Anda di halaman 1dari 7

FORMULASI TABLET OBAT HERBAL PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA L)

Nabilah Nadhif*, Gunawan, Santi Putri Pertiwi*, Gunawan Wahyudi Utomo*,


Uswatun Chasanah*, Achmad Radjaram**

*) Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang


**) Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga

ABSTRAK

Saat ini pengobatan dengan memanfaatkan tanaman obat tradisional semakin


berkembang. Salah satu tanaman obat yang sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional
adalah pegagan (Centella asiatica L). Tanaman ini mengandung bahan aktif senyawa
golongan glikosida triterpenoid (asiaticosida) yang berkhasiat sebagai anti ulkus peptikum.
Untuk meningkatkan aseptabilitas pegagan sebagai obat anti ulkus peptikum maka
dikembangkan formulasi ekstrak herba pegagan dalam bentuk sediaan tablet.
Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengikat terhadap mutu
fisik tablet ekstrak herba pegagan. Pembuatan tablet ekstrak herba pegagan dilakukan secara
granulasi basah dengan menggunakan bahan pengisi yang sama (laktosa, avicel 102 dan
amilum manihot) tetapi dengan bahan pengikat yang berbeda (HPMC 1290 3 cps, PVP K-30
dan gelatin) dengan kadar 1%, 2% dan 3%. Untuk pembuatan tablet massa granul dicetak
dengan menggunakan mesin cetak hidrolik pada tekanan 2 ton. Mutu fisik tablet ekstrak herba
pegagan meliputi kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur dievaluasi. Dari hasil evaluasi
didapatkan bahwa dengan adanya penambahan bahan pengikat HPMC terjadi peningkatan
kekerasan hanya pada kadar 3%, waktu hancur menjadi lebih lama pada kadar 2% dan 3%,
sedangkan untuk kerapuhan semakin menurun sesuai dengan peningkatan kadar bahan aktif.
Untuk pengikat PVP K-30 didapatkan kekerasan yang meningkat dan kerapuhan yang
menurun pada kadar 2% dan 3%, sedangkan waktu hancur meningkat sesuai peningkatan
kadar PVP K-30. Untuk gelatin terjadi peningkatan kekerasan dan penurunan kerapuhan pada
kadar 3%, sedangkan waktu hancur menjadi lebih lama dengan dengan adanya penambahan
bahan pengikat. Namun formula yang terpilih dalam penelitian ini ialah formula tanpa
penambahan bahan pengikat karena tanpa penambahan bahan pengikat sudah memberikan
kerapuhan yang memenuhi syarat dan memiliki kekerasan dan waktu hancur yang baik.

