Anda di halaman 1dari 12

SARI PUSTAKA

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROGNOSIS


KANKER OVARIUM

Oleh :

dr. Heri Farnas


Peserta PPDS OBGIN

Pembimbing :
dr. Syammel Muhammad, Sp.OG (K)

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS (PPDS)


OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP M. DJAMIL PADANG
2019
DAFTAR ISI

BAB III KESIMPULAN ............................................................................. 47


DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 48

ii
DAFTAR GAMBAR

iii
DAFTAR TABEL

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel
jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Dalam perkembangannya, sel-sel
kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan
kematian. Kanker sering dikenal oleh masyarakat sebagai tumor, padahal tidak
semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau
abnormal. Tumor dibagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas.
Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas. Kanker dapat
menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh, dan pada semua gologan umur,
namun lebih sering menimpa orang yang berusia 40 tahun. Umumnya sebelum
kanker meluas atau merusak jaringan di sekitarnya, penderita tidak merasakan
adanya keluhan ataupun gejala. Bila sudah ada keluhan atau gejala, biasanya
penyakitnya sudah stadium lanjut. Setiap orang mempunyai risiko untuk terkenal
kanker. Risiko akan meningkat pada setiap orang yang mempunyai faktor risiko
kanker. (YKI, 2018).
Menurut data dari International Agency for Research Cancer (IARC) tahun
2018 kasus baru kanker di dunia meningkat menjadi 18,1 juta dengan 9,6 juta pasien
meninggal. Satu dari 6 orang perempuan menderita kanker selama hidupnya dan 1
dari 11 perempuan yang menderita kanker meninggal. Diseluruh dunia jumlah total
orang yang hidup menderita penyakit kanker dalam 5 tahun, disebut prevalensi
kanker dalam 5 tahun diperkirakan berjumlah 43,8 juta orang.
Meningkatnya beban kanker disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk
pertumbuhan populasi dan proses penuaan serta perubahan prevalensi penyebab
kanker tertentu yang terkait dengan perkembangan sosial dan ekonomi. Hal ini
terutama terjadi di negara berkembang yang sedang tumbuh pesat, di mana saat ini
terlihat terjadi pergeseran dari pola kanker yang terkait dengan kemiskinan dan
infeksi kepada kanker yang berhubungan dengan gaya hidup yang umumnya terjadi
di negara industri yang sedang berkembang.

1
Upaya pencegahan yang efektif dapat menjelaskan penurunan angka
kejadian yang diamati untuk beberapa kanker, seperti kanker paru-paru (mis. Pada
pria di Eropa Utara dan Amerika Utara) dan kanker serviks (mis. Di sebagian besar
wilayah selain Afrika Sub-Sahara). Namun data baru menunjukkan bahwa sebagian
besar negara masih dihadapkan dengan peningkatan jumlah absolut kasus yang
didiagnosis dan membutuhkan pengobatan dan perawatan.
Secara global, jika digabungkan pola kanker untuk pria dan wanita
menunjukkan bahwa hampir setengah dari kasus baru dan lebih dari setengah
kematian akibat kanker di seluruh dunia pada tahun 2018 diperkirakan terjadi di
Asia, hal ini karena wilayah Asia memiliki hampir 60% dari populasi global.
Eropa menyumbang 23,4% dari kasus kanker global dan 20,3% dari
kematian akibat kanker, meskipun hanya 9,0% dari populasi global. Amerika
memiliki 13,3% dari populasi global dan bertanggung jawab atas 21,0% kejadian
dan 14,4% kematian di seluruh dunia. Berbeda dengan wilayah dunia lainnya,
proporsi kematian akibat kanker di Asia dan Afrika (masing-masing 57,3% dan
7,3%) lebih tinggi daripada proporsi kasus insiden (masing-masing 48,4% dan
5,8%), karena wilayah ini memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi.

1.2 Rumusan Masalah


Terdapat banyak faktor risiko yang berperan dalam terjadinya kanker, dari
berbagai faktor risiko yang ada perlu di lakukan evaluasi faktor apa yang berperan
dalam menentukan prognosis dan harapan hidup pasien dalam 5 tahun.

