Anda di halaman 1dari 5

NAMA : GILANG ADI BRILLIANT

NIM : 1741211013

MATA KULIAH : AIK ( AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN

SOAL!!!

1. Bagaimana integrasI ilmu pengetahuan dengan ayat-ayat kouliyah dan kouniyah, tulis contohnya
dan dalil qur’annya yang berkaitan dengan hal itu ?
2. Jelaskan paradigma-paradigma ilmu bebas nilai dan tidak bebas nilai serta peran ahlak dalam
penerapan iptek
3. Bagaimanakan allah memerintahkan seseorang muslin untuk menuntut ilamu (dalil qur’an) dan
jelaskan apa yang disebut ilmu yang bermanfaat dan hadisnya
4. Jelaskan hubungan antara ilmu, agama, dan budaya jelaskan lalu hubungkan?

JAWABAN!

1. Terkait dengan hal tersebut, dalam salah satu tulisannya, Satria Dharma
(www.satriaDharma.com) menyatakan ada dua kitab yang telah diturunkan Allah Swt. Pertama
adalah Kita Suci yang telah diturunkan Allah. Kitab Suci inilah yang disebut sebagai Kitab
Kauliyah. Kedua adalah bentang alam semesta yang tebentang luas ini yang menjadi sumber
utama kelahiran Ilmu Kauniah. Jika Kitab Kauliyah adalah Kitab Suci yang berisi firman-fiman
Allah Swt. maka Kitab Kauniyah adalah berisi semua hasil kajian dan pemikiran manusia melalui
proses penelitian. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim dalam mencari Allah
Swt.
Contoh Ayat Kauliyah

Pencarian kebenaran Ilmu Kauniyah memerlukan proses pengujian dan pengujian, mulai dari
rasa tidak percaya. Sementara kebenaran Ilmu Kauliyah diawal dengan rasa percaya. Surat Ad-
Dhuha tentau saja merupakan salah satu ayat Kauliyah yang amat penting, antara lain
menjelaskan tentang perlindungan anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
َ ُ ُ ُ ََ َ ُ ُُ ُ َ ْ ‫ي ُيحب َل إ َّن ُه ُتْس ُفوا َو َل َو‬
َ ‫ْال ُمْسف‬
‫اشبوا َوكلوا َمسجد كل عند ِزينتكم خذوا آد َم َب ِن َيا‬ ِ ِ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf : 31)
2. Paradigma ilmu bebas nilai
Ilmu bebas nilai dalam bahasa Inggris sering disebut dengan value free, yang menyatakan bahwa
ilmu dan teknologi adalah bersifat otonom. Ilmu secara otonom tidak memiliki keterkaitan sama
seklai dengan nilai. Bebas nilai berarti semua kegiatan terkait dengan penyelidikan ilmiah harus
disandarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak
secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri.
Josep Situmorang menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada 3 faktor sebagai indikator bahwa
ilmu itu bebas nilai, yaitu:
a. Ilmu harus bebas dari pengendalian-pengendalian nilai. Maksudnya adalah bahwa ilmu harus
bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor ideologis, religious, cultural, dan social.
b. Diperlukan adanya kebebasan usaha ilmiah agar otonom ilmu terjamin. Kebebasan di sisni
menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri.
c. Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat
kemajuan ilmu, karena nilai etis sendiri itu bersifat universal.
Dalam pandangan ilmu yang bebas nilai, eksplorasi alam tanpa batas dapat dibenarkan, karena hal
tersebut untuk kepentingan ilmu itu sendiri, yang terkdang hal tersebut dapat merugikan
lingkungan. Contoh untuk hal ini adalah teknologi air condition, yang ternyata berpengaruh pada
pemansan global dan lubang ozon semakin melebar, tetapi ilmu pembuatan alat pendingin ruangan
ini semata untuk pengembangan teknologi itu dengan tanpa memperdulikan dampak yang
ditimbulakan pada lingkungan sekitar. Setidaknya, ada problem nilai ekologis dalam ilmu tersebut,
tetapi ilmu bebas nilai menganggap nilai ekologis tersebut menghambat perkembangan ilmu.
Paradigma ilmu tidak bebas nilai
Ilmu yang tidak bebas nilai (value bond) memandang bahwa ilmu itu selalu terikat dengan nilai
dan harus dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek nilai. Perkembangan nilai tidak
lepas dari dari nilai-nilai ekonomis, sosial, religius, dan nilai-nilai yang lainnya.
Menurut salah satu filsof yang mengerti teori value bond, yaitu Jurgen Habermas berpendapat
bahwa ilmu, sekalipun ilmu alam tidak mungkin bebas nilai, karena setiap ilmu selau ada
kepentingan-kepentingan. Dia juga membedakan ilmu menjadi 3 macam, sesuai kepentingan-
kepentingan masing-masing;

‫علَى ُك ِِّل ُم ْس ِلم‬ َ ‫ب ْال ِع ْل ِم فَ ِر ْي‬


َ ٌ‫ضة‬ َ
ُ َ‫ط ل‬
3. “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin
Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

Menuntut ilmu itu wajib bagi Muslim maupun Muslimah. Ketika sudah turun perintah Allah
yang mewajibkan suatu hal, sebagai muslim yang harus kita lakukan adalah sami’na wa
atha’na, kami dengar dan kami taat. Sesuai dengan firman Allah Ta ‘ala:
َ ْ ُ َ َ ُ َ ََ َ ُ ُ َ َ ُ ‫َ ه‬ ُ َ َ ْ َ َ َ َّ
‫ي إذا د ُعوا إَل اَّلل َو َر ُسوله ل َيحك َم َبين ُهم أن َيقولوا َسمعنا َوأطعنا ۚ َوأول ََٰٰئك ه ُم ال ُمفل ُحون‬ ‫إن َما كان قو َل ال ُمؤمن‬

“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada
Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah
dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang
yang berbahagia.” (QS. An-Nuur [24]: 51).

