Anda di halaman 1dari 3

PROFESIONALISME DAN KREDIBILITAS ASESOR

DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Sekolah merupakan instansi yang diposisikan sebagai garda terdepan dan


posisi sentral di dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam
mengahsilkan generasi-generasi terdidik.
Berkaitan dengan itu, maka sekolah akan menjadi bahan pembicaraan banyak
orang, dan tentunya tidak lain berkaitan dengan perananan keberadaan dan
manfaatnya. Sorotan tersebut lebih bermuara pada kebutuhan di dalam
melaksanaan proses penyaluran pendidikan sebagai persiapan generasi penerus
dalam perkembangan dan kemajuan suatu bangsa., sehingga bermuara kepada
rendahnya mutu pendidikan. Kalaupun sorotan itu lebih mengarah kepada sisi
kelemahan guru, maka hal itu tidak sepenuhnya dibebankan kepada guru, dan
mungkin ada sistem (management) yang berlaku kurang tepat, baik sengaja ataupun
tidak disengaja berpengaruh terhadap permasalahan pendidikan.
Kemajuan sumber daya manusia tidak dapat diproleh begitu saja, melainkan
haruslah diproleh melalui “proses pendidikan” yang baik dan “institusi” yang baik
pula.
Proses Pendidikan secara formal dilaksanakan di sekolah melalui proses
belajar mengajar. Peroses Belajar Mengajar (PBM) merupakan inti dari proses
pendidikan secara keseluruhan, dan guru sebagai pemegang peranan utamanya.
Harapan ke depan, terbentuk sinergi yang baik dalam lingkungan Sekolah
(Madrasah) sehingga terjalinnnya kinerja yang efektif dalam pencapaian tujuan dan
efisien dalam pemanfaatan disetiap elemen yang ada dipersekolahan. Kinerja guru
yang positif akan terbentuk bilamana masing-masing struktur memiliki
tanggungjawab dan memahami tugas dan kewajiban masing-masing.
Disamping peran guru, juga peran kepala sekolah sebagai pemimpin dalam
memimpin sekolah. Melaksanakan pengelolaan sekolah yang dipimpin oleh kepala
sekolah akan tergambar dengan hasil evaluasi belajar siswa setiap akhir tahun.
Demikian juga dalam penilaian kinerja sekolah melalui akreditasi sekolah akan
tercermin hasil akreditasinya.
Oleh sebab itu akreditasi sekolah merupakan salah satu cara dalam
penjaminan mutu pendidikan. Dan evaluasi belajar yang dilakukan oleh pemerintah
melalui UN merupakan evaluasi kinerja pendidikan. pada standar nasional
pendidikan. dan yang menjadi dasar hukum pelaksanaan akreditasi diantaranya
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan;
3. Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 13
Tahun 2018 tentang Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan
Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan
Nonformal;
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 173/PMK.05/2016 tentang Perubahan
atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang
Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian
Negara/Lembaga; dan
Untuk bisa menghasilkan mutu, menurut Slamet (1999) terdapat empat usaha
mendasar yang harus dilakukan oleh para pendidik dalam suatu lembaga
pendidikan, yaitu:
1. Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi
“kalah-menang” diantara pihak yang berkepentingan dengan lembaga
pendidikan (stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga
dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu
sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga
pendidikan tersebut.
2. Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang
yang terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga
pendidikan harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu
tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan
dan harapan pengguna/langganan.
3. Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang.
Penerapan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan bukanlah suatu
proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten
dan terus menerus.
4. Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk
mencapai mutu yang ditetapkan, haruslah dikembangkan adanya kerjasama
antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil mutu.
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan
tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada
pelangggannya yang utamanya yaitu kepada mereka yang belajar dalam
lembaga pendidikan.
Peranan akreditasi sekolah sebagai pengawasan dan pengendalian esensinya
bahwa mengarahkan sekolah untuk dapat masuk pada program peningkatan
mutu yang berorientasi kepada kebutuhan/harapan pelanggan, oleh sebab itu
layanan pendidikan suatu lembaga haruslah memperhatikan kebutuhan dan
harapan masing-masing pelanggan (kebutuhan dalam peningkatan
pendidikan). Hasil dari pengawasan dan pengendalian tentunya akan bertalian
pada kepuasan dan kebanggaan dari mereka sebagai penerima manfaat
layanan pendidikan yang menjadi acuan bagi program peningkatan mutu
layanan pendidikan.
Diantara langkah untuk pelaksanaan akreditasi yang berkualitas melalui
adanya melalui cara sebagai berikut :
1. Pembinaan terhadap pengelola pendidikan
2. Pendampingan terhadap pengelola pendidikan
3. Memberikan Pendidikan Uji Kompetensi pada para asesor
4. Memberikan sanksi kepada para pengelola yang terbukti memanipulasi
data pendukung Akreditasi
5. Memberikan sangksi pada para asesor yang bertugas visitasi ketika
terbukti melakukan pelanggaran kode etik Asesor
Karena Akreditasi harus benar-benar memotret performansi satuan pendidikan
(performance). Untuk menghasilkan potret performansi satuan pendidikan dalam
penerapan budaya mutu jelas dibutuhkan asesor yang berkualitas.
Akreditasi juga bermanfaat untuk menilai standar mutu layanan yang diberikan
satuan pendidikan pada peserta didik, pemerintah, masyarakat, dan pengguna
lulusan. Itu berarti setiap satuan pendidikan harus mengikuti proses akreditasi untuk
memastikan legalitas dan penjaminan budaya mutu lembaga.
Banjar, 08 Maret 2019
Pendaftar

Fathurrohim