Anda di halaman 1dari 38

P.

EKONOMI PEMBANGUNAN
KELOMPOK 1

DI SUSUN OLEH :
1. EMA RAHMA WATI
2. MELANI CITRA DEWI
3. SITI MAESAROH
4. SITI ALAWIYAH

2018/2019
STIE IPWIJA
Rumusan Masalah

1. Apa penyebab pertumbuhan ekonomi nasional dan pertumbuhan


ekonomi internasional ?

2. Mengapa terjadi banyak bangsa yang semakin kaya sedangkan banyak


bangsa lainnya yang tetap dalam keadaan miskin?
 Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi :
Ekonomi dan Nonekonomi
Proses pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua macam faktor, faktor
ekonomi dan nonekonomi. Pertumbuhan ekonomi suatu negara tergantung pada
sumber alamnya, sumber daya manusia modal, usaha, teknologi, dan
sebagainya. Semua itu merupakan faktor ekonomi. Tetapi pertumbuhan
ekonomi tidak mungkin terjadi selama lembaga sosial, kondisi politik, dan nilai-
nilai moral dalam suatu bangsa tidak menunjang. Di dalam pertumbuhan
ekonomi, lembaga sosial, sikap budaya, nilai moral, kondisi politik dan
kelembagaan merupakan faktor nonekonomi. Dalam suatu studinya, Professor
Bauer menunjukkan bahwapenentuan utama pertumbuhan ekonomi "adalah
bakat, kemampuan, kualitas, kapasitas dan kecakapan, sikap, adat-istiadat, nilai,
tujuan, dan motivasi serta struktur politik dan kelembagaan."

Faktor-faktor pertumbuhan Ekonomi


a. Faktor Ekonomi :
1. Sumber Alam
2. Akumulasi Modal
3. Organisasi
4. Kemajuan Teknologi
5. Pembagian kerja dan skala produksi
b. Faktor Non Ekonomi :
1. Faktor Sosial
2. Faktor Ekonomi
3. Faktor Politik dan teknologi

Faktor Ekonomi

Para ahli ekonomi menganggap faktor produksi sebagai kekuatan utama


yang mempengaruh pertumbuhan. Laju pertumbuhan ekonomi jatuh atau
bangunnya merupakan konsekuensi dari perubahan yang terjadi di dalam faktor
produksi tersebut. Beberapa faktor ekonomi tersebut akan dibahas di bawah ini.

1. Sumber Alam
Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan suatu perekonomian adalah
sumber alam atau tanah. "Tanah" sebagaimana dipergunakan dalam ilmu
ekonomi mencakup sumber alam seperti kesuburan tanah, letak dan
susunannya, kekayaan hutan, mineral, iklim, sumber air, sumber lautan, dan
sebagainya. Dalam dan bagi pertumbuhan ekonomi, tersedianya sumber alam
secara melimpah merupakan hal yang penting. Suatu negara yang kekurangan
sumber alam tidak akan dapat membangun dengan cepat. Sebagaimana
dinyatakan oleh Lewis, "Dengan hal-hal lain yang sama, orang dapat
mempergunakan dengan lebih baik kekayaan alamnya dibandingkan apabila
mereka tidak memilikinya.
Di Negara kurang berkembang, sumber alam sering terbengkalai, kurang
atau salah pemanfaatan. Inilah salah satu penyebab keterbelakangan itu.
Tersedianya sumber alam secara melimpah saja belumlah cukup bagi
pertumbuhan ekonomi. Apa yang yang diperlukan ialah pemanfaatannya secara
tepat. Jika sumber alam yang ada tidak dipergunakan secara tepat, negara itu
tidak mungkin mengalami kemajuan. J.I. Fisher dengan tepat mengatakan,
"tidak cukup beralasan untuk mengharapkan pengembangan sumber alam jika
orang acuh tak acuh pada produk dan jasa yang dapat disumbangkan oleh
sumber-sumber tersebut." Hal ini disebabkan karena keterbelakangan ekonomi
dan langkanya faktor teknologi. Oleh karena itu, sumber alam dapat
dikembangkan melalui perbaikan teknologi dan peningkatan ilmu pengetahuan.
Di dalam kenyataan, sebagaiman dikemukakan Professor Lewis, "Nilai suatu
sumber alam tergantung pada kegunaannya, dan kegunaannya senantiasa
berubah sepanjang waktu karena perubahan dalam selera, perubahan dalam
teknik atau penemuan baru. "Pada saat perubahan seperti itu terjadi setiap
bangsa dapat mengembangkan dirinya sendiri secara ekonomis melalui
pemanfaatan sepenuhnya sumber alam mereka. Inggris misalnya, mengalami
revolusi pertanian dengan menerapkan metode rotasi tanaman antara 1740-
1760. Begitu juga Perancis, mampu merevolusikan pertaniannya berdasarkan
pola Inggris kendati tanahnya kurang subur. Pada pihak lain, negara di Asia dan
Afrika belum mampu mengembangkan pertaniannya karena mereka
menggunakan metode produksi yang kuno.
Seringkali dikatakan bahwa pembangunan ekonomi dapat terjadi meskipun
negara bersangkutan kekurangan sumber alam. Sebagaimana dikemukakan
Lewis, "Suatu negara yang dianggap miskin sumber alam saat ini mungkin
dapat dianggap sangat kaya di kemudian hari, tidak saja lantaran
diketemukannya sumber-sumber yang tersembunyi, tetapi juga karena
penggunaan sumber yang telah diketahui dengan cara baru." Jepang adalah
negara seperti itu. Jepang yang kekurangan dalam sumber alam tetapi karena ia
berhasil menemukan penggunaan baru sumber-sumbernya yang terbatas, maka
jadilah ia salah satu negara termaju di dunia. Dengan mengimpor bahan mentah
dan bahan tambang tertentu dari negara lain, Jepang berhasil mengatasi
kekurangan sumber alamnya melalui teknologi tinggi, penelitian baru, dan ilmu
pengetahuan tinggi. Begitu pula Inggris, berkembang kendati tanpa minyak
bumi dan logam non belerang.
Sarana pengangkutan dan perhubungan memiliki peranan penting dalam
pertumbuhan ekonomi. Perkembangan sarana itu menurunkan biaya angkut, dan
menaikkan perdagangan dalam dan luar negeri negara. Hasilnya, perekonomian
maju. Di negara yang memiliki jalan raya, jalan kereta api, terusan atau sungai-
sungai, pertumbuhan ekonominya akan terdorong maju, seperti yang terjadi di
Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda.
Jadi dalam pertumbuhan ekonomi, kekayaan alam yang melimpah saja belum
cukup. Yang terpenting ialah pemanfaatannya secara tepat dengan teknologi
yang baik sehingga efisiensi dipertinggi dan sumber dapat dipergunakan dalam
jangka waktu lebih lama.

2. Akumulasi Modal
Faktor ekonomi penting kedua dalam pertumbuhan ialah akumulasi modal.
Modal berarti persediaan faktor produksi yang secara fisik dapat direproduksi.
Apabila stok modal naik dalam batas waktu tertentu, hal ini di sebut akumulasi
modal atau pembentukan modal. Dalam ungkapan Professor Nurkse, "Makna
pembentukan midal ialah, masyarakat tidak melakukan keseluruhan kegiatannya
saat ini sekedar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumsi yang
mendesak, tetapi mengarahkan sebagian daripadanya untuk pembuatan barang
modal, alat-alat dan perlengkapan, mesin dan fasilitas pengangkutan, pabrik,
dan peralatannya." Dalam arti ini pembentukan modal merupakan investasi
dalam bentuk barang-barang modal yang dapat menaikkan stok modal, output
nasionaldan pendapatan nasional. Jadi, pembentukan modal merupakan kunci
utama menuju pembangunan ekonomi.
Proses pembentukan modal bersifat kumulatif dan membiayai diri sendiri
serta mencakup tiga tahao yang saling berkaitan: (a) keberadaan tabungan nyata
dan kenaikannya; (b) keberadaan lembaga keuangan dan kredit untuk
menggalakkan tabungan dan menyalurkannya ke jalur yang dikehendaki; (c)
mempergunakan tabungan untuk investasi barang modal.
Pembentukan modal merupakan kunci utama pertumbuhan ekonomi. Di satu
pihak ia mencerminkan permintaan efektif, dan di pihak lain ia menciptakan
efisiensi produkstif bagi produksi di masa depan. Pembentukan modal
mempunyai arti penting khusus bagi negara kurang berkembang (LDC). Proses
pembentukan modal menghasilkan kenaikan output nasional dalam berbagai
cara. Pembentukan modal diperlukan untuk memenuhi permintaan penduduk
yang meningkat di negara itu. Investasi di bidang barang modal tidak hanya
meningkatkan produksi tetapi juga kesempatan kerja. Pembentukan modal ini
pula yang membawa ke arah kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi pada
gilirannya membawa ke arah spesialisasi dan penghematan dalam produksi
skala luas. Pembentukan modal membantu usaha penyediaan mesin, alat dan
perlengkapan bagi tenaga buruh yang semakin meningkat.
Penyediaan overheadsosial dan ekonomi seperti pengangkutan, sumber tenaga,
pendidikan dan sebagainya di negara bersangkutan dimungkinkan melalui
pembentukan modal ini juga. Pembentukan modal ini pula yang membawa ke
arah penggalian sumber akam, industrialisasi dan ekspansi pasar yang
diperlukan bagi kemajuan ekonomi. Menurut Lewis, laju pembentukan modal di
LDC adalah sebesar 5 persen atau kurang, yang harus dinaikkan menjadi 12
sampai 15 persen. Perkiraan Kuznets mengungkapkan, selama pertumbuhan
ekonomi modern pembentukan modal bruto di negara maju berkisar di sekitar
11-13 sampai 20 persen atau lebih, sedang pembentukan modal netto adalah
dari 6 sampai 12-14 persen.
Menurut Kuznets, rasio modal output marginal (ICOR = Incremental
capital-output ratio; incremental = marginal) juga memainkan peranan penting
dalam petumbuhan ekonomi modern. ICOR tersebut menggambarkan
produktivitas modal. Perkiraan Kuznets mengungkapkan bahwa sebelum PD I
dan antara 1890-1950, ICOR tersebut naik di sembilan negara maju, kecuali
Italia. Di Jepang ratio bruto demikian meningkat dari 2,9 menjadi 4,3 di Swedia
dari 4,1 ke 5,5 dan di AS dari 5,1 ke 6,5.
Di pihak lain, ICOR di LDC begitu rendah lantaran kurangnya modal dan
rendahnya kapasitas produksi. Di negara seperti itu, rasio modal-output harus
ditingkatkan. Tetapi di negara terbelakang padat-penduduk, kenaikan output per
kapita berkaitan dengan kenaikan dalam rasio modal-buruh. Negara yang
hendak meningkatkan rasio modal-buruhnya harus menghadapi dua
problema. Pertama,rasio modal- buruh jatuh karena jumlah penduduk naik.
Oleh karena itu, untuk mengatasi penurunan rasio modal buruh, diperlukan
jumlah investasi netto yang lebih besar - yang di negara terbelakang hal ini
tidaklah mungkin. Kedua, apabila penduduk meningkat dengan kecepatan
tinggi, tabungan yang memadai bagi jumlah yang diperlukan untuk investasi
sulit dicapai karena rendahnya pendapatan per kapita di negara-negara seperti
itu. Walaupun demikian, laju pembentukan modal tersebut dapat dipercepat
dengan mendorong tabungan.

