Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebiasaan merokok telah menjadi bagian dari sebagian besar kaum pria dan bahkan

telah menjadi suatu yang dibutuhkan dan tidak dapat lagi ditinggalkan. Konsumsi

rokok didominasi baik oleh orang dewasa, kaum remaja dan bahkan anak-anak SD dan

SMP ikut di dalamnya, di kalangan ekonomi atas, menengah terlebih lagi kalangan

ekonomi lemah. Rokok juga dikonsumsi baik oleh kaum intelek, pendidik, tokoh

agama atau rakyat biasa. Kegiatan merokok tidak saja dilakukan ditempat terbuka tapi

bahkan dimana-mana termasuk ruangan umum dan terbatas. Ironisnya, sekalipun telah

ada tanda larangan merokok, kegiatan merokok juga kadang terjadi di dalam gedung

ber AC.

Kenyataannya pabrik rokok terus tumbuh dan informasi produk rokok cepat sampai

pada masyarakat luas. Berbagai iklan rokok yang gencar dan intensif serta meluas

sampai pada berbagai kalangan masyarakat. Periklanan yang merebak baik pada

berbagai kegiatan sosial, turnamen, pemasangan poster jalanan dan bahkan berbagai

media masa turut membantu mengiklankan produk rokok. Namun sebaliknya

penyebaran informasi tentang pengaruh negatif merokok hampir tidak ada artinya

dibandingkan penyampaian iklan mengkonsumsi rokok. Itupun terbatas oleh kalangan

medis dan publikasi terbatas dan tidak intensif pula.

Di TV ditayangkan Diantara iklan produk rokok yang terdapat kata-kata “Peduli

terhadap sesama”?!!. Sementara, di tempat-tempat umum terutama di dalam angkutan

1
2

kota, bis, kereta api, ruang ber-AC,dan ruang terbatas lainnya dengan mudah dan

gamblang dapat terlihat asap rokok yang mengepul.

Keadaan seperti ini tentu saja pandangan masyarakat terhadap merokok menjadi

suatu hal yang sah-sah saja dan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa perlu

ada kepedulian terhadap lingkungannya terlebih kekhawatirannya terhadap pengaruh

negatif pada kesehatan baik itu bagi dirinya sendiri terlebih terhadap orang lain

disekitarnya.

Suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap-

sikap yang diungkapkan dalam sikap yang dapat bersikap positif dan negatif itu yang

di sebut harga diri (Dariyo, A & ling, 2002).Yang di sebut harga diri ialah konstruk

yang penting dalam kehidupan sehari-hari dan berperan dalam menentukan tingkah

laku seseorang meliputi penilaian, perasaan atau pandangan individu terhadap dirinya

atau hal-hal yang berkaitan dengan dirinya yang diekspresikan pada dimensi positif

yaitu menghargai kelebihan diri serta menerima kekurangan yang ada dan dimensi

negatif yaitu tidak puas dengan kondisi diri, tidak menghargai kelebihan diri serta

melihat diri sebagai sesuatu yang selalu kurang (Conger, 2001). Ketika menghadapi

transisi kehidupan harga diri bisa berubah, seperti: ketika lulus dari Sekolah Menengah

(SMA) Pertama dan akan melanjutkan kuliah, pada saat memperoleh pekerjaan, dan

ketika harus kehilangan pekerjaan. Harga diri akan meningkat pada masa remaja awal

sampai remaja akhir, kemudian pada suatu saat harga diri akan menurun (Rahmawati,

