Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Anemia merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat dunia yang mempengaruhi


negara maju dan negara berkembang. Anemia memiliki dampak yang besar terhadap
kesehatan masyarakat, begitu juga pada perkembangan sosial dan ekonomi. Anemia terjadi di
setiap tahap siklus hidup manusia, di mana satu dari empat orang di dunia menderita anemia.
Risiko tertinggi anemia terdapat pada anak-anak yang belum bersekolah (0-4,99tahun) dan
ibu hamil (World Health Organization, 2008). Menurut World Health Organization (2008),
seorang ibu hamil dinyatakan anemia bila kadar hemoglobin < 11,0 g/dl. Prevalensi anemia
saat kehamilan tahun 1993-2005 mencakup 41,8% populasi penderita anemia di dunia (95%
CI: 39,9-43,8%), yaitu sebanyak 56 juta jiwa penduduk dunia (95% CI: 54-59 juta). Di
Indonesia, proporsi populasi anemia saat kehamilan mencakup 44,3% (95% CI: 17,3-75,2%),
yaitu sebanyak 1.950.000 jiwa (95% CI: 761.000-3.308.000). Pada tahun 2002, anemia
defisiensi besi telah dipertimbangkan sebagai factor kontribusi beban penyakit dunia yang
paling penting (World Health Organization, 2008). Anemia defisiensi besi merupakan tipe
anemia paling umum pada kehamilan, terutama di Negara berkembang. Menurut Scholl
dkk.(1992), ibu dengan anemia defisiensi besi memiliki resiko tiga kali lebih besar untuk
melahiran BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah). Selain itu, Sakande dkk. (2004) menyatakan
bahwa keadaan defisiensi besi yang berat pada ibu telah menunjukkan dampak buruk pada
kadar besi bayi baru lahir, dan selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangannya (Emamghorashi dan Heidari, 2004).

1
B. RumusanMasalah

1. Apa yang dimaksud dengan anemia ?


2. Bagaimana upaya mengatasi anemia?

C. TujuanPenulisan

Tujuan penulisan ini, secara umum adalah mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
anemia pada wanita usia subur, selama kehamilan dan persalinan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ANEMIA

Anemia merupakan suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah


lebih rendah daripada nilai normal untuk kelompok orang menurut umur dan jenis
kelamin. Hemoglobin adalah zat warna di dalam darah yang berfungsi mengangkut
oksigen dan karbondioksida dalam tubuh. Anemia adalah suatu keadaan dengan
kadar hemoglobin darah yang lebih rendah daripada normal sebagai akibat
ketidakmampuan jaringan pembentuk sel darah merah dalam produksi guna
mempertahankan kadar hemoglobin pada tingkat normal sedangkan anemia gizi besi
adalah anemia yang timbul, karena kekurangan zat besi sehingga pembentukan sel-
sel darah merah dan fungsi lain dalam tubuh terganggu. Anemia terjadi ketika
jumlah sel darah merah atau hemoglobin dalam tubuh tidak adekuat sehingga tidak
dapat berfungsi dengan baik di dalam tubuh.

Anemia ditandai dengan rendahnya konsentrasi hemoglobin atau hematokrit


nilai ambang batas yang disebabkan oleh rendahnya produksi sel darah merah
(eritrosit) dan hemoglobin, meningkatnya kerusakan eritrosit, atau kehilangan darah
yang berlebihan. Defisiensi Fe berperan besar dalam kejadian anemia, namun
defisiensi zat gizi lainnya, kondisi nongizi, dan kelainan genetik juga memainkan
peranterhadap anemia. Defisiensi Fe diartikan sebagai keadaan biokimia Fe yang
abnormal disertai atau tanpa keberadaan anemia. Anemia defisiensi Fe terjadi pada
tahap anemia tingkat berat yang berakibat pada rendahnya kemampuan tubuh
memelihara suhu, bahkan dapat mengancam kematian.

B. ANEMIA PADA WANITA SUBUR


Pada wanita usia subur, dikatakan anemia apabila kadar hemaglobin dalam darah
kurang dari 12gr/dL
1. Penyebab anemia pada perempuan usia subur :
a. Darah menstruasi yang berlebihan (menorrhagia).
b. Kurangnya asupan zat besi dalam menu makanan sehari-hari.

