Anda di halaman 1dari 97

DRAFT 2

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


MUATAN LOKAL

MATA PELAJARAN
BAHASA DAN SASTRA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013
REVISI 2017
JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
SUSUNAN TIM PENGEMBANG
KURIKULUM TINGKAT DAERAH MUATAN
LOKAL MATA PELAJARAN BAHASA DAN
SASTRA SUNDA BERDASARKAN KURIKULUM
2013 REVISI 2017

Penanggung Jawab
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
Dr. Ir. Ahmad Hadadi, M.Si.

Pengarah
Kepala Balai Pengembangan Bahasa dan Kesenian Daerah
Drs. H. Husen R. Hasan, M.Pd.

Tenaga Ahli
Prof. Dr. H. Yayat Sudaryat, M.Hum. (UPI)
Dr. H. Dingding Haerudin, M.Pd. (UPI)
Rina Heryani, S.Pd., M.Pd.

Tim Pengembang Kurikulum Muatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa


dan Sastra Sunda Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
Tim Pengembang Kurikulum Jenjang SD/MI Ida Widaningsih,
S.Pd., M.M. Nita Rosyana, S.Pd., M.M.Pd. Sri Asdianwati, S.Pd.,
M.Pd.

Tim Pengembang Kurikulum Jenjang SMP/MTs


Susi Budiwati, S.Pd., M.Pd.
Elah, S.Pd., M.Pd.
Uus Rustandi, S.Pd., M.Pd.

Tim Pengembang Kurikulum Jenjang SMA/MA


Darpan, S.Pd., M.Pd.
Dra. Hermin Ruliati
Ivan Adzam Wahyudin, S.Pd.

Tim Pengembang Kurikulum Jenjang SMK/MAK


Drs. Moch. Ridwan Iskandar, M.Pd.
Rani Rabiussani, S.Pd.
Ilah Nurlelah, S.Pd.

Berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat


Nomor : 819/8653-Setdisdik
Tanggal : 20 Pebruari 2017
KURIKULUM TINGKAT DAERAH
MUATAN LOKAL

MATA PELAJARAN

BAHASA DAN SASTRA SUNDA


BERBASIS KURIKULUM 2013
REVISI 2017
JENJANG SMA/SMK/MA/MAK

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT


DINAS PENDIDIKAN
2017
vi
S AMBUTAN
KEPALA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT

Balai Pengembangan Bahasa dan Kesenian Daerah Dinas Pendidikan Provinsi


Jawa Barat sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, sejak tahun 2003 sudah
mengadakan pemantauan terhadap kurikulum yang dikembangkan oleh pemerintah
pusat, khususnya yang berkaitan dengan (1) struktur kurikulum, (2) bahan ajar,
(3) sarana dan sumber belajar, dan (4) pelaksanaan pengajaran. Sejalan dengan
keluarnya Kurikulum 2013 terdapat tiga jenis kurikulum, yakni Kurikulum Tingkat
Nasional, Kurikulum Tingkat Daerah, dan Kurikulum Tingkat Sekolah. Kurikulum
Tingkat Nasional disusun dan diberlakukan secara nasional. Kurikulum Tingkat Daerah
disusun dan diberlakukan di daerah berdasarkan Kurikulum Tingkat Nasional sesuai
dengan kebijakan daerah masing-masing. Sementara, Kurikulum Tingkat Sekolah
disusun dan diberlakukan pada setiap jenjang sekolah.
Dalam rangka memenuhi Kurikulum Tingkat Daerah, Dinas Pendidikan Provinsi
Jawa Barat menyusun Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KIKD) Mata Pelajaran
Bahasa Sunda. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KIKD) Mata Pelajaran Bahasa
dan Sastra Sunda ini dikeluarkan sebagai arahan atau pedoman bagi guru dalam
mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Isinya memuat
kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD), yang harus disusun dan
dikembangkan lagi oleh guru dan sekolah menjadi kurikulum yang berisi KI, KD,
indikator, pengalaman belajar, lingkup materi, dan jenis evaluasi. Penyusunan
kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan keadaan dan kondisi setempat.
Masih berhubungan dengan keadaan setempat yang berbeda satu dengan
lainnya, perlu dipertimbangkan pengelompokan keadaan (kategorisasi lokal), baik di
wilayah pemakaian bahasa Sunda maupun wilayah yang memiliki dialek bahasa Sunda
atau bahasa daerah lain seperti Melayu-Betawi di daerah Depok dan Bekasi serta
Bahasa Cirebon di wilayah Cirebon dan Indramayu. Bahasa-bahasa tersebut termasuk
bahasa daerah yang hidup di Provinsi Jawa Barat sesuai dengan Peraturan Daerah
Jawa Barat No. 14/2014 tentang Pelestarian Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah yang
sebelumnya adalah sebagai Kurikulum Tingkat Daerah Muatan Lokal

vii
yang mengacu pada Kurikulum Nasional, KIKD Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra
Sunda berbasis Kurikulum 2013 dilakukan revisi pada tahun 2017. Revisi tersebut
berkaitan dengan perumusan KD dan pemetaan materi ajar bahasa daerah
mempertimbangkan keragaman lokalitas dan mewadahi fenomena kebahasaan dan
pola komunikasi yang berkembang di lingkungan masyarakat.
Revisi Kurikulum ini dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat,
yang untuk kepentingan regional Jawa Barat disusun berdasarkan Peraturan Gubernur
Jawa Barat Nomor 69 Tahun 2013 tentang Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa dan
Sastra Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah di Jawa Barat, dan Surat
Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Nomor 819/8653-Setdisdik
tanggal 20 Pebruari 2017 tentang Tim Pengembang Kurikulum Mulok Bahasa dan
Sastra Sunda.
Terima kasih kepada Tim Ahli dan Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Jenjang
SD, SMP, dan SMA/SMK Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat, yang telah berkenan melakukan revisi Kurikulum Muatan Lokal
Mata Pelajaran Bahasa Sunda berbasis Kurikulum 2013. Semoga semua ini dapat
dirasakan manfaatnya oleh dunia pendidikan di Jawa Barat.

Bandung, Maret 2017


Kepala Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat,

Dr. Ir. H. Ahmad Hadadi, M.Si.


Pembina Utama Madya
NIP. 19611231 198730 1042

viii
K ATA PENGANTAR
KEPALA BALAI
PENGEMBANGAN BAHASA DAN KESENIAN DAERAH
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah di sekolah-sekolah yang awalnya


menggunakan Kurikulum 2006, mulai tahun 2013 menggunakan Kurikulum Mulok
yang baru, terutama di sekolah-sekolah yang menjadi percontohan. Kurikulum
Muatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Daerah yang mengacu pada
Kurikulum 2013 ini terdiri atas Struktur Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KIKD)
serta Silabusnya.
Seperti diketahui, implementasi Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah hingga saat
ini sangat dinamis. Berbagai revisi dan perubahan terjadi hampir setiap tahun,
terutama menyangkut berbagai perangkat implementasinya di lapangan. Tahun 2017,
revisi bahkan menyangkut struktur inti kurikulum dengan adanya perubahan pada
tataran KIKD dan landasan konseptualnya. Sedikitnya ada empat Peraturan Mentri
(Permen) Pendidikan dan Kebudayaan dikeluarkan untuk mengganti Permen lama
berkaitan dengan revisi Kurikulum. Antara lain Permendikbud No. 20 tahun 2016
Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan menengah, Permendikbud No. 21
tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah, Permendikbud No.
22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan dan Dasar dan Menengah, dan
Permendikbud No. 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian. Melihat dinamika yang
terjadi pada Kurikulum 2013 tersebut, sudah seharusnya pula Kurikulum Mulok
Bahasa dan Sastra Daerah menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut.

Di samping itu, implementasi Kurikulum Muatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa


dan Sastra Daerah sendiri menemui beberapa masalah, antara lain ditemukan pada
struktur isi kurikulum yang masih dianggap kompleks dan sulit untuk
diimplementasikan. Kurikulum Bahasa dan Sastra Daerah juga mengidentifikasi tujuan
yang tidak sesuai di setiap jenjang pendidikan, serta belum menggambarkan skala
prioritas apa yang ingin dicapai dari hasil pengajaran, karena masih ditemukan materi
pelajaran yang bertumpuk dan berulang-ulang.

ix
Kendala lain yang juga sering disuarakan oleh masyarakat dan para guru adalah
tidak meratanya kurikulum diberlakukan di setiap satuan pendidikan karena berbagai
hal, kendati Kurikulum Muatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Daerah telah
ditetapkan penggunaannya melalui Peraturan Gubernur. Kritik juga muncul dari
masyarakat berkaitan dengan kekeliruan bahan ajar dan karakter Kurikulum Muatan
Lokal Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Daerah yang cenderung terlalu meniru
struktur kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Berkaitan dengan masalah-masalah tersebut, perlu adanya upaya untuk
merevisi dan mengembangkan kembali Kurikulum Muatan Lokal Mata Pelajaran
Bahasa dan Sastra Daerah untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Namun
sebelum revisi dilakukan, diperlukan landasan konseptual yang jelas menyangkut apa
saja yang harus menjadi pertimbangan tim review. Diperlukan pokok-pokok pikiran
yang jelas untuk nanti digunakan oleh Tim Pengembang Kurikulum Muatan Lokal Mata
Pelajaran Bahasa dan Sastra Daerah sebagai landasan bekerja.
Buku ini merupakan dokumen kurikulum tingkat daerah Provinsi Jawa Barat
yaitu Kurikulum Muatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda Berbasis
Kurikulum 2013 yang telah direvisi. Dokumen kurikulum diharapkan dapat dijadikan
pedoman pembelajaran muatan lokal bahasa dan sastra Sunda pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah di Jawa Barat, terhitung mulai tahun pelajaran
2017/2018.
Semoga buku ini bermanfaat dan membawa perbaikan dalam pembinaan,
pengembangan dan pelestarian bahasa dan sastra daerah melalui jalur pendidikan di
Jawa Barat.

Bandung, Maret 2017


Kepala Balai
Pengembangan Bahasa dan Kesenian Daerah,

Drs. H. Husen R. Hasan, M.Pd.


Pembina Tk. I
NIP. 196110051986031014

x
D AFTAR ISI
SAMBUTAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN
PROVINSI JAWA BARAT................................................................................................... v

KATA PENGANTAR KEPALA BALAI PENGEMBANGAN


BAHASA DAN KESENIAN DAERAH DINAS PENDIDIKAN
PROVINSI JAWA BARAT................................................................................................. vii

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ix

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH...........................................1


A. Rasional.............................................................................................................................2
B. Struktur Kurikulum Muatan Lokal..............................................................................6
C. Perbaikan Kurikulum Tingkat Daerah Berbasis Kurikulum 2013..................10
D. Kekhasan Kurikulum Tingkat Daerah....................................................................13
E. Keragaman Lokalitas dan Bahasa Pengantar Pembelajaran........................14
F. Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar............................................................16

BAB II: KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR (KIKD)


MATA PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA SUNDA......................19
A. Rasional..........................................................................................................................20
B. Pengertian......................................................................................................................21
C. Fungsi..............................................................................................................................21
D. Tujuan..............................................................................................................................21
E. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran
Bahasa Dan Sastra Sunda Jenjang SMA/SMK/MA/MAK..............................22

LAMPIRAN-LAMPIRAN....................................................................................................29
Lampiran 1: SILABUS MATA PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA
SUNDA SMA/SMK/MA/MAK................................................................... 30
A. Pengertian SIlabus......................................................................................................30
B. Komponen Silabus.......................................................................................................30
C. Pengembangan Silabus.............................................................................................31

xi
Lampiran 2: RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
SMA/SMK/MA/MAK MATA PELAJARAN BAHASA
DAN SASTRA SUNDA 59
A. Batasan...........................................................................................................................59
B. Komponen RPP............................................................................................................59
C. Prinsip Penyusunan RPP..........................................................................................60
D. Langkah Penyusunan RPP.......................................................................................61

xii
BAB I

STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT


DAERAH
A. RASIONAL
Sejalan dengan keluarnya Kurikulum 2013 terdapat tiga jenis kurikulum,
yakni Kurikulum Tingkat Nasional, Kurikulum Tingkat Daerah, dan Kurikulum
Tingkat Sekolah. Kurikulum Tingkat Nasional disusun dan diberlakukan secara
nasional. Kurikulum Tingkat Daerah disusun dan diberlakukan di daerah
berdasarkan Kurikulum Tingkat Nasional sesuai dengan kebijakan daerah
masing-masing. Sementara, Kurikulum Tingkat Sekolah disusun dan
diberlakukan pada setiap jenjang sekolah.
Kurikulum 2013 merupakan Kurikulum Tingkat Nasional telah mengalami
revisi sehingga disebut Kurikulum 2013 edisi revisi. Kurikulum Tingkat Daerah
pun turut mengalami perbaikan sehingga disebut Kurikulum Tingkat Daerah
Muatan Lokal berbasis Kurikulum 2013 revisi 2017. Revisi ini dilakukan
berdasarkan Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 20, 21, 22, dan 23 Tahun 2016.
Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Pendidikan Dasar dan Menengah digunakan sebagai acuan utama
pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan,stan
dar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar
pengelolaan, dan standar pembiayaan. Dengan diberlakukanya Peraturan
Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54
Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar
dan Menengah memuat tentang Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti
sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kompetensi Inti meliputi
sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Ruang lingkup
materi yang spesifik untuk setiap mata pelajaran dirumuskan berdasarkan
Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti untuk mencapai kompetensi lulusan
minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan diberlakukannya
Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 64
Tahun 2013 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan
Dasar dan Menengah merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran
pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah untuk

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


2 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
mencapai kompetensi lulusan. Dengan diberlakukanya Peraturan Menteri ini,
maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 65 Tahun 2013 Tentang
Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.
Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidik-
an yang merupakan kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip,
mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang
digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada
pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dengan diberlakukannya
Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan dan Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 tentang
Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan
Menengah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Dalam rangka memenuhi Kurikulum Tingkat Daerah, Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat menyusun Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KIKD)
Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Daerah. Selain disesuaikan dan didasarkan
pada struktur Kurikulum Tingkat Nasional 2013, KIKD Mata Pelajaran Bahasa
Sunda didasarkan pada Surat Edaran Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat Nomor
423/2372/Set-disdik tertanggal 26 Maret 2013 tentang Pembelajaran Muatan Lokal
Bahasa Daerah pada Jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA/MAK.
Penyusunan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KIKD) Mata Pelajaran
Bahasa dan Sastra Daerah didasari pula oleh Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Barat No. 14 Tahun 2014 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara
Daerah, yang menetapkan bahasa daerah, antara lain, bahasa Sunda, diajarkan
pada pendidikan dasar di Jawa Barat. Kebijakan tersebut sejalan dengan jiwa UU
No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 20/2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, yang bersumber dari UUD 1945 yang menyangkut
Pendidikan dan Kebudayaan. Sejalan pula dengan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan,
Bab III Pasal 7 Ayat 3--8, yang menyatakan bahwa dari SD/MI/SDLB, SMP/MTs./
SMPLB, SMA/MAN/SMALB, dan SMK/ MAK diberikan pengajaran muatan lokal
yang relevan dan Rekomendasi UNESCO tahun 1999 tentang “Pemeliharaan
Bahasa-Bahasa Ibu di Dunia”.
Hal tersebut sejalan pula dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 tentang

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 3


Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, di antaranya menyatakan bahwa: Bahasa
Daerah sebagai muatan lokal dapat diajarkan secara terintegrasi dengan mata
pelajaran Seni Budaya dan Prakarya atau diajarkan secara terpisah apabila
daerah merasa perlu untuk memisahkannya. Satuan pendidikan dapat
menambah jam pelajaran per minggu sesuai dengan kebutuhan satuan
pendidikan tersebut. Hal ini diperkuat dengan Permendikbud Nomor 79 tahun
2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013, Pasal 9 dan Pasal 10, bahwa
pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dapat mengembangkan muatan lokal.

