Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELLITUS

(Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2)

Disusun Oleh:
Kelas A Keperawatan Medikal Bedah II

Dosen Mata Kuliah :

Ns. Wiwin Winarti, Skep, M. Epid.M.N

Ilmu Keperawatan S1
Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NEGERI “VETERAN”


JAKARTA
2019
Pengertian,Klasifikasi,dan Pravelensi Diabetes Melitus (DM)

Hopipah Indah Nursobah 1710711053

1. Pengertian

Diabetes Melitus adalah penyakit kronis progresif yang ditandai dengan


ketidakmampuan tubuh untuk melakukan metabolism karbohidrat, lemak, dan protein,
mengarah ke hiperglikemi. Hubungan gula dengan DM adalah sesuai karena lolosnya
sejumlah besar urine yang mengandung gula.

2. Klasifikasi
a. DM tipe 1

Menurut Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) DM tipe
1 disebut sebagaiinsulin dependent diabetes mellitus(IDDM). DM tipe 1 merupakan hasil
destruksi autoimunsel beta,mengarah kepada defisiensi insulin absolut.

b. DM tipe 2

Menurut Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) DM tipe
2 disebut sebagai non insulin dependent diabetes mellitus(NIDDM). DM tipe 2 terjadi
Akibat dari defeksekresi insulin progresif diikuti dengan resistensi insulin, umumnya
berhubungan dengan obesitas.

c. DM Gestasional
DM yang didiagnosis selama hamil. Terjadi pada 2-5% perempuan hamil namun
menghilang ketika kehamilannya berakhir. DM ini sering terjadi pada keturunan
Amerika-Afrika, Amerika Hispanik, Amerika Pribumi, dan perempuan dengan riwayat
keluarga DM.

d. DM tipe lain
Mungkin akibat dari defekgenetik fungsi sel beta, penyakit pancreas (misal kistik
fibrosis), atau penyakit yang diinduksi oleh obat-obatan.
e. Pradiabetes : Glukosa Puasa Terganggu(GPT) /Toleransi GlukosaTerganggu (TGT)
GPT adalah konsentrasi glukosadiantara 100-125 mg/dl sedangkan TGT
didefinisikansebagai tes toleransi glukosa oral 2 jam dengan konsentrasi glukosa diantara
140-199 mg/dl.

3. Pravelensi

Diabetes mellitus telah menjadi sebuah epidemidi Amerika serikat dengan 21juta
orang (7% dari populasi)memiliki penyakit DM.Sebagai masalah kesehatan masyarakat yang
signifikan, DM merupakan penyebab utama ke-6 kematian di Amerika Serikat. Sementara
itu, perkiraan total biaya DM di AS tahun 2002 adalah 132 triliun dolar AS.

Tahun 1980-an pravelensi penduduk dengan diabetes mellitus pada usia 15 tahun ke
atas sebesar 1,5-2,3 % dengan pravelensi di daerah rural/pedesaan lebih rendah dibandingkan
perkotaan.

Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001mendapatkan pravelensi diabetes


mellitus pada penduduk usia25-64 tahun di Jawa dan Bali sebesar 7,5%.
Pada tahun 2015, 415 juta orang dewasa di dunia dengan diabetes kenaikan4 kali
lipat dari 108 juta di 1980-an. Pada 2040 diperkirakan jumlahnya akan menjadi 642 juta
(IDF Atlas 2015). Hampir 80% orang diabetes ada di Negara berpenghasilan menengah
ke bawah. Pada tahun 2015 persentase orang dengan diabetes adalah 8,5% (1 dari 11
orang dewasa menyandang diabetes)

Sumber :
Black&Hawks. 2014. Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Positive
Outcome. Singapore : Elsevier.
http://www.depkes.go.id/resources/pusdatin/infodatin

Etiologi Dan Faktor Resiko Diabetes Melitus

A. Faktor Keturunan / Genetik

Penderita Diabetes Mellitus tidak mewarisi DM Tipe I itu sendiri tapi mewarisi suatu
predisposisi/kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM Tipe 1. Ini ditentukan pada
individu yang mempunyai tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu yaitu HLA
DR-3 dan HLA DR-4. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen
tranplantasi dan proses imun lainnya.

B. Faktor Imunologi
Respon abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara
bereaksi terhadap jaringan tersebut yang diangap seolah-olah jaringan asing. Tubuh
kehilangan kemampuan untuk membentuk insulin karena sistem kekebalan tubuh
menghancurkan sel yang memproduksi insulin.

C. Faktor Lingkungan

Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan
destruksi pada sel beta pankreas.Virus atau zat kimia yang menyebabkan kerusakan pada
pulau sel (Kelompok sel) dalam Pankreas. Kemungkinan seseorang menderita akan semakin
besar apabila semakin banyak pulau yang rusak.

Faktor Resiko Diabetes Melitus Tipe II

a. Usia

Umumnya manusia mengalami penurunan fungsi fisiologis dengan cepat ada usia setelah
40 tahun. Penurunan ini yang akan beresiko pada penurunan fungsi pankreas untuk
memproduksi insulin (Sujono & Sukarmin, 2008 hlm.73)

b. Obesitas

Obesitas mengakibatkan sel-sel beta pankreas mengalami hipertrofi yang akan


berpengaruh pada penurunan produksi insulin. Hipertrofi pankreas disebabkan karena
peningkatkan beban metabolisme glukosa pada penderita obesitas untuk mencukupi energi sel
yang terlalu banyak (Sujono & Sukarmin, 2008 hlm.73)

c. Kurang Olahraga

Pada orang yang kurang olahraga, zat makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak
dibakar tetapi ditimbun dalam tubuh sebagai lemak dan gula. Jika insulin tidak mencukupi
untuk mengubah glukosa menjadi energi maka akan timbul DM. (Kemenkes, 2010)

d. Stress
Saat mengalami stress, adanya produksi kortisol secara berlebihan yang
mengakibatkan sulit tidur, depresi, tekanan darah menurun, yang menjadikan individu lemas,
bahkan meningkatkan nafsu makan. (Clonninger, 1996, dalam Safaria dan Saputra, 2009)

e. Pola Makan Berlebihan

Makan secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan produksi insulin dalam jumlah
yang memadai dapat menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan menyebabkan
diabetes mellitus.

Tanda dan Gejala DM

- Novitasari (1710711006)
- Farras Jihan Afifah (1710711119)
3 gejala utama:

- Mudah lapar (polifagia)


Di awal diabetes, penderitanya akan merasa lapar berlebihan, sekalipun sudah makan
dengan teratur. Hal ini disebabkan karna makanan yang dimakan sulit diubah menjadi
energi akibat kekurangan hormon insulin.
- Mudah haus (polidipsi)
Penderita diabetes biasanya akan mudah merasa haus, sehingga lebih sering minum air.
Hal ini berhubungan dengan jumlah buang akhir kecil yang sering.
- Sering buang air kecil (poliuria)
Ketika kadar gula dalam darah terlalu tinggi, tubuh akan berusaha untuk
mengeluarkannya melalui urine. Itulah mengapa penderita diabetes akan lebih sering
buang air kecil. Hal ini pula yang kemudian menyebabkannya menjadi sering haus.