3
c. Terlalu sering/banyak mengonsumsi teh, kopi, karena mengandung zat tanin
yang dapat menghambat penyerapan zat besi.
d. Tubuh tak mampu menyerap unsur gizi dari makanan, termasuk zat besi.
2. Gejala anemia pada perempuan usia subur:
Gejala anemia tergantung pada tingkat keparahannya. Bila anemia ringan,
gejala yang muncul kadang tak terdeteksi. Ada beberapa gejala yang muncul,
yaitu gampang lelah, tidak nafsu makan, sakit dada, pusing/sakit kepala, wajah
pucat, sesak napas, jantung berdebar, lidah membengkak/sakit, rambut
rontok/mudah patah, kesemutan kaki, kuku rapuh/mudah patah.
3. Penanganan dan Pencegahan anemia pada perempuan usia subur:
a. Mencari penyebab utama anemia agar penanganan tepat. Selain itu, untuk
menghindari kemunculan kembali anemia dan risiko komplikasi.
b. Pastikan pola makan bergizi seimbang dengan makanan yang bervariasi.
Konsumsi makanan kaya zat besi seperti bayam, brokoli, hati ayam/sapi,
daging sapi, ikan, kacang-kacangan (kacang merah, kacang hiijau), tahu,
tempe. Makanan mengandung vitamin C membantu penyerapan zat besi,
seperti jeruk, tomat, kiwi, brokoli atau paprika merah.
c. Komsumsi suplementasi penambah zat besi sesuai rekomendasi dokter. Yang
disarankan biasanya besi sulfat berupa tablet yang diminum 2-3 kali per hari.
d. Kurangi makanan atau asupan yang dapat menghambat penyerapan zat besi.
Makanan yang mengandung zat tanin seperti teh, coklat, jus apel dan kacang
tanah. Makanan yang mengandumg polifenol seperti coklat dan serealia,
kalsium dalam susu, zat seng dalam beras merah serta makanan atau inuman
yang merangsang produksi asam lambung. Makanan-makan tersebut
sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan.

C. ANEMIA PADA MASA KEHAMILAN


Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah karena perdarahan,
infeksi dan eklampsi, sedangkan penyebab tidak langsung diantaranya adalah karena
anemia. Anemia hamil disebut Potential Danger To Mother and Children (potensial
membahayakan ibu dan anak), karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari
semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada lini terdepan.

4
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin
dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II.
Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis
pengobatannya relatif mudah, bahkan murah. Anemia diindikasikan bila hemoglobin (
Hb) kurang dari 12 g/dl pada wanita yang tidak hamil atau kurang dari 10 g/dl pada
wanita hamil.
1. Penyebab Anemia
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan
perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin,
2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai
berikut:
a. Kurang gizi (malnutrisi)
b. Kurang zat besi dalam diit
c. Malabsorpsi
d. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
d. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain
2. Klasifikasi Anemia Dalam Kehamilan
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah
sebagai berikut:
a. Anemia Defisiensi Zat Besi
Anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah.
Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil
dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.Terapi
Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero
glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat
menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional
menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk
profilaksis anemia. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita
tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan,
penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua.
Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan
dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering
pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil
muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan

5
menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan
yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat
digolongkan sebagai berikut:
1) Hb 11 gr% : Tidak anemia
2) Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3) Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang
4) Hb < 7 gr% : Anemia berat
Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai
800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin
dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa
haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan
lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan
menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan
2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama
kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat
besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan
untuk wanita hamil.
b. Anemia Megaloblastik
Anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang
sekali karena kekurangan vitamin B12.
Pengobatannya:
a. Asam folik 15 – 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
d. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga
dapat diberikan transfusi darah.
c. Anemia Hipoplastik
Anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang,
membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan
pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap,
pemeriksaan fungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.
d. Anemia Hemolitik
Anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah
merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia

6
dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta
gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta
penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas
dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis
obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah
berulang dapat membantu penderita ini.
3. Gejala Anemia Pada Ibu Hamil:
a. Ibu mengeluh cepat lelah
b. Sering pusing
c. Mata berkunang-kunang
d. Malaise
e. Lidah luka
f. Nafsu makan turun (anoreksia)
g. Konsentrasi hilang
h. Nafas pendek (pada anemia parah)
i. Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.