3. Organisasi
Organisasi merupakan bagian penting dari proses pertumbuhan. Organisasi
berkaitan dengan penggunaan faktor produksi di dalam kegiatan ekonomi.
Organisasi bersifat melengkapi (komplemen) modal, buruh dan membantu
meningkatkan produktivitasnya. Dalam pertumbuhan ekonomi modern, para
wirastawan tampil sebagai organisator dan pengambil risiko diantara
ketidakpastian, Wirastawan bukanlah manusia dengan kemampuan biasa. Ia
memiliki kemampuan khusus untuk bekerja dibandingkan orang lain. Menurut
Schumpeter, seorang wirastawan tidak perlu seorang kapitalis. Fungsi utamanya
ialah melakukan pembaharuan (inovasi). Revolusi industri di Inggris merupakan
jasa para wirastawan ini, begitu juga pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat
pada abad ke-19 dan pertengahan abad ke-20 merupakan jasa penyempurnaan
kualitas manajemen.
Tetapi negara terbelakang langka akan tindakan wiraswasta. Faktor seperti
kecilnya pasar, kurang modal, ketiadaan milik swasta dan perjanjian, kurang
buruh terlatih dan terdidik, tidak tersedianya secara cukup bahan mentah dan
fasilitas infrastruktur seperti pengangkutan, tenaga, dan sebagainya,
mempertinggi risiko dan ketidakpastian. Itulah sebabnya negara seperti itu
kekurangan wiraswastawan. Menurut Myrdal, negara-negara Asia kekurangan
wiraswastawan bukan karena mereka kekurangan modal atau bahan mentah
tetapi karena mereka kekurangan orang yang memiliki pandangan benar
terhadap kewiraswastawan. Orang Jepang memiliki pandangan seperti itu.
Tidak heran mengapa Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dan
termasuk ke dalam kelompok negara maju.
Di negara maju, karya organisasi telah dipertontonkan oleh perusahaan
swasta yang menjelma menjadi perusahaan multinasional sesudah PD II, dan
membantu kemajuan ekonomi negara maju maupun negara sedang berkembang.
Pada pihak lain, setiap negara memainkan peranannya sebagai seorang
organisator dalam berbagai bentuk, semenjak Depresi Berat pada 1928-29.
Sebelum PD II peranan itu berbentuk modal overhead sosial, dan sesudah
perang melebar ke dalam bentuk perusahaan umum.
Para birokrat pemerintahan di Eropa, Inggris, dan AS misalnya, berangkat
dengan program kesejahteraan umum seperti kesehatan masyarakat, jalan raya,
jembatan, taman, pendidikan, pengendalian banjir, perlindungan dari kebakaran,
dan sebagainya. Sebagian dari pemerintahan tersebut mengambil alih
pengelolaan kereta api, pos dan telekomunikasi, tenaga dan gas, dan sebagainya.
Inggris menasionalisasi batubara, besi, dan angkutan darat sedang Perancis
menasionalisasi angkutan udara, batubara dan pabrik pembuatan kendaraan
bermotor Renault dan bus.
Di negara sedang berkembang, overhead sosial dan ekonomi kebanyakan
dijalankan oleh pemerintah pusat, negara bagian, atau daerah. Dan perusahaan
umum (negara) diperluas mencakup bidang pertambangan, perkebunan,
perdagangan, penyaluran bahan mentah dan kebutuhan pokok, produksi barang
modal dan barang konsumen, dan sebagainya.
Peranan bank seringkali dikecualikan dari organisasi. Bank sebenarnya
merupakan lembaga teramat penting yang banyak memberikan sumbangan
kepada pertumbuhan ekonomi negara maju. Bank membantu industrialisasi
negara Inggris, Eropa, dan AS dalam memberikan bantuan keuangan kepada
para wiraswastawan pada waktunya. Tidak saja memberikan bantuan keuangan
kepada perusahaan perorangan tetapi juga memberikan saran mengenai masalah
penanaman modal, menolong merekrut tenaga terlatih dan manajer dari negara
lain, mengimpor bahan mentah kualitas tinggi untuk mereka, dan bahkan
menjualkan produk manufaktur mereka pada tahap-tahap awal. Di Amerika,
Eropa, dan Inggris, serta daerah jajahannya, bank juga membantu dalam
pengembangan sarana angkutan, pertambangan, dan pengusaha manufaktur.
Di negara terbelakang, pengembangan pertanian dibantu dengan berbagai
cara oleh bank dagang, bank yang sudah dinasionalisasi, bank industri dan trust
investasi, termasuk pula yang disokong adalah, industri dan pengangkutan.
Sejak 1950, Bank Dunia dan perwakilannya telah membantu mendorong
pengembangan berbagai sektor ekonomi di negara terbelakang dengan
menyediakan tenaga terlatih, nasihat, dan bantuan keuangan.
Jadi disamping perusahaan swasta, pengertian organisasi mencakup
pemerintah, bank dan lembaga-lembaga internasional yang ikut terlibat di dalam
memajukan ekonomi negara maju dan negara sedang berkembang.

4. Kemajuan Teknologi
Perubahan teknologi dianggap sebagai faktor paling penting di dalam proses
pertumbuhan ekonomi. Perubahan itu berkaitan dengan perubahan di dalam
metode produksi yang merupakan hasil pembaharuan atau hasil dari teknik
penelitian baru. Perubahan pada teknologi telah menaikkan produktivitas buruh,
modal dan faktor produksi yang lain.
Kuznets mencatat lima pola penting pertumbuhan teknologi di dalam
pertumbuhan ekonomi modern. Kelima pola tersebut ialah penemuan ilmiah
atau penyempurnaan pengetahuan teknik; invensi; inovasi' penyempurnaan, dan
penyebarluasan penemuan yang biasanya diikuti dengan penyempurnaan.
Seperti Schumpeter, ia menganggap inovasi (pembaharuan) sebagai faktor
teknologi yang paling penting dalam pertumbuhan ekonomi. Menurut Kuznets,
inovasi terdiri dari dua macam: pertama, penurunan biaya yang tidak
menghasilkan perubahan apa pun pada kualitas produk; kedua, pembaharuan
yang menciptakan produk baru dan menciptakan permintaan baru akan produk
tersebut. Yang kedua ini merupakan yang menciptakan permintaan.
Di dalam pertumbuhan ekonomi modern, kelima faktor yang disebut
Kuznets, berjasa dalam membantu perkembangan teknologi. Revolusi industri
Inggris meluas ke seluruh Eropa lewat para pengrajin dan pekerja yang
berimigrasi ke negara-negara Eropa. Beberapa orang bisnis Perancis
mengunjungi pabrik-pabrik Inggris dan menyelundupkan mesin-mesin ke
Perancis kendati ada larangan terhadap ekspor mesin tersebut sesuai dengan
perundangan 1828. Pada waktu revolusi industri di Perancis hampir selesai, para
bankir dan insinyur berkolaborasi dan menyebarkan teknik-teknik modern ke
Jerman, Italia, Swiss, Austria, dan Spanyol. Di pihak lain, industri tekstil Jepang
pada awalnya bergerak dari mesin-mesin Inggris yang dibuang. Belakangan
ternyata kalau pertumbuhan industrinya terjadi lewat cara meniru teknologi
asing. Tetapi setelah PD II, Jepang melakukan inovasi sendiri dan menghasilkan
produk berkualitas tinggi di semua bidang dan mengekspornya ke AS,
Australia, Kanada, dan negara maju lain.
Negara sedang berkembang bisa memetik manfaat dari sumber-sumber ilmu
pengetahuan di bidang teknologi dari negara maju. Beberapa negara seperti
India, Argentina, Meksiko, dan Brasilia, memodifikasi dan menerapkan
teknologi negara maju sesuai dengan daya serap dan kebutuhan sosial, ekonomi,
dan teknik mereka masing-masing.

