Anda di halaman 1dari 10

Volume 10. Nomor 2.

December 2015

Pandecta
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/pandecta

Pengamanan dan Penengakan Hukum di Perairan Indonesia


sebagai Konsekuensi Penetapan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)

Levina Yustitianingtyas 

Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah, Surabaya, Indonesia


Permalink/DOI http://dx.doi.org/10.15294/pandecta.v10i2.

Article History Abstrak


Received : August 2015; Posisi Indonesia sangat strategis menjadi jalur pelayaran perdangan dunia. Alur Laut
Accepted: September 2015; Kepulauan Indonesia (ALKI) menjadi jalur pelayaran bagi perekonomian dunia rentan
Published: September 2015 terhadap kriminalitas di lautan, seperti perompakan terhadap kapal-kapal dagang dan ka-
pal yang bermuatan ekonomis lainnya. Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang
Keywords: bagaimana upaya pengamanan dan penegakan hukum di perairan Indonesia terkait den-
ALKI, law enforce-
gan penetapan alur laut kepulauan Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
ment, shipping
meskipun telah dilaksanakan kerjasama antara angkatan laut Indonesia dengan angkatan
laut Negara lain, akan tetapi kasus perompakan masih sering terjadi, hal ini dikarenakan
luasnya serta minimnya kapal patroli untuk menegakkan keamanan di lautan.

Abstract
Indonesia strategic position that is becoming a very important shipping lanes for cruise lines
and world trade. ALKI the shipping lane for the world economy makes prone to criminality
in the sea. Until now prevalent crime committed by pirates against merchant vessels and
ships and other economically. This research addressess the question of how the efforts of
security and law enforcement in Indonesian waters associated with the establishment of
archipelagic sea lanes Indonesia. The result of the research reveal taht although it has been
implemented between the Indonesian navy cooperation with navies of other countries,
but cases of piracy is still often the case, this is because the breadth and the lack of patrol
vessels to enforce security at sea.

 © 2015 Universitas Negeri Semarang


Address: Jl. Arif Rahman Hakim 150, Surabaya, Indonesia ISSN 1907-8919 (Cetak)
E-mail: firman.yusticia86@gmail.com ISSN 2337-5418 (Online)
Pandecta. Volume 10. Nomor 2. December 2015

1. Pendahuluan tugasnya sebagai aparat penegak hukum (pe-


nyidikan) di laut yaitu, TNI AL, POLRI, PPNS
Dalam United Nations Convention on (Kepabean, Perhubungan Laut, Departemen
the Law of the Sea 1982 (untuk selanjutnya Kelautan dan Perikanan, Imigrasi, Lingkun-
disingkat UNCLOS 1982), kedaulatan Ne- gan Hidup, Departemen Kehutanan), tetapi
gara kepulauan meliputi perairan yang di- justru hal ini menimbulkan duplikasi kewe-
tutup oleh garis pangkal kepulauan ditarik nangan pada masing-masing instansi tersebut
sesuai ketentuan yang ada dalam UNCLOS karena banyaknya instansi yang berwenang
1982 yang disebut sebagai perairan kepua- dalam hal penegakan hukum di lautan.
lauan tanpa memperhatikan kedalaman dan Berdasarkan data dari Buku Putih De-
jaraknya dari pantai. Kedaulatan ini meliputi partemen Pertahanan Republik Indonesia
ruang udara diatas perairan kepulauan, das- 2006 disebutkan bahwa wilayah kedaulatan
ar laut, dan tanah dibawahnya dan sumber Indonesia dengan lebih dari 17.500 pulau,
daya alam yang ada di dalamnya. Kedaulatan menempatkan Indonesia sebagai negara ke-
(sovereignty) dan hak berdaulat (sovereignty pulauan terbesar di dunia. Dua pertiga dari
right) Negara atas laut merupakan hak Ne- wilayah Indonesia merupakan wilayah laut
gara untuk melakukan pengaturan, penga- dengan garis pantai 81.000 km serta wilayah
wasan, perlindungan dan pengeloaan atas ZEE seluas 4.000.000km2. kegiatan perda-
laut guan melindungi kepentingan nasional gangan dan transportasi internasional mela-
di lautan. Oleh karena itu merupakan suatu lui Sea Lane Of Communication (SLOC) dan
keharusan adanya pengamanan laut di Indo- Sea Lane of Transportation (SLOT) di perairan
nesia yang berkelanjutan. Indonesia terus meningkat. Aktivitas perairan
Menurut Ken Booth dalam bukunya yang meningkat tersebut menempatkan laut
Navies and Foreign Policies, Angkatan Laut memegang peraran yang sangat penting bagi
sebagai bagian utama dari kekuatan laut se- bangsa Indonesia maupun masyarakat inter-
cara universal mengemban tiga peranan yang nasional. Arti penting laut yang dimaksud
disebut dengan Trinitas peran Angkatan Laut, bukan hanya terbatas pada kekayaan sumber
yaitu peran militer (military role), peran po- daya alam saja tetapi juga sebagai penghu-
lisionil (constabulary role) dan peran diplo- bung pulau-pulau yang tersebar di seluruh
masi (diplomacy role)(Booth, 2015). Sebagai wilayah Indonesia, oleh karena itu keamanan
salah satu alat perlengkapan Negara dibidang laut sangat penting bagi Indonesia(Miswan,
pertahanan dan keamanan Tentara Nasional dkk. 2007).
Indonesia Angkatan Laut (selanjutnya dising- Akhir-akhir ini isu keamanan laut perlu
kat TNI AL) dalam menjalankan tugasnya mendapatkan perhatian yang serius. Isu kea-
berpedoman pada Undang-undang Nomor manan laut tersebut berupa ancaman keke-
34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional rasan (pembajakan, perompakan, sabotase
Indonesia. TNI AL mempunyai tugas dalam serta teror terhadap obyek vital), ancaman
menegakkan hukum dan menjaga keamanan navigasi (kekurangan dan pencurian sarana
wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai den- bantu navigasi), ancaman sumber daya laut
gan hukum nasional dan hukum internasio- (perusakan serta pencemaran laut dan eko-
nal yang telah diratifikasi1, dengan demikian sistemnya) dan ancaman kedaulatan dan
dapat dikatakan bahwa penegakan keama- hukum (penangkapan ikan secara illegal,
nan di laut memiliki dua dimensi, yaitu pe- imigrasi gelap, human trafficking, eksploitasi
negakan kedaulatan dan penegakan hukum dan eksplorasi sumber daya laut)(www.kom-
sehingga dua dimensi tersebut saling terkait pas.com.20/4/2013). Kondisi yang demikian
satu sama lain. menyebabkan dunia pelayaran pelayaran
Merujuk pada peraturan perundang- internasional masih menempatkan perairan
undangan yang berlaku, ada beberapa Indonesia sebagai wilayah yang relativ masih
instansi yang berwenang dalam menjalankan berbahaya bagi pelayaran kapal-kapal asing.
1 Lihat lebih lanjut pasal 9 butir b Undang-undang
Pengamanan jalur pelayaran internasional
Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional
Indonesia. yang melalui selat Malaka dan tiga jalur ALKI