Bahasa Sunda, bahasa Cirebon, dan bahasa Melayu Betawi berkedu


dukan sebagai bahasa daerah, yang juga merupakan bahasa ibu bagi masya
rakat Jawa Barat di wilayah tertentu. Bahasa daerah juga menjadi bahasa
pengantar pembelajaran di kelas-kelas awal SD/MI. Melalui pembelajaran
bahasa daerah diperkenalkan kearifan lokal sebagai landasan etnopedagogis.
Berdasarkan kenyataan tersebut, bahasa daerah sebagai salah satu
khasanah dalam kebhinnekatunggalikaan budaya Nusantara akan menjadi
landasan bagi pendidikan karakter dan moral bangsa. Oleh karena itu, bahasa
daerah harus diperkenalkan di Taman Kanak-kanak (TK)/Raudhatul Athfal (RA)
dan diajarkan di sekolah-sekolah mulai Sekolah Dasar (SD)/Madrasah
Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah
(MTs), sampai Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK)/Madrasah Aliah (MA)/ Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Untuk
kepentingan itu, telah disusun dan direvisi Kompetensi Inti dan Kompetensi
Dasar sesuai dengan satuan pendidikan tersebut.
Pembelajaran bahasa dan sastra daerah diharapkan membantu peserta
didik mengenal dirinya dan budayanya, mengemukakan gagasan dan
perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat Jawa Barat, dan menemukan serta
menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa dan sastra daerah diarahkan untuk meningkatkan
kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan
baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi
terhadap budaya dan hasil karya sastra daerah.
Kompetensi Inti dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Daerah yang
memiliki kesamaan dengan kompetensi inti mata pelajaran lainnya merupakan
kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan pengu-
KURIKULUM TINGKAT DAERAH
4 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
asaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa
dan sastra daerah. Kompetensi Inti ini menjadi dasar bagi peserta didik untuk
memahami dan merespon situasi lokal, regional, dan nasional. Secara substansial
terdapat empat Kompetensi Inti yang sejalan dengan pembentukan kualitas insan
yang unggul, yakni (1) sikap keagamaan (beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa) untuk menghasilkan manusia yang pengkuh agamana (spiritual
quotient), (2) sikap kemasyarakatan (berakhlak mulia) untuk menghasilkan
manusia yang jembar budayana (emotional quotient),
(3) menguasai pengetahuan, teknologi, dan seni (berilmu dan cakap) untuk
menghasilkan manusia yang luhung élmuna (intellectual quotient), dan (4)
memiliki keterampilan (kreatif dan mandiri) untuk menghasilkan manusia yang
rancagé gawéna (actional quotient).
Keempat Kompetensi Inti tersebut merupakan pengejawantahan dari
tujuan pendidikan nasional (Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Pasal 3), yakni “untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa
dan Sastra Daerah ini, selaras dengan alasan pengembangan kurikulum 2013,
diharapkan peserta didik memiliki:
1. kemampuan berkomunikasi;
2. kemampuan berpikir jernih dan kritis;
3. kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan;
4. kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab;
5. kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan
yang berbeda;
6. kemampuan hidup dalam maysrakat yang mengglobal;
7. minat yang luas dalam kehidupan;
8. kesiapan untuk bekerja;
9. kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya; dan
10. rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 5


B. STRUKTUR KURIKULUM MUATAN LOKAL
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indo-
nesia Nomor 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan
Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah SD/MI, SMP/MTs,
SMA/SMK/MA dinyatakan bahwa bahasa daerah sebagai muatan lokal dapat
diajarkan secara terintegrasi dengan mata pelajaran Seni Budaya dan
Prakarya atau diajarkan secara terpisah apabila daerah merasa perlu untuk
memisahkannya. Satuan pendidikan dapat menambah jam pelajaran per
minggu sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan tersebut.
Dasar pendidikan muatan lokal adalah Permendikbud Nomor 79 tahun
2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013. Dalam peraturan itu yang
dimaksud dengan muatan lokal adalah bahan kajian atau mata pelajaran pada
satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang
potensi dan keunikan lokal untuk membentuk pemahaman peserta didik
terhadap keunggulan dan kearifan di daerah tempat tinggalnya. Muatan lokal
dikembangkan atas prinsip: (1) kesesuaian dengan perkembangan peserta
didik; (2) keutuhan kompetensi; (3) fleksibilitas jenis, bentuk, dan pengaturan
waktu penyelenggaraan; dan (4) kebermanfaatan untuk kepentingan nasional
dalam menghadapi tantangan global.
Pendidikan Muatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Daerah
merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang
disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan
daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran
yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan melalui
pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
Kewenangan pemerintah daerah untuk mengembangkan bahasa daerah
diperkuat oleh UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan
Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pasal 42 Ayat (1) dan Ayat (2)
berbunyi sebagai berikut.
(1) Pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi
bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya
dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman
dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


6 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
(2) Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan
oleh pemerintah daerah di bawah koordinasi lembaga kebahasaan.
Mengingat kewenangan pemerintah daerah dalam mengembangkan dan
membina bahasa daerah, adanya kebijakan kurikulum tingkat daerah, dan
keberagaman pemerintah daerah dalam menetapkan konten muatan lokal
maka untuk Kurikulum 2013 ditetapkan Pendidikan Bahasa Daerah tetap
menjadi wewenang pemerintah daerah. Kurikulum 2013 menyediakan muatan
lokal untuk Pendidikan Bahasa Daerah dan Pendidikan Seni Budaya.
Berkaitan dengan bunyi undang-undang tersebut, maka Mata Pelajaran
Bahasa dan Sastra Sunda termasuk mata pelajaran muatan lokal di wilayah
Provinsi Jawa Barat. Kedudukannya dalam proses pendidikan sama dengan
kelompok mata pelajaran inti dan pengembangan diri. Oleh karena itu, Mata
Pelajaran Bahasa Sunda juga diujikan dan nilainya wajib dicantumkan dalam
buku rapor.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat mengeluarkan Surat Keputusan
No. 423/2372/Set-disdik tanggal 26 Maret 2013 tentang Pembelajaran Muatan
Lokal Bahasa Daerah pada Jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/ MA).
Kedudukan Mata Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Daerah dalam Struktur
Kurikulum Nasional adalah sebagai berikut.
Tabel 1: Struktur Kurikulum Tingkat Daerah Jenjang SD/MI
No. Komponen Jumlah Jam Pelajaran Tiap Kelas
I II III IV V VI
Kelompok A
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 4 4 4 4 4 4
2. Pendidikan Pancasila dan 6 6 6 4 4 4
Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia 8 8 10 7 7 7
4. Matematika 5 6 6 6 6 6
5. Ilmu Pengetahuan Alam - - - 3 3 3
6. Ilmu Pengetahuan Sosial - - - 3 3 3
Kelompok B
7. Seni Budaya dan Prakarya 4 4 4 5 5 5
8. Pendidikan Jasamani, Olahraga, dan 4 4 4 4 4 4
Kesehatan
9. Bahasa dan Sastra Daerah 2 2 2 2 2 2
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 32 34 36 38 38 38

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 7


Tabel 2: Struktur Kurikulum Tingkat Daerah Jenjang SMP/MTs.
No. Komponen Jumlah Jam Pelajaran Tiap Kelas
VI VIII IX
Kelompok A
1. Agama dan Budi Pekerti 3 3 3
2. Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan 3 3 3
3. Bahasa Indonesia 6 6 6
4. Matematika 5 5 5
5. Ilmu Pengetahuan Alam 5 5 5
6. Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4
7. Bahasa Inggris 4 4 4
Kelompok B
8. Seni Budaya 3 3 3
9. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 3 3 3
10. Prakarya 2 2 2
11. Bahasa dan Sastra Daerah 2 2 2
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 40 40 40

Tabel 3: Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah


Kelompok Mata Pelajaran Wajib
No. Komponen Jumlah Jam Pelajaran Tiap Kelas
X XI XII
Kelompok A (Wajib)
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 3 3 3
2. Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan 2 2 E
3. Bahasa Indonesia 4 4 4
4. Matematika 4 4 4
5. Sejarah Indonesia 2 2 2
6. Bahasa Inggris 2 2 2
Kelompok B (Wajib)
7. Seni Budaya 2 2 2
8. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 3 3 3
10. Prakarya dan Kewirausahaan 2 2 2
11. Bahasa dan Sastra Daerah 2 2 2
Jumlah Jampel A & B per Minggu 26 26 26
Kelompok C (Peminataan)
Mata pelajaran peminatan Akademik (untuk SMA/MA) 18 20 20
Jumlah Jampel yang harus ditempuh per minggu 44 46 46

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


8 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
Tabel 4: Struktur Kurikulum SMA/MA
MATA PELAJARAN KELAS
X XI XII
Kelompok A dan B (Wajib) 26 26 26
C. Kelompok Peminatan
I Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam
1. Matematika 3 4 4
2. Biologi 3 4 4
3. Fisika 3 4 4
4. Kimia 3 4 4
II. Peminatan Ilmu-ilmu Sosial
1. Geografi 3 4 4
2. Sejarah 3 4 4
3. Sosiologi dan Antropologi 3 4 4
4. Ekonomi 3 4 4
III Peminatan Ilmu-ilmu Bahasa dan Budaya
1. Bahasa dan Sastra Indonesia 3 4 4
2. Bahasa dan Sastra Daerah 3 4 4
3. Bahasa dan Sastra Inggris 3 4 4
4. Bahasa dan Sastra Asing Lainnya 3 4 4
5. Antropologi 3 4 4
Mata Pelajaran Pilihan Pendalaman
Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat 6 4 4
Jumlah Pelajaran yang tersedia per minggu 71 82 82
Jumlah Jampel yang harus ditempuh per minggu 44 46 46

Tabel 5: Struktur Kurikulum SMK/MAK


ALOKASI WAKTU
MATA PELAJARAN PER MINGGU
X XI XII
Kelompok A (Wajib)
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 3 3 3
2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2 2 2
3. Bahasa Indonesia 4 4 4
4. Matematika 4 4 4
5. Sejarah Indonesia 2 2 2
6. Bahasa Inggris 2 2 2
Kelompok B (Wajib)
7. Seni Budaya 2 2 2
8. Bahasa dan Sastra Daerah 2 2 2
9. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan 3 3 3
10. Prakarya dan Kewirausahaan 2 2 2
Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B per minggu 26 26 26
Kelompok C (Peminatan)
Mata Pelajaran Peminatan Akademik dan Vokasi (SMK/MAK) 24 24 24
JUMLAH ALOKASI WAKTU PER MINGGU 50 50 50

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 9


C. PERBAIKAN KURIKULUM TINGKAT DAERAH
BERBASIS KURIKULUM 2013
Dengan adanya revisi Kurikulum 2013 pada tingkat nasional, Kurikulum
Tingkat Daerah Muatan Lokal pun mengalami perubahan. Nama kurikulum
tidak berubah menjadi kurikulum nasional, tapi tetap Kurikulum 2013 Edisi
Revisi yang berlaku secara nasional. Perubahan tersebut didasarkan pada
empat Permendikbud, yakni Permendikbud No. 20 tentang Standar Kompe-
tensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah, Permendikbud No. 21 Tahun
2016 tentang Standar Isi, Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar
Proses, dan Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.
Meskipun ada revisi, struktur matapelajaran dan lama belajar di sekolah
tidak diubah. Poin utama revisi Kurikulum 2013 adalah meningkatkan
hubungan atau keterkaitan antara Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar
(KD). Jika diintisarikan, terdapat lima poin penting revisi Kurikulum 2013.
1. Peningkatan hubungan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
Kompetensi Inti 1 (Aspek Spiritual) dan Kompetensi Inti 2 (Aspek Sosial)
tidak lagi dijabarkan ke dalam Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Dasar
hanya dijabarkan dari Kompetensi Inti 3 (Pengetahuan) dan Kompetensi
Inti 4 (Keterampilan).
a) Penomoran KI dan KD tidak lagi ditandai dengan jenjang pendidikan
(kelas), tetapi sesuai dengan nomor urutan KI. Nomor KI sebanyak
satu digit angka (KI 3), sedangkan nomor KD sebanyak dua digit
angka (KD 3.1).
b) Dalam rumusan KD lama yang awalnya hanya menggambarkan
materi kesastraan saja, pada rumusan KD baru ditambahkan unsur-
unsur kebahasaan. Hal ini menunjukkan bahwa belajar bahasa daerah
dilaksanakan melalui sastra daerah.
c) Perumusan KD yang awalnya terlalu spesifik dan operasioal,
kemudian pada edisi revisi diubah menjadi rumusan yang lebih umum
agar tidak menyulitkan pendidik dalam menyusun indikator.
d) Rumusan KD pada jenjang SD/MI disesuaikan dengan materi pokok
dan tema nasional. Untuk beberapa tema KD disesuaikan dengan
tema kedaerahan.
e) Gradasi untuk dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan antar
jenjang pendidikan memperhatikan: (1) perkembangan psikologis

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


10 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
anak; (2) lingkup dan kedalaman; (3) kesinambungan; (4) fungsi
satuan pendidikan; dan (5) lingkungan, dengan mempertimbangkan
penguasaan pengetahuan dan keterampilan berbahasa dan bersastra
daerah secara gradual sesuai dengan jenjang pendidikan.
f) Pemetaan materi ajar bahasa daerah mempertimbangkan keragaman
lokalitas dan mewadahi fenomena kebahasaan dan pola komunikasi
yang berkembang di lingkungan masyarakat.
2. Proses berpikir siswa tidak lagi dibatasi. Pada kurikulum yang lama,
berlaku sistem pembatasan, yaitu anak SD sampai memahami, SMP
menganalisis, dan SMA mencipta. Pada kurikulum hasil revisi ini, anak SD
boleh berpikir sampai tahap penciptaan. Tentunya dengan kadar
penciptaan yang sesuai dengan usianya.
3. Penggunaan metode pembelajaran aktif. Guru berperan menjadi fasilitator
pembelajaran yang membuat siswa menyenangi kegiatan belajar-
mengajar. Pendekatan Saintifik 5M (Mengamati, Menanya,
Mengumpulkan Informasi, Mengasosiasikan/Mengolah Informasi,
Mengomunikasikan) bukanlah satu-satunya yang dapat diacu menjadi
pendekatan saat mengajar. Apabila digunakan, maka susunan 5M itu tidak
harus berurutan. Pemilihan model pembelajaran tematik dan/atau tematik
terpadu dan/atau saintifik dan/atau inkuiri (inquiry) dan penyingkapan
(discovery) dan/atau pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis
pemecahan masalah (project based learning) disesuaikan dengan karak-
teristik kompetensi dan jenjang pendidikan. Untuk pembelajaran bahasa,
sebaiknya dioptimalkan penggunaan pendekatan integratif dari pedagogi
genre, saintifik, jeung CLIL (Content and Language Integrated Learning).
4. Dalam Panduan Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016 dinyatakan, dari
hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 pada 2014
menunjukkan bahwa salah satu kesulitan pendidik dalam
mengimplementasikan Kurikulum 2013 adalah dalam melaksanakan
penilaian. Sekitar 60% responden pendidik menyatakan bahwa mereka
belum dapat merancang, melaksanakan, mengolah, melaporkan, dan
memanfaatkan hasil penilaian dengan baik. Kesulitan utama yang
dihadapi pendidik antara lain dalam merumuskan indikator, menyusun
butir-butir instrumen, dan melaksanakan penilaian sikap dengan berbagai
macam teknik. Selain itu, banyak di antara pendidik yang kurang percaya
diri dalam melaksanakan penilaian keterampilan. Mereka belum

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 11


sepenuhnya memahami bagaimana menyusun instrumen dan rubrik
penilaian keterampilan. Perilaku sikap yang tergolong kurang, sebaiknya
dilakukan sesegera mungkin setelah perilaku diamati. Penilaian meliputi
penilaian sikap, penilaian pengetahuan dan penilaian keterampilan.
Berikut ini penilaian berdasarkan Panduan Penilaian oleh Pendidik dan
Satuan Pendidikan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Republik
Indonesia Tahun 2016, yang sesuai dengan Permendikbud No. 23 Tahun 2016
tentang Penilaian.

1. Penilaian Sikap

Penilaian sikap yang dilakukan pendidik kepada peserta didik seperti


pada skema yang terdapat dalam Panduan Penilaian oleh Pendidik dan
Satuan Pendidikan berikut ini.
Dilaksanakan
selama proses
Observasi (jam) pembelajaran
dan/atau di luar jam
oleh guru pembelajaran yang
mata pelajaran teramati (mapel PABP
selama satu dan PPKN), untuk mapel
semester lainnya dilaksanakan
dalam proses
pembelajaran
UTAMA
Observasi Dilaksanakan

di luar jam
pembelajaran baik
SIKAP oleh wali secara langsung
PENILAIAN kelas dan guru
BK selama satu maupun berdasarkan
semester informasi yang valid.

PENUNJANG

Dilaksanakan
Penilaian sekurang-
antar kurangnya satu kali
teman dan dalam satu semester,
menjelang akhir
antar diri semester

Teknik penilaian sikap dilakukan dengan observasi atau teknik lainnya.


Teknik observasi dapat menggunakan instrumen berupa lembar observasi,
atau jurnal. Teknik penilaian lainnya yang dapat digunakan adalah penilaian
diri dan penilaian antar teman.
Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan
penilaian (mengikuti perkembangan) sikap dengan teknik observasi:
KURIKULUM TINGKAT DAERAH
12 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
a. Jurnal penilaian (perkembangan) sikap ditulis oleh wali kelas, guru mata
pelajaran, dan guru Bimbingan dan Konseling (BK) selama periode satu
semester.
b. Bagi wali kelas, 1 (satu) jurnal digunakan untuk satu kelas yang menjadi
tanggung-jawabnya; bagi guru mata pelajaran 1 (satu) jurnal digunakan
untuk setiap kelas yang diajarnya; bagi guru BK 1 (satu) jurnal digunakan
untuk setiap kelas di bawah bimbingannya.
c. Perkembangan sikap spiritual dan sikap sosial peserta didik dapat dicatat
dalam 1 (satu) jurnal atau dalam 2 (dua) jurnal yang terpisah.
d. Peserta didik yang dicatat dalam jurnal pada dasarnya adalah mereka yang
menunjukkan perilaku yang sangat baik atau kurang baik secara alami
(peserta didik yang menunjukkan sikap baik tidak harus dicatat dalam jurnal).
e. Perilaku sangat baik atau kurang baik yang dicatat dalam jurnal tersebut
tidak terbatas pada butir-butir nilai sikap (perilaku) yang hendak
ditanamkan melalui pembelajaran yang saat itu sedang berlangsung
sebagaimana dirancang dalam RPP, tetapi juga butir-butir nilai sikap
lainnya yang ditumbuhkan dalam semester itu selama sikap tersebut
ditunjukkan oleh peserta didik melalui perilakunya secara alami.
f. Wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru BK mencatat (perkembangan)
sikap peserta didik segera setelah mereka menyaksikan dan/atau
memperoleh informasi terpercaya mengenai perilaku peserta didik sangat
baik/ kurang baik yang ditunjukkan peserta didik secara alami.
g. Apabila peserta didik tertentu “pernah” menunjukkan sikap kurang baik, ketika
yang bersangkutan telah (mulai) menunjukkan sikap yang baik (sesuai
harapan), maka sikap yang (mulai) baik tersebut harus dicatat dalam jurnal.
h. Pada akhir semester guru mata pelajaran dan guru BK meringkas
perkembangan sikap spiritual dan sikap sosial setiap peserta didik dan
menyerahkan ringkasan tersebut kepada wali kelas untuk diolah lebih
lanjut Berikut contoh pengisian Jurnal untuk sikap spiritual dan sosial.
Nama Tindak
No. Waktu Peserta Catatan Prilaku Butir Sikap Ket. Ttd.
Didik Lanjut
Tidak mengikuti sholat
Jaja Jumat yang diselengga- Ketakwaan Spiritual Pembinaan
1 15/07/2016 rakan di sekolah.
Menolong orang lanjut
Ogi usia yang menyebrang di Kepedulian Sosial Teruskan
jalan depan sekolah.