D. ANEMIA PASCA PERSALINAN


Pada pasca persalinan, dikatakan anemia apabila akdar henaglobin dalam
darah 11gr/dL. Faktor yang mempengaruhi anemia adalah persalinan dengan
perdarahan, ibu hamil dengan anemia, nutrisi yang kurang, penyakit virus dan bakteri.
Anemia pasca persalinan merupakan lanjutan dari pada anemia yang diderita saat
kehamilan, yang menyebabkan banyak keluhan bagi ibu dan mengurangi presentasi
kerja, baik dalam pekerjaan rumah sehari-hari maupun dalam merawat bayi. Pengaruh
anemia pada masa pasca persalinan adalah terjadinya subvolusi uteri yang dapat
menimbulkan perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran
ASI berkurang dan mudah terjadi infeksi mamae. Praktik ASI tidak eksklusif
diperkirakan menjadi salah satu prediktor kejadian anemia setelah melahirkan
(Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2008). Pengeluaran ASI berkurang,
terjadinya dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan dan mudah terjadi
infeksi mamae. Di masa pasca persalinan/nifas anemia bisa menyebabkan rahim susah
berkontraksi, ini dikarenakan darah tidak cukup untuk memberikan oksigen ke rahim.

7
1. Penanganan anemia pasca persalinan:
a. Lakukan pemeriksaan Hb post partum, sebaiknya 3-4 hari setelah anak
lahir. Karena hemodialisis lengkap setelah perdarahan memerlukan
waktu 2-3 hari.
b. Tranfusi darah sangat diperlukan apabila banyak terjadi perdarahan
pada waktu persalinan sehingga menimbulkan penurunan kadar Hb < 5
gr (anemia pasca perdarahan).
c. Anjurkan ibu makan makanan yang mengandung banyak protein dan
zat besi seperti telur, ikan, dan sayuran.
2. Faktor yang mempengaruhi timbulnya anemia

Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurang memadahinya


asupan makanan yang mengandung sumber Fe, meningkatnya kebutuhan Fe
saat hamil dan menyusui (perubahan fisiologi), dan kehilangan banyak darah
setelah persalinan. Anemia yang disebabkan oleh ketiga faktor itu terjadi
secara cepat saat cadangan Fe tidak mencukupi peningkatan kebutuhan Fe.
Wanita usia subur (WUS) adalah salah satu kelompok resiko tinggi terpapar
anemia karena mereka tidak memiliki asupan atau cadangan Fe yang cukup
terhadap kebutuhan dan kehilangan Fe. Dari kelompok WUS tersebut yang
paling tinggi beresiko menderita anemia adalah wanita hamil, wanita pasca
persalinan, dan wanita yang banyak kehilangan darah saat menstruasi. Pada
wanita yang mengalami menopause dengan defisiensi Fe, yang menjadi
penyebabnya adalah perdarahan gastrointestinal (Departemen Gizi dan
Kesehatan Masyarakat, 2008). Penyebab tersering anemia adalah kekurangan
zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, terutama besi, vitamin B12
dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti
perdarahan, kelainan genetik, dan penyakit kronik.

3. Hubungan Anemia Dalam Kehamilan Dengan Kejadian Perdarahan Post


Partum

Salah satu penyebab perdarahan post partum adalah karena anemia


dalam kehamilan, akibat dari anemia tersebut maka jumlah oksigen yang
dipasok ke uterus berkurang akibatnya jumlah oksigen yang dipasok ke uterus

8
berkurang yaitu ketidakmampuan uterus untuk mengadakan kontraksi
sebagaimanamestinya.

Anemia dalam kehamilan dapat berpengaruh buruk terutama sat


kehamilan , persalinan, dan nifas, prevalensi anemia yang tinggi berakibat
negatif seperti: gangguan dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh
maupun sel otak, kekurangan hb dalam darah mengakibatkan
kurangnyaoksigen yang di transfer ke sel tubuh maupun otak,. Sehingga dapt
memberikan efek yang buruk baik pada ibu maupun bayi yang dilahirkan.

E. PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANEMIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88


TAHUN 2014 TENTANG STANDAR TABLET TAMBAH DARAH BAGI
WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL DENGAN RAHMAT TUHAN
YANGMAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a. bahwa wanita usia subur dan ibu hamil rentan terhadap kekurangan gizi besi dan
dapat menyebabkan perdarahan saat persalinan pada ibu hamil dan merupakan salah
satu penyebab tingginya angka kematian ibu di Indonesia;
b. bahwa untuk melindungi wanita usia subur dan ibu hamil dari kekurangan gizi dan
mencegah terjadinya anemia gizi besi maka perlu mengonsumsi tablet tambah darah;
c. bahwa agar tablet tambah darah sesuai dengan kebutuhan wanita usia subur dan ibu
hamil serta adanya keterpaduan nama dagang dan komposisi produk tablet tambah
darah yang beredar di masyarakat, perlu adanya standar tablet tambah darah bagi
wanita usia subur dan ibu hamil;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b,
dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Tablet
Tambah Darah Bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan kedua
9
Atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844); 2. Undang-Undang … -2-
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5063);
3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 227, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5360);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi
Dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 138,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3781);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1010/Menkes/Per/ XI/2008 tentang Registrasi
Obat sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1120/Menkes/Per/XII/2008;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan
Gizi yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2013 Nomor 1438);
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/ VIII/2010 tentang
Organisasi dan Tatalaksana Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 585) sebagaimana diubah terakhir dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2013 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2013 Nomor 741);
9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 108/Menkes/ SK/IV/2014 tentang
Pemberlakuan Farmakope Indonesia Edisi V;
10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 328/Menkes/SK/ VIII/2013 tentang
Formularium Nasional;
MEMUTUSKAN:

10
Menetapkan :
PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG STANDAR TABLET
TAMBAH DARAH BAGI WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL.
Pasal 1 Standar tablet tambah darah bagi wanita usia subur dan ibu hamil
sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 2 Standar tablet tambah darah bagi wanita usia subur dan ibu hamil
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 digunakan sebagai acuan bagi Pemerintah,
pemerintah daerah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan semua pihak yang
berkaitan dengan program pemberian tablet tambah darah bagi wanita usia subur dan
ibu hamil.
Pasal 3 Tablet tambah darah yang akan digunakan sebagai program pemberian tablet
tambah darah bagi wanita usia subur dan ibu hamil wajib memiliki izin edar sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 4 (1) Pembinaan terhadap standar tablet tambah darah bagi wanita usia subur
dan ibu hamil dilaksanakan oleh Menteri, kepala dinas kesehatan provinsi, dan kepala
dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing
secara terpadu. (2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
melalui : a. komunikasi, informasi, dan edukasi; b. pemberdayaan masyarakat; c.
monitoring, evaluasi, bimbingan teknis; dan d. supervisi. (3) Pengawasan terhadap
standar tablet tambah darah bagi wanita usia subur dan ibu hamil dilaksanakan oleh
Kepala Badan Badan yang melaksanakan tugas dan tanggung jawab di bidang
pengawasan obat dan makanan. Pasal … -4-
Pasal 5 (1) Pihak yang menyediakan tablet tambah darah bagi wanita usia subur dan
ibu hamil wajib mengacu dan menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Menteri ini
paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan. (2)
Apabila dalam jangka waktu 2 (dua) tahun produk tablet tambah darah bagi wanita
usia subur dan ibu hamil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masih beredar di
masyarakat, pihak yang menyediakan tablet tambah darah bagi wanita usia subur dan
ibu hamil wajib menarik produk tablet tambah darah bagi wanita usia subur dan ibu
hamil.

11
Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap
orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 11 November 2014 MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA.

