Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

TUBERKULOSIS PARU PADA ANAK

A. Pengertian

Penyakit tuberculosis pada bayi dan anak disebut juga tuberculosis primer dan merupakan suatu
penyakit sistemik.Tuberculosis primer biasanya mulai secara perlahan-lahan sehingga sukar ditentukan
saat timbulnya gejala pertama. Kadang terdapat keluhan demam yang tidak diketahui sebabnya dan
sering disertai tanda-tanda infeksi saluran napas bagian atas. Penyakit ini bila tidak diobati sedini
mungkin dan setepat-tepatnya dapat tmbul komplikasi yang berat dan reinfeksi pada usia dewasa.

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dan
mycobacterium bovis (jaringan oleh mycobacterium avium). Basil tuberculosis dapat hidup dan tetap
virulen beberapa minggu dalam keadaan kering, tetapi mati di dalam cairan yang bersuhu 60⁰ selama 15-
20 menit. Fraksi protein basil tyberkulosis menyebabkan nekrosis jaringan, sendang lemaknya
menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan factor penyebab untuk terjadinya fibrosis serta
terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel. Basil tuberculosis tidak membentuk toksin.

Penularan tuberkolosis umumnya melalui udara hingga sebagaian besar fokus primer tuberculosis
terdapat dalam paru. Selain melalui udara penularan dapat peroral jika meminum susu yang
mengandung basil tuberculosis bovis. Ada mikrobakterium lain yakni mycobacterium atipic yang dapat
menyebabkan penyakit menyerupai tuberculosis.

Penyakit tuberculosis pada bayi dan anak disebut juga tuberculosis primer dan merupakan suatu
penyakit sistemik.Tuberculosis primer biasanya mulai secara perlahan-lahan sehingga sukar ditentukan
saat timbulnya gejala pertama. Kadang terdapat keluhan demam yang tidak diketahui sebabnya dan
sering disertai tanda-tanda infeksi saluran napas bagian atas. Penyakit ini bila tidak diobati sedini
mungkin dan setepat-tepatnya dapat tmbul komplikasi yang berat dan reinfeksi pada usia dewasa.

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dan
mycobacterium bovis (jaringan oleh mycobacterium avium). Basil tuberculosis dapat hidup dan tetap
virulen beberapa minggu dalam keadaan kering, tetapi mati di dalam cairan yang bersuhu 60⁰ selama 15-
20 menit. Fraksi protein basil tyberkulosis menyebabkan nekrosis jaringan, sendang lemaknya
menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan factor penyebab untuk terjadinya fibrosis serta
terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel. Basil tuberculosis tidak membentuk toksin.

Penularan tuberkolosis umumnya melalui udara hingga sebagaian besar fokus primer tuberculosis
terdapat dalam paru. Selain melalui udara penularan dapat peroral jika meminum susu yang
mengandung basil tuberculosis bovis. Ada mikrobakterium lain yakni mycobacterium atipic yang dapat
menyebabkan penyakit menyerupai tuberculosis.
Penyakit TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh mikrobakterium tuberkulosis. Kuman
batang aerobik dan tahan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Sebagian
besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainya(Depkes RI, 2002).

Penyakit tuberkulosis disebabkan oleh kuman/bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini pada
umumnya menyerang paru - paru dan sebagianlagi dapat menyerang di luar paru - paru, seperti kelenjar
getah bening(kelenjar), kulit, usus/saluran pencernaan, selaput otak, dan sebagianya(Laban, 2008).

B. Etiologi

Tuberkulosis anak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Kuman ini menyebar dari satu orang ke orang lain melalui percikan dahak (droplet nuclei) yang
dibatukkan. Jadi kalau Cuma bersin atau tukar-menukar piring atau gelas minum tidak akan terjadi
penularan (Aditama, 2000).

1. Merokok pasif

Merokok pasif bisa berdampak pada sistem kekebalan anak, sehingga meningkatkan risiko tertular.
Pajanan pada asap rokok mengubah fungsi sel, misalnya dengan menurunkan tingkat kejernihan zat yang
dihirup dan kerusakan kemampuan penyerapan sel dan pembuluh darah (Reuters Health, 2007).