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 13


Mempengaruhi teman
Odang untuk tidak masuk Kedisiplinan Sosial Pembinaan
2 22/07/2016 sekolah.
Mengingatkan temannya Toleransi
Mimin untuk sholat Dzuhur di Spiritual Teruskan
Beragama
sekolah.
Ikut membantu teman-
nya mempersiapkan Toleransi
3 09/08/2016 Mutia perayaan keagamaan Spiritual Teruskan
Beragama
yang berbeda dengan
agamanya di sekolah.
Menjadi anggota panitia
4 13/08/2016 Lala perayaan keagamaan di Ketakwaan Spiritual Teruskan
sekolah.
Memungut sampah
5 03/09/2016 Cecep yang berserakan di teras Kebersihan Sosial Teruskan
sekolah.

Nama Positif/
No Waktu Peserta Catatan Prilaku Butir Sikap Tindak Lanjut
Negatif
didik
Meninggalkan Diberi pembinaan
laboratorium tanpa Tanggung + dan dipanggil untuk
1 23/07/2016 Putri membersihkan meja, membersihkan meja,
jawab
alat, dan bahan yang alat, dan bahan yang
sudah dipakai. sudah dipakai.
Mengambil cerita dari Diberi pembinaan
2 27/07/2016 Herman internet dan diakui Kejujuran - agar tidak
seba-gai karyanya melakukan
sendiri (plagiasi). plagiariisme.
Menghalang-halangi - Diberi pembinaan
3 13/08/2016 Momod Toleransi agar menjadi lebih
teman untuk beribadah.
toleran.
Menjadi tugas pengibar Diberi apresiasi atas
bendera saat upacara +
4 17/08/2016 Kardi Nasionalisme kegiatannya dalam
HUT Kemerdekaan
kegiatan Paskibra.
Indonesia.

2. Penilaian Pengetahuan

Penilaian pengetahuan merupakan proses pengumpulan dan


pengolahan informasi untuk mengukur proses dan hasil pencapaian
kompetensi peserta didik yang berupa kombinasi penguasaan proses kognitif
(kecakapan berpikir) mengingat, memahami, menerapkan,menganalisis,
mengevaluasi, dan mengkreasi dengan pengetahuan faktual, konseptual dan
prosedural, maupun metakonitif.
Berikut ini teknik penilaian pengetahuan yang terdapat dalam Panduan
Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


14 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
Teknik Bentuk Instrumen Tujuan

Tes Tertulis Benar-Salah, Menjodohkan, Pilihan Mengetahui penguasaan pengetahuan peserta


didik untuk perbaikan proses pembelajaran
Ganda, Isian/Melengkapi, Uraian.
dan/atau pengambilan nilai.
Tes Lisan Tanya Jawab Mengecek pemahaman peserta didik untuk
perbaikan proses pembelajaran.
Memfasilitasi penguasaan pengetahuan (bila
Penugasan Tugas yang dilakukan secara diberikan selama proses pembelajaran) atau
individu maupun kelompok menguasai penguasaan pengetahuan (bila
diberikan pada akhir pembelajaran).

Nilai pengetahuan diperoleh dari hasil penilaian harian (PH), penilaian tengah
semester (PTS), dan penilaian akhir semester (PAS) dilakukan dengan beberapa teknik
penilaian sesuai tuntutan kompetensi dasar (KD).

3. Penilaian Keterampilan

Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai


kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas
tertentu di berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian
kompetensi.
Teknik penilaian keterampilan yang terdapat dalam Panduan Penilaian
oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan dapat digambarkan pada skema berikut.
Mengukur capaian pembelajaran yang berupa
Praktik keterampilan proses

Mengukur capaian pembelajaran yang berupa


Produk keterampilan dalam membuat produk- produk
Penilaian teknologi dan seni
Keterampilan Mengukur kemampuan peserta didik mengapli-
Projek kasikan pengetahuannya melalui penyelesaian
suatu tugas projek dalam waktu tertentu

Porto- Sampel karya peserta didik terbaik dari KD pada


KI-4 untuk melengkapi deskripsi capaian
folio
kompetensi keterampilan (dalam satu semester)

Pelaksanaan penilaian adalah eksekusi dari perencanaan penilaian yang


telah dilakukan. Berikut ini teknis pelaksanaan penilaian praktik, produk, dan
projek meliputi: pemberian tugas secara rici; penjelasan aspek dan rubrik
penilaian; pelaksanaan penilaian sebelum, selama, dan setelah peserta didik
melakukan pembelajaran dan pendokumentasian hasil penilaian.
Penilaian portofolio dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan
mendeskripsikan capaian keterampilan dalam satu semester melalui langkah

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 15


mendokumentasikan sampel karya terbaik dari setiap KI pada KD-4 baik hasil
individu maupun kelompok, mendeskripsikan capaian keterampilan peserta
didik berdasarkan portofolio secara keseluruhan; dan memberikan umpan balik
kepada peserta didik untuk peningkatan capaian kompetensi.
Nilai keterampilan diperoleh dari hasil penilaian praktik, produk, proyek,
dan portofolio. Hasil penilaian dengan teknik praktik dan proyek dirata-rata
untuk memperoleh nilai akhir keterampilan pada setiap mata pelajaran.
Penulisan capaian keterampilan pada rapor menggunakan angka pada
skala 0 – 100 dan deskripsi.
a. Nilai akhir semester diberi predikat dengan ketentuan: sangat baik (A)
86 – 100; baik (B) 71 -85; cukup (C): 56 – 70; kurang (D)≤55
b. Perubahan terminologi Ulangan Harian (UH) menjadi Penilaian Harian
(PH), UAS menjadi Penilaian Akhir Semester (PAS) untuk semester gasal
dan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) menjadi Penilaian Akhir Tahun (PAT)
untuk Semester genap.
c. Skala penilaian menjadi 1-100. Sementara itu, penilaian sikap diberikan
dalam bentuk predikat dan deskripsi.
d. Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai KBM/
KKM. Pembelajaran remidial dapat dilakukan dengan cara pemberian
pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda
menyesuaikan dengan gaya belajar peserta didik; pemberian bimbingan
secara perorangan; pemberian instrumen-instrumen atau latihan secara
khusus, dimulai dengan instrumen-instrumen atau latihan sesuai dengan
kemampuannya; pemanfaatan tutor sebaya, yaitu peserta didik dibantu
oleh teman sekelas yang telah mencapai Ketuntasan Belajar Minimal/
Kriteria Ketuntasan Minimal (KBM/KKM). Pembelajaran remidial biasa
dilakukan beulang-ulang. Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang
telah mencapai atau melampaui KBM/KKM melalui belajar kelompok;
belajar madiri dan pembelajaran berbasis tema. Pengbelajaran
pengayaan hanya diberikan sekali.
e. Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan dilakukan secara
terencana dan sistematis dalam bentuk penilaian akhir dan ujian sekolah/
madrasah dan digunakan untuk penentuan kelulusan dari satuan
pendidikan. Bentuk penilaiannya adalah Penilaian akhir Semester (PAS)
yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi
peserta didik di akhir semester gasal; Penilaian Akhir Tahun (PAT) yaitu

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


16 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester
genap; dan Ujian Sekolah (US) yaitu kegiatan yang dilakukan untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan
terhadap pfrestasi belajar dan penyelesaian dari satuan pendidikan.
f. Prosedur perencanaan penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan
diuraikan sebagai berikut.
1) Menetapkan KKM
Satuan Pendidikan menetapkan KKM untuk peserta didik kelas VII,
VIII dan IX melalui rapat dewan guru. Satuan Pendidikan dapat
menentukan KKM yang sama untuk semua mata pelajaran atau
berbeda untuk masing-masing mata pelajaran.
2) Menetapkan Prosedur Operasional Standar (POS)
Satuan pendidikan menetapkan POS atau panduan penyelenggaraan
penilaian hasil belajar peserta didik yang meliputi penilaian akhir dan
ujian
3) Membentuk Tim Pengembang Penilaian
Satuan pendidikan membentuk tim pengembang penilaian dengan
tugas antara lain merencanakan dan melaksanakan segala sesuatu
terkait dengan kegiatan Penilaian Akhir Semester (PAS), Penilaian
Akhir Tahun (PAT), dan Ujian Sekolah (US), misalnya penetapan
jadwal pelaksanaan, penataan ruang, dan pengawas ruang.
4) Mengembangkan Instrumen Penilaian
Tim Pengembang Penilaian sekolah melakukan pengembangan instru-
men penilaian mulai penyusunan kisi-kisi, penyusunan instrumen, telaah
kualitatif instrumen, perakitan dan uji coba instrumen, analisis kuan-titatif,
interpretasi hasil analisis, dan penetapan instrumen penilaian.

4. Mekanisme Pengisian Rapor


Mekanisme yang dilakukan oleh wali kelas ketika akan mengisi rapor
pada akhir semester dan akhir tahun pelajaran adalah:
a. Merumuskan deskripsi sikap spiritual dan sikap sosial yang diambil dari
catatan perkembangan sikap peserta didik yang diberikan oleh guru mata
pelajaran, guru BK, dan wali kelas.
b. Menuliskan capaian penilaian peserta didik pada aspek pengetahuan dan
aspek keterampilan dalam bentuk angka, predikat, dan disertai deskripsi.

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 17


5. Perencanaan pembelajaran mencakup Silabus dan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
a. Silabus
Silabus dalam Kurikulum 2013 edisi revisi lebih ramping, hanya tiga
kolom, yakni KD, Materi Pembelajaran, dan Kegiatan Pembelajaran.
Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk
setiap bahan kajian mata pelajaran. Berdasarkan Permendikbud
Nomor 22 tahun 2016, silabus paling sedikit memuat:
1) Identitas mata pelajaran (khusus SMP/MTs/SMPLB/Paket B dan
SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/Paket C/ Paket C Kejuruan).
2) Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas.
3) Kompetensi Inti, merupakan gambaran secara kategorial me-
ngenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan kete-
rampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang
sekolah, kelas dan mata pelajaran.
4) Kompetensi Dasar, merupakan kemampuan spesifik yang menca-
kup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan
atau mata pelajaran.
5) Tema (khusus SD/MI/SDLB/Paket A).
6) Materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang
relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan
rumusan indikator pencapaian kompetensi.
7) Pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan
peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
8) Penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan
informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.
9) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik,
alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan.
Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan
Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai
dengan pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu. Silabus
digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana
pelaksanaan pembelajaran.
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan satu

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


18 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
kali pertemuan atau lebih. Berdasarkan Permendikbud nomor 22
tahun 2016 komponen RPP adalah sebagai berikut.
1) Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan.
2) Identitas mata pelajaran atau tema/subtema.
3) Kelas/semester.
4) Materi pokok.
5) Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk penca-
paian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam
pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai.
6) Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan
diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
7) Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi.
8) Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai
dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi.
9) Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik
peserta didik dan KD yang akan dicapai.
10) Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran
untuk menyampaikan materi pelajaran.
11) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik,
alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan.
12) Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan
pendahuluan, inti, dan penutup.
13) Penilaian hasil pembelajaran.
Dalam menyusun RPP hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
1) Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal,
tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar,
kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus,
kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau
lingkungan peserta didik.
2) Partisipasi aktif peserta didik.

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 19


3) Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar,
motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan
kemandirian.
4) Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang
untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman
beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
5) Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan
program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan,
dan remedi.
6) Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian
kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan
pengalaman belajar.
7) Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan
lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman
budaya.
8) Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi,
sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

D. KEKHASAN KURIKULUM TINGKAT DAERAH


Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda di
dalamnya memuat materi yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan
peserta didik yang mencakup perkembangan pengetahuan dan cara berpikir,
emosional, dan sosial peserta didik. Pembelajarannya diatur secara mandiri
serta menopang peningkatan kemampuan penguasaan kurikulum nasional.
Program pembelajaran bahasa dan sastra Sunda dikembangkan dengan
memperhatikan rambu-rambu pengembangan muatan lokal seperti tertuang
dalam lampiran Permendikbud Nomor 79 Tahun 2014 tentang Muatan Lokal
Kurikulum 2013. Pada Pasal 9 dan Pasal 10, dinyatakan bahwa Pemerintah
Provinsi dan Kabupaten/Kota dapat mengembangkan muatan lokal.
Permendikbud ini merupakan revisi dari Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013
tentang Implementasi Kurikulum, di antaranya mengatur tentang kedekatan
secara fisik dan secara psikis. Dekat secara fisik berarti bahwa terdapat dalam
lingkungan tempat tinggal dan sekolah peserta didik, sedangkan dekat secara
psikis berarti bahwa bahan kajian tersebut mudah

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


20 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
dipahami oleh kemampuan berpikir dan mencerna informasi sesuai dengan
usia peserta didik.
Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda memiliki kekhasan tersendiri
sesuai dengan kaidah keilmuannya, yaitu bahasa, sastra, budaya Sunda
sebagai kearifan lokal. Setiap sekolah wajib melaksanakannya agar peserta
didik memperoleh pengalaman berbahasa, bersastra, dan berbudaya Sunda.
Pendidik yang mengampu mata pelajaran ini diharapkan mampu
membangkitkan minat belajar, rasa keingintahuannya, menumbuhkembangkan
kesadaran, serta kemampuan apresiasi peserta didik terhadap budayanya
masyarakatnya. Hal ini merupakan wujud pembentukan karakter yang
memungkinkan seseorang hidup secara beradab dan toleran dalam
masyarakat dan budaya yang majemuk.
Mata pelajaran bahasa dan sastra Sunda dikemas sedemikian rupa agar
menarik bagi perserta didik. Kemasan yang menarik dan perencanaan yang
tepat akan mampu mengembangkan beragam kompetensi peserta didik baik
secara konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi,
dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur etika, estetika,
logika, dan kinestetika.

E. KERAGAMAN LOKALITAS DAN BAHASA PENG


ANTAR PEMBELAJARAN
Untuk mewadahi keragaman lokalitas perlu dipertimbangkan bahasa dan
budaya yang berkembang di lingkungan belajar peserta didik. Kenyataan
menunjukkan bahwa selain bahasa Sunda, di Jawa Barat terdapat pula
bahasa-bahasa daerah lain yang wilayah pemakaiannya tidak berdasarkan
daerah administrasi pemerintah. Misalnya, sebagaimana diatur dalam
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 14 Tahun 2014 tentang
Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah bahwa yang dimaksud
dengan bahasa daerah di Jawa Barat adalah bahasa Sunda, bahasa Cirebon,
dan bahasa Melayu-Betawi. Dalam hubungan itu, bagi daerah-daerah yang
peserta didiknya berbahasa ibu bukan bahasa Sunda, kompetensi dasar itu
perlu disesuaikan dengan keadaan kebahasaan dan budaya daerah setempat.
Pembelajaran tidak berlangsung untuk semua kompetensi dasar, tetapi dipilih
mana yang mungkin bisa dilaksanakan.

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 21


Berkaitan dengan kategorisasi lokal, di Jawa Barat ada masyarakat yang
berbahasa ibu bahasa Sunda lulugu ada pula yang menggunakan bahasa
Sunda wewengkon. Bahkan di pesisir utara dan sebagian besar wilayah
Cirebon mempunyai bahasa ibu yang bukan bahasa Sunda. Masyarakat
penuturnya menyebutnya sebagai bahasa Cirebon, yang awalnya merupakan
perpaduan antara bahasa Sunda dan bahasa Jawa.
Sehubungan dengan kenyataan seperti itu, bahan pembelajaran bahasa
Sunda tentu tidak akan seragam. Penentuan bahan pembelajaran diserahkan
sepenuhnya kepada pendidik di tempatnya masing-masing dengan
mengadakan perembukan terpumpun dalam wadah Pusat Kegiatan Guru
(PKG). Lebih jauh lagi, penentuan yang lebih spesifik lagi diserahkan kepada
guru di sekolah yang bersangkutan.
Kategorisasi lokal dalam penentuan bahan pembelajaran dapat
dibedakan atas tiga kategori A, B, dan C. Ketiga kategori lokal tersebut
masing-masing memiliki ciri tersendiri.
1. Kategori A berlaku di tempat-tempat yang masyarakatnya menggunaan
bahasa Sunda lulugu, yakni bahasa yang kini dianggap baku dan resmi
menurut ukuran umum di Jawa Barat. Sebagi contoh yang termasuk
kategori ini adalah daerah Bandung dan sekitarnya dengan mengabaikan
beberapa kosakata wewengkon yang memang hanya sedikit.
2. Kategori B berlaku di tempat-tempat yang masyarakatnya menggunakan
bahasa Sunda wewengkon, yakni bahasa yang sampai saat ini dianggap
sebagai ragam bahasa yang mempunyai perbedaan dengan bahasa
lulugu, akan tetapi tetap dianggap sebagai bahasa Sunda. Perbedaan
tersebut berada pada tataran fonetik dan semantik, di samping perbedaan
onomasiologis (konsep yang sama dalam kosakata yang berbeda) dan
perbedaan semasiologis (konsep yang berbeda dengan kosakata yang
sama). Sebagai conto yang termasuk kategori B adalah bahasa Sunda di
Kuningan dan Karawang.
3. Kategori C berlaku di tempat-tempat yang masyarakatnya kental
menggunakan bahasa wewengkon atau bahasa daerah khusus seperti
bahasa Cirebon (bahasa Sunda dialek Cirebon atau bahasa Jawa dialek
Cirebon) dan bahasa Melayu dialek Betawi. Misalnya, di sebagian wilayah
Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon, selain
diajarkan bahasa Sunda sebagai muatan lokal wajib, juga

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


22 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
diperkenankan untuk mengajarkan bahasa Cirebon sebagai muatan lokal
pilihan. Khusus di daerah ini, untuk Kelas I-III SD, alokasi waktu untuk
pelajaran bahasa Sunda dapat digunakan untuk pelajaran bahasa daerah
setempat. Keadaan yang sama dapat pula berlaku bagi sebagian Kota
dan Kabupaten Bekasi serta Kota Depok yang masyarakatnya
menggunakan Bahasa Melayu dialek Betawi, meskipun sampai saat ini
belum dapat diajarkan di sekolah-sekolah.
Kategorisasi lokal tersebut dapat mengikuti perimbangan komponen
kompetensi bahasa (pemahaman dan penggunaan), ragam bahasa (lulugu
dan wewengkon), dan bahasa pengantar.
a. Di wilayah kategori A, diutamakan pemahaman dan penggunaan bahasa,
materi bahasa Sunda baku, dan menggunakan pengantar bahasa Sunda
baku.
b. Di wilayah kategori B, diutamakan pemahaman dan penggunaan bahasa,
materi bahasa Sunda baku dan bahasa Sunda wewengkon seimbang,
dan menggunakan pengantar bahasa Sunda baku.
c. Di wilayah kategori C, diutamakan pemahaman bahasa, materi bahasa
Sunda baku dan bahasa Sunda wewengkon atau bahasa setempat
seimbang, dan dapat menggunakan bahasa pengantar bahasa Sunda
wewengkon (bahasa setempat) atau menggunakan bahasa Indonesia.
Di sekolah-sekolah yang mempunyai kondisi khusus, seperti di sekolah-
sekolah yang peserta didiknya banyak yang berbahasa ibu bukan bahasa
Sunda, walaupun sebenarnya termasuk kategori A atau kategori B, dapat
ditentukan kebijakan lain.
Pada prinsipnya bahasa pengantar yang digunakan dalam pembelajaran
bahasa dan sastra Sunda adalah bahasa Sunda. Di sekolah-sekolah atau
daerah yang mengalami kesulitan dengan pengantar bahasa Sunda dapat
digunakan bahasa Indonesia atau bahasa setempat, baik sebagian maupun
sepenuhnya, atau menggunakan dwibahasa Sunda-Indonesia. Akan tetapi,
selalu disertai usaha untuk secara berangsur-angsur bisa memahami petunjuk
dalam bahasa Sunda. Di daerah-daerah yang memiliki basa Sunda
wewengkon, kata-kata dialek dapat difungsikan untuk mempercepat atau
meningkatkan kualitas pembelajaran.

