Anda di halaman 1dari 7

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA

SEKOLAH MENENGAH ATAS MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE


JIGSAW

Yelli Oktavien1, Yaya S. Kusumah,2 dan Jarnawi A. Dahlan2


1
Madrasah Aliah Madinatun Najah Rengat, Riau.
2
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah menelaah perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis antara siswa yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan siswa yang
mendapatkan pembelajaran konvensional, serta sikap siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw. Desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Postest Control Group Design. Kelompok
eksperimen memperoleh pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan kelompok kontrol memperoleh
pembelajaran konvensional. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan instrumen antara
lain; tes kemampuan pemecahan masalah matematis dan skala sikap siswa. Penelitian ini dilakukan di
Sekolah Menengah Atas dengan level tinggi. Populasi penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1
Rengat Propinsi Riau dengan responden penelitiannya adalah siswa kelas X sebanyak dua kelas yang
dipilih secara acak kelas dari delapan yang ada. Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan
SPSS 16 uji normalitas dan uji beda dua rerata (uji-t') menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw dan siswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran dengan model kooperatif tipe Jigsaw secara signifikan dapat lebih meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMA dibandingkan dengan pembelajaran
konvensional.
Kata kunci: kemampuan pemecahan masalah matematis, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw

ABSTRACT
The purpose of this study is examining differences in mathematical problem-solving skills among
students who get the Jigsaw cooperative learning and the types of students who received conventional
teaching and students' attitudes toward cooperative learning Jigsaw type. The design study is a
pretest-posttest control group design. The experimental group gained Jigsaw type of cooperative
learning and conventional learning gain control group. To obtain research data used instruments
among others; tests of mathematical problem solving ability and scale of attitudes. The research was
carried out in high school with a high level. The population of this study were students of SMAN 1
Rengat Riau province with research respondents are students of class X as much as two randomly
selected classes from eighth grade there. From the results of processing the data using SPSS 16
normality test and two different test mean (t-test ') indicates that there are differences in mathematical
problem-solving skills enhancement students getting Jigsaw type of cooperative learning and students
who received conventional learning. It can be concluded that the type of cooperative learning jigsaw
model could significantly further enhance mathematical problem solving ability of high school
students as compared to conventional learning.
Keywords: jigsaw cooperative learning, mathematical problem-solving skills

PENDAHULUAN alat untuk bertindak dan mengambil


keputusan yang tepat dalam setiap situasi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan
Kemampuan seperti ini akan berperan efektif
teknologi di dunia secara global dan
jika ditunjang oleh kemampuan berpikir logis,
kompetitif memerlukan generasi yang
sistematis, analitis, kritis, dan kreatif.
memiliki kemampuan memperoleh,
Berbagai kemampuan berpikir tersebut dapat
mengelola, memanfaatkan informasi sehingga
dikembangkan melalui pembelajaran
menjadi sebuah pengetahuan serta menjadi

157
158 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 17, Nomor 2, Oktober 2012, hlm. 157-163

