tidak ada
II. Ilusi : Tidak ada
III. Depersonalisasi : Tidak ada
IV. Derealisasi : Tidak ada

E. Proses Berpikir
1. Arus Pikiran
2. Produktivitas : Normal
3. Kontuinitas : Relevan, koheren

18
4. Hendaya berbahasa : Tidak ada
2. Isi Pikiran
 Preokupasi : Cemasnya tentang kondisi kesehatannya dan selalu
minta obat karena mau mati rasanya
 Gangguan isi pikiran : Tidak ada
 Waham kejar : Tidak ada

F. Pengendalian Impuls : baik (terkendali)

G. Daya Nilai
1. Norma sosial : Tidak terganggu
2. Uji daya nilai : Tidak terganggu
3. Penilaian realitas : Tidak terganggu

H. Tilikan (Insight)
Derajat 3 (Menyadari dirinya sakit, namun menyalahkan faktor lain sebagai penyebab
penyakitnya).

I. Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya.

IV. PEMERIKSAAN FISIK DAN NEUROLOGI


1. Status Internus
Tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 84 x/menit, pernapasan 20 x/ menit, suhu
36,70C, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus, jantung, paru, dalam batas
normal, ekstremitas atas dan bawah tidak ada kelainan. Mual ada.
2. Status Neurologis
Kesadaran saat datang berada pada GCS 15 (E4V5M6). Gejala rangsang selaput
otak: kaku kuduk (-), kernig’s sign (-)/(-), pupil bulat dan isokor 2,5 mm/2,5 mm, refleks
cahaya (+)/(+), fungsi motorik dan sensorik keempat ekstremitas dalam batas normal,
tidak ditemukan refleks patologis,

19
V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Seorang laki-laki usia 47 tahun datang ke Non Bedah IGD RSWS untuk pertama kalinya
pada tanggal 19 Juni 2019 diantar oleh keluarganya dengan keluhan gelisah yang dialami sejak
kira kira 2 minggu terakhir, disertai jantung berdebar-debar, gemetar, rasa sesak, seperti ingin
mati dan mual. Pasien juga sulit tidur terutama diawal tidur, diakui pasien tiap malam hanya
tidur 30 menit-1 jam sehingga paginya mudah capek. Keluhan ini hampir tiap hari dirasakan oleh
pasien dalam 2 minggu ini dan dipicu oleh hal-hal yang tidak jelas. Nafsu makan juga berkurang
dalam 2 minggu ini. 1 hari yang lalu pasien meninju tembok karena tidak tahan dengan
keberadaannya dan selalu rasa mau mati bila keluhannya muncul. Awal perubahan perilaku
dialami pasien sejak kira kira 2 tahun yang lalu tanpa sebab yang jelas. Pasien sulit tidur malam
dan sering cemas. Pasien sudah berobat ke dokter spesalis penyakit dalam di pangkep dengan
sudah di cek lab lengkap, Ct-scan, MRI, EKG , tapi semua dalam batas normal. 1 tahun terakhir
dikonsul ke psikiatri pangkep dan diberi 4 macam obat (Mepotilin 50 mg, Haloperidol 1,5mg,
Lorazepam 2 mg, Kalxetine 20mg) tetapi 2 minggu terakhir ini pasien sudah merasa tidak cocok
dengan obatnya karena sering rasa mau mati dan gemetar. Setiap rasa mau matinya tidak bisa
ditahan, pasien pergi ke IGD RS pangkep. Pasien sudah menikah, pendidikan terakhir SD,
Pasien anak ke 4 dari 13 bersaudara. Riwayat trauma , napza, infeksi, dan alkhol tidak ada.
Merokok pernah tapi berhenti .dulu pasien berkerja sebagai kuli bagunan setelah sakit tidak
bekerja.
Dari pemeriksaan status mental didapatkan penampilan seorang laki-laki , wajah tampak
sesuai umur (47 tahun), mengenakan baju kotak –kotak dengan celana jeans. Pasien cukup rapi
dan perawatan diri pasien cukup baik, kesadaran baik, psikomotor kesan baik, verbalisasi
spontan, intonasi baik, mood cemas, afek cemas, tidak ada gangguan persepsi, preokupasi pasien
tentang cemasnya dan minta obat karena rasa ingin mau mati perasaanya, pengendalian impuls
tidak terganggu, tilikan derajat 3 dan secara keseluruhan apa yang diutarakan pasien dapat
dipercaya.

