Anda di halaman 1dari 33

BAGIAN ILMU ANESTESI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS
JUNI 2019
MUHAMMADIYAH MAKASSAR

ANESTESI PADA PEMBEDAHAN


NEONATUS DENGAN ATRESIA ANI

OLEH :
NUR INDAH SARI GASSING
10542050613

PEMBIMBING:
dr. ZULFIKAR DJAFAR Sp.An

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS


KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU ANESTESI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama :Nur Indah Sari Gassing

NIM :10542050613

Judul Laporan Kasus :Anestesi Pada Pembedahan Neonatus Dengan Atresia Ani

Telah menyelesaikan Laporan Kasus dalam rangka Kepanitraan Klinik di Bagian Ilmu Anestesi

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, juni 2019

Pembimbing,

(dr. Zulfikar Djafar Sp.An)


KATA PENGANTAR

AssalamualaikumWr.Wb.

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulisan laporan kasus ini dapat diselesaikan.Shalawat serta

salam semoga selalu tercurahkan kepadaNabi Muhammad SAW.

Laporankasusberjudul “Anestesi Pada Pembedahan Neonatus Dengan Atresia Ani”

ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya, sebagai salah satu syarat untuk

dalam menyelesaikan Kepanitraan Klinik di Bagian Ilmu Anestesi. Secara khusus penulis

sampaikan rasa `terimakasih yang kepada dr.Zulfikar Djafar, Sp.An. Selaku pembimbing yang

telah meluangkan waktu dalam membimbing, memberikan arahan selama proses penyusunan

tugas ini hingga selesai.

Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan kasus ini belum sempurna. Akhir kata,

penulis berharap agar laporan kasus ini dapat memberi manfaat kepada semua orang.

Makassar, Juni 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari pemberian

anestesi..Management jalan napas adalah tugas terpenting dari anestesiologi.Meskipun banyak

disiplin kedokteran yang menangani masalah jalan napas berdasarkan masalah kegawatdaruratan,

namun hanya beberapa yang bertanggung jawab atas rutinitas, pertimbangan, pilihan dari

keadaan intrinsik pasien terhadap kontrol pernapasan.Data morbiditas dan mortilitas yang telah

dipublikasikan menunjukkan di mana kesulitan dalam menangani jalan napas dan kesalahan

dalam tatalaksananya justru akan memberikan hasil akhir yang buruk bagi pasien tersebut.

Manajemen jalan napas merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh

seorang dokter ahli anestesiologi.Pemasangan pipa endotrakea (ET) merupakan salah satu

tindakan pengamanan jalan nafas terbaik dan paling sesuai sebagai jalur ventilasi

mekanikEvaluasi intubasi sulit yang dilakukan saatkunjungan preoperatif menjadi

pemeriksaanyang sangat penting.Metode standar untukmenilai potensial intubasi sulit adalah

metode mallampati. Metode mallampati dikembangkanmenjadi metode Mallampati Modifikasi

padatahun 1987 dengan menambahkan struktursaluran napas kelas 4, yaitu palatum moleyang

tidak dapat divisualisasikan.

Secara epidemiologi dari 359 intubasi sulit dihasilkan dari data yang dikumpulkan secara

retrospektif dari 4,742 catatan kasus anestesi pasien dewasa (2.392 laki-laki, 2.350 perempuan)

yang menjalani anestesi umum untuk operasi rutin. Penilaian preoperatif napas setiap pasien

dilakukan dengan menggunakan pedoman standar.Panjang mandibula, berat badan dan mobilitas

rahang, kepala dan leher dievaluasi dengan pengukuran sederhana.Kehadiran menonjol rahang
atau gigi atas, tumor atau kistalidah, mulut panjang dan sempit, otot leher pendek dan

penyimpangan laring atau trakea didasarkan pada pemeriksaan klinis dan / atau radiologis.

BAB II

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : By.Nursiah

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 6 hari

Berat Badan : 2.950gram

Agama : Islam

Panjang badan : 45 cm

Alamat : Soppeng

No. RM : 53.42.91

Diagnosis : Atresia Ani

B. ANAMNESIS

Keluhan utama : tidak pernah BAB sejak lahir

Riwayat penyakit sekarang : -

Pasien masuk Rs. Syeh Yusuf Goa bersama ibunya dengan keluhan demam dan tidak pernah

buang air besar semenjak lahir,ibunya merasa besar perut anaknya kembung

Riwayat penyakit dahulu : (-)

Riwayat alergi : debu (-), dingin (-)


Riwayat penyekit keluarga : tidak ada

C. PEMERIKSAAN FISIK

Vital Sign :