144
Levina Yustitianingtyas, Pengamanan dan Penengakan Hukum di Perairan Indonesia

adalah tanggung jawab Indonesia. kum berupa semua publikasi tentang hukum
Kelalaian dan kelemahan dalam pen- yang bukan merupakan dokumen-dokumen
gamanannya dapat membawa konsekuen- resmi. Bahan hukum sesuai obyek yang di-
si terhadap masuknya pasukan asing untuk teliti yang berhasil dikumpulkan kemudian
turut mengamankan sesuai dengan Resolusi dianalisis secara deduktif, dimana bahan hu-
Dewan Keamanan PBB Nomor 1816 tang- kum utama yang diperoleh dari peraturan
gal 2 Juni 20082 sebagaimana ditetapkan di perundang-undangan dan literatur-literatur
perairan Somalia. Kondisi keamanan laut yang ada di perpustakaan kemudian diklasifi-
yang cukup memprihatinkan menuntut upa- kasikan untuk mengetahui mana yang dapat
ya sistematis untuk menyelamatkan perairan digunakan dalam menyusun kembali bahan
Indonesia dari gangguan keamanan, hukum hukum sesuai obyek yang diteliti berdasarkan
dan kedaulatan. Faktanya karena Indonesia teori yang digunakan untuk mengambil ke-
berbatasan darat dan laut dengan 10 negara simpulan.
tetangga dan sampai saat ini Indonesia ma-
sih menghadapi masalah perbatasan negara, 3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
terutama terkait dengan garis batas dengan
Sejarah Perjuangan Indonesia menjadi
negara tetangga, sehingga potensi ancaman
pencurian ikan dan sumber daya laut lainnya Negara Kepulauan (Arcipelagis State)
terbuka lebar. dalam UNCLOS 1982.
Berdasarkan latar belakang permasala-
han diatas, maka dalam penelitian ini akan Pada tanggal 13 Desember 1957 Indo-
dianalisis bagaimana upaya pengamanan nesia mengeluarkan pengumuman pemerin-
dan penegakan hukum di perairan Indonesia tah yang kemudian dikenal sebagai Deklarasi
terkait dengan konsekuensi Indonesia dalam Djuanda yang dicetuskan Perdana Mentri Ir.
penetapan jalur ALKI. H. Djuanda Kartawidjaya. Deklarasi ini me-
nyatakan kepada masyarakat internasional
2. Metode Penelitian bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut
sekitar, diantara dan yang menghubungkan
Metode penelitian yang digunakan
pulau-pulau di dalam kepulauan Indonesia
dalam penelitian hukum ini adalah yuri-
merupakan satu kesatuan wilayah yaitu Ne-
dis normative, yaitu dengan memfokuskan
gara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
pembahasannya pada peraturan perundang-
undangan maupun konvensi internasional Sebelum lahirnya Deklarasi Djuanda peratu-
yang berlaku sebagai dasar pembahasan ser- ran tentang laut Indonesia berdasarkan pada
ta kaitannya dengan penerapan yang dalam Ordonasi Hindia Belanda 1939, yaitu Terri-
praktek. Penerapan yang dimaksud adalah toriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie
aspek hukum internasional maupun hukum 1939 (TZMKO). Pasal 1 ayat 1 Ordonansi ini
nasional yang relevan dalam hal pengama- mengatur bahwa Laut Teritorial negara Indo-
nan dan penegakan hukum terhadap tindak nesia membentang kearah seluas 3 mil laut
pidana di wilayah perairan Indonesia. Ba- dihitung dari garis air surut pada tiap-tiap pu-
han hukum yang dipakai adalh bahan hu- lau atau bagian dari dari pulau. Konsekwensi
kum, sekunder yang merupakan bahan hu- dari ketentuan ini adalah bahwa tiap pulau di
2 Dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor dalam negara Indonesia mempunyai laut ter-
1816 tanggal 2 Juni 2008 Dewan Keamanan ritorial sendiri-sendiri, dipisahkan oleh laut
PBB menekankan pentingnya kerjasama semua bebas. Ini berarti kapal asing boleh dengan
negara termasuk dengan International Maritime
Organization (IMO) dengan Pemerintah Transisi
bebas melayari laut yang memisahkan pulau
Federalo Somalia untuk menghadapi masalah tersebut(Kusumaatmadja. 1978).
pembajakan dan perompakan bersenjata di negara Deklarasi Juanda telah menjadikan
itu. Dari resolusi ini menandakan bahwa masalah semua perairan yang berada di atara dan di
keamanan maritime kini dimensi politiknya
semakin meningkat di dunia internasional sehingga
sekitar pulau-pulau di Indonesia sebagai ba-
negara yang terkait dengan masalah tersebut harus gian dari wilayah NKRI. Perubahan tersebut
mengelola keamanan maritimnya dengan baik. secara drastis telah merubah arti laut dari