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 23


F. PEMANFAATAN MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
1. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi informasi dan komunikasi dapat berupa media cetak dan
elektronik. Kini perkembangannya semakin pesat dan canggih. Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi
pembelajara bahasa dan sastra Sunda. Dalam batas-batas dan cara-cara
tertentu semua itu dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan kualitas
dan kelancaran pembelajaran bahasa dan sastra Sunda.
2. Pemanfaatan Lingkungan Alam, Sosial, dan Budaya
Sumber pembelajaran bahasa dan sastra Sunda dapat pula berupa
lingkungan alam, masyarakat, dan budaya Sunda. Peserta didik diupayakan
agar berhubungan langsung dengan masyarakat untuk mengetahui kehidupan
bahasa dan budaya Sunda saat ini, yang selanjutnya dijadikan informasi
dalam pembelajaran bahasa Sunda. Berkaitan dengan pembelajaran sastra,
peserta didik diupayakan untuk mengetahui kehidupan sastra secara eksplisit
maupun implisit dengan mengapresiasi dan mengekspresikan isinya.

3. Bacaan Wajib

Pembelajaran bahasa dan sastra Sunda harus didukung oleh adanya


buku babon, buku pendukung pembelajaran, atau buku-buku bacaan kanonik
untuk mendorong siswa gemar membaca dan membangkitkan minat dan
kesenangannya mempelajari bahasa dan sastra Sunda.
Buku yang akan digunakan dalam pembelajaran bahasa Sunda adalah
buku-buku yang sebelumnya telah dinyatakan lolos seleksi penilaian oleh
lembaga berwenang serta dan proses seleksinya harus memperhatikan
kejujuran dan kualitas buku.
Sebagai upaya meningkatkan apresiasi sastra dan gemar membaca,
setiap peserta didik pada setiap jenjang pendidikan diwajibkan membaca
sejumlah karya sastra (puisi, prosa, dan drama) yang sesuai dengan
tingkatannya dalam jumlah yang memadai. Pemilihan buku bacaan sastra ini
disesuikan dengan tingkat perkembangan psikologis peserta. Upaya ini juga
berkaitan dengan gerakan literasi sekolah yang menjadi unsur penunjang
dalam kurikulum yang berlaku saat ini.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


24 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
4. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Gerakan Literasi
Sekolah (GLS)
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Gerakan Literasi Sekolah
(GLS) merupakan pengembangan dan implementasi dari Permendikbud
Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Penumbuhan Budi
Pekerti adalah kegiatan pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah yang
dimulai berjenjang dari mulai sekolah dasar. Untuk jenjang SMP, SMA/ SMK,
dan sekolah pada jalur pendidikan khusus dimulai sejak dari masa orientasi
peserta didik baru sampai dengan kelulusan. Dasar pelaksanaan Penumbuhan
Budi Pekerti didasarkan pada pertimbangan bahwa masih terabaikannya
implementasi nilai-nilai dasar kemanusiaan yang berakar dari Pancasila yang
masih terbatas pada pemahaman nilai dalam tataran konseptual, belum
sampai mewujud menjadi nilai aktual dengan cara yang menyenangkan di
lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. PPK dan GLS dimaksudkan
pula untuk membekali dan memperkuat karakter peserta didik dalam
mempersiapkan daya saing dengan kompetensi abad 21, yaitu berpikir kritis,
kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
a. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
PPK adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter
siswa melalui harmonisasi olah hati (etik) yang bertujuan membentuk individu
yang memiliki kerohanian mendalam, beriman dan bertakwa; olah rasa
(estetik) yang bertujuan membentuk individu yang memiliki integritas moral,
rasa berkesenian dan berkebudayaan; olah pikir (literasi) yang bertujuan
membentuk individu yang memiliki keunggulan akademis sebagai hasil
pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat; dan olah raga (kinestetik)
yang bertujuan membentuk individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif
sebagai warga negara. Kegiatan tersebut dilakukan dengan dukungan
pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Terdapat nilai utama sebagai kristalisasi dari njilai-nilai karakter yang harus
dikembangkan, yakni religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan
integritas (kejujuran).
Implementasi PPK di sekolah diintegrasikan dalam kegiatan-kegiatan
yang berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis lingkungan
masyarakat. Kegiatan pendidikan karakter berbasis kelas di antaranya
dilakukan dengan diiintegrasikan dalam mata pelajaran, optimalisasi muatan

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 25


lokal, dan manajemen kelas. Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah di
antaranya dilakukan melalui pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian sekolah,
keteladanan pendidik, ekosistem sekolah, serta norma, peraturan, dan tradisi
sekolah. Sementara pendidikan karakter berbasis masyarakat dapat dilakukan
bersama-sama dengan orang tua, komite sekolah, dunia usaha, akademisi,
pegiat pendidikan, pelakus seni budaya, bahasa dan sastra, serta pemerintah
dan pemerintah daerah.

b. Gerakan Literasi Sekolah (GLS)


GLS merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif
dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga
kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid
peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh
masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.),
dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
GLS adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai
elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan
membaca peserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit
membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati,
yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). Ketika pembiasaan
membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan,
dan pembelajaran. Variasi kegiatan dapat berupa perpaduan pengembangan
keterampilan reseptif maupun produktif.
Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup
keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam
bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini
disebut sebagai literasi informasi, yang komponen-komponennya sebagai
berikut.
1) Literasi dini (early literacy), yaitu kemampuan untuk menyimak,
memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan
yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan
sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi
dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.
2) Literasi dasar (basic literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan,
berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


26 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating),
mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta
menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan
pengambilan kesimpulan pribadi.
3) Literasi perpustakaan (library literacy), antara lain, memberikan
pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan
koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System
sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan
perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga
memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang
menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi
masalah.
4) Literasi media (media literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui
berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media
elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan
memahami tujuan penggunaannya.
5) Literasi teknologi (technology literacy), yaitu kemampuan memahami
kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware),
peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan
teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk
mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam
praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (computer literacy)
yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer,
menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program
perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena
perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam
mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
6) Literasi visual (visual literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara
literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan
dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan
audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual
yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital
(perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan
baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang
benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 27


Tahapan Gerakan Literasi Sekolah dapat dilihat pada tabel berikut.
Tahapan Kegiatan

1. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum


jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku
dengan nyaring (read aloud) atau seluruh warga
sekolah membaca dalam hati (sustained silent
reading).
TAHAPAN KEGIATAN 2. Membangun lingkungan fisik sekolah yang kaya
literasi, antara lain: (1) menyediakan perpustakaan
PEMBIASAAN
sekolah, sudut baca, dan area baca yang nyaman;
(2) pengembangan sarana lain (UKS, kantin, kebun
sekolah); dan (3) penyediaan koleksi teks cetak,
visual, digital, maupun multimodal yang mudah
diakses oleh seluruh warga sekolah; (4) pembuatan
bahan kaya teks (print-rich materials)
1. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum
jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku
dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca
bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti
kegiatan lain dengan tagihan non-akademik, contoh:
membuat peta cerita (story map), menggunakan
graphic organizers, bincang buku.
2. Mengembangkan lingkungan fisik, sosial, afektif
sekolah yang kaya literasi dan menciptakan ekosistem
TAHAPAN KEGIATAN sekolah yang menghargai keterbu-kaan dan
PENGEMBANGAN kegemaran terhadap pengetahuan dengan berbagai
kegiatan, antara lain: (a) memberikan penghargaan
kepada capaian perilaku positif, kepedulian sosial,
dan semangat belajar peserta didik; penghargaan ini
dapat dilakukan pada setiap upacara bendera Hari
Senin dan/atau peringatan lain; (b) kegiatan-kegiatan
akademik lain yang mendukung terciptanya budaya
literasi di sekolah (belajar di kebun sekolah, belajar
di lingkungan luar sekolah, wisata perpustakaan
kota/daerah dan taman bacaan masyarakat, dll.)

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


28 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
3. Pengembangan kemampuan literasi melalui kegiatan
di perpustakaan sekolah/perpus takaan kota/ daerah
atau taman bacaan masyarakat atau sudut baca
kelas dengan berbagai kegiatan, antara lain: (a)
membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam
hati membaca bersama ( shared reading), membaca
terpandu (guided reading) menonton film pendek,
dan/atau membaca teks visual/digital (materi dari
internet); (b) peserta didik merespon teks (cetak/
visual/digital), fiksi dan nonfiksi, melalui beberapa
kegiatan sederhana seperti menggambar, membuat
peta konsep, berdiskusi, dan berbincang tentang
buku.
1. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam
pelajaran dimulai, melalui kegiatan membacakan
buku dengan nyaring, membaca dalam hati, mem-
baca bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti
kegiatan lain dengan tagihan non-akademik dan
akademik.
2. Kegiatan literasi dalam pembelajaran, disesuaikan
TAHAPAN KEGIATAN dengan tagihan akademik di kurikulum 2013.
PEMBELAJARAN 3. Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami
teks dalam semua mata pelajaran (misalnya, dengan
menggunakan graphic organizers).
4. Memanfaatkan lingkungan fisik, sosial afektif, dan
akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual,
auditori, digital) yang kaya literasi di luar buku teks
pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam
mata pelajaran.

Dalam tahap pembelajaran, semua mata pelajaran sebaiknya


menggunakan ragam teks (cetak/visual/digital) yang tersedia dalam buku-buku
pengayaan atau informasi lain di luar buku pelajaran. Guru diharapkan
bersikap kreatif dan proaktif mencari referensi pembelajaran yang relevan.
Berkaitan dengan pembelajaran bahasa dan sastra Sunda, implementasi
GLS dapat memanfaatkan berbagai teks bahasa dan sastra Sunda sebagai
material pokok dengan alasan-alasan sebagai berikut.

BAB I: STRUKTUR KURIKULUM TINGKAT DAERAH 29


1) Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda merupakan bagian dari struktur
kurikulum daérah yang juga menuntut peserta didik untuk menekuni
kegiatan membaca dan menulis sebagai bagian dari pendekatan
komunikatif. Selain itu pembelajaran bahasa dan sastra Sunda seringkali
diidéntikan dengan pembelajaran “budi pekerti”.
2) Bahasa dan sastra Sunda adalah entitas masyarakat Jawa Barat yang
hingga kini tumbuh dan berkembang sacara dinamis, bukan hanya di
lingkungan sekolah sebagai mata pelajaran yang mandiri tetapi juga di
lingkungan masyarakat luas. Masih banyak buku dan media massa Sunda
yang terbit hingga saat ini dan menunjukan bahwa kagiatan literasi
masyarakat Sunda sebenarnya tumbuh dengan baik. Jika hal tersebut
dijadikan ukuran, dibanding dengan masyarakat di daerah lain kagiatan
literasi masyarakat Sunda jauh lebih maju. Dari laporan Yayasan Rancagé
yang setiap tahun memberikan hadiah sastra kepada penulis sastra
daerah, buku sastra dan nonsastra yang ditulis dalam bahasa Sunda baik
secara kuantitas maupun kualitas jauh lebih bak jika dibanding buku yang
ditulis dalam bahasa daerah lain. Setiap tahun tidak kurang dari 15 judul
buku diterbitkan dalam bahasa Sunda. Sebagai gambaran, taun 2016
Yayasan Rancagé melaporkan ada 40 judul buku yang terbit dalam
bahasa Sunda. Bandingkan dengan bahasa Jawa yang hanya 20 judul,
bahasa Bali 10 judul, bahasa Lampung 2 judul, bahasa Batak 4 judul,
sarta bahasa Banjar (Kalimantan) 5 judul. Buku-buku bahasa Sunda
tersebut di luar buku teks pelajaran serta buku teori kebahasaan dan
kesusastraan.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


30 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
BAB II

KOMPETENSI INTI DAN


KOMPETENSI DASAR
(KIKD)
MATA PELAJARAN
BAHASA DAN SASTRA
SUNDA
A. RASIONAL
Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda adalah mata pelajaran
Muatan lokal yang berdiri sendiri. Ketetapan kebijakan ini sejalan dengan
Permendikbud Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pasal 1 s.d
4. Atas dasar itulah, maka materi pembelajaran yang tertuang dalam mata
pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda mengutamakan keunggulan dan kearifan
daerah.
KI-KD Kurikulum 2013 Muatan Lokal Mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Sunda serta revisinya diberlakukan berdasarkan beberapa peraturan
perundang-undangan, antara lain: (1) UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan
Daerah dan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; (2) UU No.
24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu
Kebangsaan; (3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19/2005
tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab III Pasal 7 Ayat 3--8, yang
menyatakan bahwa dari SD/MI/SDLB, SMP/MTs./ SMPLB, SMA/MAN/
SMALB, dan SMK/MAK diberikan pengajaran muatan lokal yang relevan; (4)
Permendikbud No. 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar
dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah SD/MI, SMP/ MTs,
SMA/SMK/MA; (5) Permendikbud No. 79/2014 tentang Kurikulum 2013, Pasal
5 (a) dan (b), yaitu materi mata pelajaran Muatan Lokal Bahasa dan Sastra
Sunda yang dirumuskan dalam bentuk dokumen berupa Kompetensi Dasar
dan Silabus; (6) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia No. 20, 21, 22, dan 23 Tahun 2016 tentang Standar Kelulusan,
Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian; (7) Perda No. 14/2014
tentang Pemeliharan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah; (8) Peraturan
Gubernur Jawa Barat No. 69 Tahun 2013 tentang Pembelajaran Muatan Lokal
Bahasa dan Sastra Daerah pada Jenjang Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah; (9) Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
Nomor 423/2372/Set-disdik tertanggal 26 Maret 2013 tentang Pembelajaran
Muatan Lokal Bahasa Daerah pada Jenjang SD/MI, SMP/ MTs, SMA/SMK/MA;
serta (10) Rekomendasi UNESCO tahun 1999 tentang Pemeliharaan Bahasa-
bahasa Ibu di Dunia.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


32 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
B. PENGERTIAN
Dalam Permendikbud Nomor 24 Tahun 2014 tentang KIKD Pelajaran
pada Kurikulum 2013 disebutkan bahwa kompetensi inti merupakan tingkat
kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki
seorang peserta didik pada setiap tingkat kelas, sedangkan kompetensi
dasar merupakan merupakan kemampuan dan materi pembelajaran minimal
yang harus dicapai peserta didik untuk suatu mata pelajaran pada masing-
masing satuan pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti.
Kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Sunda
adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan
berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Sunda.

C. FUNGSI
Kompetensi inti dan kompetensi dasar berfungsi sebagai acuan bagi
guru-guru di sekolah dalam menyusun kurikulum mata pelajaran Bahasa dan
Sastra Sunda sehingga segi-segi pengembangan pengetahuan, keterampilan,
serta sikap berbahasa dan bersastra Sunda dapat terprogram secara terpadu.
Kompetensi Inti dan kompetensi dasar ini disusun dengan
mempertimbangkan kedudukan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah dan
sastra Sunda sebagai sastra Nusantara. Pertimbangan itu berkonsekuensi
pada fungsi mata pelajaran Bahasa Sunda sebagai (1) sarana pembinaan
sosial budaya regional Jawa Barat; (2) sarana peningkatan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap dalam rangka pelestarian dan pengembangan
budaya; (3) sarana peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk
meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (4)
sarana pembakuan dan penyebarluasan pemakaian bahasa Sunda untuk
berbagai keperluan; (5) sarana pengembangan penalaran; dan (6) sarana
pemahaman aneka ragam budaya daerah (Sunda).