- Nadi : 160 x/menit

- Suhu : 37,9C

- Pernafasan :76 x/menit

Status Generalis

 Status Generalis
Pucat (-) Telinga: Otorrhea (-)
Cyanosis (-) Mata : Cekung (-), anemis (-)
Tonus : Normal Hidung : Rhinorea (-)
Ikterus (-) Bibir : Kering (-)
Turgor : baik Lidah : Kotor (-)
Busung (-) Sel. Mulut : Stomatitis (-)
Kepala : mikro cephal Leher : Kaku kuduk (-)
Muka : tidak simetris Kulit : Tidak ada kelainan
Rambut : Hitam halus, tidak mudah Tenggorok : Hiperemis (-)
dicabut Tonsil : Tidak dievaluasi
Ubun ubun besar: Menutup (-)
Thorax Jantung
Inspeksi Inspeksi:
 Simetris kiri dan kanan  Ictus cordis tidak tampak
 Palpasi :
Retraksi dinding dada (-)
Perkusi:  Ictus cordistidak teraba
 Sonor kiri dan kanan Perkusi :
Auskultasi :
 BunyiPernapasan :  Batas kiri :
bronkovesikuler Linea midclavicularis sinistra
 Bunyi tambahan: Rh +/+ Wh -/-  Batas kanan :
Linea parasternalis dextra
 Batas atas :ICS III sinistra
Auskultasi :
 Bunyi Jantung I dan II regular,
bising jantung (-)
Abdomen
Inspeksi : Alat kelamin :
 Perut besar, ikut gerak napas  Dalam batas normal
 Massa tumor (-) Anus : (tidak ada)
Palpasi : Anggota gerak :
 Limpa : tidak teraba  Dalam batas normal
 Hati : Hepatomegali (-) Tasbeh (-)
 Nyeri tekan (-) Col. Vertebralis : Skoliosis (-)
Perkusi : KPR : +/+ kesan normal

 Tympani (+) APR : +/+ kesan normal

Auskultasi TPR : +/+ kesan normal

 Peristaltik normal BPR : +/+ kesan normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Foto Baby Invertogram

- Jarak gas rectum dengan metal piece (proyeksi anus) >2cm

- Loop-loop usus sedikit distensi

- Tulang tulang kesan normal

- Kesan : Atresia Ani letak Tinggi,meteorismus.


2. Foto Thorax AP

- Aerasi paru dalam batas normal

- Cor : dalam batas normal

- Sinus lancip,diafragma intak dengan letak normal

- Kesan : foto thoraks dalam batas normal

Laboratorium

Pemeriksaan Nilai normal

Hemoglobin 17,6 11,5-16 g/dL

Leukosit 6,2 4.0-10.0 103/mm3

Hematokrit 48,3% 37-47%

Eritrosit 4.40 3.80-5.80x106/

Trombosit 770000 150000-500000/L

GDS 98 <140

SGOT 22 P:<32

SGPT 17 P:<31

Ureum darah 36 0-50

Kreatinin darah 0,4 P:<1,1

Seroimmunologi

HbsAg Non Reaktif Non Reaktif


D. KESAN ANESTESI

ASA PS II

E. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan yaitu :

a. IVFD Dextrose 10% 10cc/jam

b. Informed Consent Operasi

c. Informed Consent Pembiusan

d. Puasa >8 jam pre Op

Dilakukan operasi dengan general anestesi dengan status ASA II

F. LAPORAN ANESTESI

1. Diagnosis Pra Bedah

Atresia Ani letak tinggi

2. Diagnosis Pasca Bedah

Atresia Ani letak tinggi post colostomi

3. Penatalaksanaan Preoperasi

Infus dextrose 10% 10cc/jam

4. Penatalaksanaan Anestesi

a. Jenis Pembedahan : Colostomy

b. Jenis Anestesi : General Anestesi

c. Teknik Anestesi : Inhalasi Semi Closed dengan intubasi Endotraceal Tube

d. Premedikasi : Atropin Anak (SA Anak),Midazolam Fentanyl

e. Induksi : O2

f. Relaksasi : noveron 0.,01


BAB IV

ANALISA KASUS

Pasien masuk Rs. Syeh Yusuf Goa bersama ibunya dengan keluhan demam dan tidak pernah

buang air besar semenjak lahir,ibunya merasa besar perut anaknya kembung

.Sebelumnya pasien mengelu,Demam (+), , pilek (-) mual (-), muntah (-).Riwayat Alergi (-),

Pemeriksaan fisik dari tanda vital didapatkan tekanan nadi 160x/menit; respirasi

76x/menit; suhu 37,9OC. Dari pemeriksaan laboratorium hematologi yang dilakukan dengan

hasil: RBC : 4,40 x106 Wbc : 6.2x103Hb 17,6g/dl ; SGOT 22,SGPT 17,Ureum 36, kreatinin

darah 0,4 dan HBsAg non reaktif.

Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang disimpulkan bahwa

pasien masuk dalam ASA II.

Sebelum dilakukan operasi pasien dipuasakan selama 8jam.Tujuan puasa untuk


mencegah terjadinya aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau muntah pada saat dilakukannya
tindakan anestesi akibat efek samping dari obat- obat anastesi yang diberikan sehingga refleks
laring mengalami penurunan selama anestesia.
Dilakukan injeksi midazolam , fentanyl. Penggunaan premedikasi pada pasien ini betujuan

untuk menimbulkan rasa nyaman pada pasien dengan pemberian analgesia dan mempermudah

induksi dengan menghilangkan rasa khawatir.Selanjutnya diberikan obat induksi yaituO2.

