Anda di halaman 1dari 37

Senyawa aromatik adalah senyawa hidrokarbon dengan ikatan tunggal dan ikatan

rangkap diantara atom-atom karbonnya .Benzena adalah senyawa organik dengan rumus
molekul C6H6. Benzena tersusun atas 6 buah atom karbon yang bergabung membentuk
sebuah cincin, dengan satu atom hidrogen yang terikat pada masing-masing atom. Karena
hanya terdiri dari atom karbon dan hidrogen, senyawa benzena dapat dikategorikan ke dalam
hidrokarbon.
Persyaratan Senyawa Aromatik
1. Molekul harus siklik dan datar
2. memiliki orbital p yang tegak lurus pada bidang cincin
(memungkinkan terjadinya delokalisasi elektron pi)
3. Memiliki elektron pi = 4n + 2 (aturan Huckle) ;
n = bilangan bulat
Senyawa aromatik dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1. Heterosiklik
2. Polisiklik

A. Tata Nama Senyawa Aromatik

\
Senyawa Aromatik Polisiklik
 dicirikan oleh cincin-cincin yang memakai atom-atom karbon tertentu secara
bersama-sama oleh pi aromatik biasa
 Sebagian derivatnya berbentuk zat padat

Naftalena Antrasena Fenantrena

Senyawa Hidrokarbon Aromatik Polisiklik


B. Pengikatan dalam Senyawa Aromatik Polisiklik
Tiga kriteria sistem cincin monosiklik bersifat aromatik yaitu:
 Tiap atom dalam sistem cincin harus mempunyai suatu orbital p yang tersedia
untuk pengikatan
 Sistem cincin harus datar
 Harus terdapat (4n+2) elektron pi dalam sistem cincin itu.
Dalam senyawa polisiklik, banyaknya elektron pi mudah dihitung bila digunakan rumus
Kekule.

4n + 2 = 6 4n + 2 = 10 4n = 8
n=1 n=2 non aromatik
aromatik aromatik

Mengapa dengan 6 atau 10 elektron pi bersifat aromatik, sedangkan 8 elektron pi tidak ?


Karena agar bersifat aromatik, semua elektron pi harus berpasangan, sehingga dimungkinkan
overlapping (tumpang tindih) yang optimal sehingga terjadi delokalisasi sempurna.

C. Oksidasi Senyawa Aromatik Polisiklik

Senyawa Polisiklik lebih reaktif terhadap oksidasi, reduksi dan substitusi elektrofilik
daripada benzena. Reaktivitas yang lebih besar ini disebabkan oleh dapatnya senyawa
polisiklik bereaksi pada satu cincin dan masih tetap mempunyai satu cincin benzena atau
lebih yang masih utuh dalam zat antara dan dalam produk. Benzena tidak mudah dioksidasi,
namun naftalena dapat dioksidasi produk-produk dalam mana sebagian besar aromatisitas
dipertahankan, anhidrida asam ftalat dibuat secara komersial dengan cara mengoksidasi
naftalena.
1,4-naftakuinon dapat diisolasi dari suatu oksidasi naftalena

Antrasena dan fenantrena dapat juga dioksidasi menjadi kuinon


D. Reduksi Senyawa Aromatik Polisiklik
Senyawa polisiklik dapat dihidrogenasi parsial tanpa kalor dan tekanan, atau dapat
direduksi dengan natrium dan etanol.
E. Reaksi Substitusi Elektrofilik Naftalena
Reaksi substitusi elektrofilik adalah reaksi suatu senyawa aromatis dengan suatu
elektrofil sehingga dihasilkan suatu produk substitusi, dengan elektrofil menjadi
substituen baru menggantikan suatu gugus pergi yang pada umumnya adalah H+.
Benzena, benzena tersubstitusi, dan hampir semua senyawa aromatis mengalami jenis
reaksi ini, termasuk senyawa polisiklis aromatis. Senyawa polisiklis aromatis bahkan
lebih reaktif terhadap serangan elektrofil daripada benzena. Berbagai jenis elektrofil
dapat mengalami substitusi elektrofilik pada senyawa polisiklis aromatis. Naftalena
misalnya dapat mengalami brominasi, nitrasi, sulfonasi, atau asilasi dengan kondisi
reaksi yang lebih ringan. Antrasena, fenantrena, dan senyawa-senyawa polisiklis
aromatis cincin terpadu yang lebih besar bersifat lebih reaktif terhadap substitusi
elektrofilik dari naftalena. Akan tetapi reaksi-reaksi ini menghasilkan campuran
produk yang seringkali sulit dipisahkan, sehingga tidak banyak digunakan dalam
kegiatan sintesis.

