Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

OTITIS MEDIA EFUSI

Oleh :

Sriworo Noermalia Dewi 201510330311003

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS KEDOKTERAN

2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Otitis media efusi ( OME ) merupakan penyakit yang sering di derita oleh bayi dan
anak-anak. Diluar negeri, khususnya di Negara yang mempunyai 4 musim penyakit ini di
temukan dengan angka insiden dan prevalensi yang tinggi. Dari beberapa kepustakaan
dapat disimpulkan rata-rata insiden OME sebesar 14%-62%, sedang peneliti lain ada yang
melaporkan angka rata-rata prevelensi OME sebesar 2% - 52%.

Di Indonesia masih jarang ditemukan kepustakaan yang melaporkan angka


kejadian penyakit ini, hal ini di sebabkan kerena belum ada penelitian yang khusus
mengenai penyakit ini, atau tidak terdeteksi karena minimalnya keluhan pada anak yang
menderita OME.OME adalah peradangan telinga tengah yang di tandai dengan adanya
cairan efusi di rongga telinga tengah dengan membran timpani utuh tanpa disertai dengan
tanda-tanda ifeksi akut. OME termasuk dalam golongan otitis media non supuratif.
Terdapat banyak sinonim dari OME ini. Tetapi yang paling banyak diterima berdasarkan
terminologi adalah otitis media efusi.

Adanya cairan di dalam telinga tengah mengakibatkan terjadinya gangguan


pendengaran. Orang tua mengeluhkan anak-anaknya mendengarkan suara televise dengan
volume terlalu keras, sering menanyakan ulang atas jawaban yang diberikan orang tuanya
dan tidak segera mengacuhkan bila di panggil. Beberapa anak mungkin tidak didapatkan
keluhan. Cairan dalam telinga tengah pada anak-anak bisa berbulan-bulan dan baru
diketahui ketika diadakan pemeriksaan rutin.

Anak-anak memerlukan kemampuan mendengar untuk belajar berbicara. Adanya


gangguan pendengaran karena cairan di telinga tengah mengakibatkan terjadinya
kelambatan bicara. Diagnosis dan penatalaksanaan dini dapat mencegah hambatan
pendengaran anak akibat OME. Pada makalah ini akan disampaikan diagnosis dan
penatalaksanaan dari OME.

1.2 Batasan Masalah

Referat ini membahas mengenai otitis media serosa akut yang definisi, epidemiologi,
etiologi, patogenesis, diagnosis, pentalaksanaan, dan komplikasi otits media akut.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan referat ini adalah unutk memahami mengenai definisi, epidemiologi,
etiologi, patogenesis, diagnosis, pentalaksanaan, dan komplikasi otits media akut.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Otitis media efusi (OME) adalah suatu proses inflamasi mukosa telinga tengah
yang ditandai dengan adanya cairan non-purulen di telinga tengah tanpa tanda infeksi akut.
Nama lain penyakit ini antara lain glue ear, allergic otitis media, mucoid ear, otitis media
sekretoria, otitis media non-supuratif, dan otitis media serosa. Otitis media efusi adalah
inflamasi pada telinga tengah yang ditandai dengan adanya penumpukan cairan efusi di
telinga tengah dengan membran timpani utuh tanpa adanya tanda dan gejala inflamasi
akut.

2.2 Etiologi

Etiologi dan patogenesis OME bersifat multifaktorial antara lain infeksi virus atau
bakteri, gangguan fungsi tuba Eustachius, status imunologi, alergi, faktor lingkungan dan
sosial. Walaupun demikian tekanan telinga tengah yang negatif, abnormalitas imunologi,
atau kombinasi dari kedua faktor tersebut diperkirakan menjadi faktor utama dalam
pathogenesis OME. Faktor penyebab lainnya termasuk hipertropi adenoid, adenoiditis
kronis, palatoskisis, tumor nasofaring, barotrauma, terapi radiasi, dan radang penyerta
seperti sinusitis atau rinitis. Merokok dapat menginduksi hiperplasi limfoid nasofaring dan
hipertropi adenoid yang juga merupakan patogenesis timbulnya OME.