Kata kunci : Centela asiatica herba ekstrak, tablet, bahan pengikat

Pendahuluan
Dewasa ini dalam dunia pengobatan, gerakan back to nature semakin mendapat
perhatian. Menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia) hingga 65% dari penduduk negara maju
dan 80 % dari penduduk negara berkembang telah menggunakan obat herbal. Di Indonesia,
hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, diperoleh data bahwa sekitar 59,12% penduduk
adalah pemakai jamu. Dari pengguna jamu nasional tersebut rata-rata 95,6% mengakui
bahwa jamu bermanfaat bagi kesehatan (kisaran antara 83,23% hingga 96,66%)[ 1].
Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal di negara maju
adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat,
adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta
semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia. Oleh sebab itu WHO
merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan
masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit
153
degeneratif dan kanker. Hal ini menunjukkan dukungan WHO untuk back to nature yang dalam
hal tertentu lebih menguntungkan.
Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, memiliki kurang lebih
30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat (180
spesies telah dimanfaatkan oleh industri jamu tradisional) dan salah satu tumbuhan yang saat
ini banyak mendapatkan perhatian untuk dimanfaatkan sebagai tanaman obat adalah pegagan
(Centella asiatica L).
Pegagan merupakan tanaman herba yang termasuk keluarga Apiaceiae. Penggunaan
ekstrak pegagan dalam industi obat tradisional yang telah didasari pengujian klinik adalah
untuk pengobatan luka, luka bakar, borok pada kulit, pencegahan keloid serta hipertrofi[2],
sedangkan utuk bentuk sediaan per oral dimanfaatkan untuk pengobatan ulkus peptikum.
Banyaknya manfaat pada herba pegagan dikarenakan kandungan bahan kimia yang terdapat
di dalamnya yaitu, triterpenoid dan glikosida termasuk asiaticoside, asiatic acid,
madecassoside, madecassic acid, brahmoside, brahminoside dan centelloside .Dari berbagai
kandungan kimia tersebut dilaporkan bahwa kandungan glikosida triterpenoid terutama
asiatikosida adalah yang mempunyai aktivitas anti ulkus peptikum [3].
Dalam formulasi sediaan farmasi, baik dengan bahan aktif kimia maupun yang berasal
dari bahan alam, agar diperoleh sediaan yang bermutu harus memenuhi aspek-aspek
farmasetik. Aspek farmasetik tersebut meliputi stabilitas, keamanan, efektifitas dan
aseptabilitas.Untuk meningkatkan aseptabilitas dari ekstrak pegagan khususnya untuk sediaan
per oral, maka pada penelitian ini akan dibuat sediaan tablet ekstrak pegagan dengan dosis
yang mengacu pada penelitian sebelumnya. Pada penelitian tersebut dilaporkan bahwa lima
belas pasien dengan ulkus peptikum yang diobati dengan ekstrak pegagan yang telah dititrasi
pada dosis 60 mg/orang, sekitar 93% pasien menunjukkan peningkatan yang pasti dalam
gejala subyektif dan 73% pasien dari ulkus peptikum dapat disembuhkan. Hasil ini diukur
dengan pengamatan endoskopi dan radiologi[4]. Namun untuk mengatasi varietas tanaman
yang dipakai pada penelitian sebelumnya, maka pada penelitian ini akan dibuat
dosis 100 mg/tablet.
Zat aktif (asiaticoside) stabil terhadap suhu tinggi dan kelembaban, sedangkan sifat
ekstrak pegagan adalah kental dan lengket. Berdasarkan sifat dari zat aktif dan ekstrak
pegagan, maka dikembangkan dengan metode granulasi basah supaya dapat memperbaiki
sifat alir dan kompaktibilitas ekstrak pegagan [5].
Dalam pembuatan tablet selain bahan aktif juga diperlukan bahan tambahan, yaitu
bahan pengisi, bahan pengikat, disintegran dan lubrikan. Pada penelitian ini berdasarkan hasil
optimasi akhirnya ditentukan bahan pengisi yang digunakan adalah adalah laktosa, avicel PH
102 dan amylum manihot, sedangkan bahan pengikat yang dipakai bervariasi adalah gelatin,
atau HPMC 2910 3 cps atau PVP K30. Diharapkan dari hasil penelitian ini akan didapatkan
formulasi tablet ekstrak pegagan yang optimal.

METODOLOGI
Pembuatan ekstrak herba pegagan.
Pembuatan ekstrak pegagan dilakukan di UPT Materia Medica dengan prosedur
sebagai berikut: Sebanyak 3 kg serbuk simplisia pegagan yang sudah kering (mesh 60)
dibasahi dengan pelarut etanol 70% dan kemudian dimasukkan dalam toples. Ke dalam toples
ini selanjutnya ditambah etanol 70% sampai semua serbuk terendam, ditutup dan dibiarkan
semalam 2 hari sambil sesekali dilakukan pengadukan. Maserat dipisahkan dengan cara filtrasi
menggunaan kertas saring dan untuk ampasnya dilakukan maserasi sekali lagi. Maserat yang
didapatkan dikumpulkan dalam bejana tertutup dan dipekatkan dengan rotavapor pada suhu
154
40-500C dan hasil rotavapor diuapkan dengan menggunakan waterbath sampai diperoleh
ekstrak dengan konsistensi kental dan sudah tidak mengandung alkohol[6]. Dari hasil ekstraksi
ini didapatkan ekstrak herba pegagan sebanyak 423,08 gram (14,10%).

Pemeriksaan bahan aktif dan bahan tambahan


Untuk pemeriksaan kandungan bahan aktif glikosida triterpenoid (asiatocoside) yang
terdapat dalam ekstrak herba pegagan ini dilakukan dengan cara kromatografi lapis tipis (KLT)
menggunakan fase gerak kloroform;metanol (1:9) dan penampak noda Lieberman Burchard[7].
Untuk pemeriksaan bahan tambahan yang meliputi laktosa, avicel pH 102, HPMC, PVP K30
dan gelatin dilakukan dengan cara pemeriksaan spektra inframerahnya, dan untuk amilum
manihot dilakukan dengan cara pemeriksaan mikroskopis.

Pembuatan tablet ekstrak herba pegagan.