145

Pandecta. Volume 10. Nomor 2. December 2015

sudut pandang kolonialisme dengan politik dalam konferensi hukum laut itu sendiri.
divide et impera-nya, menjadikan alat pe- Usaha pertama yang dilakukan adalah den-
mersatu yang melahirkan satu kesatuan yang gan menyatukan konsep archipelago states
kuat antara unsure tanah dan air. Meskipun tentang prinsip-prinsip pokoknya yang ke-
merupakan perairan nasional Indonesia tidak mudian dikembangkan menjadi draft artikel
akan menutup perairan pedalamannya se- dalam konferensi(Djalal, 1997:339). Meski-
panjang lalu lintas kapal asing dilaksanakan pun telah terjadi perubahan-perubahan pada
secara damai. Konsepsi ini kemudian dikenal naskah penyempurnaan dari draft konvensi,
sebagai Wawasan Nusantara yang disahkan pada draft tersebut telah memuat pengakuan
dalam Peraturan Pengganti Undang-undang terhadap negara nusantara, yang dengan de-
(perpu) Nomor 4 Tahun 1960 tentang Perai- mikian perjuangan Indonesia di tingkat masy-
ran Indonesia. Akibat perubahan aturan dari arakat Internasional telah berhasil.
Ordonansi TZMKO menjadi aturan hukum
nasional itu sangat signifikan, karena wila- Pengaturan Hak Lintas Alur Laut Kepu-
yah yang berada dibawah kedaulatan negara lauan dalam UNCLOS 1982.
yang tadinya 2.027.087 km2 (daratan) men-
jadi ± 5.193.250 km2 (daratan dan lautan), Pada tanggal 10 Desember 1982 ne-
jadi dengan demikian ada penambahan wila- gara-negara di dunia berkumpul di Montego
yah laut sebesar 3.166.163 km2. Bay untuk menandatangani United Nation
Untuk menjamin lalu lintas kapal asing Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
melewati perairan nusantara, Indonesia Perjanjian ini akan mulai berlaku setelah
mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomer adanya 60 instrumen ratifikasi. Indonesia me-
8 Tahun 1962 tentang Lalu Lintas Damai ratifikasi UNCLOS 1982 dengan Undang-un-
Kendaraan Asing Dalam Perairan Indonesia. dang Nomor 17 Tahun 1985, sebagai negara
Aturan ini ditetapkan guna memberikan ara- kepulauan Indonesia mempunyai kedaulatan
han kepada para petugas yang berada dilau- di wilayah perairan pedalaman, laut territo-
tan tentang ketentuan hak lintas damai yang rial dan perairan kepulauan. Hak berdaulat
dijamin oleh Undang-undang diatas. (sovereign right) adalah kekuasaan suatu ne-
Perjuangan atas prinsip nusantara ini gara terhadap wilayah tertentu yang dalam
tidak hanya membuat peraturan bagi Indo- pelaksanaannya harus tunduk pada hukum
nesia saja, di masyarakat internasional In- internasional. Hak berdaulat ini umumnya
donesia mengenalkan prinsip nusantara di berupa hak untuk memanfaatkan sumber
konperensi-konperensi internasional yang di- daya alamyang terdapat di kawasan tertentu
selenggaran di kota Jenewa pada tahun 1958 yang termasuk dalam wilayah kedaulatan-
dan 1960. Usaha Indonesia pada saat itu un- nya. Hak berdaulat berlaku di landas konti-
tuk mendapatkan pengakuan sebagai Negara nen dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE)(Arsana,
Nusantara belum ada hasilnya, sementara itu 2007:35).
Indonesia juga melakukan perjanjian-per- Kedaulatan suatu negara pantai, selain
janjian tentang laut dengan negara-negara wilayah daratan dan perairan pedalamannya
tetangga. Sekitar tahun 1970-an Indonesia dan dalam hal Negara Kepulauan, perairan
memprakarsai pengajuan masalah hukum kepulauannya meliputi pulau suatu jalur laut
laut dalam AALCC (Asian African Legal Con- yang berbatasan dengannya disebut dengan
sultative Committee), dan kemudian di siding laut teritorial. Kedaulatan ini meliputi ruang
itu ditetapkan bahwa masalah hukum laut udara diatasnya serta dasar laut dan tanah
akan menjadi prioritas utama untuk tahun- dibawahnya. Kedaulatan atas laut terotorial
tahun berikutnya, pada pertemuan negara- dilaksanakan dengan tunduk pada ketentuan
negara Non-Blok juga dijadikan Indonesia hukum internasional3.
untuk mencari dukungan terhadap prinsip Bertolak dari Deklarasi Juanda 1957
nusantara. dan Pasal 26 pada Bab IXA UUD NRI 1945,
Hasil yang paling penting adalah usaha
3 Lihat lebih lanjut penjelasan dalam Pasal 2 ayat (1),
dalam United Nation Seabed Committee dan (2), (3) UNCLOS 1982.