Gambar. Beberapa reaksi substitusi elektrofilik pada naftalena


Untuk dapat mengetahui penyebab reaksi substitusi pada naftalena lebih mudah
berlangsung dari reaksi pada benzena, dan penyebab posisi lebih disukai dari posisi
lainnya, maka mekanisme substitusi elektrofilik pada naftalena perlu diketahui. Mekanisme
substitusi elektrofilik pada naftalena tidak berbeda dengan mekanisme substitusi elektrofilik
pada benzena. Kedua reaksi tersebut berlangsung melalui intermediet (zat antara) Wheland.
Secara umum, mekanisme reaksi substitusi elektrofilik pada naftalena ditunjukkan dalam
Gambar.
Bila substitusi terjadi pada posisi

Gambar. Mekanisme umum substitusi elektrofilik pada naftalena

Bila dibandingkan dengan benzena, maka zat antara pada substitusi elektrofilik
naftalena lebih disukai atau berenergi lebih rendah, karena masih mempunyai struktur cincin
benzena yang utuh. Untuk mengubah benzena menjadi ion benzenium yang merupakan zat
antara substitusi elektrofilik benzena, diperlukan energi sebesar 36 kkal/mol untuk merusak
kearomatisan benzena. Tetapi untuk naftalena dibutuhkan kurang lebih 25 kkal/mol sehingga
energi aktivasi yang dibutuhkan pun lebih rendah. Selain itu posisi karena posisi tersebut
menunjukkan dua penyumbang utama dalam cincin benzen yang utuh. Zat antara pada posisi
hanya mempunyai satu struktur resonansi penyumbang cincin benzenoisnya yang utuh
karena itu posisi ini kurang terstabilkan resonansi.
Terdapat lima struktur resonansi zat antara yang menghasilkan substitusi pada posisi
, jumlah yang sama ditunjukkan pula bila substitusi berlangsung pada posisi . Walaupun
demikian, pada struktur-struktur resonansi zat antara yang menghasilkan substitusi pada
posisi terdapat dua struktur yang bersifat benzenoid (yaitu, struktur yang masih
mempertahankan cincin benzena). Struktur benzenoid masih mempertahankan sebagian sifat
aromatis, sehingga menjadi penyumbang utama terhadap kestabilan zat antara.
Berbeda halnya jika substitusi berlangsung pada posisi , hanya terdapat satu
struktur resonansi yang bersifat benzenoid. Dengan demikian, struktur zat antara substitusi
lebih stabil dari substitusi . Oleh karena itu, dapat dimengerti bila substitusi naftalena pada
posisi lebih disukai dari substitusi pada posisi . Hal ini berlaku pula pada reaksi
halogenasi dan nitrasi.

Hal menarik terjadi pada reaksi sulfonasi naftalena. Pada temperatur tinggi (160oC),
naftalena dapat disulfonasi pada posisi , sedangkan pada temperatur rendah, naftalena
tersulfonasi pada posisi .
Ketergantungan reaksi sulfonasi naftalena pada temperatur menunjukkan bahwa reaksi
tersebut bersifat reversibel. Bila reaksi dikendalikan oleh faktor kinetika atau faktor cepat-
lambatnya reaksi, maka reaksi akan lebih memilih yang berlangsung melalui jalur berenergi
aktivasi lebih rendah. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, zat antara yang menghasilkan
produk substitusi berenergi lebih rendah, sehingga berenergi aktivasi lebih rendah pula.
Dengan demikian, produk substitusi yaitu asam 1-naftalenasulfonat akan merupakan
produk utama bila reaksi dilakukan pada suhu rendah atau dikendalikan oleh faktor kinetika.
Akan tetapi, bila reaksi dilakukan pada temperatur yang mencukupi, reaksi akan lebih
memilih untuk berlangsung melalui jalur yang menghasilkan produk yang lebih stabil
sekalipun jalur tersebut mempunyai energi aktivasi yang lebih tinggi. hal ini yang terjadi,
maka dikatakan reaksi dikendalikan oleh faktor termodinamika, yaitu faktor kestabilan
produk yang diperoleh.
Dari sudut pandang kestabilan, asam 1-naftalensulfonat lebih stabil dari asam 2-
naftalensulfonat. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari sudut pandang energi. Berdasarkan
perhitungan dan pengukuran, ΔG lebih negatif dari ΔG , menunjukkan bahwa asam 2-
naftalensulfonat lebih stabil dari asam 1-naftalen-sulfonat. Hal ini dapat dimengerti, karena
pada asam 1-naftalensulfonat gugus sulfonat yang berukuran besar berada pada posisi lebih
sesak, dibandingkan dengan pada posisi (Gambar).
Gambar. Struktur asam 1-naftalensulfonat dan asam 2-naftalensulfonat

Diagram koordinat reaksi untuk sulfonasi naftalena ditunjukkan pada Gambar.


Perhatikan bahwa walaupun ΔG ±
lebih rendah dari ΔG ±
, akan tetapi ΔG lebih negatif
dari ΔG . Dengan demikian bila reaksi berlangsung pada suhu yang rendah, reaksi akan
±
lebih memilih melalui jalur yang mempunyai energi aktivasi rendah (ΔG ), yaitu yang
menghasilkan asam 1-naftalenasulfonat. Dikatakan bahwa asam 1-naftalenasulfonat
merupakan produk kendali kinetika. Akan tetapi, bila reaksi berlangsung pada suhu yang
lebih tinggi, reaksi akan memilih jalur yang menghasilkan produk yang lebih stabil, yaitu
yang mempunyai ΔG lebih negatif (yaitu ΔG yang menghasilkan asam 2-naftalensulfonat),
±
meskipun harus melalui jalur yang berenergi aktivasi lebih tinggi (ΔG ). Kendala energi
aktivasi yang tinggi dapat teratasi dengan temperatur reaksi tinggi. Dikatakan bahwa asam 2-
naftalensulfonat merupakan produk kendali termodinamika.