Untuk mempersiapkan massa cetak tablet ekstrak herba pegagan, maka pada proses
pencampuran dilakukan dengan cara granulasi basah. Semua formulasi mengandung 100 mg
ekstrak herba pegagan. Adapun pada formulasi tablet ekstrak herba pegagan telah ditentukan
bahwa sebagai bahan pengisi adalah kombinasi laktosa, amilum manihot dan avicel 102,
sebagai disintegran primojel dan lubrikan adalah magnesium stearat. Yang dibuat bervariasi
adalah bahan pengikat yang digunakan yakni HPMC 2910 3 cps, PVP K30 dan gelatin (Tabel
1).

Tabel 1 Rancangan formula tablet ekstrak pegagan.

Bahan Formula
F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 F10
Ekstrak pegagan 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Laktosa (q.s) 222,5 217,5 212,5 207,5 217,5 212,5 207,5 217,5 212,5 207,5
Amylum Manihot (20%) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Avicel PH 102 (10%) 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
HPMC 2910 3 cps 0 5 10 15 - - - - - -
PVP K30 - - - - 5 10 15 - - -
Gelatin - - - - - - - 5 10 15
Primojel 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15
Mg stearat 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Berat total tablet 500 mg. Semua dalam satuan berat miligram
HPMC hydroxypropyl methyl cellulose PVP polyvinyl pyrrolidon

Granul dicetak menggunakan mesin cetak hidrolik pada tekanan 2 ton dengan bentuk
permukaan yang rata dan dengan ukuran berdiameter 11 mm dan tebal 4 mm. Namun
sebelum dicetak terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan mutu fisik granul yang meliputi
kandungan lengas, distrbusi ukuran partikel, kecepatan alir, sudut diam, bobot jenis nyata,
bobot jenis mampat, kompresibilitas dan kompaktibilitas. Setelah didapatkan hasil pencetakan
tablet kemudian diperiksa mutu fisiknya yang meliputi kekerasan, kerapuhan dan waktu
hancur.

155
HASIL DAN DISKUSI
Hasil Uji Kualitatif Ektrak Herba Pegagan.
Dari hasil pemeriksaan ekstrak herba pegagan secara KLT didapatkan noda berwarna
coklat dengan nilai Rf 0,34. Hal ini sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa untuk
senyawa golongan glikosida triterpenoid memberikan noda berwarna coklat dengan nilai Rf
standar sebesar 0,36[7].

Hasil Uji Kualitatif Bahan Tambahan.


Dari hasil pemeriksaan kualitatif laktosa, avicel pH 102, HPMC 1290 3 cps, PVP K30
gelatin dengan menggunakan spektrofotometri inframerah didapatkan spektrum dengan sidik
jari yang sesuai dengan pustaka [8,9,10]. Untuk hasil uji kualitatif dari amilum manihot secara
mikroskopik didapatkan gambaran partikel amilum dengan bentuk bulat dan ada yang
romping, hilus berupa titik, bercabang tiga, dan lamela tidak jelas yang sesuai dengan
pustaka[11]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan-bahan yang digunakan
tersebut adalah benar laktosa, avicel pH 102, HPMC 1290 3 cps, PVP K30 dan gelatin. Untuk
hasil uji kualitatif dari amilum manihot secara mikroskopik didapatkan gambaran partikel
amilum dengan bentuk bulat dan ada yang romping, hilus berupa titik, bercabang tiga, dan
lamela tidak jelas yang sesuai dengan pustaka.

Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Granul Ekstrak Pegagan


Hasil pemeriksaan mutu fisik granul ekstrak pegagan meliputi kandungan lengas,
penentuan kecepatan alir dan sudut diam, bobot jenis nyata, bobot jenis mampat, persen
kompresibilitas, dan kompaktibilitas yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Granul (Massa Cetak)


Pemeriksaan MC (%) Kecepatan Alir Sudut Diam (o) Bobot Jenis
(g/dtk) Nyata (g/ml)
Batasan 1–2 >10 g/detik 25-40
F1 0,92±0,12 8,53±0,03 28,10±1,14 0,53±0,03
F2 1,06±0,11 10,34±2,88 24,67±4,09 0,5908±0,00
F3 1,85±0,07 9,38±0,24 26,44±4,58 0,5215±0,02
F4 1,41±0,03 8,53±0,03 28,10±1,14 0,5421±0,02
F5 0,90±0,42 8,02±0,08 27,34±4,23 0,5725±0,01
F6 1,48±0,11 9,43±0,15 26,46±1,97 0,58±0,01
F7 1,90±0,80 9,89±0,36 29,96±0,65 0,61±0,01
F8 1,18±0,09 9,78±0,42 27,17±1,04 0,58±0,02
F9 1,48±0,05 8,89±0,32 29,99±1,66 0,57±0,03
F10 1,63±0,17 9,17±0,26 31,46±2,93 0,62±0,003