5. Pembagian Kerja dan Skala Produksi


Spesialisasi dan pembagian kerja menimbulkan peningkatan produktivitas.
Keduanya membawa ke arah ekonomi produksi skala besar yang selanjutnya
membantu perkembangan industri. Hal ini menurunkan laju pertumbuhan
ekonomi. Adam Smith menekankan arti penting pembagian kerja bagi
perkembangan ekonomi. Pembagian kerja menghasilkan perbaikan kemampuan
produksi buruh. Setiap buruh menjadi lebih efisien daripada sebelumnya. Ia
menghemat waktu. Ia mampu menemukan mesin baru dan berbagai proses baru
dalam produksi. Akhirnya, produksi meningkatkan berbagai hal, Akan tetapi,
pembagian kerja tergantung pada luas pasar. Luas pasar, sebaliknya tergantung
pada kemajuan ekonomi, yaitu seberapa jauh perkembangan permintaan, tingkat
produksi pada umumnya, saran transportasi, dan sebagainya. Jika skal produksi
luas, spesialisasi dan pembagian kerja akan meluas pula. Alhasil, jika produksi
naik, laju pertumbuhan ekonomi akan melesat. Ekonomi eksternal keuangan
semakin banyak tersedia dan manfaat dari investasi minmal berkembang biak.
Yang dimaksud dengan investasi minimal adalah sumber tenaga, angkutan, dan
sebagainya, yang penggunaannya membawa ke arah kemajuan industri. Dengan
cara ini produksi meningkat dan pertumbuhan ekonomi kian melaju.
Salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi modern ialah
peningkatan luar biasa pada bidang sarana angkutan dan perhubungan.
Kemajuan teknologi telah menciptakan jalan raya, kapal, mobil, truk, dan akhir-
akhir ini pesawat jet dan supertanker, disamping adanya investasi penghemat
biaya seperti terusan Suez dan Panamam atau perkembangan pers, radio,
telepon, dan komunikasi telegraf. Beberapa negara maju yang memiliki wilayah
geografi luas seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Australia terbukti dapat
memperluas pasar internal dan eksternalnya berkat perkembangan cepat bidang
sarana angkutan dan perhubungan.
Negara terbelakang diketahui tidak mampu memetik manfaat dari pembagian
kerja dan produksi skala luas dalam perekonomian ini lantaran pasar yang tidak
sempurna. Inilah dia yang menjadi sebab lestarinya pasar mereka tetap kecil.

Faktor Non Ekonomi


Faktor nonekonomi bersama-sama faktor ekonomi saling mempengaruhi
kemajuan perekonomian. Dalam kenyataan, faktor nonekonomi pada umumnya,
seperti organisasi sosial, budaya, dan politik, mempengaruhi faktor ekonomi
yang dibicarakan di atas. Oleh karena itu, faktor nonekonomi juga memiliki arti
penting di dalam pertumbuhan ekonomi. Menurut Nurkse, "Pembangunan
ekonomi berkaitan dengan peranan manusia, pandangan masyarakat, kondisi
politik, dan latar belakang historis." Di dalam pertumbuhan ekonomi, faktor
sosial, budaya, politik, dan psikologis adalah sama pentingnya dengan faktor
ekonomi. Sebagaimana dikemukakan Prof. Kaldor, pengkajian terhadap
dinamika pertumbuhan ekonomi, di luar analisa faktor ekonomi, membawa kita
kepada pengkajian terhadap unsur-unsur penentu yang bersifat pskologis dan
sosiologis dalam faktor-faktor ini. Jadi, perubahan terjadi pada faktor
nonekonomi yang pokok di bawah ini.
1. Faktor Sosial
Faktor sosial dan budaya juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Pendidikan dan kebudayaan Barat membawa ke arah penalaran (reasoning) dan
skeptisisme. Ia menanamkan semangat kembara yang menghasilkan berbagai
penemuan baru dan akhirnya memunculkan kelas pedagang baru. Kekuatan
faktor ini menghasilkan perubahan pandangan, harapan, struktur dan nilai-nilai
sosial. Orang dibiasakan menabung dan berinvestasi, dan menikmati risiko
untuk memperoleh laba. Mereka mengembangkan apa yang oleh Lewis disebut,
"hasrat untuk berhemat," dalam rangka memaksimukan output berdasarkan
input tertentu.

2. Faktor Manusia
Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan
ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata tergantung pada jumlah
sumberdaya manusia saja, tetapi lebih menekan pada efisiensi mereka. Menurut
Kuznets, penduduk Eropa meningkat 433 persen antara 1750-1950 sedang
penduduk dunia selebihnya meningkat 200 persen dalam periode itu. Walau
penduduk meningkat 5 kali lipat, GNP per kapita negara-negara Eropa dan
negara kaya baru itu naik sebanyak sepuluh kali lipat.

3. Faktor Politik dan Adminsitratif'


Faktor politik dan administratif juga membantu pertumbuhan ekonomi
modern. Pertumbuhan ekonomi Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan
Perancis, merupakan hasil dari stabilitas politik dan administratif mereka yang
kokoh sejak abad ke-19. Kecuali Amerika Serikat, negara tersebut terlibat
langsung di dalam perang dunia dan hancur berantakan. Namun demikian
mereka tetap berderap maju berdasarkan kekuatan politik dan tradisi
administrasi mereka.

Faktor penyebab kerjasama ekonomi


internasional

Faktor faktor yang mempengaruhi perdagangan internasional hampir mirip


dengan faktor yang mempengaruhi terjadinya kerjasama internasional.
Kerjasama ekonomi internasional dipengaruhi oleh berbagai faktor berikut :
1. Sumber daya alam yang berbeda
2. Aktor produksi yang berbeda
3. Perbedaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai
4. Melakukan penghematan biaya produksi
5. Keadaan ekonomi yang berbeda beda
6. Iklim yang berbeda
7. Ideologi yaang berbada
8. Globalisasi ekonomi
9. Adanya keinginan melakukan kerja sama dengan negara lain

Manfaat Kerja Sama Ekonomi Internasional

Salah satu negara yang termasuk negara berkembang adalah negara Indonesia.
Bantuan dari negara lain pasti diperlukaan negara ini saat menjalankan
perekonomian di negaranya. Demi terciptanya nagara yang sejahtera hubungan
kerjasama dalam bidang ekonomi sangat dbutuhkan. Kerjasama ekonomi
internasional yang dilakukan indonesia memiliki manfaat manfaat yang sangat
terasa bagi masyarakatnya maupun bagi negara Indonesia itu sendiri.
manfaatnya antara lain, sebagai berikut:

a) Menurunnya angka pengangguran, kemiskinan dan terbukanya lapangan


pekerjaan

b) Menimba ilmu pengetahuandan teknologi negara maju adalah salah satu


kesempatan yang dimiliki indonesia

c) Devisa akan meningkat jika ekspor tinggi, dengan begitu kemajuan dalam
bidang perekonomian indonesia dapat dilihat dari ekspor dan impor
barang dan jasanya.

d) Posisi indonesia semakin kuat dalam dunia internasional dan daya


tawarpun semakin kuat

e) Akibat tuntutan kegiiatan ekspor ke luar negeri menyebabkan kreativitas ,


keterampilan, dan kecerdasan tenaga pekerja meningkat.

f) Modal asing yang masuk ke negara indonesia berdampak pada


berkembangnya kegiatan ekonomi di negara ini
g) Negara dapat mempertimbangkan untuk mengekspor barang barang
tertentu yang jika diproduksi akan lebih mahal

h) Harga pokok per unit produksi dapat ditekan baik dari dalam maupun dari
luar negeri dengan tingginya permintaan akan barang dan jasa

i) Negara dapat dengan mudah mendapatkan bahan penolong atau bahan


baku yang diperlukan dalam setiap proses produksi
 Persoalan ketimpangan antara negara-negara maju dan negara-
negara dunia ketiga, banyak menjadi sorotan para ekonom dan
studi-studi politik, terutama ekonomi-politik. Beberapa nama yang
ditahbiskan sebagai peraih nobel bidang ekonomi seperti Joseph
Stiglitz dan Amartya Sen, juga menuliskan karya-karya yang
mencoba untuk membongkar selubung ketimpangan yang terjadi
selama ini di antara dua kelompok negara tersebut. Ketimpangan
yang terbentuk demikian jauh, sehingga sejumlah program yang
disusun di tingkat lembaga dunia seperti United Nations (UN)
ditujukan untuk menebas jarak ketimpangan yang demikian lebar.
Program-program seperti Millennium Development Goals, Make
Poverty History, dan lainnya, merupakan hasrat untuk membangun
tata dunia yang lebih baik, artinya adanya keseimbangan ekonomi
dan kekayaan, bukannya ketimpangan yang jomplang, sebagaimana
terjadi saat ini.

Untuk melihat soal ketimpangan tersebut, tulisan ini akan membahas


buku Erik S. Reinert yakni How Rich Countries Got Rich… and Why Poor
Countries Still Poor, yang terbit pertama kali pada tahun 2007, dan
memenangkan Myrdal Prize tahun 2008. Dalam bukunya ini Reinert melakukan
suatu kajian menarik yakni dengan menelusuri dokumen-dokumen sejarah
perdebatan ekonomi dan kebijakan, terutama di AS dan Eropa dalam
menggagas dan merumuskan kebijakan ekonomi-politik yang sesungguhnya
bertentangan dengan teori dan doktrin ekonomi pemikiran Adam Smith, yang
saat ini seakan-akan dianggap sebagai kitab suci yang digenggam negara-negara
maju dalam membangun perekonomian mereka hingga dapat berkembang pesat
sampai seperti sekarang ini.

Ketimpangan Ekonomi Dunia: Negara Kaya dan Miskin

Ada dua kajian kontemporer yang penting dalam melihat pembentukan


ketimpangan di dunia, dan tawaran teoritik yang diajukan untuk menebas
ketimpangan tersebut. Kajian pertama adalah kajian Amartya Sen, dalam
karyanya Development As Freedom. Dalam karyanya tersebut, Sen setuju pada
pentingnya pasar terutama terhadap segala pertimbangan mengenai hasil-hasil
tertinggi yang dicapainya, tidak dapat dipandang sebagai pernyataan tidak
langsung bahwa pasar tidak diperlukan sebagai subyek kajian kritis atau
intervensi terhadapnya tidak dapat dibenarkan. Kemungkinan bagi munculnya
titik puncak kemiskinan sebagai akibat dari monopoli, persoalan informasi atau
timpangnya akses terhadap sumberdaya harus disusun untuk menentang kasus
paling pokok (prima facie) mengenai pasar dalam menentukan apakah pantas
untuk diintervensi atau tidak. Secara keseluruhan Sen menampilkan dirinya
sebagai pembela proyek pasar kompetitif dan lebih menyukai untuk
mengutarakan persoalan dan isu-isu ketimpangan dengan menekankan pada
sistem jaminan sosial (social security system) dibandingkan dengan intervensi
langsung. Singkatnya, Sen mendukung kombinasi dari penggunaan pasar secara
luas, sekaligus pembangunan dan pengembangan kesempatan sosial.