D. TUJUAN
Pertimbangan itu berkonsekuensi pula pada tujuan pembelajaran
bahasa dan sastra Sunda yang secara umum agar Peserta didik mencapai
tujuan-tujuan berikut.
1) Peserta didik beroleh pengalaman berbahasa dan bersastra Sunda.

BAB II: KIKD MATA PELAJARAN BAHASA


DAN SASTRA SUNDA 33
2) Peserta didik menghargai dan membanggakan bahasa Sunda sebagai
bahasa daerah di Jawa Barat, yang juga merupakan bahasa ibu bagi
sebagian besar masyarakatnya.
3) Peserta didik memahami bahasa Sunda dari segi bentuk, makna, dan
fungsi, serta mampu menggunakannya secara tepat dan kreatif untuk
berbagai konteks (tujuan, keperluan, dan keadaan).
4) Peserta didik mampu menggunakan bahasa Sunda untuk meningkatkan
kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.
5) Peserta didik memiliki kemampuan dan kedisiplinan dalam berbahasa
Sunda (berbicara, menulis, dan berpikir).
6) Peserta didik mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra Sunda
untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa Sunda,
mengembangkan kepribadian, dan memperluas wawasan kehidupan.
7) Peserta didik menghargai dan membanggakan sastra Sunda sebagai
khazanah budaya dan intelektual manusia Sunda.

F. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATA


PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA SUNDA
JENJANG SMA/SMK/MA/MAK

KELAS X

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi


sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan.
Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler,
kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Rumusan kompetensi sikapspiritual, yaitu “menerima, menjalankan, dan
menghargai ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap
sosial, yaitu “menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli,
dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya serta cinta tanah air”. Kedua kompetensi tersebut dicapai

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


34 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan,
pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata
pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan
sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai
pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan dirumuskan


sebagai berikut.

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN) KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3. Memahami, menerapkan, meng- 4. Menunjukkan keterampilan

analisis dan mengevaluasi


menalar, mengolah, dan menyaji
pengetahuan faktual, konseptual,
secara (a) efektif, (b) kreatif, (c)
prosedural, dan metakognitif
produktif, (d) kritis, (e) mandiri,
pada tingkat teknis, spesifik,
(f) kolaboratif, (g) komunikatif,
detil, dan kompleks berdasarkan
dan (h) solutif, dalam ranah
rasa ingin tahunya tentang (a)
konkret dan abstrak terkait
ilmu pengetahuan, (b) teknologi,
dengan pengembangan dari yang
(c) seni, (d) budaya, dan (e)
dipelajarinya di sekolah, serta
humaniora dengan wawasan
mampu menggunakan metode
kemanusiaan, kebangsaan,
sesuai dengan kaidah keilmuan.
kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan
pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya
untuk memecahkan masalah.

KOMPETENSI DASAR 3 KOMPETENSI DASAR 4


4.1. Menerjemahkan teks ke dalam
3.1. Menganalisis aspek kebahasaan bahasa Sunda atau sebaliknya
dan rasa bahasa teks terjemahan. dengan memperhatikan aspek
kebahasaan dan rasa bahasa.

BAB II: KIKD MATA PELAJARAN BAHASA


DAN SASTRA SUNDA 35
3.2. Membandingkan jenis dongeng, 4.2. Menampilkan berbagai jenis

berdasarkan isi, struktur, dan dongeng dengan cara ngadongeng,


aspek kebahasaan. monolog, atau dramatisasi.

3.3. Menganalisis isi, struktur dan 4.3. Menulis laporan kegiatan dengan
aspek kebahasaan laporan memperhatikan struktur dan aspek
kegiatan. kebahasaan.
3.4. Membandingkan bentuk, struktur 4.4. Melantunkan kawih Sunda klasik
dan aspek kebahasaan teks kawih dan pop dengan memperhatikan
Sunda klasik dan pop. ekspresi, danteknik vokal.

3.5. Menganalisis isi, struktur, 4.5. Merancang, melakukan dan


menyusun laporan wawancara
dan aspek kebahasaan teks
dengan memperhatikan
wawancara.
kesantunan berbahasa.
3.6. Menganalisis isi, struktur, dan 4.6. Menyajikan isi teks babad/sejarah
aspek kebahasaan teks babad/ Sunda dengan memperhatikan
sejarah Sunda. struktur dan aspek kebahasaan.
3.7. Menganalisis bentuk dan tipe 4.7. Mengkreasikan aksara Sunda sesuai
aksara Sunda sesuai dengan
dengan kaidah-kaidahnya.
kaidah-kaidahnya.
3.8. Menganalisis isi, struktur, dan 4.8. Menampilkan sajak dengan cara
membaca, mendeklamasikan,
aspek kebahasaan sajak.
musikalisasi atau dramatisasi.

KELAS XI

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi


sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan.
Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler,
kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Rumusan kompetensi sikap spiritual, yaitu “menerima, menjalankan, dan
menghargai ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap
sosial, yaitu “menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,
dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru,

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


36 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
dan tetangganya serta cinta tanah air”. Kedua kompetensi tersebut dicapai
melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan,
pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata
pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan
sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai
pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.
Kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan dirumuskan sebagai berikut.
KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN) KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3. Memahami, menerapkan, 4. Menunjukkan keterampilan


menganalisis dan mengevaluasi menalar, mengolah, dan menyaji
pengetahuan faktual, konseptual, secara (a) efektif, (b) kreatif, (c)
prosedural, dan metakognitif produktif, (d) kritis, (e) mandiri,
pada tingkat teknis, spesifik, (f) kolaboratif, (g) komunikatif,
detil, dan kompleks berdasarkan dan (h) solutif, dalam ranah
rasa ingin tahunya tentang (a) konkret dan abstrak terkait
ilmu pengetahuan, (b) teknologi, dengan pengembangan dari yang
(c) seni, (d) budaya, dan (e) dipelajarinya di sekolah, serta
humaniora dengan wawasan mampu menggunakan metode
kemanusiaan, kebangsaan, sesuai dengan kaidah keilmuan.
kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan
pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya
untuk memecahkan masalah.

KOMPETENSI DASAR 3 KOMPETENSI DASAR 4


3.1. Menganalisis isi, struktur, dan aspek 4.1. Mendemonstrasikan biantara
kebahasaan teks biantara. dengan memperhatikan
kesantunan dan penggunaan
kaidah bahasa.
3.2. Menganalisis isi, struktur, dan aspek 4.2. Menyusun dan menampilkan
kebahasaan sisindiran. sisindiran secara lisan/tulisan
sesuai dengan konteks dan fungsi
sosialnya.

BAB II: KIKD MATA PELAJARAN BAHASA


DAN SASTRA SUNDA 37
KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN) KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.3. Menganalisis isi, struktur dan 4.3. Mendemonstrasikan panumbu


aspek kebahasaan teks panumbu catur dalam kegiatan diskusi, debat,
catur dalam kegiatan diskusi, dan sejenisnya yang sesuai dengan
debat, dan sejenisnya. konteks penggunaan bahasa.

3.4. Menganalisis isi, struktur dan aspek 4.4. Menulis carita pondok sederhana
dengan memperhatikan struktur
kebahasaan carita pondok.
dan kaidah kebahasaan.
3.5. Menganalisis isi, pola penyajian, 4.5. Menyusun teks berita berdasarkan
dan aspek kebahasaan teks berita pengamatan atau hasil wawancara
dari media massa cetak atau sesuai dengan struktur dan kaidah
elektronik. kebahasaan.
3.6. Menganalisis isi, struktur, dan 4.6. Menyajikan hasil analisis novel
melalui berbagai media (seperti
aspek kebahasaan novel.
bagan, cerita bergambar, animasi)
dengan memperhatikan struktur
dan kaidah kebahasaan.
3.7. Menganalisis isi, struktur dan aspek 4.7. Menulis teks biografi sederhana
dengan memperhatikan struktur
kebahasaan teks biografi.
dan penggunaan kaidah bahasa.
4.8. Mentransformasikan cerita
3.8 Menganalisis isi, struktur, serta wawacan ke dalam prosa atau
mengkreasikan ke dalam bentuk
aspek kebahasaan cerita wawacan.
pertunjukan (seperti beluk,
jemblungan, dramatisasi).

KELAS XII

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompeten


sisikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan.
Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler,
kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Rumusan kompetensi sikap spiritual, yaitu “menerima, menjalankan, dan
menghargai ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap
sosial, yaitu “menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


38 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya serta cinta tanah air”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui
pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan,
pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata
pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan
sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai
pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan dirumuskan sebagai berikut.


KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN) KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3. Memahami, menerapkan, 4. Menunjukkan keterampilan


menganalisis dan mengevaluasi
menalar, mengolah, dan menyaji
pengetahuan faktual, konseptual,
secara (a) efektif, (b) kreatif, (c)
prosedural, dan metakognitif
produktif, (d) kritis, (e) mandiri,
pada tingkat teknis, spesifik,
(f) kolaboratif, (g) komunikatif,
detil, dan kompleks berdasarkan
dan (h) solutif, dalam ranah
rasa ingin tahunya tentang (a)
konkret dan abstrak terkait
ilmu pengetahuan, (b) teknologi,
dengan pengembangan dari yang
(c) seni, (d) budaya, dan (e)
dipelajarinya di sekolah, serta
humaniora dengan wawasan
mampu menggunakan metode
kemanusiaan, kebangsaan,
sesuai dengan kaidah keilmuan.
kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan
pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya
untuk memecahkan masalah.
KOMPETENSI DASAR 3 KOMPETENSI DASAR 4

3.1. Menganalisis isi, struktur dan 4.1. Menyajikan bahasan tradisi


aspek kebahasaan teks bahasan setempat melalui berbagai
tradisi Sunda. media (seperti mading, pameran
fotografi, film dokumenter) dengan
memperhatikan kaidah bahasa
Sunda.

BAB II: KIKD MATA PELAJARAN BAHASA


DAN SASTRA SUNDA 39
KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN) KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

4.2. Mengkreasikan petikan cerita


wayang secara lisan/tulisan ke
3.2. Menganalisis isi, struktur, dan aspek dalam bentuk lain (seperti drama,
kebahasaan petikan cerita wayang. carita pondok, puisi) dengan
memperhatikan struktur dan kaidah
kebahasaan.
3.3. Menganalisis isi, struktur dan aspek 4.3. Menulis resensi (buku, film,
kebahasaan teks resensi (buku, film, musik, pertunjukan) dengan
musik, pertunjukan) memperhatikan struktur dan kaidah
kebahasaan.
4.4. Menampilkan drama
3.4. Menganalisis isi, struktur, dan aspek berdasarkan teks/naskah dengan
kebahasaan teks/naskah drama. memperhatikan intonasi dan
ekspresi.
3.5. Menganalisis isi, struktur dan aspek 4.5. Menulis artikel sederhana
berbahasa Sunda dengan
kebahasaan teks artikel berbahasa
memperhatikan struktur dan
Sunda.
penggunaan kaidah kebahasaan.
4.6. Mengkreasikan cerita pantun
secara lisan/tulisan ke dalam
3.6. Menganalisis isi, struktur, dan aspek bentuk lain (seperti drama,
kebahasaan petikan cerita pantun. carita pondok, puisi) dengan
memperhatikan struktur dan kaidah
kebahasaan.

Keterangan:
Pada prinsipnya kompetensi bahasa dan sastra Sunda untuk peserta
didik SMA/SMK/MA/MAK relatif sama. Akan tetapi, pemilihan KD dan materi
pokok di SMK/MAK disesuaikan dengan vokasional, kondisi, dan pelaksanaan
pembelajaran di sekolah masing-masing.
Bagi SMK/MAK yang melaksanakan empat tahun akademik, pendidik
dapat memilih enam KD dan materi yang berfokus pada praktek dan unjuk
kerja berbahasa Sunda yang berkaitan dengan kekhasan vokasional sekolah.
Misalnya: (a) menulis laporan, (b) menyusun berita, (c) mendemonstrasikan
panata acara, (d) menulis aksara Sunda, (e) mendemonstrasikan biantara, (f)
menulis artikel, dan (g) mengkreasikan kawih.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


40 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1

SILABUS MATA
PELAJARAN BAHASA
DAN SASTRA SUNDA
SMA/SMK/MA/MAK

A. PENGERTIAN SILABUS
Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) termasuk ke
dalam desain pembelajaran perencanaan pembelajaran yang mengacu
kepada standar isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar,
perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan
Silabus dan RPP disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan.
Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk
setiap bahan kajian mata pelajaran.

B. KOMPONEN SILABUS
Di dalam lampiran Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar
Proses disebutkan bahwa silabus paling sedikit memuat beberapa komponen,
yakni:
(1) Identitas mata pelajaran (misalnya: Bahasa dan Sastra Sunda);
(2) identitas sekolah, diisi dengan satuan pendidikan dan kelas (SD/Kelas I);

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


42 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
(3) kompetensi inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai
kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang
harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata
pelajaran;
(4) kompetensi dasar, merupakan kemampuan spesifik yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata
pelajaran;
(5) tema (khusus SD/MI),
(6) materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan,
dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
pencapaian kompetensi;
(7) pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta
didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan;
(8) penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi
untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik;
(9) alokasi waktu, sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur
kurikulum untuk satu semester atau satu tahun; dan
(10) sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam
sekitar atau sumber belajar lain yang relevan.
Komponen silabus tersebut termasuk komponen yang lengkap. Dalam
perkembangan selanjutnya dan perbaikan Kurikulum 2013, komponen silabus
hanya terdiri atas tiga komponen, yakni (1) kompetensi dasar, (2) materi
pembelajaran, dan (3) kegiatan pembelajaran.

C. PENGEMBANGAN SILABUS
Pengembangan Kurikulum 2013 diharapkan dapat menghasilkan insan
Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, melalui penguatan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi dalam rangka mewujudkan
insan Indonesia yang produktif, kreatif, dan inovatif. Oleh karena itu proses
pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik.

LAMPIRAN-LAMPIRAN 43
Memperhatikan konteks global dan kemajemukan masyarakat Indonesia,
misi dan orientasi Kurikulum 2013 diterjemahkan dalam praktik pendidikan
dengan tujuan khusus agar peserta didik memiliki kompetensi yang diperlukan
bagi kehidupan masyarakat di masa kini dan di masa mendatang, seperti
tampak pada gambar 1.

Dimensi
Pengetahuan
Dimensi
Dimensi
Sikap Keterampilan

SDM yang
beradab,
berpengetahuan,
dan
berketerampilan

Gambar 1

Kompetensi yang dimaksud yaitu: (1) menumbuhkan sikap religius dan


etika sosial yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara; (2) menguasai pengetahuan; (3) memiliki keterampilan atau
kemampuan menerapkan pengetahuan dalam rangka melakukan penyelidikan
ilmiah, pemecahan masalah, dan pembuatan karya kreatif yang berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari.
Mata pelajaran bahasa dan sastra Sunda yang dikembangkan di setiap
jenjang pendidikan harus mempertimbangkan pemanfaatan teknologi informasi
dan komunikasi. Untuk itu kemampuan pendidik dalam menggunakan dan
memanfaatkan tekhnologi informasi dan komunikasi menjadi faktor penting
agar pembelajaran bahasa dan sastra Sunda mampu menjawab tantangan
abad moderen dewasa ini. Selain penggunaan dan pemanfaatan teknonolgi,
pembelajaran bahasa dan sastra Sunda juga harus memperhatikan kebutuhan
daerah dan peserta didik, sehingga mata pelajaran ini dapat menjadi penya-
ring dari masuknya kebudayaan asing sekaligus mendorong peserta didik
untuk memiliki kearifan terhadap budaya lokal atau budaya masyarakat
setempatnya.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


44 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
Silabus mata pelajaran bahasa dan sastra Sunda SD/MI, SMP/MTs,
SMA/ MA/MAK disusun dengan format dan penyajian/penulisan yang
sederhana sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan oleh guru.
Penyederhanaan format dimaksudkan agar penyajiannya lebih efisien, tidak
terlalu banyak halaman namun lingkup dan substansinya tidak berkurang,
serta tetap mempertimbangkan tata urutan (sequence) materi dan
kompetensinya. Penyusunan silabus ini dilakukan dengan prinsip keselarasan
antara ide, desain, dan pelaksanaan kurikulum; mudah diajarkan oleh guru
(teachable); mudah dipelajari oleh peserta didik (learnable); terukur
pencapainnya (measurable); dan bermakna untuk dipelajari (worth to learn)
sebagai bekal untuk kehidupan dan kelanjutan pendidikan peserta didik.
Silabus ini bersifat fleksibel, kontekstual, dan memberikan kesempatan
kepada guru untuk mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran, serta
mengakomodasi keungulan-keunggulan lokal. Atas dasar prinsip tersebut,
komponen silabus mencakup kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan
kegiatan pembelajaran. Uraian pembelajaran yang terdapat dalam silabus
merupakan alternatif kegiatan yang dirancang berbasis aktivitas. Pembelajaran
tersebut merupakan alternatif dan inspiratif sehingga guru dapat
mengembangkan berbagai model yang sesuai dengan karakteristik masing-
masing mata pelajaran. Dalam melaksanakan silabus ini guru diharapkan
kreatif dalam pengembangan materi, pengelolaan proses pembelajaran,
penggunaan metode dan model pembelajaran, yang disesuaikan dengan
situasi dan kondisi masyarakat serta tingkat perkembangan kemampuan
peserta didik.