Pemeriksaan BobotJenis Kompresibilitas Kompaktibilitas Kompaktibilitas Rasio


Mampat (g/ml) (%) 1 ton (kg) 2 ton (kg) Hausner
Formula
F1 0,59±0,004 9,33±5,03 7,57±0,32 10,40±0,53 1,11
F2 0,7118±0,01 17,00±0,01 7,60±0,42 10,50±0,33 1,20
F3 0,6530±0,04 20,00±3,60 7,90±0,22 10,77±0,39 1,25
F4 0,6377±0,02 14,95±1,93 8,70±0,45 11,54±0,36 1,19
156
F5 0,7157±0,008 20,01±0,006 7,60±0,38 9,33±0,33 1,26
F6 0,69±0,020 16,34±1,152 8,33±0,20 10,40±0,53 1,19
F7 0,71±0,019 14,34±1,158 8,53±0,36 10,87±0,18 1,16
F8 0,70±0,01 17,74±0,68 7,6±0,28 10,57±0,18 1,21
F9 0,67±0,03 15,23±4,13 7,67±0,24 10,98±0,34 1,18
F10 0,69±0,01 10,33±1,55 7,69±0,38 11,33±0,30 1,11

Dari data yang tercantum pada Tabel 1 tampak bahwa granul (massa cetak) pada
semua formulasi mempunyai tingkat kelembaban yang memenuhi persyaratan yakni berkisar
pada rentang 1 – 2%. Untuk sifat alir ternyata semua formulasi kecuali F2 kurang memenuhi
persyaratan, akan tetapi jika dicermati dari sudut diam massa granul didapatlan bahwa semua
masa granul sudah memenuhi persyaratan .
Rasio Hausner diperoleh dari perbandingan bobot jenis nyata dan bobot jenis mampat,
jika rasio Hausner lebih dari 1,25 sebagai indikasi sifat alir granul kurang baik. Dari Tabel 2 di
atas tampak bahwa semua formula mempunyai nilai rasio Housner yang sudah memenuhi
persyaratan kecuali pada F2.
Pengukuran distribusi ukuran partikel granul perlu diketahui untuk memastikan jumlah
fines yang ada pada massa granul, suatu massa granul dinyatakan baik jika jumlah fine kurang
dari 20%. Data lengkap dari distribusi ukuran granul sebagaimana yang ditunjukkan pada
Tabel 3 berikut ini

Tabel 3 Distribusi Ukuran Granul


Mesh 40 60 80 100 120 Pan % fines
Ukuran
µm 425 250 180 150 125 <125
F1 23,65 14 4,76 3,22 0,48 4,35 9,57
F F2 18,96 7,54 8,21 6,72 3,76 4,71 14,52
o F3 23,64 9,72 5,28 3,82 1,82 5,72 10,08
r F4 24,75 13,1 5,24 2,63 0,71 3,55 10,85
m F5 14,02 14,99 10,55 5,02 1,07 4,36 10,86
u F6 21,07 12,15 7,04 3,74 1,19 4,5 11,45
l F7 28,38 9,24 4,24 2,45 1,2 4,51 11,42
a F8 23,82 9,49 6,16 3,26 1,96 5,3 14,52
F9 29,74 9,31 3,86 1,81 0,83 3,76 10,08
F10 32,82 6,74 2,56 2,43 1,03 4,39 10,85

Dari data yang tercantum pada Tabel 3 tersebut di atas tampak bahwa masa granul
pada semua formula sudah memenuhi persyaratan, yakni prosentase fines nya kurang dari
20%. Dengan demikian diharapkan akan didapatkan sifat alir yang baik dari mssa granul saat
mengalami pencetakan tablet

Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Tablet Ektrak Herba Pegagan


Sediaan tablet dinyatakan baik jika antara lain telah memenuhi persyaratan
karakteristik fisik tablet.Hasil pemeriksaan dari tablet ekstrak herba pegagan yang meliputi
kerapuhan, kekerasan dan waktu hancur sebagaimana tercantum pada Tabel 4 berikut ini.

