Anda di halaman 1dari 19

PAPER

DYSTONIA DAN DYSKINESIA

Penyusun :
DICKY
150100097

Supervisor :
dr. Muhammad Yusuf, Sp.S, FINS

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT SARAF


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Dystonia
dan Dyskinesia”. Penulisan makalah ini adalah salah satu syarat untuk
menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Senior Program Pendidikan Profesi Dokter di
Departemen Neurologi, Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada dokter selaku pembimbing yang telah
memberikan arahan dalam penyelesaian makalah ini. Dengan demikian diharapkan
makalah ini dapat memberikan kontribusi positif dalam sistem pelayanan kesehatan
secara optimal.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
perbaikan dalam penulisan makalah selanjutnya.

Medan, Juni 2019

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ................................................................................................. i
Daftar Isi ......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1


1.1.Latar Belakang ................................................................................ 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 3


2.1. Definisi........................................................................................... 3
2.2. Etiologi........................................................................................... 3
2.3. Epidemiologi .................................................................................. 4
2.4. Klasifikasi ...................................................................................... 4
2.5. Patofisiologi ................................................................................... 7
2.6. Manifestasi Klinis .......................................................................... 7
2.7. Diagnosis........................................................................................ 12
2.8. Diagnosis Banding ......................................................................... 12
2.9. Penatalaksanaan ............................................................................. 12
2.10. Prognosis ...................................................................................... 14
2.11. Penyulit ........................................................................................ 14

BAB III KESIMPULAN ............................................................................... 15


DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 16

ii

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Distonia adalah gangguan gerak yang fitur utamanya adalah otot tak sadar
terjadi kontraksi atau spasme. Istilah distonia ini awalnya diperkenalkan oleh
Oppenheim pada tahun 1911 untuk menggambarkan otot dan kelainan postural
yang terlihat dalam kondisi ini. Konsep distonia sendiri membingungkan sebagai
istilah telah digunakan untuk menggambarkan sebagai gejala (misalnya lengan
distonik postur), penyakit (dystonia torsi primer) atau sindrom. 1

Distonia mewakili kelompok umum dari gangguan gerak yang mencakup


berbagai kondisi dari satu-satunya manifestasi adalah kejang otot distonik, dimana
distonia merupakan salah satu bagian yang lebih parah dari kondisi neurologis.
Distonia dapat berkembang pada usia berapa pun, terbagi dalam masa bayi (<2
tahun), anak (3-12 tahun), remaja (13-20 tahun), awal (21-40) dan akhir (> 40
tahun). Onset distonia sering terjadi pada usia awal (<26 tahun) dan akhir (> 26
tahun). 1

Dalam studi populasi genetik dan klinis pada distonia, 80% dari populasi
mengalami tremor untuk distonia pada umumnya (Larsson dan Sjogren, 1966).
Marsden melaporkan bahwa 14% pasien dengan umum idiopatik nonfamilial
distonia terlihat dengan tremor (Marsden, 1974). Selain itu, 68% pasien dengan
serviks distonia memiliki tremor kepala (Pal et al., 2000). Namun, Rondot
memeriksa 132 pasien dengan cervical distonia, yang mengungkapkan aktivitas
berirama dan tremor ekstremitas atas di 40% dan 21% pasien (Rondot et al., 1981,
seperti dikutip dalam Jedynak et al., 1991). 3

Dalam survei pada writer`s kram, tremor tangan dilaporkan di hampir


setengah dari subyek (Sheehy, 1982). Selain itu, Jankovic diselidiki 350 pasien
yang didiagnosis dengan tremor esensial (ET), berbasis pada kehadiran tremor di
kepala, tangan, atau suara dalam tidak adanya penyakit lain yang dapat
menyebabkan tremor. Oleh karena itu, prevalensi distonia dengan tremor sangat


1
2

bervariasi tergantung pada laporan.3 Hidup dengan distonia dapat menyakitkan dan
melemahkan, serta memalukan dan stigma. Pekerjaan, kegiatan sosial dan kualitas
hidup dapat secara signifikan berdampak.2