20
VI. EVALUASI MULTIAKSIAL (SESUAI PPDGJ III)
1. Aksis I
Berdasarkan autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan gejala
klinis yang bermakna yaitu adanya gejala klinis berupa cemas yang menjadi
ketidaknyamanan (distress) dan adanya hendaya sosial dan senggang waktu (disability)
sehingga pasien dapat disimpulkan mengalami gangguan jiwa. Pada pemeriksaan
status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realita sehingga pasien
dikatakan mengalami gangguan jiwa non-psikotik.
Pada riwayat penyakit sebelumnya dan pemeriksaan status internus dan
neurologis tidak ditemukan adanya kelainan yang mengindikasikan gangguan medis
umum serta tidak ada riwayat penyalahgunaan NAPZA sebelumnya yang dapat
menimbulkan disfungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita
pasien saat ini, sehingga kemungkinan gangguan akibat dari kondisi medis umum atau
induksi zat dapat disingkirkan.
Dari autoanamnesis didapatkan afek cemas, mood eutimia, cemas yang dirasakan
secara terus-menerus hampir setiap hari, Sulit memasuki waktu tidur dan terbangun
tengah malam, disertai gejala somatik berupa jantung berdebar-debar, keringat dingin,
rasa perih yang menyebar di seluruh dada, nyeri kepala, gemetar, dan nyeri otot di
seluruh tubuh. Gangguan persepsi lainnya tidak ada dan fungsi kognitifnya normal.
Keluhan cemas sebagai gejala primer berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa
minggu sampai beberapa bulan yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada situasi
khusus tertentu saja(sifatnya “free floating“ atau “mengambang”). Hal ini memenuhi
kriteria diagnosa EpisodeCemas Menyeluruh (F41.1).
Pasien didiagnosis banding dengan:

1. Gangguan Somatisasi

2. Gangguan Panik

21
2. Aksis II
Pasien dikenal sebagai seorang yang mudah bergaul namun akhir-akhir lebih
sering menyendiri. Data yang didapatkan belum cukup yang mengarah pada ciri suatu
kepribadian tertentu (tidak khas)

3. Aksis III
Tidak terdapat gangguan fisik
4. Aksis IV
Stressor tidak Jelas.
5. Aksis V
GAF Scale 40-31: beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi,
disabilitas berat dalam beberapa fungsi

VII. DAFTAR MASALAH


1. Organobiologik : Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang bermakna, tetapi
diduga terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter, maka pasien memerlukan
farmakoterapi.
2. Psikologi : Ditemukan adanya masalah psikologi sehingga pasien
memerlukan psikoterapi

VIII. RENCANA TERAPI


1. Farmakoterapi :
Risperidon 0,5 mg 1 tablet/24jam/oral
Fluoxetine 20mg 1 tablet/24jam/oral/pagi
Alprazolam 1 mg ½ tablet /24jam/oral /pagi
Alprazolam 1 mg 1 tablet /24jam/oral /malam

2. Psikoterapi
Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan
pasien terhadap stress). Hal ini dilakukan mengingat toleransi dan kemampuan

22
pasien menghadapi stress. Psikoterapi suportif yang diberikan dapat berupa ventilasi,
yaitu memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan keluhan dan isi
hati serta perasaan sehingga pasien merasa lega.

3. Sosioterapi
Memberikan penjelasan kepada pasien, keluarga pasien dan orang-orang di
sekitarnya sehingga dapat menerima dan menciptakan suasana lingkungan yang
mendukung proses penyembuhan pasien.

