Anda di halaman 1dari 8

Analisis Profil Hambatan Epistemologis Siswa pada Materi

Momentum dan Impuls

Marwah Hayati Nufus 1 *, Heni Rusnayati 1, David Edison Tarigan2


1* Program Studi Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung
40154, Indonesia
1 Laboratorium Fisika Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi 229
Bandung 40154, Indonesia
2
Laboratorium Fisika Lanjut, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung
40154, Indonesia,
* E-mail: marwahhayatin@gmail.com
hp: +62-898-300-271

ABSTRAK
Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang sering dianggap sulit oleh siswa.
Sementara, menurut Hewitt (2006) fisika adalah fondasi dari ilmu sains yang mempelajari
keteraturan alam. Apabila kesulitan yang dialami siswa terus muncul, maka potensi yang
dimiliki siswa pada konsep-konsep fisika menjadi tidak dapat berkembang secara optimal.
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi profil hambatan epistemologis siswa pada
materi Momentum dan Impuls di kelas X SMA dengan mengacu kepada analisis tes
kemampuan responden. Adapun, metode yang digunakan dalam penelitian adalah
penelitian kualitatif dengan desain analisis deskriptif melalui Tes Kemampuan Responden
(TKR). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di salah satu SMA Negeri di Kabupaten
Bandung menunjukkan adanya beberapa hal yang menjadi hambatan epistemologis siswa
pada materi Momentum dan Impuls, yakni sebagai berikut, sejumlah 92.68% siswa tidak
dapat menerapkan konsep momentum dalam kasus di kehidupan sehari-hari, 36.58% siswa
tidak dapat menuliskan hubungan antara massa dan kecepatan, 95.12 % siswa tidak dapat
menerapkan konsep impuls dalam teknologi di kehidupan sehari-hari, 29.27% siswa tidak
dapat menuliskan persamaan impuls, 97.56% siswa tidak dapat menjelaskan makna fisis
persamaan impuls, 97.56% siswa tidak dapat menerapkan konsep tumbukan dalam kasus di

1
kehidupan sehari-hari serta 92.68% siswa tidak dapat menjelaskan makna fisis dari
terjadinya tumbukan. Berdasarkan hasil tersebut, maka terdapat hambatan epistemologis
siswa pada materi Momentum dan Impuls, sehingga diperlukan adanya upaya untuk
meminimalisir hambatan epistemologis tersebut. Dalam hal ini upaya yang akan dilakukan
adalah dengan mengimplementasikan Didactical Design Research (DDR) pada materi
momentum dan impuls berdasarkan kepada hambatan epistemologis siswa.

Kata-kata kunci: Didactical Design Research , Hambatan Epistemologis.

ABSTRACT

Physics is one of the subjects that is often considered difficult by students,


whereas Hewitt (2006) stated that physics is a foundation of science which
studies nature’s orderliness. If student’s learning obstacles continue to come up,
then their potential on physics concepts couldn’t be optimally developed. This
research is conducted to identify profil student’s learning obstacles towards
physics concept, especially on momentum and impulse in the X grade of high
school by referring to the analysis of respondents' ability tests. The method used
in the research is qualitative research with descriptive analysis design through
Respondent Ability Test. The results of a preliminary study conducted in one of
the State High Schools in Bandung Regency showed there is epistemological
obstacles for students, such as 92.68% students could not apply the concept of
momentum in cases in real- life, 36.58% of students cannot write down the
relationship between mass and speed, 95.12% students cannot apply the concept
of impulse in technology in real-life, 29.27% of students cannot write impulse
equations, 97.56% students cannot explain the physical meaning of impulse,
97.56% of students unable to apply collision concepts in cases in everyday life
and 92.68% students cannot explain the physical meaning of collisions. Based on
these results, it appears that there are epistemological obstacle for students in
Momentum and Impulse material, so that efforts are needed to minimize these
epistemological obstacle. In this case the effort that will be made is to implement

2
Didactic Design Research on momentum material and impulses based on
students' epistemological obstacle.
Keywords : Desain Didactic Research, Epistemological Obstacle.

