Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT PADA PASIEN TUMOR PRIMER


CEREBRI

A. Definisi
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus
dipenuhi oleh semua orang. Istirahat dan tidur yang cukup, akan membuat
tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri memiliki
makna yang berbeda pada setiap individu. Istirahat berarti suatu keadaan
tenang, relaks, tanpa tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah.
Beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Berjalan-
jalan di taman terkadang juga bisa dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat.
Setiap manusia membutuhkan waktu tidur kurang lebih sekitar
sepertiga waktu hidupnya atau sekitar 6-8 jam sehari. Secara alami dan
otomatis jika tubuh lelah maka kita akan merasa mengantuk sehingga
memaksa tubuh kita untuk beristirahat secara fisik dan mental. Menurut
penelitian, orang yang tidur selama 6,5 sampai 7,5 jam dalam sehari akan
memiliki hidup yang lebih panjang dari pada yang tidurnya hanya memakan
waktu kurang dari 6,5 jam atau lebih dari 8 jam perhari (Japan Epidemiology
Association).
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua sistem pada batang otak,
yaitu Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region
(BSR). RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang
dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran, memberi stimulus visual,
pendengaran, nyeri, dan sensori raba, serta emosi dan proses berfikir. RAS
melepaskan katekolamin pada saat sadar, sedangkan pada saat tidur terjadi
pelepasan serum serotonin dari BSR.
Gangguan pola tidur adalah keadaan ketika individu mengalami atau
berisiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas pola
istirahatnya yangmenyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya
hidup yang diinginkannya (Lynda juall, 2012)
Pada pasien dengan diagnosa tumor otak atau tumor serebri
kemungkinan besar akan mengalami gangguan pada kebutuhan dasar, salah
satunya kebutuhan akan tidur dan istirahat. Pada pasien tumor otak akan
mengalami peningkatan masa otak sehingga tubuh akan mengkompensasi
dengan terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah otak dan mempercepat
absorbs cairan serebrospinalis. Gejala yang ditimbulkan dari kompensasi
tubuh ini adalah penekanan intracranial, mual, muntah proyektif, hipertensi
dan nyeri pada kepala yang akan mempengaruhi pasien untuk bisa tidur dan
beristirahat