Dikatakan bahwa asam 2-naftalensulfonat merupakan produk kendali termodinamika.

pada 160oC reaksi lebih banyak yang mengikuti


jalur ini

G G

pada 80oC reaksi lebih banyak


yang mengikuti jalur ini G
SO3
H

Koordinat reaksi

Gambar. Diagram energi sulfonasi naftalena


F. Tatanama Senyawa Heterosiklik Aromatik
Senyawa heterosiklik merupakan senyawa kimia yang mempunyai struktur cincin
yang mengandung atom selain karbon seperti S, O, ataupun N yang merupakan bagian
dari cincin tersebut. Senyawa heterosiklik dapat berupa cincin aromatik sederhana
ataupun cincin non-aromati contohnya piridina, tiazola, imidiazola, pirimidina, dan
dioksana.

N
Struktur Piridina
Tatanama heterosiklik:
 Nama trivial biasanya diletakkan sebelum nama struktur. Nama trivial cincin
heterosiklik diberikan berdasarkan karakteristik senyawa tersebut atau dari
mana senyawa tersebut diperoleh. Misalnya: Picoline, Furfurol, Pyrrole.
 Penomoran dimulai dari gugus selain karbon pada cincin heterosiklik.
4
5
3

6 2
N
1
 Penamaan dapat menggunakan huruf yunani untuk menandai posisi cincin.


 
N
 Untuk heteromonosiklik yang jenuh sebagian, digunakan awalan ‘dihydro’,
‘tetrahydro’.
 Ketika ada dua atau lebih heteroatom yang sama, maka digunakan awalan, di-,
tri- yang ditempatkan sebelum awalan yang digunakan untuk heteroatom
tersebut.

 Ketika ada dua atau lebih heteroatom berbeda pada cincin yang sama, awalan
dari heteroaton digabungkan secara berurutan.
Tabel. Senyawa aromatik heterosiklik

G. Piridina

Senyawa heterosiklik dengan enam anggota yang paling umum adalah piridina.
Piridina memiliki struktur sama dengan benzena, berupa cincin datar dengan lima atom
karbon dan satu atom nitrogen. Setiap atom dalam cincin terhibridisasi secara sp2. Oleh
karena piridina memiliki satu atom nitrogen yang bersifat elektronegatif maka senyawa
piridina bersifat polar, sedangkan benzena bersifat nonpolar. Ikatan dalam piridin, yang
menunjukkan persamaan dengan ikatan yang terdapat dalam benzene. Akan tetapi, ada
suatu perbedaan yaitu sifat elektronegatif nitrogen dari piridin akan mengurangi sejumlah
electron dari cincin yang menyebabkan cincin karbon kurang negatif. Oleh karena kurang
electron dalam cincin karbonnya, piridin tidak mudah mengalami reaksi subtitusi
aromatic elektrofil.


N -

Perbedaan lain antara piridin dan benzene adalah nitrogen dalam piridin mengandung
pasangan electron sunyi piridin, seperti amina alifatik, Piridina tidak dapat dialkilasi atau
diasilasi seperti pada benzena melalui reaksi Friedel-crafts. Piridina dapat disubstitusi
oleh bromin hanya pada suhu tinggi dalam fasa uap sehingga diduga reaksi berlangsung
melalui pembentukan radikal bebas. Reaksi substitusi terjadi pada posisi karbon nomor 3.

Kesamaan lain antara piridina dan benzene adalah keduanya tahan terhadap
serangan oksidasi. Reaksi oksidasi dapat terjadi pada gugus samping, sedangkan
cincinnya tetap utuh

1) Reaksi Substitusi nukleofilik pada cincin piridina

Reaksi sunstitusi nukleofilik ini terjadi karena sifat cincin piridina yang bersifat lebih
parsial positif sehingga memungkinkan nukleofilik untuk menyerang cincin. Substitusi ini
akan berlangsung sangat mudah pada posisi 2 dan 4, dikarenakan pada posisi 2 zat antara
yang bertindak sebagai penentu laju reaksi terstabilkan resonansi begitupun dengan posisi
4. Lain hal nya denga posisi 3 dimana nitrogen tidak dapat membantu menstabilkan
muatan negatif pada cincin sehingga energi yang dibutuhkan untuk bereaksi sangat tinggi
dan laju reaksi akan lambat.
Pada posisi 2:

NH3
heat
N Br N NH 2

2-bromopiridina 2-aminopiridina

Pada posisi 4: Cl NH2

NH3
heat
N N
4-kloropiridina 4-aminopiridina

Resonansi zat antara pada posisi 2:


Penyumbang utama
:NH3
..- ..-
+ NH 2 NH 2 NH 2 -Br-
-H
..
N N
.. N N NH2
.. ..- ..
N Br Br Br Br
..