 Gangguan fungsi tuba

Gangguan fungsi tuba menyebabkan mekanisme aerasi ke rongga telinga tengah


terganggu, drainase dari rongga telinga ke rongga nasofaring terganggu dan gangguan
mekanisme proteksi rongga telinga tengah terhadap refluks dari rongga nasofaring. Akibat
gangguan tersebut rongga telinga tengah akan mengalami tekanan negatif. Tekanan negatif
di telinga tengah menyebabkan peningkatan permaebilitas kapiler dan selanjutnya terjadi
transudasi. Selain itu terjadi infiltrasi populasi sel-sel inflamasi dan sekresi kelenjar.
Akibatnya terdapat akumulasi sekret di rongga telinga tengah. Inflamasi kronis di telinga
tengah akan menyebabkan terbentuknya jaringan granulasi, fibrosis dan destruksi tulang.

Obstruksi tuba Eustachius ytang menimbulkan terjadinya tekanan negatif di telinga


tengah akan diikuti retraksi membran timpani. Orang dewasa biasanya akan mengeluh
adanya rasa tak nyaman, rasa penuh atau rasa tertekan dan akibatnya timbul gangguan
pendengaran ringan dan tinnitus. Anak-anak mungkin tidak muncul gejala seperti ini. Jika
keadaan ini berlangsung dalam jangka waktu lama cairan akan tertarik keluar dari
membran mukosa telinga tengah, menimbulkan keadaan yang kita sebut dengan otitis
media serosa. Kejadian ini sering timbul pada anak-anak berhubungan dengan infeksi
saluran nafas atas dan sejumlah gangguan pendengaran mengikutinya

3
 Infeksi

Infeksi bakteri merupakan faktor penting dalam patogenesis terjadinya OME sejak
dilaporkan adanya bakteri di telinga tengah. Streptococcus Pneumonia, Haemophilus
Influenzae, Moraxella Catarrhalis dikenal sebagai bakteri pathogen terbanyak ditemukan
dalam telinga tengah. Meskipun hasil yang didapat dari kultur lebih rendah. Penyebab
rendahnya angka ini diduga karena Penggunaan antibiotik jangka lama sebelum pemakian
ventilation tube akan mengurangi proliferasi bakteri patogen,Sekresi immunoglobulin dan
lisosim dalam efusi telinga tengah akan menghambat proliferasi patogen,Bakteri dalam
efusi telinga tengah berlaku sebagai biofilm

 Status Imunologi

Faktor imunologis yang cukup berperan dalam OME adalah sekretori Ig A.


immunoglobulin ini diproduksi oleh kelenjar di dalam mukosa kavum timpani. Sekretori
Ig A terutama ditemukan pada efusi mukoid dan di kenal sebagai suatu imunoglobulin
yang aktif bekerja dipermukaan mukosa respiratorik. Kerjanya yaitu menghadang kuman
agar tidak kontak langsung dengan permukaan apitel, dengan cara membentuk ikatan
komplek. Kontak langsung dengan dinding sel epitel adalah tahap pertama dari penetrasi
kuman untuk infeksi jaringan. Dengan demikian Ig A aktif mencegah infeksi kuman.

 Alergi

Bagaimana faktor alergi berperan dalam menyebabkan OME masih belum jelas. Akan
tetapi dari gambaran klinis di percaya bahwa alergi memegang peranan. Dasar
pemikirannya adalah analogi embriologik, dimana mukosa timpani berasal sama dengan
mukosa hidung. Setidak-tidaknya manifestasi lergi pada tuba Eustachius merupakan
penyebab okulasi kronis dan selanjutnya menyebabkan efusi. Namun demikian dari
penelitian kadar Ig E yang menjadi kriteria alergi atopik, baik kadarnya dalam efusi
maupun dalam serum tidak menunjang sepenuhnya alergi sebagai penyebab.

Etiologi dan patogenesis otitis media oleh karena alergi mungkin disebabkan oleh satu atau
lebih dari mekanisme di bawah ini, Mukosa telinga tengah sebagai organ sasaran ( target
organ ),Pembengkakan oleh karena proses inflamasi pada mukosa tuba Eustachius,
Obstruksi nasofaring karena proses inflamasi, danAspirasi bakteri nasofaring yang terdapat
pada sekret alergi ke dalam ruang telinga tengah.

