Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KEGIATAN

MINI PROJECT

STUDI FAKTOR RISIKO DAN EDUKASI PENYAKIT TUBERKULOSIS


DI KECAMATAN BANYUMAS

Disusun Oleh:

dr. Hanifah Khoirunnisa


dr. Rahma Trianisa
dr. Arif Rifqi Pambudi
dr. Yustina Elisa Febriany
dr. Gentaria Rizki Safitri
dr. Fransiscus Buwana
dr. Aswin Imam Ashidiqi

Internsip Dokter Indonesia Kabupaten Banyumas


Periode Februari 2018 – Juni 2018
Puskesmas Banyumas
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)


Laporan Mini Project

Topik:
Studi Faktor Risiko dan Edukasi Penyakit Tuberkulosis di Kecamatan Banyumas

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis Dokter Internsip


sekaligus sebagai bagian dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip
Dokter Indonesia di Puskesmas Banyumas

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

Banyumas, 6 Juni 2018

Mengetahui,
Dokter Pendamping

dr. Tri Feriana


NIP. 19760226 200701 2 008

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
The Sustainable Development Goals (SDGs) adalah 17 tujuan dengan
169 target yang telah disepakati oleh 191 negara anggota PBB sebagai agenda
dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi yang
diharapkan tercapai pada tahun 2030. Kesehatan memiliki peran penting dan
tercantum pada SDGs 3 yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong
kesejahteraan orang di segala usia dengan salah satu target SDGs 3 yaitu
mengakhiri epidemi penyakit Tuberkulosis pada tahun 2030.
Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet
orang yang telah terinfeksi basil Mycobacterium tuberculosis. Sampai saat ini,
Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan di masyarakat
walaupun upaya pengendalian telah banyak dilakukan. Menurut World Health
Organization (WHO) secara global diperkirakan terdapat 9,6 juta kasus
Tuberkulosis dan 1,2 juta kematian karena Tuberkulosis pada tahun 2014.
Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013
prevalensi penduduk yang didiagnosis TUBERKULOSIS oleh tenaga
kesehatan sebesar 0,4%. Menurut kelompok usia kasus Tuberkulosis yang
paling banyak ditemukan yaitu pada kelompok usia 25-34 tahun sebesar
20,76% diikuti kelompok umur 45-54 tahun sebesar 19,57% dan pada
kelompok umur 35-44 tahun sebesar 19,24%. Jumlah kasus tertinggi yang
dilaporkan terdapat di provinsi dengan jumlah penduduk yang besar yaitu Jawa
Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang menyumbang sebesar 38% dari
jumlah seluruh kasus baru di Indonesia. Di Jawa Tengah sendiri prevalensi
Tuberkulosis per 100.000 penduduk tahun 2012 sebesar 106,42 sedangkan di
Kabupaten Banyumas prevalensi kasus Tuberkulosis pada tahun 2015 yaitu
sebesar 56,27/100.000 penduduk.

2
Case Detection Rate (CDR) kasus Tuberkulosis di Provinsi Jawa
Tengah selama 3 Tahun berturut-turut (2010-2012) berada dibawah target
nasional (<70%). CDR menunjukkan angka penemuan kasus Tuberkulosis
yang potensial terdapat di Provinsi Jawa Tengah, bertujuan untuk menemukan
kasus Tuberkulosis baru dan mengobatinya, sehingga penularan lebih lanjut
terhadap anggota keluarga lainnya dapat dicegah sedini mungkin. Namun,
dengan melihat angka penyembuhan (Cure Rate) di dua tahun terakhir (2011-
2012) yang mengalami penurunan dibandingkan CR tahun 2010. Bahkan angka
CR di dua tahun terakhir berada dibawah target nasional (<85%). Penemuan
kasus yang rendah di perburuk lagi dengan cakupan angka kesembuhan yang
rendah (dibawah target). Kondisi ini memberikan gambaran bahwa kasus
Tuberkulosis masih menjadi masalah di Provinsi Jawa Tengah.
Jumlah penemuan penderita Tuberkulosis baru dengan BTA+ di
wilayah kerja Puskesmas Banyumas pada tahun 2014 yaitu sebanyak 23 kasus
(CDR: 41,07 per 100.000 penduduk). Pada tahun 2015, jumlah penemuan
penderita Tuberkulosis baru dengan BTA+ yaitu sebanyak 14 kasus dengan
jumlah seluruh kasus Tuberkulosis BTA+ sebanayak 28 kasus. Kemudian,
pada tahun 2016, jumlah penemuan kasus baru BTA+ adalah sebanyak 11
kasus dengan jumlah seluruh kasus Tuberkulosis BTA+ sebanyak 16 kasus
Tuberkulosis dewasa dan 8 kasus Tuberkulosis anak. Berdasarkan rendahnya
angka penemuan kasus Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas yang masih
dibawah target nasional, maka perlu dilakukan analisis Problem Solving Cycle
supaya dapat meningkatkan pencapaian cakupan CDR kasus Tuberkulosis di
Puskesmas Banyumas.