Struktur resonansi zat antara

Resonansi zat antara pada posisi 3:

NH3 NH2 - NH2


NH2
+ NH2
-H -
Br Br -Br
Br
N Br - -
N N N N

Struktur resonansi zat antara


H. Kuiolina dan Isokuinolina

Kuinolina merupakan suatu heterosikel cincin terpadu yang strukturnya serupa


dengan naftalena tetapi dengan nitrogen pada posisi 1. Dan isokuinolina merupakan
isomernya
Kuinolin dan isokuinolin, keduanya menjalani substitusi elektrofilik dengan lebih
mudah dari piridin, tetapi dalam posisi 5 dan 8 (pada cincin benzenoid, bukan pada cincin
nitrogen).
5 4
6 3

7 2
N N
8 1 kuinolina

5 4
6 3

7 N2 N

8 1
isokuinolina
1) Sifat Kuinolina dan Isokuinolina

Baik kuinolina maupun Isokuinolina memiliki cincin piridina yang dipadukan


dengan cincin benzen dan keduanya merupakan basa lemah dimana pKb kuinolina
yaitu 9,1 dan pKb isokuinolina yaitu 8,6. Selain itu dapat mengalami reaksi
substitusi elektrofilik lebih mudah daripada piridina pada posisi 5 dan 8 pada
cincin benzenoidnya bukan pada cincin yang mengandung nitrogen yag
terdeaktifkan.
NO2

HNO3
+
H2SO4
N 0o N N
kuinolina 5-nitrokuinolina NO2
(52%)
8-nitrokuinolina
(48%)
NO2

HNO3
+
N H2SO4 N N
0o
NO2
isokuinolina
5-nitroisokuinolina 8-nitroisokuinolina
(90%)A (10%)
Selain itu keduanya juga dapat menjalani reaksi nukleofilik dimana posisi
serangannya yaitu posisi a terhadap cincin yang mengandung nitrogen.

1) NH2-
2) H2O
N N NH 2

kuinolina 2-aminokuinolina

1) CH3Li
2) H2O N
N

isokuinolina CH3

1-metilisokuinolina

I. Pirola, Senyawa Heterosikel Aromatik Lima-Anggota

SENYAWA HETEROSIKLIS :

Senyawa organik yang di dalam lingkar siklisnya terdapat atom-atom selain


atom karbon.

Misalnya : atom N, O, S

Senyawa heterosiklis aromatik

Senyawa-senyawa yang dalam lingkar heterosiklisnya mengandung atom


selain karbon, namun sifat-sifatnya sama dengan senyawa-senyawa aromatik
lainnya.

Agar suatu sistem cincin bersifat aromatik, terdapat tiga kriteria yang harus
dipenuhi :

1. Sistem cincin mengandung elektron  (pi) yang terdelokalisasi (terkonyugasi).


2. Sistem cincin harus datar (planar), berhibridisasi sp2.
3. Harus terdapat (4n + 2) elektron  dalam sistem cincin (aturan Huckel).
Contohnya :

N O S
H Furan Tiofen
Pirol
5 4 5 4
6 3 6 3
N
7
N
2 7 N2
8 1 8 1
Kuinolin Isokuinolin
N N
piridine pirazine

Tata Nama Senyawa Heterosiklik Aromatik

Sistem cincin senyawa aromatik heterosiklik juga mempunyai tata


nama tersendiri. Berbeda dengan senyawa lainnya, penomoran pada cincin
heterosiklik ditetapkan berdasarkan perjanjian dan tidak berubah
bagaimanapun posisi substituennya. Penomoran beberapa senyawa heterosiklik
adalah sbb :

4 N3
4 5 4 5 4
4 N3 3
5 3 5 2 6 6 3

6 5 2 N1 2 N2
2 7 7
N S N
1 1
H 8 1 8 1

Piridin Tiazol Imidazol Kuinolin Isokuinolin

Bila suatu senyawa heterosiklik, hanya mengandung satu heteroatom, maka


huruf Yunani dapat juga digunakan untuk menandai posisi cincin

  
   
N
 N  H
Piridin Pirol

Struktur Senyawa Heterosiklik Lingkar Lima

Agar suatu heterosiklik dengan cincin lima anggota bersifat aromatik,


heteroatom itu harus memiliki dua elektron untuk disumbangkan ke awan pi
aromatik. Pirol, furan dan tiofen semuanya memenuhi persyaratan ini,
sehingga dapat bersifat aromatik.

