Anda di halaman 1dari 8

TUGAS AKHIR M3

YUNIARTI, S.Pd
PPG DALJAB
(19090118010297)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuhan menciptakan setiap manusia dengan begitu sempurnanya
yang bahkan tidak dapat ditemukan dari setiap makhluk hidup lainnya.
Manusia merupakan satu-satunya makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan
Yang Maha Esa karena selain dikaruniai fisik yang bagus juga dikaruniai
otak sebagai modal utama dalam proses berpikir dan berperilaku di samping
hati sebagai pusat kendali dari perasaan manusia. Oleh sebab itu, untuk
mengetahui hakikat dirinya, manusia selalu memikirkan apa, dan siapa
dirinya, sehingga untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut manusia
berfilsafat untuk menemukan konsep teoritis dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Otak merupakan perangkat yang paling kompleks di dunia. Otak
merupakan tempat menerima, menyimpan kemudian mengenali informasi
yang ada, artinya otak adalah pusat ingatan manusia (Markowitz dan
Jensen, 2002). Trilyunan sel otak memiliki fungsi spesifik tetapi saling
berhubungan. Mengendalikan seluruh aspek fisik dan psikis manusia.
Kapasitas penyimpanan memori di dalam otak jauh melebihi kapasitas
hardisk komputer terbesar sekalipun.
Memori atau ingatan adalah retensi informasi dari waktu ke waktu
yang melibatkan encoding, penyimpanan dan pengambilan kembali. Para
psikolog pendidikan mempelajari bagaimana informasi diletakkan atau
disimpan dalam memori, bagaimana ia ditemukan atau diungkapkan kembali
untuk tujuan tertentu di kemudian hari. Tanpa adanya memori, kita tidak
mampu menghubungkan apa yang terjadi kemarin dengan apa yang sedang
kita alami sekarang. Selama otak dalam keadaan sehat manusia akan selalu
melakukan proses mengingat.
Semua informasi yang kita peroleh terekam di dalam ingatan. Akan
tetapi, tidak semua informasi tersebut dapat bertahan lama dalam ingatan
atau hilang karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Ketika
individu memperoleh suatu informasi, secara tidak langsung otak akan
memproses informasi tersebut. Semakin banyak informasi yang diperoleh
seseorang berarti semakin sering terjadi kaitan antara informasi satu dengan

1
informasi yang lain. Apabila dalam pemrosesan tersebut terdapat perhatian
(attention) pada informasi yang diperoleh, maka akan menghasilkan suatu
pemahaman.
Namun betapapun kuatnya ingatan seseorang pada suatu waktu
kemudian ingatan itu akan mengalami suatu proses kelupaan. Ingatan pada
suatu ketika tidak dapat lagi menghadirkan suatu keterangan yang
diperlukan karena lupa. Kelupaan terjadi karena tiada penggunaan. Hal ini
sesuai dengan teori memudar pasif (passive decay theory) bahwa ingatan
membuat jejak fisik dalam otak seseorang yang lama-lama terhapus dengan
berlalunya waktu. Berdasarkan uraian tersebut penulis membuat makalah ini
dengan judul “Pengorganisasian Informasi dalam Ingatan Manusia”.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana pengorganisasian informasi/pengetahuan
dalam ingatan manusia?
2. Sifat informasi apa sajakah yang mudah diingat?
3. Bagaimana agar ingatan kuat?
4. Bagaimana aplikasi pengorganisasian informasi dalam
pembelajaran?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah agar guru dapat
mengetahui dan memahami tentang pengorganisasian informasi dalam
ingatan manusia sehingga guru dapat memfasilitasi siswa dalam belajar
secara optimal.

D. Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Batasan Masalah
D. Tujuan Penulisan
E. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengorganisasian Informasi Dalam Ingatan Manusia
B. Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi
BAB III SIMPULAN
A. Kesimpulan

2
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengorganisasian Informasi dalam Ingatan Manusia


Ingatan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai alat
(daya batin) untuk mengingat atau menyimpan sesuatu yang pernah diketahui
(dipahami, dipelajari, dan sebagainya). Informasi yang kita peroleh terekam di
dalam ingatan melalui proses berpikir. Informasi yang masuk kemudian
diproses dan tersimpan, berkaitan erat dengan kemampuan kognisi seseorang
(Frishamma, 2002). Dengan kata lain, pemrosesan informasi dipengaruhi oleh
factor memori dan dan kognisi termasuk kecerdasan seseorang (Frishamma,
2002).
Informasi mencakup pengetahuan apapun yang terekam dalam buku,
artikel majalah, film, video ataupun pengetahuan yang disampaikan secara
lisan dalam suatu percakapan, ceramah, pidato dan sebagainya. Pemrosesan
informasi dipengaruhi oleh faktor memori dan kognisi termasuk kecerdasan
seseorang (Frishammar, 2002). Resnick (1981) berpendapat bahwa dalam
psikologi pemrosesan informasi memfokuskan pada struktur pengetahuan dan
pada mekanisme dimana pengetahuan dimanipulasi, ditransformasi dan
dihasilkan dari proses beberapa pemecahan masalah. Pemrosesan informasi
didalam pikiran berlangsung terus-menerus selama adanya informasi baru
yang masuk dalam pikiran.
Komponen pemrosesan informasi dipilah berdasarkan perbedaan
fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya. Komponen
tersebut adalah:
1. Sensory Memory (SM)
Sensory Memory (SM) merupakan ingatan sekilas atau sekelebat yang
didapat melalui panca indera biasanya.
2. Working Memory (WM)
Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang
diberi perhatian oleh individu. Karakteristik WM adalah memiliki kapasitas
terbatas (informasi hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik tanpa
pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda
dari stimulus aslinya.
3. Short Term Memory (STM)

4
Short Term Memory (STM) atau memori jangka pendek memiliki
kapasitas yang kecil sekali, namun sangat besar peranannya dalam
proses memori, yang merupakan tempat dimana kita memproses
stimulus yang berasal dari lingkungan kita.
4. Long Term Memory (LTM)
Long Term Memory (LTM) diasumsikan; (a) berisi semua pengetahuan
yang telah dimiliki individu; (b) mempunyai kapasitas tidak terbatas; ( c)
sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau
hilang.