B. Tujuan Kegiatan
Menganalisis Problem Solving Cycle (PSC) supaya dapat meningkatkan
pencapaian cakupan CDR kasus Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas.

3
C. Manfaat Kegiatan
a. Dapat menjadi bukti empiris tentang kejadian Tuberkulosis di Puskesmas
Banyumas Kecamatan Banyumas.
b. Dapat menjadi referensi terkait upaya untuk meningkatkan pencapaian
cakupan CDR kasus Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas dalam bentuk
Problem Solving Cycle (PSC).

4
BAB II
PENETAPAN PRIORITAS MASALAH

A. Pengumpulan dan Pengolahan Data


Penilaian terhadap pengetahuan tentang penyakit Tuberkulosis dilakukan
berdasarkan perhitungan total skor pengetahuan responden. Tingkat
pengetahuan selanjutnya dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu pengetahuan
baik dan kurang. Tingkat pengetahuan responden tentang penyakit
Tuberkulosis positif di Puskesmas Banyumas Tahun 2017/2018 dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
Tabel 1. Tingkat pengetahuan responden tentang penyakit Tuberkulosis positif di
Puskesmas Banyumas Tahun 2017/2018
No. Tingkat Pengetahuan Jumlah Persentase (%)
1. Baik 3 18,7%
2. Kurang 13 81,3%
Total 16 100%

Berdasarkan perhitungan jumlah skor yang didapat dari pernyataan


responden pada pengukuran sikap, maka tingkat sikap responden tentang
penyakit dan pencegahan penularan Tuberkulosis selanjutnya dikategorikan
menjadi 2 kategori yaitu sikap baik dan kurang. Tingkat sikap responden
tentang penyakit dan pencegahan penularan Tuberkulosis di Puskesmas
Banyumas dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2. Tingkat sikap responden tentang penyakit dan pencegahan penularan
Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas Tahun 2017/2018
No. Tingkat Sikap Jumlah Persentase (%)
1. Baik 3 18,7%
2. Kurang 13 81,3%
Total 16 100%

Berdasarkan perhitungan jumlah skor yang didapat dari responden pada


pengukuran tindakan upaya pencegahan penularan Tuberkulosis selanjutnya

5
dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu tindakan baik dan kurang. Tingkat
tindakan responden dalam upaya pencegahan penularan Tuberkulosis di
Puskesmas Banyumas dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3. Tingkat tindakan responden dalam upaya pencegahan penularan
Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas Tahun 2017/2018
No. Tingkat Tindakan Jumlah Persentase (%)
1. Baik 2 12,5%
2. Kurang 14 87,5%
Total 16 100%

Keadaan lingkungan rumah meliputi keadaan rumah serta pencahayaan


dan penghawaan. Berdasarkan perhitungan jumlah skor yang didapat dari
responden pada pengukuran keadaan lingkungan rumah dikategorikan menjadi
2 kategori yaitu baik dan kurang. Tingkat keadaan lingkungan rumah
responden dalam upaya pencegahan penularan Tuberkulosis di Puskesmas
Banyumas dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4. Tingkat keadaan lingkungan rumah responden dalam upaya pencegahan
penularan Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas Tahun 2017/2018
Tingkat Keadaan Lingkungan Rumah Jumlah Persentase (%)
No. Tingkat Keadaan Rumah
1. Baik 10 62,5%
2. Kurang 6 37,5%
Total 16 100%
No. Tingkat Pencahayaan dan Sirkulasi Udara di Rumah
1. Baik 6 37,5%
2. Kurang 10 62,5%
Total 16 100%

B. Pemilihan Prioritas Masalah


Setelah mengumpulkan data sekunder berupa laporan Puskesmas, tahap
selanjutnya adalah menyusun prioritas masalah.Pada tahap ini dipilih penyakit
denganpencapaian cakupan Case Detection Rate (CDR) yang masih dibawah

6
target nasional. Namun, tidak hanya menempatkan penyakit dengan angka
penemuan kasus dibawah target sebagai prioritas utama, tetapi juga harus
dipandang dari berbagai aspek, seperti tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan
terhadap penyakit tersebut, serta keadaan lingkungan rumah yg berpengaruh
terhadap penularan penyakit tersebut.
Di Puskesmas Banyumas menunjukkan angka penemuan kasus baru
penderita Tuberkulosis yang masih dibawah target nasional (<70%). Jumlah
penemuan penderita Tuberkulosis baru dengan BTA+ di wilayah kerja
Puskesmas Banyumas pada tahun 2014 yaitu sebanyak 23 kasus. Pada tahun
2015, jumlah penemuan penderita Tuberkulosis baru dengan BTA+ yaitu
sebanyak 14 kasus dengan jumlah seluruh kasus Tuberkulosis BTA+
sebanayak 28 kasus. Kemudian, pada tahun 2016, jumlah penemuan kasus baru
BTA+ adalah sebanyak 11 kasus dengan jumlah seluruh kasus Tuberkulosis
BTA+ sebanyak 16 kasus Tuberkulosis dewasa dan 8 kasus Tuberkulosis anak.
Berdasarkan rendahnya angka penemuan kasus Tuberkulosis di
Puskesmas Banyumas, masih dibawah target nasional, maka perlu dilakukan
analisis Problem Solving Cycle supaya dapat meningkatkan pencapaian
cakupan CDR kasus Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas.

C. Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah suatu akronim dari strength (kekuatan),
weakness (kelemahan) dari lingkungan internal organisasi, serta opportunity
(kesempatan/peluang) dan threat (ancaman/rintangan) dari lingkungan
eksternal organisasi. Analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan
antara faktor eksternal dengan faktor internal organisasi untuk memaksimalkan
kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan dan ancaman. Analisis ini berguna untuk menganalisis faktor-
faktor internal organisasi layanan kesehatan yang memberi andil terhadap
kualitas layanan kesehatan atau salah satunya komponennya dengan
mempertimbangkan faktor-faktor eksternal organisasi layanan kesehatan.
Unsur-unsur dari analisis SWOT sebagai berikut:
7
1) Kekuatan
Kekuatan (Strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang
dimiliki oleh suatu puskesmas, yang apabila dimanfaatkan akan berperan
besar dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan
untuk mencapai tujuan yang dimiliki oleh puskesmas itu sendiri.

2) Kelemahan
Kelemahan (Weakness) adalah berbagai kelemahan yang bersifat khas,
yang dimiliki oleh suatu puskesmas, yang apabila diatasi akan berperan
besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan
dilaksanakan oleh puskesmas tetapi juga dalam mencapai tujuan yang
dimiliki oleh puskesmas.
3) Kesempatan
Kesempatan (Opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang
dihadapi oleh suatu puskesmas yang apabila dapat dimanfaatkan akan
besar peranannya dalam mencapai tujuan puskesmas.
4) Hambatan
Hambatan (Threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang dihadapi
oleh suatu puskesmas yang apabila berhasil diatasi akan besar
peranannya dalam mencapai tujuan puskesmas.
Tabel.Analisis SWOT Tuberculosis di Puskesmas Banyumas

S W

1. Pelayanan Tuberkulosis 1. Keterbatasan tenaga


seluruhnya sudah dibiayai oleh pelayanan Kesehatan
SW
JKN 2. Sarana prasarana terbatas
2. Puskesmas memiliki ruang pojok
khusus Tuberkulosis
3. Terjangkaunya akses menuju
OT pelayanan kesehatan

8
O SO WO

1. Adanya kerjasama 1. Memaksimalkan kerjasama dengan 1. Menyediakan sarana


puskesmas dalam UPK lain dalam pengendalian prasarana penunjang dalam
pengendalian kasus infeksi penatalaksanaan infeksi
infeksilintas program, 2. Memaksimalkan kerjasama dengan 2. Pemberian pelatihan kepada
lintas sektoral dan swasta UPK lain dalam pencatatan dan tenanga puskesmas untuk
2. Terdapat peran serta bidan laporan kasus infeksi. menambah pengetahuan
wilayah dan masyarakat 3. Perbaikan sistem pencatatan dan mengenai pengendalian kasus
dalam menjadi kader. pelaporan agar lebih baik dan infeksi
3. Ketersediaan logistik teratur
pengendalian infeksi 4. Pendataan yang baik oleh kader
tanggung jawab dan bidan setempat terhadap kasus
pemerintah. infeksi
T ST WT

1. Tingkat pendidikan 1. Penyediaan dana dan fasilitas 1. Mendorong masyarakat untuk


masyarakat masih banyak secara optimal untuk mau memeriksakan diri ke
yang kurang menanggulangi prevalensi infeksi Puskesmas atau sarana
2. Kebersihan Lingkungan 2. Peningkatan penyuluhan tentang kesehatan terdekat jika ada
yang masih kurang (polusi, definisi, faktor risiko, gejala, tanda gejala dan keluhan mengenai
asap kendaraan, asap bahaya, pemeriksaan, pengobatan infeksi pada pernapasan
rokok, dll) dan pencegahan infeksiterutama 2. Menyelenggarakan
3. Kunjungan kasus kasus Tuberkulosis penyuluhan tentang kesehatan
Tuberkulosis rendah 3. Pendekatan personal oleh petugas lingkungan dan pola hidup
4. Jumlah penemuan kasus kepada keluarga tentang dalam upaya pencegahan
Tuberkulosis masih rendah infeksiyang sering dialami terjadinya infeksi
(11 kasus dalam tahun 4. Penggalakan kader untuk
2016) menemukan kasus-kasus batuk
lama untuk diperiksa lebih lanjut

9
BAB III
PENETAPAN PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH

A. Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah menentukan masalah yang akan diprioritaskan di Puskesmas
Banyumas, perlu dilakukan peninjauan penyebab masalah tersebut. Analisis
tinjauan tersebut didapatkan melalui data sekunder. Data sekunder didapat dari
data kuisioner yang berhubungan dengan terjadinya infeksi kuman
Tuberkulosis. Hasil analisis tersebut kami kembangkan dalam bentuk diagram
tulang ikan yang menunjukkan analisis masalah terjadinya penyakit
Tuberkulosis.