Karena dilakukan prosedur operasi Bedah Colostomi maka dokter anestesi memilih untuk

melakukan intubasi endotrakeal agar tidak mengganggu operator sepanjang operasi dilakukan

dan supaya pasien tetap dianestesi dan dapat bernafas dengan adekuat.
Sebelum pemasangan ETT, dilakukan anamnesis singkat dan penilaian adanya kesulitan

intubasi kepada pasien.Dan dari hasil pemfis di dapatkan tidak ada kelaian. Pasien dalam posisi

terlentang, kepala diusahakan dalam keadaan ekstensi serta trakhea dan laringoskop berada

dalam satu garis lurus (menggunakan botol infus 1 gram), kemudian dilakukan anastesi dan

pelumpuh otot berupa Noveron, dan berikan oksigen 100% dengan melakukan bagging selama 2

menit untuk menekan pengembangan paru dan juga menunggu kerja dari pelemas otot sebelum

memasukkan laringoskop ke dalam mulut pasien untuk di pasangkan pipa endotrakheal, Setelah

ETT terpasang, pangkal ETT pasien dihubungkan dengan konekta kemudian dihubungkan ke

mesin anastesi yang menghantarkan gas (sevoflurane) dengan ukuran 2vol% dengan oksigen

dari mesin ke jalan napas pasien. Penggunaan sevofluran disini dipilih karena sevofluran

mempunyai efek induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibanding dengan gas lain, dan

baunya pun lebih harum dan tidak merangsang jalan napas sehingga digemari untuk induksi

anestesi dibanding gas lain (halotan). Efek terhadap kardiovaskular pun relatif stabil dan jarang

menyebabkan aritmia.

Setelah pasien di intubasi dengan mengunakan endotrakheal tube, maka dialirkan sevofluran

2 vol%, oksigen.Ventilasi dilakukan dengan bagging dengan laju napas 72 x/ menit.Sesaat

setelah operasi selesai gas anestesi diturunkan untuk menghilangkan efek anestesi perlahan-lahan

dan untuk membangunkan pasien.Juga diharapkan agar pasien dapat melakukan nafas spontan

menjelang operasi hampir selesai.

Setelah operasi selesai di berikan mesin anestesi diubah ke manual supaya pasien dapat

melakukan nafas spontan. Gas sevo dihentikan karena pasien sudah nafas spontan dan

adekuat.Kemudian dilakukan ekstubasi endotracheal secara cepat untuk menghindari penurunan

saturasi lebih lanjut.


BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFENISI ANESTESI

Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an- "tidak, tanpa" dan aesthētos, "persepsi,

kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit

ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit

pada tubuh.Kata anestesi diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes pada tahun 1846 yang

menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan

tujuan untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien. Anestesi yang

sempurna harus memenuhi 3 syarat (Trias Anestesi), yaitu :1

a. Hipnotik, hilang kesadaran

b. Analgetik, hilang perasaan sakit

c. Relaksan, relaksasi otot-otot

B. ANESTESI UMUM

Anestesi umum atau general anesthesia merupakan suatu keadaan dimana hilangnya

kesadaran disertai dengan hilangnya perasaan sakit di seluruh tubuh akibat pemberian obat-

obatan anestesi dan bersifat reversible.Anestesi umum dapat diberikan secara intravena, inhalasi

dan intramuskular1.

Indikasi anestesi umum :1

 Pada bayi dan anak-anak

 Pembedahan pada orang dewasa dimana anestesi umum lebih disukai oleh ahli bedah

walaupun dapat dilakukan dengan anestesi lokal


 Operasi besar

 Pasien dengan gangguan mental

 Pembedahan yang lama

 Pembedahan yang dengan lokal anestesi tidak begitu praktis dan memuaskan

 Pasien dengan obat-obatan anestesi lokal pernah mengalami alergi.

Teknik anestesi umum ada 3, yaitu :10

a. Anestesi umum intravena merupakan salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan

dengan jalan menyuntikkan obat anestesi parenteral langsung ke dalam pembuluh darah

vena.

b. Anestesi umum inhalasi merupakan salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan dengan

jalan memberikan kombinasi obat anestesi inhalasi yang berupa gas dan atau cairan yang

mudah menguap dengan obat-obat pilihan yaitu N2O, Halotan, Enfluran, Isofluran,

Sevofluran, Desfluran dengan kategori menggunakan sungkup muka, Endotrakeal tube nafas

spontan, Endotrakeal tube nafas terkontrol.

c. Anestesi berimbang merupakan teknik anestesi dengan mempergunakan kombinasi obat-

obatan baik obat anestesi intravena maupun obat anestesi inhalasi atau kombinasi teknik

anestesi umum dengan analgesia regional untuk mencapai trias anestesi secara optimal dan

berimbang.

Sebelum dilakukan tindakan anestesi, sebaiknya dilakukan persiapan pre-

anestesi.Kunjungan pre-anestesi dilakukan untuk mempersiapkan pasien sebelum pasien

menjalani suatu tindakan operasi. Persiapan-persiapan yang perlu dilakukan adalah sebagai

berikut:10

a. Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesi sebelumnya sangatlah penting

untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus, misalnya

alergi, mual-muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak nafas.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan keadaan gigi, tindakan buka mulut, lidah yang relatif besar sangat penting untuk

mengetahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. Pemeriksaan rutin lain

secara sistematik tentang keadaan umum tentu tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi,

palpasi, perkusi dan auskultasi semua sistem organ tubuh pasien.

c. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan penyakit

yang sedang dicurigai.Pemeriksaan laboratorium rutin yang sebaiknya dilakukan adalah

pemeriksaan darah lengkap (Hb, leukosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan

urinalisis.Pada pasien yang berusia di atas 50 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan foto

toraks dan EKG.

d. Klasifikasi status fisik

Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang ialah yang berasal

dari The American Society of Anesthesiologists (ASA) :10

 ASA 1 : pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia

 ASA 2 : pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang

 ASA 3 : pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas rutin terbatas

 ASA 4 : pasien dengan penyakit sistemik berat tidak dapat melakukan aktivitas rutin dan

penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat


 ASA 5 : pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan kehidupannya

tidak akan lebih dari 24 jam.