1. Diabetes Melitus Tipe 1


Diabetes melitus tipe 1 adalah kondisi yang gejalanya secara mendadak dan biasanya
terdiri dari:
 Pandangan yang kabur
 Meningkatnya frekuensi buang air kecil
 Lebih cepat haus dan lapar
 Lebih mudah terinfeksi
 Rasa lelah yang menyerang setiap saat
Kelebihan glukosa ditemukan dalam darah dan tidak dalam sel. Karena sel tubuh
kehilangan glukosa sebagai sumber energi utama, penderita dapat merasa
kelelahan hampir setiap waktu. Kemampuan fisik menurun dan penderita jadi
sangat cepat lelah.
 Luka yang lama sembuh
 Sering merasa kaku atau kesemutan pada kaki
 Berat badan yang semakin menurun, seseorang yang sedang dalam tahap pra-
diabetes dapat menderita penurunan berat badan yang tidak biasa. Ini dapat terjadi
karena kehilangan gula secara berlebihan dalam urin. Tubuh mulai menggunakan
protein otot dan lemak sebagai sumber energi, yang mengakibatkan penurunan
berat badan.
2. Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi yang memiliki gejala cukup signifikan. Mereka
yang memiliki diabetes melitus tipe 2 sering tidak mengalami gejala apapun pada masa
awal. Mereka bahkan dapat tidak menyadari gejalanya selama beberapa tahun.
 Rasa lapar meningkat
 Rasa haus meningkat
 Buang air kecil yang sering, khususnya malam hari
 Luka yang lambat pulih atau sering infeksi
 Pandangan buram
Peningkatan kadar gula darah menyebabkan perubahan bentuk lensa mata. Seiring
berjalannya waktu, daya fokus mata berkurang dan pandangan menjadi buram.
 Lelah
 Rasa sakit atau mati rasa pada kaki dan tangan
 Kesemutan
 Gatal
 Gatal pada kemaluan (wanita)
 Disfungsi ereksi (pria)
3. Diabetes Gestasional
Gejala diabetes saat kehamilan muncul ketika kadar gula darah melonjak tinggi
(hiperglikemia). Di antaranya:
 Sering merasa haus
 Frekuensi buang air kecil meningkat
 Mulut kering
 Tubuh mudah lelah
 Penglihatan buram

Pemeriksaan Penunjang

Oleh :
Niasa Lora
Lilis Dwi

 Kadar Glukosa Darah Puasa

Saat klien tidak makan makanan selain minum air selama paling tidak 8 jam. Sampel darah ini
secara umum mencerminkan kadar glukosa dari produksi hati. Diagnosis DM dibuat ketika kadar
glukosa darah klien > 126 mg/dl. Nilai antara 110 – 125 mg/dl mengindikasikan intoleransi
glukosa puasa.

 Kadar Glukosa Darah Sewaktu

DM berdasarkan manifestasi dan kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl. Sampel glukosa
darah diambil sewaktu-waktu tanpa puasa. Peningkatan kadar glukosa darah mungkin terjadi
setelah makan,situasi penuh stress, dan dalam sampel yang diambil dari lokasi IV atau dalam
kasus DM.

 Kadar Glukosa Darah Setelah Makan

Kadar glukosa darah setalah makan diambil setelah 2 jam makan standard mencerminkan
efisiensi pengambilan glukosa yang diperantarai insulin oleh jaringan perifer. Secara normal,
kadar glukosa darah seharusnya kembali ke kadar puasa di dalam 2 jam. Kadar glukosa darah 2
jam setalah makan > 200 mg/dl. Pada lansia, kadar glukosa setalah makan lebih tinggi meningkat
5-10 mg/dl per dekade setelah usia 50 tahun karena penurunan normal toleransi glukosa
berhubungan dengan usia. Merokok dan minum kopi dapat mengarah kepada peningkatan nilai
palsu saat 2 jam, sedangkan stress olahraga dapat mengarah kepada penurunan nilai palsu.

Nilai Glukosa Plasma

Glukosa Plasma Puasa < 110 mg/dl Glukosa puasa normal

110-125mg/dl Glukosa puasa terganggu

>126 mg/dl Diagnosis DM

<140-199 mg/dl Intoleransi glukosa terganggu


>200 mg/dl Diagnosis DM

Uji Laboratorium Terkait DM

 Kadar Hemoglobin Glikosilase

Glukosa secara normal melekat dengan sendirinya pada molekul hemoglobin dalam sel darah
merah. Oleh karena itu lebih tinggi kadar glukosa darah, kadar henmoglobin glikosilase juga
lebih tinggi ( HbA1c). Batasan HbA1c dirujuk sebagai A1C. A1C adalah kadar glukosa darah
yang diukur lebih dari 3 bulan sebelumnya. AIC bermanfaat dalam mengevaluasi pengendalian
glikemia jangka panjang. Untuk menghindari komplikasi terkait diabetes, ADA
merekomendasikan menjadi kadar A1C dibawah 7%. A1C seharusnya dilakukan tiap 6 bulanan
pada klien yang telah memenuhi target primer pengendalian glikemik ( <7% ) dan setiap 3
bulanan pada klien yang belum mencapai target primer pengendalian glikemik. Kondisi-kondisi
yang meningkatkan pergantian eritrosit, seperti perdarahan, kehamilan, atau asplenia mengarah
kepada konsetrasi A1C rendah palsu. Dosis tinggi aspirin,alcohol, terapi heparin dapat
menyebabkan peningkatan kadar A1C palsu.

 Kadar Albumin Glikosilase

Glukosa juga melekat pada protein, albumin secara primer. Konsetrasi albumin glikosilase
mencerminkan kadar glukosa darah rata-rata jangka pendek diperlukan.

 Kadar Connecting Peptide ( C-Peptida )

Ketika proinsulin diproduksi oleh sel beta pankreas sebagian dipecah oleh enzim, 2 produk
terbentuk insulin, dan connecting peptide, umumnya disebut C-peptide. C-peptide dan insulin
dibentuk dalam jumlah yang sama. Ini mengindikasikan jumlah produksi insulin endogen. DM
tipe 1 biasanya memiliki konsentrasi C-peptide rendah tau tidak ada. DM tipe 2 cendrung
memiliki kadar normal atau peningkatan c-peptide.

 Ketonuria
Kadar keton urine dapat dites dengan tablet atau dipstrip pleh klien. Adanya keton dalam urine
(disebut ketonuria) mengindikasikan bahwa tubuh memakai lemak sebagai sumber utama energi,
yang mungkin mengakibatkan ketoasidosis.

 Proteinuria

Microalbuminuria mengukur jumlah protein di dalam urine (proteinuria) secara mikroskopis.


Adanya protein ( microalbuminuria ) dalam urine adalah gejala awal dari penyakit ginjal. ADA
merekomendasikan semua klien DM di uji microalbuminuria setiap tahun. Namun, beberapa
klien perlu pemeriksaan lebih sering untuk mendeteksi perjalanan penyakit ginjal terkait efek
yang tidak diinginkan dari obat-obat tertentu pada ginjal.

 Pemantau Glukosa Darah Sendiri ( PGDS )

PGDS direkomendasikan untuk semua klien tanpa memperhatikan apakah klien dengan DM
Tipe 1, Tipe 2, atau DM gestasional. Frekuensi dan waktu PGDS bergantung pda kebutuhan dan
tujuan dari masing-masing induvidu klien. DM Tipe 1 dan ibu hamil yang mendapat insulin,
PGDS direkomendasikan >3 kali sehari. Tes seharusnya dilakukan sebelum setiap makan,
sebelum waku tidur, dan mungkin pada pertengahan malam ( 3 pagi ). DM Tipe 2 , frekuensi dan
waktu PGDS disepakati bersama antara klien dengan DM tipe 2 mendapat obat-obat oral, PGDS
tidak dimonitoring sesering klien DM Tipe 2 yang mendapat insulin. Waktu ekstra untuk kadar
PGDS seharusnya termasuk sebagai berikut.

1. Ketika memulai obat baru atau insulin


2. Ketika memulai obat yang memengaruhi kadar glukosa darah ( steroid )
3. Ketika sakit atau di bawah banyak stress/ tekanan
4. Ketika menduga bahwa kadar glukosa terlalu tinggi sebaliknya.
5. Ketika kehilangan atau penambahan berat badan
6. Ketika ada perubahan dosis obat, rencana diet, atau rencana aktivitas fisik.

Sumber :
Joyce M. Black dan Jane Hokanson Hawks.2014.Keperawan Medikal Bedah Edisi 8.Singapura:
ElSevier.
Penatalaksanaan Medis

Dinna Wahyuni 1710711009


Ayu Inda Puspitasari 1710711137

Penatalaksanaan medis bagi pasien dengan DM meliputi pengembalian dan pemeliharaan


kadar glukosa senormal mungkin dengan diet seimbang,olahraga,dan penggunaan obat
hipoglikemik oral (OHO) atau insulin.

1. Mempertimbangkan Nutrisi yang Tepat

Penatalaksanaan diet adalah komponen esensial dari penatalaksanaan dan


perawatan diabetik. Tujuan umum dari penatalaksaan diet adalah membantu klien dengan
DM meningkatkan pengendalian metabolisme dengan mengubah perilaku makan. Tujuan
khusus meliputi:

1) Memperbaiki kadar lemak dan glukosa


2) Menyediakan asupan makanan hari ke hari secara konsisten (pada DM tipe 1)
3) Memfasilitasi pengelolaan berat badan (pada DM tipe 2)
4) Memberikan nutrisi adekuat untuk seluruh tahap kehidupan.

a. Alkohol

Klien dengan DM tidak perlu berhenti minum alkohol sama sekali, akan tetapi petugas
pelayanan kesehatan harus sadar efek potensial yang tidak diharapkan alcohol terhadap
DM dank arena itu perlu mengedukasi klien-klien tersebut.alkohol dapat juga
mengganggu klien untuk mengidentifikasi dan mengobati hipoglikemia.

b. Pemanis Buatan
Pemanis buatan mungkin membantu klien mencapai keinginan pembatasan asupan kalori.
Pemanis nutrisif seperti fruktosa,sorbitol, dan xylitol mengandung kalori sama dengan
sukrosa tapi pemanis tersebut mengurangi peningkatan kadar glukosa darah. Sakarin,
aspartame (Nutrasweet), dan sukralosa (Splenda) adalah contoh pemanis nonntritif yang
telah disetujui oleh Food and Drug Administation (FDA) bagi klien dengan DM.
2. Meningkatkan Aktivitas Fisik Teratur
Sebuah aktifitas fisik terencana adalah bagian penting rencana asuhan kepada klien
dengan DM. Aktifitas fisik menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan
metabolism karbohidrat, membantu mendjaga dan menurunkan BB, meningkatkan
sensitivitas insulin, meningkatkan kadar high-density lipoprotein.

Efek samping primer dari aktivitas fisik akut adalah hipoglikemia (kadar glukosa rendah).
Terkadang hiperglikemia (kadar glukosa naik) dan ketosis pada klien dengan DM tipe 1.
Hipoglikemia adalah factor risiko penting bagi klien yang latihan fisik sambil memakai
insulin dan OHO. Penyesuaian kadang dibutuhkan untuk mencegah hipoglikemia pada
klien yang memakai insulin, karena produksi glukosa hepatic dihalangi atau dihambat
sebagian oleh insulin eksogen. Sebagai contoh, pengurangan 30-50% insulin kerja
pendek dapat menurunkan risiko hipoglikemia.klien yang menjalankan rencana diet dan
aktifitas fisik untuk mengendalikan DM tidak berisiko hipoglikemia saat berolahraga.

3. Penyuluhan
Penyuluhan kesehatan pada penderita diabetes melitus merupakan suatu hal yang
amat penting dalam regulasi gula darah penderita DM dan mencegah atau setidaknya
menghambat munculnya penyakit kronik yang ditakuti oleh penderita.
Penyuluhan diperlukan karena penyakit diabetes penyakit yang berhubungan
dengan gaya hidup. Berhasilnya pengobatan diabetes tergantung pada kerjasama antara
petugas kesehatan ddengan pasien dan keluarganya. Pasien yang mempunyai
pengetahuan cukup tentang diabetes, kemudian selanjutnya mengubah perilakunya, akan
dapat mengendalikan kondisi penyakitnya sehingga ia dapat hidup lebih lama.
Penyuluhan dapat dilakukan dengan macam-macam cara atau media misalnya :
leaflet, poster, TV, kaset video duskusi kelompok dan sebaginya.

4. Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersamaan dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
(gaya hidup sehat)
1. Obat
 Obat antidiabetes (OAD)/Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
Kerja utama dari dari kebanyakan obat-obatan tersebut adalah menstimulus sel
beta pancreas untuk memproduksi insulin lebih banyak atau meningkatkan
respons jaringan terhadap insulin.
Sulfonilurea dan meglitinid merupakan obat antidiabetes oral yang menstimulus
sel beta pancreas untuk mengeluarkan insulin. Generasi kedua sulfonylurea juga
meningkatkan respons jaringan terhadap insulin dan menurunkan produksi
glukosa oleh hati.
Biguanid meningkatkan respon jaringan terhadap insulin , menurunkan produksi
glukosa,
Tiazolidinedion meningkatkan kerja insulin pada resepto dan postreseptor dalam
hepatic dan jaringan perifer untuk menurunkan resisten insulin.
Penghambat Alfa-glukosidase memperlambat pencernaan karbohidrat komplek
dan gula tertentu untuk menimbukan puncak kadar glukosa dan kadar insulin
setelah makan.
 OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secera bertahap sesuai dengan
respon kadar glukosa darah, dapat diberikan sampai dosis optimal.

2. Insulin
Pemberian insulin lebih dini akan menunujukkan hasil klinis yang lebih baik,
terutama masalah glukotosisitas. Hal ini menunjukkan hasil perbaikkan fungsi sel
beta pankreas.Terapi insulin dapat mencegah kerusakan endetol, menekan proses
inflamasi, mengurangi kejadian apoptosis serta memperbaiki profil lipid.

Sumber insulin . insulin dibuat dengan teknologi DNA rekombinan (human


insulin) dengan durasi kerja berbeda. Insulin bekerja untuk menurunkan kadar
glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel dan
menghambat perubahan glikogen dan asam amino ke dalam glukosa.
Dosis insulin. Terapi insulin seharusnya berbeda setiap individu. Untuk klien
dengan diagnose DM baru rejimen sederhana dengan dosis tetap mungkin
digunakan pertama kali. Permulaan dosis insulin 0.5 unit/kg/hari. Dosis insulin
sangat bervariasi karena pengaruh berbagai tipe insulin.

Tempat pemberian insulin


1. Abdomen
2. Lengan posterior
3. Paha anterior
4. Bokong
Rotasi tempat penyuntikan dilakukan secara sistemastis untuk
meningkatkan konsistensi absorpsi insulin.

Insulin kerja cepat


Perkembangan analog insulin kerja-cepat disetujui tahun1996 untuk
memperkecil keterbatan penyerapan human insulin regular. Insulin kerja cepat
analog insulin lispro (Humalog) dan insulin aspart (Novolog) telah menjadi dasar
manajemen klien DM tipe 1 dan 2. Kedua analog memberikan banyak manfaat
dalam mencapai pengendalian glukosa dan mungkin bertujuan mencegah atau
memperlambat komplikasi terkait DM.
Humalog dan Novolog tersedia sebagai insulin premixed mengandung
komponen kerja sedang. Humalog mix 75.25 mengandung 75% insulin lispro
dalam bentuk Kristal protamine (kerja sedang) dan 25% larutan (kerja cepat)
insulin lispro. Novolog mix 70/30 mengandung campuran 70% insulin aspart
bentuk Kristal protamine (kerja sedang) dan 30% larutan (kerja cepat) insulin
aspart. Pemberian insulin campuran menghasilkan glikemia lebih normal pada
klien dibandingkan penggunaan insulin tunggal. Ketika insulin kerja cepat
dicampurkan dengan insulin kerja sedang atau kerja lama, insulin seharusnya
diberikan di dalam 15 menit sebelum makan.

Dosis Insulin
Dosis insulin sangat bervariasi karena pengaruh berbagai tipe insulin.
Didalam penentuan dosis, tim pelayanan kesehatan harus mempertimbnagkan
dengan baik persyaratan klien dan respon klien terhadap insulin. Setelah
stabilisasi awal, tim membantu klien belajar bagaimana membuat penyesuaian di
dalam dosis insulin, waktu, asupan makanan, dan olahraga. Fluktuasi kadar
glukosa darah yang tidak dapat dijelaskan sering terjadi. Tim perlu membantu
klien merasa percaya diri dalam kemampuan klien untuk mengendalikan DM.

Terapi Pompa Insulin


Pompa kecil mudah dibawa-bawa untuk pemberian insulin regular terus-menerus
kadang digunakan. Pompa kecil, dipakai di luar, menyuntikan insulin secara
subkutan ke dalam perut melalui sebuah tempat jarum indwelling yang diganti
setiap 1-3 hari. Insulin di infuskan secara normaL pada laju kecepatan basal
rendah (laju kecepatan yang cocok dengan kebutuhan metabolik basal klien),
dengan menambahkan jumlah infus insulin lebih besar (bolus) sebelum makan.

Pompa insulin umumnya memperbaiki glukosa darah dengan cara infus


insulin subkutan secara terus-menerus. Namun, alat itu tidak terpasang
mekanisme umpan balik untuk memantau kadar glukosa darah. Untuk
kemanfaatan pemakaian pompa insulin, klien harus patuh dengan syarat diet dan
biasanay harus memeberi insulin bolus sebelum makan secara tepat. Klien harus
juga memantau kadar glukosa darah 4 kali sehari dan buat keputusan dosis dnegan
menggunakan keterampilan memecahkan masalah. Komplikasi dari pemakaian
pompa insulin meliputi infeksi pada tempat penyuntikan, hipoglikemi dari tidak
berfungsinya pompa atau kesalahan menghitung dosis insulin, dan ketoasidosis
diabetik dari injeksi insulin terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan tetap atau
peningkatan metabolisme.
Insulin hirup
Insulin hirup sebuah alternatif untuk insulin suntik, telah dites keamanan dan
efikasi serta telah dites keamanan dan efikasi serta disetujui oleh FDA bulan
januari 2006 untuk dipakai orang yang memiliki DM Tipe 1 dan 2 usia >18 tahun.
Exubera adalah produk insulin isap yang pertama kali disetujui untuk dipakai di
Amerika Serikat.

Terapi DM Intensif
Klien dalam kelompok pengobatan intensif belajar menyesuaikan dosis
insulinnya untuk menjaga kadar glukosa senormal mungkin. Pengobatan
mencakup ≥ 3 suntik insulin sehari atau pemakaian pompa insulin; kadar PGDS ≥
4 kali sehari; rencana makan spesial; rawat inap setiap bulan. Klien pada
kelompok pengobatan konvensional mengikuti rejimen yang meliputi injeksi
insulin sekali atau 2 kali sehari; PDGS harian; dan kunjungan klinik setiap 3
bulan.
Hasil penelitian mengindikasikan bahwa terapi intensif memperlambat
onset atau perkembangan komplikasi kronis DM sebesar 35% sampai >70%.
Risiko hipoglikemia lebih tinggi pada kelompok pengobatan intensif
dibandingkan kelompok pengobatan konvensional. Namun, risiko dipercaya
menjadi lebih besar dari pada dengan pengurangan komplikasi neurologi dan
mikrovaskular.
Terapi Kombinasi
Terapi kombinasi didefinisikan sebagai penggunaan ≥2 obat antidiabetes
oral atau obat oral dikombinasi dnegan insulin. Beberapa klien DM tipe 2
(kebanyakan nonobesitas) yang hanya minum obat sulfonilurea gagal
menormalkan kadar glukosa darah, terapi insulin telah dibutuhkan untuk
mencapai kontrol metabolik sangat dini dalam perjalanan penyakit. Pada klien ini,
dosis insulin harian mencolok lebih tinggi dibandingkan dengan klie DM tipe 1.
Hal ini dihubungkan dengan resistansi insulin. Oleh karena obat sulfonilurea
mempertinggi pengaru insulin endogen dengan mengurangi resistansi insulin, hal
ini dipikirkan bahwa mengkombinasikan insulin dengan sulfonilurea mungkin
menjadi efektif. Satu resep obat adalah insulin kerja sedang pada waktu tidur
dengan waktu siang hari sulfonilurea. Rejimen ini umumnya disebut BIDS
(Bedtime insulin with daytime sulfonylurea).

Daftar Pustaka
Black, J. M., & Hawks, J. H. (edisi 8 Buku 3). Keperawatan Medikal Bedah. ELSEVIER.

KOMPLIKASI

a. Makrovaskular
terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah besar seperti di jantung dan diotak yang
sering mengakibatkan kematian serta penyumbatan pembuluh darah besar diekstremitas
bawah yang mengakibatkan ganggren dikaki sehingga banyak penerita DM yang harus
kehilangan kaki karena harus diamputasi.

1. Infark miokard
Terhentinya aliran darah dari arteri koroner pada area yang terkena, yang menyebabkan
kekurangan O2 (iskemia) lalu sel mengalami kematian.

2. Stroke Trombotik
Penyumbatan aliran darah yang terjadi akibat pembekuan darah didalam salah satu arteri
otak.

3. Ulkus diabetik
Luka yang muncul dan berkembang akibat gangguan saraf tepi, kerusakan struktur tulang
kaki, serta penebalan dan penyempitan pembuluh darah yang sering terjadi pada
penderita diabetes.

4. Hipertensi
Pembuluh darah yang menyempit karna disebabkan kadar glukosa dalam darah yang
tinggi sehingga terjadi pemecahan lemak yang dimana LDL (lemak jahat) meningkat,
sehingga menyebabkan kerja jantung lebih keras dan tekanan darah meningkat, karna hal
ini juga, jantung jadi lelah dan menyebabkan CHF (Congestive Heart Faillure).

b. Mikrovaskular
terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah kecil seperti di ginjal yang dapat
menyebabkan penderita mengalami gangguan ginjal dan di mata yang dapat
mengakibatkan penderita mengalami gangguan penglihatan bahkan kebutaan.

1. Neuropatika diabetika
jenis kerusakan saraf yang terjadi karena penyakit diabetes. Kadar gula darah yang tinggi
dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan kerusakan pada serabut saraf di seluruh
tubuh, seperti tungkai, kaki, peredaran darah, jantung, sistem pencernaan, dan saluran
kemih. Neuropati diabetik termasuk komplikasi serius dari penyakit diabetes

2. Retinopati diabetika

Retinopati diabetik merupakan komplikasi dari penyakit diabetes yang memicu


penyumbatan pada pembuluh darah pada bagian retina mata. Retina adalah lapisan di
bagian belakang mata yang sensitif terhadap cahaya. Retina berfungsi mengubah cahaya
yang masuk ke mata menjadi sinyal listrik, yang kemudian akan diteruskan ke otak. Di
otak, sinyal listrik tersebut akan dipersepsikan sebagai gambar.
Agar dapat berfungsi dengan baik, retina membutuhkan asupan darah dari pembuluh
darah di sekitarnya. Pada penderita diabetes, kadar gula darah yang tinggi secara perlahan
akan menyumbat pembuluh darah tersebut, sehingga asupan darah ke retina berkurang.
Akibatnya, retina akan membentuk pembuluh darah baru guna mencukupi kebutuhan
darah. Namun, pembuluh darah yang baru terbentuk ini tidak berkembang secara
sempurna, sehingga rentan pecah atau bocor.

3. Nefropati diabetika
Nefropati diabetik adalah jenis penyakit ginjal yang disebabkan oleh diabetes. Penyakit
ini dapat terjadi pada penderita diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. Makin lama
seseorang menderita diabetes, atau adanya faktor risiko lain seperti hipertensi, makin
tinggi juga risikonya terserang nefropati diabetik.

Nefropati diabetik terjadi ketika diabetes menyebabkan kerusakan dan terbentuknya


jaringan parut pada nefron. Nefron adalah bagian ginjal yang berfungsi menyaring limbah
dari darah, dan membuang kelebihan cairan dari tubuh. Selain menyebabkan fungsinya
terganggu, kerusakan tersebut juga membuat protein yang disebut albumin terbuang ke
urine dan tidak diserap kembali.

ASKEP PASIEN DENGAN DIABETER MILLETUS

Nur Aulia Fikri 1710711039

Rifah Miladina 1710711040

Diagnosa Keperawatan Pasien Diabetes Melitus

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif


2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan diabetes melitus
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor
biologis
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
5. Risiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis (diabetes melitus)
6. Ketidakefektifan koping berhubungan dengan krisis situasi (penyakit progresif, jangka
panjang yang tidak dapat disembuhkan)

Kasus dengan Pasien Diabetes Melitus

Seorang pasien dirawat diruang perawatan umum rumah sakit swasta. Pasien dirawat dengan
keluhan tubuhnya lemas nyaris pingsan. Akhir-akhir ini pasien sering mengeluh haus, sering
BAK, sering merasa lapar, berat badan turun 5kg dalam satu bulan ini. Keluhan lain yang
dirasakannya adalah mudah lelah, suka terasa “kesemutan” pad jari-jari tangan atau kaki, serta
penglihatannya jadi kabur. Hasil pemeriksaan Gula Darah 423 g/dL dan HbA1c meningkat.
Pasien diberikan insulin. Sebelunya pasien meminum metformin. Pasien bertanya bagaimana
bisa terkena penyakit ini. Diagnosa medis pasien DM Tipe II, perawat dan dokter serta
paramedic lainnya terkait melakukan perawatan secara integrasi untuk menghindari/mengurangi
resiko komplikasi lebih lanjut.
Data fokus

Data subjektif Data Objektif


 Pasien dirawat dengan keluhan  Pasien diberikan Insulin
tubuhnya lemas nyaris pingsan  Pasien sebelumnya meminum metformin
 Pasien mengeluh haus  Membrane mukosa kering (Data Tambahan)
 Pasien mengeluh sering BAK  Turgor kulit menurun (Data Tambahan)
 Pasien mengeluh sering merasa  Diagnosa Medis: DM Tipe II
lapar  Terdapat edema pada ekstremitas bawah
 Pasien mengeluh BB turun
sebanyak 5kg dalam satu bulan (Data Tambahan)
 Pasien mengeluh mudah lelah  TD: 130/90 mmHg
 Pasien mengeluh sering merasa  RR: 20x/menit
kesemutan pada jari-jari tangan  HR: 70x/menit
dan kaki  S: 37,80C
 Pasien mengeluh penglihatan  Hasil pemeriksaan:
menjadi kabur  Gula Darah: 423 mg/dL
 Pasien bertanya bagaimana  HbA1c meningkat
bisa terkena penyakit DM Tipe • Frekuensi BAK 10x/hri (data tambahan)
II • Banyaknya BAK 600cc (data tambahan)
• Hematokrit 30% (data tambahan)
• Hiperglikemi (data tambahan)
• CRT <2 (data tambahan)
• Perubahan warna kulit kaki menjadi hitam
(data tambahan)
• Kulit kaki pecah-pecah (data tambahan)
• Denyut nadi dorsal pedis tidak teraba (data
tambahan)
• Kaki terasa kebas (baal) (data tambahan)

Analisa Data

No Data Masalah Keperawatan etiologi


1 DS: Kekurangan volume Kehilangan cairan
Pasien dirawat dengan keluhan cairan aktif
tubuhnya lemas nyaris pingsan
Pasien mengeluh haus
Pasien mengeluh sering BAK
Pasien mengeluh mudah lelah
Pasien mengeluh BB turun sebanyak
5kg dalam satu bulan

DO:
Pemeriksaan Gula Darah: 423
Hematokrit 30%
Hiperglikemi
CRT <2
Pemeriksaan TTV:
S: 37,80C
Frekuensi BAK = 10x/hari
Banyaknya Urine = 60

2. DS: Ketidakefektifan Diabetes Melitus


Pasien mengeluh sering merasa perfusi jaringan
kesemutan pada jari-jari tangan dan perifer berhubungan
kaki dengan diabetes
Pasien mengeluh penglihatan menjadi melitus
kabur
Pasien mengeluh lemas

DO:
Pasien diberikan Insulin
Diagnosa Medis: DM Tipe II
Pemeriksaan TTV (Data Tambahan)
TD: 130/90 mmHg
RR: 20x/menit
HR: 70x/menit
S: 37,80C
Hasil pemeriksaan:
Gula Darah: 423 mg/dL
CRT <2
Perubahan warna kulit kaki menjadi
hitam
Kulit kaki pecah-pecah
Denyut nadi dorsal pedis tidak teraba
Kaki terasa kebas (baal)
HbA1c meningkat
3. DS: Defisit pengetahuan Kurang informasi
Pasien bertanya bagaimana bisa
terkena penyakit DM
DO:
Gula Darah = 423 mg/dl
Hba1c = 1

Diagnosa Keperawatan

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif


2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan diabetes melitus
3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

Intervensi

No Tujuan dan Kriteria Hasil Tindakan Keperawatan


DX
1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Cairan
selama 2x24 jam diharapkan masalah • Berikan terapi cairan IV
keperawatan Kekurangan volume cairan • Monitor respon pasien terhadap
berhubungan dengan Kehilangan cairan aktif terapi yang diberikan
dapat teratasi dengan kriteria hasil: • Monitor TTV
• Monitor status hidrasi
Status Hidrasi
 Membrane mukosa lembab (skala 4) Manajemen Pengobatan
 Turgor kulit (skala 4)  Tentukan obat yang diperlukan
 Kehausan normal (6-8 gelas/hr) (insulin rapid acting/short
 Hemtokrit normal acting/ long acting)
Wanita = 35-45 %  Monitor efektivitas cara
laki-laki = 40-50% pemberian insulin yang sesuai
• TTv normal (GDS)
Sh : (36,5-37°C)  Monitor respon terhadap
TD : (110/70 – 120/80 mmHg) perubahan pengobatan dengan
HR : ( 80-90x/mnt) cara yang tepat (frekuensi urine
menurun, banyak nya urine
Manajemen Pengobatan menurun)
• GDS menurun (150-200 mg/dl)
• GDP menurun (125-175 mg/dl) Manajemen Elektrolit
• Monitor manisfestasi
Manajemen Elektrolit ketidakseimbangan elektrolit
• Keseimbangan elektrolit normal (Na • Berikan diet sesuai dengan
dan Ka) kondisi ketidkseimbangan
• Frekuensi BAK menurun (dari 10x/hari elektrolit klien.
menjadi 5x/hari) • Monitor respon pasien terhadap
• Banyaknya BAK menurun (<500cc) terapi elektrolit

Kolaborasi:
 Kolaborasi dengan dokter
dalam memberikan terapi IV
 Kolaborasi dengan dokter
dalam terapi medikasi

2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen sensasi perifer:


selama 2x24 jam diharapkan masalah • Monitor sensasi tumpul dan
keperawatan Ketidakefektifan perfusi jaringan tajam dan panas dan dingin
perifer berhubungan dengan Diabetes melitus • Instruksikan pasien dan
dapat teratasi dengan kriteria hasil: keluarga untuk memeriksa
adanya kerusakan kulit setiap
Perfusi jaringan perifer harinya
• Mati rasa tidak ada (skala 5) • Dorong pasien menggunakan
• Kerusakan kulit tidak ada (skala 5) alas kaki yang sesuai ( ukuran
harus lebih dari ukuran normal,
Status sirkulasi : berbahan lembut, berhak
• Kekuatan nadi dorsalis pedis kanan dan pendek)
kiri tidak terganggu (skala 5)
• Luka ekstermitas bawah tidak ada Perawatan Kaki
(skala 5) • Periksa kulit untuk mengetahui
• Capilary refil normal (5 detik) adanya iritasi, retak, lesi
• Periksa sepatu pasien agar
Pengetahuan manajemen diabetes dapat menggunakan dengan
• Praktik pencegahan perawatan kaki tepat
• Hiperglikemia dan gejala terkait • Anjurkan pasien akan
• Memantau glukosa darah pentingnya pemeriksaan kaki
• Memantau efek terapik obat terutama ketika sensasi mulai
berasa berkurang

Pengecekan Kulit
• Amati warna, kehangatan,
bengkak. pulsasi., tekstur,
edema dan ulserasi pada
ektermitas.
• Monitor kulit untuk adanya
kekeringan yang berlebihan dan
kelembapan
• Ajarkan anggota keluarga atau
pemberi asuhan mengenai
tanda-tanda kerusakan kulit
3. Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pendidikan Kesehatan:
selama 2x24 jam diharapkan masalah • Tekankan pentingnya pola
keperawatan defesiensi pengetahuan makan yang sehat, tidur,
berhubungan dengan kurang informasi dapat berolahraga dan lain lain.
teratasi dengan kriteria hasil: • Tentukan pengetahuan
kesehatan dan gaya hidup
Pengetahuan : Manajemen Diabetes perilaku saat ini pada individu,
• Tanda dan gejala awal penyakit (skala keluarga, atau kelompok
4) sasaran
• Faktor-faktor penyebab dan faktor yang
berkontribusi klien mengetahui Pengajaran : Perawatan Kaki
• Peran olahraga dalam mengontrol • Gali pengetahuan dan
glukosa darah klien memahami keterampilan pasien terkait
• Penggunaan insulin yang benar klien perawatan kaki
memahami • Jelaskan perlunya
menggunakan alas kaki yang
Perilaku Patuh: diet yang disarankan : direkomendasikan
• Memakan makanan yang sesuai dengan • Intruksikan untuk memeriksa
diet yang di tentukan klien mengetahui bagian dalam sepatu setiap hari
• Memilih Porsi yang sesuai dengan diet terhadap adanya benda asing
yang ditentukan klien mengetahui ataupun lipatan ataupun area
• Mengkuti rekomendasi dalam dalam yang kasar
tahap diet klien mengetahui
Pengajaran Proses Penyebab
penyakit:
• Kaji tingkat pengetahuan
Pengetahuan : Manjemen Infeksi pasien terkait dengan proses
• Faktor berkontribusi pada penularan penyakit yang spesifik
infeksi klien memahami • Jelaskan tanda dan gejala yang
• Tanda dan Gejala infeksi klien umum dari penyakit, sesuai
mengetahui kebutuhan
• Pentingnya mematuhi pengobatan klien • Jelaskan mengenai proses
memahami penyakit , sesuai kebutuhan

Pengaruh Senam Diabetes dan Jalan Kaki Terhadap Penurunan Kadar Gula
Darah Pada Pasien Dm Tipe II Di Puskesmas Krueng Barona Jaya Aceh Besar

DESCRIPTION
Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyakit kronik dengan prevalensi penderita
yang terus meningkat. Salah satu terapi yang dapat diberikan adalah olahraga fisik seperti senam
diabetes dan jalan kaki untuk menurunkan kadar gula darah melalui peningkatan pemakaian
glukosa oleh otot saat latihan.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas senam dan jalan kaki dalam
menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe II. Penelitian ini merupakan
penelitian quasi experiment dengan pre- dan post-test with two group design. Populasi penelitian
adalah 50 penderita diabetes mellitus tipe 2 dengan sampel sebanyak 44 orang. Pengumpulan
data menggunakan glokometer (Auto Check Blood Glocose Monitor). Analisa mengunakan uji
paired t-test dan Independent T-test.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap penurungan


kadar gula darah (KGD) pada pasien diabetes mellitus type II akibat kegiatan senam diabetes (p-
value = 0.002) dan jalan kaki (p-value = 0.001). Kegiatan olahraga yang baik, benar, teratur dan
terukur dapat dipertimbangkan untuk menstabilkan kadar gula darah (KGD) pasien diabetes
mellitus type II.

Kata Kunci : Senam, Jalan Kaki, kadar gula darah

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic disease with increasing prevalence. One of therapies that
can be given to those diagnosed with this disease is physical exercise, such as doing gymnasics
and walking.

Those kinds of physical exercises are able to lower blood sugar levels by increasing the
amount of glucose consumed by muscles during the exercise. The objective of this research was
to identify the effects of doing gymnastics and walking in decreasing blood sugar levels among
patients with type 2 diabetes mellitus. This research was a quantitative research using quasi-
experimental method with two-group pre- and post-test design. A total 44 of 50 patients with type
2 diabetes mellitus were involved in the study. Data were collected using a glucose meter (Auto
Check Blood Glucose Monitor) and then analyzed by paired t-test and independent t-test.
Results indicate that blood sugar level was significantly correlated with doing gymnasics
(p-value = 0.02) and walking (p-value = 0.01). Doing gymnastics and walking could provide
positive effects in the reduction of blood sugar levels of patients with type 2 diabetes mellitus.

Keywords: Gymnastics, Walking, Blood Sugar Level

Korespondensi:

* Rehmaitamlem, Magister Keperawatan, Fakultas


Keperawatan, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda
Aceh, Email: reh.maita@yahoo.co.id

Summary : Latar belakang, Metodologi, Hasil, dan Simpulan

Latar Belakang
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis dimana organ pankreas sudah tidak
dapat menghasilkan insulin secara cukup atau saat tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan
insulin yang dihasilkan sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam
darah (hiperglikemia). Hiperglikemia dalam jangka panjang dapat menimbulkan komplikasi
mikrovaskular (retinopati, nefropati, neuropati) dan komplikasi makrovaskular (aterosklerotik,
stroke, angina, infark miokardium, gangren) (Price & Wilson, 2005).

Diabetes Melitus (DM) adalah salah satu masalah kesehatan di dunia. Pada tahun 2013 di
dunia diperkirakan terdapat lebih dari 382 juta orang terkena diabetes mellitus, dan pada tahun
2035 jumlahnya diperkirakan akan meningkat menjadi 592 juta orang. Kebanyakan orang
dengan diabetes hidup di negara yang mempunyai penghasilan rendah dan menengah (Whiting,
Guariguata, Weil, & Shaw, 2011). Pada tahun 2010 sampai 2030, diperkirakan akan ada
peningkatan penderita DM sebesar 69% di Negara yang sedang berkembang dan hanya 20%
pada negara-negara maju (Shaw, Sicree, & Zimmet, 2010).

Di Indonesia, jumpah penderita diabetes melitus diperkirakan berjumlah 8,4 juta jiwa
pada tahun 2000 dan akan menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Tegawati, Karini, &
Widya, 2009). Prevalensi DM di Indonesia mencapai 4,7% dari populasi nasional dan
diperkirakan akan mencapai 5,9% pada tahun 2030. Propinsi Aceh termasuk dalam daftar
provinsi dengan jumlah penderita penyakit DM terbanyak di Indonesia. Diperkirakan jumlah
penderita DM mencapai 417.600 orang atau sekitar 8,7 persen dari total penduduk di provinsi
Aceh. Secara umum, prevalensi penyakit DM di provinsi Aceh adalah 1,8%. (Riskesdas, 2013).

Penyakit DM mempunyai kaitan dengan gaya hidup manusia sehari-hari. Pendidikan


kesehatan terkait Penyakit DM sangat penting untuk mencegah serta memperbaiki kualitas terapi
bagi penderita DM. Latihan fisik mempunyai peran penting dalam mengendalikan kadar gula
darah (KGD). Latihan ini dapat dimulai dengan terapi senam dan jalan santai yang baik sehingga
baik penderita maupun keluarga bisa mendapatkan pengobatan yang maksimal (Indriyani,
Supriyatno, & Santoso, 2007). Perubahan gaya hidup yang terjadi sekarang ini misalkan pola
kebiasaan makan dan kurangnya olah raga merupakan faktor penyebab terjadinya resistensi
insulin. Agar kadar gula darah dapat selalu dalam keadaan terkendali, penderita diabetes perlu
mengupayakan gaya hidup sehat misalnya dengan mengatur pola makan supaya makan yang
tidak berlebihan serta meningkatkan aktivitas fisik seperti olah raga senam atau latihan jasmani
(Ernawati, 2013).

Latihan jasmani merupakan upaya awal dalam mencegah, mengontrol, serta mengatasi
meningkatnya kadar glukoksa dalam darah. Salah satu latihan jasmani yang dianjurkan adalah
senam DM. Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) (2000 dikutip Rahim, dkk, 2015)
menyebutkan bahwa senam diabetes merupakan aktifitas fisik yang dirancang berdasarkan usia
dan status fisik dan merupakan bagian dari pengobatan diabetes melitus. Ilyas (2015),
mengungkapkan bahwa latihan jasmani yang berupa olah raga dapat menyebabkan terjadinya
peningkatan aliran darah, pembuluh kapiler lebih banyak terbuka sehingga lebih banyak tersedia
reseptor insulin dan reseptor menjadi akan lebih aktif yang akan berdampak terhadap penurunan
glukosa darah pada pasien diabetes. Olahraga adalah gerakan badan untuk menguatkan dan
menyehatkan tubuh. Berbagai hasil penelitian yang ada menunjukkan hasil yang bervariasi
terhadap efektivitas olah raga bagi penderita diabetes mellitus. Hasil penelitian Budi &
Nugrahini (2011), misalnya, menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan antara senam
diabetes terhadap penurunan kadar gula darah. Sementara itu, hasil penelitian yang dilakukan
oleh (Rahim, 2015) menunjukkan adanya pengaruh gerakan fisik terhadap penuruna kadar gula
darah sewaktu.
Hasil wawancara yang penulis lakukan kepada ketua penanggung jawab program terkait
dengan penyakit DM disalah satu puskesmas di Aceh, teridentifikasi belum dilakukannya
kegiatan senam dan jalan kaki pada penderita DM. Olahraga khusus yang dimaksud adalah
senam diabetes (Fronalis) dan jalan kaki. Oleh karena itu, berdasarkan hasil literatur serta data
studi pendahuluan yang ada, peneliti merasa perlu melakukan penelitian lebih jauh tentang
bagaimana pengaruh senam Diabetes dan jalan kaki terhadap penurunan kadar gula darah pada
pasien diabetes mellitus tipe II.

Metode
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menggunakan metode quasi experiment
dengan pre- dan post-test two group design. Populasi penelitian adalah 40 orang dari 50 pasien
DM Tipe II yang kemudian dibagi kedalam 2 (dua) kelompok yaitu 25 orang kelompok senam
diabetes (kelompok 1) dan 25 orang kelompok jalan kaki (kelompok 2). Dalam proses penelitian
terdapat beberapa responden dari kelompok senam dan jalan kaki yang tidak hadir atau tidak
dapat menyelesaikan seluruh kegiatan intervensi (drop out). Total sampel yang tersisa, yang
dapat menyelesaikan semua kegiatan intervensi adalah 44 orang, yaitu masing-masing 22 orang
untuk kelompok kelompok senam diabetes dan 22 orang untuk kelompok jalan kaki.

Pre-test Intervensi Pot-tes

50 orang 44 orang 44 orang

Gambar 1. Jumlah responden yang berpartisipasi dalam penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan November 2017 disalah satu
wialayah kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Besar. Ijin etik penelitian didapatkan dari Komite
Etik Penelitian Keperawatan Fakultas Keperawatan Univesitas Syiah Kuala.
Kegiatan senam diabetes dilakukan sebanyak 6 kali, masing-masing dengan durasi 30
menit. Sedangkan kegiatan jalan kaki dilakukan sebanyak 6 kali dalam waktu 2 minggu dengan
durasi 30 menit untuk setiap sesi senam.

Hasil Penelitian

Pengaruh Senam Diabetes terhadap Penurunan Kadar Gula Darah (KGD)


Pengaruh Senam Diabetes Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah responden dapat
dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1 Perbedaan Kadar Gula Darah (KGD) responden sebelum dan sesudah Senam Diabetes (n = 22)

Waktu Kadar Gula darah


P value
Pengukuran (mean+SD)

Pre test 198.27+89.16

0.002
Post test 172.91+74.35

Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa secara statistik ada pengaruh yang signifikan dari kegiatan
senam diabetes terhadap penurunan nilai KGD (p value = 0.002) pada Penderita DM Tipe II.

Pengaruh Jalan Kaki terhadap Penurunan Kadar Gula Darah (KGD)

Pengaruh jalan kaki terhadap penurunan KGD


reponden dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini
Tabel 2 Perbedaan Kadar Gula Darah (KGD) responden sebelum dan sesudah Jalan Kaki (n = 22)

Waktu Kadar Gula darah P Value


Pengukuran (mean+SD)

Pre test 212.27+69.39

0.001
Post test 178.86+52.34

Tabel 2 menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari kegiatan jalan kaki terhadap
penuruan nilai KGD (p value = 0.001) pada Penderita DM Tipe II.

Perbedaan efektivitas Senam Diabetes dan Jalan Kaki terhadap Penurunan


Kadar Gula Darah (KGD)
Perbedaan efektivitas pengaruh Senam Diabetes dan Jalan Kaki terhadap Penurunan Kadar Gula
Darah (KGD) dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3 Perbedaan efektivitas Senam Diabetes dan Jalan Kaki terhadap penurunan KGD Responden
(n=44)

Kelompok Kadar Gula darah


P-Value
intervensi (mean+SD)

Senam Diabetes 185. 59+17.93 0.68

Jalan Kaki 195. 56+23.62

Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari nilai mean
kadar gula darah pada kelompok senam diabetes dan kelompok jalan kaki (p value = 0.68) pada
Penderita DM Tipe II.

Pembahasan
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara kadar gula darah
(KGD) sebelum dan sesudah kegiatan senam diabetes (p value 0.002), dimana KGD pada masa
sebelum kegiatan senam diabetes lebih tinggi dari sesudah kegiatan senam diabetes. Ilyas (2005)
menyebutkan bahwa senam diabetes mellitus tipe 2 berperan dalam pengaturan kadar glukosa
darah karena glukosa otot yang sedang bekerja dapat mencapai kenaikan sampai 15-20 kali lipat
akibat peningkatan laju metabolic pada otot yang aktif dan hal ini dapat memperbaiki profil
lemak, meningkatkan sensitivitas insulin sehingga akan menurunkan glukosa darah. Selain
bermanfaat dalam mengontrol kadar glukosa darah, senam pada diabetes mellitus tipe 2 juga
dapat menurunkan berat badan (Ilyas, 2005).

Terkait efek jalan kaki, hasil penelitian ini mengindikasikan adanya perbedaan antara
kadar gula darah (KGD) sebelum dan sesudah kegiatan jalan kaki (value 0. 001). Jalan kaki
adalah salah satu olahraga yang mudah dilakukan oleh penderita diabetes melitus (Ilyas, 2015).
Tasman (2017) menyebutkan bahwa individu dengan penyakit diabetes yang melakukan kegiatan
jalan kaki mengalami penurunan rata-rata kadar gula darah sebanyak 50 mg/dl. Dalam penelitian
lain, Widiya (2015) menemukan bahwa kegiatan olahraga jalan santai sejauh 2 KM dengan
waktu tempuh selama 30 menit dapat menurunkan kadar gula darah (KGD) secara bermakna
pada penderita diabetes melitus. Jalan kaki dilakukan secara teratur, 3-4 kali seminggu selama
kurang lebih 30 menit dapat memperbaiki profil lemak, menurunkan berat badan, dan menjaga
kebugaran. Jalan kaki selain berguna untuk kebugaran, juga penting untuk menurunkan berat
badan, meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga akan menurunkan glukosa darah (Perkeni,
2011).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti antara
penurunan kadar gula darah (KGD) rata-rata pada kegiatan jalan kaki dibandingkan dengan
kegiatan senam diabetes pada penderita DM tipe II. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan
olahraga yang dilaksanakan secara baik, benar, teratur dan terukur akan membantu menstabilkan
kadar gula darah (KGD), membantu mengurangi kebutuhan insulin atau obat-obatan serta
memelihara berat badan.

Kesimpulan
Kegiatan aktifitas fisik, baik senam diabetes maupun jalan kaki, sangat baik dilakukan
oleh penderita diabetes melitus tipe II untuk menurunkan kadar gula darah. Kegiatan olahraga
apabila dilaksanakan secara baik, benar, teratur dan terukur akan membantu menstabilkan kadar
gula darah (KGD), membantu mengurangi kebutuhan insulin atau obat-obatan serta memelihara
berat badan.

Judul : Pengaruh Senam Diabetes dan Jalan Kaki


terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien
DM Tipe II Di Puskesmas Krueng Barona Jaya Aceh
Besar
Subject : Senam diabetes, Jalan Kaki, Penurunan Kadar
Gula Darah, Diabetes Mellitus
Correspondensi : Rehmaitamlem
Contributor : 1. Mudatsir

2. Teuku Tahlil

Alamat Correspondensi : Email: reh.maita@yahoo.co.id

Pembahasan dan Kesimpulan

1. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan November 2017 disalah
satu wialayah kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Besar. Ijin etik penelitian didapatkan
dari Komite Etik Penelitian Keperawatan Fakultas Keperawatan Univesitas Syiah
Kuala
2. Kegiatan senam diabetes dilakukan sebanyak 6 kali, masing-masing dengan durasi 30
menit. Sedangkan kegiatan jalan kaki dilakukan sebanyak 6 kali dalam waktu 2 minggu
dengan durasi 30 menit untuk setiap sesi senam.
3. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara kadar gula darah
(KGD) sebelum dan sesudah kegiatan senam diabetes (p value 0.002), dimana KGD pada
masa sebelum kegiatan senam diabetes lebih tinggi dari sesudah kegiatan senam
diabetes. Ilyas (2005) menyebutkan bahwa senam diabetes mellitus tipe 2 berperan
dalam pengaturan kadar glukosa darah karena glukosa otot yang sedang bekerja dapat
mencapai kenaikan sampai 15-20 kali lipat akibat peningkatan laju metabolic pada otot
yang aktif dan hal ini dapat memperbaiki profil lemak, meningkatkan sensitivitas insulin
sehingga akan menurunkan glukosa darah. Selain bermanfaat dalam mengontrol kadar
glukosa darah, senam pada diabetes mellitus tipe 2 juga dapat menurunkan berat badan
(Ilyas, 2005).
4. Terkait efek jalan kaki, hasil penelitian ini mengindikasikan adanya perbedaan antara
kadar gula darah (KGD) sebelum dan sesudah kegiatan jalan kaki (value 0. 001). Jalan
kaki adalah salah satu olahraga yang mudah dilakukan oleh penderita diabetes melitus
(Ilyas, 2015). Tasman (2017) menyebutkan bahwa individu dengan penyakit diabetes
yang melakukan kegiatan jalan kaki mengalami penurunan rata-rata kadar gula darah
sebanyak 50 mg/dl. Dalam penelitian lain, Widiya (2015) menemukan bahwa kegiatan
olahraga jalan santai sejauh 2 KM dengan waktu tempuh selama 30 menit dapat
menurunkan kadar gula darah (KGD) secara bermakna pada penderita diabetes melitus.
Jalan kaki dilakukan secara teratur, 3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit
dapat memperbaiki profil lemak, menurunkan berat badan, dan menjaga kebugaran. Jalan
kaki selain berguna untuk kebugaran, juga penting untuk menurunkan berat badan,
meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga akan menurunkan glukosa darah (Perkeni,
2011).
5. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti antara
penurunan kadar gula darah (KGD) rata-rata pada kegiatan jalan kaki dibandingkan
dengan kegiatan senam diabetes pada penderita DM tipe II. Hal ini mengindikasikan
bahwa kegiatan olahraga yang dilaksanakan secara baik, benar, teratur dan terukur akan
membantu menstabilkan kadar gula darah (KGD), membantu mengurangi kebutuhan
insulin atau obat-obatan serta memelihara berat badan.
6. Kegiatan aktifitas fisik, baik senam diabetes maupun jalan kaki, sangat baik dilakukan
oleh penderita diabetes melitus tipe II untuk menurunkan kadar gula darah. Kegiatan
olahraga apabila dilaksanakan secara baik, benar, teratur dan terukur akan membantu
menstabilkan kadar gula darah (KGD), membantu mengurangi kebutuhan insulin atau
obat-obatan serta memelihara berat badan.