Lingkungan Pengetahuan Masyarakat Perilaku Masyarakatat

 Kebiasaan  Pengetahuan  Masyarakat tidak tahu


merokok masyarakat etika batuk
dalam mengenai  Masyarakat masih ada
rumah Tuberkulosis yang membuang dahak
 Kelembaban terutama sembarangan
kurang baik mengenai  Masyarakat tidak
 Pembuangan pencegahan dan mengsisolasi penderita
sampah penularan masih Tuberkulosis
dibakar rendah

Tuberkulosis
 Kurangnya jumlah
SDM dan sarana  Taraf ekonomi
prasarana di yang tergolong
puskesmas menengah
 Belum optimalnya kebawah
upaya penemuan  Pendidikan
kasus Tuberkulosis masyarakat yang
rendah
Layanan Kesehatan Sosial Ekonomi

Bagan 1. Analisis Masalah Terjadinya Peyakit Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas

Berdasarkan diagram tulang ikan di atas, dapat diidentifikasi beberapa


penyebab masalah yang berperan terhadap belum optimalnya program
pengendalian penyakit Tuberkulosis di Puskesmas Banyumas. Setelah
10
menganalisis penyebab masalah utama, langkah selanjutnya adalah menyusun
jalan keluar dari setiap penyebab masalah yang ada. Alternatif jalan keluar
tersebut tersaji dalam tabel berikut :
Tabel 5. Alternatif pemecahan masalah
Masalah Penyebab Alternatif Pemecahan Masalah
Belum 1.Petugas medis dan kader - Menambah jumlah petugas kesehatan di
optimalnya kesehatan (Man) tingkat puskesmas yang bertugas dalam
program - Jumlah petugas medis pelayanan Tuberkulosis
pengendalian yang menanggani kasus - Penyuluhan kepada kader mengenai definisi,
penyakit Tuberkulosis kurang faktor resiko, gejala, tanda bahaya,
Tuberkulosis memadai jika dilihat pemeriksaan, pengobatan dan pencegahan
dari wilayah jangkauan Tuberkulosis
kerja Puskesmas - Pelatihan petugas kesehatan dan kader desa
- Belum semua kader mengenai pencegahan dan pengendalian
kesehatan memiliki penyakit Tuberkulosis
pengetahuan yang baik - Meningkatkan motivasi petugas melalui
soal kasus Tuberkulosis pemberian insentif untuk mengoptimalkan
- Kurang motivasi kader dan menambah kinerja menjadi lebih baik
kesehatan untuk secara
aktif menemukan pasien
yang dicurigai suspek
menderita Tuberkulosis
2.Sumber dana (Money) - Penetapan alokasi dana untuk program
- Alokasi dana dari pencegahan dan pengendalian penyakit
pemerintah Tuberkulosis
- Terdapat dana insentif pada petugas yang
memiliki kinerja baik dalam penanganan
kasus Tuberkulosis
- Pendekatan kepada pemerintah untuk
memudahkan pencairan dana
3.Waktu (Minutes) - Menyediakan agenda khusus untuk
- Keterbatasan waktu melakukan penyuluhan tentang pencegahan
Tuberkulosis
- Mengoptimalkan peran kader dalam
memberikan pengetahuan tentang
Tuberkulosis dan pencegahannya pada
masyarakat
4.Metode (Methode) : - Edukasi pada masyarakat mengenai
- Pendekatan yang pencegahan terjadinya Tuberkulosis