 ASA 6 : pasien dengan kematian batang otak dan organnya siap untuk ditransplantasi.

 Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda

darurat (E: EMERGENCY), misalnya ASA IE atau IIE.

Premedikasi

Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesi. Tujuan premedikasi:10

 Meredakan kecemasan dan ketakutan

 Memperlancar induksi anestesi

 Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus

 Mengurangi refleks yang tidak diharapkan

 Mengurangi isi cairan lambung

 Mengurangi rasa sakit

 Menghilangkan efek samping dari obat sebelum dan selama anestesi

 Menurunkan basal metabolisme tubuh

Obat-obat premedikasi, dosisnya disesuaikan dengan berat badan dan keadaan umum

pasien. Biasanya premedikasi diberikan intramuskuler 1 jam sebelumnya atau per oral 2 jam

sebelum anestesi.

Beberapa ahli anestesi menghindari penggunaan opium untuk premedikasi jika

anestesinya mencakup pernapasan spontan dengan campuran eter/udara. Obat yang banyak

digunakan:

Analgetik opium : - Morfin 0,15 mg/kgbb, intramuskuler


- Petidin 1,0 mg/kgbb, intramuskuler

Sedatif : - Diazepam 0,15 mg/kgbb, oral/intramuskuler

- Pentobarbital 3 mg/kgbb per oral atau, Dewasa

1,5 mg/kgbb intramuskuler

- Prometazin 0,5 mg/kgbb per oral


Anak
- Kloral hidrat sirup 30 mg/kgbb

Vagolitik antisialagog ue: - Atropin 0,02 mg/kgbb, intramuskuler atau

intravena pada saat induksi maksimal 0,5 mg

Antasida : - Ranitidine 150 mg per oral setiap 12 jam dan

2 jam sebelum operasi

- Omeprazole 40 mg, 3-4 jam sebelum operasi

- Metoclopramide 10 mg per oral sebelum operasi

Sebelum induksi anastesi

Sebelum memulai, periksalah jadwal pasien dengan teliti.Tanggung jawab untuk

pemeriksaan ulang ini berada pada ahli bedah dan ahli anatesi. Periksalah apakah pasien sudah

dipersiapkan untuk operasi dan tidak makan/minum sekurang-kurangnya 6 jam sebelumnya,

meskipun bayi yang masih menyusui hanya dipuasakan 3 jam (untuk induksi anastesi pada

operasi darurat, lambung mungkin penuh). Ukurlah nadi dan tekanan darah dan buatlah pasien

relaks sebisa mungkin.Asisten yang membantu induksi harus terlatih dan berpengalaman.Jangan

menginduksi pasien sendirian saja tanpa asisten.


Pemeriksaan Alat

Penting sekali bila kita memeriksa alat-alat sebelum melakukan anastesi, karena

keselamatan pasien tergantung pada hal ini.Kita harus mempunyai daftar hal-hal yang harus

diperiksadan gantungkan pada alat anastesi yang sering digunakan.

Pertama yakinlah bahwa alat yang akan dipergunakan bekerja dengan baik. Jika kita

menggunakan gas kompresi, periksalah tekanan pada silinder yang digunakan dan silinder

cadangan.Periksalah apakah vaporizer sudah disambung dengan tepat tanpa ada yang bocor,

hilang atau terlepas, sistem pernapasan dan aliran gas ke pasien berjalan dengan baik dan

aman.Jika kita tidak yakin dengan sistem pernapasan, cobalah pada diri kita (gas anastesi

dimatikan).Periksalah fungsi alat resusitasi (harus selalu ada untuk persiapan bila terjadi

kesalahan aliran gas), laringoskop, pipa dan alat penghisap.Kita juga harus yakin bahwa pasien

berbaring pada meja atau kereta dorong yang dapat diatur dengan cepat ke dalam posisi kepala

dibawah, bila terjadi hipotensi mendadak atau muntah. Persiapkan obat yang akan digunakan

dalam spuit yang diberi label, dan yakinkan bahwa obat itu masih baik kondisinya. Sebelum

melakukan induksi anastesi, yakinkan aliran infus adekuat dengan memasukkan jarum

indwelling atau kanula dalam vena besar, untuk operasi besar infus dengan cairan yang tepat

harus segera dimulai.

Induksi Anestesi

Induksi anestesi ialah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar,

sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan.Sebelum memulai induksi

anestesi, selayaknya disiapkan peralatan dan obat-obatan yang diperlukan, sehingga seandainya

terjadi keadaan gawat dapat diatasi dengan lebih cepat dan lebih baik. Untuk persiapan induksi

anestesi sebaiknya kita ingat kata STATICS:10


 S = Scope

Stetoskop, untuk mendengarkan suara paru dan jantung.Laringo-Scope, pilih bilah atau daun

(blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.