Diskinesia tardif ditunjukkan dengan adanya pergerakan choreoathetoid


bagian wajah, kaki dan tangan, bagasi, dan otot pernafasan. Gerakan ditandai
dengan adanya kegembiraan yang menghilang selama tidur. Beberapa pasien tidak
sadar dengan adanya gerakan yang tidak disadari (Haddad dan Dursum, 2008).
Gejala ini dapat dialami oleh semua pasien yang mendapat antipsikotik. Gejala ini
mulai nampak setelah penggunaan antipsikotik berbulan-bulan atau bertahun-
tahun. Kondisi ini dapat tetap parah ketika antipsikotik dihentikan atau bahan
ireversibel2
Prevalensi terjadinya diskinesia tardif sebesar 5% pada pasien dewasa yang
menerima antipsikotik dan secara kumulatif 25 – 30% pada pasien dewasa.
Kejadian cenderung lebih rendah pada penggunaan antipsikotik atipikal. Gejala ini
lebih jarang dialami pada pasien yang menggunakan antipsikotik atipikal berupa
klozapin. Insiden tardif diskinesia bervariasi tergantung pada tipe dan dosis
antipsikotik, lama penggunaan, jenis kelamin, umur pasien, meskipun terdapat
pendapat yang mengatakan bahwa pasien akan menderita gejala ini jika diberikan
antipsikotik dalam waktu yang lama. Pasien usia lanjut dan pasien wanita
mempunyai faktor risika yang lebih besar. Faktor risiko juga termasuk kerusakan
otak, demensia, gangguan mood, durasi terapi antipsikotik, penggunaan terapi
antikolinergik antiparkinson, dan kejadian gejala ekstrapiramidal sebelumnya.
Diskinesia tardif secara patofisiologi terjadi karena sensitivitas yang diinduksi oleh
neuroleptik tergantung dosis pada reseptor D2 di jalur nigrostriatal). Saat terjadi
diskinesia tardif, pasien dianjurkan untuk menghentikan obat antipsikotik. Namun
banyak pasien yang membutuhkan antipsikotik sebagai terapi. Pada kasus tersebut,
dosis antipsikotik diturunkan paling minimum atau diganti dengan antipsikotik
yang mempunyai kecenderungan menimbulkan tardif diskinesia terendah, seperti
clozapine atau quetiapin. Penggunaan vitamin E, asam valproat, asam lemak
esensial, dan benzodiazepin juga dapat dipertimbangkan, tetapi hasilnya tidak
terlalu meyakinkan.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Distonia adalah gangguan gerakan ditandai kontraksi otot yang


abnormal sering berulang, kelainan postur, atau keduanya. Gerakan distonik
biasanya berpola, memutar, dan mungkin gemetar. Distonia sering dimulai
atau diperburuk oleh suatu gerakan volunter dan terkait dengan aktivasi otot
overflow.4

2.2. Etiologi

Sebagian besar kasus distonia tidak memiliki penyebab spesifik.


Distonia tampaknya berkaitan dengan masalah pada basal ganglia. Basal
ganglia adalah daerah otak yang bertanggung jawab untuk memulai kontraksi
otot. Masalahnya melibatkan hubungan antara sel-sel saraf.5

Distonia dapat disebabkan oleh kerusakan pada basal ganglia.