N O S
H Furan Tiofen
Pirol
Penjelasan Struktur berdasarkan Teori Ikatan Valensi

A. Senyawa Pirol
Konfigurasi elektron
keadaan dasar : keadaan tereksitasi :
2 2s2 2p 2 1s2 2s1 2p 3
6 C : 1s
11 11 1 1 111
1 11 1 1 1

sp 2

satu elektron pi
+ +
dari karbon
dua elektron pi
H H dari nitrogen
+
_ _ +
H
+ N H
_
_
H
_

B. Senyawa Furan

Konfigurasi elektron
keadaan dasar : keadaan tereksitasi :
2 2s2 2p 3 1s2 2s1 2p 4
7 N : 1s
11 11 1 1 1 111
1 11 1 1 11

sp 3

satu elektron pi
+ +
dari karbon
dua elektron pi
H H dari oksigen
+
_ _ +
dua elektron mandiri
H Tiofen
C. Senyawa + O dari oksigen
_
_
Konfigurasi elektron H
keadaan dasar : _ keadaan tereksitasi :
2 2s2 2p 4 1s2 2s1 2p 5
8 O : 1s
11 11 11 1 1 111
1 11 1 11 11

sp 3
satu elektron pi
+ +
dari karbon
dua elektron pi
H H dari sulfur
+
_ _ +
dua elektron mandiri
H
+ S dari sulfur
_
_
H
_

Struktur Hibrid Senyawa Heterosiklik Lingkar Lima

Pirol Furan
_ _ _ _
+ + + +
N N N O O O
H H H
_ _
_ _

+
+ +
+
N N O O
H H

Tiofen
_ _
+ +
S S S

_
_

+ +
S S

Makin besar jarak pemisahan muatan positif dengan negatif pada struktur
hibrid menyebabkan keadaan semakin kurang stabil. Kerapatan elektron pada
atom C nomor 2 dan nomor 5 lebih besar dari kerapatan elektron pada atom C
nomor 3 dan 4. Kemungkinan terjadinya substitusi elektrofilik yang paling
besar berada pada atom C nomor 2 dan 5.
Sifat Karakteristik Senyawa Heterosiklik Lingkar Lima

A. Senyawa Pirol

Karena atom nitrogen dalam pirol menyumbangkan dua elektron ke awan pi


aromatik, maka atom nitrogen bersifat tuna elektron.

N
H
Pirol

Hal ini berdampak, cincin menjadi kaya elektron (bermuatan negatif parsial)



N +
H

Tidak seperti piridin dan amina, pirol (pKb = 14) tidak bersifat basa.

N + H+ tidak ada kation stabil


H
Pirol

B. Senyawa Furan

Karena atom oksigen dalam furan menyumbangkan dua elektron (sepasang


elektron) ke awan pi aromatik, maka atom oksigen bersifat tuna elektron.

O
Hal ini berdampak, cincin menjadi kaya elektron (bermuatan negatif parsial)



O+

Berbeda dengan pirol, puran menunjukkan sifat basa yang amat lemah.

C. Senyawa Tiofen

Karena atom sulfur dalam tiofen menyumbangkan dua elektron (sepasang


elektron) ke awan pi aromatik, maka atom sulfur bersifat tuna elektron.

Hal ini berdampak, cincin menjadi kaya elektron (bermuatan negatif parsial)



S +

Berbeda dengan pirol, tiofen juga menunjukkan sifat basa yang amat lemah.
Reaksi-reaksi pada Senyawa Heterosiklik Lingkar Lima

Reaksi-reaksi pada pirol

Walaupun mempunyai sepasang elektron bebas, tetapi karena adanya


delokalisasi elektron dalam cincin aromatis, maka pirol tidak dapat bersifat
basa, malahan bersifat asam yang sangat lemah, sehingga dapat bereaksi
dengan NaNH2 ataupun KOH

KOH
_ + H2 O
N N
+
H K
+
CH3 I N

CH3

Dapat pula bereaksi dengan reagen grignard dengan membebaskan alkana.

+ CH3 MgBr + CH4


_
N N
H +
MgBr

• Mengalami reaksi substitusi elektrofilik


1. Nitrasi
O
CH3 C
ONO2 O
+ CH3 C
O
CH3 C NO2 OH
N N
O 5oC
H H
CH3 C
O
2. Sulfonasi

N SO
3

sulfopiridin
SO3
N 90 o N

H H
asam-2-pirolsulfonat

3. Reaksi coupling diazo

_
+
+ Cl N N NO2
N N N NO2 + HCl
N
H H
2-piroldiazonium klorida

4. Pembentukan 2-pirol karbokaldehida

1. HCN, HCl
2. H2 O O
N N CH NH N C
H
H H H
2-pirol karbokaldehida

5. Asilasi Friedel-Craft
O
CH3 C
O
CH3 C
O O
O + CH3 C
N AlCl 3 , 250 o C N C OH
CH3
H H
• Mengalami reaksi halogenasi (brominasi)

Br Br
Br2
C2 H5 OH
N Br Br
N
H H
2,3,4,5-tetrabromopirol

• Mengalami reaksi reduksi


• Sifat kearomatikan dari pada pirol dapat dihilangkan dengan mereduksinya
dengan hidrogen, pada temperatur tinggi.