Teori proses masuknya rangsangan ke penyimpanan dan ingatan


digambarkan sebagai berikut (Surgenor, 2010):

Stimulus yang masuk melalui pancaindra diterima oleh Sensory Memory,


sensory memory menyimpan semua informasi sensorik (visual, pendengaran,
penciuman, dan haptic) untuk periode yang sangat singkat dalam bentuk
sensoriknya yang mentah. Melalui perhatian yang selektif (selective attention)
informasi dipindahkan ke dalam kesadaran dan memori jangka pendek (short
term memory), sedangkan informasi yang tidak lolos attention dilupakan.
Hubungan antara memori jangka pendek dan memori kerja (working memory)
masih belum jelas namun diibaratkan jika memori jangka pendek adalah
memori sadar maka maka memori kerja adalah setara dengan catatan post-it.

5
Selanjutnya dengan rehearsal and encoding informasi yang telah dipelajari
disimpan di memori jangka panjag (Long Term Memory).
Contohnya saat kita ingin mengingat nomor telepon. Sebagai stimulus
awal nomor telepon ditangkap oleh pancaindra (bisa melalui telinga jika dalam
bentuk suara, atapun mata jika dalam bentuk tulisan). Nomor telepon yang
ditangkap melalui pancaindra disimpan di working memory. Saat kita
mengingat nomor telepon untuk sesaat berarti kita menyimpannya di short
term memory. Ketika kita mengulang secara verbal secara terus menerus dan
sewaktu-waktu kerap diulang kembali (recalling) nomor tersebut akan
disimpan di memori jangka panjang (long term memory).

B. Ingatan (Memori)
Memori merupakan simpanan informasi-infomasi yang diperoleh dan
diserap dari lingkungan yang kemudian diolah sesuai dengan individu yang
bersangkutan. Memori juga merupakan
C. Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi merupakan teori kognitif tentang belajar
yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali
pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori pemrosesan informasi ini
didasari oleh asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting. Dalam proses pembelajaran terjadi adanya proses informasi
kemudian diolah sehingga menciptakan suasanya yang terencana, dan
suasana pembelajaran yang mendukung. Teori kognitif lebih menekankan
pada proses belajar daripada hasil belajarnya. Proses belajar tidak hanya
sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon melainkan tingkah
laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi
yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.
Menurut Rehalat (2014) model pembelajaran pemrosesan informasi
adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait
dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan
kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan
pada fungsi kognitif peserta didik. Model ini berdasarkan teori belajar kognitif
sehingga model tersebut berorientasi pada kemampaun siswa memproses
informasi dan sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut.
Model pemrosesan informasi ini didasari oleh teori belajar kognitif (Piaget) dan

6
berorientasi pada kemampuan peserta didik memproses informasi yang dapat
memperbaiki kemampuannya.
Pemrosesan Informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima
stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah,
menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual. Ilmu kognisi
(cognitive science) merupakan kajian mengenai inteligensi manusia, program
computer, dan teori abstrak dengan penekanan pada perilaku cerdas, seperti
perhitungan (Simon & Kaplan, 1989). Teori pemrosesan informasi kognitif
dipelopori oleh Robert Gagne (1985). Asumsinya adalah pembelajaran
merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Pembelajaran
merupakan keluaran pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia.
Adapun implikasi teori pemrosesan informasi terhadap kegiatan
pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Model pemrosesan informasi dari belajar dan ingatan memiliki
signifikasi yang besar bagi perencanaan dan desain pembelajaran dalam
proses pendidikan. Belajar dimulai dengan pemasukan stimulasi dari
reseptor dan diakhiri dengan umpan balik yang mengikuti performa
pembelajar.
2. Secara keseluruhan stimulasi yang diberikan kepada pembelajar
selama pembelajaran berfungsi mendukung yang terjadi pada
pembelajaran.

7
BAB III
SIMPULAN

A. Kesimpulan
Pemrosesan informasi di dalam pikiran berlangsung terus-menerus
selama adanya informasi baru yang masuk dalam pikiran. Psikologi pemrosesan
informasi memfokuskan pada struktur pengetahuan dan pada mekanisme
dimana pengetahuan dimanipulasi, ditransformasi dan dihasilkan dari proses
beberapa pemecahan masalah. Stimulus yang masuk melalui pancaindra
diterima oleh sensory memory. Sensory memory menyimpan semua informasi
sensorik (visual, pendengaran, penciuman, dan haptic) untuk periode yang
sangat singkat dalam bentuk sensoriknya yang mentah.
Melalui perhatian yang selektif (selective attention) informasi
dipindahkan ke dalam kesadaran dan memori jangka pendek (short term
memory), sedangkan informasi yang tidak lolos attention dilupakan. Hubungan
antara memori jangka pendek dan memori kerja (working memory) masih belum
jelas namun diibaratkan jika memori jangka pendek adalah memori sadar maka
maka memori kerja adalah setara dengan catatan post-it. Selanjutnya dengan
rehearsal dan encoding informasi yang telah dipelajari disimpan di memori
jangka panjag (long term memory).
Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran
yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau
pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses
pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik.