Anda di halaman 1dari 39

BAB II

KERANGKA TEORITIS

A. Kecerdasan Intelektual

1. Pengertian Kecerdasan Intelektual

David Wechler (dalam Staff IQ-EQ), inteligensi adalah kemampuan untuk

bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara

efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu

kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional (Ginanjar;

2009:78).

Kecerdasan intelektual (berpikir seri) menganggap “berpikir” sebagai

aktifitas yang linear, logis, dan tidak melibatkan perasaan diturunkan dari logika

formal Aristoteles dan arimatika : “jika x,maka y”, maka “2 + 2 = 4”. Manusia telah

jauh berkembang dalam jenis kecerdasan ini, jauh melampaui semua jenis

hewan.komputer bahkan lebih hebat lagi dalam hal ini. Otak mampu melakukan hal

ini karena adanya sejenis jaringan syaraf yang di kenal dengan jalur syaraf (neural

tracts), Anastasi; 1997:23.

Keunggulan kecerdasan intelektual adalah akurat, tepat, dan dapat di

percaya. Namun, pemikiran yang melandasi sains Newtonian ini bersifat linier dan

deterministik (jika A, pasti B). Jenis pemikiran ini tidak membuka kemungkinan

terjadinya nuansa atau ambiguitas, dikarenakan ketaatanya terhadap serangkaian

aturan yang dimilikinya. Pemikiran ini akan berantakan apabila sasaranya bergeser,

ibarat komputer yang di suruh mengerjakan sesuatu tugas yang tidak dikenal dalam

programnya (Anastasi; 1997:34).


James Carse (Finite and Infitinite Games, dalam Zohar & Marshall, 2001)

mengungkapkan bahwa pemikiran seri atau kecerdasan adalah finite games

(permainan terbatas). IQ tidak berguna ketika individu ingin menggali wawasan baru

atau berurusan dengan hal-hal tak berguna.

Mengenang kematian Wolfgang Amadeus Mozart yang ke 207, musisi

andal ini telah di pakai untuk berbagai tujuan. Eksploitasi seperti ini tidak

mengherankan, karena karya Mozart telah berbicara kepada demikian banyak orang

selama bertahun-tahun dengen demikian banyak cara yang ampuh. Pembicaraan

mengenai Mozart juga telah dilakukan dengan berbagai cara sebagai seorang yang

jenius, orang yang luar biasa, seorang ahli, seorang yang berbakat, kreatif, cerdas, dan

mendapat karunia. Saya berharap hal ini dipandang sebagai bukti yang patut

dihormati, bukannya sebagai tanda untuk dieksploitasi lebih lanjut, bila saya

menggunakan kasus Mozart untuk dua tujuan lebih lanjut : (1) untuk klarifikasi alami

dan istilah yang kami gunakan dalam berbicara mengenai individual yang luar biasa;

dan (2) memperkenalkan perspektif tertentu yang saya kemukakan untuk diperhatikan

dalam bidang bakat atau karunia (Walgito; 2010:70).

Mozartn mempunyai ciri-ciri positif yang melimpah. Dia adalah prototype

kami dari seorang dengan bakat istimewa, yang berkembang dengan cepat seperti

Pablo Picasso atau John Stuart Mill, berbakat tidak wajar seperti musisi rekannya

Felix Mendelsshon atau Camille Saint Saens. Dipandang sebagai kreatif secara tak

tehingga, seperti individual yang sangat jelas seperti Igor Stravinsky atau Richard

Wagner walaupun menunjukan kecerdikan yang secara mempunyai karakter

evolusioner bukannya revolusioner. Dia produktif seperti rekan sezamannya yang

menghasilkan banyak karya, Anatonio selieri atau Karl Ditters Von Dittersdorf dan

dia dikaruniai kecerdasan dalam, untuk memahami kondisi manusia secara mendalam

seperti yang di jumpai pada diri Samuel Johnson atau Goethe, pada diri Valezquez

atau Rembrandt.
Mahasiswa Mozart, dan untuk masalah ini, mahasiswa phiskologi mungkin

memberiakan situasinya seperti apa adanya. Terminology mempunyai kecendrungan

untuk berkembang,dan biasanya, sedikit merugikan karena istilah yang jumlahnya

berlebihan. Sekalipun demikian kadang-kadang mungkin berharga untuk melangkah

kembali dan memperhatikan bagaimana orang mungkin memperluas dan menerapkan

terminology ini dengan cara yang konsisten. Bila aplikasi seperti itu didasarkan pada

kerangka kerja teoritis yang saling berkaitan, kadang-kadang ini dapat membantu

dalam diskusi, riset, dan pemahaman. Dibawah ini di perkenalkan kerangka kerja

umum untuk dipertimbangkan mengenai apa yang saya sebut matriks keberbakatan,

dalam proses menyajikan kumpulan pembedaan yang saya harapkan akan terbukti

bermamfaat (Walgito; 2010:71).

2. Faktor-Fator Yang Mempengaruhi Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besat dari Allah SWT kepada

manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibanding dengan

makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus

mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks,

melalui proses berfikr dan belajar secara terus menurus. Sudah sepantasnya manusia

bersyukur, meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan

yang di milikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan

kelangsungan dan peradaban hidupnya.

Winarno dan Saksono (2001: 4) kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan

yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, beranalogi berimajinasi, dan

memiliki daya kreasi serta inovasi. Orang yang kecerdasan intelektualnya baik,

baginya tidak akan ada informasi yang sulit, semuanya dapat di simpan diolah dan di

informasikan kembali pada saat dibutuhkan.


Proses dalam menerima, menyimpan dan mengolah kembali informasi, (baik

informasi yang didapat lewat pendengaran, penglihatan, atau penciuman) bisa disebut

“berfikir”. Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan/ khazanah otak

manusia.

Daya pikirnya, manusia berusaha mensejahterakan diri dan kualitas

kehidupannya. Pentingnya menggunakan akal sangat dianjurkan oleh Islam. Tidak

terhitung banyak ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Rasullah Saw yang mendorong

manusia untuk selalu berfikir. Manusia tidak hanya disuruh memikirkan dirinya,

tetapi juga di panggil untuk memikirkan alam jagad raya. Dalam konteks Islam,

memikirkan alam semesta akan menghantarkan manusia kepada kesadaran akan ke

Maha Kuasa Sang Pencipta (Allah SWT). Dari sini difahami bahwa otak dan emosi

memiliki hubungan yang fungsional yang saling menentukan antara satu dan lainnya.

Penelitian Rappaport di era 70 an menyimpulkan bahwa emosi tidak hanya

diperlukan dalam penciptaan ingatan, tetapi emosi adalah dasar dari pengaturan

memori. Orang tidak pernah mencapai kesuksesan dalam bidang apapun kecuali

mereka senang menggeluti bidang itu. Jadi untuk mengoptimalkan kecerdasan

intelektual yang biasa di sebut dengan accelerated learning, tidak dapat tercapai

tampa bantuan aktifitas emosional yang positif (Ginanjar; 2009:7).

Orang sering kali menyamarkan arti inteligenitas dengan IQ, padahal kedua

istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Menurut David Wechler,

inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara

rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat di

simpulkan bahwa inteligensi adalah secara kemampuan mental yang melibatkan

proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara

langsung,melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan

manifestasi dari proses berfikir rasional itu.


Sedangkan IQ atau singkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang

diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan

sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak mengambarkan

kecerdasan seseorang secara keseluruhan (Walgito; 2010:79).

Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah

dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh

Alferd Binet,ahli psikologi dari prancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis

Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang

dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga

selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya

kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang

pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing

individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak di gunakan untuk mengukur

kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun (Carruso; 1999:43)

Inti kecerdasaan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa

dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat

badan kita, namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen

seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15

triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak

satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Kapasitas

memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang

jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami

penggunaan sisa memori sekitar 94 % (Carruso, 1999:44).


Tingkat kecerdasan seorang anak yang di tentukan secara metodik oleh IQ

(Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam

belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat

ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat mempengaruhi oleh garis

keturunan (genetic) yang dibawahnya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor

gizi makanan yang cukup (Ginanjar 2009:79).

IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa,

kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ

yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya

tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid,

disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan

gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seseorang anak adalah pada saat ia

memulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak

dengan IQ nya. Apabila seseorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan

bahasannya akan cepat dan banyak. (Ginanjar 2009:81)

Keunggulan kecerdasan intelektual adalah akurat, tepat,dan dapat di percaya.

Namun, pemikiran yang melandasi sains Newtonian ini bersifat linier dan

deterministik (jika A, pasti B). Jenis pemikiran ini tidak memberikan ini tidak

membuka kemungkinan terjadinya nuansa atau ambiguitas, dikarenakan ketaatannya

terhadap serangkaian anturan yang dimilikinya. Pemikiran ini akan berantakan

apabila sasarannya bergeser,ibarat komputer yang di suruh mengerjakan suatu tugas

yang tidak dikenal dalam programnya.

James Carse (Finite and Infinite Games, dalam Chakraborty, S.K, and

Chakraborty, 2004:67) mengungkapkan bahwa pemikiran seri atau kecerdasan

intelektual adalah finite games (permainan terbatas). IQ tidak berguna ketika individu

ingin menggali wawasan baru atau berurusan dengan hal-hal tak terduga.
David Wechler (dalam Staff IQ-EQ), inteligensi adalah kemampuan untuk

bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara

efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah sesuatu

kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.

Kecerdasan dalam arti umum adalah suatu kemampuan umum yang

membedakan kualitas orang yang satu dengan orang yang lain (chermis 1999:28)

Kecerdasan intelektual lazim disebut dengan inteligensi. Istilah ini

dipopulerkan kembali pertama kali oleh Francis Galton, seorang ilmuan dan ahli

matematika yang terkemuka dari inggris (Chermis,1998:28). Inteligensi adalah

kemampuan kognitif yang dimiliki organisme untuk menyesuaikan diri secara efektif

pada lingkungan yang kompleks dan selalu berubah serta dipengaruhi oleh faktor

genetik (Carruso, 1994:43).

Raven memberikan pengertian yang lain. Reven mendefinisikan inteligenitas

sebagai kapasitas umum individu yang nampak dalam kemampuan individu untuk

menghadapi tautan kehidupan secara rasional dalam Suryabrata (1998:66).

Intelligensi lebih difokuskan kepada kemampuannya dalam berpikir. Wechsler

seorang ilmuan dari Amerika adalah orang yang membuat test inteligensi WAIS dan

WISC yang banyak digunakan diseluruh dunia. Ia mengemukakan bahwa inteligensi

adalah kemampuan global yang dimiliki oleh individu agar bisa bertindak secara

terarah dan berfikir secara bermakna serta bisa berinteraksi dengan lingkungan secara

efisien (dalam Anastasi dan Urbina, 1997:220).

Anastasi (1997:221) mengelompokkan inteligensi ke dalam dua katagori.

Katagori yang pertama adalah g faktor atau biasa disebut dengan kemampuan kognitif

yang di miliki individu secara umum, misalnya kemampuan mengingat dan berpikir.

Katagori yang kedua disebut dengan s faktor yaitu merupakan kemampuan khusus

yang dimiliki individu ( Eysenck 1991:13). G faktor lebih merupakan potensi dasar

yang dimiliki oleh setiap orang untuk belajar dan beradaptasi.


Intelligensi ini dipengaruhi oleh faktor bawaan. Faktor s merupakan intelligensi yang

dipengaruhi oleh lingkungan sehingga faktor s yang dimiliki oleh orang yang satu

akan berbeda dengan orang lain. Setiap faktor s pasti mengandung faktor g.

Istilah inteligensi digunakan dengen pengertian yang luas dan bervariasi,

tidak hanya oleh masyarakat umum tetapi juga oleh anggota-anggota berbagai

disiplin ilmu Strernberg dalam Anastasi (1997:220) mengatakan bahwa intellegensi

bukanlah kemampuan tunggal dan seragam tetapi merupakan komposit dari berbagai

fungsi. Istilah ini umumnya digunakan untuk mencakup gabungan kemampuan-

kemampuan yang di perlukan untuk bertahan dan maju dalam budaya tertentu.

Kemampuan intelektual ini dapat di ukur dengan suatu alat tes yang biasa disebut IQ

(Intellegence Qoutient). IQ adalah ekspresi dari tinggkat kemampuan individu pada

saat tertentu, dalam hubungan dengan norma usia yang ada (Anastasi, 1997:220).

Eysenck (1991:26) menyebutkan bahwa ada berbagai macam pengukuran intelegensi

dan setiap tes IQ yang digunakan akan disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan dari

penggunaan tes IQ tersebut.

Wirjasantosa (1984:170) mengemukakan indikator-indikator dari kecerdasan

intelektual. Penelitiannya tentang kecerdasan ialah menyangkut upaya untuk

mengetahui keeratan besarnya kecerdasan dan kemauan terhadap prestasi kerja. Ia

meneliti kecerdasan dengan mengunakan alat tes kecerdasan yang di ambil dari tes

intelegensi yang di kembangkan oleh Peter Lauster, sedangkan pengukuran besarnya

kemauaan dengan menggunakan alat tes Pauli dari Richard, khusus menyangkut

besarnya penjumlahan. Pauli menyebutkan tiga indikator kecerdasan intelektual yang

menyangkut tiga domain kognitif. Ketiga indiaktor tersebut adalah :

a. Kemampuan figur yaitu merupakan pemahaman dan nalar dibidang bentuk

b. Kemampuan verbal yaitu merupakan pemahaman dan nalar dibidang bahasa

c. Pemahanan dan nalar dibidang numerik atau yang berkaitan dengan angka biasa

disebut dengan kemampuan numeric (Anastasi 1997:79)


Penelitian yang dilakukan oleh Wiramihardja ini merupakan hasil korelasi

positif yang segnifikat untuk semua hasil tes dari indikator kecerdasan terhadap

prestasi kerja dan variabel kemauaan, baik itu kecerdasan figural, kecerdasan verbal,

maupun kecerdasan numerik. Istilah kecerdasan intelektual lebih dikhususkan pada

kemampuan kognitif. Behling (1998:189) mendefinisikan kemampuan kognisi yang

diartikan sama dengan kecerdasan intelektual, yaitu kemampuan yang didalamnya

mencakup belajar dan pemecahan masalah, menggunakan kata-kata dan simbol.

Pengukuran kecerdasan intelektual tidak dapat diukur hanya dengan satu

pengukuran tunggal. Para peneliti menemukan bahwa tes untuk mengukur

kemampuan kognitif tersebut, yang utama adalah dengan mengunakan tiga

pengukuran yaitu kemampuan verbal, kemampuan matematika, dan kemampuan

ruang (Hartanti 2004:5). Pengukuran lain yang termasuk penting seperti kemampuan

mekanik, motorik dan kemampuan artistik tidak di ukur dengan tes yang sama,

melainkan dengan menggunakan alat ukur yang lain. Hal ini berlaku pula dalam

pengukuran motivasi,emosi dan sikap (Moustafa dan Miller 2003:5).

B. Pengertian Kebugaran Jasmani

Depdiknas (2002:34) menjelaskan bahwa kebugaran jasmani adalah

kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan penyusuaian (adaptasi) terhadap

pembebanan fisik yang diberikan kepadanya (dari kerja yang dilakukan sehari-hari)

tampa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Tidak menimbulkan kelelahan yang

berarti maksudnya ialah setelah seseorang melakukan suatu kegiatan/ aktivitas, masih

mempunyai cukup semangat dan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan

untuk keperluan-keperluan lainnya yang mendadak.

Dewasa ini semakin banyak orang membicarakan istilah kebugaran jasmani,

seiring dengan anjuran pemerintah kepada Pegawai Neger,karyawan beserta

masyarakat untuk melakukan kegiatan senam kesegaran jasmani.


Hal ini disebabkan karena kesegaran jasmani memegang peranan penting dalam

menunjang sumber daya manusia, demikian pula dalam olahraga prestasi. Kesegaran

jasmani merupakan salah satu faktor penunjang yang penting bagi peningkatan

prestasi optimal. Terjemahan Physical fitness, dalam bahasa indonesia ada beberapa

istilah yang sering digunakan, seperti : kesegaran jasmani, kesempatan jasmani,

kondisi jasmani, kebugaran jasmani, serta kondisi fisik. Dalam penulisan ini penulis

cenderung menggunakan istilah kesegaran jasmani (Depdiknas 2004:35).

Definisi dari kesegaran jasmani sampai saat ini belum terdapat kesepakatan

bersama antar para ahli olahraga. Secara harfiah kesegaran jasmani berarti kesegaran

fisik, faktor kesesuaian fisik ini merupakan kebutuhan utama dalam kegiatan

olahraga. Interprestasi terhadap pengertian kesegaran jasmani masih berbeda-beda

antara lain: “kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk memenuhi

tugasnya sehari-hari dengan gampang tampa mengalami kelelahan yang berarti, dan

masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya

dan keperluan-keperluan yang mendesak”(Echols dan Shadily 1996:207).

Terdapat banyak pendapat tentang pengetian kebugaran jasmani diantaranya

adalah Wijoyo (1992 : 17) mengemukakan bahwa : kebugaran jasmani adalah

kecocokan keadaan fisik terhadap tugas yang dilaksanakan oleh fisik tersebut”.

Lebih lanjut Glan dan Teh (1992 : 10) menjelaskan bahwa :” kebugaran jasmani

adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari dengan giat dan penuh

kewaspadaan tampa mengalami kelelahan yang berarti sehingga masih memiliki

energi untuk menikmati waktu senggang dan keadaan darurat yang tidak terduga”.

Soemasardjono (1992 : 19) menjelaskan “kebugaran jasmani adalah

kemampuan seseorang untuk menunaikan tugasnya sehari-hari dengan gampang

tampa merasa lelah yang berlebihan dan masih mempunyai tenaga untuk menikamati

waktu sesungguhnya dan keperluan-keperluan yang mendadak”.


Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesegaran jasmani adalah

kesanggupan dan kemampuan fisik untuk melakukan pekerjaan dengan efesien

maupun untuk melakukan aktifitas selanjutnya. Setiap individu mempunyai tingkat

kesegaran jasmani yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga.

Dalam bidang olahraga untuk mencapai prestasi yang tinggi atau hasil yang

sebaik-baiknaya, adalah kesegaran jasmani yang baik merupakan persyaratan yang

tak dapat diabaikan. Suatu tingkat kesegaran jasmani yang tinggi dapat meningkatkan

penampilan olahraga dan mengatasi kemungkinan terjadi cedera (Moeluk 1998 : 2).

Jadi dalam setiap keadaan fisik (fisik mendapat pembebanan) dibutuhkan suatu

tingkat kesegaran jasmani yang didukung oleh tubuh. Dilain pihak, latihanpun harus

diprogramkan sedemikian rupa agar kualitas kesegaran jasmani dapat lebih baik.

C. Komponen Kebugaran Jasmani

Komponen kebugaran jasmani merupakan satu kesatuan yang utuh yang

tidak dipisahkan satu sama lain. Maksudnya adalah dalam meningkatkan kesegaran

jasmani maka seluruh komponen tersebut harus dikembangkan sesuai dengan

kebutuhan setiap orang dari komponen tersebut. Moeluk (1998 : 3) menjelaskan

unsur-unsur kesegaran jasmani yaitu:

1. Daya tahan (endurance)


2. Kekuatan otot (muscle strength)
3. Tenaga ledak otot (muscle eksploisif power)
4. Kecepatan (speed)
5. Kelincahan (agility)
6. Kelentukan (fleksibility)
7. Keseimbangan (balance)
8. Kecepatan reaksi (reaction temi)
9. Koordinasi (coordination)

Bedasarkan dari kutipan di atas, untuk lebih jelasnaya penulis menguraikan

sedikit mengenai masing-masing komponen kesegaran jasmani tersebut.


1) Daya Tahan

Daya tahan diartikan sebagai kemampuan melaksanakan kerja dengan

intensitas tertentu dalam jangka waktu yang lama, dengan kata lain seseorang yang

memiliki daya tahan mampu melakukan suatu kerja dengan intensitas tertentu dan

dalam jangka waktu yang lama. Hasono (1988 :73) membagi daya tahan ke dalam

dua jenis yaitu:

a. Daya tahan umum (general endurence) adalah kemampuan seseorang


dalam mempernguatkan sistem jantung, paru-paru dan peredaran darah
secara efektif terus menerus yang menyebabkan kontraksi sejumlah otot
dengan intesitas tinggi dalam waktu yang cukup lama.
b. Daya tahan otot setempat (lokal endurance) adalah kemampuan seseorang
dalam mempergunakan otot untuk mengkontraksi secara terus menerus
dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu.

Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa komponen daya tahan

merupakan faktor utama dalam mencapai suatu kesegara jasmani yang baik.

2) Kekuatan

Kekuatan otot menggambarkan kontraksi maksimal yang dihasilkan otot

atau sekelompok otot. Otot yang kuat akan membuat kerja otot sehari-hari bekerja

secara efesien seperti mengangkat, menjumping dan lain-lain serta akan membuat

bentuk tubuh menjadi lebih baik. (Sajoto 1988:45) menjelaskan “kekuatan otot adalah

kemampuan otot atau sekelompok otot untuk melakukan kerja dengan menaikkan

beban”.

Masalah kekuatan otot yang perlu diperhatikan adalah daya tahan otot, yaitu

suatu kemapuan otot atau sekelompok otot dalam melakukan kerja terus menerus dan

berulang kali dengan kekuatan otot yang dilatih secara sistematis dan

berkeseinambungan akan menjadi kuat. Agar mendapat jasmani yang baik, maka

semua otot tubuh harus dilatih, sehingga kekuatan otot menjadi maksimal.
3) Tenaga Ledak Otot

Harsono (1988 : 72) menjelaskan:” Tenaga ledak otot adalah kemampuan

otot dan sekelompok otot melakukan kerja secara eksplosif, yaitu kemampuan

seseorang untuk mempergunakan otot secara maksimal yang dikerahkan dalam waktu

yang sependek-pendeknya”. Dalam kehidupan sehari-hari diperlukan untuk

memindahkan sebagaian atau seluruh tubuh dari satu tempat ketempat lain yang

dilakukan suatu saat secara tiba-tiba. Tenaga ledak otot dipengaruhi oleh kekuatan

atau kecepatan kontraksi, maka untuk mendapatkan tenaga ledak otot kedua tersebut

harus dilatih lebih dahulu.

4) Kecepatan (speed)

Menurut Sajoto (1988:54) “ kecepatan adalah kemampuan untuk menempuh

jarak tertentu,terutama jarak pendek dalam waktu sesingkat-singkatnya”. Pada cabang

olahraga seperti lari,renang prestasi yang diukur adalah kecepatan (waktu tersingkat

yang diperoleh untuk mencapai suatu jarak tertentu). Kecepatan dipengaruhi oleh

waktu reaksi, yaitu saat mulai mendengar aba-aba sampai gerak pertama di perlukan.

5) Kelincahan

Menurut Harsono (1988 : 75) “ kelincahan adalah kemampuan merubah arah

dengan cepat dan tepat, selagi tubuh bergerak dari suatu tempat ketempat yang lain.

Gerakan itu yaitu suatu kemampuan merubah posisi badan secara cepat dan tepat.

Seperti gerak lain-lain sebagainya”. Kelincahan tidak hanya diperlukan dalam

olahraga tetapi juga dalam situasi kerja dan kegiatan reaksi. Kelincahan tergantung

pada faktor kekuatan, kecepatan, tenaga ledak otot, waktu reaksi keseimbangan dan

koordinator.
6) Kelentukan

Menurut Sajoto (1988:51) “kelentukan adalah kemampuan persendian,

ligamen dan tendon sekitar persendian, melaksanakan gerak seluas-luasnya”.

Kelentukan penting sekali, karena bila seseorang mengalami kurang luas gerak dalam

persendiannya, maka akan dapat menimbulkan kurang gerak dan mudah

menimbulakan cedera. Dengan kurang cepatnya, maka aktivitas menjadi terbatas, dan

beban otot menjadi lebih berat.

7) Keseimbangan

Keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan sikap tubuh yang tepat

pada saat melakukan gerak (Moeluk 1998:10). Lebih lanjut Sajoto (1988:52)

menjelaskan: “keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan posisi tubuh

dalam macam-macam gerak”. Keseimbangan menjadi dua yaitu keseimbangan statis

dan keseimbangan dinamis. Keseimbangan statis adalah kemampuan tubuh

mempertahankan keseimbangan dalam posisi tetap. Keseimbangan dinamis

kemampuan mempertahankan gerakan pada saat melakukan gerakan dari suatu posisi

ke arah posisi lain.

8) Kecepatan Reaksi

Menurut Moeluk (1998:10)” Kecepatan reaksi adalah waktu tersingkat yang

dibutuhkan untuk memberi jawaban kenetik setelah menerima suatu rangsangan”. Hal

ini berhubungan serat dengan reflek,waktu gerak dan waktu respon. Waktu reflek

adalah waktu yang dihantarkan dari saraf sensori ke pusat reflek dan dari sini terus ke

saraf eferan kemudian ke efektor. Waktu gerak adalah waktu yang dibutuhkan pada

saat gerak dilakukan sampai gerak berakhir. Waktu respon adalah jumlah reflek dan

waktu gerak.
9) Koordinasi

Koordinasi adalah kemampuan untuk menyatukan berbagai macam gerak

yang terpisah, dalam suatu gerak yang efesien. Sajoto (1988:55) menjelaskan “makin

komplek gerak yang dilakukan, makin besar tingkat koordinasi yang diperlukan

untuk melakukan ketangkasan”. Oleh karena itu, bagi para murid koordinasi ini perlu

dikuasai dengan sempurna untuk berbagai tujuan seperti penguasaan teknik-teknik

tinggi menghindar seranagan, dan benturan dengan lawan dan menghemat

pengeluaran energi.

D. Keterampilan Renang

1. Pengertian Renang

Renang adalah suatu kegiatan yang dimainkan diatas permukaan air dan

dilakukan dengan berbagai gaya seperti gaya bebas, gaya dada, gaya dolfin, dan gaya

punggung (Husni : 1990:44). Kurniawan (2012:25) mengatakan bahwa “renang

aadalah olahraga yang melomba kan kecepatan atlet renang dalam berenang”.

Bedasarkan kajian tersebut dapat dijelaskan bahwa renang dalam olahraga

yang dimainkan di air yang dapat dilakukan dengan berbagai gaya. Berenang di

kolam renang akan lebih aman apabila tidak terdapat arus yang deras dan terbebas

dari bakteri penyebab penyakit bisa di kendalikan dengan pemberian kaporit.

Olahraga renang adalah suatu kegiatan di dalam air,olahraga renang adalah

olahraga yang dianjurkan oleh pembawa agama islam pertama yaitu Rasulullah Saw

bersabda ajarilah anak-anakmu berkuda, memanah, dan berenang. HR Ahmad Dalam

(Azhim, 2008:149).
Hadis tersebut adalah salah satu referensi untuk menguatkan bagai mana

islam memandang suatu olaraga untuk kebutuhan tubuh, olahrag dalam islam sangat

penting karena olahraga adalah salah satu kegiatan yang bermamfaat untuk kesehatan

tubuh jika banyak kalangan mengatakan bahwa olahraga adalah hal yang

menjerumuskan ke neraka maka ini adalah pendapat yang keliru malah justru

kebalikan dari hal tersebut olahraga sesuai denagn hadis Rasulullah yang lain yang

berbunyi yaitu orang mukmin yang lemah. HR Muslim dalam (Azhim 2008:23).

Allah Azwajallah lebih mencintai mukmin yang kuat jika ditinjau dari kata-

kata kuat ini dapat diartikan salh satunya kekuatan fisik, kekuatan fisik ini dapat

dicapai dengan cara berolahraga, dengan adanya kegiatan olahraga adalah kegiatan

yang harus dilestarikan disetiap kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat.

Namun yang menjadi kesalahan dalam aktifitas olahraga adalah pada saat niat. Niat

adalah kunci utama dari sebuah perbuatan. Jika niat olahraga untuk berjudi maka niat

ini adalah salah satu faktor yang dilarang dalam agama islam. Begitu juga dengan

olahraga renang jika olahraga renang diniatkan untuk mencapai atau untuk

menjalankan sunnah maka ini akan mendapat padahala dari Allah SWT.

Dari berbagai pendapat yang telah penulis paparkan diatas maka penulis

dapat menarik kesimpulan bahwa olahraga renang adalah salah satu olahraga yang

dianjurkan dalam Agama yang mayoritas di Republik Indonesia, dan Aceh

khususnya. Dalam islam renang termasuk salah satu olahraga yang dianjurkan selain

dari olahraga panahan dan berkuda.


2. Teknik Dasar Renang

Tehnik dasar dalam olahraga renang terdiri dari tiga macam yaitu

pernafasan, meluncur, dan mengambang. Adapun teknik dasar renang dapat di

uraikan sebagai berikut :

1) Pernafasan

Salah satu keberhasilan dalam berenang kita dapat mengatur nafas dengan

baik. Pertama berdirilah di pinggir kolam dengan rendah dan wajah anda tetap

dipermukaan air. Tarik nafas melalui mulut tahan beberapa saat kemudian masukkan

kepala anda kedalam air dan hembuskan nafas anda melalui hidung. Lakukan latihan

ini secara perlahan sebanyak 10 hingga 15 kali setiap anda selesai melakukan gerakan

sehingga menemukan irama tersendiri.

Gerakan pengambilan nafas dilakukan dengan cara memutar kepala pada

suatu arah posisi badan (kanan atau kiri) dengan sebagian wajah tetah di bawah air

dan dikoordinasikan dengan perputaran tubuh. Waktu yang paling tepat memutar

kepala untuk mengambil nafas adalah saat lengan yang sebidang melakukan setengah

pertama recovery. Ini karena seputaran bawah lengan tersebut akan menyebabkan

badan bergulung ke arah pengambilan nafas. Apabila mengambil nafas ke kiri, kepala

diputarkan kekiri ketika lengan kiri mengayun keatas dan sebaliknya, memutar badan

ke kanan ketika lengan mengayun ke atas. (Setiawan,2004:14)

Irama gerakan tungkai lengan yang sering dipakai oleh perenang adalah

enam dan dua tendangan/lecutan. Tendangan enam lucutan dilakukan dengan sapuan

bawah lengan kiri terjadi secara simultan dengan tendangan bawah kaki kiri. Sapuan

lengan kiri dikoordinasikan dengan tendangan bawah kaki kanan. Sapuan atas lengan

kiri koordinasikan dengan tendangan bawah tungkai kiri. Urutan yang identik terjadi

selama gerakan lengan kanan. Jumlah ini begitu cepat sehingga awal dan akhir setiap

tendangan tersebut bersama dengan awal dan akhir sapuan lengan yang berkaitan.
Ketika memikirkan bahwa tarik lengan dibagi kedalam tiga sapuan,maka

menjadi jelas mengapa ritme enam pukulan merupakan ritme yang paling populer

(Setiawan,2004:14). Sementara tendangan dua lecutan dilakukan apabila ada dua

tendangan perputaran lengan atau lebih akuratnya satu tendangan bawah bergaya

lengan. Tiap awal tendangan bawah dibarengi oleh sapuan dalam yang secara

simultan diikuti sapuan bawah dan diakhiri dengan sapuan atas pada saat tungkai

pada akhir tendangan kebawah (Setiawan, 2004:14).

2) Meluncur

Meluncur merupakan gerakan tubuh secara horizontal dibawah permukaan

air. Pertama-tama turunlah dalam kolam yang dangkal dan membelakangi dinding

kolam. Tempelkan salah satu telapak kaki anda (kanan atau kiri) di dinding kolam

dengan jari-jari kaki mengahadap kebawah sebagai tolakan untuk meluncur. Dorong

badan melalui tolakan kaki tersebut dan meluncurlah sejauh mungkin dengan tangan

sejajar di depan. Kepala diusahakan masuk dalam air sehingga kuping sejajar dengan

lengan tangan. Lakukan gerakan ini sebanyak 10 sampai 15 kali untuk menemukan

keseimbangan tubuh.

3) Mengambang

1) Mengambang terlentang

Mengambang terlentang dilakukan dengan cara tarik kebelakang samapai

dengan kuping terendam dalam air. Regangkan kedua tangan berbentuk siku-siku,

pergelangan tangan tetap lurus dan rileks.

2) Mengambang Tegak Lurus

Mengambang tegak lurus secara vertical paling lazim digunakan yaitu

gerakan tubuh dengan posisi tubuh tegak lurus dibawah permukaan air dan kepala

tetap diatas permukaan air sebatas dagu, sedangkan untuk gerakan tangan dan kaki

digerakan untuk keseimbangan agar tubuh tetap melayang dipermukaan air.


3. Macam-macam tehnik dan gaya renang

1) Renang gaya bebas

Renang crawl mempunyai beberapa jenis ialah 1) Gaya Crawl Australia, 2)

Gaya Crawl Amerika, dan 3) Gaya Crawl Jepang (Dwijowinoto, 1999:12). Ada

beberapa cara untuk melakukan renang gaya crawl agar gerakan-gerakan lebih

efisien. Cara-cara itu adalah:

a. Mengayun kaki

Gerakan mengayun kaki dialkukan secara teratur dan santai. Perlengkapan

kaki harus benar-benar lentuk, sehingga telapak kaki berayun tepat pada pergelangan

kaki tersebut. Pada saat lutut dalam posisi lurus maka seluruh kaki tersebut diayunkan

kembali. Dengan pergelangan kaki yang benar-benar lemas, ayunan kaki ke atas

tersebut akan membuat pergelangan kaki tertekuk oleh tekanan air pada telapak kaki.

Kaki harus terus bergerak keatas sampai tumit kaki mencapai permukaan air. Pada

saat tumit mencapai permukaan air, gerakan kaki berhenti dan dilanjutkan dengan

ayunan kaki kembali ke bawah. Kaki yang sebelah bergerak dalam pola yang sama

tetapi ke arah yang berlawanan (Hendromartono,1992:14).

b. Mengayuh

Kayuhan tangan dapat dimulai dengan tangan kanan ataupun kiri. Mulai

mengayuh dari posisi tertelungkup dengan kedua tangan terjulur kedepan, telapak

tangan sekirat 6 inci di bawah permukaan air. Telapak tangan terus lemas dan jari-

jarinya lurus. Jari-jari jangan dirapatkan sebab jari-jari yang renggang tidak akan

mengurangi tenaga kayuhan, tetapi justru akan memungkinkan pelemasan tangan

lebih baik lagi (Hendromartono,1992:14).


c. Koordinasi Tangan Dan Kaki

Gaya Crawl modern memberi banyak keleluasaan untuk memilih pola

koordinasi tangan kaki dari pada gaya crawl klasik Amerika ataupun Autralia.

Ayunan kaki dalam gaya crawl semakin kurang penting karena daya dorongannya

kecil, padahal gaya crawl memerlukan daya dorong yang besar. Ada beberapa variasi

yang sering digunakan oleh para perenang, misalnya pola klasik dalam 6 hitungan

terutama untuk para perenang cepat. Ada yang menggunakan pola 4-2 hitungan

terutama para perenang jarak jauh,dan ada yang mengunakan ayunan kaki hanya

sebagai penjaga keseimbangan.(Hendromartono,1992:16).

d. Pernafasan Dikoordinasikan Dengan Gerakan Tangan

Menunggu untuk bernafas sampai tangan sudah di atas air dalam gerakan

pemulihan, beban bertambah yang diakibatkan oleh tangan yang sudah tidak

didukung oleh daya apung tersebut membuat penerang berusaha untuk mendapatkan

daya apung tambahan dengan mendorong ke bawah dengan menggunakan tangan

yang terjulur ke depan, supaya mulut tetap terangkat sewaktu mengambil nafas.

Sehingga tangan dapat menjadi terlalu dalam pada waktu kayuhan berikutnya

dilakukan. Akibatnya akan kehilangan koordinasi dan daya dorong. Mengatur kepala

kembali ke dalam air pada hitungan ke 4 atau ke 1 dan harus mulai penghembusan

nafas pada saat wajah berada di dalam air. Tetapi ada cara lain untuk

menghembuskan nafas ialah pada waktu mengayuh dengan tangan bukan sisi

pernafasan. Urutan gerakan pernafasanya adalah sebagai berikut. Memusatkan

perhatian pada kemulusan dan kemudahan berenang. Untuk gerakan yang mulus dan

rileks agar diingat untuk mempertahankan kepala dengan satu telinga tetap didalam

air, pertahankan posisi bahu berputar samapi ujung jari akan kembali memasuki air,

angkat siku tinggi-tinggi, lemaskan seluruh lengan bawah dan telapak tangan pada

waktu gerakan pemulihan dan jangkau kedepan sehingga ujung jari terlebih dahulu

menyentuh air.(Hendromartono,1992:16).
Menurut Setiawan(2004:8) bahwa “Tehnik renang gaya crawl meliputi

beberapa unsur gerakan yaitu: posisi tubuh, gerakan lengan, gerakan tungkai, gerakan

pengambillan nafas dan gerakan koordinasi. Posisi tubuh untuk perenang gaya crawl

adalah horisontal dengan kemiringan 25 derajat wajah tetap di dalam air dengan garis

permukaan air berada di tengah rambut”.

e. Posisi Tubuh

Bedasarkan kajian tersebut dapat di jelaskan bahwa teknik renang gaya

crawl terdiri dari beberapa unsur gerakan yaitu: posisi tubuh, gerakan lengan, gerakan

tungkai,gerakan pengambilan nafas dan gerakan koordinasi. Posisi tubuh untuk

perenang gaya crawl adalah horisontal dengan kemiringan 25 derajat wajah tetap di

dalam air dengan garis permukaan air berada di tengah rambut. Penyimpangan air

kebawah akan menimbulkan sesuatu kekuatan yang menentang atau menghadang di

atas badan dalam arah ke atas. Kekuatan ini menyebabkan peningkatan lebih lanjut

pada tekanan yang berbeda antara permukaan badan bagian atas dan bagian bawah,

sehingga tetap naik. Posisi badan horizontal akan terisi air sehinga molekul air akan

mengalir teratur melintas badan. Pada saat recovery untuk pengambilan nafas dan

gerakan sapuan, badan harus mengikuti gerakan lengan tampa banyak melakukan

gerakan kesamping.(Setiawan,2004:9).

f. Gerakan Lengan

Gerakan tangan gaya crawl terdiri dari atas beberapa gerakan,ialah:entry dan

pelurusan (masuknya lengan), kayuhan (sapuan bawah dan catch, sapuan dalam, dan

sapuan atas),recovery. Entry dan atau saat memasukan lengan seharusnya berada satu

titik yaitu tengah-tengah depan kepala pada jarak 12-15 cm di belakang ujung raihan

terpanjangnya.
Bagian tengah yang masuk pertama kali kedalam airbadalah ujung jari

dengan telapak tangan menghadap kearah luar dengan kemiringan 30 derajat sampai

40 derajat dari posisi horizontal dengan permukaan air. Kesalahan yang sering terjadi

pada gerakan ini adalah masuknya tangan sejajar dengan bahu, telapak tangan

menghadap lurus kearah permukaan air, tangan masuk pada jangkauan maksimal dari

lengan, tangan masuk terlalu dekat dengan di depan kepala, lengan bawah dan tangan

masuk bersamaan. (Setiawan,2004:10).

g. Sapuan Bawah

Sapuan bawah dan catch atau tangkapan dilakukan ke arah bawah luar

belakang sampai tangan melewati garis bahu dan diakhiri dengan gerakan atau

tangkapan dengan tangan membentuk cangkir dan jari-jari tangan rapat. Sudut tangan

30 o -40o saat melakukan sapuan dan sudut siku mencapai 140o atau seratus empat

puluh derajat dengan kedalaman mencapai 40-60 cm ketika pada akhir sapuan bawah

dan gerakan catch. Kesalahan yang sering terjadi pada saat gerakan bawah adalah

telapak tangan menghadap ke bawah dasar kolam dan sapuan tidak kearah bawah luar

belakang tetapi kearah bawah, siku tudak ditekuk, tidak ada gerakan catch

(Setiawan,2004:11)

h. Sapuan Dalam

Sapuan dalam dimulai saat tangan mendekati titik terdalam dari sapuan

bawah yaitu setelah melakukan gerakan catch. Arah gerakan tangan terputus-putus

dari bawah luar belakang menjadi arah dalam belakang menuju garis tengah badan.

Sudut kayuhan harus ditambah menjadi 40o-60o dan kecepatan kayuhan ditambah

menjadi 1,5-3,0 m/dtk. Ada tiga macam sapuan dalam yang sering dipakai oleh para

perenang ialah short insweep,adalah sapuan yang dilakukan tidak sampai pada garis

tangan badan,midline insweep bila sapuan dilakukan tepat pada garis tengah badan,

dan crossover insweep.


Kesalahan yang sering dilakukan oleh para perenang adalah tidak menambah

kecepatan kayuhan (Setiawan,2004:11).

i. Sapuan Atas

Sapuan atas dilakukan setelah sapuan dalam selesai dengan mengubah arah

sapuan dari arah dalam belakang ke arah belakang atas dengan melewati bahwa

pinggang dan berakhir sampai disamping paha tangan jangan terus digerakkan ke atas

dengan cara telapak tangan menghadap ke atas,tetapi tangan di putar kearah dalam

dengan telapak tangan mengahadap paha sehingga saat ditarik keluar untuk

melakukan gerakan recovery hanya mengalami sedikit hambatan, dari penghambatan

kecepatan ini maka dapat melakukan gerakan untuk beristirahat pada kegiatan

selanjutnya namun demikian kecepatan sapuan atas sebaliknya ditambah menjasi 3-6

m/dtk, dengan sudut serangan 30o-40o. Kesalahan yang sering terjadi pada sapuan ini

adalah tidak menambah kecepatan sapuan pada akhir sapuan tangan tidak diputar ke

arah dalam,sapuan tidak dilakukan sampai maksimal ialah siku tidak sampai lurus

(Setiawan,2004:12).

j. Gerakan recovery

Gerakan recovery diawali dengan keluarnya siku dari air diikuti lengan

bawah dan tangan sementara telapak tangan masih menghadap dalam sehingga jari

kelingking keluar terlebih dahulu. Setelah tangan keluar, siku tetap ditarik kedepan

terlebih dahulu dan tangan mengikuti sampai sejajar dengan bahu dengan telapak

menghadap ke belakang atas.

Setelah tangan sejajar dengan bahu, baru kemudian tangan digerakkan ke

depan dengan telapak tangan tetap menghadap ke belakang untuk melakukan gerakan

entry. Saat recovery, otot-otot lengan harus dalam keadaan rileks dan tubuh perenang

sebaiknya mengikuti pergerakan lengan sehingga perputaran bahu, tubuh dan tungkai

sebagai satu kesatuan unit.


Perputaran ini penting karena tiga hal yaitu: menepatkan tangan pada posisi

yang tepat untuk awal kayuhan, menstabilkan posisi badan saat tangan yang lain

melakukan kayuhan, dan meminimalkan gerakan ke samping yang berlebihan dari

tubuh tungkai. Kesalahan yang sering dilakukan oleh para perenang adalah tangan

mendahului gerakan siku sebelum mencapai garis bahu, telapak tangan menghadap

kebawah, saat keluar telapak tangan menghadap ke atas, tangan tidak digerakkan

keatas mengikuti digerakan ke samping lurus (Setiawan,2004:12).

k. Gerakan Tungkai

Gerakan tungkai dilakukan dengan menggerakkan kedua tungkai ke atas

(upheat) dan kebawah (downheat) bergantian diakhir lecutan kaki dengan kedalaman

30-35 cm (kaki tepat di bawah garis tubuh) dan lutut mencapai kedalaman 20-25 cm.

Untuk mempertahankan momentum gerakan tungkai tendangan kebawah dimulai

sebelum kaki berhenti dari pukulan keatas yaitu ketika tumit mendekati permukaan

air. Sementara itu tungkai yang bawah menekuk lutut dan terus naik dengan

membentuk sudut 30o-40o. Ada dua irama tendangan tungkai yaitu dua tendangan dan

enam tendangan. (Setiawan,2004:13)

l. Gerakan Pengambilan Nafas

Gerakan pengambilan nafas dilakukan dengan cara memutar kepala pada

satu arah posisi badan (kanan atau kiri) dengan sebagian wajah tetap di bawah air dan

dikoordinasikan dengan perputaran tubuh. Waktu yang paling tepat memutar kepala

untuk mengambil nafas adalah saat lengan yang sebidang melalakukan setengah

pertama recovery. Ini karena sapuan bawah lengan tersebut akan menyebabkan badan

bergulung kearah pengambilan nafas.


Apabila mengambil nafas ke kiri, kepala diputar kekiri ketika lengan kiri

mengayun ke atas dan sebaliknya, memutar badan ke kanan ketika lengan mengayun

ke atas.(Setiawan,2004:14).

Irama gerakan tungkai dan lengan yang sering dipakai oleh perenang adalah

enam dan dua tendangan/lecutan. Tendangan enam lucutan dilakukan dengan sapuan

bawah lengan kiri terjadi secara simultan dengan tendangan bawah kaki kiri. Sapuan

dalam lengan kiri dikoordinasikan dengan tendangan bawah kaki kanan. Sapuan atas

lengan kiri koordinasikan dengan tendangan bawah tungkai kiri. Urutan yang identik

terjadi selama gerakan lengan kanan. Jumlah ini begitu cepat sehingga awal dan akhir

setiap tendangan tersebut bersama dengan awal dan akhir sapua lengan yang

berkaitan. Ketika memikirkan bahwa tarikan lengan dibagi kedalam tiga sapuan,

maka menjadi jelas mengapa ritme enam pukulan merupakan ritme yang paling

populer (Setiawan,2004:14). Sementara tendangan dua lucutan dilakukan apabila ada

dua tendangan perputaran lengan atau lebih akuratnya satu tendangan bawah bergaya

lengan. Tiap awal tendangan bawah dibarengi oleh sapuan dalam yang secara

simultan diikuti sapuan bawah dan diakhiri dengan sapuan atas pada saat tungkai

pada akhir tendangan ke bawah (Setiawan,2004:14).

Adapun gambarnya dapat dilihat berikut:

Gambar 2.3 Gerakan Gaya Crawl


(https://urusandunia.com/macam-macam-gaya-renang/#)
Bedasarkan kutipan diatas dapat dijelaskan bahwa ciri renang gaya bebas

adalah 1) mengayun kaki yaitu; gerakan mengayun kaki dilakukan secara teratur dan

santai. Pergelangan kaki harus benar-benar lentuk, sehingga telapak kaki berayun

tepat pada pergelangan kaki tersebut. Pada saat lutut dalam posisi lurus maka seluruh

kaki tersebut diayunkan kembali. 2) Mengayuh. Kayuhan tangan dapat dimulai

dengan tangan kanan ataupun kiri. 3) Koordinasi tangan dan kai. Gaya crawl modern

memberi banyak keleluasaan untuk memilih pola koordinasi tangan kaki dari pada

gaya crawl klasik Amerika ataupun Australia. Ayunan kaki dalam gaya crawl

semakin kurang penting karena daya dorong kecil, pada hal gaya crawl memerlukan

daya dorong yang besar. 4) Penapasan di koordinasikan dengan gerakan tangan.

Menunggu untuk bernafas sampai tangan sudah diatas air dalam gerakan pemulihan,

beban bertambah yang diakibatkan oleh tangan yang sudah tidak didukung oleh daya

apung tersebut membuat perenang berusaha untuk mendapatkan daya apung

tambahan dengan mendorong ke bawah denagan menggunakan tangan yang terjulur

ke depan, supaya mulut tetap terangkat sewaktu mengambil nafas. 5) Posisi tubuh.

Posisi tubuh untuk perenang gaya crawl adalah horisintal dengan kemiringan 25o

wajah tetap didalam air dengan garis permukaan air berada di tengah rambut. 6)

Gerakan lengan. Gerakan crawl terdiri atas beberapa gerakan, ialah:entry dan

pelusuran (masuknya lengan), kayuhan (sapuan bawah dan catch,sapuan dalam, dan

sapuan atas), recovery. 7) Sapuan bawah. Sapuan bawah dan catch atau tangkapan

dilakukan ke arah bawah luas belakang sampai tangan melewati garis bahu dan

diakhiri dengan gerakan atau tanggapan dengan tangan membentuk cangkir dan jari-

jari tangan rapat. Sudut tangan 30o-40o saat melakukan sapuan dan sudut siku

mencapai 140o dengan kedalaman tangan mencapai 40-60 cm ketika pada akhir

sapuan bawah dan gerakan catch. 8) Sapuan dalam.


Sapuan dalam dimulai saat tangan mendekati titik terdalam dari sapuan

bawah yaitu setelah melakukan gerakan catch. 9) Sapuan atas dilakukan setelah

sapuan dalam selesai dengan mengubah arah sapuan dari arah dalam belakang ke arah

belakang atas dengan melewati bawah pinggang dan berakhir sampai disamping paha

tangan jangan terus digerakkan ke atas dengan cara telapak tangan menghadap ke

atas. 9) Gerakan recovery diawali dengan keluarganya siku dari air diikuti lengan

bawah dan tangan sementara telapak tangan masih menghadap dalam dalam sehingga

jari kelingking keluar terlebih dahulu. 10) Gerakan tungkai dilakukan dengan

menggerakkan kedua tungkai ke atas (upheat) dan kebawah (downheat) bergantian

diakhiri lecutan kaki dengan kedalaman 30-35 cm (kaki tepat di bawah garis tubuh)

dan lutut mencapai kedalaman 20-25 cm. 11) Gerakan pengambilan nafas dilakukan

dengan cara memutar kepala pada satu arah sisi badan (kanan dan kiri) dengan

sebagian wajah tetap dibawah air dan dikoordinasikan dengan perputaran tubuh.

m. Tehnik Dasar Renang Gaya Dada

Renang gaya dada sering disebut dengan gaya katak atau chess style dalam

bahasa Inggris di dalam kelompok militer tehnik renang gaya dada sangat dibutuhkan

untuk peningkatan kondisi fisik seorang militer. Teknik renang ini dilakukan dengan

cara berenang dengan posisi badan menghadap kepermukaan air. Dengan kedua kaki

menendang ke arah luar sedangkan gerakan pada tangan digerakkan melebar seperti

membelah air, sehingga dapat meningkatkan daya dorong dengan kemampuan

tersebut maka kecepatan akan gaya semakin baik dan menjadikan gerakan menjadi

lebih cepat. Untuk gerakan tubuh, sesuai dengan sebutannya yaitu gaya katak

sehingga meniru seperti katak yang sedang berenang.


Meskipun dengan melebarkan tangan seperti membelah air akan dapat menambahkan

kecepatan renang, namun pada renang gaya bebas ini merupakan gaya renang yang

paling lama atau lambat dalam hal kecepatan dibandingkan dengan dengan renang

gaya lain. (Setiawan,2004:15).

Agar dapat melakukan renang gaya dada dengan baik,harus menguasai

teknik dasarnya. Tehnik dasar renang gaya dada sebagai berikut:

1) Gerakan Meluncur

Cara melakukannya sebagai berikut;

a) Sikap pemula, berdiri kangkang selebar bahu diatas kolam dengan kedua tangan

lurus di samping badan.

b) Gerakan akan meluncur dengan tolakan kedua kaki dengan kedua tangan diayun

kedepan hingga kedua tangan lurus ke atas menempel telinga.

c) Kedua tangan dan kepala lebih dahulu masuk ke dalam kolam.

d) Selama meluncur didalam air, posisi tubuh horizontal. (Kurniawan;2012:78).

Adapun gambarnya dapat di uraikan sebagai berikut:

Gambar 2.4 Gerakan Lengan Gaya Dada


(Setiawan;2014:16)

Berdasarkan kutipan diatas dapat dijelaskan bahwa renang gaya dada atau

sering disebut dengan gaya katak ini adalah berenang dengan posisi badan

menghadap ke permukaan air. Agar dapat melakukan renang gaya dada dengan baik,

harus menguasai teknik dasarnya.


Tehnik dasar renang gaya dada 1) Gerakan meluncur yaitu dimulai dari sikap

permulaan, berdiri kangkang selebar bahu di atas kolam dengan kedua tangan lurus di

samping badan. Gerakan akan meluncur dengan tolakan kedua kaki dengan kedua

tangan diayun ke depan hingga kedua tangan lurus ke atas menempel telinga. Kedua

tangan dan kepala lebih dahulu masuk ke dalam kolam. Selama meluncur di dalam

air, posisi tubuh horizontal.

n. Tehnik Dasar Renang Gaya Dolfin

Gaya dolfin adalah salah satu gaya berenang dengan posisi dada menghadap

ke permukaan air. Kedua belah lengan secara bersamaan ditekan ke bawah dan

digerakkan ke arah luar sebelum diayunkan ke depan. Sementara kedua belah kaki

secara bersama menendang ke bawah dan ke atas seperti gerakan sirip ekor ikan atau

lumba-lumba. Udara dihembuskan kuat-kuat dari mulut dan hidung sebelum kepala

muncul dari air, dan udara dihirup lewat ketika kapala berada di luar

air.(Setiawan;2004:21).

Gaya dolfin diciptakan tahun 1933, dan merupakan gaya berenang paling

baru. Berbeda dari renang gaya lainnya, perenang pemula yang belajar gaya dolfin

perlu waktu lebih lama untuk mempelajari koordinasi gerakan tangan dan kaki.

Dalam latihan renang gaya dolfin, beberapa anggota tubuh yang harus dilatih adalah:

1. Posisi Badan

Semua gaya renang harus diperhatikan adalah badan harus sedater mungkin

dengan air. Untuk renang gaya dolfin yang terjadi adalah gerakan tubuh naik turun.

Gerakan kepala yang terlalu naik ke permukaan air dan gerakan kaki yang terlalu

turun ke air dapat menghabat laju gerakan tubuh untuk meluncur ke depan.

Untuk itu pada waktu ambil nafas, kepala diusahakan naik serendah

mungkin, asalkan mulut sudah keluar dari air dan cukup untuk mengambil nafas,

secepatnaya mengambil nafas. Kemudian kepala masuk kembali ke dalam air untuk
menjaga agar posisi badan standar mungkin dengan air. Gerakan menendang dari

kedua kaki si usahakan tidak terlalu dalam sebab pukulan yang terlalu dalam hanya

akan menambah tahanan depan saja. Tendangan kedua kaki dilakukan dengan cara

menekuk kedua kaki pada persendiaan lutut untuk kemudian diluruskan lagi dengan

keras. Menekuknya kedua kaki haruslah diusahakan sedikit saja jangan terlalu dalam.

Bila bengkokan sendi lutut terlalu dalam, maka tendangan kaki tersebut tidak terlalu

efisien dan tahanan depan akan besar dengan demikian akan menghasilkan sikap

badan yang kurang datar.

2. Gerakan Kaki

Tendangan kaki pada gaya dolfin dimulai pada pangkal paha dengan cara

menekuk kaki pada persendian lutut,penekukan kaki dilakukan kecil saja sehingga

telapak kaki tidak keluar pada permukaan air. Tetapi hanya sebagian dari telapak kaki

yaitu jari-jari kaki saja yang keluar dari permukaan air. Penekukan kaki atau gerakan

kaki keatas dilakukan dengan rileks dan pelan sedangkan gerakan kaki kebawah atau

meluruskan kaki dengan kekuatan yang besar,dimana punggung kaki menendang

keras kearah bawah. (Setawan;2004:22).

3. Gerakan Lengan

Gerakan lengan pada gaya dolfin terbagi atas 2 (dua) bagian yaitu:

a) Gerakan Recovery

Gerakan recovery lengan adalah gerakan lengan pada saat akhir

dayungan sampai dengan pada saat pemulaan dayungan. Gerakan recovery ini

sebagai berikut: Setelah kedua tangan keluar dari air tangan mulai dilemparkan

kedepan pada posisi yang rendah dalam bentuk parabola yang datar.

Gerakan ini dilakukan dengan rileks. Kedua tangan masuk kedalam air

pada titik sedikit diluar garis bahu. Gerakan recovery lengan ini dilakukan secara

serempak dan sismetris antara lengan kiri dan lengan kanan.

(Kurniawan;2004:66).

b) Dayungan Lengan
Pada gerakan ini ditarik ke belakang seperti mendayung dengan tujuan

agar badan terdorong meluncur ke depan. Adapun urutan gerakan lengan pada

renang gaya dolfin adalah: a. Lengan pada saat akhir dayungan untuk persiapan

recovery. b. Lengan pada saat pelaksanaan recovery dengan melemparkan lengan

kearah samping permukaan air. c. Lengan pada kahir recovery dimana kedua

tangan masuk ke dalam air di depan kepala pada garis bahu. d. Kedua lengan

masuk kedalam air dengan sikap tunduk. e. Kedua lengan mulai melakukan

tarikan kearah kuar. f. Kedua lengan mulai bergerak kearah dalam masih dalam

tariakan menekuk lengan pada persendian siku. g. Kedua lengan mulai dengan

dorongan kearah dalam. h. Kedua lengan pada akhir dayungan, dimana kedua ibu

jari menyentuh paha. (Setiawan;2004:24).

4. Pernapasan

Pernapasan pada gaya dolfin dilakukan dengan mengangkat kepala kedepan

seperti pada gaya dada. Pengangkatan kepala dilakukan pada saat akhir dari tarikan

dan memulai dari dorongan lengan lengan,naiknya kepala dari permukaan air

diusahakan sedikit mungkin asal mulut telah keluar dari permukaan air dan dapat

melaksanakan pernapasan. Pengambilan nafas dilakukan dengan cepat,dengan cara

menarik nafas lewat mulut secara mendadak(cepat),secepatnya setelah mengambil

nafas kepal segera di turunkan lagi untuk menghindari bertambahnya tahanan depan.

Pengeluaran udara dilakukan dalam air di dalam air di saat kepala akan keluar dari

permukaan air. Pengeluaran udara dilakukan lewat hidung secara meledak(cepat).

(Setiawan;2004:24).

5. Koordinasi Gerakan

Pada gaya dolfin harus ada penyusuaian gerakan antara gerakan lengan dan

gerakan kaki. Persuaian tersebut terutama dalam hubungan sikap badan yang naik

turun secara vertikal lengan,mengliuk-liuk seperti halnya ikan dolphin yang sedang

berenang. Pada satu kali putaran lengan terjadi putaran kaki dua kali, keras dan

lemah. Pada saat permulaan tarikan dilakukan tendangan kaki yang pertama (keras)
pada saat dorongan lengan dilakukan tenadangan kaki yang kedua(lemah). Banyak

yang mengatakan bahwa renang gaya dolfin adalah renang yang paling melelahkan.

Gerakannya banyak menghabiskan tenaga. Cara mempelajarinyapun termasuk cukup

sutit. Biasanya sebelum seseorang dapat mempelajari renang gaya dolfin ini dia

terlebih dahulu sudah dapat melakukan renang gaya bebas. Ini karena renang gaya

bebas mudah dipelajari dan menjadi dasar untuk belajar renang yang lain.

(Setiawan;2004:25).

Gambar renang gaya dolphin yaitu:

Gambar 2.5 Gerakan Dolfin


(Setiawan;2004:25)

Bedasarkan kutipan diatas dapat dijelaskan bahwa gaya dolfin atau gaya

dolfin adalah salah satu gaya berenang dengan posisi dada menghadap ke permukaan

air. Gaya dolfin diciptakan tahun 1933, dan merupakan gaya berenang paling baru.

Dalam latihan renang gaya dolfin, beberapa anggota tubuh yang harus dilatih adalah

1) Posisi badan yaitu gerakan tubuh naik turun. Gerakan kepala yang terlalu naik ke

permukaan air denagan gerakan kaki yang terlalu turun ke air dapat menghambat laju

gerakan tubuh untuk meluncur ke depan. 2) Gerakan kaki yaitu tendangan kaki pada

gaya dolfin dimulai pada tangkal paha dengan cara menekuk kaki pada persendian

lutut, penekukan kaki dilakukan kecil saja sehingga telapak kaki tidak keluar pada

permukaan air, dan 3) Gerakan lengan yaitu a) Gerakan Recovery adalah gerakan

lengan pada saat akhir dayungan sampai dengan pada saat permulaan dayungan.
b) Dayungan lengan yaitu ditarik ke belakang seperti mendayung denagn tujuan agar

badan terdorong meluncur ke depan. Pernapasan pada gaya dolfin dilakukan dengan

mengangkat kepala kedepan seperti pada gaya dada. Pada gaya dolfin harus ada

persesuaian gerakan antara gerakan lengan dan gerakan kaki. Persesuaian tersebut

terutama dalam hubungan sikap badan yang naik turun secara vertikal lengan,

meliuk-liuk seperti halnya ikan dolfin yang sedang berenang.

o. Teknik Dasar Renang Gaya Punggung

Gaya punggung adalah berenang denaga posisi punggung menghadap ke

permukaan air. gerakan kaki dan tangan serupa dengan gaya bebas, tapi dengan posisi

tubuh terlentang di permukaan air. kedua belah tangan secara bergantian digerakkan

menuju pinggang seperti gerakan mengayuh. Mulut dan hidung berada di luar air

sehingga mudah mengambil atau membuang napas dengan mulut atau hidung.

Gerakan renang pada gaya punggung mirip dengan gerakan gaya crawl. Bedanya

terletak pada posisi badan dan arah gerakan tangan . secara teoristis semestinya

renang gaya punggung lebih mudah dari gaya crawl karena muka tidak masuk air

sehingga pernapasan dapat dilakukan dengan mudah.

Berikut beberapa tehnik dalam renang gaya punggung.

1) Posisi badan

Posisi badan pada renang gaya punggung adalah:

a. Badan terlentang di permukaan air, usahakan badan mulai dari kepala

sampai ujung kaki sehorizontal mungkin.

b. Telinga berada di permukaaan air(sedikit masuk ke air) dan leher harus

rileks.
c. Panggul tetap dipertahankan jangan sampai membuat sudut dan pandangan

harus selalu lurus ke atas.

2) Gerakan Kaki

Gerakan kaki agar dapat lebih jelas maka perlu ditinjau dari masing-masing

bagian. Berikut adalah uraian gerakan kaki pada renang gaya punggung:

a. Sudut naik turunnya kaki waktu pukulan kaki tergantung pada setiap

individu, tetapi sudut kaki ini harus lebih besar dari pada gaya bebas;

b. Gerakan telapak kaki ke atas merupakan gerakan cambuk. Waktu melakukan

gerakan tersebut jari kaki boleh sedikit keluar dari air;

c. Waktu melakukan pukulan kaki,harus diusahakan supaya kaki tetap dibawah

permukaan air terutama lutut;

d. Pasisi tangan saat latihan kaki, tangan berada lurus di permukaan air diatas

kepala dengan kedua telapak tangan berdekatan atau terkait.

Bagi pemula tangan lurus di samping badan, keadaan kedua tangan harus

selalu rileks. Latihan gerakan kaki meluncur berenang gaya punggung sikap pertama

bergelantung di bibir kolam atau menghadap bibir kolam lemparkan badan ke

belakang yang berakhir dengan tolakan kaki sehingga badan terlentang dipermukaan

air bergerak maju, ayunan kedua kaki seperti yang telah dijelaskan tersebut hanya

pada gerakan kaki renang gaya punggung tangan berada disamping badan.

3) Gerakan Tangan

Ada tiga fase gerakan lengan yaitu sebagai berikut:

a. Gerakan pull atau penarikan

Gerakan ini dimulai dari posisi lengan lurus di belakang kepala, jari

kelingking berada di bawah. Memulai gerakan siku sedikit ditekuk,

kemudian tarik lengan mendekati badan. Gerakan ini berakhir setelah lengan

atas atau siku mendekati badan yang selanjutnya dilakukan gerakan push.

(Setiawan;2004:25).
b. Gerakan Push Atau Pendorongan

Gerakan ini dilakukan dengan jalan lengan bawah mengadakan

pendorongan dengan kuat sampai telapak tangan mendekati paha. Gerakan

ini dilakukan setelah gerakan tangan akan berakhir. Setelah gerakan push

berakhir dilakukan gerakan recovery. Gerakan pendorong dilakukan dengan

jalan lengan bawah mengadakan pendorongan dengan kuat sampai telapak

tangan mendekati paha. (Setiawan;2004:25).

c. Recovery atau istirahat

Ibu jari yang keluar lebih dulu dari permukaan air, setelah tangan

lurus ke atas tangan diputar atau telapak tangan menghadap keluar

seterusnya recovery berakhir setelah tangan masuk ke air dengan jari

kelingking masuk terlebih dahulu. Gerakan ini harus dilakukan dengan

relaks tanpa harus dengan paksaan ataupun dengan gerakan tersebut

dilakukan oleh kedua tangan terus menerus secara tidak terputus-putus

sehingga seperti gerakan baling-baling. (Setiawan;2004:25).

4) Latihan Napas

Pengambilan napas tidak telalu sulit pada renang gaya punggung karena

muka tidak masuk kedalam air. Namun demikian, percikan air sering menggunakan

dalam bernafas karena bisa masuk ke hidung. Sebaiknya pengambilan napas

dilakukan melalui mulut dan hidung pada saat kedua lengan berada dalam air yaitu

pada saat kedua lengan dalam posisi horizontal atau lengan yang satu masuk dan

lengan yang lain keluar. (Setiawan;2004:26).


5) Koordinasi Gerak

Renang gaya punggung koordinasi yang penting adalah koordinasi gerakan

kaki dan tangan, soal pernapasan sebenarnya tidak perlu memengaruhi koordinasi

gerakan karena muka tidak masuk air, asal posisi badan tetap dipertahankan

horizontal. Latihan gerakan tangan sekaligus digabung dengan latihan gerakan kaki.

Muka selalu berada dipermukaan air, karena itu pengambilan napas dapat lebih

mudah. Pengambilan napas harus melalui mulut dan pandangan ke atas. Jika sudah

mendekati finis (bibir kolam) kepala didongakkan ke atas, untuk melakukan start

berikutnya atau berhenti.(Setiawan;2004:26).

Adapun gambar dari renang gaya punggung adalah:

Gambar 2.6 Posisi Badan Gaya Punggung


(https://urusandunia.com/macam-macam-gaya-renang/#)
Bedasarkan kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa gaya punggung adalah

berenang dengan posisi punggung menghadap ke permukaan air. gerakan kai dan

tangan serupa dengan daya bebas, tapi dengan posisi tubuh telentang di permukaan

air. beberapa tehnik dalam renang gaya punggung yaitu 1) Posisi badan pada renang

gaya punggung adalah: badan terlentang di permukaan air, telinga berada pada

permukaan air, panggul tetap dipertahankan jangan sampai membuat sudut dan

pandangan harus selalu lurus ke atas. 2) gerakan kaki agar dapat lebih jelas maka

perlu ditinjau dari masing-masing bagian. 3) Gerakan tangan, ada tiga fase gerakan

lengan yaitu sebagai berikut: a. Gerakan pullatau penarikan, b. gerakan pushatau

pendorongan, c. Recovery atau istirahat. 4) Latihan Napas; pengambilan napas tidak

terlalu sulit pada renang gaya punggung karena muka tidak masuk kedalam air. 5)

Koordinasi Gerak; latihan gerakan tangan sekaligus digabung dengan latihan

gerakkan kaki. Muka selalu berada di permukaan air, karena itu pengambilan napas

lebih mudah. Pengambilan napas harus melalui mulut dan pandangan ke atas.

E. Peranan Kecerdasan Intelektual Terhadap Keterampilan Renang

Kecerdasan intelektual diperlukan untuk lebih mudah merencana setiap

kegiatan yang dilakukan dalam renang. Ginanjar (2009:46) menyatakan “ orang yang

kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak akan ada informasi yang sulit,

semuanya dapat disimpan, diolah dan diinformasikan kembali pada saat dibutuhkan”.

Proses dalam menerima, menyimpan dan mengolah kembali informasi, (baik

informasi yang didapat lewat pendengaran, penglihatan atau penciuman) bisa disebut

“berfikir’’. Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan/khazanah otak

manusia.

Kecerdasan intelektual ataupun Intelligence Quotient atau yang biasa

disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang

pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Prancis pada awal

abad ke-20 (Carruso;2009:43). Ginanjar (2009:81) menegaskan bahwa “ Apabila

seseorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat
dan banyak. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada

seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-

sakitan) dan gangguan intelektual. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada

saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak

dengan IQ-nya.

F. Peran Kebugaran Jasmani Terhadap Keterampilan Renang

Kebugaran jasmani merupakan salah satu aspek yang penting untuk

melakukan satu kegiatan. Jika seorang yang bugar, maka orang tersebut sanggup

untuk beraktifitas lama tanpa merasa kelelahan, hal sesuai dengan yang dikemukakan

oleh Sumasardjono (2002:19) menjelaskan “ Kesegaran jasmani adalah kemampuan

seseorang untuk menunaikan tugasnya sehari-hari dengan mudah tanpa merasa lelah

yang berlebihan dan masih mempunyai tenaga untuk menikmati waktu sesungguhnya

dan keperluan-keperluan yang mendadak’’.

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa kesegaran jasmani adalah

kesanggupan dan kemampuan fisik untuk melakukan pekerjaan dengan efisien

maupun untuk melakukan aktifitas selanjutnya. Setiap individu mempunyai tinggkat

kesegaran jasmani yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga.

Begitu juga halnya dengan keterampilan olahraga renang diperlukan tinggkat

kebugaran yang baik sehingga dalam melakukan permainan tersebut tampa merasa

lelah.

Keterampilan renang merupakan perlombaan yang di lakukan secara pribadi

dengan peraturan yang telah di tentukan kebugaran jasmani diperlukan kebugaran

untuk memperoleh prestasi yang lebih baik lagi. Dalam bidang olahraga untuk

mencapai prestasi yang tinggi atau hasil yang sebaik-baiknya, adalah kesegaran

jasmani yang baik merupakan persyaratan yang tak dapat diabaikan. Suatu tingkat

kesegaran jasmani yang tinggi dapat meningkatkan penampilan olahraga dan

mengatasi kemungkinan terjadinya cedera (Moelek, 1998:2).

Oleh karena itu dalam setiap keadaan fisik (fisik mendapat pembebanan)

dibutuhkan suatu tingkat kesegaran jasmani yang didukung oleh tubuh. Dilain pihak,
latihanpun harus diprogramkan sedemikian rupa agar kualitas kesegaran jasmani

dapat lebih baik.