2.3 Gejala Klinis

Penderita OME jarang memberikan gejala sehingga pada anak-anak sering


terlambat diketahui. Gejala OME ditandai dengan rasa penuh dalam telinga, terdengar
bunyi berdengung yang hilang timbul atau terus menerus, gangguan pendengaran dan rasa
nyeri yang ringan. Dizziness juga dirasakan penderita-penderita OME. Gejala kadang
bersifat asimtomatik sehingga adanya OME diketahui oleh orang yang dekat dengan anak
misalnya orang tua atau guru.

4
Anak-anak dengan OME juga kadang-kadang sering terlihat menarik-narik telinga
mereka atau merasa seperti telinganya tersumbat. Pada kasus yang lanjut sering ditemukan
adanya gangguan bicara dan perkembangan berbahasa. Kadang-kadang juga ditemui
keadaan kesulitan dalam berkomunikasi dan keterbelakangan dalam pelajaran

2.4 Patofisiologi

Otitis media dengan efusi (OME) dapat terjadi selama resolusi otitis media akut
(OMA) sekali peradangan akut telah teratasi. Di antara anak-anak yang telah memiliki
sebuah episode dari otitis media akut, sebanyak 45 % memiliki efusi persisten setelah 1
bulan, tetapi jumlah ini menurun menjadi 10 % setelah 3 bulan. Terdapat 3 fungsi utama
tuba eustachius yaitu ventilasi untuk menjaga agar tekanan udara antara telinga tengah dan
telinga luar selalu sama, pembersihan sekret dan sebagai proteksi pada telinga tengah.
Gangguan fungsi yang dapat disebabkan oleh sejumlah keadaan dari penyumbatan anatomi
peradangan sekunder terhadap alergi , infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) atau trauma.
Jika gangguan fungsi tuba eustachius berlangsung terus-menerus, tekanan negatif
berkembang dalam telinga tengah dari penyerapan dan atau penyebaran nitrogen serta
oksigen ke dalam sel mukosa telinga tengah. Jika berlangsung cukup lama dengan
sejumlah besar yang sesuai, terjadi transudasi dari mukosa akibat tekanan negatif yang
menyebabkan terjadinya akumulasi serosa dengan dasar efusi yang steril. Disebabkan
gangguan fungsi dari tuba eustachius, efusi menjadi media yang baik untuk
perkembangbiakan bakteri dan bisa mengakibatkan terjadinya otitis media akut.

Hampir keseluruhan otitis media efusi disebabkan gangguan fungsi tuba


eustachius. Apabila peradangan dan infeksi bakteri akut telah jelas, kegagalan dari
mekanisme pembersihan telinga tengah memungkinkan terjadinya efusi pada telinga
tengah. Banyak faktor yang telah terlibat dalam kegagalan dari mekanisme pembersihan ,
termasuk gangguan fungsi siliar, edema mukosa, hiperviskositas efusi, dan tekanan udara
antar telinga tengah dan telinga luar yang tidak baik.

2.5 Diagnosis

Diagnosis OME pada anak tidak mudah dan terdapat perbedaan yang bermakna
sesuai dengan kecakapan klinisi, khususnya di tingkat pelayanan primer atau dokter anak
yang mendiagnosisnya. Gejala tidak ada sensitif maupun spesifik, banyak anak justru
tanpa gejala. Pemeriksaan fisik pada anak penderita OME berpotensi tidak akurat kerena
kesan subjektif gambaran membran timpani sulit dinilai. Belum lagi anak-anak yang tidak
kooperatif saat dilakukan pemeriksaan. Namun enamnesis dan pemeriksaan fisik tetap
sangat berperan dalam mendiagnosis OME.