 T = Tubes

Pipa trakea, pilih sesuai usia. Usia< 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan > 5 tahun dengan balon

(cuffed).

 A = Airway

Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring (naso-tracheal

airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah

tidak menyumbat jalan nafas

 T = Tape

Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.

 I = Introducer

Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik (kabel) yang mudah dibengkokkan untuk

pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.

 C = Connector

Penyambung antara pipa dan peralatan anestesi.

 S = Suction

Penyedot lendir, ludah dan lain-lainnya.

Induksi intravena

Induksi intravena paling banyak dikerjakan dan digemari, apalagi sudah terpasang jalur

vena, karena cepat dan menyenangkan.Induksi intravena hendaknya dikerjakan dengan hati-hati,
perlahan-lahan lembut dan terkendali.Obat induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan antara 30-

60 detik.Selama induksi anestesi, pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah harus diawasi dan

selalu diberikan oksigen. Induksi cara ini dikerjakan pada pasien yang kooperatif.

Tiopental (tiopenton, pentotal) diberikan secara intravena dengan kepekatan 2,5% dan

dosis antara 3-7 mg/kgBB. Keluar vena menyebabkan nyeri.Pada anak dan manula digunakan

dosis rendah dan dewasa muda sehat dosis tinggi.

Propofol (recofol, diprivan) intravena dengan kepekatan 1% menggunakan dosis 2-3

mg/kgBB.

Ketamin intravena dengan dosis 1-2 mg/kgBB.Pasca anestesi dengan ketamin sering

menimbulkan halusinasi, karena itu sebelumnya dianjurkan menggunakan sedative seperti

midazolam.Ketamin tidak dianjurkan pada pasien dengan tekanan darah tinggi (tekanan darah

>160 mmHg).Ketamin menyebabkan pasien tidak sadar, tetapi dengan mata terbuka.

Induksi Intamuskular

Sampai sekarang hanya ketamin yang dapat diberikan secara intramuskular dengan dosis

5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.

Induksi inhalasi

Induksi inhalasi hanya dapat dilakukan apabila jalan napas bersih sehingga obat anestesi

dapat masuk. Jika jalan napas tersumbat, maka obat anestesi tidak dapat masuk dan anestesi

didistribusikan ke seluruh tubuh sehingga anestesi akan dangkal. Jika hal ini terjadi, bersihkan

jalan napas.Induksi inhalasi juga digunakan untuk anak-anak yang takut pada jarum.
C. INTUBASI ENDOTRAKEAL

a. Tujuan

Tujuan dilakukannya tindakan intubasi endotrakhea adalah untuk membersihkan saluran

trakheobronchial, mempertahankan jalan nafas agar tetap paten, mencegah aspirasi,

serta mempermudah pemberian ventilasi dan oksigenasi bagi pasien operasi.4

b. Indikasi

Intubasi endotrakeal diindikasikan pada berbagai keadaan saat sakit ataupun pada

prosedur medis untuk mempertahankan jalan napas seseorang, pernapasan, dan

oksigenasi darah.Pada cakupan tersebut, tambahan oksigen yang menggunakan face

mask sederhana masih belum adekuat.

Indikasi intubasi endotrakeal adalah sebagai berikut4.

1. Penurunan kesadaran

Kerusakan otak (misalnya stroke massif, cedera kepala non-penetrasi,

intoksikasi atau keracunan) dapat berakibat penurunan kesadaran.Saat keadaan

tersebut menjadi lebih buruk menjadi stupor atau koma (didefinisikan sebagai

Glasglow Coma Scale (GCS) kurang dari 8).

Kolaps dinamik pada otot ekstrinsik jalan napas dapat menyumbat jalan napas,

yang menunda aliran udara bebas ke dalam paru.Lebih jauh lagi, reflex perlindungan

jalan napas seperti batuk dan menelan dapat berkurang atau hilang.Intubasi

endotrakeal sering dipilih untuk mengembalikan kepatenan jalan napas dan

melindungi cabang trakeobronkial dari aspirasi pulmoner dari isi lambung.

2. Hipoksemia
Intubasi dapat diperlukan pada pasien dengan penurunan kandungan oksigen

dan saturasi oksigen dalam darah yang disebabkan pernapasan yang tidak adekuat

(hipoventilasi), apnea atau saat paru tidak dapat cukup mentransfer udara ke dalam

darah.Pada beberapa pasien, yang dapat bangun dan terjaga, memiliki tipe sakit yang

kritis dengan penyakit multisistem.4

Sebagai contoh kondisi tersebut yaitu cedera servikal, fraktur kosta multipel,

pneumonia berat, acute respiratory distress syndrome (ARDS), atau tenggelam.