H2 , Ni / Pt

200 - 250 o
N
N
H H
pirol pirolidin
Kb = 2,5 x 10 -14 Kb = 10 -3

Zn , HCl
N

H
3-pirolin

Reaksi-reaksi Furan

1. Reaksi reduksi
Sifat aromatis furan dapat dihilangkan dengan mereduksi furan menjadi tetra
hidro furan

H2 , Ni / Pd
50 o C 90 -93 %
O O
furan tetra hidro furan
td 31 o td 65 o
Makin berkurang sifat aromatisnya makin tinggi titik didihnya, karena makin
banyak dapat membentuk ikatan hidrogen.

_H O
2
CH2 CH CH CH2
O 1,3-butadiena

tetra hidro furan

+ NH3

O N
tetra hidro furan H
pirolidin

+ HCl Cl CH2 CH2 CH2 CH2 OH


O
tetra metilen klorohidrin
tetra hidro furan

2. Reaksi halogenasi
Senyawa turunan furan (asam furoat) dapat bereaksi dengan halogen, dan
setelah dipanaskan terbentuklah 2-bromo furan.

O Br2 O
+ CO2
O C Br O C Br O
OH OH
asam furoat bromo furan

Senyawa halo-furan juga dapat diperoleh dengan reaksi sebagai berikut :


HgCl 2 X2
O
O CH3 C O HgCl O X
ONa
furan halo-furan

Dari reaksi ini, juga dapat diturunkan senyawa furan yang tersubstitusi dengan
gugus asetil.

O O
O HgCl R C O C
Cl R
2-asetil furan

Tetapi umumnya, 2-asetil furan dibuat dengan larutan asam asetat anhidrid
yang diri garam boron triflourida eterat.

O BF3
CH3 C C2 H5 O C2 H5
+ O O
O HgCl CH3 C O C
O CH3
2-asetil furan

 Reaksi substitusi elektrofilik


1. Reaksi Nitrasi

O
O + CH3 C
O CH3 C O NO2 OH
ONO2
furan 2-nitro furan
2. Reaksi Sulfonasi

+ NSO3
O O SO3 H
furan
2-furan sulfonat

Kesimpulan

• Substitusi elektrofilik berlangsung terutama pada posisi 2.


• Posisi 2 (disukai).
+ +
NO
2 +
H H H -H
NO2 + +
N N N NO2 NO2 NO2
N N
H H H H H

• Posisi 3 (tidak disukai).


H H
+
NO
NO2
2 NO NO2
2 -H
+
+ +
N N N N
H H H H

Piridin

Piridin mempunyai struktur yang serupa dengan benzena

atau
N N
Piridin Piridin
Masing-masing atom penyusun cincin, terhibridisasi sp2 dan mempunyai satu
elektron dalam orbital p yang disumbangkan ke awan elektron  aromatik.

+ +
_ _ +
+
_ N
+ + _
_ _
Perhatikan perbedaan antara benzena dan piridin

Benzena bersifat simetris dan nonpolar, tetapi piridin mengandung satu


nitrogen yang bersifat elektronegatif, sehingga bersifat polar.

+
N
-

Pembentukan kation menyebabkan cincin semakin bersifat tuna elektron

+
N+
_
FeBr3
Cincin piridin mempunyai kereaktivan rendah terhadap substitusi elektrofilik
dibandingkan dengan benzena. Piridin tidak mengalami alkilasi atau asilasi
Friedel-Crafts maupun kopling garam diazonium. Brominasi berlangsung
hanya pada temperatur tinggi dalam fase uap dan agaknya berlangsung dengan
jalan radikal bebas. Bila terjadi substitusi, akan berlangsung pada posisi 3.

Br Br Br
Br2
300o +
N N N
3-bromopiridin 3,5-dibromopiridin
Perbedaan lainnya, nitrogen dalam piridin mengandung sepasang elektron
mandiri dalam orbital sp2. Pasangan elektron ini dapat disumbangkan ke suatu
ion hidrogen, sehingga piridin bersifat basa. Kebasaan piridin (pKb = 8,75)
jauh dari kebasaan amina alifatik (pKb = 4), tetapi piridin menjalani banyak
reaksi khas amina
+
HC l
N H Cl-

piridinium klorida
N
CH 3 I
+
piridin NCH3 I-

N-metilpiridinium iodida

Seperti benzena, cincin aromatik piridin bertahan terhadap oksidasi, tetapi


rantai samping dapat dioksidasi menjadi gugus karboksil.

KMnO4, H2O, H+
CH3 COOH

toluena asam benzoat

CH3 COOH
KMnO4, H2O, H+

N N
3-metilpiridin asam 3-piridinakarboksilat
(asam nikotinat)

Substitusi Nukleofilik pada Cincin Piridin

Bila suatu cincin benzena disubstitusi dengan gugus penarik elektron, seperti –
NO2 maka substitusi nukleofilik aromatik sangat dimungkinkan.

NO2 NO2
NH3
O2N Cl O2N NH2

Nitrogen dalam piridin menarik rapatan elektron dari bagian lain cincin itu,
sehingga piridin juga mengalami substitusi nukleofilik. Substitusi berlangsung
paling mudah pada posisi 2, diikuti oleh posisi 4, tetapi tidak pada posisi 3.