Sebagaimana kita meluangkan waktu kita untuk shalat. Ketika waktu sudah menunjukkan
waktu shalat pasti kita akan meluangkan waktu untuk shalat walaupun misal kita sedang
bekerja dan pekerjaan kita masih banyak. Kita akan tetap meninggalkan aktivitas kita dan
segera mengerjakan shalat. Maka begitupun sebaiknya yang harus kita lakukan dengan
menuntut ilmu.

Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah
wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu.
Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-
Nya disebarkan.

Kebutuhan pada ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan pada makanan dan minuman,
sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan,
“Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan
minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap
waktu.”

belajar ilmu duniawi. Karena hukum mempelajari ilmu duniawi itu tergantung pada tujuannya.
Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam keburukan, maka
buruk. (Lihat Kitaabul ‘Ilmi, hal. 14).

a. Pengetahuan yang pertama, berupa ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris-analitis.
Ilmu Ini menyelidiki gejala-gejala alam secara empiris dan menyajikan hasil penyelidikan untuk
kepentingan-kepentingan manusia. Dari ilmu ini pula disusun teori-teori yang ilmiah agar dapat
diturunkan pengetahuan-pengetahuan terapan yang besifat teknis. Pengetahuan teknis ini
menghasilkan teknologi sebagai upaya manusia untuk mengelola dunia atau alamnya.

b. Pengetahuan yang kedua, berlawanan dengan pengetahuana yang pertama, karena tidak
menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai
sesamanya, memperlancar hubungan sosial. Aspek kemasyarakatan yang dibicarakan adalah
hubungan sosial atau interaksi, sedangkan kepentingan yang dikejar oleh pengetahuana ini
adalah pemahaman makna.
c. Pengetahuan yang ketiga, teori kritis. Yaitu membongkar penindasan dan mendewasakan
manusia pada otonomi dirinya sendiri. Sadar diri amat dipentingkan disini. Aspek sosial yang
mendasarinya adalah dominasi kekuasaan dan kepentingan yang dikejar adalah pembebasan
atau emansipasi manusia.
Ilmu yang tidak bebas nilai ini memandang bahwa ilmu itu selalu terkait dengan nilai dan harus
di kembangkan dengan mempertimbangkan nilai. Ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari
nilai-nilai kepentingan-kepentingan baik politik, ekonomi, sosial, keagamaan, lingkungan dan
sebagainya.
Ilmu yang Bermanfaat
Ibnu Rajab Al-Hanbali t menjelaskan tentang ilmu yang bermanfaat. Beliau mengatakan, pokok
segala ilmu adalah mengenal Allah I yang akan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, cinta
kepada-Nya, dekat dengan-Nya, tenang dengan-Nya, dan rindu pada-Nya. Kemudian setelah itu
berilmu tentang hukum-hukum Allah I, apa yang dicintai dan diridhai-Nya dari perbuatan,
perkataan, keadaan atau keyakinan hamba.
Orang yang mewujudkan dua ilmu ini, maka ilmunya adalah ilmu yang bermanfaat. Ia, dengan
itu, akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyu’, jiwa yang puas dan doa yang
mustajab. Sebaliknya yang tidak mewujudkan dua ilmu yang bermanfaat itu, ia akan terjatuh ke
dalam empat perkara yang Nabi r berlindung darinya. Bahkan ilmunya menjadi bencana
buatnya, ia tidak bisa mengambil manfaat darinya karena hatinya tidak khusyu’ kepada Allah I,
jiwanya tidak merasa puas dengan dunia, bahkan semakin berambisi terhadapnya. Doanya pun
tidak didengar oleh Allah I karena ia tidak merealisasikan perintah-Nya serta tidak menjauhi
larangan dan apa yang dibenci-Nya.
Lebih-lebih apabila ilmu tersebut bukan diambil dari Al Qur‘an dan As Sunnah, maka ilmu itu
tidak bermanfaat atau tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang terjadi, kejelekannya lebih besar
dari manfaatnya.

4. Hubungan Agama, Ilmu, Teknologi, Dan Kebudayaan

(1) Agama dapat dilihat sebagai kepercayaan dan pola perilaku yang dimilik ioleh manusia untuk
menangani masalah-masalah penting dan aspek-aspek alam semesta yang tidak dapat
dikendalikannya dengan teknologi maupun sistem organisasi sosial yang dikenalnya.(2)
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mendorong manusia mendayagunakan
sumber daya alam lebih efektif dan efisien,perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan
saja membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

(3) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menaikkan kualitas manusia dalam
keterampilandan kecerdasannya untuk meningkatkan kemakmuran serta inteligensi manusia
(4) Budaya mempunyai peranan penting dalam membentuk pola berpikir danpola pergaulan dalam
masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan pola pikir masyarakat tertentu.

(5) Di dalam pengembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan
dapat berkembang melalui kepribadian-kepribadian tersebut.

(6) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu sisi berdampak positif, yakni
dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Tapi disisi lain, tidak jarang iptek berdampak negatif
karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia.

Agama sukar dipisahkan dari budaya karena agama tidak akan dianut oleh umatnya tanpa
budaya.Agama tidak tersebar tanpa budaya, begitupun sebaliknya, budaya akan tersesat tanpa
agama.