2. Faktor Risiko TBC anak (admin., 2007)

a. Resiko infeksi TBC

Anak yang memiliki kontak dengan orang dewasa dengan TBC aktif, daerah endemis, penggunaan obat-
obat intravena, kemiskinan serta lingkungan yang tidak sehat. Pajanan terhadap orang dewasa yang
infeksius. Resiko timbulnya transmisi kuman dari orang dewasa ke anak akan lebih tinggi jika pasien
dewasa tersebut mempunyai BTA sputum yang positif, terdapat infiltrat luas pada lobus atas atau kavitas
produksi sputum banyak dan encer, batuk produktif dan kuat serta terdapat faktor lingkungan yang
kurang sehat, terutama sirkulasi udara yang tidak baik. Pasien TBC anak jarang menularkan kuman pada
anak lain atau orang dewasa disekitarnya, karena TBC pada anak jarang infeksius, hal ini disebabkan
karena kuman TBC sangat jarang ditemukan pada sekret endotracheal, dan jarang terdapat batuk5.
Walaupun terdapat batuk tetapi jarang menghasilkan sputum. Bahkan jika ada sputum pun, kuman TBC
jarang sebab hanya terdapat dalam konsentrasi yang rendah pada sektret endobrokial anak.

b. Resiko Penyakit TBC

Anak ≤ 5 tahun mempunyai resiko lebih besar mengalami progresi infeksi menjadi sakit TBC, mungkin
karena imunitas selulernya belum berkembang sempurna (imatur). Namun, resiko sakit TBC ini akan
berkurang secara bertahap seiring pertambahan usia. Pada bayi < 1 tahun yang terinfeksi TBC, 43% nya
akan menjadi sakit TBC, sedangkan pada anak usia 1-5 tahun, yang menjadi sakit hanya 24%, pada usia
remaja 15% dan pada dewasa 5-10%. Anak < 5 tahun memiliki resiko lebih tinggi mengalami TBC
diseminata dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi . Konversi tes tuberkulin dalam 1- 2 tahun
terakhir, malnutrisi, keadaan imunokompromis, diabetes melitus, gagal ginjal kronik dan silikosis. Status
sosial ekonomi yang rendah, penghasilan yang kurang, kepadatan hunian, pengangguran, dan pendidikan
yang rendah.

C. Patofisiologi

Berbeda dengan TBC pada orang dewasa, TBC pada anak tidak menular. Pada TBC anak, kuman
berkembang biak di kelenjar paru-paru. Jadi, kuman ada di dalam kelenjar, tidak terbuka. Sementara
pada TBC dewasa, kuman berada di paru-paru dan membuat lubang untuk keluar melalui jalan napas.
Nah, pada saat batuk, percikan ludahnya mengandung kuman. Ini yang biasanya terisap oleh anak-anak,
lalu masuk ke paru-paru (Wirjodiardjo, 2008).

Proses penularan tuberculosis dapat melalui proses udara atau langsung, seperti saat batuk. Terdapat
dua kelompok besar penyakit ini diantaranya adalah sebagai berikut: tuberculosis paru primer dan
tuberculosis post primer. Tuberculosis primer sering terjadi pada anak, proses ini dapat dimulai dari
proses yang disebut droplet nuklei, yaitu statu proses terinfeksinya partikel yang mengandung dua atau
lebih kuman tuberculosis yang hidup dan terhirup serta diendapkan pada permukaan alveoli, yang akan
terjadi eksudasi dan dilatasi pada kapiler, pembengkakan sel endotel dan alveolar, keluar fibrin serta
makrofag ke dalam alveolar spase. Tuberculosis post primer, dimana penyakit ini terjadi pada pasien
yang sebelumnya terinfeksi oleh kuman Mycobacterium tuberculosis (Hidayat, 2008).

Sebagian besar infeksi tuberculosis menyebar melalui udara melalui terhirupnya nukleus droplet yang
berisikan mikroorganisme basil tuberkel dari seseorang yang terinfeksi. Tuberculosis adalah penyakit
yang dikendalikan oleh respon imunitas yang diperantarai oleh sel dengan sel elector berupa makropag
dan limfosit (biasanya sel T) sebagai sel imuniresponsif. Tipe imunitas ini melibatkan pengaktifan
makrofag pada bagian yang terinfeksi oleh limfosit dan limfokin mereka, responya berupa reaksi
hipersentifitas selular (lambat). Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolar membangkitkan reaksi
peradangan yaitu ketika leukosit digantikan oleh makropag. Alveoli yang terlibat mengalami konsolidasi
dan timbal pneumobia akut, yang dapat sembuh sendiri sehingga tidak terdapat sisa, atau prosesnya
dapat berjalan terus dengan bakteri di dalam sel-sel (Price dan Wilson, 2006).