Kajian kedua adalah kajian Joseph Stiglitz dalam bukunya Dekade


Keserakahan. Dalam bukunya ini Stiglitz menguraikan mengenai munculnya
gelembung perekonomian akibat hiperaktifitas perekonomian yang makin besar
akibat lonjakan ekspansi dalam perekonomian maupun bursa saham, yang
dimulai di era 90an. Menurut Stiglitz, di era ini pertumbuhan ekonomi
melambung ke tingkat yang belum pernah tercapai dalam satu generasi, dan
Stiglitz meramalkan akan terjadi resesi ekonomi yang hebat di Amerika Serikat
(AS), dan juga sebagian besar negara di dunia. Di sini, Stiglitz lebih banyak
menyoroti perekonomian dan politik di AS, dan kaitannya dengan situasi di luar
AS, namun Stiglitz menekankan bagaimana lonjakan ekonomi yang
menggelumbung dan globalisasi membawa serta benih-benih swadestruktif
yang menghancurkan dirinya sendiri.

Bagi Stigliz, strategi global AS tidak akan berhasil selama kebijkannya


adalah terus menekan negara-negara dunia ketiga untuk mengadopsi kebijakan
yang berbeda dengan yang diadopsi oleh AS sendiri, yakni mengadopsi
kebijakan pasar fundamentalis yang di dalam negeri AS justru sangat ditentang
oleh pemerintahan Clinton, dan juga pengabaian AS terhadap prinsip keadilan
sosial, kesetaraan dan kejujuran. Singkatnya, Stiglitz menguraikan bahwa
perekonomian dunia sudah terbentuk untuk saling bergantung, dan hanya
dengan menciptakan tata-dunia yang setara maka stabilitas pasar global bisa
diciptakan. Itu semua mensyaratkan adanya semangat kerjasama yang tidak
dibangun di atas brutalitas, dengan mendikte kondisi yang tidak sesuai di
tengah krisis, memaksakan perjanjian dagang yang curang, atau dengan
melaksanakan kebijakan yang berstandar ganda.

Kedua studi tersebut melihat situasi perekonomian kontemporer tanpa


perlu untuk melihat jauh ke belakang bagaimana sesungguhnya negara-negara
maju membangun dan membentuk perekonomiannya hingga menjadi seperti
sekarang ini. Jadi jika diajukan pertanyaan bagaimana negara-negara kaya tetap
kaya, dan mengapa negara-negara miskin tetap miskin, jawaban Sen dan Stiglizt
akan merujuk pada soal-soal brutalitas ekonomi negara maju, yang menekan
negara-negara dunia ketiga, dan keenggananya untuk menciptakan kesetaraan.
Jawaban yang ditawarkan oleh Sen dan Stiglitz pun lebih dalam rupa menyiasati
agar ada perlindungan kepada wilayah yang-sosial dari terpaan pasar yang
kompetitif semata-mata. Keduanya akan menolak jawaban bahwa negara-negara
dunia ketiga harus memberlakukan proteksi bagi industri dan perekonomiannya.
Buat mereka, harus ada penyesuaian dari sistem pasar terhadap upaya
penciptaan kesetaraan (equality) ketimbang memperbesar ketimpangan
(inequality).

Berbeda dengan model pendekatan Amartya Sen dan Joseph Stiglitz yang
lebih menekankan pada persoalan kontemporer, seperti globalisasi, Washington
Consensus, MNCs, IMF dan Bank Dunia, studi Erik S. Reinert dalam bukunya
How Rich Countries Got Rich… and Why Poor Countries Stay Poor mencoba
untuk menelusuri perdebatan ekonomi para pembuat kebijakan ekonomi dan
politik di AS, dan menggali sejarah ilmu ekonomi untuk mencari bahan-bahan
dan karya-karya yang dilupakan oleh para ekonom saat ini, yang padahal di
jamannya merupakan literatur yang dijadikan rujukan oleh para ekonom dan
pengambil kebijakan. Beberapa nama yang dirujuk Reinert misalnya kajian para
ekonom Jerman seperti Christian Wolff (1679-1754), Johann Heinrich Gottlob
von Justi (1717-1771), Johann Friedrich von Pfeiffer (1718-1787), Friedrich
List (1789-1846), Gustav Schmoller (1838-1917), ekonom Italia Antonio
Genovesi (1712-1769) dan Giuseppe Mazzini (1805-1872), maupun ekonom
Inggris seperti John Cary (1649-1720), dan dijadikan rujukan pada zamannya
sebagai bahan untuk membuat kebijakan ekonomi dan politik yang membuat
negara-negara kaya menjadi semakin kaya, sampai hari ini. Namun, ekonom
yang justru kerap digembar-gemborkan dan bukunya kerap dirujuk para
ekonom pasca perang dunia kedua adalah nama-nama seperti Adam Smith,
David Ricardo dan Joseph Schumpeter. Karya-karya para ekonom Jerman
seperti Friedrich List hilang dari perpustakaan di Universitas Harvard, juga
pidato-pidato perdebatan para politisi mengenai kebijakan ekonomi AS sulit
didapat di perpustakaan New York Public Library. Singkatnya, pemikiran-
pemikiran tersebut dianggap tidak penting untuk masa kini dan karenanya patut
disingkirkan. Dalam penelusuran inilah Reinert menemukan kenyataan bahwa
para ekonom yang pemikirannya disingkirkan dari khasanah ekonomi
mainstream inilah yang pemikiran dan teorinya dirujuk dalam kebijakan
ekonomi AS, mengenai kebijakan industri dan pertumbuhan tak merata.

Jawaban terhadap mengapa pemikiran semua ekonom dan naskah


perdebatan kebijakan ekonomi politik – termasuk pid ato-pidato di Senat dan
Kongres yang menjadi jawaban sebenarnya mengenai apa yang terjadi sehingga
AS tumbuh dari negara miskin menjadi negara kaya – tidak lagi diperhatikan,
sekaligus juga menjawab pertanyaan pokok buku Reinert yakni: “bagaimana
negara-negara kaya tetap kaya… dan negara-negara mi skin tetap miskin?” yang
kalau ditelusuri pada dokumen dan literatur sejarah ekonomi dan pemikiran
ekonomi yang dirujuk para politisi AS, maka jawabannya menurut Reinert adalah:
“….the United States protected their manufa cturing industry for close to
150 years”, jawaban yang diperoleh para politisi da n ekonom AS dari literatur
klasik para ekonom Jerman yang namanya hilang dari sejarah ilmu ekonomi.

Reinert melakukan penelusuran dengan membedakan dua tipe utama dari


teori ekonomi. Tipe pertama mendasarkannya pada metafora yang diambil dari
gejala alam, umumnya dari hukum fisika. Contoh dari metafora tersebut adalah
invisible hand yang menjaga bumi tetap pada orbitnya dalam mengitari
matahari, atau metafora mengenai keseimbangan (equilibrium), yang kemudian
diturunkan pada ilmu ekonomi. Tipe kedua didasarkan pada pengalaman
(experience-based theory) dan dibangun dari bawah dan terus naik secara
bertahap, dan kerap muncul dalam kebijakan praktis, sebelum diluruhkan
menjadi teori.

Dengan pendekatan kedua, Reinert melakukan penelusuran mengenai


kebijakan riil seperti apa dan pengalaman apa yang diambil oleh negara-negara
maju dan menata perekonomiannya dan mengeluarkan kebijakannya dalam
sepenjang perkembangannya, dan bukan didasarkan pada apa yang dituliskan
oleh dalam sejarah ilmu ekonomi yang saat ini menjadi mainstream, seperti
misalnya doktrin perdagangan bebas sebagai pintu menuju kemakmuran
sebagaimana dimuat dalam karya magnum opus Adam Smith yakni The Wealth
of Nations yang terbit tahun 1776. Dalam karyanya itu Smith menganjurkan
agar Inggris membuka diri bagi perdagangan bebas, namun bagi menurut
Reinert sejarah membuktikan bahwa pada kenyatannya Inggris menerapkan
pemungutan pajak dan cukai lebih banyak dibandingkan Prancis selama seratus
tahun semenjak terbitnya buku Smith, dan itu bukanlah bentuk dari
perdagangan bebas sebagaimana anjuran Adam Smith. Jadi kemajuan dan
kekayaan Inggris bukan dipicu oleh sistem ekonomi persaingan bebas,
melainkan dengan membangun industri dalam negeri yang kuat dan dilindungi.

Dalam bukunya tersebut Adam Smith juga menganjurkan agar AS tidak


melakukan proteksi terhadap industri manufakturnya karena itu merupakan
suatu kesalahan besar jika dilakukan, dan akan mengakibatkan kesalahan fatal.
Namun, Menteri Keuangan pertama AS, Alexander Hamilton, juga membaca
buku tersebut, dan pada bagian lain menemukan argumen Smith bahwa “hanya
negara-negara yang memiliki industri manufaktur-lah yang memenangkan
perang”, dan karena itulah Hamilton mengambil argum en Smith tersebut
untuk kebijakan industri dan perdagangan AS, ketimbang argumennya
mengenai perdagangan bebas. Inilah yang dirujuk Reinert sebagai experienced-
based theory yakni teori yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang
ditemukan, bukan pada doktrin ekonomi semata. Pada era 1820an ada pepatah
bijak di Amerika Serikat yakni: “Don’t do as the En glish tell you to do, do as
the English did”, dan menurut Reinert kalau dimakna i dalam konteks sekarang
ini bisa juga dikatakan: “Don’t do as the Americans tell you to do, do as the
Americans did”. Ini yang bagi Reinert merupakan iro ni sekaligus secara
khusus sangat menarik untuk dicatat, yakni AS yang selama ratusan tahun
secara keras melawan dan menentang teori dan kebijakan ekonomi yang pada
hari ini justru mereka dukung habis-habisan.
Dalam hal ini, AS mendasarkan kebijakan ekonominya dengan meniru
(emulation) apa yang dilakukan Inggris dan Prancis, dan bukannya merujuk
pada apa yang diteorikan oleh Adam Smith, dan emulation inilah yang menurut
Reinert merupakan kunci penting bagi kemajuan negara-negara AS dan Eropa
Barat di mana negara-negara maju tersebut, dulunya melakukan proteksi
terhadap industrinya selama berabad-abad (bahkan dalam beberapa sektor masih
dilakukan sampai hari ini), dan baru setelah industrinya mapan, mereka masuk
dalam sistem perdagangan dunia. Inilah yang menjadi penelusuran Reinert,
bahwa bangunan industri manufaktur yang diproteksi merupakan inti dari
kemajuan ekonomi negara-negara yang saat ini maju. Dalam penelusuran
Reinert, pada saat produksi dalam industri manufaktur diperluas, biaya
perkembangannya bergerak ke arah yang berlawanan yakni turun dan bukannya
naik. Hal itu yang menjadi awal perkembangan kemakmuran AS dan sejumlah
negara Eropa Barat yakni strategi emulation, sebagaimana diutarakan Reinert,

Rich countries display generalized imperfect competition, activities


subject to increasing returns, and as I gradually began to understand, all have
become rich in exactly the same way, through policies steering them away from
raw materials and diminishing returns activities into manufacturing, where the
opposite laws tend to operate.

