Anda di halaman 1dari 4

 Nama : Nindriya Nahrulita

 NIM : 160311604644
 Offering : A
Resume
Prinsip-Prinsip Perkembangan serta Implikasinya dalam Pendidikan

1. Menurut William Stern


William Stern merupakan pencetus teori konvergensi yang bertumpu pada teori
sebelumnya, yaitu teori empirisme (dipengaruhi pengalaman) dan teori empirisme
(dipengaruhi lingkungan) yang kurang realistis. Karena kenyataannya keturunan yang baik
saja tanpa adanya pengaruh lingkungan pendidikan yang baik dan maksimal tidak akan dapat
membina kepribadian yang ideal. Lebih tepatnya teori konvergensi ini menyatakan
kecerdasan itu bukan hanya dipengaruhi oleh pengalaman saja tetapi juga bisa dipengharuhi
oleh faktor lingkungan pendidik sekitar. Teori konvergensi ini juga mengatakan bahwa
walaupun manusia berasal dari pembawaan yang sama, namun dipengaruhi oleh lingkungan.
Sebagai contoh, dapat dikemukakan bahwa anak yang normal, menurut bakat dan
pembawaannya memiliki sifat-sifat untuk berbicara. Namun demikian, untuk berbicara
tersebut mereka mendengar kata-kata dan kalimat bahasa dalam pergaulan dengan alam
sekitarnya. Seorang anak keturunan Inggris yang baru lahir dan dibesarkan di Indonesia, serta
dipelihara oleh orang Indonesia dan dalam pemeliharaan sehari-harinya menggunakan bahasa
Indonesia, tidak mungkin bisa berbahasa Inggris, karena pendidikannya termasuk pergaulan
sehari-harinya, tidak memberikan kesempatan untuk berbicara bahasa Inggris.
Seorang anak yang lahir dalam keadaan tuli, walaupun alat-alat bicaranya cukup baik dan
menurut pembawaannya manusia itu adalah makhluk yang dapat berbicara, karena
kesempatan berbicara untuk belajar terganggu (alat pendengarannya rusak), ia tidak mungkin
dapat berbicara dan mengenal bahasa.

2. Menurut J. L. Moreno
Moreno memiliki kedudukan yang khas dalam sejarah psikologi perkembangan. Dia
menolak adanya pandangan bahwa pandangan anak-anak itu semata-mata tergantung pada
kenyataan pada diri mereka yang masih lemah dan pengaruh lingkungan. Sebaliknya menurut
Moreno, bahwa ada kesempatan bagi setiap anak untuk memilih sendiri jalan
perkembangannya. Dengan demikian, dasar perkembangan manusia itu berada pada diri
masing-masing ketika dalam usia anak-anak. Atas dasar pandangan ini, kata Moreno, maka
pendidikan punya kemungkinan untuk dilaksanakan.

3. Menurut Jean Piaget


Piaget adalah orang yang paling banyak memperhatikan perkembangan anak-anak hingga
usia 7 tahun. Ia memandang bahwa pada setiap anak terdapat dua faktor, yaitu pengenalan
dan perasaan. Keduanya berguna untuk penyesuaian ruhani terhadap lingkungan. Katanya
pula bahwa dalam ruhani anak terdapat fungsi pikiran. Akan tetapi, kecakapan berpikir secara
logis tidak dibawa anak secara lahir. Kecakapan berpikir baru timbul setelah ia mencapai
taraf perkembangan tertentu.

4. Menurut Montessori
Menurut Montessori setiap fase perkembangan itu mempunyai arti biologis. Prinsip
montessori terkenal dengan sebutan masa peka, menurutnya masa peka merupakan masa
pertumbuhan ketika suatu fungsi jiwa mudah sekali dipengaruhi dan dikembangkan. Masa ini
hanya datang sekali seumur hidup, sehingga masa ini harus digunakan sebaik-baiknya maka
fungsi-fungsi jiwa akan mengalami kelainan/abnormal, dan akan mempengaruhi
perkembangan selanjutnya.
Masa peka antara anak yang satu dengan anak yang lainnya tidah mudah untuk di ketahui,
karena hal ini memerlukan penelitian yang seksama melalui berbagai percobaan. Misalnya,
untuk menentukan apakah seorang anak sudah mengalami masa peka bagi pembuatan
kerajinan tangan tertentu dan lain-lain. Suatu gejala kepekaan seharusnya diselidiki dengan
percobaan, yaitu apakah anak tersebut sudah tampak terarah minatnya pada suatu fungsi
tersebut apa belum.

5. Menurut J. B. Watson dan Pavlov


Keduanya menyatakan bahwa perkembangan itu pada hakikatnya merupakan kumpulan
dari sejumlah refleks yang karena sudah terlatih sedemikian rupa hingga akhirnya
membentuk tingkah laku seseorang yang bersifat konstan, atau bisa diartikan sebagai gerak
spontan yang bersifat otomatis. Inilah yang menurutnya disebut dengan refleks wajar yang
masih murni, yang asli dibawa sejak lahir. Setelah mendapat latihan dan pembiasaan, lalu
disebut dengan refleks bersyarat. Jadi, menurutnya, perkembangan merupakan proses
terbentuknya refleks wajar menjadi refleks bersyarat. (Baharuddin,2010:74)

6. Prinsip Kesatuan Organisme


Prinsip ini berbunyi bahwa anak merupakan suatu kesatuan fisik dan psikis dan satu kesatuan
dari komponen tersebut. Antara fisik dan psikis satu sama lain saling mempengaruhi. Setiap
komponen tidak berkembang sendiri-sendiri tetapi dipengaruhi terhadap komponen yang lain.
Jadi dalam proses pembelajaran hendaknya melibatkan semua komponen agar hasil belajar
yang didapat bisa maksimal. Jika salah satu komponen terganggu maka komponen yang lain
akan terganggu pula. Contohnya, jika anak sakit maka proses pembelajaran juga akan
terganggu, apa yang disampaikan guru tidak akan terserap dengan baik oleh memori anak.