Drainase limfatik basil tersebut juta masuk ke kelenjar getah bening regional dan infiltrasi makrofag
membentuk tuberkel sel epitelloid yang dikelilingi oleh limfosit. Nekrosis sel menyebabkan gambaran
keju (nekrosis gaseosa), jeringan grabulasi yang disekitarnya pada sel-sel epitelloid dan fibroblas dapat
lebih berserat, membentuk jatingan parut kolagenosa, menghasilkan kapsul yang mengeliligi tuberkel.
Lesi primer pada paru dinamakan fokus ghon, dan kombinasi antara kelenjar getah bening yang terlibat
dengan lesi primer disebut kompleks ghon. Kompleks ghon yang mengalami kalsifikasi dapat terlihat
dalam pemeriksaan foto thorax rutin pada seseorang yang sehat (Price dan Wilson, 2006).

Tuberculosis paru termasuk insidias. Sebagian besar pasien menunjukkan demam tingkat rendah,
keletihan, anorexia, penurunan berat badan, berkeringat malam, nyeri dada dan batuk menetal. Batuk
pada awalnya mungkin nonproduktif, tetapi dapat berkembang ke arah pembentukan sputum
mukopurulen dengan hemoptisis. Tuberculosis dapat mempunyai manifestasi atipikal pada anak seperti
perilaku tidak biasa dan perubahan status mental, demam, anorexia dan penurunan berat badan. Basil
tuberkulosis dapat bertahan lebih dari 50 tahun dalam keadaan dorman (Smeltzer dan Bare, 2002).

Menurut Admin (2007) patogenesis penyakit tuberkulosis pada anak terdiri atas :

1. Infeksi Primer

Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TBC. Droplet yang terhirup
sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan terus
berjalan sehingga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil
berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru.
Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai
kompleks primer predileksinya disemua lobus, 70% terletak subpelura. Fokus primer dapat mengalami
penyembuhan sempurna, kalsifikasi atau penyebaran lebih lanjut. Waktu antara terjadinya infeksi sampai
pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan
terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon
daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat
menghentikan perkembangan kuman TBC2. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap
sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang kadang daya tahan tubuh tidak mampu
menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan
menjadi penderita TBC. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi
sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.

2. TBC Pasca Primer (Post Primary TBC)

TBC pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya
karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari TBC
pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.

https://4.bp.blogspot.com/-
2zdkPWdMKes/WOvZbRwiwZI/AAAAAAAAArc/qLHdcFhIwhUyofHzQwfQKKJ9B4pXL2WDgCLcB/s640/tb.j
pg

D. Manifestasi Klinik

Menurut Wirjodiardjo (2008) gejala TBC pada anak tidak serta-merta muncul. Pada saat-saat awal, 4-8
minggu setelah infeksi, biasanya anak hanya demam sedikit. Beberapa bulan kemudian, gejalanya mulai
muncul di paru-paru. Anak batuk-batuk sedikit. Tahap berikutnya (3-9 bulan setelah infeksi), anak tidak
napsu makan, kurang gairah, dan berat badan turun tanpa sebab. Juga ada pembesaran kelenjar di leher,
sementara di paru-paru muncul gambaran vlek. Pada saat itu, kemungkinannya ada dua, apakah akan
muncul gejala TBC yang benar-benar atau sama sekali tidak muncul. Ini tergantung kekebalan anak. Kalau
anak kebal (daya tahan tubuhnya bagus), TBC-nya tidak muncul. Tapi bukan berarti sembuh. Setelah
bertahun-tahun, bisa saja muncul, bukan di paru-paru lagi, melainkan di tulang, ginjal, otak, dan
sebagainya. Ini yang berbahaya dan butuh waktu lama untuk penyembuhannya.

Riwayat penyakit TBC anak sulit dideteksi penyebabnya, Penyebab TBC adalah kuman TBC
(mycobacterium tuberculosis). Sebetulnya, untuk mendeteksi bakteri TBC (dewasa) tidak begitu sulit.
Pada orang dewasa bisa dideteksi dengan pemeriksaan dahak langsung dengan mikroskop atau
dibiakkan dulu di media. Mendeteksi TBC anak sangat sulit, karena tidak mengeluarkan kuman pada
dahaknya dan gejalanya sedikit. Diperiksa dahaknya pun tidak akan keluar, sehingga harus dibuat
diagnosis baku untuk mendiagnosis anak TBC sedini mungkin. Yang harus dicermati pada saat diagnosis
TBC anak adalah riwayat penyakitnya. Apakah ada riwayat kontak anak dengan pasien TBC dewasa. Kalau
ini ada, agak yakin anak positif TBC (Wirjodiardjo, 2008).