Kerusakan tersebut dapat dikarenakan adanya:

1. Trauma otak.

2. Stroke.

3. Tumor.

4. Kekurangan oksigen.

5. Infeksi.

6. Reaksi obat.

7. Keracunan yang disebabkan oleh timbal atau karbon monoksida.

8. Idiopatik atau distonia primer yang sering diwariskan dari orangtua.


Beberapa pembawa gen distonia ini mungkin tidak pernah muncul gejala



3
4

distonia. Gejala dapat bervariasi secara luas diantara anggota keluarga


yang sama.5

2.3. Epidemiologi

Kejadian populasi yang sebenarnya dari prevalensi distonia tidak


diketahui. Angka-angka prevalensi tersedia biasanya didasarkan pada studi
kasus didiagnosis. Hal ini terutama terjadi dengan distonia yang dapat hadir
dalam berbagai cara, dan sejumlah besar kasus distonia fokal tidak terdiagnosis
atau bahkan salah didiagnosis. Sebuah studi di South Tyrol di Austria
mempelajari sampel acak dari populasi berusia di atas 50 tahun berikutnya.
Distonia primer didiagnosis pada 6 dari 707 orang yang diteliti memberikan
prevalensi 7320 per juta penduduk usia yang dipilih. Ini menunjukkan bahwa
dalam penuaan populasi, distonia adalah gangguan neurologis yang relatif
umum.1 Dalam studi yang lain, distonia mempengaruhi sekitar 1% dari
populasi, dan perempuan lebih rentan terkena distonia daripada laki-laki.5

2.4. Klasifikasi

Berdasarkan bagian tubuh yang terkena:6

1. Distonia generalisata, mengenai sebagian besar atau seluruh tubuh.

2. Distonia fokal, terbatas pada bagian tubuh tertentu,sering saat usia 40-50
tahun. Dan wanita tiga kali lipat lebih sering dibandingkan laki-laki.
Gejala tersering yang timbul yaitu cervical dystonia, blepharospasme,
oromandibular dystonia, laryngeal dystonia, dan limb dystonia.

3. Distonia multifokal, mengenai 2 atau lebih bagian tubuh yang tidak


berhubungan. Satu atau kedua kaki, tangan dan kaki, atau wajah dan
tangan.

4. Distonia segmental, mengenai 2 atau lebih bagian tubuh yang berdekatan.


Contohnya mata, mulut, dan wajah bagian bawah.

5. Hemidistonia, melibatkan lengan dan tungkai pada sisi tubuh yang sama,
seringkali merupakan akibat dari stroke.

Berdasarkan onset:7

1. Early onset (≤20-30 tahun): Biasanya dimulai dari kaki atau lengan dan
sering menjalar ke anggota badan lainnya.

2. Late onset: biasanya dimulai dari leher (termasuk laring), otot-otot kranial
atau satu lengan. Cenderung tetap terlokalisasi dengan perkembangan
terbatas untuk otot yang berdekatan.

Beberapa pola distonia memiliki gejala yang khas:6

1. Distonia torsi, sebelumnya dikenal sebagai dystonia musculorum


deformans atau DMD. Merupakan distonia generalisata yang jarang terjadi
dan bisa diturunkan, biasanya berawal pada masa kanak-kanak dan
bertambah buruk secara progresif. Penderita bisa mengalami cacat yang
serius dan harus duduk dalam kursi roda.

2. Tortikolis spasmodik atau tortikolis merupakan distonia fokal yang paling


sering ditemukan. Menyerang otot-otot di leher yang mengendalikan
posisi kepala, sehingga kepala berputar dan berpaling ke satu sisi. Selain
itu, kepala bisa tertarik ke depan atau ke belakang. Tortikolis bisa terjadi
pada usia berapapun, meskipun sebagian besar penderita pertama kali
mengalami gejalanya pada usia pertengahan. Seringkali mulai secara
perlahan dan biasanya akan mencapai puncaknya. Sekitar 10-20%
penderita mengalami remisi (periode bebas gejala) spontan, tetapi tidak
berlangsung lama.

Gambar 1. Macam-macam Tortikolis Spasmodik

3. Blefarospasme merupakan penutupan kelopak mata yang tidak disadari.


Gejala awalnya bisa berupa hilangnya pengendalian terhadap pengedipan
mata. Pada awalnya hanya menyerang satu mata, tetapi akhirnya kedua
mata biasanya terkena. Kejang menyebabkan kelopak mata menutup total
sehingga terjadi kebutaan fungsional, meskipun mata dan penglihatannya
normal.