146
Levina Yustitianingtyas, Pengamanan dan Penengakan Hukum di Perairan Indonesia

maka luas wilayah laut yang berada di bawah an garis yang bersambungan mulai dari tem-
kedaulatan dan yurisdiksi Indonesia menja- pat masuk rute lintas hingga tempat keluar.
di 5,9 juta km2 atau bertambah luas hampr Kapal dan pesawat udara yang melakukan
12 kali lipatnya, yang terdiri dari laut teri- lintas melalui alur laut kepulauan tidak bo-
torisl 0,3 juta km2, perairan kepulauan 2,9 leh menyimpang lebih dari 25 mil laut kedua
juta km2 dan ZEE 2,7 km2. Dengan begitu sisi, dengan demikian ketentuan bahwa ka-
luasnya wilayah perairan Indonesia, maka pal dan pesawat udara tersebut tidak boleh
penyusunan kebijakan kelautan harus lebih berlayar atau terbang dekat dengan pantai
memperhatikan pendekatan wilayah dan kurang dari 10 persen jarak antara titik-titik
ruang serta pengelolaan sumber daya kelau- terdekat pada pulau-pulauyang berbatasan
tan didasarkan pada konsep geopolitik dan dengan alur laut tersebut.
geostrategis sebagaimana tertuang dalam wa- Dalam menentukan atau mengganti
wasan nusantara yang memandang seluruh alur laut atau menetapkan skema pemisah
wilayah daratan, lautan dsan udara di atas- lalu lintas suatu negara kepulauan harus men-
nya, segenap penduduk, serta seluruh sum- gajukan usul-usul kepada organisasi interna-
ber daya alam yang terkandung di dalamnya sional yang berwenang dalam hal ini adalah
sebagai satu kesatuan. International Maritime Organization (IMO),
Berdasarkan pasal 53 tentang hak lintas dengan maksud untuk dapat diterima. IMO
alur laut kepulauan4 bahwa penentuan Alur hanya dapat menerima alur laut dan skema
Laut Kepulauan sendiri sebenarnya tidak di- pemisah lalu lintas yang demikian sebagai-
haruskan. Negara kepulauan dapat menen- mana disetujui bersama dengan negara ke-
tukan Alur Laut kepulauan dan route pener- pulauan setelah negara kepulauan dapat
bangan di atasnya, yang cocok digunakan menentukan, menetapkan atau menggan-
untuk lintas kapal dan pesawat udara asing tinya. Nantinya jika negara kepulauan tidak
yang terus menerus, langsung dan secepat menentukan alur laut atau rute penerban-
mungkin melalui atau diatas perairan kepu- gan maka yang berlaku adalah semua kapal
lauannya dan laut terotorial yang berdampin- diperbolehkan melewati jalur-jalur navigasi
gan dengannya. Semua kapal dan pesawat normal yang biasa digunakan dalam pelaya-
udara menikmati hak lintas alur kepulauan ran dunia (route normally used for internatio-
dalam alur laut dan rute penerbangan yang nal navigation).
demikian.
Alur laut dan rute penerbangan demi- Penentapan Alur Laut Kepulauan Indone-
kian harus melintasi perairan kepulauan dan sia (ALKI)
laut territorial yang berdampingan dan men-
cakup semua rute lintas normal yang digu- Ratifikasi Indonesia terhadap UNCLOS
nakan sebagai rute atau alur untuk pelayaran 1982 mempunyai akibat hukum bahwa In-
internasional atau penerbangan melintasi pe- donesia harus mengatur lebih lanjut tentang
rairan kepulauan dan dalam rute demikian, hak lintas alur laut kepulauan ke dalam pera-
sepanjang mengenai kapal, semua alur navi- turan nasionalnya dan oleh Indonesia telah
gasi normal dengan ketentuan bahwa dupli- dituangkan dalam Undang-undang Nomor 6
kasi rute yang sama mudahnya melalui tem- Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia, yang
pat masuk dan keluar tidak perlu yang sama. menetapkan bahwa Indonesia menentukan
Alur laut dan rute penerbangan demi- alur-alur laut termasuk rute penerbangan
kian harus ditentukan dengan suatu rangkai- diatasnya yang cocok digunakan untuk pe-
laksanaan lintas alur laut kepulauan tersebut
4 Lintas alur laut kepulauan adalah merupakan
pelaksanaan hak pelayaran dan penerbangan sesuai
dengan menentukan sumbu-sumbunya yang
dengan Konvensi dalam cara normal semata-mata dicantumkan pada peta-peta laut yang diu-
untuk melakukan transit secara terus menerus, mumkan.
langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang Sejarah penetapan Alur Laut Kepulau-
satu bagian laut lepas atau ZEE dan bagian laut
an Indonesia (ALKI) di mulai dilingkungan
lepas atau ZEE lainnya. Lihat penjelasan lebih lanjut
pada pasal 53 dalam UNCLOS 1982. Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut

147

Pandecta. Volume 10. Nomor 2. December 2015

(Seskoal) sekitar Februari – Maret 1991, perairan Indonesia telah diterbitkan Peratu-
khususnya di Direktorat Pengkajian, setelah ran Pemerintah Nomor 37 Tahun 2002 ten-
mempelajari hasil UNCLOS 1982 (Indonesia tang Peraturan Pemerintah tentang Hak dan
Maritim Institue, 2013). Pada saat itu juga Kewajiban Kapal dan Pesawat Udara Asing
dibicarakan tentang keharusan Indonesia Dalam Melaksanakan Hak Lintas Alur Laut
menetapkan alur laut melalui perairan yuris- Kepulauan Melalui Alur Laut Kepulauan yang
diksinya untuk mewadahi pelayaran transit Ditetapkan(Miswan, dkk, 2007). Tiga jlaur
dari suatu perairan ke perairan yang lain. Pe- ALKI beserta cabang-cabangnya di perairan
netapan ALKI dilakukan dengan pertimban- Indonesia, yaitu5 :
gan aspek pertahanan dan keamanan nega- 1) ALKI I : rute untuk pelayaran dari Laut
ra serta kondisi hidro-oseanografi agar jalur Cina Selatan melintas Laut Natuna,
pelayaran aman dilalui setiap kapal. Seksoal Selatan Karimata, Laut Jawa dan
kemudian mengusulkan melalui forum stra- Selat Sunda ke Samudra Hindia atau
tegi TNI AL yang dicanangkan untuk mem- sebaliknya.
bicarakan hasil usulan ALKI kepada negara. 2) ALKI cabang IA : rute untuk pelayaran
Sebelum forum strategi dimulai, Direktorat dari Selatan Singapura melintasi Laut
Pengkajian mengajukan konsep ALKI yang Natuna, Selatan Karimata, Laut Jawa
dikenal dengan Makalah Ajakan(Indonesia dan Selat Sunda ke Samudra Hindia
Marititime Institute, 2013). Usulan atas jalur atau sebaliknya, atau melintasi Laut
ALKI tersebut kemudian diterima oleh forum Natuna ke Laut Cina Selatan atau
dan diputuskan bahwa Indonesia telah siap sebaliknya.
untuk mengajukan usul penentapan 3 (tiga) 3) ALKI II : rute untuk pelayaran dari
jalur ALKI kepada IMO di London sebagai Sulawesi melintasi Selat Makasar, Laut
organisasi internasional yang kompeten me- Flores dan Selat Lombok ke Samudra
nurut ketentuan-ketentuan yang terdapat Hindia atau sebaliknya.
dalam Konvensi. Pada tanggal 19 Mei 1998 4) ALKI IIIA : rute untuk pelayaran
kemudian pada sidang pleno Maritime Safety dari Samudra Pasifik melintasi Laut
Committee ke-69, IMO secara resmi mene- Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat
rima 3 (tiga) jalur ALKI yang diusulkan Indo- Ombai dan Laut Sawu sebelah Barat
nesia (Indonesia Marititime Institute, 2013). Pulau Sawu ke Samudra Hindia atau
Indonesia sebagai negara kepulauan sebaliknya.
pertama yang mengusulkan penentapan alur- 5) ALKI cabang IIIB : rute untuk pelayaran
alur laut kepulauannya sesuai dengan keten- dari Samudra Pasifik melintasi Laut
tuan yang terdapat dalam UNCLOS 1982 Maluku, Laut Seram, Laut Banda dan
(Indonesia Marititime Institute, 2013). Untuk Laut Leti ke Laut Timor atau sebaliknya.
menindak lanjuti keputusan IMO tersebut, 6) ALKI cabang IIIC : rute untuk pelayaran
pemerintah Indonesia kemudian memper- dari Samudra Pasifik melintasi Laut
siapkan penetapan Peraturan Pemerintah M<aluku, Laut Seram, Laut Banda, ke
yang akan mengubah beberapa garis pangkal Laut Arafuru atau sebaliknya.
kepulauan Indonesia di kawasan yang ber- 7) ALKI cabang IIID : rute untuk pelayaran
sangkutan dan Peraturan Pemerintah lainnya dari Samudra Pasifik melintasi Laut
yang akan menetapkan ALKI tersebut ke da- Maluku, Laut Seram dan Laut Banda,
lam perundang-undangan nasional yang di- Selat Ombai dan Laut Sawu sebelah
sertai dengan ketentuan lebih lanjut tentang Timur Pulau Sawu ke Samudra Hindia
hak dan kewajiban kapal-kapal dan pesawat atau sebaliknya.
udara asing yang melaksanakan hak lintas 8) ALKI cabang IIIE : rute untuk pelayaran
alur laut kepulauan melaui Perairan Kepulau- dari Sulawesi melintasi Laut Maluku,
an Indonesia, sesuai dengan pasal 18 ayat (3) 5 Pasal 11 Peraturan Pemerintah nomor 37 Tahun
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 ten- 2002 tentang Hak dan Kewajiban Kapal dan
Pesawat Udara Asing Dalam Melaksanakan Hak
tang perairan Indonesia.
Lintas Alur Laut Kepualuan Melalui Alur Laut
Berkaitan dengan pengaturan wilayah Kepulauan yang Ditetepkan.