B. Tahapan Tidur
Tahapan tidur terdapat tidur tenang atau nonREM (non rapid eye
movement) dan tidur aktif atau REM, Tidur nonREM terdiri dari 4 tahap,
dimana setiap tahapnya mempunyai ciri tersendiri. Pada tidur tahap I terjadi
bila merasakan ngantuk dan mulai tertidur. Jika telepon berbunyi atau ada
sesuatu sampai terbangun, sering kali tidak merasakan bahwa sebenarnya kita
telah tertidur. Gelombang listrik otak memperlihatkan ‘gelombang alfa’
dengan penurunan voltase. Tahap I ini berlangsung 30 detik sampai 5 menit
pertama dari siklus tidur.
Tidur tahap II, seluruh tubuh kita seperti berada pada tahap tidur yang
lebih dalam. Tidur masih mudah dibangunkan, meskipun kita benar-benar
berada dalam keadaan tidur. Periode tahap 2 berlangsung dari 10 sampai 40
menit. Kadang-kadang selama tahap tidur 2 seseorang dapat terbangun karena
sentakan tiba-tiba dari ekstremitas tubuhnya. Ini normal, kejadian sentakan
ini, sebagai akibat masuknya tahapan REM.
Tahap 3 dan 4. Tahap ini merupakan tahap tidur nyenyak. Pada tahap
3, Orang yang tertidur cukup pulas, rileks sekali karena tonus otot lenyap
sama. Tahap 4 mempunyai karakter : tanpa mimpi dan sulit dibangunkan, dan
orang akan binggung bila terbangun langsung dari tahap ini, dan memerlukan
waktu beberapa menit untuk meresponnya. Pada tahap ini, diproduksi
hormone pertumbuhan guna memulihkan tubuh, memperbaiki sel,
membangun otot dan jaringan pendukung. Perasaan enak dan segar setelah
tidur nyenyak, setidaktidaknya disebabkan karena hormon pertumbuhan
bekerja baik.
Menurut Tarwoto & Wartonah, (2015) tahapan NonREM mempunyai
karakter sebagai berikut : NonREM Tahap I kedaan ini masih dapat
merespons cahaya, berlangsung beberapa menit, aktivitas fisik menurun, tanda
vital dan metabolisme menurun, bila terbangun terasa sedang mimpi.
NonREM Tahap II tubuh mulai relaksasi otot, berlangsung 10 – 20 menit,
fungsi tubuh berlangsung lambat, dapat dibangunkan dengan mudah.
NonREM Tahap III adalah awal dari keadaan tidur nyenyak, sulit di
bangunkan, relaksasi otot menyeluruh, tekanan darah menurun, berlangsung
15 – 30 menit. NonREM Tahap IV sudah terdapat tidur nyenyak, sulit untuk
di bangunkan, untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun, sekresi
lambung menurun, gerak bola mata cepat.
Tahap tidur REM sangat berbeda dari tidur nonREM. Tidur REM
adalah tahapan tidur yang sangat aktif. Pola nafas dan denyut jantung tak
teratur dan tidak terjadi pembentukan keringat. Kadang-kadang timbul
twitching pada tangan, kaki, atau muka, dan pada laki-laki dapat timbul ereksi
pada periode tidur REM. Walaupun ada aktivitas demikian orang masih tidur
lelap dan sulit untuk dibangunkan. Sebagian besar anggota gerak tetap lemah
dan rileks. Tahap tidur ini diduga berperan dalam memulihkan pikiran,
enjernihkan rasa kuatir dan daya ingat dan mempertahankan fungsi sel-sel
otak.
Siklus tidur pada orang dewasa biasanya terjadi setiap 90 menit. Pada
90 menit pertama seluruh tahapan tidurnya adalah NonREM. Setelah 90
menit, akan muncul periode tidur REM, yang kemudian kembali ke tahap
tidur NonREM. Setelah itu hampir setiap 90 menit tahap tidur REM terjadi.
Pada tahap awal tidur, periode REM sangat singkat, berlangsung hanya
beberapa menit. Bila terjadi gangguan tidur, periode REM akan muncul lebih
awal pada malam itu, setelah kira-kira 30-40 menit. Orang itu akan
mendapatkan tidur tahap 3 & 4 lebih banyak. Selama tidur, tahapan tidur akan
berpindah-pindah dari satu tahap ke tahapan yang lain, tanpa harus menuruti
aturan yang biasanya terjadi. Artinya suatu malam, mungkin saja tidak ada
tahap 3 atau 4. Tapi malam lainnya seluruh tahapan tidur akan didapatkannya.
(Widodo DP, 2014).
Karakteristik tidur REM meliputi : mata cepat tertutup dan terbuka,
kejang otot kecil, otot besar imobilisasi, pernapasan tidak teratur, kadang
dengan apnea, nadi cepat dan ireguler, tekanan darah meningkat atau
fluktuasi, sekresi gaster meningkat, metabolisme meningkat, temperatur tubuh
naik, siklus tidur : sulit di bangunkan (Alimul, 2014)

C. Penyebab gangguan pola tidur dan istirahat pada pasien tumor otak
i. Nyeri kepala
Nyeri bersifat dalam, terus menerus, dan kadang-kadang bersifat hebat
sekali. Biasanya paling hebat pada pagi hari dan diperberat saat
beraktifitas, yang biasanya menyebabakan peningkatan TIK yaitu
batuk, membungkuk dan mengejan.
ii. Nausea dan muntah
Akibat rangsangan pada medula oblongata. Rasa tidak nyaman yang
ditimbulkan oleh rasa mual dan muntah akan berdampak pada pola
istirahat dan tidur pasien.
D. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Remelda (2012) untyk mendiagnosis seseorang mengalami
gangguan pola tidur atau tidak dapat dilakukan pemeriksaan melalui penilaian
terhadap:
i. Pola tidur pasien
ii. Tingkatan stress psikis
iii. Riwayat medis
iv. Aktivitas fisik