KOMPETENSI DASAR, MATERI PEMBELAJARAN, DAN


KEGIATAN PEMBELAJARAN
KELAS X
Alokasi Waktu: 2 jam pelajaran/minggu

Kompetensi sikap spiritual dan kompetensi sikap sosial, dicapai melalui


pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), pada pembelajaran
kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan melalui keteladanan,
pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata
pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

LAMPIRAN-LAMPIRAN 45
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan
4

dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.
MULOKKURIKULUM

Pembelajaran untuk kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan sebagai berikut.

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran


BERBASI
S
KURIKULUM

TINGKAT

3.1. Menganalisis aspek • Struktur kalimat - Memilih teks berbahasa Indonesia untuk diterjemahkan.
kebahasaan dan - Bagian pembuka
- Mengidentifikasi kata-kata/ungkapan yang sulit dimengerti.
rasa bahasa teks - Bagian Eusi
- Menanyakan hal-hal yang tidak diketahui atau yang berbeda.
JARA
PELA
2013

DAERAH

terjemahan. - Bagian Penutup


- Memahami isi teks yang diterjemahkan .
• Aspek Kebahasaan - Memperhatikan alur teks terjemahan.
VISI
HA
BA
SA

RE

- Diksi - Memahami pesan/amanat teks terjemahan.


201

- EYD Bahasa Sunda


4.1. Menerjemahkan - Tatakrama bahasa - Menerjemahkan teks berbahasa indonesia ke dalam bahasa.
SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

Sunda Sunda atau sebaliknya dengan memperhatikan aspek


teks ke dalam
kebahasaan.
bahasa Sunda atau
• Topik - Memilih/menggunakan padanan kata dengan tepat.
sebaliknya dengan
Teks terjemahan dalam - Membacakan hasil terjemahan.
memperhatikan aspek
kebahasaan dan rasa bentuk prosa atau puisi - Mengoreksi hasil terjemahan dengan teman sebangku atau
kelompok.
bahasa
- Menyunting/memperbaiki teks terjemahan.
- Menyimak jenis-jenis dongeng dengan menggunakan berbagai
• Fungsi sosial
3.2. Membandingkan jenis macam media pembelajaran.
dongeng berdasarkan Meneladani nilai-nilai
- Mencatat dan membahas kosa kata yang belum dipahami.
isi, struktur, dan aspek moral yang terkandung
dalam jenis-jenis - Bertanya jawab tentang perbedaan jenis dongeng yang telah
kebahasaan.
dongeng untuk disimak.
diterapkan dalam - Membuat ikhtisar dongeng yang telah disimaknya.
kehidupan sehari-hari - Berlatih menganalisis dongeng dengan teman sebangku dan saling
4.2. Menampilkan
menilai.
berbagai jenis • Struktur teks
dongeng dengan cara - Menanyakan hal-hal yang tidak diketahui .
- Bagian pembuka - Menampilkan salah satu jenis dongeng yang telah disiapkannya.
ngadongeng, - Bagian isi
monolog, dramatisasi.
- Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
- Bagian penutup
• Aspek kebahasaan
- Kosa kata
- Makna denotatif
- Ejahan
- Tanda baca
- Struktur kalimat
• Topik
Membandingkan
LAMPIRAN-LAMPIRAN

dongeng sasakala,
sasatoan, mitos,
parabel, sage
47
4
3.3. Menganalisis isi, - Membaca dan mengamati beberapa contoh laporan kegiatan.
• Struktur - Menentukan ciri-ciri laporan kegiatan
MULOKKURIKULUM

struktur dan aspek


kebahasaan laporan Bubuka
- - Membedakan laporan kegiatan dengan bentuk karangan lain
kegiatan. Eusi
- - Mengidentifikasi struktur laporan kegiatan.
BERBASI

-
Panutup - Memahami unsur-unsur kebahasaan laporan kegiatan.
S
KURIKULUM

TINGKAT

• Aspek Kebahasaan - Menyimpulkan tentang aspek-aspek kebahasaan laporan kegiatan.


- Diksi - Menyajikan hasil analisis aspek kebahasaan laporan kegiatan.
- EYD Bahasa Secara lisan dan tertulis
JARA
PELA
2013

DAERAH

Sunda
4.3. Menulis laporan - Tatakrama bahasa - Menentukan tema laporan kegiatan.
Sunda - Menyusun kerangka laporan kegiatan
VISI
HA
BA
SA

RE

kegiatan dengan
201

memperhatikan • Topik - Menulis laporan kegiatan


struktur dan aspek - Mengoreksi hasil laporan kegiatan dengan teman sebangku atau
SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

kebahasaan. Laporan kegiatan kelompok


- Menyunting/memperbaiki hasil laporan kegiatan

3.4. Membandingkan • Struktur teks - Mendengarkan salah satu kawih Sunda klasik dan pop.

bentuk, struktur, - Pilihan kata (diksi) - Mencatat dan membahas kosa kata yang belum dipahami.
dan aspek - Purwakanti - Bertanya jawab tentang perbedaan jenis kawih Sunda klasik dan
kebahasaan teks
kawih Sunda klasik pop yang telah disimak.
dan pop.
• Apek Kebahasaan
4.4. Melantunkan kawih - Makna denotatif
- Nada - Membaca salah satu teks kawih Sunda klasik dan pop.
klasik dan pop - Wirahma
Sunda dengan - Artikulasi - Mengapresiasi salah satu kawih Sunda klasik dan pop.
memperhatikan • Topik - Melantunkan salah satu kawih Sunda klasik dan pop.
bentuk, ekspresi dan - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
• Kawih Sunda klasik dan
teknik vokal.
pop dengan beragam
tema.
3.5. Menganalisis isi, • Struktur kebahasaan - Membaca dan mengamati beberapa contoh teks wawancara.
struktur, dan unsur - Tema - Memahami isi wawancara.
kebahasaan teks - Daftar pertanyaan - Mengidentifikasi struktur wawancara.
wawancara. - Bubuka - Memahami aspek-aspek kebahasaan teks wawancara.
- Eusi - Menyimpulkan kaidah-kaidah wawancara.
- panutup - Menyajikan hasil analisis aspek kebahasaan wawancara secara
lisan dan tertulis.
• Apek Kebahasaan
4.5. Merancang, - Diksi - Menentukan narasumber.
- EYD Basa Sunda
melakukan dan - Menentukan media wawancara.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

- Tatakrama bahasa
menyusun laporan - Melaksanakan wawancara.
Sunda
wawancara dengan - Mendiskusikan tentang isi wawancara dan kaidah-kaidahnya.
memperhatikan • Topik - Menyusun laporan wawancara.
kesantunan - Mengoreksi dan menyunting/memperbaiki teks laporan
berbahasa Wawancara dengan wawancara dengan teman sebangku atau kelompok.
tokoh/nara sumber untuk
berbagai tujuan
49
5
• Fungsi sosial - Memilih teks babad/sajarah Sunda.
3.6. Menganalisis isi,
Meneladani Nilai moral - Memahami struktur kebahasaan teks babad/sejarah Sunda.
struktur, dan aspek
MULOKKURIKULUM

dan pendidikan dalam - Memahami setiap kejadian sejarah dalam teks babad/ sajarah
kebahasaan teks
Sunda.
babad/sejarah Sunda. teks babad/ sejarah
BERBASI

- Menemukan keterkaitan antara tokoh dan kejadian


Sunda yang
S

sejarah dengan kenyataan daerah setempat.


diimplementasikan
KURIKULUM

TINGKAT

- Menentukan galur teks babad/ sajarah Sunda.


dalam kehidupan
sehari-hari
4.6. Menyajikan isi teks - Meringkas isi teks babad/sejarah Sunda, sesuai dengan struktur
babad/sejarah • Struktur kebahasaan dan aspek kebahasaan.
JARA
PELA
2013

DAERAH

Sunda dengan - Bubuka - Mengoreksi hasil ringkasan isi teks babad/sejarah Sunda,
memperhatikan - Eusi dengan teman sebangku atau kelompok.
VISI
HA
BA
SA

RE

struktur dan - panutup - Menceritakan kembali isi teks babad/sejarah Sunda.


201

aspek kebahasaan
• Aspek Kebahasaan
SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

- Diksi
- EYD bahasa Sunda
- Tatakrama
bahasa Sunda

• Topik
Teks babad/sejarah Sunda
3.7 Menganalisis bentuk - Mengamati teks dan tayangan aksara Sunda melalui media
dan tipe aksara • Fungsi sosial Lambang
jati diri serta rasa pembelajaran.
Sunda sesuai dengan
bangga dalam - Mengidentifikasi ciri-ciri, pengertian, jenis, tujuan, sistematika
kaidah-kaidahnya.
melestarikan tradisi dan teknik-teknik aksara Sunda.
Sunda. - Mengkonfirmasi hasil temuan sementara dan menanyakan/
berkonsultasi kepada guru tentang sistematika dan kaidah-kaidah
• Struktur Teks penulisan yang benar.
- Ciri aksara Sunda
- Bentuk aksara Sunda
4.7.Mengkreasikan aksara - Kaidah aksara Sunda
Sunda sesuai dengan
- Menulis teks pendek yang menggunakan aksara Sunda sesuai
kaidah-kaidahnya. • Unsur Kebahasaan
dengan kaidah-kaidahnya.
- Diksi
- Menulis nama diri (tempat, intansi, jalan), ungkapan dan kaligrafi
- Ejaan dan tanda baca.
menggunakan aksara Sunda sesuai dengan kaidah-kaidahnya.
• Topik - Mengkomunikasikan pengalaman penyusunan teks aksara Sunda di
Aksara Sunda yang antaranya berupa kesan-kesan, komentar, permasalahan.
dapat menumbuhkan - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
perilaku yang
termuat dalam KI.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
51
• Struktur Teks
5
3.8. Menganalisis isi, - Membaca dan mengamati teks sajak yang mengandung berbagai
unsur, struktur dan - Teks sajak berisi
macam kosa kata, dan idiom yang merupakan kekayaan bahasa
MULOKKURIKULUM

aspek kebahasaan kosa kata, dan


idiom. Sunda.
sajak.
- Tema, nada, - Menyimak dan menampilkan salah satu sajak dengan
BERBASI

pilihan kata (diksi), menggunakan berbagai macam media.


S
KURIKULUM

rasa, amanat - Bertanya jawab tentang aspek kebahasaan yang terdapat dalam
TINGKAT

• Unsur Kebahasaan sajak.


- Istilah khusus terkait
dengan idiom dan
JARA
PELA
2013

DAERAH

kosa kata, bahasa yang


muncul pada teks
sajak
VISI
HA
BA
SA

RE
201

- Ucapan, tekanan kata,


4.8. Menampilkan sajak intonasi, ejaan, dan
- Menampilkan salah satu sajak dengan cara (membaca, deklamasi,
SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

dengan cara tanda baca.


• Topik musikalisasi, dramatisasi).
membaca,
kekayaan bahasa Sunda. - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
mendeklamasikan
atau dramatisasi. (idiom, kosa kata) dalam
karangan sajak

KELAS XI
Alokasi Waktu: 2 jam pelajaran/minggu

Kompetensi sikap spiritual dan kompetensi sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect
teaching), pada pembelajaran kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan melalui keteladanan,
pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi
peserta didik.
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan
dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.
Pembelajaran untuk kompetensi pengetahuan dan keterampilan sebagai berikut ini.

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran


3.1. Menganalisis isi, • Fungsi Sosial:
struktur, dan aspek Menumbuhkan sikap saling - Membaca dan mengamati teks biantara.
kebahasaan teks menghormati sesama. - Mendikusikan aspek kebahasaan (istilah-istilah yang
biantara. • Teks Biantara dianggap sulit, purwakanti, dan gaya basa) yang
• Struktur terdapat dalam teks biantara.
- Bubuka (salam bubuka, - Mencari dari berbagai sumber mengenai teks biantara
mukadimah, pangwi- yang bisa dijadikan referensi pembelajaran.
lujeng ka nu haladir)
4.1. Mendemonstrasikan - Eusi
biantara dengan - Panutup (Sandak- - Merancang dan menyusun teks biantara.
memperhatikan sunduk ménta hampura, - Menyajikan teks biantara dengan memperhatikan
kesantunan dan du’a, salam panutup) penggunaan kaidah basa.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

penggunaan kaidah • Aspek Kabasaan - Menanggapi tampilan Biantara dalam konteks


bahasa. - Tatakrama basa penggunaan bahasa.
- Diksi - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
- Paduan paragraf
• Topik
Biantara yang dapat
menumbuhkan perilaku
yang termuat dalam KI.
53
• Fungsi sosial - Mengamati contoh sisindiran untuk mengetahui fungsi
5

3.2. Menganalisis isi, Menemukan makna dan sosial.


struktur, dan aspek nilai-nilai kehidupan yang - Membaca contoh sisindiran.
MULOKKURIKULUM

kebahasaan sisindiran. terkandung dalam sisindiran - Secara berkelompok menganalisis unsur-unsur sisindiran
• Struktur Teks untuk mengetahui fungsi sosialnya.
BERBASI

- Aturan penulisan - Mendiskusikan isi sisindiran yang dibacanya untuk


S

- Guru lagu mengetahui fungsi sosial.


KURIKULUM

TINGKAT

- Guru Wilangan - Menyusun dan menampilkan sisindiran, dengan ucapan


- Padalisan dan tekanan kata yang benar.
4.2. Menyusun dan - Pada - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajarnya
JARA
PELA
2013

DAERAH

menampilkan sisindiran • Aspek Kebahasaan


secara lisan/tulisan
sesuai dengan konteks - Pilihan kata (diksi)
VISI
HA
BA
SA

RE

dan fungsi sosialnya. - Ucapan, makna kata,


201

intonasi, ejaan, tanda baca.


SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

• Topik
Menyusun dan menampilkan
sisindiran untuk berbagai
tujuan
3.3. Menganalisis isi, • Fungsi Sosial: - Mambaca contoh teks Panumbu catur dan
struktur dan aspek Menumbuhkan sikap saling mencermati kaidah-
kebahasaan teks menghormati sesama. kaidahnya.
panumbu catur - Mencari dari berbagai sumber informasi tentang
(moderator) dalam • Struktur prosedur panumbu catur dan kaidah-kaidahnya.
kegiatan diskusi, debat, - Bubuka - Menyusun teks panumbu catur sesuai dengan kaidah-
dan sejenisnya. - Eusi kaidahnya.
- Panutup
4.3. Mendemonstrasikan • Aspek Kabahasaan - Menampilkan panumbu catur dalam kegiatan seperti
panumbu catur - Diksi diskusi, dan debat.
(moderator) dalam - Tata krama basa - Menanggapi tampilan panumbu catur dalam konteks
kegiatan diskusi, debat, - Ejaan dan tanda baca penggunaan bahasa.
dan sejenisnya yang - Kesesuaian - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
sesuai dengan konteks
penggunaan bahasa. • Topik
Panumbu catur yang dapat
menumbuhkan perilaku
yang termuat dalam KI.

3.4. Menganalisis isi, struktur • Fungsi Sosial: - Membaca teks Carita pondok.
dan aspek kebahasaan Nilai moral dan pendidikan - Menanyakan dan mengumpulkan istilah-istilah khusus
carita pondok. yang terkandung dalam teks yang ditemukan di dalam teks Carita pondok.
carita pondok yang bisa - Mengidentifikasi ciri-ciri Carita pondok.
diimplementasikan dalam - Menganalisis unsur sastra yang terdapat di dalam Carita
kehidupan sehari-hari. pondok.
• Struktur Teks
4.4. Menulis carita pondok - Menyusun kerangka Carita pondok .
- Ciri-ciri carita pondok.
sederhana dengan - Unsur Sastra (unsur- - Menulis karangan Carita pondok menjadi sebuah
LAMPIRAN-LAMPIRAN

memperhatikan struktur unsur intrinsik dan karangan yang utuh dengan memperhatikan struktur dan
dan kaidah kebahasaan. ektrinsik cerita). kaidah kebahasaan.
- Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
55
5
3.5. Menganalisis isi, pola • Aspek Kebahasaan: - Membandingkan teks warta dari media massa cetak dan
penyajian, dan unsur - Diksi elektronik.
MULOKKURIKULUM

kebahasaan teks warta - Pakeman basa - Menyebutkan bagian-bagian warta secara sistematis dan
(berita) dari media - Ejaan dan tanda baca. benar.
BERBASI

massa cetak atau - Paduan paragraf. - Mencari dari berbagai sumber informasi tentang prosedur
S

elektronik. - Kesesuaian antara tema menulis warta sesuai dengan kaidah-kaidahnya.