Gejala-gejala lain untuk diagnosa antara lain (Wirjodiardjo, 2008):

1. Apakah anak sudah mendapat imunisasi BCG semasa kecil. Atau reaksi BCG sangat cepat.
Misalnya, bengkak hanya seminggu setelah diimunisasi BCG. Ini juga harus dicurigai TBC, meskipun
jarang.

2. Berat badan anak turun tanpa sebab yang jelas, atau kenaikan berat badan setiap bulan
berkurang.

3. Demam lama atau berulang tanpa sebab. Ini juga jarang terjadi. Kalaupun ada, setelah diperiksa,
ternyata tipus atau demam berdarah.

4. Batuk lama, lebih dari 3 minggu. Ini terkadang tersamar dengan alergi. Kalau tidak ada alergi dan
tidak ada penyebab lain, baru dokter boleh curiga kemungkinan anak terkena TBC.

5. Pembesaran kelenjar di kulit, terutama di bagian leher, juga bisa ditengarai sebagai kemungkinan
gejala TBC. Yang sekarang sudah jarang adalah adanya pembesaran kelenjar di seluruh tubuh, misalnya di
selangkangan, ketiak, dan sebagainya.

6. Mata merah bukan karena sakit mata, tapi di sudut mata ada kemerahan yang khas.

7. Pemeriksaan lain juga dibutuhkan diantaranya pemeriksaan tuberkulin (Mantoux Test, MT) dan
foto. Pada anak normal, Mantoux Test positif jika hasilnya lebih dari 10 mm. Tetapi, pada anak yang
gizinya kurang, meskipun ada TBC, hasilnya biasanya negatif, karena tidak memberikan reaksi terhadap
MT.

Menurut Supriyatno (2009) skrining tuberkulosis pada anak antara lain : Sesungguhnya mendiagnosa
tuberculosis pada anak, terlebih pada anak-anak yang masih sangat kecil, sangat sulit. Diagnosa tepat
TBC tak lain dan tak bukan adalah dengan menemukan adanya Mycobacterium tuberculosis yang hidup
dan aktif dalam tubuh suspect TB atau orang yang diduga TBC. Caranya? Yang paling mudah adalah
dengan melakukan tes dahak. Pada orang dewasa, hal ini tak sulit dilakukan. Tapi lain ceritanya, pada
anak-anak karena mereka, apalagi yang masih usia balita, belum mampu mengeluarkan dahak.
Karenanya, diperlukan alternatif lain untuk mendiagnosa TB pada anak.

Kesulitan lainnya, tanda-tanda dan gejala TB pada anak seringkali tidak spesifik (khas). Cukup banyak
anak yang overdiagnosed sebagai pengidap TB, padahal sebenarnya tidak. Atauunderdiagnosed,
maksudnya terinfeksi atau malah sakit TB tetapi tidak terdeteksi sehingga tidak memperoleh
penanganan yang tepat. Diagnosa TBC pada anak tidak dapat ditegakkan hanya dengan 1 atau 2 tes saja,
melainkan harus komprehensif. Karena tanda-tanda dan gejala TB pada anak sangat sulit dideteksi, satu-
satunya cara untuk memastikan anak terinfeksi oleh kuman TB, adalah melalui uji Tuberkulin (tes
Mantoux). Tes Mantoux ini hanya menunjukkan apakah seseorang terinfeksiMycobacterium tuberculosis
atau tidak, dan sama sekali bukan untuk menegakkan diagnosa atas penyakit TB. Sebab, tidak semua
orang yang terinfeksi kuman TB lalu menjadi sakit TB.

Sistem imun tubuh mulai menyerang bakteri TB, kira-kira 2-8 minggu setelah terinfeksi. Pada kurun
waktu inilah tes Mantoux mulai bereaksi. Ketika pada saat terinfeksi daya tahan tubuh orang tersebut
sangat baik, bakteri akan mati dan tidak ada lagi infeksi dalam tubuh. Namun pada orang lain, yang
terjadi adalah bakteri tidak aktif tetapi bertahan lama di dalam tubuh dan sama sekali tidak
menimbulkan gejala. Atau pada orang lainnya lagi, bakteri tetap aktif dan orang tersebut menjadi sakit
TB.