Tidur dapat diukur secara objektif dengan menggunakan alat yang


disebut polisomnografi. Alat ini dapat merekam elektroensefalogram (EEG),
elektromiogram (EMG), dan elektro-okulogram (EOG) sekaligus. Dengan alat
ini kita dapat mengkaji aktivitas klien selama tidur. Aktivitas yang klien
lakukan tanpa sadar tersebut bisa jadi merupakan penyebab seringnya klien
terjaga di malam hari. The Multiple Sleep Latency Test (MSLT) memberikan
informasi yang objektif tentang kantuk dan aspek-aspek tertentu dari struktur
tidur dan mengukur gerakan mata menggunakan EOG, perubahan tonus otot
menggunakan EMG, dan aktivitas listrik otak menggunakan EEG. Klien dapat
memekai Actigraph pada pergelangan tangan untuk mengukur pola tidur
selama jangka waktu tertentu. Data Actigraphy memberika informasi waktu
tidur, efisiensi tidur, jumlah durasi waktu jaga, serta tingkat aktivitas dan
istirahat (Buysse, 2012).

E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan utama pada pasien tumor adalah mengangkat semua
tumor yang memungkinkan defisit neurologis (paralisis, kebutaan), terapi
radiasi, kemoterapi, atau kombinasi dari keduanya. Evaluasi dan pengobatan
harus dilakanakan sesegera mungkin sebelum terjadi kerusakan neurologis
yang tidak dapat pulih kembali. Sebagian besar pasien menjalani prosedur
pembedahan diikuti dengan radiasi dan kemudian kemoterapi. Sebelum
pengangkatan tumor dan penatalaksanaan utamanya, maka akan diberikan
penatalaksanaan lain untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada pasien.
Berikut penatalaksanaan untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang
mengganggu pola tidur dan istirahat pada pasien:
a) Terapi relaksasi
Terapi ini ditujukan untuk mengurangi ketegangan atau stress yang
dapat mengganggu tidur. Bisa dilakukan dengan tidak membawa
pekerjaan kantor ke rumah, teknik pengaturan pernapasan,
aromaterapi, peningkatan spiritual dan pengendalian emosi.
b) Imagery Training
Imagery Training berguna untuk mengganti pikiran-pikiran si penderita
yang tidak menyenangkan menjadi pikiran-pikiran yang menyenangkan
c) Terapi farmakologis
Menurut Remelda (2012) untuk tindakan medis pada pasien gangguan
tidur yaitu dengan cara pemberian obat golongan hipnotik-sedatif
misalnya: Benzodiazepin (Diazepam, Lorazepam, Triazolam,
Klordiazepoksid) tetapi efek samping dari obat tersebut mengakibatkan
Inkoordinsi motorik, gangguan fungsi mental dan psikomotor, gangguan
koordinasi berpikir, mulut kering, dsb
Dapus
Tarwoto dan Wartonah.,2015. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan . Edisi :4 .Jakarta

Carpenito, L.J.(2012).Diagnosis keperawatan : Bukusaku / Lynda juall


Carpenitomoyet; alihbahasa, Fruriolina Ariani, EstuTiar; editor edisibahasa
Indonesia, Ekaanisa Mardela … [et al] – Edisi 13 – Jakarta : EGC

A.Azis Alimul Hidayat & Musrifatul Uliyah. ( 2014 ). Pengantar kebutuhan


dasar manusia. Edisi 2. Jakarta : Salemba medika

Buysse, D. J., et al. (2012). The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI): A new
Instrument for Psychiatric Practice and Research, Pittsburgh: Elsevier
Scientific Publishers Ireland Ltd. Diakses tanggal 20 april 2014