The basic strategy that made Europe so evenly rich was what
Enlightenment economics called emulation and the extensive toolbox that was
developed for the purpose of emulating… Emulation w as essentially a positive
and active effort, to be contrasted with envy and jealousy. In modern times
emulation finds its approximate counterparts in the terminology of American
economist Moses Abramovitz (1912-2000), whose ideas of catching-up and
forging ahead resonate with the same understanding of dynamic competition.

Menurut studi Reinert, kalau merujuk pada pemikiran Adam Smith dan
para ekonom klasik Inggris lainnya, dalam karya-karyanya mereka jelas
memperingati koloni Amerika dan negara-negara Eropa lainnya, bahwa meraka
akan melakukan kesalahan yang sangat besar jika mencoba meniru Inggris,
yakni melakukan dan mengembangkan industrialisasi. Adam Smith dan para
pengikutnya berargumen bahwa masa keharmonisan ekonomi dunia akan
terbentuk secara otomatis pada saat kekuasaan pasar diberikan kebebasan untuk
mengatur. Inggris akan dapat mengimpor bahan mentah dari empat penjuru
dunia dan sebagai gantinya akan mengekspor barang hasil industrinya kembali.
Namun, tidak ada satu kekuasaan dan kekuatan di Eropa yang mengikuti
anjuran Adam Smith tersebut, termasuk Norwegia, dan mereka justru sepakat
bahwa mereka harus membangun industri lewat kebijakan yang aktif. Bagi
Reinert, jika melihat keadaan saat ini di mana AS memimpin dalam retorika
globalisasi, mengingatkan dirinya pada peran serupa yang dimainkan Inggris
pada abad sembilanbelas. Apa yang dilakukan AS, Inggris, Prancis dan negara-
negara Eropa masa itu merupakan teori ekonomi yang didasarkan pada
pengalaman dan kondisi nyata (experience-based economy) dan bukan doktrin
ekonomi retoris yang didasarkan model yang didasarkan pada hukum alam
(fisika).

Sayangnya, menurut Reinert, pasca Perang Dunia II pendekatan


experience-based economics ini menghilang, dan digantikan oleh pendekatan
abstrak yang merupakan turunan dari pendekatan ilmu ekonomi David Ricardo.
Apalagi setelah Alfred Marshall memperkenalkan pemakaian teknik-teknik
matematis dalam perhitungan ekonomi, ilmu ekonomi pun berubah seolah-olah
menjadi ilmu pasti (hard science) dan melupakan aneka ragam segi-segi
kualitatif ketika ia masih bernama “ekonomi-politik ”. Political-economy
beralih menjadi economics.
Hilangnya Experience-Based Economics Dari Studi Ekonomi Mainstream

Perkembangan experience-based economics merupakan perkembangan


dari tradisi ekonomi heterodoks, yang tradisinya ini oleh Reinert dikategorikan
sebagai the Other Canon. The Other Canon ditujukan sebagai sebuah konsep
yang menyatukan teori dan pendekatan ekonomi yang melakukan pengamatan
terhadap fakta-fakta, pengalaman dan pembelajaran sebagai titik awal bagi
teorisasi tentang ekonomi. Menurut Reinert, semenjak tahun 1400an, hanya tipe
ekonomi the Other Canon yang – yang memberikan teka nan bahwa aktivitas
ekonomi secara kualitatif berbeda dengan pertumbuhan ekonomi – berhasil dan
mampu membawa bangsa demi bangsa keluar dari kemiskinan. Pada saat
pertumbuhan ekonomi berhasil dicapai, bangsa-bangsa yang hegemonik dalam
suatu rangkaian berpindah ekonomi berbasis-biologi menjadi ekonomi
berbasis-fisika, sebagaimana dilakukan Inggris pada akhir abad delapanbelas
dan AS pada pertengahan abad duapuluh. Setalah perlahan-lahan experience-
based economics sebagai bagian tradisi the Other Canon mulai punah muncul
teori David Ricardo sebagai satu-satunya teori yang memainkan peran, baik
bagi politik aliran kiri maupun politik aliran kanan. Buat Reinert, debat besar
pasca Perang Dunia II antara retorika pasar bebas ala kapitalisme dengan
ekonomi terpimpin ala komunisme sesungguhnya hanyalah turunan yang sama
dari ekonomi David Ricardo. Mengapa Reinert mempersamakan komunisme
dengan kapitalisme? Dalam hal ini tradisi ilmu sosial sebelum Marx lebih
memfokuskan pada pengembangan pengetahuan, gagasan-gagasan baru serta
teknologi sebagai faktor penggerak perekonomian. Namun pada saat dampak-
dampak sosial kapitalisme tak terjelaskan oleh cara pandang ini, Marx
mengambil teori nilai kerja David Ricardo yang sangat abstrak untuk
membangun teorinya sendiri.

Kalau kita lihat dengan yang terjadi di Indonesia, ada kemiripan dengan
gagasan experience-based economcs, di mana semangat untuk melaksanakan
nilai-nilai kerakyatan, nasionalisme dan pembebasan, dipantulkan melalui
program-program ekonomi dan politik yang dilandaskan pada semangat anti
modal-asing dan ekonomi asing, dengan menyusun suatu piranti pemikiran
bernama ekonomi nasional. Ekonomi nasional akan disusun melalui program
proteksi dan industrialisasi, lewat program Rentjana Urgensi Perekonomian
(RUP) yang didalamnya terdapat Program Benteng, di mana usaha-usaha lokal
dan dalam negeri, dan usahawan dalam negeri akan dilindungi dan
dikembangkan dengan sokongan pemerintah. RUP dimaksudkan untuk
mengawali industrialisasi dengan jalan mengkaitkan kegiatan-kegiatan industri
besar dengan industri kecil. Sektor industri besar akan berfungsi sebagai
determinan pertumbuhan yang strategis, khususnya untuk menjalankan program
subtitusi impor, dan dengan itu akan meletakkan lendasan bagi peekonomian
nasional yang sesungguhnya.

Program tersebut tidak berjalan mulus, dan hanya menumbuhkan model


ekonomi rente, dan program ini dibubarkan dan haluan ekonomi-politik
diarahkan pada model ekonomi terpimpin, untuk mewujudkan suatu
perekonomian nasional yang kuat dan mandiri, melalui jalan industrialiasi.
Program ini dijalankan di bawah program semeseta delapan tahun berencana di
bawah payung kebijakan ekonomi terpimpin dan program landreform (reforma
agraria).

Para pemikir ekonomi Indonesia dan para pendiri bangsa seperti


Mohammad Hatta, Sjafruddin Prawiranegara, Semaoen, bahkan Soekarno,
memikirkan program atas dasar antitesa ekonomi kolonial yang timpang dan
eksploitatif, dan bukan atas dasar doktrin-doktrin teori ekonomi. Perkembangan
pemikiran ekonomi Indonesia di awal kemerdekaan sampai masa demokrasi
terpimpin, bisa dikategorikan sebagai experienced-based economics, di mana
teorisasi ekonomi dibuat atas dasar fenomena sosial-politik, dan bukan pada
doktrin ekonomi. Cita-cita membangun ekonomi nasional dilandaskan pada
pengalaman dan pemahaman atas ekonomi kolonial, bukan semata-mata
merujuk teori ekonomi yang sudah mapan. Namun pendekatan ini luruh,
bersamaan dengan jatuhnya Soekarno dan politik demokrasi terpimpinnya, dan
Soeharto dengan Orde Baru-nya membawa perekonomian pada jalur doktrin
ekonomi yang merujuk pada Smith dan Ricardo.

Kepustakaan Rujukan

Mackie, J. A. C., “The Indonesian Economy 1950-1963 ”, dalam Bruce


Glassburner, The Economy of Indonesia: Selected Readings (New York:
Cornell University Press, 1971).

Nofrian, Fahru, Pendekatan Ekonomi Heterodoks: Empat Pilar Pemikiran


Prancis (Jakarta: IGJ dan Unika Atma Jaya, 2009).

Reinert, Erik S., How Rich Countries Got Rich… and Why Poor Countries Stay
Poor (London: Constable, 2008).

Sen, Amartya, Development As Freedom (Oxford: Oxford University Press,


1999).

Stiglitz, Joseph E., Dekade Keserakahan: Era ‘90an dan Awal Mula Petaka
Ekonomi Dunia (Terj.) (Jakarta: Marjin Kiri, 2006).
Mengapa ada negara kaya dan miskin?

Bukanlah Budaya, Geografi atau Pengetahuan yang menyebabkan suatu


bangsa menjadi kaya atau miskin, melainkan KEMAUAN, semangat dan kerja-
keras para PEMIMPIN dan rakyatnyalah yang menentukan. Silahkan baca
selanjutnya …

Acemoglu dan Robinson (A&R) menawarkan sebuah teori sederhana


untuk menjawab pertanyaan mengapa suatu negara lebih sejahtera dibanding
dengan negara lain, walaupun berdasar sejarah, budaya, geografi maupun etnis
sangat mirip. Teori tersebut dimaksudkan untuk memetakan perkembangan
politik dan ekonomi dunia sejak Revolusi Neolithic. Menurutnya, teori yang
dipergunakan harus mampu untuk fokus menganalisis pada berbagai fenomena
yang mirip, dan bisa dianggap sukses bila teori tersebut berguna dan mampu
menerangkan secara empiris dan membumi, dari sebuah rangkaian proses
sejarah, termasuk juga melakukan klarifikasi terhadapnya.