NH3

N Br kalor
N NH2
2-bromopiridin 2-aminopiridin
Cl NH2

NH3

N kalor
N
4-kloropiridin 4-aminopiridin

Posisi 2 (disukai)

NH3
N Br penyumbang utama
N NH2

_ _
-H+ - Br-
NH2 NH2 NH2
N Br N Br N Br
_
struktur-struktur resonansi untuk zat antara

Zat antara pada substitusi C-2, terstabilkan oleh sumbangan struktur resonansi
dalam mana nitrogen mengemban muatan negatif.

Posisi 3 (tidak disukai)


NH2
Br
NH2
N
N
NH2 NH2 _ NH
2
-H+ Br -
_ _
Br Br - Br
N N N
struktur-struktur resonansi untuk zat antara

Substitusi pada posisi C-3 berlangsung lewat zat antara dalam mana nitrogen
tak dapat membantu menstabilkan muatan negatif, sehingga memiliki energi
yang lebih tinggi yang menyebabkan laju reaksi lebih lambat.
 Benzena tanpa subtituen, tidak mengalami substitusi nukleofilik.

_
100o
+ NH2 tidak ada reaksi

 Piridin mengalami substitusi nukleofilik, jika digunakan basa yang sangat kuat,
seperti reagensia litium atau ion amida.

_
100o
+ NH2 - H2 _ H2O + OH-
N N NH N NH2
2-aminopiridin

o
+ Li 100 + LiH
N N

2-fenilpiridin

Dalam reaksi antara piridin dengan ion amida (NH2-), produk awal terbentuk
adalah anion dari 2-aminopiridin, yang kemudian diolah dengan air, sehingga
menghasilkan amina bebas.

Tahap 1 (serangan NH2-)

N _
NH2

_ _
H H - H-
H
N
_ N N
NH2 NH2 NH2
struktur-struktur resonansi untuk zat antara

_
+ H
_ + H2
N N H N NH
H anion dari 2-aminopiridin
Tahap 2 (pengolahan dengan air)

_
_ + H 2O + OH
N NH N NH2
2-aminopiridin

Kuinolin dan Isokuinolin

Kuinolin dan isokuinolin, keduanya merupakan basa lemah (pKb masing-


masing 9,1 dan 8,6). Kuinolin dan isokuinolin, keduanya menjalani substitusi
elektrofilik dengan lebih mudah dari piridin, tetapi dalam posisi 5 dan 8 (pada
cincin benzenoid, bukan pada cincin ntrogen)

NO2

HNO3
H2 SO4 +
N 0o N N
Kuinolin 5-nitrokuinolin NO2
(52% )
8-nitrokuinolin
(48% )

NO2

HNO3
H2 SO4 +
N N N
0o

Isokuinolin 5-nitroisokuinolin
NO2
(90% )
8-nitroisokuinolin
(10% )
Seperti piridin, cincin kuinolin dan isokuinolin yang mengandung nitrogen
dapat menjalani substitusi nukleofilik.

(1) NH2 -

(2) H2 O
N N NH2
Kuinolin 2-aminokuinolin

(1) CH3 Li

N (2) H2 O N
Isokuinolin
CH3
1-metilisokuinolin
Posisi serangan adalah  terhadap nitrogen dalam kedua sistem cincin itu,
tepat sama seperti di dalam piridin.

Porfirin

Sistem cincin porfirin terdiri dari empat cincin pirol yang dihubungkan oleh
gugus =C-.

Sistem cincin keseluruhan bersifat aromatik.

N
H
N N
H
N

Porfirin

Sistem cincin porfirin merupakan satuan yang secara biologis sangat penting
khususnya dalam : heme, komponen hemoglobinoksigen.

Klorofil, suatu pigmen tumbuhan.

CH3 CH=CH2

CH3 N CH3

N Mg N

C20H39O2CCH2CH2 N CH2-CH3

CH3O2C
CH
3
O
Klorofil-a
Sitokrom, senyawa yang terlibat dalam pemanfaatan O2 oleh hewan.

CH3
HO2CCH2CH2
HO2CCH2CH2 N CH3

N Fe N
CO

CH3 N CHSCH2CH

CO CH3 NH

CHCH2S CH3
NH
Sitokrom c

Hidrogen-hidrogen pirol dalam cincin porfirin dapat digantikan oleh aneka


ragam ion logam (kelat)

J. Alkaloid

A. Pengertian Senyawa Alkaloid


Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa
atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen)
dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau
aromatis, dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada
manusia dan hewan.
Alkaloid juga adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak
ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari tumbuh-
tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloida
mengandung paling sedikit satu atom nitrogen.
Hampir semua alkaloida yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan
biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna
dalam pengobatan. Misalnya kuinin, morfin dan stiknin adalah alkaloida yang
terkenal dan mempunyai efek sifiologis dan fisikologis. Alkaloida dapat
ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan
kulit batang. Alkaloida umunya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus
dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan
tumbuhan.