7. Prinsip Predistinasi
Predistinasi berarti nasib atau takdir. Setiap manusia percaya terhadap nasib atau takdir,
meskipun terdapat perbedaan penafsiran mengenai takdir ini sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing. Tetapi pada umumnya semua umat beragama mengakui bahwa
segala yang terjadi pada diri mereka tidak lepas dari takdir sang maha kuasa.
Berdasarkan prinsip ini berarti seberapa sempurnanya pembawaan, bakat dan sifat-sifat
keturunan, serta betapapun baiknya lingkungan dan sarana pendidikan anak, tidak akan
berlangsung perkembangan yang diharapkan jika tidak ada izin dari maha kuasa.
8. Prinsip Tempo dan irama (ritme) Perkembangan
Setiap anak mempunyai laju kecepatan yang berbeda-beda, yakni ada yang cepat, sedang,
dan ada pula yang lambat. Tempo perkembangan seorang anak dapat dipercepat tetapi tidak
dapat dipaksakan. Misalnya, orang tua yang mengajari anaknya untuk menulis, membaca,
dan berhitung padahal anak tersebut belum sekolah. Dan ketika anaknya sekolah tidak diberi
kesempatan untuk bermain-main karena senantiasa harus belajar. Hal seperti ini dapat
mempercepat perkembangan akal anak tetapi tindakan orang tua tersebut tidaklah tetap.
Selain memiliki tempo, perkembangan juga berlangsung sesuai dengan ritmenya. Prinsip
ritme ini berlaku bagi setiap manusia. Proses perkembangan tidak selalu dialami perlahan-
lahan dengan urutan yang teratur, melainkan melalui gelombang-gelombang besar dan kecil
yang silih berganti. Ada kalanya laju perkembangan berjalan cepat tetapi pada waktu
berikutnya sedikitpun tidak tampak kemajuan. Sehubungan dengan perkembangan cepat atau
lambat ini, anak dapat dibedakan atas tiga golongan, yaitu:
a) Anak yang perkembangannya berlangsung mendatar, dan maju secara berangsur-
angsur.
b) Anak yang cepat sekali berkembang pada waktu kecilnya, tetapi sesudah besar
perkembangannya semakin berkurang/lambat.
c) Anak yang lambat perkembangannya pada waktu kecil tetapi semakin besar semakin
cepat kemajuannya.
d) Tempo dan irama perkembangan anak ditentukan dari kemampuan dasar mereka.
Semakin tinggi kemampuan dasar mereka maka semakin cepat pula tempo dan irama
perkembangannya. Jadi, peran lingkungan sangat dibutuhkan disini agar dapat
memberi pengaruh yang tepat untuk tahap perkembangan anak.

9. Prinsip Kontinuitas
Menurut prinsip kontinuitas perkembangan berlangsung secara terus menerus dan
berkseinambungan. Perkembnagna periode awal pada diri anak dapat mempengaruhi
perkembangan selanjutnya. Apabila anak dapat menguasai kemampuannya dengan sempurna
pada periode awal maka pada periode berikutnya akan dapat dikuasai. Dan jika pada periode
sebelumnya tidak tercapai dengan sempurna maka pada periode selanjutnya bisa jadi anak
sulit untuk menguasai perkembangan berikutnya. Bahkan ada kemungkinan tidak diperoleh
sama sekali. Oleh karena itu pendidik harus menghindari terjadinya hal-hal yang dapat
mengganggu tercapainya kemampuan perkembangan anak.

10. Prinsip Kesamaan Pola


Prinsip ini mengemukakan bahwa perkembangan manusia mengikuti pola perkembangan
umum yang sama. Maksud prinsip ini adalah manusia mengiktui pola perkembangan yang
sama. Misalnya, manusia pada umur 6-7 tahun pada umumnya telah masuk sekolah. Prinsip
ini mempunyai beberapa implikasi dalam melaksanakan pendidikan, yaitu:
a. Pendidikan dapat dilaksanakan secara klasikal terhadap anak yang berumur sama
dalam situasi normal.
b. Dapat dilaksanakan keseragaman pendidikan untuk anak tingkat tertentu.
c. Dapat disediakan alat-alat tertentu yang dapat digunakan dari generasi ke generasi
selanjutnya.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas mengenai prinsip-prinsip perkembangan penyusun
dapat menyimpulkan bahwa perkembangan manusia itu, timbul dari kepribadian seseorang
yang bisa memilah-milah, perkembangan tersebut tidak bisa di pandang satu sisi melainkan
dua sisi yaitu jasmani dan rohani yang mana perkembangan itu merupakan kumpulan reflek
yang perlu di bimbing dan dipengaruhi dari lingkungannya sehingga akhirnya membentuk
manusia yang mempunyai tingkah laku yang baik.

Sumber :
http://imamaola.blogspot.co.id/2012/05/makalah-implikasi-perkembangan-peserta.html

http://bella-ppd-prinsip-prinsipperkembangan.blogspot.co.id/

http://novehasanah.blogspot.co.id/2015/11/implikasi-prinsip-perkembangan-peserta-
didik.html