Teori A&R bekerja dalam dua tahap yaitu, pertama, perbedaan antara
ekonomi ekstraktif dan inklusif, dan institusi-institusi politik; dan kedua
adalah penjelasan mengapa institusi inklusif terjadi di beberapa negara dan
tidak di tempat lain. Sementara tahap pertama teorinya tentang sejarah
interpretasi institusional, tahap keduanya tentang bagaimana sejarah dapat
membentuk proses institusional suatu bangsa.

Sebagai pembuka dalam bukunya, penulis menyajikan tantangan kritis


berupa data tentang kesuksesan ekonomi AS. Rata-rata masyarakat AS lebih
kaya tujuh kali lipat daripada kekayaan masyarakat Mexico, dan lebih dari
sepuluh kali lipat dari kekayaan bangsa Peru atau America Tengah, atau
duapuluh kali lipat dari masyarakat di sub Sahara, Africa. Bahkan hampir
empatpuluh kali lipat dari kekayaan masyarakat di negara-negara miskin Africa,
seperti Mali, Ethiopia, dan Sierra Leone.
Ada tiga hal yang pada umumnya dipergunakan sebagai alasan bahwa
suatu bangsa menjadi miskin atau kaya, walaupun fakta menunjukkan hal yang
berbeda, yaitu: Geografi, Budaya, Pengetahuan

1. Geografi

Montesque menyatakan bahwa bangsa yang berada di wilayah tropis


cenderung menjadi bangsa pemalas yang berujung pada kegagalan ekonomi
atau kemiskinan. Diapun berspekulasi bahwa seandainyapun muncul seorang
pemimpin di wilayah tropis, maka akan bersikap sebagai penguasa diktator.

Teori bahwa negara-negara di wilayah tropik cenderung miskin, juga


spekulasi Montesque di atas, telah terbantahkan dengan bukti begitu
cepatnya pertumbuhan ekonomi di Singapura, Malaysia, dan Bostwana, yang
berada di wilayah tropis. Namun demikian, masih juga ada yang
menganggap bahwa iklim suatu wilayah mempunyai kaitan tidak langsung
terhadap kegagalan ekonomi, karena:

a. Penyakit tropis seperti malaria berkaitan dengan tingkat produktifitas


b. Lahan tropis bukan lahan yang produktif/subur

Kesimpulan kedua hal tersebut tetap sama, bahwa negara di wilayah iklim sejuk
relatif lebih memungkinkan untuk menjadi negara kaya daripada negara-negara
di wilayah tropis atau subtropis.

Nogales, suatu wilayah yang terbelah oleh perbatasan Mexico dan Amerika
Serikat menjadi bukti bahwa perbedaan kesuksesan ekonomi bukanlah karena
geografi, iklim atau penyakit tetapi karena dikuasai oleh dua negara yang berbeda,
yaitu Mexico dan Amerika Serikat. Demikian juga dengan fenomena perbedaan
kesuksesan ekonomi antara Korea Selatan dengan Korea Utara, atau Jerman Barat
dengan Jerman Timur (sebelum runtuhnya Tembok Berlin).
Sejarah lebih jauh menunjukkan bukti bahwa kemakmuran pernah terjadi
di berbagai wilayah tropis pada jaman pra-modern seperti Ankor di Myanmar,
Vijayanagara di India Selatan, Aksum di Ethiopia, Mihenji Daro dan Harappa di
Pakistan. Ini juga berarti tidak adanya hubungan antara wilayah tropis dengan
kesuksesan ekonomi.

Penyakit tropis memang menyebabkan banyak penderitaan dan


tingginya kematian bayi di Afrika, tetapi bukan berarti sebagai penyebab
miskinnya bangsa Afrika. Sebaliknya, wabah penyakit lebih sebagai
konsekuensi yang disebabkan oleh kemiskinan atau ketidakmauan pemerintah
untuk memprioritaskan kesehatan masyarakat.

Pendapat lain tentang Geografi sebagi faktor penyebab perbedaan


kemakmuran didasarkan pada anggapan bahwa tanah tropis tidaklah produktif
untuk lahan pertanian sehingga menyebabkan kemiskinan. Sebaliknya, bukti
menunjukkan bahwa gagalnya pertanian di sub-Sahara Afrika pada umumnya
lebih disebabkan oleh struktur kepemilikan lahan pertanian dan ketiadaan
insentif pertanian dari pemerintah setempat.

Buku ini juga menunjukkan bukti-bukti bahwa besarnya kesenjangan


ekonomi dunia di berbagai negara, yang diawali pada abad 19, bukankah karena
perbedaan kesuksesan produktifitas pertanian seperti ditunjukkan oleh Jared
Diamond dalam bukunya ‘Guns, Germs and Steels’, mel ainkan lebih
disebabkan oleh berkembangnya teknologi industri yang dimulai dari Revolusi
Industri di Inggris pada tahun 1688 (the Glorious Revolution), yang dijelaskan
dengan panjang-lebar dalam bab khusus di buku ini.

Akhirnya, faktor-faktor Geografi tidak cukup kuat untuk dapat


menjelaskan tidak hanya terhadap perbedaan-perbedaan kemakmuran di
berbagai belahan dunia tapi juga mengapa bangsa Jepang dan Cina yang begitu
lama menderita namun kemudian begitu cepat mengalami pertumbuhan
ekonomi pada akhirnya. Perlu teori yang lebih handal untuk menjelaskannya.

2. Budaya

Faktor kedua yang banyak dipercaya sebagai penyebab kesuksesan


ekonomi suatu bangsa adalah Budaya. Sosiolog Jerman, Max Webber,
meyakini bahwa Reformasi Protestan dan etika Protestan adalah kunci
penyebab tumbuhnya masyarakat industri modern di Eropa Barat. Bukti tidak
membenarkan hipotesis ini. Perancis dan Itali yg dominan beragama Katolik
juga menunjukkan kesuksesan ekonomi, bahkan negara-negara di Asia Timur
juga bisa sukses bukan karena beragama Protestan.

Banyak yang percaya bahwa kemiskinan di Afrika disebabkan oleh


rendahnya ethos kerja, tingginya kepercayaan terhadap takhyul, atau tingginya
resistensi terhadap teknologi Barat. Juga, bangsa Amerika Latin tidak akan
menjadi bangsa kaya karena gaya hidup masyarakatnya yang mewah namun
tanpa kemampuan ekonomi. Lagi, budaya Cina, Konfusius, pada umumnya
dianggap berlawanan dengan semangat pertumbuhan ekonomi. Padahal,
sekarang ethos kerja Cina adalah sebagai mesin pertumbuhan ekonominya, juga
Hongkong dan Singapura.

Budaya bukanlah penyebab awal perbedaan kesuksesan ekonomi,


melainkan sebagai konsekuensi atau akibat dari tingkat kesuksesan ekonomi.

Tingkat kriminal yang tinggi, sebagai akibat kemiskinan, di Mexico


dalam hal perdagangan narkoba menyebabkan tingkat kepercayaan sosial
rendah, sehingga kebudayaan dua bangsa Nogales yang terbelah oleh perbatasan
Mexico-AS menjadi berbeda. Ini adalah akibat kesuksesan ekonomi yang
berbeda, bukan penyebab. Demikian juga dengan perbedaan Korea Selatan
dengan Korea Utara. Semenanjung Korea mempunyai sejarah panjang
kebudayaan yang sama. Sebelum perang Korea, mereka mempunyai
homogenitas dalam hal bahasa, etnik dan budaya. Yang menjadi masalah adalah
keberadaan batas itu sendiri dimana rejim yang berbeda menyebabkan institusi
dan sistem insentif yang berbeda juga.

Bagaimana dengan Afrika? Sub-Sahara Africa adalah wilayah sangat


miskin dibanding wilayah lain di dunia ini, kecuali Ethiopia dan Somalia, dan
penduduknya dianggap jauh terlambat menggunakan teknologi, peralatan
bertani dan budaya baca-tulis hingga akhir abad 19, meskipun bangsa Eropa
telah mengarungi pantai barat Afrika di akhir abad 15 dan bangsa Asia juga
telah mengarungi pantai timur Afrika di masa sebelumnya. Kongo telah
melakukan kontak dengan Portugis sejak 1483, dengan Mbanza sebagai ibukota
yang berpenduduk 60.000 jiwa pada tahun 1500. Tahun 1491 dan 1512,
Portugis gagal mendidik bangsa Kongo untuk mengadopsi penggunaan
teknologi roda dan peralatan pertanian, dan lebih memilih teknologi
persenjataan. Pemilihan senjata sebagai prioritas bangsa Kongo didasari
keinginan untuk menjawab kebutuhan pasar yang lebih menguntungkan, yaitu
menangkap dan menjual budak.

Setelah kontak dengan bangsa Eropa lebih sering dilakukan, bangsa


Afrika bisa mengadopsi berbagai budaya Barat, seperti budaya baca-tulis, mode
pakaian dan desain rumah. Pada abad 19, banyak masyarakat Afrika mengambil
manfaat kesempatan pertumbuhan ekonomi yang dipacu oleh Revolusi Industri
dengan cara merubah model produksinya. Di Afrika Barat terjadi percepatan
pertumbuhan ekonomi melalui ekspor minyak sawit dan kacang tanah; dan di
Afrika Selatan pengembangan industri terjadi di sektor pertambangan.

Alasan utama bangsa Kongo tidak memgadopsi teknologi superior pada


saat itu adalah karena tak adanya insentif dari pemerintah. Mereka menghadapi
resiko tinggi akan dikenakannya sangsi atau pajak tinggi terhadap hasil
produksinya oleh raja yang sangat berkuasa. Eksistensi merupakan ancaman
untuk dijadikan budak oleh penguasa .

Kemiskinan akut Cina dimasa Mao juga tidak berhubungan


dengan budaya Cina, tapi lebih disebabkan karena kesalahan program
politik dan ekonomi Mao Zedong.