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Memahami epidemiologi, etiologi, faktor risiko, klasifikasi, patogenesis,
manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, komplikasi, tatalaksana
dan prognosis kanker ovarium.
1.3.2 Meningkatkan kemampuan dalam penulisan dan penelusuran kepustakaan
ilmiah di bidang kedokteran, terutama yang berkaitan dengan kanker
ovarium.

1.4 Metode Penulisan

2
Sari pustaka ini menggunakan metode penulisan yang mengambil sumber
dan referensi dari kepustakaan baik dari buku, artikel maupun jurnal ilmiah.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kanker Ovarium


2.1.1. Definisi

2.1.2. Etiologi

2.1.3. Klasifikasi

2.1.4. Diagnosis

2.1.5. Penatalaksanaan

2.1.6 Komplikasi

2.1.7. Prognosis

2.1.8. Tantangan Di Masa Depan

1
BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
1. Perdarahan dalam kehamilan masih merupakan penyebab kematian ibu
terbanyak di Indonesia.
2. Perdarahan antepartum menyumbang 2-5% komplikasi pada semua
kehamilan dan menjadi penyebab utama kematian pada ibu dan bayi di
seluruh dunia.
3. Plasenta previa dan solusio plasenta merupakan penyebab perdarahan
antepartum yang paling sering terjadi dan memiliki kontribusi utama
terhadap kematian maternal maupun neonatal.
4. Prinsip utama setiap penatalaksanaan perdarahan adalah mengatasi syok
yang terjadi secepat mungkin.
5. Prioritas utama dalam penatalaksanaan perdarahan adalah stabilisasi
kondisi ibu terlebih dahulu dilanjutkan dengan penilaian kondisi janin.
6. Sangat sulit untuk menilai dengan pasti jumlah perdarahan yang terjadi,
karena perdarahan yang keluar dari saluran genital tidak selalu
mencerminkan jumlah keseluruhan perdarahan yang berlangsung.
7. Pemeriksaan pada setiap kondisi perdarahan dalam kehamilan harus
dilakukan dengan hati-hati dan menyeluruh sehingga dapat meminimalisir
angka kesakitan dan kematian ibu.
8. Prognosis perdarahan antepartum bergantung dari faktor penyebab
perdarahan dan derajat perdarahan yang terjadi.

2
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham, Lenovo, Bloom, et al. Obstetrical Hemorrhage Chapter 41 in


Williams Obstetrics 25th Edition. New York : Mc Graw Hill Education ; 2018.
p.1154-1214.
2. Clinical Guideline: Management of Patient Reporting an Antepartum
Haemorrhage. Mid Essex Hospital Services:2015.
3. Amokrane N, Allen ERF, Waterfield A, Datta S. Antepartum Haemorrhage.
Obstetrics, Gynaecology and Reproductive Medicine. Elsevier Ltd.2016;1-5.
4. Trends in maternal mortality : 1990 to 2015 Estimates by WHO, UNICEF,
UNFPA, World Bank Group and United Nations Population Division.
Switzerland. WHO ; 2015.
5. Profil Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2016. Sekretariat Jenderal
Kementerian Kesehatan. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI ; 2017.
6. Navti OB, Konje JC. Chapter 58 : Bleeding in Late Pregnancy. In. James D,
Steer PJ, Weiner CP, Gonik B, Crowther CA, Ribson SC. Editors. High Risk
Pregnancy Management Options 4th edition. London : Saunders Elsevier ;
2011.p.1037-1052.
7. Antepartum Haemorrhage. Clinical Guideline : Obstetrics & Midwifery. Perth.
Departement of Health Western Australia: 2015.
8. Antepartum haemorrhage or bleeding in the second half of pregnancy. South
Australian Perinatal Practice Guidelines. SA Health. 2013.
9. Clinical Guideline : Antepartum Haemorrhage (APH) including plcenta
praevia, placental abruption and vasa praevia. Canberra Hospital and Health
Services. 2015;p.1-10.
10. The Advances in Labour and Risk Management International Program 4th
Edition. Chapter 5: Antepartum Hemorrhage. ALARM: 2015
11. Royal College of Obstetricians & Gynaecologists. Antepartum Haemorrhage.