4. Edukasi
Menyarankan kepada keluarga tentang pentingnya dukungan kepada pasien yaitu
mengajak pasien bercerita, melakukan hal-hal sesuai dengan minat pasien dan
mengurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor. Berdiskusi terhadap
pentingnya pasien untuk teratur minum obat dan kontrol ke dokter. Selain itu, juga
menyarankan agar pasien kembali menyibukkan diri dengan aktivitas sehari-hari
seperti sebelum pasien sakit kembali melakukan hal-hal yang menyenangkan dan
tidak memendam emosi sendiri.

IX. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : Dubia ad bonam

 Quo ad functionam : Dubia ad bonam

 Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

1. Faktor pendukung
 Motivasi pasien besar untuk sembuh
 Dukungan keluarga yang baik terhadap kesembuhan pasien
2. Faktor penghambat
 Pemicu Stressor tidak khas.

23
X. FOLLOW UP

Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta menilai efektivitas terapi
dan kemungkinan efek samping yang terjadi.

XI. DISKUSI
Gangguan Cemas Menyeluruh(F41.1) merupakan kondisi gangguan yang ditandai
dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan
terkadang tidak realistik terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari. Cemas dapat
dirasakan hampir tiap hari dan tiap waktu. Kecemasan yang dirasakan sulit untuk
dikendalikan dan berhubungan dengan gejala-gejala somatik seperti ketegangan otot,
iritabilitas, kesulitan tidur dan kegelisahan sehingga menyebabkan penderitaan yang jelas
dan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan.
Berdasarkan PPDGJ III untuk mendiagnosis pasien Gangguan Cemas
Menyeluruh (F41.1) harus memenuhi pedoman diagnostik, yaitu:
 Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung
hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak
terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya
“free floating” atau mengambang).
 Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
a) Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk, sulit
konsentrasi, dsb)
b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai); dan
c) Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-
debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb)
 Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan
serta keluhan-keluhan somatik berulang yang menonjol.
 Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari),
khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama gangguan anxietas
menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode

24
depresif, gangguan anxietas fobik, gangguan panik, atau gangguan obsesif-
kompulsif.

Obat Penanganan pasien ini meliputi psikofarmakologi dan psikoterapi.


Farmakoterapi pada pasien ini menggunakan benzodiazepin yaitu Alprazolam.
Benzodiazepin bekerja dengan bereaksi terhadap reseptornya akan meningkatkan
fungsi inhibisi GABAnergik, sehingga hiperaktifitas dari sistem limbik mereda.
Alprazolam memiliki waktu paruh yang pendek yaitu 12-15 jam dan efek sedasi lebih
pendek dibanding benzodiazepin lainnya, sehingga tidak akan terlalu mengganggu
aktifitas. Selain itu juga digunakan antidepressant golongan SSRI yakni Fluoxetine
(Serotonin Selective Reuptake Inhibitor) yang memiliki efek samping gastrointestinal
paling kecil. Obat ini mempunyai profil efek samping yang lebih baik dengan efek
sedasi minimal, hipotensi, dan efek antikolinergik, dan mungkin dapat menyebabkan
penurunan berat badan daripada penambahan berat badan. Fluoxetine memiliki waktu
paruh yang panjang sehingga tidak menimbulkan efek withdrawal. Dosis terapeutik
Fluoxetine antara 20-60 mg/hari dengan waktu paruh 24 sampai 72 jam. Pada pasien
ini diberikan Fluoxetine dengan dosis 20 mg/hari, dengan alasan dosis tersebut adalah
dosis terapeutik, dengan dosis terapeutik yang kecil maka efek samping ke
gastrointestinal juga akan lebih kecil. Neurotransmiter utama yang berhubungan
dengan anxietas di daerah limbik adalah norepinefrin, gamma-aminobutyric acid
(GABA), dan serotonin. Manfaat pengobatan ansietas dengan benzodiazepin adalah
diimplikasikan dalam GABA, yang memegang peranan dalam patofisiologi terjadinya
gangguan cemas.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical Manual of Mental Disorder Fifth

Edition. United Statesof America: America Psychiatric Publishing, 2013.

2. Kaplan and Sadock. Mood Disorder in Synopsis of Psychiatry. Tenth Edition. Philadelphia :

Lippincott Williams&Wilkins, 2007.

3. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi 2014. Jakarta : Bagian

Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, 2014

26