Secara spesifik, intubasi dapat dipertimbangkan apabila tekanan arterial parsial

oksigen (PaO2) kurang dari 60 mmHg, dimana konsentrasi O2 inspirasi (FiO2)

sebesar 50% atau lebih besar. Pada pasien dengan peningkatan karbon dioksida

arterial, tekanan arterial parsial dari CO2 (PaCO2) lebih besar dari 45 mmHg pada

keadaan asidemia memerlukan intubasi, khususnya pada pengukuran yang

memperburuk asidosis respiratorik.6

3. Obstruksi jalan napas

Obstruksi jalan napas merupakan indikasi yang sering pada intubasi

endotrakea.Pertolongan pada obstruksi jalan napas diperlukan saat benda asing

menjadi terjepit di jalan napas, hal ini khususnya sering terjadi pada bayi dan anak

kecil.Trauma tumpul yang berat atau trauma penetrasi pada wajah atau leher dapat

menyebabkan bengkak dan hematoma, atau trauma laring, trakea maupun bronkus.

Obstruksi jalan napas juga sering terjadi pada orang yang sering terpapar inhalasi

asap rokok

Tanda-tanda obstruksi jalan napas adalah sebagai berikut.

a. Stridor (mendengkur, snoring)


b. Napas cuping hidung (flaring of the nostrils)

c. Retraksi trakea

d. Retraksi torak

e. Tak terasa ada udara ekspirasi

4. Manipulasi jalan napas

Manipulasi jalan napas untuk keperluan diagnostik atau terapeutik (seperti

bronkoskopi, terapi laser) kadang-kadang dapat menyebabkan ketidakmampuan

bernapas, sehingga intubasi diperlukan pada kondisi tersebut.

Pipa endotrakeal yang telah diinsersi ke dalam trakea dapat dilihat pada

gambar berikut.

Gambar 1. Diagram pipa endotrakeal yang telah diinseri ke dalam trakea.

A. Pipa endotrakeal (biru)

B. Pipa cuff inflasi dengan balon pilot

C. Trakea

D. Esofagus
Gambar 2. Intubasi Endotrakeal

c. Kontraindikasi

Beberapa kontra indikasi bagi dilakukannya intubasi endotrakheal antara lain7 :

1. Beberapa keadaan trauma jalan nafas atau obstruksi yang tidak memungkinkan

untuk dilakukannya intubasi. Tindakan yang harus dilakukan adalah

cricothyrotomy pada beberapa kasus.

2. Trauma servikal yang memerlukan keadaan imobilisasi tulang vertebra servical,

sehingga sangat sulit untuk dilakukan intubasi.

d. Peralatan

Sebelum mengerjakan intubasi endotrakea, peralatan yang harus disiapkan adalah

STATICS, yaitu S (Scope, laringoskop, steteskop), T(Tube, pipa endotrakeal),A

(Airway tube,pipa orofaring / nasofaring), T (Tape, plester), I (Introducer, stilet,

mandren), C (Connector, sambungan-sambungan), S (Suction, penghisap lendir).7,8

1. Laringoskop

Fungsi laring adalah mencegah benda asing masuk paru.Laringoskop adalah

alat yang digunakan untuk melihat laring secara langsung agar dapat memasukkan

pipa trakea dengan baik dan benar. Secara garis besar dikenal 2 macam laringoskop:

a. Bilah, daun (blade) lurus (Macintosh) untuk bayi-anak-dewasa

b. Bilah lengkung (Miller, Magill) untuk anak besar-dewasa


Gambar 3. Laringoskop dengan berbagai Miller blade (dewasa besar,

dewasakecil, anak, bayi dan neonatus)

Gambar 4. Laringoskop dengan berbagai Macintosh blade (dewasa besar,

dewasa kecil, anak, bayi dan neonatus)

2. Stilet

Stilet untuk intubasi didesain untuk dimasukkan ke dalam endotracheal tube

untuk membuat pipa lebih baik pada anatomi jalan napas atas pada individu yang

spesifik.Hal ini sering menolong pada orang dengan kesulitan laringoskopi.Seperti

halnya blade laringoskop, terdapat beberapa tipe stilet yang tersedia, misalnya stilet

Verathon, yang secara spesifik didesain untuk mengikuti sudut blade sebesar 60 derajat

pada laringoskop.

Gambar 5. Stilet pipa endotrakeal, digunakan untuk membantu intubasi orotrakeal

3. Pipa trakea (endotracheal tube)


Pipa trakea (endotracheal tube) mengantar gas anestetik langsung ke dalam trakea

dan biasanya dibuat dari bahan standar polivinil-klorida.Ukuran diameter lubang pipa

trakea dalam millimeter. Karena penampang trakea bayi, anak kecil, dan dewasa

berbeda, penampang melintang trakea bayi dan anak kecil di bawah usia 5 tahun hamper

bulat, sedangkan dewasa seperti huruf D, maka untuk bayi anak digunakan tanpa cuff

dan untuk anak besar-dewasa dengan cuff, agar tidak bocor.

Penggunaan cuff pada bayi-anak kecil dapat membuat trauma selaput lendir trakea

dan selain itu jika ingin menggunakan pipa trakea dengan cuff pada bayi harus

menggunakan ukuran pipa trakea yang diameternya lebih kecil dan ini membuat risiko

tahanan napas lebih besar. Pipa trakea dapat dimasukkan melalui mulut (orotracheal

tube) atau melalui hidung (nasotracheal tube).