 Anamnesis

Dalam mendiagnosis OME diperlukan kejelian dari pemeriksa. Ini disebabkan


keluhan yang tidak khas terutama pada anak-anak. Anak mengeluh pendengaran
berkurang, biasanya ringan dan bisa dideteksi dengan audiogram. Selain itu, anak juga

5
mengeluh rasa tersumbat pada telinga atau suara sendiri terdengar lebih nyaring atau
berbeda (diplacusis binauralis) pada telinga yang sakit. Otalgia sering ringan. Pada anak
balita, gejala sulit dikenali, tetapi timbul gangguan bicara dan bahasa karena pendengaran
berkurang, kadang orang tua mengeluh anaknya berbicara dengan suara keras dan tidak
respons saat dipanggil. Kadang tidak ada gejala pada anak. Temuan lain yaitu adanya
riwayat bepergian dengan pesawat, diving, atau riwayat alergi.

Pada anak-anak dengan OME dari anamnesis keluhan yang paling sering adalah
penurunan pendengaran dan kadang merasa telinga merasa penuh sampai dengan merasa
nyeri telinga. Dan pada anak-anak penderita OME biasanya mereka juga sering didapati
dengan riwayat batuk pilek dan nyeri tenggorokan berulang. Pada anak-anak yang lebih
besar biasanya mereka mengeluhkan kesulitan menengarkan pelajaran di sekolah, atau
harus membesarkan volume saat menonton televisi di rumah. Orang tua juga sering
mendengarkan keluhan telinga anaknya terasa tidak nyaman atau sering melihat anaknya
menarik-narik daun telinganya.

 Pemeriksaan fisik

Untuk mendiagnosis OME pada pemeriksaan fisik perlu dilakukan pemeriksaan


otoskopi, timpanogram, audiogram dan kadang tindakan miringotomi untuk memastikan
adanya cairan dalam telinga tengah.

 Otoskopi

Pemeriksaan otoskopi dilakukan untuk kondisi, warna, dan translusensi membrana


tempani. Macam-macam perubahan atau kelainan yang terjadi pada membran timpani
dapat dilihat sebagaimana berikut :Membrana timpani yang suram dan berwarna
kekuningan yang menggati gambaran tembus cahaya selain itu letak segitiga reflek cahaya
pada kuadran antero inferior memendek, mungkin saja didapatkan pula peningkatan
pembuluh darah kapier pada membran timpani tersebut. Pada kasus dengan cairan mukoid
atau mukupurulen membrana timpani berwarna lebih muda( krem ).

Membrana timpani retraksi yaitu bila manubrium malei terlihat lebih pendek dan lebih
horizontal, membran kelihatan cekung dan reflex cahaya memendek. Warna mungkin akan
berubah agak kekuningan.Atelektasis, membrana timpani biasanya tipis, atropi dan
mungkin menempel pada inkus, stapes dan promontium, khusunya pada kasus-kasus yang
sudah lanjut, biasanya kasus yang seperti ini karena disfungsi tuba Eustachius dan otitis
media efusi yang sudah berjalan lama.Membrana timpani dengan sikatrik, suram sampai
retraksi berat disertai bagian yang atropi didapatkan pada otitis media adesiva oleh karena
terjadi jaringan fibrosis ditelinga tengah sebagai akibat proses peradangan sebelumnya
yang berlangsung lama.

Gambaran air fluid level atau bubles biasanya ditemukan pada OME yang berisi cairan
serus.

6
Membrana timpani berwarna biru gelap atau ungu diperlihatkan pada kasus
hematotimpanum yang disebabkan oleh fraktur tulang temporal, leukemia, tumor vaskuler
telinga tengah. Sedangkan warna biru yang lebih muda mungkin disebabkan oleh
barotraumas.

Gambaran lain adalah ditemukan sikatrik dan bercak kalisifikasi. Pada pemeriksaan
otoskopi menunjuk kecurigaan OME apabila ditemukan tanda-tanda :Tidak didapatkan
tanda-tanda radang akut.Terdapat perubahan warna membrana timpani akibat refleksi dari
adanya cairan didalam kavum timpani.Membran timpani tampak lebih menonjol.
Membran timpani retraksi atau atelektasis.Didapatkan air fluid levels atau buble, atau
Mobilitas membran berkurang atau fikasi.