F. UPAYA PENANGGULANGAN ANEMIA

Upaya-upaya dalam penanggulangan anemia gizi terutama pada wanita hamil


telah dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satu caranya adalah melalui suplementasi
tablet besi. Suplementasi tablet besi dianggap merupakan cara yang efektif karena
kandungan besinya padat dan dilengkapi dengan asam folat yang sekaligus dapat
mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan asam folat. Cara ini juga
efisien karena tablet besi harganya relatif murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat
kelas bawah serta mudah didapat (Depkes:1 996). Departemen Kesehatan telah
melaksanakan program penanggulangan Anemia Gizi Besi (AGB) dengan
membagikan tablet besi atau Tablet Tambah Darah (TTD) kepada ibu hamil sebanyak
1 tablet setiap hari berturut-turut selama 90 hari selama masa kehamilan (Depkes RI:1
995). Agar penyerapan besi dapat maksimal, dianjurkan minum tablet zat besi dengan
air minum yang sudah dimasak. Dengan minum tablet Fe, maka tanda-tanda kurang
darah akan menghilang, bila tidak menghilang, berarti yang bersangkutan bukan
menderita AGB, tetapi menderita Anemia jenis lain. (Depkes RI:1995) Meskipun
dibutuhkan gizi yang baik, suplemen besi menganggu saluran pencernaan pada
sebagian orang. Efek samping misalnya mual-mual, rasa panas pada perut, diare atau
sembelit. Untuk memulihkan efek samping yang tidak menyenangkan, dianjurkan
untuk mengurangi setiap dosis besi atau mengkonsumsi makanan bersama tablet besi.
Makanan yang kaya akan vitamin C memperbanyakserapan besi, (Brock:2007)

G. KASUS ANEMIA DI BENGKULU


Berdasarkan penelitian WHO diseluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar
500.000 jiwa pertahun dan kematian bayi khususnya neonatus sebesar 10.000 jiwa per
tahun. Kematian maternal dan bayi tersebut terjadi terutama di negara berkembang
sebesar 99 %. Kematian ibu di Indonesia masih berkisar 425/100.000 persalinan
hidup. Sedangkan kematian bayi sekitar 56/10.000 persalinan hidup. Salah satu
penyebab kematian pada ibu hamil adalah anemia dalam kehamilan (Manuaba, 2012).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2016, prevalensi anemia pada ibu
hamil di Indonesia sebesar 37,1 %. Pemberian tablet Fe di Indonesia pada tahun 2015
sebesar 85 %. Presentase ini mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2014
yang sebesar 83,3 %. Meskipun pemerintah sudah melakukan program
penanggulangan anemia pada ibu hamil yaitu dengan memberikan 90 tablet Fe kepada
ibu hamil selama periode kehamilan dengan tujuan menurunkan angka anemia ibu