4. Distonia kranial merupakan distonia yang mengenai otot-otot kepala,


wajah dan leher.

5. Distonia oromandibuler menyerang otot-otot rahang, bibir dan lidah.


Rahang bisa terbuka atau tertutup dan penderita mengalami kesulitan
berbicara dan menelan.

6. Distonia spasmodik melibatkan otot tenggorokan yang mengendalikan


proses berbicara. Juga disebut distonia spastik atau distonia laringeal,
yang menyebabkan kesulitan dalam berbicara atau bernafas.

7. Sindroma Meige adalah gabungan dari blefarospasme dan distonia


oromandibuler, kadang-kadang dengan disfonia spasmodik.

8. Kram penulis merupakan distonia yang menyerang otot tangan dan kadang
lengan bawah bagian depan, hanya terjadi selama tangan digunakan untuk
menulis. Distonia yang sama juga disebut kram pemain piano dan kram
musisi.

9. Distonia dopa-responsif merupakan distonia yang berhasil diatasi dengan


obat-obatan. Salah satu variannya yang penting adalah distonia Segawa.
Mulai timbul pada masa kanak-kanak atau remaja, berupa kesulitan dalam

berjalan. Pada distonia Segawa, gejalanya turun-naik sepanjang hari, mulai


dari kemampuan gerak di pagi hari menjadi ketidakmampuan di sore dan
malam hari, juga setelah melakukan aktivitas.

2.5. Patofisiologi

Mutasi pada tujuh gen yang berbeda telah dikaitkan dengan distonia.
Lokalisasi dan kemungkinan fungsi ini protein akan ditampilkan di neuron
skema. Mutasi pada GTP cyclohydrolase I (GCH1) atau tyrosine hydroxylase
(TH) merusak sintesis dopamin di DYT5 dystonia. Sebuah amino tunggal
penghapusan asam di Torsina, pendamping molekul dalam amplop nuklir dan
endoplasma reticulum (ER), bertanggung jawab untuk DYT1 dystonia. Mutasi
pada α 3 subunit dari Na+/K + ATPase (ATP1A3) menyebabkan onset yang
cepat dystonia parkinsonisme (DYT12). mutasi pada ε sarcoglycan, mungkin
biasanya ditemukan pada membran plasma neuron, menyebabkan myoclonus
dystonia (DYT11). Mutasi pada myofibrillogenesis regulator 1 (MR 1), a
enzim detoksifikasi diduga, menyebabkan paroksismal dyskinesia non-
kinesigenic (DYT8). A faktor transkripsi umum, TAF1 bermutasi di X terkait
dystonia parkinsonisme (DYT3).6

2.6. Manifestasi Klinis

Gejala pada penderita distonia antara lain leher berputar diluar


kesadaran, tremor, kesulitan berbicara. Gejala tersebut disebabkan karena:5,6

- Cedera ketika lahir

- Infeksi

- Reaksi terhadap obat tertentu

- Trauma

- Stroke

Sekitar 50% kasus tidak memiliki hubungan dengan penyakit maupun


cedera, dan disebut distonia primer atau distonia idiopatik. Distonia juga bisa
merupakan gejala dari penyakit lainnya, yang beberapa diantaranya
diturunkan.6

Gejala dan Tanda:5

- Gejala awal adalah kemunduran dalam menulis (setelah menulis beberapa


baris kalimat), kram kaki dan kecenderungan tertariknya satu kaki keatas
atau kecenderungan menyeret kaki setelah berjalan atau berlari pada jarak
tertentu.

- Leher berputar atau tertarik diluar kesadaran penderita, terutama ketika


penderita merasa lelah.

- Gejala lainnya adalah tremor dan kesulitan berbicara atau mengeluarkan


suara.