2007).
3

Menurut Wong tahun 2004,Harga diri merupakan penilaian terhadap hasil yang

dicapai terhadap analisis, sejauh mana perilaku, memenuhi ideal diri jika individu

selalu sukses maka cenderung harga dirinya tinggi, dan jika gagal maka harga dirinya

akan cenderung rendah. Harga diri tinggai adalah perasaan yang berakar dalam

penerimaan diri sendiri tanpa syarat walaupun melakukan kesalahan tanpa merasa

sebagai orang yang penting dan berharga. Rosenberg menyebutkan individu dengan

harga diri yang tinggi akan menghargai diri sendiri, menyadari bahwa mereka berharga,

dan melihat diri mereka serta dengan orang lain. Mereka tidak berpura-pura sempurna,

mereka menyadari keterbatasanya, dan berharap untuk dapat lebih meningkat dan

berkembang. Individu dengan harga diri yang rendah biasanya mengalami penolakan,

ketidakpuasan, dan peremehan akan dirinya sendiri. Di tinjau dari dimensi harga diri

seperti significance (keberartian), power (kekuatan), competence (kemampuan), dan

virtue (kebijakan). Pada tahun 1978 Rosenberg, harga diri pada remaja dibagi menjadi

lima yang pertama perasaan ingin dihargai yaitu perasaan ingin diterima oleh orang

lain, perasan ingin dihargai, didukung diperhatikan, dan merasa berguna, ke dua

percaya diri dalam bersosialisasi yaitu merasa percaya diri, mudah bergaul dengan

orang lain, baik barudikenal maupun baru kenal, yang ketiga kemampuan akademik

yaitu Sukses memenuhi tuntunan prestasi ditandai oleh keberhasilan individu dalam

mengerjakan bermacam-macam tugas pekerjaan dengan baik dan benar, keempat

penampilan fisik yaitu Kemampuan dirinya merasa punya kelebihan, merasa dirinya

menarik, dan merasa percaya diri, yang kelima Kemampuan fisik yaitu Mampu
4

melakukan sesuatu dalam bentuk aktivitas, dapat berpartisipasi dalam hal kemampuan

fisik.

Menurut Sells, Early & Smith, Remaja merupakan individu yang mengala-mi masa

peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Remaja yang mendapat-kan

dukungan penuh dalam menjalani masa perkembangannya, akan mampu mencapai

seluruh tugas perkembangan dengan baik. Se-baliknya, remaja yang tidak

mendapatkan du-kungan yang dibutuhkan bagi perkembangan-nya, diperkirakan

memiliki risiko mengalami permasalahan. Beberapa penelitian menyebut-kan, remaja

berisiko mengembangkan perilaku menentang dan gangguan tingkah laku, yang

disebabkan oleh teknik pengasuhan yang tidak efektif, ditolak oleh orang tua, disiplin

yang keras dan tidak konsisten serta hubungan ke-luarga yang buruk.

Keadaan yang sangat berbeda di negara tetangga (Australia dan Malaysia) dan

negara Barat umumnya. Mereka memberlakukan undang-undang yang ketat bagi

perokok dan bahkan terdapat sangsi hukuman dan denda bagi mereka yang melanggar.

Terlebih lagi di Amerika, akhir-akhir ini mengeluarkan slogan (melalui internet) “lebih

baik Anda minum (beverage beralkohol) dari pada Anda merokok”. Hal yang jelas

sekali nampak, bahwa mereka lebih mengkhawatirkan kegiatan merokok dari pada

meminum minuman beralkohol. Dalam tayangan di TV pada peringatan hari bebas

merokok tanggal 31 Mei 2001 lalu, duta besar Amerika yang diwawancarai mengenai

pendapatnya berapa lama untuk lamanya hari bebas merokok, ia mengatakan “all

years” (selamanya). Suatu sikap yang jelas sekali yang menunjukkan betapa mereka

begitu peduli akan akibat buruk merokok bagi kesehatan manusia. Mengapa mereka
5

sampai berpandangan dan bersikap demikian? Mengapa mereka lebih

memperbolehkan minum beverage beralkohol daripada merokok? Tentunya ada dasar

pengetahuan yang kuat yang mereka sadari dan informasi yang luas dan intensif yang

sampai kepada mereka akan kejelekan-kejelekan dan akibat yang merugikan dari

merokok.