3. Pengetahuan

Kurangnya pengetahuan penguasa untuk mengatasi masalah pertumbuhan


ekonomi sering dianggap sebagai salah satu faktor penentu gagalnya ekonomi
suatu bangsa.

Suksesnya suatu ekonomi pasar adalah bila tersedia prasyarat kondisi


dimana setiap individu atau perusahaan bebas untuk dapat berproduksi, menjual
dan membeli setiap produk ataupun jasa yang diinginkan. Kegagalan ekonomi
pasar adalah bila kondisi tersebut tidak tersedia. Ini berarti bahwa kemiskinan
suatu negara terjadi karena mereka banyak mengalami kegagalan pasar, dan
karena para pembuat kebijakan tidak mengerti bagaimana harus mengatasinya.

Ghana, dimasa kekuasaan Nkrumah mengalami penurunan ekonomi yang


tajam sejak memperoleh kemerdekaannya dari Inggris. Tony Killick sebagai ahli
ekonomi, dikirim oleh Inggris untuk mengevaluasi kebijakan ekonominya. Hasil
evaluasi menunjukkan bahwa kebijakan industrialisasi Ghana tidak efisien karena
pembangunan pabrik sepatu berada di lokasi yang jauh dari lokasi pemasok
kebutuhan dasarnya, kulit binatang. Betulkah ini sebab utamanya? Berdasar pada
prasyarat ekonomi pasar, memang terjadi kegagalan karena adanya kesulitan
membeli bahan dasar industri. Namun, ini hanyalah penyebab langsung, penyebab
dasarnya adalah pabrik tersebut memang harus dibangun dengan alasan transaksi
politik untuk mempertahankan kelangsungan kekuasaan
Nkrumah, bukan untuk kepentingan kesuksesan ekonomi bangsanya, dan bukan
karena kurangnya pengetahuan.

Maka jelaslah bahwa bukan masalah kurangnya pengetahuan terhadap


sistem ekonomi, melainkan karena prioritasnya jauh lebih rendah daripada
kebutuhan kelanggengan kekuasaannya, dengan kata lain, tidak ada
kemauan politik untuk memperbaiki nasib bangsanya. Ini hal yang sering
terjadi di negara-negara dengan sistem politik ekstraktif.

Di bawah ini adalah sebagian contoh dari beberapa negara yang menjadi
pokok bahasan penulis.

Inggris

Perilaku kekuasaan ekstraktif juga ditunjukkan oleh kerajaan Inggris


masa Elisabeth I (1558-1603). Penemuan mesin tenun oleh William Lee yang
akan dipatenkan, ditolak oleh Elisabeth I, juga James I. karena dikhawatirkan
akan menyebabkan terjadinya pengangguran besar-besaran yang berujung
pada ketidak-stabilan politik atau goyahnya kekuasaan. Hingga abad ke-17,
institusi ekstraktif Inggris sangat berkuasa, dan berhasil menghasilkan
pertumbuhan ekonomi. Namun pertumbuhan yang tidak akan langgeng karena
tidak adanya pembaruan dan hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri.

Sejarah Inggris penuh dengan konflik antara kerajaan dengan


penentangnya, antar faksi yang berebut kuasa, juga antara elit dan rakyatnya.
Pada tahun 1215, para baron berhasil memaksa raja untuk menandatangani
Magna Charta, yang isinya mengubah secara prinsipiil terhadap kekuasaan raja.
Salah satunya, raja harus berkonsultasi dengan para baron bila akan menaikkan
pajak. Langkah awal terhadap pluralisme. Konflik terus berlangsung hingga
terjadi perang ‘ the war of the roses’, antara perw akilan York dengan
perwakilan Lancaster untuk meraih kekuasaan raja. Lancasfer memenangkan
konflik, dan Henry Tudor atau Henry VII menjadi raja Inggris pada tahun 1485.

Fokus Henry VII adalah meningkatkan sentralisasi politik. Melucuti


persenjataan istana atau demiliterisasi, yang berarti memperkuat kekuasaan
pemerintah pusat. Sentralisasi kekuasaan ini juga berarti untuk pertama kalinya
pemerintah Inggris berpotensi untuk menjadi pemerintahan yang inklusif.
Proses ini dimulai oleh Henry VII dan Henry VIII, yang tidak hanya
sentralisasi kekuasaan tetapi juga tuntutan representasi kekuasaan untuk
masyarakat yang lebih luas. Konflik terus terjadi setelah kekuasaan Henry VIII
dan institusi ekstraktif kembali muncul pada dinasti berikutnya.

Tahun 1688 adalah tahun yang sangat penting bagi Inggris, dimana
kekuasaan ekstraktif dibawah kekuasaan raja James mulai digantikan oleh
William dan parlemen juga sudah mulai kuat. The Glorius Revolution
menghasilkan the Declaration of Rights yang dibuat oleh paelemwn dan raja
William di tahun 1689, yang salah satu isinya adalah tentara hanya bisa
digerakkan dengan sepwngwtahuan parlemen. Raja bahkan bersedia untuk
tidak menginerfensi kekuasaan sistem hukum. Perubahan institusi politik yang
lebih inklusif dengan dengan snemakin kuatnya kekuasaan parlemen,
menunjukkan akhir dari kekuasaan absolut raja.

Setelah 1688, Parlemen mulai dapat meningkatkan pendapatan dari pajak,


juga memperkuat institusi infrastruktur pemerintahan untuk menjalankan
pemerintahan yang lebih pluralistik.

Revolusi Industri sangat mempengaruhi dalam setiap aspek ekonom


Inggris, khususnya dibidang transportasi, metalurgi dan mesin uap. Mekanisasi
dan pabrikasi produksi tekstil adalah bidang utama yang sangat menonjol. Ini
bukan hanya karena munculnya larangan monopoli domestik tetapi lebih karena
adanya reorganisasi fundamenfal terhadap institusi ekonomi seiring munculnya
banyak pengusaha dan penemuan baru serta perlindungan terhadap keamanan
hak-hak kepemilikan. Adalah the Glorious Revolution yang menyebabkan
sistem politik Inggris menjadi inklusif, terbuka dan responsif terhadap
kebutuhan ekonomi dan aspirasi masyarakat.

Maluku

Buku ini juga sedikit menyinggung tentang Indonesia, khususnya


kepulauan Maluku. Pada awal abad 17, kepulauan Maluku terbagi menjadi tiga
wilayah, yaitu wilayah utara dengan kerajaan Ternate, Tidore dan Bacan,
kemudian kerajaan Ambon di bagian tengah, dan wilayah selatan adalah
kepulauan Banda yang masih belum ada pemerintahannya. Meskipun saat ini
kepulauan Maluku terasa jauh dari pusat pemerintahan RI, saat itu sudah
sangat terkenal di perdagangan dunia sebagai penghasil dan eksportir rempah-
rempah, seperti cengkeh dan pala. Sebaliknya, impor bahan makanan dan
produk pabrikan diperoleh dari pulau Jawa, Malaka (pantai barat Malaysia),
India, China dan Arab.

Kontak pertama dengan bangsa Eropa terjadi pada awal abad 16, pelaut
Portugis, yang membeli rempah-rempah dan selanjutnya berupaya untuk
menguasainya. Malaka, lokasi strategis lalulintas perdagangan Asia Tenggara,
yang berada di pantai barat semenanjung Malaysia, pada tahun 1511 dikuasai
Portugis. Perkembangan ekonomi Asia Tenggara pada abad 14-16 cukup bagus
karena didukung oleh perdagangan rempah-rempah di Aceh, Banten, Malaka,
Makassar dan Brunei.

Seperti halnya kekuasaan di Eropa pada jamannya, raja-raja di Asia


Tenggara pun menerapkan budaya kekuasaan yang sama, absolut. Pertumbuhan
ekonomi tinggi, namun jauh dari kesejahteraan rakyatnya. Belanda masuk ke
Ambon pada tahun 1600 dengan cara membuat perjanjian eksklusif dengan para
penguasa setempat yang memberinya kekuasaan monopoli perdagangan
rempah-rempah. Dengan berdirinya Dutch East India Company pada tahun
1602, Belanda telah menguasai perdagangan semua rempah-rempah dan
menghempaskan para pesaingnya, by hook or by crook, yang terbaik untuk
Belanda dan sebaliknya untuk Asia Tenggara.

Ambon diperlakukan dengan kejam oleh Belanda, persis seperti perilaku


Eropa dan Amerika pada saat itu. Kerjapaksa diberlakukan pada rakyat Ambon
untuk menghasilkan rempah-rempah sebanyak-banyaknya. Belanda juga
menguasai kepulauan Banda untuk cengkeh dan pala. Jan Pieterszoon Coen,
Gubernur Batavia, pada tahun 1621 membantai hampir semua penduduk
kepulauan Banda, kurang-lebih 15.000 orang, untuk mengamankan pengetahuan
cara memproduksi cengkeh dan palawija. Para pekerja-paksa baru ditempatkan
untuk dilatih berkebun cengkeh dan palawija.

Pada akhir abad ke-17, Belanda mengurangi 60% pasokan rempah-


rempahnya ke seluruh dunia namun harga palawija naik dua kali lipat. Strategi
yang sama coba diterapkan Belanda di wilayah Asia Tenggara lainnya, namun
pembangkangan mulai terjadi akibat kesewenang-wenangan. Ekspansi ekonomi
yang sudah berlangsung lama, abad 14-16, mulai menunjukkan titik balik. Tahun
1620, Banten merusak sendiri kebun merica dengan harapan Belanda
meninggalkannya dengan damai. Tahun 1686, kerajaan Naguindanao, Philipina,
merusak sendiri perkebunan rempah-rempahnya dan menolak berkebun merica di
tahun 1699. Bahkan deurbanisasi dilakukan oleh rakyat Burma dari wilayah Pegu
untuk menolak bekerja di perkebunan pada tahun 1635.