12
hamil, tetapi kejadian anemia masih tinggi (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Kota Bengkulu Tahun 2012, angka kejadian ibu
hamil dengan anemia sebesar 170 orang dari jumlah 6.856 ibu hamil, tahun 2013
angka kejadian ibu hamil dengan anemia sebesar 168 orang dari jumlah 7.251 ibu
hamil, dan tahun 2014 angka kejadian ibu hamil dengan anemia sebesar 279 orang
dari jumlah 7.093 ibu hamil. Puskesmas Jalan Gedang merupakan Puskesmas yang
memiliki jumlah penderita anemia pada ibu hamil terbanyak dibandingkan Puskesmas
lainnya di wilayah Kota Bengkulu dengan jumlah penderita anemia ibu hamil setiap
tahunnya selalu meningkat, tahun 2014 sebesar 60 orang dari 429 orang ibu hamil
(Dinkes Kota Bengkulu, 2015). Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat
terbesar di dunia terutama bagi kelompok wanita usia reproduksi (WUS). Menurut
WHO secara global prevalensi anemia pada ibu hamil di seluruh dunia adalah sebesar
41,8 %. Salah satu penyebab anemia pada kehamilan yaitu paritas dan umur ibu.
Anemia pada wanita usia subur (WUS) dapat menimbulkan kelelahan, badan lemah,
penurunan kapasitas/kemampuan atau produktifitas kerja. Penyebab paling umum dari
anemia pada kehamilan adalah kekurangan zat besi, asam folat, dan perdarahan akut
dapat terjadi karena interaksi antara keduanya (Noverstiti, 2012). 2018. Jurnal
Keperawatan Silampari (JKS) 1 (2) 108-122 110 Anemia juga merupakan salah satu
masalah gizi utama di Indonesia. Resiko anemia gizi besi ini dapat menyebabkan
produktivitas kerja rendah, daya tahan tubuh terhadap penyakit menurun, kemampuan
belajar anak sekolah rendah, peningkatan bobot badan ibu hamil rendah dan kelahiran
bayi prematur. Jalan pintas untuk penentuan anemia menggunakan Hb sebagai
indikator telah disarankan oleh WHO dan anemia gizi ditetapkan sebagai masalah
kesehatan masyarakat Indonesia secara universal. Penyebab anemia tersering adalah
defisiensi zat-zat nutrisi. Seringkali defisiensinya bersifat multipel dengan manifestasi
yang disertai infeksi, gizi buruk atau kelainan herediter. Namun penyebab mendasar
anemia nutrisional meliputi asupan yang tidak cukup, absorbsi yang tidak adekuat,
bertambahnya zat gizi yang hilang dan kebutuhan yang berlebihan. Sekitar 95%
anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi gizi (Proverawati, 2011). Anemia
pada ibu hamil adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11 gr % pada
trimester 1 dan 3 atau kadar hemoglobin < 10,5 gr % pada trimester 2 (Soebroto,
2010). Dampak anemia pada janin antara lain abortus, terjadi kematian intrauterin,
prematuritas, berat badan lahir rendah, cacat bawaan dan mudah terkena infeksi. Pada
ibu, saat kehamilan dapat mengakibatkan abortus, persalinan prematuritas, ancaman

13
dekompensasi kordis dan ketuban pecah dini. Pada saat persalinan dapat
mengakibatkan gangguan his, retensio plasenta dan perdarahan post partum karena
atonia uteri (Styawati, 2013). Pada masa kehamilan zat gizi diperlukan untuk
pertumbuhan organ reproduksi ibu maupun untuk pertumbuhan janin. Kebutuhan zat
besi ibu selama kehamilan adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin
plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu, untuk itu ibu hamil
membutuhkan 2-3 mg zat besi tiap hari (Manuaba, 2010). Pola makan masyarakat
Indonesia pada umumnya mengandung sumber besi hewani yang rendah dan tinggi
sumber besi nabati yang merupakan penghambat penyerapan gizi (FKM UI, 2007).
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya anemia kehamilan diantaranya
gravida, umur, paritas, tingkat pendidikan, status ekonomi dan kepatuhan konsumsi
tablet Fe dan pola makan (Keisnawati, dkk, 2015). Hasil penelitian Ridayanti (2012),
menyebutkan bahwa ibu hamil dengan anemia juga disebabkan oleh faktor
primigravida. Ibu promigravida yang mengalami anemia kehamilan sebesar 44,6%
sedangkan ibu multigravida yang mengalami anemia kehamilan sebesar 12,8%. Hal
tersebut disebabkan ibu primigravida belum mempunyai pengalaman untuk menjaga
kesehatan kehamilan dari kehamilan sebelumnyakarena baru pertama kali hamil
(Farsi, 2011). Pola makan yang baik selama kehamilan dapat membantu tubuh
mengatasi permintaan khusus karena hamil, serta memiliki pengaruh positif pada
kesehatan bayi. Pola makan sehat pada ibu hamil adalah makanan yang dikonsumsi
oleh ibu hamil harus memiliki jumlah kalori dan zat-zat gizi yang sesuai dengan
kebutuhan seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, serat dan air
(Manuaba, 2012). Pola makan ini dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kebiasaan,
kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi dan alam. Sehingga faktor-faktor yang
mengalami pola makan ibu hamil tersebut berpengaruh pada status gizi ibu. 2018.
Jurnal Keperawatan Silampari (JKS) 1 (2) 108-122 111 Ibu hamil juga dianjurkan
untuk mengonsumsi beragam makanan yang diolah dari empat jenis pokok makanan,
yaitu: beras atau alternatif penggantinya, buah-buahan, sayur-mayur, dan daging atau
alternatif penggantinya. Makanan yang dikonsumsi setiap harinya haruslah terdiri dari
empat macam panganan ini. Hal ini disebabkan karena masing-masing golongan
makanan ini mengandung nutrisi yang berbeda-beda, contohnya: daging serta
alternatif penggantinya mengandung protein, namun tidak mengandung vitamin C
yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Dengan jeli memilih variasi makanan yang
dibutuhkan maka kita dapat memastikan jika makanan yang kita konsumsi