- Gejala awalnya bisa sangat ringan dan baru dirasakan hanya setelah olah
raga berat, stres atau karena lelah. Lama-lama gejalanya menjadi semakin
jelas dan menyebar serta tak tertahankan.

Gambar 2. (a) Kram penulis, (b) Distonia servikal, (c) Dystonia musculorum
deformans, (d) Parkinsonian

Awal mula serangan :5

1. Reaksi distonia akut

Spasme otot dan kontraksi involunter yang timbul beberapa menit.


Kelompok otot yang paling sering terjadi yaitu otot wajah, leher, lidah,
ekstraokuler, bermanifestasi sebagai tortikolis, disartria bicara, dan sikap
badan yang tidak biasa.5

2. Akatisia

Merupakan bentuk yang paling sering dari sindroma ekstrapiramidal


yang diinduksi oleh obat antipsikotik. Manifestasi klinis berupa perasaan
subjektif kegelisahan (restlessness) yang panjang, dengan gerakan yang
gelisah, umumnya kaki yang tidak bisa tenang. Penderita dengan akatisia
berat tidak mampu untuk duduk tenang, perasaannya menjadi cemas atau



10

iritabel. Akatisia terkadang sulit dinilai dan sering salah diagnosis dengan
ansietas atau agitasi dari pasien psikotik, yang disebabkan dosis antipsikotik
yang kurang.5

3. Kronik

a. Tardive dyskinesia

Terjadi setelah menggunakan antipsikotik minimal selama 3


bulan atau setelah pemakaian antipsikotik dihentikan selama 4 minggu
untuk oral dan 8 minggu untuk injeksi depot, maupun setelah pemakaian
dalam jangka waktu yang lama (umumnya setelah 6 bulan atau lebih).
Penderita yang menggunakan APG I dalam jangka waktu yang lama
sekitar 20-30% akan berkembang menjadi tardive dyskinesia. Seluruh
APG I dihubungkan dengan risiko tardive dyskinesia.5

Umumnya berupa gerakan involunter dari mulut, lidah, batang


tubuh, dan ekstremitas yang abnormal dan konsisten. Gerakan oral-facial
meliputi mengecap-ngecap bibir (lip smacking), menghisap (sucking),
dan mengerutkan bibir (puckering) atau seperti facial grimacing.
Gerakan lain meliputi gerakan irregular dari limbs, terutama gerakan
lambat seperti koreoatetoid dari jari tangan dan kaki, gerakan menggeliat
dari batang tubuh.5

b. Tardive dystonia

Ini merupakan tipe kedua yang paling sering dari sindroma


tardive. Gerakan distonik adalah lambat, berubah terus menerus, dan
involunter serta mempengaruhi daerah tungkai dan lengan, batang tubuh,
leher (contoh torticolis, spasmodic disfonia) atau wajah (contoh meige’s
syndrome). Tidak mirip benar dengan distonia akut.5

c. Tardive akatisia



11

Mirip dengan bentuk akatisia akut tetapi berbeda dalam respons


terapi dengan menggunakan antikolinergik. Pada tardive akatisia
pemberian antikolinergik memperberat keluhan yang telah ada.5

d. Tardive tics

Sindroma tics multiple, rentang dari motorik tic ringan sampai


kompleks dengan involuntary vocazations (tardive gilles de la tourette’s
syndrome).5

e. Tardive myoclonus

Singkat, tidak stereotipik, umumnya otot rahang tidak sinkron.