Gambar6.Cuffed endotracheal tube, terbuat dari polivinil klorida

Gambar7. Carlens double-lumen endotracheal tube, digunakan pada pembedahan

thoraks seperti lobektomi VATS


e. Komplikasi

1. Selama intubasi

1.1. Trauma gigi geligi

1.2. Laserasi bibir, gusi, laring

1.3. Merangsang saraf simpatis (hipertensi-takikardi)

1.4. Intubasi bronkus

1.5. Intubasi esophagus

1.6. Aspirasi

1.7. Spasme bronkus

2. Setelah ekstubasi

2.1. Spasme laring

2.2. Aspirasi

2.3. Gangguan fonasi

2.4. Edema glottis-subglotis

2.5. Infeksi laring, faring, trakea

f. Ekstubasi

Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar, jika intubasi kembali akan

menimbulkan kesulitan ataupun pasca ekstubasi ada risiko aspirasi. Ekstubasi

dikerjakan umumnya pada anesthesia sudah ringan dengan catatan tidak akan terjadi

spasme laring. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari secret dan

cairan lainnya.
D. KESULITAN INTUBASI7

Selama anestesi, angka terjadinya kesulitan intubasi berkisar 3-18%.Kesulitan dalam

intubasi ini berhubungan dengan komplikasi yang serius, terutama bila intubasi tersebut

gagal. Hal ini merupakan salah satu kegawatdaruratan yang akan ditemui oleh dokter

anestesi. Apabila anestetis dapat memprediksi pasien yang kemungkinan sulit untuk

diintubasi, hal ini mungkin dapat mengurangi resiko anestesi yang lebih besar.Salah satu

klasifikasi yang luas digunakan adalah klasifikasi oleh Cormack-Lehane yang

menggambarkan laring bila dilihat dengan laringoskopi.9

Gambar8:Klasifikasi tampilan pada laringoskopi.Kelas I pita suara terlihat,

kelas II pita suara terlihat sebagian, kelas III hanya terlihat epiglotis, dan kelas IV

epiglotis tidak terlihat.

Mallampati merupakan tes skrining simpel yang luas digunakan sekarang. Pasien duduk

di depan anestetis dan membuka mulutnya lebar. Secara klinis, tingkat 1 memprediksi

intubasi yang mudah dan tingkat 3 atau 4 mengesankan pasien akan sulit diintubasi. Hasil

dari tes ini dipengaruhi oleh kemampuan membuka mulut, ukuran dan mobilitas lidah dan

struktur intra-oral lainnya, serta pergerakan craniocervical junction.8,10


Thyromental distance diukur dari thyroid notch ujung rahang dengan kepala yang

diekstensikan. Jarak normal adalah 6,5 cm atau lebih dan ini juga tergantung anatomi

termasuk posisi laring. Bila jaraknya kurang dari 6 cm maka intubasi tidak memungkinkan.

Sternomental distance diukur dari sternum sampai ujung mandibula dengan kepala ekstensi

dan ini dipengaruhi oleh ekstensi leher. Jarak sternomental 12,5 cm atau kurang diperkirakan

akan sulit untuk diintubasi.

Extension at the atlanto-axial joint dilakukan dengan menyuruh pasien untuk

memfleksikan leher mereka dengan menengadahkan dan menundukkan kepala.Penurunan

gerakan sendi ini berhubungan dengan kesulitan intubasi.

Protrusion of the mandible merupakan gambaran mobilitas dari mandibula.Bila pasien

dapat menonjolka gigi bawah, intubasi biasanya mudah.

Beberapa penelitian mencoba memprediksi kesulitan intubasi dengan melihat anapomi

mandibula dengan sinar X. Hal ini menunjukkan kedalaman mandibula, namun hal ini tidak

umum dilakukan sebagai tes skrining6

Tahun 1993, American Society of Anesthesiologists (ASA) menuliskan algoritma

American Society of Anesthesiologists Difficulty Airway.Langkah pertama dari algoritma ini

meliputi penilaian kesulitan intubasi menggunakan laringoskop. Tiga gambaran yang

dilaporkan berhubungan dengan laringoskopi yang sulit meliputi ukuran lidah dalam faring

(Mallampati), keterbatasan mobilitas leher, dan jarak thyromental yang pendek

Karaketristik fisik yang berhubungan kesulitan intubasi meliputi obesitas, pergerakan

kepala dan leher, pergerakan rahang, mandibula, gigi tonggos, nilai Mallampati,

karakteristik maksilaris, laki-lai, usia 40-59, penurunan dalam membuka mulut, pendeknya

jarak thyromental, dan leher pendek.


Pelatihan manajemen nasional kegawatdaruratan jalan nafas US mencanangkan metode

LEMON.Sistem penilaian ini meliputisebagian besar karakteristik yang disebutkan

sebelumnya dan diadaptasi untuk digunakan pada ruang resusitasi.9

L= Look externally

Lihat pasien keseluruhan luar untuk mengetahui penyebab kesulitan laringoskopi, intubasi,

atau ventilasi. Yang biasanya dilihat adalah bentuk wajah abnormal (subjektif), gigi seri

yang lebar/menonjol, gigi palsu (sulit dinilai)

E= Evaluate the 3-3-2 rule

Hubungan faring, laring dan oral berhubungan dengan intubasi.Jarak antara gigi seri

pasiensekurangnya 3 jari (3), jarak antara tulang hyoid dan dagu sekurangnya 3 jari (3), dan

jarak antara thyroid notch dan dasar mulut sekurangnya 2 jari (2).