11
kurang kepada - Membantu memberikan sosialisasi tentang
masyarakat Tuberkulosis untuk menghapus stigma
Tuberkulosis merupakan penyakit
memalukan serta mengenai pengobatan
Tuberkulosis yang gratis dan sepenuhnya di
tanggung oleh pemerintah
- Edukasi pada pasien dengan Tuberkulosis
dan keluarga mengenai tata laksana awal
dan bagaimana cara mencegah penularannya
- Pendekatan personal oleh petugas atau kader
kepada seseorang yang dicurigai mengalami
Tuberkulosis untuk sesegera mungkin
memeriksakan ke puskesmas
- Menoptimalkan peran dan komitmen tokoh
masyarakat dalam mensosialisasikan
penyakit Tuberkulosis sehingga
meningkatkan kesadaran masyarakat dalam
upaya pencegahan, penemuan seseorang
yang dicurigai mengalami Tuberkulosis,
pengobatan secara tuntas
5.Pengawasan (controlling) - Dilakukan inspeksi dan evaluasi
- Kurangnya pengawasan pelaksanaan program pencegahan dan
pengendalian Tuberkulosis
- Sistem pencatatan dan pelaporan yang baik
6.Pelaksanaan (Actuating) - Meningkatkan kesadaran petugas kesehatan
- Kurangnya realisasi akan pentingnya program pencegahan dan
penyuluhan pengendalian Tuberkulosis
- Peningkatan kesadaran masyarakat akan
pentingnya pencegahan dan pengendalian
Tuberkulosis
7.Lingkungan (environmetnt) - Penyuluhan kepada masyarakat mengenai
- Ketidaktahuan pentingnya hidup bersih dan pola makan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan daya tahan
tubuh
- Sosialisasi lingkungan rumah yang sehat
dimana sirkulasi udara dan pencahayaan
rumah dalam kondisi baik sehingga
mencegah perkembangan hidup kuman
Tuberkulosis

12
Selanjutnya dilakukan pemilihan prioritas pemecahan masalah menurut tingkat
efektivitas dan efisiensi program, pemilihan metode pemecahan masalah
diuraikan dalam tabel berikut :

Tabel 6. Prioritas cara pemecahan masalah


Efektivitas Efisiensi
No Cara Pemecahan Masalah Prioritas
(C)
M I V
Memberikan pengetahuan
1 tentang Tuberkulosis dengan 4 4 3 4 192
penyuluhan
Deteksi dini kasus
2 2 3 2 4 48
Tuberkulosis oleh masyarakat
Memberikan Pengertian
tentang batuk dan bersin yang
3 4 4 3 4 192
benar untuk mencegah
penularan Tuberkulosis
Memberikan masker gratis
5 untuk pencegahan penularan 4 4 3 2 96
Tuberkulosis
Menjaga kebersihan
lingkungan dan pola makan
6 2 4 3 4 96
yang sehat untuk meningkatkan
daya tahan tubuh
Sosialisasi lingkungan rumah
yang sehat dimana sirkulasi
udara dan pencahayaan rumah
7 3 4 3 4 144
dalam kondisi baik sehingga
mencegah perkembangan hidup
kuman Tuberkulosis.
Penyuluhan kepada kader
mengenai definisi, faktor
resiko, gejala, tanda bahaya,
8 4 4 4 4 196
pemeriksaan, pengobatan dan
pencegahan Tuberkulosis

Kriteria efektivitas :
M = Magnitude (besarnya masalah yang dapat diselesaikan)
I = Importancy (pentingnya jalan keluar)
V = Vulnerability (sensivitas jalan keluar)
Kriteria efisiensi :
C = Efficiency – Cost (semakin besar biaya yang diperlukan semakin tidak efisien)

13
Berdasarkan matriks di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
memberikan penyuluhan tentang Tuberkulosis dan mengajarkan batuk dan
bersin yang benar untuk mencegah penularan Tuberkulosis dapat menjadi
solusi yang paling efektif dalam menurunkan angka penderita penyakit
Tuberkulosis. Namun demikian, keenam alternatif pemecahan di atas harus
dilakukan secara simultan agar tercapai hasil yang optimal.

