Anda di halaman 1dari 2

LATAR BELAKANG :

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua istilah yang berbeda, namun


keduanya tidak dapat dipisahkan dan bersifat interdependen (Potter & Perry, 2005).
Pertumbuhan didefinisikan sebagai bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh seseorang
karena bertambahnya jumlah dan besarnya sel secara kuantitatif, seperti pertambahan ukuran
berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Perkembangan didefinisikan sebagai
pertambahan kematangan fungsi dari masing-masing tubuh dan bersifat kualitatif, seperti
kemampuan anak untuk tengkurap, duduk, berjalan, berbicara, memungut benda-benda di
sekelilingnya, serta kematangan emosi dan sosial anak (Nursalam, 2008). Pertumbuhan dan
perkembangan masa kanak-kanak terjadi sangat cepat. Hal ini disebabkan karena adanya
stimulus internal, yaitu dari hereditas dan temperamen maupun stimulus eksternal, yaitu dari
keluarga, teman sebaya, pengalaman hidup dan elemen dari lingkungan yang didapat oleh
anak (Potter & Perry, 2005).
Perkembangan fisik anak usia prasekolah lebih lambat dan relatif menetap. Sistem
tubuh sudah matang dan keterampilan motorik seperti berjalan, berlari, melompat menjadi
semakin luwes, namun otot dan tulang belum begitu sempurna, serta pada masa ini anak
sudah mulai terlatih untuk toileting (Supartini, 2004). Pada usia prasekolah anak sudah dapat
melakukan buang air kecil dan buang air besar di tempatnya serta pada periode ini, konsep
diri anak sudah mulai berkembang, terjadi peningkatan kontrol diri dan penguasaan, lebih
banyak bergerak, peningkatan kemandirian dan sudah siap untuk melakukan toilet training
(Potter & Perry, 2005).
Toilet training merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol
buang air kecil dan buang air besar (Hidayat, 2008). Latihan ini mulai dilakukan pada anak
usia 1-3 tahun, karena pada usia ini kemampuan sfingter uretra untuk mengontrol rasa ingin
buang air kecil mulai berkembang (Supartini, 2004). Keberhasilan toilet training memberikan
beberapa keuntungan bagi anak, seperti dapat mengontrol buang air kecil dan buang air
besar, awal terbentuknya kemandirian anak, dan juga anak mulai mengetahui beberapa
bagian tubuh dan fungsinya (Warga, 2007). Namun disisi lain, kegagalan toilet training
disebabkan oleh tidak dilaksanakannya penerapan toilet training kepada anak atau penerapan
yang terlalu dini dapat beresiko menimbulkan infeksi saluran kemih (Natalia, 2006), serta
dapat menyebabkan anak mengalami enuresis atau mengompol.
Enuresis atau yang lebih dikenal dengan istilah “mengompol”, tidak asing terdengar
di telinga kita. Enuresis adalah gangguan dalam pengeluaran urin secara tidak sadar pada
siang atau malam hari pada anak yang berusia lebih dari empat tahun tanpa adanya kelainan
fisik atau penyakit organik (Hidayat, 2008). Enuresis telah menjadi salah satu “momok” yang
sering dihadapi khususnya bagi para ibu yang telah mempunyai anak, terutama yang anak
yang berusia antara 4-6 tahun. Dalam kasus ini tidak jarang pula usia di atas 6 tahun masih
mengalami enuresis. Berdasarkan fenomena tersebut, dilihat bahwa masih kurangnya
perhatian orang tua terhadap proses toilet training. Toilet training jarang diterapkan orang tua
kepada anaknya karena menganggap toilet training adalah hal yang tidak terlalu penting,
akibatnya anak terbiasa buang air kecil di celana atau sembarang tempat. Atas dasar realita
inilah penulis tertarik untuk membahasnya dalam bentuk makalah dengan judul "Hubungan
Penerapan Toilet Training terhadap Enuresis pada Anak”.