148
Levina Yustitianingtyas, Pengamanan dan Penengakan Hukum di Perairan Indonesia

Laut Seram, Laut Banda, Laut Ombai, lintas baik laut maupun udara diatas laut jawa
dan Laut Sawu sebelah barat Pulau yang memiliki banyak sekali bandara intern-
Sawu atau Laut Sawu sebelah Timur asional dan juga pelabuhan-pelabuhan besar.
Pulau Sawu ke Samudra Hindia atau Bagi sebagian kalangan, termasuk mi-
sebaliknya, atau melintasi Laut Maluku, liter pembukaan jalur ALKI barat-timur akan
Laut Seram, Laut Banda, Selat Leti dan menambah beban pengamanan nasional se-
Laut Timor ke Samudra Hindia atau hingga menghendaki upaya diplomasi lanju-
sebaliknya, atau Laut Seram dan Laut tan untuk tidak membuka jalur tersebut. Bagi
Banda ke Laut Arafura atau sebaliknya. kalangan akdemisi justru pada umumnya
Sehubungan dengan pembukaan ALKI, berendapat bahwa jalur tersebuit sebaiknya
kapal-kapal pelayaran internasional baik ka- dibuka dengan tetap berlandaskan pada hu-
pal niaga maupun kapal perang dapat melin- kum internasional.
tas tanpa harus meminta ijin terlebih dahulu
dan kapal selam dapat melintas tanpa harus Pengamanan dan Penengakan Hukum di
muncul dipermukaan. Tiga jalur ALKI yang di- Perairan Indonesia
tetapkan berdasarkan peraturan pemerintah
tersebut merupakan alur laut utara-selatan Akhir-akhir ini, isu keamanan perlu
dan belum mencakup semua alur laut yai- mendapat perhatian serius. Isu keamanan
tu alut laut timur-barat. Mengapa harus ada laut tersebut meliputi ancaman kekerasan
alur laut kepulauan? Hal ini merupakan suatu (pembajakan, perompakan, sabotase serta
konsekuensi dari diakuinya prinsip negara ke- terror obyek vital), ancaman navigasi (keku-
pulauan oleh masyarakat internasional, maka rangan dan pencurian saran bantu navigasi),
negara kepulauan harus memberikan akses ancaman sumber daya laut (perusakan serta
lewat bagi kapal-kapal asing yang melintasi pencemaran laut dan ekosistemnya) dan an-
perairan kepulauannya, karena dulunya jalur caman kedaulatan dan hukum (penangkapan
tersebut merupakan jalur tradisional yang di- ikan secara illegal, imigran gelap, eksplorasi
gunakan dalam pelayaran internasional. dan eksploitasi sumber daya laut. Berdasar-
Atas keputusan menyerahkan tiga jalur kan data International Maritime Bureau (IMB)
utara-selatan ALKI ke Maritime Safety Com- pada semester pertama tahun 2012 telah ter-
mittee, maka Indonesia sudah harus siap jadi 177 kali serangan bajak laut di perairan
dituntut oleh negara lain sperti Amerika, Je- wilayah Indonesia. Insiden dengan kategori
pang, Inggris, Kanada, Australia karena mere- perompakan di wilayah Indonesia sebanyak
ka menganggap penentuan ALKI tidak sesuai 32 kali dengan satu insiden di selat Malaka.
dengan ketentuan umum dari alur laut kepu- Insiden perompakan di perairan Indonesia-
lauan yakni harus meliputi seluruh rute nor- menjadi kedua terbanyak setelah perairan
mally used for international navigation dari Somalia yaitu sebayak 44 kali(www.detik.
satu laut lepas ke laut lepas lainnya. com, 12/12/14).
Akhirnya pada tahun 1998 saat Mariti- Perdagangan manusia (human traf-
me Safety Committee menggelar meetingnya ficking) juga masih menjadi permasalahan,
yang ke-72, delegasi Indonesia menjanjikan perdangan manusia lebih banyak diperkerja-
bahwa Indonesia akan memenuhi penentu- kan pad sector informal seperti tempat-tem-
an ALKI secara lengkap dengan memasuk- pat hiburan malam atau menjadi pekerja seks
kan alur laut barat-timur walupun keputusan komersil. Hal ini tentunya dapat menurunkan
tersebut sangat beresiko, Karen beberap titik martabat bangsa Indonesia. Selain perdagan-
laut Jawa juga merupakan laut dangkal den- gan manusia, penyelundupan narkoba juga
gan kedalaman hanya 20-45 meter sehingga masih menjadi pekerjaan bagi para aparat
kurang aman digunakan untuk rute pelaya- penegak hukum untuk mengatasinya.
ran besar. Tidak hanya itu beberapa bagian Tata kelola pemerintahan di laut meny-
laut di alur tersebut juga digunakan sebagai angkut dengan keselamatan, keamanan dan
taman nasional dan cagar alam. Faktor lain penegakan hukum dapat dikatakan belum
yang menjadi kendala adalah kepadatan lalu tersedia secara memadai padahal banyak