3
Green-top Guideline No. 63. London : RCOG ; 2011.
12. Karunatilaka P, Rathnapa SR, Ranasinghe KDS, Marasinghe U, Rajapaksa DS,
Rodrigo N. Management of Antepartum Haemorrhage. SLCOG National
Guideline. 2016.
13. Callahan TL, Caughey AB. Blueprints Obstetrics and Gynaecology 7th edition.
Chapter 5 : Antepartum Hemorrhage. Philadelphia:Wolters Kluwer Health ;
2018.p.179-204.
14. Chalik T.M.A. Perdarahan pada Kehamilan Lanjut dan Persalinan dalam : Ilmu
Kebidanan Sarwono Prawirohardjo Edisi Kelima. Jakarta: PT. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2016. p.492-521.
15. Lockwood CJ, Stieglitz KR. Clinical Features, diganosis, and course of
placenta previa. UpToDate.Wolter Kluwer. 2017.
16. Tyagi P, Yadav N, Sinha P, Gupta U. Study of antepartum haemorrhage and
its maternal and perinatal outcome. Int. J Reprod Contracept. Obstet. Gynecol.
2016 ; 5(11): 3972-3977.
17. Sekiguchi A, Nakai A, Kawabata I, Hayashi M, Takeshita T. Type and
Location of Placenta Previa Affect Preterm Delivery Risk Related to
Antepartum Hemorrhage. Int. J. Med. Sci. 2013; Vol.10(12):1683-1688.
18. Caric Y, Bhide A. Chapter 10 : Antepartum Haemorrhage. In. Bhide A,
Arulkumaran, Damaria KR, Daftari SM. Editors. Arias’ Practical Guide to
High-Risk Pregnancy and Delivery: A South Asian Perspective Science New
Delhi: ELSEVIER; 2015.p.151-162.
19. Royal College of Obstetricians & Gynaecologists. Placenta Praevia, Placenta
Praevia Accreta and Vasa Praevia : Diagnosis and Management. Green-top
Guideline No. 27a. London: RCOG;2018.
20. Fan D, Wu S, Liu L, Xia Q, Wang W, Guo X, et. Al. Prevalence of antepartum
hemorrhage in women with placenta previa : a systematic review and meta-
analysis. Sci.Rep.2017;7:4032(1-9).
21. Matsuda Y, Hayashi K, Shiozaki A, Kawamichi Y, Satoh S, Saito S.
Comparison of risk factors for placental abruption and placenta previa : Case-
cohort study. J. Obstet. Gynaecol. Res. 2011 ; Vol. 37 (6) :538-546.
22. Kollmann M, Gaulhofer J, Lang U, Klaritsch P. Placenta praevia : incidence,

4
risk factors and outcome. J Maternal Fetal Neonatal Med. 2015;1-4.
23. Almnabri AA, Al Ansari EA, Abdulmane MM, Saadawi DW, Almarshad TA,
Banoun AA,. et al. Management of Placenta Previa During Pregnancy. The
Egyptian Journal of Hospital Medicine. 2017;68(3) 1549-1553.
24. Ananth C, Kinzler WL. Placental Obruption : Clinical features and diagnosis.
UpToDate.Wolter Kluwer. 2017.
25. Turner MJ. Uterine Rupture. In. Basket TF, Calder AA, Arulkumaran S,
Editors. Munro Kerr’s Operative Obstetrics 12th edition. London : Saunders
Elsevier ; 2014.p.152-155.
26. American College of Obstetricians and Gynecologists: Premature rupture of
membranes. Practice Bulletin No. 172, January 2016.
27. Aviram A, Salzer L, Hiersch L, et al: Association of isolated polyhydramnios
at or beyond 34 weeks of gestation and pregnancy outcome. Obstet Gynecol
125(4):825, 2015.
28. Deering SH. (2017). Obruptio Placentae. Talavera F, Pierce JG, Smith
CV.Editors. Emedicine. http://emedicine.medscape.com/article/252810-
overview#a6. - Diakses September 2018.
29. The American College of Obstetricians and Gynecologists. Preterm Labor and
Birth. Washington. ACOG 2016
30. The Advances in Labour and Risk Management International Program 4th
Edition. Chapter 15: Preterm Labor and Preterm Birth. ALARM: 2015.
31. Sharma R, Bewlay A,.Coagulation Disorders In Pregnancy. Anaesthesia : UK.