14
BAB IV
PLAN OF ACTION

Berdasarkan analisis prioritas pemecahan masalah, didapatkan bahwa


alternatif pemecahan masalah yang dipilih guna meingkatkan cakupan penemuan
kasus Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Banyumas adalah dengan
penyuluhan tentang penyakit Tuberkulosis pada kader kesehatan desa, masyarakat
desa serta penderita Tuberkulosis. Oleh karena itu, diusulkan beberapa kegiatan
yang dapat menunjang alternatif pemecahan masalah tersebut :
1. Penyuluhan mengenai penyakit Tuberkulosis
a. Tujuan
- Meningkatkan cakupan penemuan kasus Tuberkulosis di wilayah kerja
Puskesmas Banyumas.
- Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit Tuberkulosis kepada
kader dan masyarakat supaya dapat menjelaskan kepada kerabat dan
masyarakat sekitar serta dapat melakukan deteksi dini Tuberkulosis.
- Meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana mencegah
Tuberkulosis kepada kader dan masyarakat supaya dapat menjelaskan
kapada kerabat dan masyarakat sekitar.
b. Sasaran
Kader kesehatan desa di wilayah kerja Puskesmas Banyumas
c. Pelaksana
Dokter Internsip
d. Waktu
5 - 24 Mei 2018
e. Lokasi
Tempat pertemuan Posbindu pada setiap desa di Kecamatan Banyumas
f. Mekanisme
Dokter Internsip dari puskesmas Banyumas mendatangi kader kesehatan di
setiap desa untuk memberikan penyuluhan mengenai penyakit
Tuberkulosis, dengan himbauan untuk membagikan pengetahuan dari
15
penyuluhan ini ke masyarakat desa. Untuk menilai keefektifan program
ini, maka dilakukan pretes dan postes kepada peserta penyuluhan.
g. Pembiayaan
- Cetak soal pretes dan post test
65 x 2 x Rp. 200 Rp. 260.000
- Total Rp. 260.000
2. Pembagian Poster dan Leaflet TOSS Tuberkulosis
a. Tujuan
- Menumbuhkan pengetahuan pentingnya menemukan penderita
Tuberkulosis untuk menurunkan kejadian kasus Tuberkulosis yang
tidak teratasi hingga tuntas.
- Mencegah penularan Tuberkulosis.
b. Sasaran
Kader kesehatan desa di wilayah kerja Puskesmas Banyumas
c. Pelaksana
Dokter Internsip
d. Waktu
5 - 24 Mei 2018
e. Lokasi
Tempat pertemuan Posbindu di setiap Desa Kecamatan Banyumas
f. Mekanisme
Setelah dilakukan pretes, penyuluhan serta postes kemudian dilakukan
pembagian poster serta leaflet kepada kader sebagai media untuk
melakukan penyuluhan kepada masyarakat desa.
g. Pembiayaan
- Cetak poster 13 x Rp. 4.000 Rp. 52.000
- Cetak leaflet 130 x Rp. 500 Rp. 65.000
- Total Rp. 117.000

16
BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN

A. NAMA KEGIATAN
Kegiatan Kelas 3 T (Temukan dan Tuntaskan Tuberkulosis)
B. TUJUAN KEGIATAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan penemuan kasus penderita Tuberkulosis di wilayah kerja
Puskesmas Banyumas
2. Tujuan Khusus
- Memberikan informasi mengenai definisi, prevalensi, jenis-jenis,
penyebab, tanda dan gejala , pengobatan dan pencegahan Tuberkulosis.
- Memberikan edukasi cara mencegah penularan Tuberkulosis.
- Memotivasi peserta untuk menjalani pola hidup bersih dan sehat, baik
dari segi pola makan maupun dalam merawat lingkungan untuk
mencegah Tuberkulosis.
- Menggugah para kader untuk ikut memberikan penyuluhan serupa pada
warga di wilayah kerjanya.
C. TEMPAT PELAKSANAAN
Posbindu tiap Desa di wilayah kerja Puskesmas Banyumas
D. WAKTU PELAKSANAAN
5-24 Mei 2018
E. SASARAN KEGIATAN
Kader kesehatan desa di wilayah kerja Puskesmas Banyumas
F. PENANGGUNG JAWAB KEGIATAN
Dokter Internsip dan petugas Puskesmas Banyumas
G. PELAKSANAAN KEGIATAN
Rangkaian kegiatan mini project berupa penyuluhan Tuberkulosis
dilaksanakan sebanyak 13 kali bersamaan dengan kegiatan Posbindu periode
Mei 2018. Penyuluhan berturut turut dilaksanakan pada tanggal 5 sampai 24
Mei 2018 meliputi kegiatan posbindu di RW 3 Desa Kedunguter, rumah warga
17
Desa Papringan, Balai Desa Sudagaran, Balai Desa Dawuhan, RW 2 Desa
Binangun, Balai Desa Pakunden, Balai Desa Karang Rau, Balai Desa Kalisube,
Pustu Desa Pasinggangan Atas, PKD Desa Pasinggangan Bawah, Balai Desa
Kedunggede, Balai Desa Kejawar dan Balai Desa Danaraja. Peserta kegiatan
merupakan para kader kesehatan di masing-masing Desa.
Mekanisme kegiatan penyuluhan dibagi menjadi 4 tahap yaitu pretes,
penyuluhan, post test dan koreksi. Setelah kegiatan posbindu selesai seluruh
kader desa yang bertugas dikumpulkan dan diberi pengarahan untuk
mengerjakan pretes. Tujuan dari pretest ini adalah untuk mengukur tingkat
pengetahuan awal para kader sebelum mendapat penyuluhan. Pretest berisi 14
pertanyaan dengan opsi pilihan pernyataan. Metode soal pilihan pernyataan ini
telah ditetapkan skornya. Waktu mengerjakan pretes selama sekitar 10 menit.
Setelah mengerjakan soal pretes, peserta diberikan penyuluhan tentang
materi Tuberkulosis yang disampaikan oleh Dokter Internsip yang bertugas.
Materi yang diberikan meliputi definisi Tuberkulosis, penyebab Tuberkulosis,
tanda dan gejala Tuberkulosis, cara penularan Tuberkulosis, pemeriksaan
Tuberkulosis, pengobatan Tuberkulosis serta pencegahan Tuberkulosis.
Penyuluhan dilakukan dengan metode 2 arah, Dokter Internsip tidak
hanya memberikan materi kepada para kader, namun juga berinteraksi dengan
para peserta melalui sesi tanya jawab di akhir penyuluhan.
Peserta sangat antusias mendapatkan penyuluhan dari dokter, termasuk
saat sesi tanya jawab, banyak peserta yang mengajukan pertanyaan seputar
materi dan isu tentang penyakit Tuberkulosis yang berkembang di masyarakat.
Namun, dokter internsip juga tidak membatasi pertanyaan diluar materi agar
peserta tetap antusias dan semangat menimba ilmu. Secara keseluruhan respon
dari para peserta dalam kegiatan dinilai sangat baik.
Penyuluhan berlangsung ± 30 menit dan sesi tanya jawab memakan
waktu ± 15 menit. Selanjutnya dilakukan post test dengan pertanyaan yang
sama dengan pretest tepat di akhir sesi. Metode pre-post test ini kami pilih
karena efektif untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan
sesudah diberikan penyuluhan.
18
Setelah dilakukan post test, dilakukan koreksi dan pembahasan bersama
oleh peserta dan dokter internsip agar peserta mengetahui apakah masih ada
jawaban yang salah sehingga dokter internsip dapat kembali menjelaskan
pengetahuan tentang Tuberkulosis yang belum atau kurang dipahami oleh
peserta. Dengan demikian peserta semakin memahami tentang Tuberkulosis.
Kegiatan ditutup dengan membagikan poster dan leaflet Tuberkulosis
kepada kader agar bisa digunakan sebagai media penyuluhan bagi kader untuk
membagikan pengetahuan tentang Tuberkulosis bagi masyarakat.