Gangguan ini jarang dijumpai.5

Gambar 3. Area-area yang Bisa Terkena Distonia



12

2.7. Pemeriksaan Diagnosis

Pemeriksaan yang dapat dilakukan di antaranya adalah pemeriksaan


fisik neurologis. Pemeriksaan laboratorium tergantung pada tampilan klinis.
Pasien dengan distonia simplek tidak membutuhkan tes. Pemeriksaan kualitatif
untuk mendeteksi adanya antipsikotik tidak tersedia secara luas. Selain itu,
kandungan obat dalam serum untuk tranquilizer mayor tidak berkorelasi
dengan baik dengan keparahan klinis dari overdosis dan tidak bermanfaat pada
pengobatan akut. Pemeriksaan rutin elektrolit, nitrogen urea darah, kreatinin
darah, glukosa darah, dan bikarbonat bermanfaat dalam menilai status hidrasi,
fungsi ginjal, status asam basa, dan termasuk hipoglikemi sebagai penyebab
kelainan sensorium.6

Kontraksi otot yang terus menerus sering menyebabkan perusakan otot


yang terlihat dari peningkatan potassium, asam urat, dan keratin kinase-MM.
Perusakan otot juga menghasilkan myoglobin yang diserap oleh ginjal,
sehingga menyebabkan disfungsi tubulus ginjal. Dehidrasi memperburuk
penyerapan ini. Pada myoglobinuria, urin menjadi berwarna cokelat gelap.6

2.8. Diagnosa Banding

1. Sindroma putus obat

2. Parkinson’s Disease

3. Distonia primer

4. Tetanus

5. Gangguan gerak ekstrapiramidal primer

2.9. Penatalaksanaan

Sejumlah tindakan dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan kejang


otot dan nyeri adalah sebagai berikut.6



13

1. Obat-obatan

Telah digunakan bebeapa jenis obat yang membantu memperbaiki


ketidakseimbangan neurotransmitter. Obat yang diberikan merupakan
sekumpulan obat yang mengurangi kadar neurotransmitter asetilkolin, yaitu
triheksilfenidil, benztropin, dan prosiklidin HCl. Obat yang mengatur
neurotransmitter GABA bisa digunakan bersama dengan obat diatas atau
diberikan tersendiri (pada penderita dengan gejala yang ringan), yaitu
diazepam, lorazepam, klonazepam, dan baklofen. Obat lainnya memberikan
efek terhadap neurotransmiter dopamin. Obat yang meningkatkan efek
dopamin adalah levodopa/karbidopa dan bromokriptin. Obat yang
mengurangi efek dopamin adalah reserpin atau tetrabenazin. Untuk
mengendalikan epilepsi diberikan obat anti kejang karbamazepin.

2. Toksin Botulinum

Sebuah pengobatan yang baru-baru ini diperkenalkan ialah toksin


botulinum yang juga disebut Botox atau Xeomin.5 Sejumlah kecil racun ini
bisa disuntikkan kedalam otot yang terkena untuk mengurangi distonia
fokal. Pada awalnya racun ini digunakan untuk mengobati blefarospasme.
Racun menghentikan kejang otot dengan menghambat pelepasan
neurotransmitter asetilkolin. Efeknya bertahan selama beberapa bulan
sebelum suntikan ulangan dilakukan.6 Injeksi toksin botulinum perlu
diulang setiap tiga bulan.5

3. Pembedahan dan Pengobatan lainnya

Jika pemberian obat tidak berhasil atau efek sampinya terlalu berat,
maka dilakukan pmbedahan. Distonia generalisata stadium lanjut telah
berhasil diatasi dengan pembedahan yang menghancurkan sebagian dari
talamus. Resiko dari pembedahan ini adalah gangguan berbicara, karena
talamus terletak didekat struktur otak yang mengendalikan proses berbicara.



14

Pada distonia fokal (termasuk blefarospasme, disfonia spasmodik dan


tortikolis) dilakukan pembedahan untuk memotong atau mengangkat saraf
dari otot yang terkena. Beberapa penderita distonia spasmodik bisa
menjalani pengobatan oleh ahli patologi berbicara-berbahasa. Terapi fisik,
pembidaian, penatalaksanaan stres dan biofeedback juga bisa membantu
pemderita distonia jenis tertentu.