149

Pandecta. Volume 10. Nomor 2. December 2015

sekali kriminalitas dan traksaksi illegal yang Untuk menjamin terselenggaranya


terjadi akhir-akhir ini di perairan Indonesia. keselamatan dan keamanan di laut sebagai-
Untuk itu perlu dibenahi sedini mungkin agar mana dimaksud pada pasal 276 ayat (1) dan
wilayah laut kita aman dari segala kondisi ba- pasal 279 ayat (3) Undang-undang nomor 17
haya. Tahun 2008 tentang Pelayaran, dilaksanakan
Mengingat luasnya wilayah perairan In- fungsi penjagaan dan penegakan peraturan
donesia keberadaan TNI AL masih jauh dari perundang-undangan dan hukum di laut dan
harapan untuk dapat menjadi armada angak- pantai yang dilakukan oleh Penjaga Laut dan
tan laut yang kuat dan tangguh. Saat ini kapal Pantai (Sea and Coast Guard). Penjaga Laut
perang angkatan laut yang dimiliki Indonesia dan pantai sebagaimana dimaksud pasal 277
rata-rata berumur diatas 50 tahun merupa- ayat (1) melakasanakan tugas :
kan kapal perang bekas angkatan laut bekas a. Melakukan pengawasan dan
negara Uni Soviet di era perang dingin, de- keselamatan dan keamanan
mikian juga dengan kapal selamnya. Jumlah pelayaran yang meliputi keselamatan
kapal selam yang dimiliki Indonesia masih dan keamanan angkutan perairan,
kurang dibandingkan Malaysia yang memiliki pelabuhan serta perlindungan
wilayah laut lebih sempit dari Indonesia. Un- lingkungan maritime;
tuk itu perlu di dorong penyediaan fasilitas b. Melakukan pengawasan pencegahan
armada pengawasan untuk memperkuat per- dan penanggulangan pencemaran di
tahanan di wilayah maritime boundary. laut;
Saat ini Indonesia sudah memiliki Ba- c. Pengawasan dan penertiban kegiatan
dan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkam- salvage, pekerjaan bawah air serta
la), pada awalnya Bakorkamla adalah me- eksploitasi dan eksplorasi kekayaan
rupakan badan koordinasi bersama antara laut;
Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima d. Pengawasan dan penertiban kegiatan
Angkatan Bersenjata, Menteri Perhubun- serta lalu lintas kapal;
gan, Menteri Keuangan, Menteri Kehakiman e. Pengamanan sarana bantu navigasi
dan Kejaksaaan Agung (KEP/D/45/XII/1972, pelayaran dan mendukung pelaksanaan
SK.901/M/1972, Kep.779/MK/III/12/1972, kegiatan pencarian dan pertolongan
JS.8/72/1972 dan KE/JA/12/1972 tanggal 12 jiwa manusia di laut.
Desember 1972 tentang Badan Koordinasi Dalam rangka melakukan tugasnya se-
Keamanan Laut). Keputusan bersama ini te- bagaimana dimaksud dalam pasal 279 ayat
lah diperbaharui dengan Peraturan Presiden (1) Penjaga laut dan Pantai di sukung oleh
RI Nomor 81 Tahun 2005 yang ternyata perlu prasarana berupa pangkalan armada penja-
disempurnakan lagi karena tidak sesuai den- ga laut dan pantai yang berolaki di seluruh
gan pemikiran tentang perlunya pengaturan wilayah Indonesia, dan dapat menggunakan
kembali Badan Koordinasi Keamanan Laut kapal dan pesawat udara yang berstatus se-
sebagai pengganti Badan yang telah dibentuk bagai kapal negara. Dalam ayat (3) disebut-
sebelum tahun 1972, pada tahun 2003 me- kan bahwa pelaksanaan penjagaan dan pe-
lalui Keputusan Menteri Koordinasi Bidang negakan hukum di laut oleh penjaga laut dan
Politik dan Keamanan Nomor Kep.05/Men- pantai sebagaimana dimaksud ayat (1) diatas
ko/Polkam/2/2003 maka dibentuk Kelompok wajib menggunakan dan menunjukkan iden-
Kerja Perencanaan Pembangunan Keamanan titas yang jelas. Tugas dan fungsi penjaga laut
dan Penegakan Hukum di Laut. dan pantai tersebut diatas, sejalan dengan
Melalui serangkaian seminar dan rapat pasal 73, 101, 111 dan pasal 224 UNCLOS
koordinasi lintas sektoral, maka pada tanggal 1982 dan Konvensi Internasional tentang
29 Desember 2005 ditetapkan Peraturan Pre- Keselamatan Jiwa di Laut sebagaimana telah
siden Nomor 81 Tahun 2005 tentang Badan diamandemen sebelumnya tentang tindakan
Koordinasi Keamanan Laut (BAKORKAMLA) khusus untuk meningkatkan keselamatan
yang menjadi dasar hukum dari organisasi dan keamanan maritime.
BAKORKAMLA. Pelaksanaan penjagaan dan penega-

150
Levina Yustitianingtyas, Pengamanan dan Penengakan Hukum di Perairan Indonesia

kan hukum di laut6 memuat ketentuan yang kerja yang efektif.