Suatu yang ironis sekali dari pandangan-pandangan di atas, terhadap apa yang

terjadi di negara kita tercinta ini. Sementara, minuman beralkohol jelas-jelas dilarang

dan bahkan diharamkan oleh penduduk muslim, tapi kegiatan merokok sangat

merajalela dan tanpa terusik suatu aturan hukum apapun. Terlebih lagi ada diantara

mereka yang bahkan dari kalangan ulama, cendekia dan kaum intelektual yang mahfum

dan sadar betul akan bahaya dan kejelekan merokok terhadap kesehatan, hampir tidak

berbuat sesuatupun yang nyata yang dapat menyadarkan masyarakat akan hal tersebut.

Ditambah lagi dengan kurangnya dukungan media masa dalam upaya menyebarkan

informasi akan bahaya dan kejelekan merokok secara intensif dan meluas kepada

masyarakat sebagaimana yang mereka lakukan untuk mengiklankan produk rokok.

Sementara itu, telah banyak penelitian yang dilakukan oleh para peneliti terhadap

kejelekan akibat merokok terhadap kesehatan manusia.

Dalam penelitian ini membahas tentang hubungan prilaku merokok dengan

harga diri rendah pada remaja. Kenapa peneliti menggunakan judul ini karena harga

diri adalah faktor yang penting dalam pertumbuhan anak sampai remaja. Harga diri

yang rendah dapat menyebabkan seseorang melakukan perilaku yang

membahayakan kesehahatan khususnya perilaku merokok yang merugikan

kesehatan menurut mentri kesehatan. Jika terdapat hubungan yang signifikan maka
6

variabel harga diri ini dapat menjadi pengaruh terhadap perilaku merokok yang

nantinya peningkatan harga diri sejak dini dapat menjadi salah satu cara untuk

mengurangi perilaku merokok di masyarakat. Dan bahkan peningkatan harga diri

sejak usia anak-anak dapat mencegah perilaku yang membahayakan kesehatan

lainya seperti minum minuman keras dan narkoba.

Berdasarkan penjelasan di atas peneliti tertarik untuk meneliti dan mengkaji

lebih lanjut dengan judul penelitian yaitu : hubungan prilaku merokok dengan harga

diri pada siswa putra SMAN 8 Banda Aceh.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan harga diri pada

siswa putra SMAN 8 Banda Aceh?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan

antara perilaku merokok dengan harga diri pada siswa putra SMAN 8 Banda

Aceh.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi data demografi usia terhadap perilaku merokok pada

remaja putra SMAN 8 Banda Aceh.

b. Mengidentifikasi pengaruh faktor sosial terhadap perilaku merokok pada

remaja putra SMAN 8 Banda Aceh.

c. Mengidentifikasi pengaruh faktor psikologis terhadap perilaku merokok

pada remaja putra SMAN 8 Banda Aceh.


7

d. Mengidentifikasi pengaruh faktor genetik terhadap perilaku merokok pada

remaja putra SMAN 8 Banda Aceh.

e. Mengidentifikasi pengaruh harga diri terhadap perilaku merokok pada

remaja putra SMAN 8 Banda Aceh.

f. Menganalisa hubungan perilaku merokok dengan harga diri remaja putra

SMAN 8 Banda Aceh.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Bagi Siswa SMAN 8 Banda Aceh

Dari hasil penelitian ini semoga dapat menjadi wawasan ilmu

pengetahuan yang mana dapat di sosialisasikan dan di aplikasikan dalam

kehidupan sehari-hari.

b. Bagi Institusi Pendidikan

Dari hasil penelitian ini semoga dapat menjadi data tambahan dalam

proses belajar-mengajar dan menjadi pertimbangan bagi sekolah dalam

mengambil kebijakan terhadap perilaku merokok pada remaja putra

c. Bagi Pelayanan Kesehatan

Dari hasil penelitian ini semoga dapat menjadi masukan dan sumber

informasi dalam menentukan strategi yang tepat untuk memberikan edukasi

kepada remaja putra tentang prilaku merokok, khususnya harga diri remaja

putra.
8

d. Bagi Peneliti

Pengalaman yang berharga dapat melakukan penelitian ini dan

menambah wawasan bagi peneliti sendiri maupun peneliti lainnya.