Uji ini dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil (0,1 ml) kuman TBC, yang telah dimatikan dan
dimurnikan, ke dalam lapisan atas (lapisan dermis) kulit pada lengan bawah. Lalu, 48 sampai 72 jam
kemudian, tenaga medis harus melihat hasilnya untuk diukur. Yang diukur adalah indurasi (tonjolan
keras tapi tidak sakit) yang terbentuk, bukan warna kemerahannya (erythema). Ukuran dinyatakan
dalam milimeter, bukan centimeter. Bahkan bila ternyata tidak ada indurasi, hasil tetap harus ditulis
sebagai 0 mm.

Secara umum, hasil tes Mantoux ini dinyatakan positif bila diameter indurasi berukuran sama dengan
atau lebih dari 10 mm. Namun, untuk bayi dan anak sampai usia 2 tahun yang tanpa faktor resiko TB,
dikatakan positif bila indurasinya berdiameter 15 mm atau lebih. Hal ini dikarenakan pengaruh vaksin
BCG yang diperolehnya ketika baru lahir, masih kuat. Pengecualian lainnya adalah, untuk anak dengan
gizi buruk atau anak dengan HIV, sudah dianggap positif bila diameter indurasinya 5 mm atau lebih.

Namun tes Mantoux ini dapat memberikan hasil yang negatif palsu (anergi), artinya hasil negatif padahal
sesungguhnya terinfeksi kuman TB. Anergi dapat terjadi apabila anak mengalami malnutrisi berat atau
gizi buruk (gizi kurang tidak menyebabkan anergi), sistem imun tubuhnya sedang sangat menurun akibat
mengkonsumsi obat-obat tertentu, baru saja divaksinasi dengan virus hidup, sedang terkena infeksi
virus, baru saja terinfeksi bakteri TB, tata laksana tes Mantoux yang kurang benar. Apabila dicurigai
terjadi anergi, maka tes harus diulang.

E. Komplikasi
Komplikasi Yang dapat terjadi adalah sebagai berikut :

1. Meningitis

2. Spondilitis

3. Pleuritis

4. Bronkopneumoni

5. Atelektasis

Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena
syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. Bronkiectasis
(pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau
reaktif) pada paru. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan karena
kerusakan jaringan paru. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan
sebagainya. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

F. Penatalaksanaan Medis

Menurut Price dan Wilson (2006) pengobatan TBC terutama berupa pemberian obat antimikroba dalam
jangka waktu lama. Obat-obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis. ATS
(1994) menekankan tiga prinsip dalam pengobatan tuberculosis yang berdasarkan pada:

1. Regimen harus termasuk obat-obat multiple yang sensitif terhadap mikroorganisme.

2. Obat-obatan harus diminum secara teratur.

3. Terapi obat harus dilakukan terus menerus dalam waktu yang cukup untuk menghasilkan terapi
yang paling efektif dan paling aman pada waktu yang paling singkat.

Obat anti tuberculosis (OAT) harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat
bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. Tujuan dari pengobatan ini adalah (FKUI, 2001):

1. Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan
bakterisid.

2. Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama estela pengobatan dengan kegiatan sterilisasi.

3. Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis.

G. Penatalaksanaan Perawatan
Menurut Hidayat (2008) perawatan anak dengan tuberculosis dapat dilakukan dengan melakukan :

1. Pemantauan tanda-tanda infeksi sekunder

2. Pemberian oksigen yang adekuat

3. Latihan batuk efektif

4. Fisioterapi dada

5. Pemberian nutrisi yang adekuat

6. Kolaburasi pemberian obat antutuberkulosis (seperti: isoniazid, streptomisin, etambutol,


rifamfisin, pirazinamid dan lain-lain)

7. Intervensi yang dapat dilakukan untuk menstimulasi pertumbuhan perkembangan anak yang
tenderita tuberculosis dengan membantu memenuhi kebutuhan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas
perkembangan, yaitu (Suriadi dan Yuliani, 2001) :

a. Memberikan aktivitas ringan yang sesuai dengan usia anak (permainan, ketrampilan tangan, vidio
game, televisi)

b. Memberikan makanan yang menarik untuk memberikan stimulus yang bervariasi bagi anak

c. Melibatkan anak dalam mengatur jadual harian dan memilih aktivitas yang diinginkan

d. Mengijinkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah selama di rumah sakit, menganjurkan anak
untuk berhubungan dengan teman melalui telepon jika memungkinkan

H. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas Data Umum (selain identitas klien, juga identitas orangtua; asal kota dan daerah, jumlah
keluarga)

b. Keluhan Utama (penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit)

c. Riwayat kehamilan dan kelahiran

1) Prenatal : (kurang asupan nutrisi , terserang penyakit infeksi selama hamil

2) Intranatal : Bayi terlalu lama di jalan lahir , terjepit jalan lahir, bayi menderita caput sesadonium,
bayi menderita cepal hematom

3) Post Natal : kurang asupan nutrisi , bayi menderita penyakit infeksi , asfiksia ikterus
d. Riwayat Masa Lampau

1) Penyakit yang pernah diderita (tanyakan, apakah klien pernah sakit batuk yang lama dan benjolan
bisul pada leher serta tempat kelenjar yang lainnya dan sudah diberi pengobatan antibiotik tidak
sembuh-sembuh? Tanyakan, apakah pernah berobat tapi tidak sembuh? Apakah pernah berobat tapi
tidak teratur?)

2) Pernah dirawat dirumah sakit

3) Obat-obat yang digunakan/riwayat Pengobatan

4) Riwayat kontak dengan penderita TBC

5) Alergi

6) Daya tahan yang menurun.

7) Imunisasi/Vaksinasi : BCG

e. Riwayat Penyakit Sekarang (Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempat-
tempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula)

f. Riwayat Keluarga (adakah yang menderita TB atau Penyakit Infeksi lainnya, Biasanya keluarga ada
yang mempunyai penyakit yang sama

g. Riwayat Kesehatan Lingkungan dan sosial ekonomi

1) Lingkungan tempat tinggal (Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman yang padat,
ventilasi rumah yang kurang, jumlah anggota keluarga yang banyak), pola sosialisasi anak.

2) Kondisi rumah

3) Merasa dikucilkan

4) Aspek psikososial (Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri)

5) Biasanya pada keluarga yang kurang mampu

6) Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya
yang banyak

7) Tidak bersemangat dan putus harapan.

h. Riwayat psikososial spiritual (Yang mengasuh, Hubungan dengan anggota keluarga, Hubungan
dengan teman sebayanya, Pembawaan secara umum, Pelaksanaan spiritual)

i. Pola fungsi kesehatan.

1) Pola persepsi sehat dan penatalaksanaan kesehatan.


2) Keadaan umum: alergi, kebiasaan, imunisasi. Pola nutrisi – metabolik. Anoreksia, mual, tidak enak
diperut, BB turun, turgor kulit jelek, kulit kering dan kehilangan lemak sub kutan, sulit dan sakit menelan,
turgor kulit jelek.

3) Pola eliminasi. Perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan
hepatomegali, nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan splenomegali.

4) Pola aktifitas-latihan Sesak nafas, fatique, tachicardia, aktifitas berat timbul sesak nafas (nafas
pendek).

5) Pola tidur dan istirahat Iritable, sulit tidur, berkeringat pada malam hari.

6) Pola kognitif perseptual. Kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa, nyeri tulang umum, takut,
masalah finansial, umumnya dari keluarga tidak mampu.

7) Pola persepsi diri. Anak tidak percaya diri, pasif, kadang pemarah.

8) Pola peran hubungan Anak menjadi ketergantungan terhadap orang lain (ibu/ayah)/tidak mandiri.
Pola seksualitas/reproduktif. Anak biasanya dekat dengan ibu daripada ayah. Pola koping toleransi stres,
Menarik diri, pasif

j. Pemeriksaan Fisik

1) Demam

Sub fibril, fibril (40-41°C) hilang timbul.

2) Batuk

Terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang/ mengeluarkan produksi radang,
dimulai dari batuk kering sampai batuk purulen (menghasilkan sputum).

3) Sesak nafas

Terjadi bila sudah lanjut, dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.

4) Nyeri dada

Ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura.

5) Malaise

Ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan kering diwaktu malam
hari. Pada tahap dini sulit diketahui. Ronchi basah, kasar dan nyaring. Hipersonor/timpani bila terdapat
kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberi suara limforik. Atropi dan retraksi interkostal pada
keadaan lanjut dan fibrosis. Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak).
Pembesaran kelenjar biasanya multipel. Benjolan/pembesaran kelenjar pada leher (servikal), axilla,
inguinal dan sub mandibula. Kadang terjadi abses.
k. Pemeriksaan Diagnostik Dan Pengobatan

1) Uji tuberkulin = uji tuberkulin (+).® hipersensitifitas tipe lambat ®imunitas seluler Infeksi TB

2) Foto rontgent Rutin : foto pada rongga paru. Atas indikasi: tulang, sendi, abdomen. Rontgent paru
tidak selalu khas.