157
Tabel 4 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Tablet
Pemeriksaan
Formula
Kekerasan (kg)n Kerapuhan (%)n Waktu Hancur (menit)n
Persyaratan 4 – 8 kg < 2% < 15 menit
F1 7,52 ± 0,20 0,73 ± 0,04 6,33 ± 0,58
F2 7,63 ± 0,23 0,17 ± 0,21 11,67 ± 0,58
F3 7,88 ± 0,03 0,00 ± 0,00 13,00 ± 0,00
F4 8,17± 0,29 0,00 ± 0,00 14,33 ± 0,58
F5 7,68 ± 0,19 0,62 ±0,03 11,00 ± 0,00
F6 8,23 ± 0,18 0,52 ± 0,05 14,67 ±0,58
F7 9,42 ±0,06 0,38 ± 0,06 16,67 ±0,58
F8 7,62 ± 0,08 0,69 ± 0,01 13,67 ± 1,15
F9 7,77 ± 0,15 0,64 ± 0,035 15,00 ± 0,00
F10 7,90 ± 0,00 0,60 ± 0,075 17,33 ± 0,58

Dari data tersebut di atas tampak bahwa semua formula mempunyai kekerasan yang
sudah sesuai dengan persyaratan yakni masuk pada rentang 4-8 kg[12], bahkan pada F4, F6
dan F7 mempunyai kekerasan lebih dari 8 kg. Jika ditinjau dari sifat kerapuhannya maka
semua formula tersebut mempunyai kerapuhan yanng baik, yakni < 2% [12] dan untuk waktu
semua formula memenuhi persyaratan waktu hancur < 15 menit [13] kecuali formula F7, F9 dan
F10. Berdasarkan data tersebut di atas ditunjukkan bahwa untuk F1 yang merupakan formula
tablet ekstrak herba pegagan tanpa bahan pengikat sudah memenuhi persyaratan mutu fisik
tablet, yakni mempunyai kekerasan 7,52 ± 0,20 kg, kerapuhan 0,73± 0,04% dan waktu hancur
6,33 ± 0,58 menit. Hal ini dikarenakan bahan0bahan yang digunakan dalam formula seperti
avicel 102 memiliki daya pengikat, sehingga cukup untuk membentuk massa granul yang aik
dan bila dikempa menghasilkan tablet yang acceptable dengan mutu fisik yang memenuhi
persyaratan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Formula tablet ekstrak pegagan
tanpa menggunakan bahan pengingat adalah merupakan formula terpilih.

Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan RI, 2010. Pedoman Pengisian Kuesioner Riskesdas 2010. Jakarta.

Kartnig T, 1998. Clinical applications of Centella asiatica L. Urb. In: Craker LE, Simon JE,
eds., Herbs, Spices, and Medicinal Plants: Recent Advances in Botany, Horticulture, and
Pharmacology, Vol 3. Phoenix, AZ, Oryx Press, 1988: 145-173

Chartterjee TK, Chakhraborty A, Pathak M, 1992. Effect of plant extract Centella asiatica L.
on cold restraint stress ulcer in rats. Indian Journal of Experimental Biology, pp.30:889-891.

Shin HS et al. 1982. Clinical trials of madecassol (Centella asiatica) on gastrointestinal


ulcer patiens. Koren Journl of Gastroenterology, 1982, 14:49-56

Siregar, CJP., Wikarsa, S. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet: Dasar-dasar Praktis.
Jakarta: EGC.

158
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen
kesehatan RI hal. 2, 5, 10, 22

Pramono S. D, Ajiastuti. 2004. Standardisasi Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica L)


berdasarkan Kadar Asiaticosida secara KLT-Densitometri. Majalah Farmasi Indonesia 15
(3), hal 118-123

Dua,Kamal, Pabreja, Kavita, MV, Ramana. 2010. Preparation, Characterization and In Vitro
Evaluation of Aceclofenac Solid Dispersions. Ars Pharmaceutica Vol.51, No. 1. Pp. 57-76

Yanuar, Arry., 2003. ISTECS Journal Science and Technology Policy Vol IV. Departemen
Farmasi FMIPA Universitas Idonesia, Depok.

Ahmed,Mohammad. 2013. Magnetic and Optical Studies on Polyvinylpyrrolidon Thin Films


Doped with Rare Earth Metal Salts. Polymer Journal. Diakses pada tanggal 2 Juni 2013 di
alamat http://www.nature.com/pj/journal/v42/n9/fig_tab/pj2010643.html#figure-title

Rowe, C,. Sheskey, J.P., and Owen,C.S. 2009. Handbook of Pharmaceutical Exipients, 6th
Ed. American Pharmaceutica Association, London, Chicago.

Lachman CI, Lieberman HA, dan Kanig JL. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri . Edisi
II. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Jakarta: Universitas Indonesia Press, pp: 160-161, 713-714
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI

159