Gambar 9. 1 jarak antar gigi seri dalam jari, 2 jarak hyoidmental dalam jari, dan 3 jarak

thyroid ke dasar mulut dalam jari

M= Mallampati
O= Obstruction

Beberapa kondisi dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas yang membuat sulitnya

laringoskopi dan ventilasi.Selain keadaan epiglotis, adanya abses peritonsiler dan trauma.

N= Neck mobility

Ini merupakan hal yang vital dalam keberhasilan intubasi.Hal ini dapat dinilai mudah

dengan menyuruh pasien menundukkan kepala dan kemudian menengadahkannya. Pasien

dengan imobilisasi leher lebih sulit diintubasi, Ini merupakan hal yang vital dalam

keberhasilan intubasi.Hal ini dapat dinilai mudah dengan menyuruh pasien menundukkan

kepala dan kemudian menengadahkannya. Pasien dengan imobilisasi leher lebih sulit

diintubasi

Evaluasi jalan nafas untuk setiap pasien meliputi klasifikasi Mallampati modifikasi

tanpa fonasi, jarak thyromental, pergerakan kepala dan leher, lebarnya membuka mulut, ada

tidaknya gigi tonggoss, dan resesi mandibula.Pengukuran BB dan TB serta perhitungan

BMI.Pencatatan umur, jenis kelamin, status fisik ASA, jenis pembedahan dan

komorbiditas.Mallampati 3-4 diprediksikan sulit dalam intubasi pada pasien obesitas. Nilai

IDS ditemukan lebih tinggi pada pasien obesitas : sedikitnya glotis yang terlihat,

meningkatnya kekuatan mengangkat selama laringoskopi, dan perlunya bantuan tekanan

eksternal untuk meningkatkan pandangan glotis (N4, N5, N6).


Selain itu, payudara besar, leher pendek.Lidah lebar, laring yang tinggi dan anterior,

restriksi dalam membuka mulut, dan terbatasnya flexi-ekstensi vertebra servikal dan

atlantooccipital mempunyai kontribusi dalam kesulitan intubasi.

Kesukaran yang sering dijumpai dalam intubasi endotrakheal biasanya dijumpai pada

pasien-pasien dengan7,8 :

a. Otot-otot leher yang pendek dengan gigi geligi yang lengkap.

b. lower jaw dengan angulus mandibula yang tumpul. Jarak antaramental symphisis

dengan lower alveolar margin yang melebar memerlukan depresi rahang bawah yang

lebih lebar selama intubasi.

c. Mulut yang panjang dan sempit dengan arcus palatum yang tinggi

d. Gigi incisium atas yang menonjol (rabbit teeth).

e. Kesukaran membuka rahang, seperti multiple arthritis yang menyerang sendi

temporomandibuler, spondilitis servical spine.

f. Abnormalitas pada servical spine termasuk achondroplasia karena fleksi kepala pada

leher di sendi atlantooccipital.

g. Kontraktur jaringan leher sebagai akibat combusio yang menyebabkan fleksi leher.

Beberapa pasien memerlukan evaluasi berhubungan dengan kesulitan intubasi dan

komplikasi.Beberapa individu memiliki jalan nafas yang tidak sesuai, dengan pembatasan

pergerakan leher atau rahang, adanya tumor, adanya pembengkakan akibat luka atau alergi,

abnormalitas perkembangan rahang, tebalnya jaringan lemak wajah dan leher.

Ketika melihat riwayat pasien, tanyakan dan lihat gejala atau tanda, sepertikesulitan

berbicara atau bernafas; hal ini memperkirakan adanya obstruksi pada jalan nafas atas,

laring, atau cabang trakeobronkial..10


DAFTAR PUSTAKA

1. Siahaan O. Dr. Prof. 2015. Anastesi Umum dan Anastesi Lokal. Medan : Fakultas
Kedokteran UMI / UNPRI ; Hal : 1-38.
2. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Bb2-Respirasi.pdf diakses pada tanggal 10april
2019
3. Sofyan Ferryan,Embriologi, anatomi danFisiologi
laringhttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28894/1/embriologi%20dan%20an
atomi%20laring.pdf diakses pada tanggal 10 April 2019
4. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40128/4/Chapter%20II.pdf diakses pada
tanggal 11 April 2019
5. www.library.upnvj.ac.id/pdf/5FKS1KEDOKTERAN/.../bab%20II.pdfdiakses pada
tanggal 11 April 2019
6. Buttler KH et al. 2003. Management of the difficult airway: alternative airway techniques
and adjuncts. Emergency Medicine Clinic of North America 21 (2003) 259–289

7. Yoyagi GS et al. 1995. Evaluating the difficult airway. An epidemiological study.


PubMedDec;61(12):483-9

8. Dobson M.B . 1994. Penuntun Praktis Anastesi. Jakarta Penerbit Buku Kedokteran

9. American Society of Anesthesiologists. 2013. Practice Guidelines for Management of the


Difficult Airway : An Updated Report by the American Society of Anesthesiologists Task
Force on Management of the Difficult Airway. Anesthesiology 2013; 118:251-70.
10. Latief Said, Suryadi A. Kartini, Dachlan M R. 2001 Petunuk Praktis Anastesiologi edisi
ke 2. Jakarta . Bagian Anastesiologi Dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia 42-43.