19
BAB VI
MONITORING DAN EVALUASI

Pada kegiatan Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) di wilayah kerja


Puskesmas Banyumas dilakukan penyuluhan dengan peserta kader kesehatan
desa dan topik Tuberkulosis. Sebelum dan setelah penyuluhan, peserta
diberikan pretest dan post test untuk dikerjakan. Hasil dari pretest dan post test
tersebut digunakan untuk menilai sejauh mana manfaat penyuluhan terhadap
tingkat pengetahuan peserta.
Penyuluhan dilakukan oleh 2 Dokter Internsip dengan metode
penyuluhan kelompok kecil, yaitu kelompok kader pada tiap Desa. Dari 12
Desa di wilayah kerja Puskesmas Banyumas didapatkan sampel peserta
sebanyak 44 kader. Dari total jumlah nilai pretest dan post test didapatkan rata-
rata sebagai berikut :

Diagram 1. Rata- rata nilai pretes dan postest tingkat pengetahuan Tuberkulosis oleh
kader di wilayah kerja Puskesmas Banyumas
25

20

15
Pretest
10 Post test

0
Pretest Postest

Dari tabel tersebut diketahui terdapat peningkatan nilai yang signifikan


dari pretest dibandingkan dengan post test, yaitu rata-rata nilai pretest 14,5 yang
termasuk tingkat pengetahuan kurang-sedang (≤18) dan post test 19,3 yang
termasuk tingkat pengetahuan baik (>18). Hal ini menunjukkan bahwa

20
penyuluhan efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta tentang
Tuberkulosis. Perlu diketahui bahwa isi pretest sama dengan post test.
Penyuluhan ini dilakukan dalam kelompok kecil karena dinilai lebih
efektif. Penyuluhan dalam kelompok kecil memudahkan terjadinya interaksi dua
arah, antara pemateri dan peserta. Peserta dengan mudah dapat bertanya kepada
pemateri tentang materi yang belum dipahami, dan pemateri dapat menilai secara
langsung apakah materi yang disampaikan sudah dipahami benar oleh peserta,
dengan menilai ekspresi peserta secara langsung, dan dengan mengajukan
pertanyaan untuk menilai kepahaman peserta terhadap isi materi. Dan
berdasarkan kegiatan ini juga dapat disimpulkan bahwa semakin banyaknya
kegiatan penyuluhan akan semakin meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
peserta terhadap materi kesehatan.
Pemilihan metode penyuluhan sangat ditentukan oleh jumlah responden,
jumlah pemateri, dan lokasi penyuluhan. Sehingga keefektifan suatu metode
penyuluhan sangat ditentukan oleh faktor-faktor tersebut, yang perlu dikaji
sebelum pelaksanaan penyuluhan.
Dalam penyuluhan ini juga ditekankan bahwa tujuan dari kegiatan ini
adalah untuk meningkatkan angka cakupan TB di wilayah kerja Puskesmas
Banyumas, sehingga penyuluhan dilakukan kepada para kader kesehatan desa,
yang memiliki peran penting dalam bidang kesehatan di wilayah Desa masing-
masing, untuk menyebar luaskan pengetahuan tentang penyakit Tuberkulosis dan
kemudian dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahayanya penyakit
Tuberkulosis.