3
a. Hambatan Ontogenik
1. Pendahuluan
Hambatan ontogenik adalah hambatan
Pembelajaran merupakan proses terkait ketidaksiapan mental belajar
interaksi peserta didik dengan pendidik siswa karena perkembangan mental
serta sumber belajar pada suatu dan kognitif yang jauh tertinggal
[4]
lingkungan belajar . Hubungan siswa- dengan perkembangan biologisnya.
materi dan guru-siswa ternyata dapat Salah satu penyebabnya yaitu
menciptakan suatu suasana didaktis pembatasan konsep pembelajaran pada
maupun pedagogis yang tidak saat perkembangan anak.
sederhana, bahkan seringkali terjadi b. Hambatan Didaktis
sangat kompleks. Dalam suatu proses Hambatan didaktis adalah hambatan
pembelajaran, seorang guru biasanya terkait kekeliruan proses pembelajaran
mengawali aktivitas dengan melakukan di sekolah itu sendiri. Salah satu
suatu aksi misalnya dalam bentuk penyebabnya yaitu cara guru membuat
menjelaskan suatu konsep atau atau merancang pembelajaran kurang
menyajikan permasalahan kontekstual. tepat atau kesalahan dari sumber
Berdasarkan aksi tersebut selanjutnya belajar sisiwa. Misalnya menggunakan
terciptalah suatu situasi yang menjadi analogi yang kurang tepat sehingga
sumber informasi bagi siswa sehingga pengetahuan yang disampaikan
[3].
terjadi proses belajar Siswa bisa saja memungkinkan dimaknai berbeda oleh
memberikan respon yang tepat, akan siswa.
tetapi seringkali siswa memberikan c. Hambatan Epistemologis
respon yang tidak tepat atau bahkan Hambatan epistemologis adalah
salah ketika dihadapkan pada suatu hambatan terkait pengetahuan siswa
permasalahan. Saat siswa memberikan terhadap suatu konten. Salah satu
respon yang tidak tepat, kemungkinan penyebabnya yaitu keterbatasan
siswa memiliki hambatan belajar pada pengetahuan yang dimiliki seseorang
konsep yang sedang dipelajari dalam hanya pada suatu konteks tertentu[2].
kegiatan pembelajaran tersebut. Dalam pembelajaran fisika, ketika
Menurut Brousseau, terdapat tiga faktor siswa dihadapkan pada suatu
yang mempengaruhi hambatan belajar
permasalahan yang mengandung
yaitu sebagai berikut: konsep - konsep esensial, seringkali
siswa tidak mampu menyelesaikannya
dan masih menganggap sulit.
4
Berdasarkan hal tersebut, peneliti kesulitan belajar tersebut
bertujuan untuk mengetahui profil dikelompokkan berdasarkan tipe
hambatan epistemologis siswa kelas X kesulitannya.
SMA pada materi momentum dan 3. Hasil dan Pembahasan
impuls berdasarkan analisis Tes Berdasarkan hasil Tes Kemampuan
Kemampuan Responden (TKR). Responden yang diberikan, berikut ini
Kemudian, untuk meminimalisir disajikan temuan kesulitan belajar
hambatan epistemologis tersebut akan terkait konsep momentum dan impuls
diimpelementasikan Desain Didaktis. pada Tabel 1.

2. Bahan dan Metode


Tabel 1. Presentase hasil hambatan
Pelitian ini merupakan penelitian
epistemologis siswa pada
kualitatif dengan desain penelitian
materi momentum dan
deskriptif yang dilakukan berdasarkan
impuls.
Didactical Design Research (DDR).
Kode Keterangan Persentase
Didactical Design Research (DDR)
Hambatan
merupakan suatu rangkaian penelitian
(%)
yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu (1)
analisis situasi didaktis sebelum 1.a siswa tidak dapat 92.68
pembelajaran yang bentuknya berupa menerapkan
desain didaktis hipotesis, termasuk konsep momentum
antisipasi didaktis dan pedagogis, (2) dalam kasus di
analisis metapedadidaktik, dan (3) kehidupan sehari-
analisis restrofektif, yakni analisis yang hari
mengaitkan hasil analisis situasi 1.b siswa tidak mampu 36.58
didaktis awal dengan hasil analisis menuliskan
[2]
metapedadidaktik . Penelitian ini hubungan antara
dilaksanakan di SMAN 6 Kab. Bandung massa dan
dengan subjek penelitian kelas XI. kecepatan benda
Penggalian kesulitan belajar dilakukan 2.a siswa tidak mampu 95.12
dengan instrumen Tes Kemampuan menerapkan
Responden. Hasil Tes Kemampuan konsep impuls
Responden dianalisis dengan metode dalan teknologi di
kualitatif deskriptif, dimana kesulitan- kehidupan sehari-