 Timpanometri

Timpanometri memberikan penilaian objektif mobilitas membran timpani, fungsi


TE, dan fungsi telinga tengah dengan mengukur jumlah energi suara yang dipantulkan
kembali oleh probe kecil yang ditempatkan pada liang telinga. Prosedur ini tidak nyeri,
relatif sederhana, dan dapat dilakukan dengan portable screening unit. Hasil pemeriksaan
timpanometri disebut timpanogram.

Timpanometri digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis OME. Pada


timpanogram didapatkan hasil tipe B atau C. Tipe ini menunjukkan gerakan membran
timpani terbatas karena adanya cairan atau perlekatan dalam kavum timpani. Sensitivitas
dan spesifisitas timpanometri cukup tinggi (sensitivitas 94%, spesifisitas 50-70%) jika
dibandingkan dengan miringotomi.

 Audiogram

Dari pemeriksaan audiometrik nada murni didapatkan nilai ambang tulang dan
udara. Gangguan pendengaran lebih sering ditemukan pada pasien OME dengan cairan
yang kental (glue ear). Meskipun demikian beberapa studi mengatakan tidak ada
perbedaan yang signifikan antara cairan serus dan kental terhadap gangguan pendengaran,
sedangkan volume cairan yang ditemukan di dalam telinga tengah adalah lebih
berpengaruh.

 Radiologi

Pemeriksaan radiologi foto mastoid dahulu efektif digunakan untuk skrining OME,
tetapi sekarang jarang dikerjakan. Anamnesis riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
banyak membantu diagnosis penyakit ini.CT Scan sangat sensitive dan tidak diperlukan
untuk diagnosis. Meskipun CT scan penting untuk menyingkirkan adanya komplikasi dari
otitis media missal mastoiditis, trombosis sinus sigmoid ataupun adanya kolesteatoma. CT
scan penting khususnya pada pasien dengan OME unilateral yang harus dipastikan adanya
massa di nasofaring telah disingkirkan.

7
2.6 Penatalaksanaan

Diagnosis dan pengobatan sedini mungkin memegang peranan penting.


Keberhasilan dari penatalaksanaan ditentukan dengan mencari faktor penyebab dan
mengatasinya guna mencegah akibat lanjut penyakit tersebut. Sumbatan tuba dan infeksi
saluran nafas atas yang kronis serta berulang merupakan salah satu faktor yang penting
diperhatikan. Namun penatalaksanaan OME sendiri masih menjadi perdebatan, ini
disebabkan oleh karena baik pengobatan yang bersifat konservatif maupun tindakan
operatif, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pengobatan pada OME
meliputi pengobatan konservatif dan tindakan operatif. Pengobatan konservatif secara
local ( obat tetes hidung atau spray ) dan sistemik antara lain antibiotika spektrum luas,
antihistamin, dekongestan, dengan atau tanpa kortikosteroid. Pengobatan dan control
terhadap alergi dapat mengurangi atau menyembuhkan otitis media efusi.

Anti-histamin/ dekongestan

Pada berbagai percobaan klinis, efikasi anti-histamin/dekongestan tidak dapat dibuktikan.


Meta-analisis dari 3 uji coba acak yang membandingkan antihistamindekongestan dengan
plasebo untuk terapi OME tidak menunjukkan perbedaan (0%, confidence interval 95%:-7
s/d 7%). Tidak ada bukti untuk mendukung pemberian obat ini pada OME. Penelitian pada
1880 partisipan tidak menemukan manfaat klinis bermakna antihistamin/dekongestan.

Kortikosteroid

Secara teori, kortikosteroid bermanfaat untuk pengobatan OME. Mekanisme anti-


inflamasi terjadi karena penghambatan fosfolipase A2, yang kemudian menghambat
pembentukan asam arakidonat, sehingga menghambat sintesis mediator inflamasi,
peningkatan regulasi ion natrium transepitelial, menyebabkan pengosongan cairan dari
telinga tengah dan menekan produksi musin dengan cara menekan musin5ac (MUC5AC).
Bukti ilmiah perbaikan jangka pendek penggunaan kortikosteroid intranasal masih
terbatas.