KURIKULUM

TINGKAT

dan isi. - Menjelaskan langkah-langkah menyusun warta dengan


- Kalimat langsung dan cermat dan benar.
tidak langsung.
JARA
PELA

• Topik
2013

DAERAH

Teks carita pondok yang


dapat menumbuhkan
VISI
HA
BA
SA

RE

perilaku yang termuat dalam


201

KI.
SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

4.5. Menyusun teks warta • Fungsi Sosial: - Merancang teks warta berdasarkan hasil pengamatan
(berita) berdasarkan Nilai moral dan pendidikan atau hasil wawancara.
pengamatan atau hasil yang terkandung dalam teks, - Menulis warta dengan memperhatikan struktur dan
wawancara sesuai yang bisa diimplementasikan kaidah kebahasaan.
dengan struktur dan dalam kehidupan sehari- - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
kaidah kebahasaan. hari.
• Teks Warta

• Struktur teks

- Bubuka
- Eusi
- Penutup
3.6. Menganalisis isi, • Pola Penyajian
struktur, dan aspek - Prinsip - Mengidentifikasi unsur-unsur novel dengan cermat.
kebahasaan novel. - Proses tahapan nulis
- Memahami isi novel dengan teliti.
warta
- Prosedur - Menganalisis bahasa yang dipergunakan serta unsur
• Aspek Kabahasaan intrinsik dalam novel dengan teliti.
- Diksi
- Menginterpretasikan isi novel sesuai dengan kaidah-
- Ejaan dan tanda baca
- Paduan paragraf kaidahnya.
- Kesesuaian antara topik
dengan isi
• Topik
Nulis Teks Berita (Warta)
yang dapat menumbuhkan
perilaku yang termuat dalam
KI.
4.6. Menyajikan hasil • Fungsi sosial - Menyajikan hasil analisis novel melalui berbagai media
analisis novel melalui
Nilai moral dan pendidikan (seperti bagan, cerita bergambar, animasi)
berbagai media
(seperti bagan, cerita yang terkandung dalam - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajarnya.
LAMPI

bergambar, animasi) karangan novel dan bisa


RAN

dengan memperhatikan diimplementasikan dalam


struktur dan kaidah kehidupan sehari-hari.
kebahasaan. • Struktur Teks
PIRA
LAM
N

- Ciri novel
- Unsur sastra (intrinsik &
ekstrinsik)
57
3.7. Menganalisis isi, struktur • Aspek Kebahasaan - Membaca dan mengamati teks biografi.
5

- Diksi
dan aspek kebahasaan - Ucapan, tekanan kata, - Mendiskusikan unsur-unsur teks biografi.
MULOKKURIKULUM

teks biografi. intonasi, ejaan, dan tanda - Menggali informasi tentang biografi dari berbagai
- baca. referensi.
BERBASI

Kalimat langsung dan tidak


S

langsung.
KURIKULUM

TINGKAT

• Topik
Petikan novel yang dapat
menumbuhkan perilaku yang
JARA
PELA
2013

DAERAH

termuat dalam KI.


• Fungsi Sosial:
VISI
HA
BA
SA

RE

4.7. Menulis teks biografi Nilai moral dan pendidikan - Menulis biografi berdasarkan unsur-unsur biografi dengan
201

sederhana dengan yang terkandung dalam memperhatikan penggunaan kaidah bahasa.


memperhatikan teks bigrafi dan bisa bisa - Mengevaluasi hasil biografi.
SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

struktur dan diimplementasikan dalam - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
kehidupan sehari-hari.
penggunaan kaidah
• Teks Biografi
bahasa. • Struktur Teks
- Unsur-unsur Biografi
- Karakteristik teks biografi
• Aspek Kebahasaan
- Diksi
- Ejaan dan penggunaan
tanda baca.
- Paduan paragraf
• Topik
Biografi yang dapat
menumbuhkan perilaku
yang termuat dalam KI.
3.8 Menganalisis isi, • Fungsi Sosial: - Membaca dan mengidentifikasi bentuk carita buhun
struktur, serta aspek Nilai moral dan pendidikan wawacan sebagai warisan budaya Sunda.
kebahasaan petikan yang bisa yang bisa - Memahami isi wawacan yang disimak baik dari segi
cerita wawacan. diimplementasikan dalam isi maupun unsur kebahasaan.
kehidupan sehari-hari. - Menemukan dan mengumpulkan istilah-istilah khusus
yang terdapat dalam teks wawacan.
• Struktur teks: - Menggali informasi dan membandingkan bentuk carita
- Struktur wawacan. buhun (dongéng, carita pantun, wawacan, carita
- Bentuk wawacan (prosa, naskah jeung guguritan).
dramatisasi).
4.8 Mentransformasikan • Aspek Kebahasaan: - Menyusun petikan téks wawacan dengan cara
cerita wawacan ke - Istilah khusus yang memparafrase teks ke dalam bentuk prosa atau
dalam prosa atau ditemukan di dalam teks. dramatisasi.
mengkreasikan - Parafrase wawacan - Menyajikan petikan teks wawacan hasil kreasi siswa
ke dalam bentuk sesuai dengan ejaan yang dalam bentuk pertunjukan (seperti beluk,
pertunjukan (seperti tepat. jemblungan, dramatisasi).
beluk, jemblungan, - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
dramatisasi). • Topik
Wawacan yang dapat
LAMPIRAN-LAMPIRAN

menumbuhkan perilaku
yang termuat dalam KI.
59
KELAS XII
6

Alokasi Waktu: 2 jam pelajaran/minggu


MULOKKURIKULUM

Kompetensi sikap spiritual dan kompetensi sikap sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect
BERBASI

teaching), pada pembelajaran kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan melalui keteladanan,
S
KURIKULUM

pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi
TINGKAT

peserta didik.
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan
JARA
PELA
2013

DAERAH

dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.
Pembelajaran untuk kompetensi pengetahuan dan keterampilan sebagai berikut.
VISI
HA
BA
SA

RE
201

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran


SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

3.1 Menganalisis isi, struktur • Fungsi sosial - Membaca isi teks bahasan tradisi Sunda.
dan aspek kebahasaan Menjaga hubungan interpersonal - Menanyakan hal-hal yang tidak diketahui atau yang
teks bahasan tradisi Sunda. dengan masyarakat setempat belum dipahami.
serta menumbuhkan rasa bangga - Menelaah dan mendiskusikan struktur dan unsur
4.1 Menyajikan bahasan dalam melestarikan tradisi Sunda. bahasan tradisi Sunda.
tradisi setempat melalui • Aspek kebahasaan - Menyusun teks berbahasa Sunda tentang bahasan
berbagai media (seperti - Pakeman basa
tradisi Sunda setempat.
mading, pameran fotografi, - Diksi
- Menyajikan bahasan tradisi setempat melalui
film dokumenter) dengan - Tatakrama basa
memperhatikan kaidah • Topik berbagai media (seperti mading, pameran fotografi,
bahasa Sunda. Bahasan tradisi Sunda yang dapat film dokumenter).
menumbuhkan perilaku yang - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
termuat dalam KI.
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran
3.2 Menganalisis isi, struktur • Fungsi sosial - Membaca petikan téks carita wayang.
dan aspek kebahasaan Menumbuhkan rasa trisilas (silih - Mengidentifikasi ciri-ciri carita wayang.
petikan carita wayang. asah, silih asih, silih asuh) serta - Menanyakan hal-hal yang tidak diketahui dari teks
nilai moral dan pendidikan yang cerita wayang.
4.2 Mengkreasikan petikan bisa diimplementasikan dalam - Menganalisis unsur-unsur carita wayang.
carita wayang secara kehidupan sehari-hari. - Memahami perbandingan antara cerita dongéng dan
lisan/tulisan ke dalam • Aspek Kebahasaan carita wayang.
bentuk lain (drama, carita - Istilah khusus pawayangan. - Mengkreasikan hasil temuannya dalam bentuk lisan/
pondok, puisi) dengan - Pakeman basa tulisan (seperti drama, carita pondok, puisi).
memperhatikan struktur - Diksi - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil
dan kaidah kebahasaan. • Topik belajarnya.
Petikan carita wayang yang dapat
menumbuhkan perilaku yang
termuat dalam KI.
3.3. Menganalisis isi, struktur • Fungsi Sosial - Membaca dan mengamati sumber resensi.
dan aspek kebahasaan teks Nilai moral dan pendidikan - Mendikusikan tentang aspek kebahasaan.
resensi (buku, film, musik, yang bisa yang bisa - Mencari dari berbagai sumber mengenai resensi
pertunjukan). diimplementasikan dalam sebagai bahan rujukan.
LAMPIR

kehidupan sehari-hari. - Merancang dan menyusun resensi dengan


AN

4.3. Menulis resensi (buku, • Struktur memperhatikan penggunaan kaidah basa.


film, musik, pertunjukan) - Identitas sumber resensi. - Menulis resensi sesuai dengan memperhatikan
dengan memperhatikan - Ciri-ciri resensi struktur dan kaidah kebahasaan.
MPI
RA

LA

- Ejaan dan tanda baca

struktur dan kaidah • Unsur kebahasaan - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil
N

kebahasaan. - Diksi belajar.


- Paduan paragraf
61

- Kesesuaian isi resensi


6
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran
• Topik
MULOKKURIKULUM

Drama yang dapat


BERBASI

menumbuhkan perilaku yang


S

termuat dalam KI.


KURIKULUM

TINGKAT

3.4. Menganalisis isi, struktur, • Fungsi Sosial


Nilai moral dan pendidikan yang - Membaca dan mengamati teks/naskah drama.
dan aspek kebahasaan terkandung dalam teks drama - Mendikusikan tentang aspek kebahasaan (istilah-
JARA
PELA
2013

DAERAH

teks/naskah drama. dan bisa bisa diimplementasikan istilah yang dianggap sulit, atau gaya basa) yang
dalam kehidupan sehari-hari. terdapat dalam teks/naskah drama.
• Struktur - Mencari dari berbagai sumber mengenai teks/
VISI
HA
BA
SA

RE

- Unsur-unsur teks drama. naskah drama yang bisa dijadikan referensi


201

- Unsur-unsur pintonan pembelajaran.


SMA/SMK/MA/MAKJENJANG

drama.
4.4. Menampilkan drama - Genre drama - Merancang dan menyusun teks/naskah drama
berdasarkan teks/naskah • Aspek kebahasaan dengan memperhatikan penggunaan kaidah basa.
dengan memperhatikan - Diksi - Menampilkan drama berdasarkan teks/naskah
intonasi dan ekspresi. - Tata krama basa dengan memperhatikan intonasi dan ekspresi.
- Artikulasi - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
- Lentong
- Ejaan jeung tanda baca
• Topik

Drama yang dapat


menumbuhkan perilaku yang
termuat dalam KI.
Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

3.5. Menganalisis isi, struktur • Struktur Teks - Membaca teks artikel dengan memperhatikan ciri
dan aspek kebahasaan - Jenis artikel dan tema pada artikel.
teks artikel berbahasa - Ciri artikel - Bertanya-jawab tentang ciri-ciri artikel.
Sunda. - Struktur artikel - Menjelaskan ciri-ciri artikel dengan teliti dan
• Aspek Kebahasaan sistematis.
- Diksi - Menentukan tema teks artikel secara tepat dan
- Ejaan dan tanda baca. bertanggug jawab.
- Paduan paragraf
4.5. Menulis artikel - Kesesuaian isi dengan tema. - Menyusun kerangka pembuatan artikel secara
• Topik
sederhana berbahasa Artikel yang dapat menumbuhkan sistematis.
Sunda dengan perilaku yang termuat dalam KI. - Menulis artikel sederhana berbahasa Sunda sesuai
memperhatikan struktur dengan kerangka yang telah dibuat.
dan penggunaan kaidah - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
kebahasaan.
3.6. Menganalisis isi, struktur, • Fungsi sosial - Menyimak dan atau membaca dengan seksama
Nilai moral dan pendidikan yang
dan aspek kebahasaan bisa diimplementasikan dalam contoh petikan carita pantun.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

petikan carita pantun. kehidupan sehari-hari. - Mengidentifikasi bentuk carita pantun.


• Struktur Teks - Bertanya jawab isi yang terkandung pada carita
pantun.
- Jenis Rajah - Menganalisis unsur kebahasaan carita pantun.
- Monolog
- Dialog
- Galur carita pantun
63
6

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran


MULOKKURIKULUM

4.6. Mengkreasikan carita • Aspek Kebahasaan - Mengkreasikan carita pantun secara lisan/tulisan
BERBASI

pantun secara lisan/ (seperti drama, carita pondok, puisi).


- Istilah khusus terkait dengan
S

tulisan ke dalam bentuk - Melakukan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
KURIKULUM

carita pantun.
TINGKAT

lain (seperti drama,


carita pondok, puisi) - Diksi
dengan memperhatikan - Ucapan, tekanan kata, intonasi,
struktur dan kaidah ejaan, dan tanda baca.
JARA
PELA
2013

DAERAH

kebahasan.
• Topik
VISI
HA
BA
SA

RE

Petikan carita pantun yang dapat


201

menumbuhkan perilaku yang


termuat dalam KI.
SMA/SMK/MA/MAKJENJANG
Lampiran 2

RENCANA PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN (RPP)
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH
TSANAWIYAH
(SMP/MTs)
MATA PELAJARAN
BAHASA DAN SASTRA SUNDA

A. BATASAN
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan
pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP
dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta
didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada
satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan
sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema
yang dilaksanakan satu kali pertemuan atau lebih.

B. KOMPONEN RPP
Menurut Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses,
komponen RPP terdiri atas:
1. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
2. Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
LAMPIRAN-LAMPIRAN 65
3. Kelas/semester;
4. Materi pokok;
5. Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD
dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang
tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
6. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
7. Kompetensi dasar (KD) dan indikator pencapaian kompetensi;
8. Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang
relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan
indikator ketercapaian kompetensi;
9. Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai
KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang
akan dicapai;
10. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran;
11. Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam
sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
12. Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan,
inti, dan penutup; dan
13. Penilaian hasil pembelajaran.

C. PRINSIP PENYUSUNAN RPP


Dalam menyusun RPP hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut.
1. Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat
intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial,
emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang
budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik.
3. Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi,
minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


66 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
4. Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk
mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan,
dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
5. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan
program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan
remedi.
6. Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi,
penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
7. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata
pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
8. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi,
sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

D. LANGKAH PENYUSUNAN RPP


RPP merupakan panduan yang akan diimplementasikan dalam
pelaksanaan pembelajaran. Inti dalam RPP adalah rencana kegiatan
pembelajaran.
1. Penetapan Identitas RPP
Identitas RPP mencakup komponen:
a. Identitas sekolah
b. Identitas matapelajaran
c. Tema (khusus untuk SD/MI)
d. Materi pokok
e. Alokasi waktu
2. Penyusunan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan
kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sebaiknya, tujuan disusun secara
integratif sehingga rumusannya tidak harus mengulang atau sama dengan
rumusan indikator. Penempatannya bisa sebelum KD dan Indikator.

3. Penetapan KD dan penyusunan indikator pencapaian kompetensi


KD dipilih dan ditetapkan berdasarkan KI-KD, kemudian dijabarkan
menjadi indikator pencapaian kompetensi. Rumusan indikator disusun

LAMPIRAN-LAMPIRAN 67
menggunakan kata kerja operasional sesuai dengan ranah kompetensi
pengetahuan (kognitif) dan ranah kompetensi keterampilan (psikomotor).
4. Penyusunan materi pembelajaran
Materi pembelajaran disusun dengan memuat fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan
rumusan indikator ketercapaian kompetensi.
a. Materi fakta berupa segala hal yang bewujud kenyataan dan
kebenaran, meliputi nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang,
nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu
benda, contoh karya, dan sebagainya
b. Materi konsep berupa segala yang berwujud pengertian-pengertian
baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi,
pengertian, ciri khusus, hakekat, inti /isi dan sebagainya.
c. Materi prinsip berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi
terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma,
teorema, serta hubungan antar konsep yang menggambarkan
implikasi sebab akibat.
d. Materi Prosedur meliputi langkah-langkah secara sistematis atau
berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu
sistem.
5. Pemilihan dan penetapan metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai
KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang
akan dicapai. Pendidik boléh memilih model, metode, dan teknik sendiri
sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran.
6. Pemilihan dan penetapan media pembelajaran
Media pembelajaran berupa alat bantu proses pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran. Media pembelajaran dipilih dan
ditetapkan sesuai dengan materi pembelajaran dan situasi pembelajaran.
7. Pemilihan dan penetapan sumber belajar
Sumber belajar dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam
sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan. Sumber belajar yang
digunakan dicantumkan dalam RPP.
8. Penyusunan langkah pembelajaran
Langkah pembelajaran disusun dalam tiga tahap kegiatan, yakni kegiatan
pendahuluan, inti dan penutup.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


68 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
a. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru wajib menyusun:
1) Orientasi, untuk menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik
untuk mengikuti proses pembelajaran dan memusatkan perhatian
peserta didik pada materi yang akan diajarkan;
2) Motivasi belajar peserta didik secara kontekstual dengan
merumuskan manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan
sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal,
nasional dan internasional, serta disesuaikan dengan karakteristik
dan jenjang peserta didik;
3) Apersepsi, dengan merumuskan kaaitan pengetahuan
sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
4) Pemberian acuan, menjelaskan tujuan pembelajaran atau
kompetensi dasar yang akan dicapai dan cakupan materi.
b. Kegiatan Inti
1) Menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media
pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan
karakteristik peserta didik dan mata pelajaran.
2) Dalam memperkuat pendekatan saintifik, tematik, dan tematik
terpadu, sangat disarankan untuk menerapkan belajar berbasis
penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk
mendorong peserta didik menghasilkan karya kreatif dan
kontekstual, baik individual maupun kelompok, disarankan yang
menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based
learning).
3) Memuat pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan
yang terintegrasi pada pembelajaran. Sikap dimiliki melalui proses
afeksi mulai dari menerima, menjalankan, menghargai,
menghayati, hingga mengamalkan. Pengetahuan dimiliki melalui
aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis,
mengevaluasi, hingga mencipta. Keterampilan diperoleh melalui
kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan
mencipta.
c. Kegiatan Penutup
1) Menyusun refleksi untuk mengevaluasi seluruh rangkaian aktivitas
pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk

LAMPIRAN-LAMPIRAN 69
selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung
maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah
berlangsung; serta memberikan umpan balik terhadap proses dan
hasil pembelajaran;
2) Merumuskan rencana kegiatan tindak lanjut dalam bentuk
pemberian tugas, baik tugas individual maupun kelompok;
3) Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk
pertemuan berikutnya.
9. Penyusunan penilaian hasil pembelajaran
Penilaian proses pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian
otentik (authentic assesment) yang menilai kesiapan peserta didik,
proses, dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga
komponen tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan perolehan
belajar peserta didik yang mampu menghasilkan dampak instruksional
(instructional effect) pada aspek pengetahuan dan dampak pengiring
(nurturant effect) pada aspek sikap.
a. Hasil penilaian otentik digunakan guru untuk merencanakan program
perbaikan (remedial) pembelajaran, pengayaan (enrichment), atau
pelayanan konseling. Selain itu, hasil penilaian otentik digunakan
sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran sesuai
dengan Standar Penilaian Pendidikan.
b. Penilaian proses pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran
dengan menggunakan alat: (1) lembar pengamatan, (2) angket
sebaya, (3) rekaman, (4) catatan anekdot, dan (5) refleksi.
c. Penilaian hasil pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran dan
di akhir satuan pelajaran dengan menggunakan metode dan alat:
(1) tes lisan/perbuatan dan (2) tes tulis. Tes tulis berbentuk uraian atau
esai.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


70 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
Contoh RPP:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : SMA/SMK/MA/MAK.....
Mata Pelajaran : Bahasa Sunda
Kelas/Semester :XII/I
Materi Pokok : Carita Wayang
Alokasi Waktu : 8 x 45 menit (3 x pertemuan)

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah proses menggali informasi melalui berbagai fakta, menanya


konsep, berdiskusi atas fakta dan konsep, menginterpretasi,
mengasosiasi, dan mengkomunikasikan, peserta didik dapat:
1. membaca, menyimak, dan memahami teks carita wayang;
2. menjelaskan isi carita wayang;
3. mengamati kaidah-kadah carita wayang; dan
4. menceritakan kembali carita wayang.