5
hari. kasus di kehidupan sehari-hari. Karena
2.b siswa tidak mampu 29.27 dalam soal dicantumkan bahwa ketiga
menuliskan mobil memiliki massa berbeda namun
persamaan impuls berada dalam kecepatan yang sama, maka
2.c siswa tidak mampu 97.56 siswa menganggap seluruhnya akan
menjelaskan berhenti bersama-sama. Sementara, siswa
makna fisis berhasil menuliskan bahwa yang
persamaan impuls mempengaruhi momentum selain
3.a siswa tidak mampu 97.56 kecepatan adalah massa.
menerapkan
konsep tumbukan
dalam kasus di
kehidupan sehari-
hari
3.b siswa tidak mampu 92.68
Gambar 2. Sampel jawaban siswa B untuk
menjelaskan
instrument TKR No 1
makna fisis faktor-
faktor yang
Berdasarkan Gambar 2. terlihat bahwa
mempengaruhi
siswa B mengalami kesulitan yang sama
tumbukan
dengan siswa A yakni kesulitan dalam
menerapkan konsep momentum dalam
kasus di kehidupan sehari-hari.

Gambar 1. Sampel jawaban siswa A


Gambar 3. Sampel jawaban siswa A untuk
untuk instrumen TKR No 1
instrumen TKR No 3
Berdasarkan Gambar 1. Terlihat bahwa
Berdasarkan Gambar 3. terlihat bahwa
siswa mampu menuliskan persamaan
siswa mampu menentukan persamaan
momentum, namun kesulitan dalam
yang dibutuhkan dalam tumbukan, namun
menerapkan konsep momentum dalam

6
kesulitan dalam menjelaskan makna fisis fisis dari persamaan-persamaan yang
dari persamaan tersebut. ada. Maka dari itu, untuk mengurangi
hambatan epistemologis digunakan
Didactical Design Research (DDR),
sehingga rancangan pembelajaran yang
diimplementasikan tidak hanya

Gambar 4. Sampel jawaban siswa B mempertimbangkan hubungan

untuk instrumen TKR No 3 pedagogis saja, namun juga


mempertibangkan hubungan didaktis

Berdasarkan Gambar 4. terlihat bahwa antara materi dan siswa.

siswa sudah mulai mampu menyatakan


bahwa massa benda menjadi salah satu 5. Referensi

faktor dalam peristiwa tumbukan, [1] Suryadi, Didi. (2013). Didactical design
research (DDR) dalam pengembangan
namun belum mampu mengkaitkan
pembelajaran matematika. Seminar
konsep tersebut untuk menjawab
UNES.
permasalahan yang dimaksud dalam
[2] Suryadi, dkk. (2016). Monograf
soal.
Didactical Design Research (DDR).
Bandung:Rizqi Press
4. Simpulan [3] Suryadi, Didi. (2010). Teori,
Berdasarkan data, hasil dan paradigma, prinsip, dan pendekatan
pembahasan diperoleh kesimpulan pembelajaran MIPA dalam konteks
bahwa profil hambatan epistemologis Indonesia. Bandung: FPMIPA UPI.

siswa dari hasil analisis Tes [4] Undang-Undang RI No.23 Pasal 1

Kemampuan Responden (TKR), Ayat 20. 2003. Sistem Pendidikan


Nasional.
terdapat beberapa hambatan
epistemologis siswa, diantaranya siswa
tidak mampu menerapkan konsep
momentum dan tumbukan dalam
kehidupan sehari-hari, siswa tidak dapat
menuliskan hubungan antara massa dan
kecepatan, siswa tidak mampu
menuliskan persamaan impuls serta
siswa tidak mampu menjelaskan makna

7
8