Clinical practice guideline dari American Academy of Otolaryngology-Head and


Neck Surgery tidak merekomendasikan penggunaan kortikosteroid oral ataupun intranasal.
Metaanalisis menunjukkan tidak ada manfaat steroid oral dalam 2 minggu, tetapi steroid
oral dengan antimikroba lebih bermanfaat jangka pendek dibandingkan antimikroba saja;
setelah beberapa minggu perbedaan manfaat tidak signifikan. Outcome setelah 12 minggu
penggunaan kortikosteroid intranasal plus antibiotik ekuivalen dengan pemberian
antibiotik saja.

Antibiotik

Banyaknya studi yang menunjukkan bakteri pada cairan efusi, menyebabkan


amoksisilin dipergunakan sebagai antibiotik lini pertama. Mendel, et al, melaporkan pada
518 pasien anak dengan OME, penyembuhan dengan amoksilin dengan atau tanpa

8
kombinasi antihistamin dekongestan 2 kali lebih tinggi dibandingkan plasebo. Namun,
antibiotik rutin tidak dianjurkan karena risiko resistensi.21 Penggunaan antibiotik jangka
panjang dengan atau tanpa kortikosteroid tidak terbukti efektif untuk OME.

Ciprofloxacin topikal (fluoroquinolon ototopikal) juga dapat digunakan.31


Fluoroquinolon tidak menyebabkan toksisitas koklear atau vestibuler. Penggunaannya
diindikasikan pada pasien OME bilateral pediatrik yang sudah dioperasi dengan
myringotomi-tube insertion. Dosisnya 6 mg pada masing-masing telinga kemudian cairan
efusi diisap dengan suction.

Miringotomi

Miringotomi (timpanostomi) - pemasangan pipa ventilasi untuk evakuasi cairan


dari dalam telinga tengah. Tujuannya adalah menghilangkan cairan di telinga tengah,
mengatasi gangguan pendengaran, mencegah kekambuhan, mencegah gangguan
perkembangan kognitif, bicara, bahasa, dan psikososial.

Indikasi pembedahan pada OME tergantung status pendengaran, gejala, risiko


tumbuh kembang, dan kemungkinan efusi sembuh spontan. Operasi dilakukan setelah
pengobatan konservatif selama 3 bulan gagal. Daniel, et al, menemukan bahwa seperempat
kasus perlu miringotomi dengan pemasangan pipa ventilasi dalam 2 tahun. Untuk kasus
OME unilateral dengan pendengaran normal pada telinga kontralateral, pipa ventilasi
direkomendasikan setelah 6 bulan.

Adenoidektomi

Adenoidektomi dengan pemasangan miringotomi pipa ventilasi direkomendasikan


pada anak usia 4 tahun atau lebih. Untuk anak usia di bawah 4 tahun, adenoidektomi
dilakukan jika terdapat hipertrofi adenoid yang menimbulkan keluhan hidung buntu dan
adenoiditis kronik.27 Pasien OME usia 2-11 tahun yang menjalani adenoidektomi atau
miringotomi dengan pemasangan pipa ventilasi hasilnya lebih baik daripada tanpa pipa.

Penelitian pada 578 anak-anak berusia 4 sampai 8 tahun di Texas dengan OME
kronis yang tidak respons terhadap antibiotik merekomendasikan bahwa adenoidektomi
dan miringotomi dengan pemasangan pipa ventilasi lebih baik daripada miringotomi
saja.33 Berdasarkan data tersebut, adenoidektomi dan miringotomi dengan pemasangan
pipa ventilasi direkomendasikan sebagai pilihan pertama untuk terapi OME kronik pada
anak dengan usia ≥4 tahun (Gambar 4).

Pada pasien usia 6 bulan hingga 12 tahun dengan diagnosis OME persisten (≥3
bulan) dilakukan tes pendengaran. Apabila didapatkan hasil OME kronik bilateral dan
kesulitan pendengaran, disarankan timpanostomi dengan pemasangan pipa ventilasi; jika
orang tua tidak setuju, pasien anak dievaluasi setiap 3 bulan hingga 6 bulan sampai efusi
tidak ada lagi, terdapat gangguan pendengaran signifikan, atau dicurigai abnormalitas
struktural.