14
mengandung nutrisi yang seimbang (Keisnawati, dkk, 2015). Jika pola makan
seimbang ini tidak terpenuhi, maka cenderung mengakibatkan anemia saat
kehamilannya. Anemia kehamilan disebut potential danger to mother and child
(potensial membahayakan ibu dan anak). Dampak dari anemia pada kehamilan dapat
terjadi abortus, persalinan pre¬maturitas, hambatan tumbuh kembang janin dalam
rahim, mudah terjadi infeksi, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD), saat
persalinan dapat mengakibatkan gangguan His, kala pertama dapat berlangsung lama,
dan terjadi partus terlantar, dan pada kala nifas terjadi subinvolusi uteri menimbulkan
perdarahan pospartum, memudahkan infeksi puerperium, dan pengeluarkan AS1
berkurang (Aryanti dkk, 2013). Menurut data Puskesmas Jalan Gedang kejadian
anemia pada ibu hamil tahun 2017 berjumlah 64 orang dari 302 orang ibu hamil TM I,
II dan TM III. Berdasarkan survey awal di wilayah kerja Puskesmas Jalan Gedang
Kota Bengkulu tanggal 15 februari Tahun 2017 terhadap ibu hamil yang berkunjung
ke Puskesmas Jalan Gedang sebanyak 5 orang, 2 orang dikatakan petugas kesehatan
Hb<11gr/dl. Setelah penulis konfirmasi 5 orang ibu hamil mengatakan pola makannya
tidak teratur dan menu makanan yang disajikan pun seadanya, hal ini karena keadaan
ekonomi yang kurang memadai sedangkan harga keperluan semua mahal dan tablet
Fe pun dikonsumsi tidak teratur karena membuat ibu mual sehingga kebutuhan zat
besi tidak tercukupi. Dan ibu hamil memeriksakan kehamilanya hanya karena ada
keluhan saja seperti pusing, mual, bukan berdasarkan jadwal ANC.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Anemia ditandai dengan rendahnya konsentrasi hemoglobin atau


hematokrit nilai ambang batas yang disebabkan oleh rendahnya produksi sel darah
merah (eritrosit) dan hemoglobin, meningkatnya kerusakan eritrosit, atau kehilangan
darah yang berlebihan. Defisiensi Fe berperan besar dalam kejadian anemia, namun
defisiensi zat gizi lainnya, kondisi nongizi, dan kelainan genetik juga memainkan
peranterhadap anemia. Defisiensi Fe diartikan sebagai keadaan biokimia Fe yang
abnormal disertai atau tanpa keberadaan anemia. Anemia defisiensi Fe terjadi pada
tahap anemia tingkat berat yang berakibat pada rendahnya kemampuan tubuh
memelihara suhu, bahkan dapat mengancam kematian.

16
Daftar Pustaka

Andry, H. 2008. Anemia Gizi Pada Wanita Usia subur. Jakarta: Buku Kedokteran. EGC
Loowdermilk, dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta:EGC
Morgan Geri, dkk. 2009. Obstetri dan Ginekologi Panduan Praktik. Jakarta:EGC
Antaranews.com
Depkes RI. Survey Demografi Kesehatan Indonesia. Depkes,Jakarta. 2002.
Departemen Kesehatan RI, Menuju Sehat 2010. Jakarta, 2005.
Keputusan Menkes RI Nomor 574/Menkes/SK/IV/2000
Diana. Anemia Pada Ibu Hamil. EGC. Jakarta. 2007
Indonesia. S. Karger Medical and Scientific Publisher.London 2009
Sulistyoningsih, Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. GrahaIlmu. Yogyakarta. 201
83-Article Text-771-1-10-20180310.pdf

17