Seperti halnya di Maluku, kolonialisme Belanda telah menyebabkan


terpuruknya pertumbuhan ekonomi politik di Asia Tenggara, yang
menghentikan produksi rempah-rempah, menutup diri dan bahkan semakin
absolut. Dua abad setelahnya, Asia Tenggara tidak dapat turut mendapatkan
keuntungan dari keberadaan Revolusi Industri. Celakanya, mogok bekerjasama
dengan Eropa tetap tidak dapat menyelamatkannya bahkan pada akhir abad 18
hampir semuanya di Asia Tenggara berada dalam penjajahan Eropa.

Ketika industrialisasi menyebar ke sebagian wilayah dunia, wilayah-


wilayah dibawah kekuasaan kerajaan kolonial Eropa tetap tidak dapat
mengambil keuntungan dari munculnya banyak teknologi baru di era Revolusi
Industri. Wilayah yang sebelumnya mempunyai keunggulan ekonomi menjadi
miskin karena perilaku ekstraktif pemerintahnya.

Australia

Inggris Raya (Wales, Scotland dan England) pada tahun 1707


memutuskan untuk memindahkan para narapidana kriminal ke koloninya yang
jauh dari tempat asalnya. Setelah kemerdekaannya pada tahun 1783, AS
menolak untuk menerima pindahan penduduk dari Inggris Raya. Kapten James
Cook mendarat di Botany Bay, Sidney (sekarang), Australia, 29 April 1770 dan
merekomendasikan tempat yang bagus ini untuk para narapidana Inggris Raya.
Dibawah komando Kapten Arthur Phillip, sebelas kapal pengangkut narapidana
mendarat di Botany Bay pada Januari 1788, kemudian membangun
penampungan di Sydney Cove,- pusat kota modern Sydney -, dan menyebutnya
koloni ini sebagai New South Wales serta menentukan tanggal 26 Januari
sebagai Australia Day.

Mengingat bekerja dalam paksaan tidak akan menghasilkan produksi


yang memuaskan, maka para narapidana diberi kesempatan untuk bekerja diluar
jam kerja-paksa dan dapat menjual produknya untuk dirinya sendiri. Para
narapidana bahkan bisa menjadi pengusaha dan mempekerjakan narapidana lain
bahkan diberikan tanah setelah selesai masa penahanannya.

Tuntutan mulai muncul dari para ex-narapidana dan keluarganya yang


dipimpin oleh William Wentworth, akan institusi politik yang lebih inklusif,
perwakilan politik, perlu adanya juri dalam permasalahan hukum terhadap ex-
narapidana dan keluarganya serta diberhentikannya pengiriman narapidana
dari Inggris Raya ke New South Wales. Pada tahun 1840, pengiriman
narapidana dihentikan dan pada 1842 duapertiga anggota legislatif dipilih oleh
rakyat. Ex-narapidana berhak dipilih menjadi anggota legislatif apabila
mempunyai cukup properti.

Seperti halnya Amerika Serikat, Australia mempunyai pengalaman yang


berbeda dengan Inggris dalam mendapatkan institusi yang inklusif. Inggris
membutuhkan terjadinya revolusi besar Perang Sipil dan Glorious Revolution
yang tidak terjadi di Australia dan AS karena lingkungan politik yang berbeda.
Inggris mengalamu sejarah kepemimpinan absolut yang panjang sehingga
membutuhkan usaha besar untuk merubahnya. Revolusi Perancis mempercepat
kemakmuran di Australia dan AS, yang telah siap dengan institusi inklusifnya.

Perancis

Hingga 1789, sudah tiga abad Perancis dibawah pemerintahan monarkhi


absolut. Masyarakat Perancis terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu: kaum
bangsawan, pegawai pemerintah dan masyarakat umum. Aristokrat dan
pegawai pemerintah tidak membayar pajak, sedangkan masyarakat umum wajib
membayarnya. Jelas nerupakan pemerintahan yang bersifat ekstraktif. Hukum
tidak hanya menjamin kesejahteraan ekonomi bagi kaum bangsawan dan
pegawai pemerintah, namun juga kekuasaan politik.

Dalam situasi Revolusi Perancis, 4 Agustus 1789, Dewan Konstitusi


Nasional mengubah hukum Perancis dengan konstitusi baru, yang pada
dasarnya menghilangkan pemerintahan monarkhi absolut. Beberapa pasalnya
menyebutkan: meghapuskan sistem feodal, pajak dikenakan terhadap semua
penduduk tanpa memperdulikan status sosial seseorang, termasuk bangsawan
dan pegawai pemerintah.

Beberapa puluh tahun kemudian, Perancis dalam kondisi instabilitas


sebagai akibat deklarasi 4 Agustus tersebut, namun langkah penghapusan
absolutisme dan institusi ekstraktif menuju sistem politik dan ekonomi yang
inklusif sudah tidak mungkin mundur lagi.

Tentara revolusioner Perancis dibawah Napoleon dengan cepat


melakukan reformasi secara radikal untuk menghapuskan feodalisme dan
perbudakan; serta kesetaraan didepan hukum di semua wilayah yang
ditaklukkan, yang dikenal dengan Napoleon Code.

Pada pertengahan abad ke sembilan belas, industrialisasi menyebar cepat


hampir ke semua wilayah Eropa yang dikuasai Perancis, kecuali wilayah
Austria-Hungaria dan Rusia yang bukan wikayah kekuasaan Perancis; atau
Polandia dan Spanyol dimana Perancis hanya menguasai sementara saja, tetap
dibawah institusi negara yang ekstraktif.

Jepang-Cina

Sebelum Restorasi Meiji 1868, secara ekonomi, Jepang termasuk negara


belum berkembang dibawah kontrol shogun keluarga Tokugawa sejak 1600.
Shogun adalah kelompok sosial dominan feodalistik, semacam tuan tanah
(penguasa sipil), yang sangat berkuasa dimasyarakat, sementara raja hanyalah
seremonial belaka. Shogun Satsuma, yang dikuasai keluarga Shimazu, berkuasa
di wilayah selatan. Berbeda dengan Tokugawa, dibawah shogun Satsuma,
perdagangan antar negara diperbolehkan. Dimulai dari kekuasaan shogun
Satsuma yang didukung banyak pihak inilah berujung pada tergulingnya
kekuasaan ekstraktif Tokugawa dan kembali pada kekuasaan tunggal raja
Komei, yang wafat setelah satu bulan Restorasi Meiji dideklarasikan (3 Januari
1868). Meiji, putra Komei, menggantikannya, dan sejak itu politik dan ekonomi
inklusif diterapkan.

Pada tahun 1869, kesetaraan didepan hukum mulai diperkenalkan, serta


pembatasan migrasi dan perdagangan juga tidak diperkenankan. Pemerintah
mulai banyak terlibat pembangunan infrastruktur, mulai dari pengembangan
jalur kapal uap Tokyo-Osaka, pembangunan jalan keretaapi Tokyo-
Yokohama, industri manufaktur terus dikembangkan dan impor mesin tekstil
dilakukan untuk modernisasi pembuatan kain katun.

Seperti halnya dengan Jepang, Cina adalah negara miskin pada pertengahan
abad 19, karena rejim absolut. Demikian juga halnya Jepang yang dimasa
Tokugawa melarang perdagangan antar negara pada abad 17, kekuasaan dinasti
Cina telah mulai melakukan hal yang sama lebih awal dan menentang perubahan
politik dan ekonomi. Perbedaannya adalah, birokrasi Cina terpusat dibawah
kekuasaan absolut kerajaan (bukan penguasa sipil), bersifat ekstraktif dan sulit
untuk dirubah, walaupun pemberontak sering terjadi. Sementara Jepang dibawah
shogun Satsuma, menyadari sepenuhnya bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa
dicapai dengan reformasi institusi dan kekuasaan shogun harus dibubarkan. Alih-
alih melakukan reformasi institusi, pemerintah Cina malah impor senjata modern
dari Inggris untuk mempertahankan kekuasaannya, sementara Jepang justru
mengembangkan sendiri industri senjatanya.

Sebagai konsekuensi dari perbedaan mendasar pada karakter institusinya,


Cina dan Jepang memberikan respon yang sangat berbeda terhadap tantangan
titik kritis Revolusi Industri abad 19. Sementara institusi Jepang mulai berubah
lebih inklusif dan ekonomi menjadi tumbuh dengan cepat, desakan perubahan di
Cina tidak cukup kuat bahkan semakin buruk pada masa Revolusi Kebudayaan
di masa Mao.
Kesimpulan

Contoh-contoh di atas bermaksud menjelaskan bahwa bukanlah Budaya,


Geografi atau Pengetahuan yang menyebabkan suatu bangsa menjadi kaya
atau miskin, melainkan kemauan, semangat dan kerja-keras para pemimpin
dan rakyatnyalah yang menentukan.

Perbedaan sukses ekonomi yang terjadi di berbagai negara


disebabkan oleh institusi-institusi dan aturan-aturannya yang mempengaruhi
jalannya ekonomi, serta insentif terhadap bangsanya.

Pertumbuhan dibawah institusi ekstraktif tidak akan berlangsung


lama, karena:

Pertumbuhan ekonomi yang langgeng (menerus) membutuhkan adanya


inovasi, yang berdampak distruktif kreatif sehingga menggantikan sistem
ekonomi yang lama dengan yang baru, dan juga mendestabililisasi relasi
kekuasaan politik yang ada

Kekuasaan politik yang mampu mendominasi institusi ekstraktif untuk


mengambil untung dari para pihak yang kalah, berakibat munculnya keinginan
banyak pihak untuk melakukan perebutan kekuasaan.

Perubahan besar institusional merupakan syarat terjadinya perubahan


besar ekonomi, yang terjadi sebagai akibat interaksi antara institusi yang ada
dengan kondisi kritis (critical junctures). Kondisi kritis dimaksud adalah
perubahan-perubahan besar yang mengakibatkan terjadinya keseimbangan baru
antara politik dan ekonomi didalam satu masyarakat atau lebih. Misalnya,
peristiwa Black Death, yang menewaskan setengah populasi hampir seluruh
Eropa selama abad 14M; pembukaan rute perdagangan Atlantis yang
menghasilkan keuntungan besar masyarakat Eropa Barat; dan Revolusi Industri
yang menyebabkankan perubahan positif, besar dan cepat dalam hal struktur
ekonomi dunia.