2.10. Prognosis

Prognosis pasien dengan sindrom ekstra piramidal yang akut masih


baik bila gejala langsung dikenali dan ditanggulangi. Sedangkan prognosis
pada EPS yang kronik lebih buruk. Pasien dengan tardive distonia sangat
buruk. Sekali terkena, kondisi ini biasanya menetap pada pasien yang
mendapat pengobatan neuroleptik selama lebih dari 10 tahun.5

2.11. Penyulit

1. Gangguan gerak yang dialami penderita akan sangat mengganggu


sehingga menurunkan kualitas penderita dalam beraktivitas.

2. Pada distonia laring dapat menyebabkan asfiksia dan kematian.

3. Gangguan gerak saat berjalan dapat menyebabkan penderita terjatuh


dan mengalami fraktur.



15

BAB III
KESIMPULAN

Distonia adalah kontraksi otot yang singkat atau lama, biasanya


menyebabkan gerakan atau postur yang abnormal, termasuk krisis okulorigik,
prostrusi lidah, trismus, tortikolis, distonia laring-faring, dan postur distonik pada
anggota gerak dan batang tubuh.4

Distonia lebih banyak diakibatkan oleh APG I terutama yang mempunyai


potensi tinggi, dan umumnya terjadi di awal pengobatan (beberapa jam sampai
beberapa hari pengobatan) atau pada peningkatan dosis secara bermakna.5

Gejala distonia berupa gerakan distonik yang disebabkan oleh kontraksi


atau spasme otot, onset yang tiba-tiba dan terus menerus, hingga terjadi kontraksi
otot yang tidak terkontrol. Otot yang paling sering mengalami spasme adalah otot
leher (torticolis dan retrocolis), otot rahang (trismus, gaping, grimacing), lidah
(protrusion, memuntir) atau spasme pada seluruh otot tubuh (opistotonus). Pada
mata terjadi krisis okulogirik. Distonia glosofaringeal yang menyebabkan disartria,
disfagia, kesulitan bernapas, hingga sianosis. Spasme otot dan postur yang
abnormal, umumnya yang dipengaruhi adalah otot-otot di daerah kepala dan leher,
tetapi terkadang juga daerah batang tubuh dan ekstremitas bawah. Distonisa laring
dapat menyebabkan asfiksia dan kematian. Sering terjadi pada penderita usia muda
(usia belasan atau dua puluhan) dan kebanyakan pada perempuan.5,6


15
16

DAFTAR PUSTAKA

1. TT Warner ,Prof. Reta Lila Weston Institute of Neurological Studies, UCL


Institute of Neurology, Consultant Neurologist National Hospital for
Neurology and Neurosurgery. Dystonia: Clinical Features, Diagnosis and
Treatment. Available from
http://birminghammodis.com/handbook/11%20Warner%20Dystonia.pdf.
Accessed: 14/10/2014.
2. The Dystonia Society. Dystonia A Guide To Good Practice. London :
November 2011. P13-14.
3. Young Eun Kim and Beom Seok Jeon. Dystonia with Tremors: A Clinical
Approach. Seoul National University Hospital Korea : March 2012. P75.
4. Mark Hallett, M.D. Pathophysiology of Dystonia: Translation. Human Motor
Control Section, NINDS, Bethesda : May 2013. P3.
5. Neil Lava. Dystonia: Causes, Types, Symptoms, and Treatments. WebMD
Medical Reference September 2004. Available from
http://www.webmd.com/brain/dystonia-causes-types-symptoms-and-
treatments?page=2. Accessed: 6 November 2014
6. O Xandra, Breakfield, Blood, J Anne et al. The Pathophysiological Basis of
Dystonias Neuroscience. Departemen psychiatry and neurological and
athinoula A martinos center for biomedical imaging, massachusset general
hospital and Harvard medical scool, Boston, Massachussets. USA. 2008.
Volume 9.
7. A. Albanese Chairman, et al. A systematic review on the diagnosis and
treatment of primary (idiopathic) dystonia and dystonia plus syndromes: report
of an EFNS/MDS-ES Task Force. European Journal of Neurology May 2006;
13(5): 433-444