B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi

3.2 Menganalisis isi, 3.2.1 Mengidentifikasi dan membandingkan carita


struktur dan aspek wayang sesuai dengan kaidah-kaidahnya.
kebahasaan petikan 3.2.2 Mengidentifikasi ciri-ciri carita wayang.
carita wayang. 3.2.3 Menganalisis unsur-unsur carita wayang.
3.2.5 Menyebutkan perbandingan antara carita
wayang dan dongeng.

LAMPIRAN-LAMPIRAN 71
4.2 Mengkreasikan petikan
4.2.1 Menceritakan kembali isi carita Wayang.
carita wayang secara
4.2.2 Menanggapi isi carita wayang sesuai dengan
lisan/tulisan ke dalam
kaidah-kaidahnya.
bentuk lain (drama,
4.3.5 Mengubah cerita wayang ke dalam bentuk
carita pondok, puisi)
dengan memperhatikan lain seperti naskah drama.
struktur dan kaidah
kebahasaan.

C. MATERI PEMBELAJARAN

Fakta:
• Berbagai contoh teks carita wayang dan dongeng dari berbagai
sumber.
Konsep:
• Ciri-ciri, pengertian, perbedaan jenis, tema, dan tujuan carita wayang

• Struktur carita wayang


• Unsur-unsur carita wayang
Prinsip:
• Karakteristik carita wayang
• Ciri-ciri kebahasaan dalam carita wayang
• Istilah-istilah dalam pagelaran wayang
Prosedur:
• Langkah-langkah mengubah teks carita wayang ke dalam bentuk
karangan lain.
• Proses penyajian laporan hasil perubahan téks carita wayang

D. METODE PEMBELAJARAN

1. Pendekatan Pembelajaran: Saintifik


2. Model Pembelajaran: Model Pembelajaran Inkuiri
3. Tenknik Pembelajaran: Ceramah, Praktek, Diskusi

E. MEDIA DAN ALAT PEMBELAJARAN

1. Media: Audio-Visual (video, gambar ilustrasi, dan powerpoint materi


carpon)
KURIKULUM TINGKAT DAERAH
72 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
2. Alat/Bahan: Laptop dan LCD
F. SUMBER PEMBELAJARAN

1. Durahman, Duduh. 1984. Catetan Prosa Sunda. Bandung: Medal


Agung.
2. Lembaga Basa jeung Sastra Sunda. 1983. Kamus Umum Basa
Sunda. Bandung: Tarate.
3. Rahmat Taufik Hidayat, spk. 2005. Peperenian Urang Sunda.
Bandung: Kiblat

G. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1
Kegiatan Deskripsi Alokasi
waktu
• Guru memberi salam, berdoa bersama, kemudian
bertegur sapa dengan peserta didik; Bagaimana kabar
kalian hari ini? sudah siapkah belajar? Siapa saja yang
tidak bisa hadir dalam pembelajaran hari ini?
• Guru melakukan pengkondisian KBM; mengecek
kebersihan kelas minimal di sekitar meja dan kursi
tempat duduk peserta didik
• Apersepsi (membimbing peserta didik dalam kesatuan
persepsi untuk mengidentifikasi kaidah-kaidah carita 15
Pendahuluan wayang). Guru memberikan informasi tentang materi
menit
pembelajaran yang akan dilaksanakan (carita wayang)
• Peserta didik menerima informasi kompetensi, materi,
tujuan, manfaat, dan langkah-langkah pembelajaran
yang akan dilaksanakan
• Motivasi (menumbuhkan kepercayaan diri peserta
didik agar mereka terampil menganalisis teks carita
wayang serta mengemukakan temuan, pandangan, dan
pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan).

LAMPIRAN-LAMPIRAN 73
Kegiatan Deskripsi Alokasi
waktu
• Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok belajar
sesuai kebutuhan KBM.
• Guru memberikan contoh naskah teks carita wayang
kepada setiap peserta didik.
• Peserta didik membaca dan mengamati contoh teks
carita wayang.
• Peserta didik mengamati dan memahami ciri-ciri carita
wayang.
• Peserta didik menganalisis unsur-unsur carita wayang
sebagai prosa.
• Peserta didik menganalisis perkembangan pagelaran
wayang dalam sastra Sunda.
• Guru memonitor kegiatan kelompok peserta didik
selama multimedia berlangsung.
• Setiap peserta didik mencermati (mengamati dan
menganalisis naskah yang dibacanya) dan melakukan
catatan kecil hasil penemuan analisis teks yang akan
didiskusikan antar kelompok nanti.
• Secara individu, hasil temuan peserta didik berupa
Inti identifikasi-identifikasi tentang analisis isi, kaidah-
kaidah, struktur, jenis, tema dan sistematika carita
wayang berdasarkan naskah dan tayangan media yang
dicermatinya.
• Antarpeserta didik dalam kelompok saling
mengkonfirmasi dan bertanya tentang analisa isi, jenis
dan tema teks carita wayang masing-masing untuk
dibahas jika ada perbedaan temuan.
• Dari berbagai pertanyaan dan penyataan yang muncul,
kelompok melakukan klasifikasi kaidah-kaidah carpon
dan mendefinisikan dasar temuannya.
• Kelompok mengkonfirmasi hasil temuan sementara
dan menanyakan/berkonsultasi kepada guru tentang
sistematika dan kaidah-kaidah penulisan yang benar.
• Beberapa indikator pertanyaan peserta didik di antaranya
tentang ciri-ciri dan unsur-unsur carita wayang.
• Peserta didik mencoba merumuskan struktur teks
carita wayang yang dikajinya, dan membahasnya
seraya bertukar temuan bersama anggota kelompok.
• Menguraikan sistematika teks carita wayang dari
naskah yang dikajinya, dengan bertukar informasi atau
melakukan konfirmasi dengan kelompok lain.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


74 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
Kegiatan Deskripsi Alokasi
waktu
• Peserta didik mencoba menyimpulkan atau melegitimasi
atas temuan kajian naskah yang dibahasnya. 60
• Perwakilan masing-masing kelompok (bisa dipilih dan
menit
ditunjuk guru) menyampaikan/mempresentasikan hasil
kesimpulannya.
• Melaporkan hasil penelitian kelompok ke dalam bentuk
karya tulis ilmiah.
• Bersama peserta didik menyimpulkan cerita wayang.

Penutup • Melaksanakan tes untuk evaluasi pemahaman (contoh 20


tes ada pada poin penilaian) menit
• Mengakhiri KBM dengan doa dan salam.

Pertemuan 2
Kegiatan Deskripsi Alokasi
waktu
• Peserta didik merespon salam dan dilanjutkan dengan
pengondisian kelas
• Tanya jawab tentang karakteristik cerita wayang pada
pertemuan sebelumnya
• Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan
pembelajaran sebelumnya (karakteristik teoretis carita 20
Pendahuluan wayang) dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan
menit
(menceritakan teks cerita wayang)
• Peserta didik menerima informasi kompetensi, materi,
tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan
dilaksanakan.
• Tanya jawab tentang evaluasi pembelajaran sebelumnya,
serta pemberian motivasi untuk KBM yang selanjutnya

LAMPIRAN-LAMPIRAN 75
Kegiatan Deskripsi Alokasi
waktu
• Peserta didik mengamati dan meninjau kembali rumusan
karakteristik carita wayang.
• Peserta didik mengamati langkah-langkah prosedural
penyusunan teks carita wayang dari guru.
• Guru memberikan batasan jenis teks carita wayang
yang akan disusun oleh peserta didik (bentuk ringkasan,
transliterasi, atau penggalan).
• Secara individu peserta didik mempersiapkan data atau
referensi acuan untuk penyusunan teks cerita wayang
• Masing-masing peserta didik dipersilakan mengemuka-
kan pendapat atau pandangannya mengenai pilihan
jenis dan cerita wayang yang diambilnya.
• Masing-masing peserta didik dipersilakan mengemuka-
kan kesulitan atau permasalahan yang mungkin
timbul atas pilihan jenis dan tema cerita wayang yang
diambilnya.
• Masing-masing peserta didik mulai menganalisis dan
menyusun teks cerita wayang dengan menggunakan
teks cerita wayang pada KBM sebelumnya sebagai
Inti pembanding. 60
• Masing-masing peserta didik mencoba menyusun menit
teks cerita wayang sesuai dengan kaidah-kaidah atau
sistematika teorikal cerita wayang.
• Masing-masing peserta didik memilih dan memilah diksi
serta kalimat-kalimat dalam teks cerita wayang sesuai
dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang benar.
• Peserta didik menganalisis hasil penyusunan teks baik
dari segi tata bahasa, sistematika, dan isi teks cerita
wayang.
• Peserta didik mengedit atau menyunting teks masing-
masing guna tahap penyelasaian akhir (finishing).
• Selama kegiatan berlangsung, guru berperan aktif
sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran peserta
didik.
• Peserta didik mengumpulkan hasil project teks carita
wayang kepada guru.
• Peserta didik mengkomunikasikan pengalaman penyu-
sunan teks carita wayang di antaranya berupa kesan-
kesan, komentar, permasalahan, ataupun hal-hal
lainnya.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


76 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
Kegiatan Deskripsi Alokasi
waktu
• Umpan balik antarpeserta didik dan antara peserta didik
dengan guru tentang evaluasi proses pembelajaran
Penutup • Mengingatkan atau mempersiapkan peserta didik untuk 10
tehnis-tehnis KBM mendatang. menit
• Menutup atau mengakhiri KBM seraya mengucapkan
salam.
Pertemuan 3

Kegiatan Deskripsi Alokasi


waktu
• Peserta didik merespon salam dan dilanjutkan dengan
pengondisian kelas.
• Tanya jawab tentang kajian teori perkembangan
pagelaran wayang pada pertemuan sebelumnya.
• Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan
pembelajaran sebelumnya (penyusunan teks carita
Pendahuluan wayang) dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan 20
(menceritakan kembali isi carita wayang pada sebuah menit
pagelaran wayang).
• Peserta didik menerima informasi kompetensi, materi,
tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan
dilaksanakan.
• Tanya jawab tentang evaluasi pembelajaran sebelumnya,
serta pemberian motivasi untuk KBM yang selanjutnya.
• Peserta didik mengamati dan meninjau kembali teks
carita wayang yang telah disusunnya.
• Peserta didik mengamati langkah-langkah prosedural
menceritakan kembali carita wayang dari guru.
• Guru memberikan batasan teknis menceritakan kembali
carita wayang yang akan dilaksanakan oleh peserta didik
(basa, diksi, lentong, wirahma dan pidangan).
• Masing-masing peserta didik dipersilakan mengemukakan
pendapat atau pandangannya mengenai batasan teknis
menceritakan kembali isi cerita sebuah pagelaran
wayang.

LAMPIRAN-LAMPIRAN 77
Kegiatan Deskripsi Alokasi
waktu
• Masing-masing peserta didik dipersilakan mengemukakan
kesulitan atau permasalahan yang mungkin timbul batas-
an teknis yang diambilnya.
• Masing-masing peserta didik mulai melakukan penceri-
taan kembali (retelling).
• Masing-masing peserta didik mencoba menilai secara
subjektif atas penampilan temannya.
• Masing-masing peserta didik membuat rincian tertulis
Inti pandangan atau penilaian terhadap penampilan teman- 60
nya sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang
menit
benar.
• Selama kegiatan berlangsung, guru berperan aktif sebagai
fasilitator dan mediator pembelajaran peserta didik.
• Peserta didik mengemukakan pandangan atau penilaian
terhadap penampilan temannya sesuai dengan kaidah-
kaidah kebahasaan yang benar.
• Peserta didik mengkomunikasikan pengalaman menceri-
takan kembali carita wayang, di antaranya berupa kesan-
kesan, komentar, permasalahan, ataupun hal-hal lainnya.

• Umpan balik antarpeserta didik dan antara peserta didik


dengan guru tentang evaluasi proses pembelajaran.
Penutup • Mengingatkan atau mempersiapkan peserta didik untuk 10
tehnis-tehnis KBM mendatang. menit
• Menutup atau mengakhiri KBM seraya mengucapkan
salam.
Pertemuan 4

Kegiatan Deskripsi Alokasi


waktu
• Peserta didik merespon salam dan dilanjutkan dengan
pengondisian kelas.
• Tanya jawab tentang kajian teorikal perkembangan
pagelaran wayang pada pertemuan sebelumnya. 20
Pendahuluan • Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan
menit
pembelajaran sebelumnya (menceritakan kembali isi
carita wayang pada sebuah pagelaran wayang) dengan
penyusunan ubahan bentuk teks carita wayang dengan
pembelajaran yang akan dilaksanakan.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


78 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
Kegiatan Deskripsi Alokasi
waktu
• Peserta didik menerima informasi kompetensi, materi,
tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan
dilaksanakan.
• Tanya jawab tentang evaluasi pembelajaran sebelumnya,
serta pemberian motivasi untuk KBM yang selanjutnya.
• Peserta didik mengamati dan meninjau kembali teks
carita wayang yang telah disusunnya.
• Peserta didik mengamati langkah-langkah prosedural
menyusun carita wayang ke dalam bentuk lain.
• Masing-masing peserta didik mulai melakukan
perubahan bentuk cerita wayang ke dalam nasakah
drama.
• Masing-masing peserta didik mencoba menilai secara
subjektif atas tulisan temannya. 60
Inti • Masing-masing peserta didik membuat rincian tertulis
menit
pandangan atau penilaian terhadap tulisan temannya
sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang benar.
• Selama kegiatan berlangsung, guru berperan aktif
sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran peserta
didik.
• Peserta didik mengkomunikasikan pengalaman meng-
ubah carita wayang ke dalam naskah drama, di antaranya
berupa kesan-kesan, komentar, permasalahan, ataupun
hal-hal lainnya.

• Umpan balik antarpeserta didik dan antara peserta didik


dengan guru tentang evaluasi proses pembelajaran
Penutup • Mengingatkan atau mempersiapkan peserta didik untuk 10
tehnis-tehnis KBM mendatang menit
• Menutup atau mengakhiri KBM seraya mengucapkan
salam

LAMPIRAN-LAMPIRAN 79
H. PENILAIAN

Bentuk dan Instrumen Penilaian


a. Tes tulis bentuk uraian

Indikator Pencapaian Bentuk Instrumen Penilaian


Kompetensi Penilaian
1. Sebutkeun sasaruaan jeung bédana
• Mengidentifikasi carita wayang jeung dongéng!
ciri-ciri carita 2. Naon ciri-cirina carita wayang épos
wayang. India Mahabarata jeung Ramayana?
• Menyebutkan 3. Di mana tempat mimiti mekarna seni
babandingan Quisioner wayang golék di Pasundan téh?
carita wayang dan 4. Dina mangsa harita, saha nu nyekel
dongeng. & kakawasaan pamaréntahan Cirebon
• Menyebutkan téh?
isi cerita epos Tes Uraian 5. Salian ti wayang golék, di Pasundan
Mahabarata jeung téh kungsi aya wangun wayang naon
Ramayana deui? Di mana ayana? jeung sebutkeun
• Menganalsis lalakon caritana!
perkembangan 6. Saha ari Pandu Déwanata jeung
pagelaran wayang Déstrarata?
dalam sastra Sunda 7. Kumaha hubungan Déwi Kunti
jeung Déwi Gandari ka Pandu jeung
Déstrarata?
8. Ari pandawa lima téh saha waé? Kumaha
hubunganana jeung Dipati Karna?
9. Naon sababna para Pandawa dibéré
leuweung Wanamarta ku Déstrarata?
10. Ku naon pangna Pandawa jeung Kurawa
perang sadulur (Bratayuda)?

b. Penilaian Tugas
Aspek Penilaian Teks Carita Wayang
Nama Siswa KetepataKetepata Kedalam Sistemati Keotentika Skor Nilai
n n an ka n
Waktu Isi Isi Tulisan Tulisan
1. 80 90 90 80 80 420 84
2.
3.
4.
5.

KURIKULUM TINGKAT DAERAH


80 MULOK MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA
BERBASIS KURIKULUM 2013 REVISI 2017 JENJANG SMA/SMK/MA/MAK
6.
7.
....

c. Penilaian Keterampilan Menceritakan Kembali Carita Wayang

Aspek Penilaian Bercerita


Nama Siswa Lentong/ Tata Sikep/ Pidangan Skor Nilai
Wirahma Basa Pesemon

1. 85 80 85 80 330 82,5
2.
3.
4.
5.
….
-------------------- . ----------------

Mengetahui

Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran,

(.................................) (.......................................)

LAMPIRAN-LAMPIRAN 81