B. Klasifikasi Alkaloida
Alkaloid biasanya diklasifikasikan menurut kesamaan sumber asal
molekulnya (precursors), didasari dengan metabolisme pathway (metabolic
pathway) yang dipakai untuk membentuk molekul itu. Kalau biosintesis dari
sebuah alkaloid tidak diketahui, alkaloid digolongkan menurut nama
senyawanya, termasuk nama senyawa yang tidak mengandung nitrogen
(karena struktur molekulnya terdapat dalam produk akhir. sebagai contoh:
alkaloid opium kadang disebut "phenanthrenes"), atau menurut nama
tumbuhan atau binatang dimana senyawa itu diisolasi. Jika setelah alkaloid itu
dikaji, penggolongan sebuah alkaloid diubah menurut hasil pengkajian itu,
biasanya mengambil nama amine penting-secara-biologi yang mencolok dalam
proses sintesisnya.

Klasifikasi alkaloida dapat dilakukan berdasarka beberapa cara yaitu :


1. Berdasarkan jenis cicin heterosiklik nitrogen yang merupakan baian dari
struktur molekul. Berdasarkan hal tersebut, alkaloid dibedakan atas beberapa
jenis seperti :

Golongan Piridina: piperine, coniine, trigonelline, arecoline, arecaidine,


guvacine, cytisine, lobeline, nikotina, anabasine, sparteine, pelletierine.

Golongan Pyrrolidine: hygrine, cuscohygrine, nikotina

Golongan Isokuinolina: alkaloid-alkaloid opium (papaverine, narcotine,


narceine), sanguinarine, hydrastine, berberine, emetine, berbamine,
oxyacanthine.

Golongan Kuinolina: kuinina, kuinidina, dihidrokuinina, dihidrokuinidina,


strychnine, brucine, veratrine, cevadine.

Golongan Indola:

o Tryptamines: serotonin, DMT, 5-MeO-DMT, bufotenine, psilocybin

o Ergolines (alkaloid-alkaloid dari ergot ): ergine, ergotamine, lysergic acid

o Beta-carboline: harmine, harmaline, tetrahydroharmine

o Yohimbans: reserpine, yohimbine

o Alkaloid Vinca: vinblastine, vincristine


o Alkaloid Kratom (Mitragyna speciosa): mitragynine, 7-hydroxymitragynine

o Alkaloid Tabernanthe iboga: ibogaine, voacangine, coronaridine

o Alkaloid Strychnos nux-vomica: strychnine, brucine

2. Berdasarkan jenis tumbuhan dari mana alkaloida ditemukan.


3. Berdasarkan asal-usul biogenetic. Berdasarkna hal ini alkaloida dapat
dibedakan atas tiga jenis utama yaitu :
a. Alkaloida alisiklik yang berasal dari asam-asam amino ornitin dan lisin.
b. Alkaloida aromatik jenis fenilalanin yang berasal dari fenilalanin, tirosin dan
3,4 – dihidrofenilalanin.
c. Alkaloida aromatik jenis indol yang berasal dari triptopan.

Sistem klasifikasi yang paling banyak diterima adalah menurut


Hegnauer, dimana alkaloida dikelompokkan atas :
1. Alkaloida sesungguhnya, alkaloida ini merupakan racun, senyawa tersebut
menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas, hamper tanpa kecuali bersifat basa.
Umumnya mengandung nitrogen dalam cicin heterosiklik, diturunkan dari
asam amino, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik.
Beberapa pengecualian terhadap aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam
aristolkhoat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cicin heterosiklik dan
alkaloida quartener yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.
2. Protoalkaloida, merupakan amin yang relative sederhana dimana nitrogen
asam amino tidak terdapat dalam cicin heterosiklik. Protoalkaloida diperoleh
berdasarkan biosintesa dari asam amino yang bersifat basa. Pengeertian amin
biologis sering digunakan untuk kelompok ini.
3. Pseudoalkaloida, tidak diturunkan dari precursor asam amino. Senyawa ini
biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloida yang penting dalam kelompok
ini yaitu alkaloida steroidal dan purin.

C. Sifat Senyawa Alkaloid


Kebanyakan alkaloida berupa padatan Kristal dengan titik lebur yang
tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisinya. Dapat juga berbentuk amorf
dan beberapa seperti nikotin dan konini berupa cairan.
Kebanyakan alkaloida tak berwarna, tetapi beberapa senyawa kompleks
spesies aromatik berwarna. Pada umumnya basa bebas alkaloida hanya larut
dalam pelarut organik meskipun beberapa pseudoalakaloid dan protoalkaloida
larut dalam air. Garam alkaloida dan alkaloida quaterner sangat larut dalam air.

Alkaloida bersifat basa yang tergantung pada pasangan electron pada


nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat
melepaskan elektron maka ketersediaan electron pada nitrogen naik dan
senyawa lebih bersifat menarik elektron maka ketersediaan pasangan electron
berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloida dapat bersifat netral atau
bahkan bersifat sedikit asam.

Kebasaan alkaloida menyebabkan senyawa tersebut sangat mudah


mengalami dekomposisi terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen.
Hasil reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi olakloida selama atau
setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan
berlangsung dalam waktu lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik
atau anorganik sering mencegah dekomposisi.