21
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
1. Cakupan penemuan kasus Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas
Banyumas masih dibawah target Puskesmas Banyumas.
2. Berdasarkan analisis Problem Solving Cycle (PSC), didapatkan bahwa
penyebab rendahnya cakupan Tuberkulosis di wilayah kerja
Puskesmas Banyumas adalah karena kurangnya pengetahuan
masyarakat mengenai Tuberkulosis.
3. Berdasarkan pretest yang dilakukan, banyak kader yang belum paham
mengenai Tuberkulosis.
4. Berdasarkan post test yang dilakukan, tingkat pengetahuan kader
meningkat setelah mendapatkan penyuluhan.
5. Semakin banyak kegiatan penyuluhan akan semakin meningkatkan
pengetahuan, pemahaman, serta kesadaran masyarakat mengenai
Tuberkulosis.

B. SARAN
1. Perlu ditingkatkannya sosialisasi Tuberkulosis oleh petugas kesehatan.
2. Perlu ditingkatkannya anggaran untuk program penemuan kasus
Tuberkulosis.

22
DAFTAR PUSTAKA

WHO. Sustainable Development Goals. 2016. [disitasi pada Maret 2018].


Tersedia dari: www.who.int/topics/sustainable-development-goals/en/
Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2014. Jakarta; Kemenkes
RI. 2015.
Direktorat Jenderal PP & PL Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional
Pengendalian Tuberkulosis. 2014. Jakarta; Kementerian Kesehatan RI.
2014.
World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2015. Edisi 20. 2015.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Pokok-pokok Hasil Riskesdas Indonesia Tahun 2013. Jakarta:
Kemenkes RI. 2013.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Buku Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah 2012. Semarang. 2013.
Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Kabupaten Banyumas Tahun 2015.
Jakarta: Kemenkes RI. 2015.
Tim Penyusun. Profil BLUD Puskesmas Banyumas Tahun 2016. Banyumas.
2016.

23
PERENCANAAN KEGIATAN & PENYUSUNAN LAPORAN

1. Penyusunan prioritas masalah, prioritas dr. Fransiscus Buwana


pemecahan masalah, dan Plan of Action dr. Gentaria Rizki Safitri
(POA) kegiatan kelas 3T (Temukan dan dr. Hanifa Khoirunnisa
Tuntaskan Tuberkulosis)
2. Pelaksanaan kegiatan kelas 3T (Temukan dr. Yustina Elisa
dan Tuntaskan Tuberkulosis)
3. Monitoring kegiatan dr. Aswin Imam Ashidiqi
4. Evaluasi kegiatan dr. Rahma Trianisa
5. Tindak lanjut berdasarkan hasil monitoring dr. Arif Rifqi Pambudi
dan evaluasi

24
PELAKSANAAN KEGIATAN

1. Pembuatan leaflet dan poster dengan materi dr. Fransiscus Buwana


TUBERKULOSIS
2. Pemateri Penyuluhan Desa Kedunguter dr. Arif Rifqi Pambudi
3. Pemateri Penyuluhan Desa Papringan dr. Gentaria Rizki Safitri
4. Pemateri Penyuluhan Desa Sudagaran dr. Aswin Imam Ashidiqi
5. Pemateri Penyuluhan Desa Dawuhan dr. Rahma Trianisa
6. Pemateri Penyuluhan Desa Binangun dr. Rahma Trianisa
7. Pemateri Penyuluhan Desa Pakunden dr. Arif Rifqi Pambudi
8. Pemateri Penyuluhan Desa Karang Rau dr. Hanifah Khoirunnisa
9. Pemateri Penyuluhan Desa Kalisube dr. Gentaria Rizki Safitri
10. Pemateri Penyuluhan Desa Pasinggangan dr. Yustina Elisa
Atas
11. Pemateri Penyuluhan Desa Pasinggangan dr. Hanifah Khoirunnisa
Bawah
12. Pemateri Penyuluhan Desa Kedunggede dr. Fransiscus Buwana
13. Pemateri Penyuluhan Desa Kejawar dr. Aswin Imam Ashidiqi
14. Pemateri Penyuluhan Desa Danaraja dr. Yustina Elisa

25
DOKUMENTASI

Gambar 1. Home Visite Pasien TB di Desa Kalisube

Gambar 2. Home Visite Pasien TB di Desa Sudagaran

Gambar 3. Peninjauan Sanitasi Lingkungan Rumah Pasien TB di Desa Papringan


Gambar 4. Pelaksanaan Kelas 3T

Gambar 5. Pelaksanaan Kelas 3T

Gambar 6. Pelaksanaan Kelas 3T di Desa Kedunggede


Gambar 7. Pelaksanaan Kelas 3T di Desa Dawuhan

Gambar 8. Pelaksanaan Kelas 3T di Desa Danaraja

Gambar 9. Pelaksanaan Kelas 3T di Desa Pasinggangan