matematika dari tingkat sekolah dasar, urutan informasi, tetapi perlu meninjau
sekolah menengah dan perguruan tinggi. relevansinya bagi kegunaan dan kepentingan
siswa dalam kehidupannya. Dengan belajar
National Council of Teacher of
matematika diharapkan siswa mampu
Mathematics (NCTM) menetapkan
menyelesaikan masalah, menemukan dan
pemahaman, pengetahuan, dan kemampuan
mengkomunikasikan ide-ide yang muncul
yang harus diperoleh siswa, mulai dari taman
dalam benak siswa. Untuk itu dalam
kanak-kanak hingga kelas 12. Standar isi pada
pembelajaran matematika diharapkan siswa
NCTM memuat bilangan dan operasi, aljabar,
kemampuan pemecahan masalah matematis,
geometri, pengukuran, analisis data, dan
yang tentunya diharapkan dapat mencapai
peluang yang secara eksplisit dijelaskan
hasil yang memuaskan. Oleh karena itu, perlu
sebagai kemampuan yang harus dimiliki siswa
dikembangkan materi serta proses
dalam pembelajaran. Standar prosesnya
pembelajaran yang dapat mewujudkan
memuat kemampuan pemecahan masalah,
pandangan konstruktivisme dengan
penalaran dan pembuktian, komunikasi,
mengaitkan materi dengan konteks kehidupan
koneksi, dan representasi yang merupakan
nyata, kehidupan sehari-hari siswa, sehingga
cara penting untuk memperoleh dan
siswa dapat merasakan kebermanfaatan
menggunakan pengetahuan (NCTM, 2000:
mempelajari matematika. Dengan cara ini
29).
diharapkan dapat memberikan alternatif bagi
Demikian pula pada Kurikulum Tingkat guru dalam penyampaian bahan ajarnya di
Satuan Pendidikan (KTSP), dijelaskan bahwa kelas, sehingga proses belajar yang sifatnya
pembelajaran matematika bertujuan agar tradisional di mana pembelajaran terpusat
peserta didik memiliki kemampuan, pada guru, perlahan tapi pasti dapat
diantaranya; (1) memahami konsep tergantikan dengan pembelajaran yang lebih
matematika, menjelaskan keterkaitan antar terpusat pada siswa, di mana siswa sendiri
konsep, dan mengaplikasikan konsep atau yang berusaha untuk mengkonstruksi
algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan pengetahuannya dengan bimbingan guru.
tepat dalam pemecahan masalah; (2)
Reys et. al (1998:75) melihat pengaruh
menggunakan penalaran pada pola dan sifat,
kelompok belajar terhadap kemampuan
melakukan manipulasi matematika dalam
pemecahan masalah matematis siswa.
membuat generalisasi, menyusun bukti atau
Menurut Reys, pemecahan masalah dapat
menjelaskan gagasan dan pernyataan
dikerjakan dengan mudah melalui diskusi
matematika; (3) memecahkan masalah yang
pada kelompok besar, tetapi proses
meliputi kemampuan memahami masalah,
pemecahan masalah akan lebih praktis bila
merancang model matematika, menyelesaikan
dilakukan dalam kelompok kecil yang bekerja
model dan menafsirkan solusi yang diperoleh;
secara kooperatif. Meskipun cara ini
(4) mengkomunikasikan gagasan dengan
memerlukan waktu yang relatif lebih lama,
simbol, tabel diagram, atau media lain untuk
namun siswa akan lebih baik memecahkan
memperjelas keadaan atau masalah; (5)
masalah secara kelompok daripada sendiri.
memiliki sikap menghargai kegunaan
Kelompok belajar juga berguna untuk
matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki
meningkatkan kemampuan pemahaman
rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam
matematis siswa.
mempelajari matematika, serta sikap ulet dan
percaya diri dalam pemecahan masalah Salah satu model pembelajaran yang
(Depdiknas, 2006). berpusat pada siswa ialah pembelajaran
kooperatif (Cooperative Learning).
Untuk dapat mencapai standar-standar
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi
pembelajaran, seorang guru hendaknya dapat
pembelajaran yang memacu kemajuan
menciptakan suasana belajar yang
individu melalui kelompok. Slavin (1995:2)
memungkinkan bagi siswa untuk secara aktif
menyatakan Cooperative Learning dapat
belajar dengan mengkonstruksi, menemukan
diterapkan pada setiap tingkatan pendidikan
dan mengembangkan pengetahuannya. Karena
untuk mengajarkan berbagai topik/bidang
mengajar matematika tidak sekedar menyusun
ilmu mulai dari matematika, membaca,
Yelli Oktavien, Yaya S. Kusumah, dan Jarnawi A. Dahlan, Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa Sekolah Menengah Atas melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 159

Siswa Sekolah Menengah Pertama


menulis, belajar sains dan lain-lain. Model Pemecahan Masalah Matematis Siswa
pembelajaran tipe Jigsaw diduga cocok Sekolah Menengah Atas Melalui
diterapkan untuk meningkatkan kemampuan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw”.
Mathematical Thinking Siswa Sma
pemahaman dan pemecahan masalah
matematis siswa karena dalam tipe Jigsaw,
siswa dikondisikan untuk belajar bersama METODE
dalam tim ahli untuk memecahkan masalah, Penelitian ini merupakan penelitian
kemudian masing-masing siswa dituntut untuk eksperimen dengan pendekatan kuantitatif dan
mampu mengkomunikasikan pemahamannya kualitatif. Pada penelitian ini ada dua
untuk mengajari temannya yang lain dalam kelompok subjek penelitian yaitu kelompok
kelompoknya. Dengan demikian, berbagai eksperimen melakukan pembelajaran dengan
kemampuan siswa diantaranya kemampuan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe
pemahaman dan pemecahan masalah Jigsaw dan kelompok kontrol melakukan
matematis dapat ditingkatkan termasuk pembelajaran dengan pendekatan
kemampuan bekerjasama. konvensional. Desain yang digunakan dalam
Melalui pembelajaran kooperatif tipe penelitian ini adalah “Pretest-Postest Control
Jigsaw, selain siswa mempunyai kemampuan Group Design” (Fraenkel et.al, 1993).
kerjasama tim dalam kelompok, mereka juga Penelitian ini adalah studi eksperimen yang
dituntut untuk memahami spesialisasi dilaksanakan di SMA Negeri 1 Rengat dengan
tugas/suatu materi yang berbeda-beda dalam populasi keseluruhan siswa-siswi SMA
memecahkan suatu permasalahan dengan Negeri 1 Rengat pada tahun ajaran 2011/2012
berdiskusi dalam kelompok ahli dan dituntut dengan jumlah siswa sekarang 753 orang
harus mampu memahami materi secara dengan 23 rombongan belajar. Sampel yang
keseluruhan serta menyampaikan suatu digunakan adalah kelas X.
materi/permasalahan hasil diskusi kelompok Penelitian ini menggunakan dua jenis
ahli pada teman-teman anggota kelompok instrumen, yaitu jenis tes dan non-tes.
asalnya. Dengan cara tersebut, siswa dapat Instrumen jenis tes adalah instrumen
terlibat secara proaktif dalam pembelajaran kemampuan pemecahan masalah matematis
dan siswa akan terlatih menemukan konsep- sedangkan instrumen jenis non-tes adalah
konsep pengetahuan yang dipelajari siswa angket skala sikap dan lembar observasi.
akan bermakna dalam ingatan. Hal tersebut Pengolahan data yang diperoleh dari ujicoba
senada dengan Ruseffendi (1991) yang tes kemampuan pemecahan masalah
menyatakan: “…menemukan sesuatu oleh matematis ini dianalisis untuk mengetahui
sendiri dapat menumbuhkan rasa percaya validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan
terhadap dirinya sendiri, dapat meningkatkan tingkat kesukaran tes tersebut dengan
motivasi (termasuk motivasi intrisik), menggunakan program SPSS 16.0 dan Anates
melakukan pengkajian lebih lanjut, dapat Versi 4.0., sedangkan data angket berupa
menumbuhkan sikap positif terhadap skala kualitatif dikonversi menjadi skala
matematika”. Sikap positif tersebut memberi kuantitatif.
peluang guna meningkatkan prestasi belajar
matematika.
Dengan memperhatikan uraian di atas, HASIL DAN PEMBAHASAN
maka keperluan untuk melakukan studi yang
1. Peningkatan Kemampuan
berfokus pada model pembelajaran yang
diduga dapat meningkatkan kemampuan
Pemecahan Masalah Matematis
pemecahan masalah matematis siswa, Analisis peningkatan kemampuan
dipandang oleh penulis menjadi sangat urgen pemecahan masalah matematis siswa
dan utama. Dalam hubungan ini, penulis bertujuan untuk membuktikan terdapat
mengadakan penelitian yang berkaitan dengan perbedaan peningkatan kemampuan
pembelajaran dengan model kooperatif tipe pemecahan masalah matematis. Secara umum
Jigsaw yang dilaksanakan di SMA dan diberi dapat dilihat pada Tabel 1.
judul: “Meningkatkan Kemampuan
160 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 17, Nomor 2, Oktober 2012, hlm. 157-163