3) Pemeriksaan mikrobiologis (Bakteriologis Memastikan TB. Hasil normal: tidak menyingkirkan


diagnosa TB. Hasil (+) : 10-62% dengan cara lama. Cara : cara lama radio metrik (Bactec); PCK.

4) Pemeriksaan darah tepi (Tidak khas. LED dapat meninggi)

5) Pemeriksaan patologik anatomik. Kelenjar, hepar, pleura; atas indikasi. Sumber infeksiAdanya
kontak dengan penderita TB menambah kriteria diagnosa.

6) Lain-lain (Uji faal paru, Bronkoskopi, Bronkografi, Serologim dll)

l. Pengkajian TUMBANG menggunakan KMS,KKA, dan DDST

1) Pertumbuhan

a) Kaji BBL, BB saat kunjungan

b) BB normal

c) BB normal, mis : ( 6-12 tahun ) umur

d) Kaji berat badan lahir dan berat badan saat kunjungan TB = 64 x 77R = usia dalam tahun

e) LL dan luka saat lahir dan saat kunjungan

2) Perkembangan

a) lahir kurang 3 bulan = belajar mengangkat kepala, mengikuti objek dengan mata, mengoceh,

b) usia 3-6 bulan mengangkat kepala 90 derajat, belajar meraih benda, tertawa, dan mengais
meringis

c) usia 6-9 bulan = duduk tanpa di Bantu, tengkuarap, berbalik sendiri, merangkak, meraih benda,
memindahkan benda dari tangan satu ke tangan yang lain dan mengeluarkan kata-kata tanpa arti.

d) usia 9-12 bulan = dapat berdiri sendiri menurunkan sesuatu mengeluarkan kat-kata, mengerti
ajakan sederhana, dan larangan berpartisipasi dalam permainan.

e) usia 12-18 bulan = mengeksplorasi rumah dan sekelilingnya menyusun 2-3 kata dapat mengatakan
3-10 kata , rasa cemburu, bersaing

f) usia 18-24 bulan = naik–turun tangga, menyusun 6 kata menunjuk kata dan hidung, belajar makan
sendiri, menggambar garis, memperlihatkan minat pada anak lain dan bermain dengan mereka.
g) usia 2-3 tahun = belajar melompat, memanjat buat jembatan dengan 3 kotak, menyusun kalimat
dan lain-lain.

h) usia 3-4 tahun = belajar sendiri berpakaian, menggambar berbicara dengan baik, menyebut
warna, dan menyayangi saudara.

i) usia 4-5 tahun = melompat, menari, menggambar orang, dan menghitung.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas berhubungan dengan obstruksi jalan napas

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum

c. Ketidak seimbangan Nutrisi : Kurang Dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan


Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrisi

d. Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit

3. Intervensi Keperwatan

No.

NANDA: Nursing Diagnosis

Nursing Care Plan

Nursing Outcomes Classification (NOC)

Nursing Interventions Classification (NIC)

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas b.d obstruksi jalan napas

Definisi : Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk
mempertahankan kebersihan jalan nafas.

Batasan Karakteristik :

§ Tidak ada batuk


§ Suara napas tambahan

§ Perubahan frekuensi napas

§ Perubahan irama napas

§ Sianosis

§ Kesulitan berbicara/mengeluarkan suara

§ Penurunan bunyi napas

§ Dispnea

§ Sputum dalam jumlah yang berlebihan

§ Batuk yang tidak efektif

§ Ortopnea

§ Gelisah

§ Mata terbuka lebar

Faktor yang berhubungan:

§ Lingkungan

§ Perokok pasif

§ Mengisap asap

§ Obstruksi jalan napas

§ Spasme jalan napas

§ Mucus dalam jumlah yang berlebiha

§ Eksudat dalam alveoli

§ Materi asing dalam jumlah napas

§ Adanya jalan napas buatan

§ Sekresi yang tertahan/sisa sekresi

· Sekresi dalam bronki


·

Fisiologis

§ Jalan napas alergik

§ Asma

§ Penyakit paru obstruksi kronis

§ Hyperplasia dinding bronchial

§ Infeksi

§ Disfungsi neuromuskular

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. x 24 jam jalan nafas klien berswuh dengan

Kriteria Hasil :

§ Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)

§ Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan
dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)

§ Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas

§ Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning

§ Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning.

§ Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning

§ Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan.

§ Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal

§ Gunakan alat yang steril sitiap melakukan tindakan

§ Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal

§ Monitor status oksigen pasien

§ Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suksion

§ Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi
O2, dll.Airway Management

§ Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
§ Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

§ Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan

§ Pasang mayo bila perlu

§ Lakukan fisioterapi dada jika perlu

§ Keluarkan sekret dengan batuk atau suction

§ Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan

§ Lakukan suction pada mayo

§ Berikan bronkodilator bila perlu

§ Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab

§ Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.

§ Monitor respirasi dan status O2

Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum

Definisi :

Ketidakcukupan energu secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan
aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.

Batasan karakteristik :

§ Respons tekanan darah abnormal terhadap aktivitas

§ Respon frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas

§ Perubahan EKG yang mencerminkan aritmia

§ Perubahan EKG yang mencerminkan iskemia

§ Ketidaknyaman setelah beraktivitas

§ Dispnea setelah beraktivitas

§ Menyatakan merasa letih


·

Faktor yang berhubungan :

§ Tirah baring

§ Kelemahan umum

§ Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

§ Imobilitas

§ Gaya hidup monoton

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. x 24 jam klien dapat melakukan aktivitas secara
normal dengan

Kriteria Hasil :

§ Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR

§ Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri

§ Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas

§ Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan

§ Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan

§ Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat

§ Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan

§ Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas

§ Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

§ Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang tepat.

§ Bantu klien/keluarga untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

§ Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social

§ Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan

§ Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek

§ Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai


§ Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang

§ Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas

§ Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas

§ Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

§ Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual

Ketidak seimbangan Nutrisi : Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b.d Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi
nutrisi

Definisi :

Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh.

Batasan karakteristik :

§ Kram abdomen

§ Nyeri abdomen

§ Menghindari makan

§ Berat badan 20% atau lebih di bawah berat badan ideal

§ Kerapuhan kapiler

§ Diare

§ Kehilangan rambut berlebihan

§ Bising usung hiperaktif

§ Kurang makan

§ Kurang informasi

§ Kurang minat pada makanan

§ Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat

§ Kesalahan konsepsi
§ Kesalahan informasi

§ Membrane mukosa pucat

§ Ketidakmampuan memakan makanan

§ Tonus otot menurun

§ Mengeluh gangguan sensasi rasa

§ Mengeluh asupan makanan kurang dari RDA (recommended daily allowance)

§ Cepat kenyang setelah makan

§ Sariawan rongga mulut

§ Steatore

§ Kelemahan otot pengunyah

§ Kelemahan otot untuk menelan

Faktor yang berhubungan :

§ Faktor biologis

§ Faktor ekonomi

§ Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrisi

§ Ketidakmampuan untuk mencerna makanan

§ Faktor psikologis

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. x 24 jam nutrisi klien dapat terpenuhi dengan

Kriteria Hasil :

§ Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujua

§ Berat badan ideal sesuai dengan tinggi bada

§ Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

§ Tidak ada tanda tanda malnutris

§ Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti


§ Kaji adanya alergi makanan

§ Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

§ Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe

§ Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C

§ Berikan substansi gula

§ Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi

§ Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi.

§ Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian

§ Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

§ Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

§ Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

§ BB pasien dalam batas normal

§ Monitor adanya penurunan berat badan

§ Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan

§ Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan

§ Monitor lingkungan selama makan

§ Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan

§ Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

§ Monitor turgor kulit

§ Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah

§ Monitor mual dan muntah

§ Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

§ Monitor makanan kesukaan

§ Monitor pertumbuhan dan perkembangan

§ Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva


§ Monitor kalori dan intake nuntrisi

§ Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.

§ Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

DAFTAR PUSTAKA

Buleche, G.M., Butcher, H.K., & Dochterman, J.C. (Eds.). (2008). Nursing Interventions Classification
(NOC) (5th ed.). St. Louis: Mosby/Elsevier

Herdman, T. Heather. (2012). Nursing Diagnosis : Defenitions and Clasification 2012 -2014. Jakarta : EGC.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M., & Swanson, E. (Eds). (2008). Nursing Outcomes Classification
(NOC) (4th ed.). St. Louis: Mosby/Elsevier

Perawatan anak sakit/ ngastiyah; editor, monica Ester-Ed.2 – Jakarta: EGC.2005


http://www.lpkeperawatanku.cf/2017/04/laporan-pendahuluan-tuberkulosis-paru.html