9
Pada pasien OME usia 6 bulan hingga 12 tahun dengan faktor risiko, diperiksa lagi dengan
timpanogram tipe B. Jika didapatkan OME kronis unilateral atau bilateral, disarankan
timpanostomi dengan pemasangan pipa ventilasi. Jika tidak, anak dievaluasi hingga OME-
nya sembuh; OME dapat menjadi persisten setelah ≥3 bulan, atau terdapat timpanogram
tipe B.

Pengobatan secara operatif dilakukan pada kasus dimana setelah dilakukan


pengobatan konservatif selam lebih dari 3 bulan tidak sembuh. Untuk memberikan hasil
yang baik terhadap drainase dilakukan miringotomi dan pemasangan pipa ventilasi. Pipa
ventilasi dipasang pada daerah kuadran antero inferior atau antero superior. Pipa ventilasi
akan dipertahankan sampai fungsi tuba ini paten. Penatalaksanaan secara operatif meliputi
mirigotomi dengan atau tanpa pemasangan pipa ventilasi dan adenoidektomi dengan atau
tanpa tonsilektomi. Tujuan pemasangan pipa ventilasi adalah menghilangkan cairan pada
telinga tengah, mengatasi gangguan pendengaran yang terjadi, mencegah kekambuhan,
mencegah gangguan perkembangan kognitif, bicara, bahasa dan psikososial.

2.7 Komplikasi

Akibat lanjut OME dapat mengakibatkan hilangnya fungsi pendengaran sehingga akan
mempengaruhi perkembangan bicara dan intelektual. Perubahan yang terjadi pada telinga
tengah dapat mengakibatkan penyakit berlanjut menjadi otitis media adesiva dan otitis
media kronis maligna.

10
BAB III
KESIMPULAN

OME sering terjadi pada bayi dan anak-anak sehingga cukup sulit dalam melakukan
diagnosis penyakitnya. Orang terdekat dan banyak berinteraksi dengan anak tersebut akan
menjadi sumber informasi yang baik. Perhatian orang tua dan guru sangat membantu dalam
menegakkan diagnosis.Etiologi dan patofisiologi OME sangat multifaktorial, saling
menunjang dan saling terkait. Pada bayi dan anak, status imunologi sangat penting untuk
menjaga daya tahan tubuh terhadap infeksi.Anamnesis dan pemeriksaan fisik diperlukan
dalam penegakan diagnosis OME. Penggunaan alat otoskopi pneumatik, timpanometri,
audiometric untuk pemeriksaan fisik sangat membantu dalam menegakan diagnosis.

Pengobatan pada OME meliputi pengobatan konservatif dan tindakan operatif.


Pengobatan konservatif meliputi pemberian antibiotika, antihistamin, dekogestan, dengan
atau tanpa kortikosteroid. Penatalaksanaan secara operatif meliputi mirigotomi dengan atau
tanpa pemasangan pipa ventilasi dan adenoidektomi dengan atau tanpa tonsilektomi.
Penatalaksanaan yang cepat, tepat dan adekuat sangat berperan dalam menghambat terjadinya
proses gangguan pendengaran dan komplikasi lainnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu
kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001.

Helmi. Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam: Soepardi EA,
Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi
kelima. Jakarta: FKUI, 2001.

Irwan AG. Sugianto. Atlas bewarna teknik pemeriksaan kelainan telinga hidung tenggorok.
FK UNSRI. Penerbit buku kedokteran EGC

Megantara, Imam. 2008. Informasi Kesehatan THT: Otitis Media Efusi. [5 screens]
.Available from: http://www.perhati-kl.org/

Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Effendi
H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC

Thrasher, Richard D. 2009. Middle Ear, Otitis Media With Effusion [10 screens]. Available
from: http://www.emedicine.medscape.com/ 9Admin .

Otitis Media Akut.2009. [15 screens]. Available from: http://www.medlinux. /2009/2/otitis-


media-akut.http

12
13