mengantisipasi kemajuan teknologi dengan
mengacu pada UNCLOS 1982 disamping 4. Simpulan dan Saran
mengimplementasikan tentang ketentuan Keberadaan Indonesia sebagai negara
khusus hukum acara pidana sebagaimana di- kepulauan telah diakui oleh masyarakat in-
maksud Ordonansi Laut Teritorial dan Ling- ternsional, sebagai konsekuensi dari penga-
kungan Maritim atau TZMKO 1939 Stb 442 kuan tersebut berdasarkan Konvensi Hukum
disamping itu juga mengimplementasikan Laut 1982 negara kepulauan harus mem-
pasal 284 ayat (2) Undang-undang Nomor 8 berikan hak akses bagi kapal-kapal asing.
Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Indonesia telah berhasil menetapkan Alur
Hukum Acara Pidana (KUHAP) mengenai Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang telah
ketentuan khusus acara pidana dan Kitab dikonsultasikan dengan badan internasional
Undang-undang Hukun Pidana (KUHP) pasal yang berwenang yaitu International Maritime
438 sampai dengan pasal 479 yang menga- Organization (IMO) dan dikuatkan dalam Pe-
tur tentang kejahatan pelayaran. Jika melihat raturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2002
beberapa negara yang berbasis maritime, tentang Hak dan Kewajiban Kapal dan Pesa-
masalah keamanan laut biasanya dikelola wat Udara Asing Dalam Melaksanakan Hak
oleh Badan Penjaga Pantai (Cost Guard). Ba- Lintas Alur Laut Kepulauan Melalui alur Laut
dan ini bertugas sebagai lembaga penegakan Kepulauan Yang Ditetapkan. Merupakan ke-
hukum di laut seta menjaga keamanan dan wajiban bagi Indonesia untuk menjaga dan
keselamatan pelayaran. Ada gagasan dari memelihara laut Indonesia dalam upayanya
pemerintah Indonesia untuk memebentuk untuk menegakkan, mempertahankan dan
badan tersebut dan telah diatur pula dalam mengamankan, melindungi, memelihara ke-
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 ten- daulatan wilayah serta yurisdiksi dilaut ber-
tang Pelayaran7. Keluarnya Peraturan Presi- dasarkan peraturan perundangan-undangan
den Nomor 39 Tahun 2013 tentang Rencana nasional dan hukum internasional.
Kerja Pemerintah membawa harapan baru Hendaknya pemerintah Indonesia da-
, karena salah satu agenda kerjanya adalah lam penetapan alut laut Timur-Barat memer-
pembentukan badan kemanan laut. lukan suatu telaah yang seksama karena hal
Badan Keamanan Laut agar dapat se- ini menyangkut masalah yang sangat penting
gera terealisasi pembentukannya, ada bebe- yang dapat memepengaruhi kepentingan
rapa faktor yang harus dijalankan diantaranya keamanan dan ekonomi negara.
komitmen dan kepemimpinan yang kuat dari
penentu kebijakan untuk menghilangkan in- DAFTAR PUSTAKA
efisiensi di semua sector pelayanan publik
Booth, Ken, Navies and Foreign Policies, www.book.
termasuk kemanan laut dan berani meru-
google.com
bah visi negara kepulauan menjadi visi ne-
Miswan, H, dkk, Konsep Perwakilan di Daerah Untuk
gara maritim. Tidak kalah pentingnya juga
Pengamanan Laut Seiring Implementasi Mil-
kebijakan di bidang kelautan kesatuan yang
lenium Development Goals (MDG’s), Jurnal
utuh dan bersinergi artinya merupakan satu
Sosisoteknologi Edisi 11 tahun ke-6, Agusutus
kesatuan komando dan pengendalian, serta
2007
menciptakan efektifitas melalui capaian ki-
Indonesia Maritime Institute, Alur Laut Kepulauan : Se-
nerja berbasis cost and benefit yang setiap
buah Konsekuensi Negara Kepulauan, 26 No-
pengeluarannya harus terukur dengan hasil
vember 2013
6 Lihat lebih lanjut pasal 279 ayat (3) Undang- Hasyim Djalal, CSIS, 1997, Indonesia and the Law of
undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran The Sea
7 Bab XVII Penjagaan Laut dan Pantai (Sea and Coast
Made Andi Arsana, 2007, Batas Maritim Antar Negara,
Guard) pasal 276 sampai 281 Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2008 telah mengamanatkan University Press, Yogyakarta
untuk membentuk Badan Penjagaan Laut dan Mochtar Kusumaatmadja, 1978, Hukum Laut Internasi-
Pantai paling lama 3 tahun setelah terbitnya onal, Binacipta, Bandung
Undang-undang ini.

151

Pandecta. Volume 10. Nomor 2. December 2015

Peraturan Perundang-undangan :Undang-undang No-


mor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
Peraturan Pemerintah nomor 37 Tahun 2002 tentang
Hak dan Kewajiban Kapal dan Pesawat Udara
Asing Dalam Melaksanakan Hak Lintas Alur
Laut Kepualuan Melalui Alur Laut Kepulauan
yang Ditetapkan
Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Ten-
tara Nasional Indonesia
Keputusan Bersama KEP/D/45/XII/1972,
SK.901/M/1972, Kep.779/MK/III/12/1972,
JS.8/72/1972 dan KE/JA/12/1972 tanggal 12
Desember 1972 tentang Badan Koordinasi Ke-
amanan Laut
Peraturan Internasional :
Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1816 tanggal
2 Juni 2008
Website :
www.detik.com, Waspada : Perompak di Selat Malaka
Perlunya Tindakan Tegas, 12 Desember 2014
www.kompas.com, perompakan : ancaman bagi ke-
daulatan wilayah perairan Indonesia, 20 April
2013


152