Tabel 1. Statistik Deskriptif Skor Kemampuan Pemecahan Masalah


Skor Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Tes
Ideal N xmin xmaks ̅
𝒙 s N xmin xmaks ̅
𝒙 s
Pretes 50 32 1 8 4,875 1,845 32 2 8 4,625 1,718
Postes 50 32 11 38 27,844 6,773 32 12 32 23,313 5,165
G 0,17 0,72 0,513 0,133 0,19 0,59 0,414 0,101

Tabel 1. menunjukkan bahwa rata-rata dilakukan pengujian ternyata kelas


skor kemampuan pemecahan masalah eksperimen dan kontrol berdistribusi normal.
matematis siswa kelas eksperimen Kemudian dilanjutkan dengan uji
menunjukkan kenaikan sekitar 16,975 homogenitas varians gain ternormalisai
lebihnya dari kelas kontrol. Penyebaran digunakan uji Levene melalui SPSS 16 pada
kemampuan pemecahan masalah pada kelas taraf signifikansi 𝛼 = 0,05. Dapat dikatakan
eksperimen lebih besar sekitar 1,608. Namun bahwa, varians gain ternormalisasi
demikian, untuk membuktikan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis
peningkatan kemampuan pemecahan masalah pada kedua kelas tersebut adalah tidak
matematis siswa kelas eksperimen lebih baik homogen. Karena varians tidak homogen,
dari kelas kontrol diperlukan uji statistik maka selanjutnya dilakukan uji perbedaan
lanjut. peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis (uji t') didasarkan asumsi varians
Uji normalitas distribusi data
tidak homogen. Hasil analisis uji t' data
kemampuan pemecahan masalah matematis
peningkatan kemampuan pemecahan masalah
kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan
matematis dapat dilihat pada tabel berikut.
dengan menggunakan Shapiro-Wilk. Setelah

Tabel 2. Uji Signifikasi Perbedaan Rata-rata Peningkatan


Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Sig. Mean Std. Error
Statistik t' df H0
(2-tailed) Difference Difference
3,359 57,658 0,001 0,09925 0,02955 ditolak

Dari Tabel 2, terlihat bahwa nilai sig. Data hasil peningkatan kemampuan
untuk uji t' adalah 0,001. Jika dibandingkan pemecahan masalah matematis siswa
dengan nilai α =0,05, dapat dikatakan bahwa dideskripsikan dan dianalisis berdasarkan
niali sig. lebih kecil dari 0,05, berarti H0 pendekatan pembelajaran dan kategori siswa
ditolak. Ini berarti bahwa, terdapat perbedaan (tinggi, sedang dan rendah). Gambaran umum
peningkatan kemampuan pemecahan masalah peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa yang mendapat pembelajaran matematis berdasarkan pendekatan
koopeartif tipe Jigsaw dengan siswa yang pembelajaran dan kategori siswa disajikan
mendapat pembelajaran konvensional. pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Rata-rata N-Gain Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis


Berdasarkan Pendekatan Pembelajaran dan Kategori Siswa
Kemampuan
Kemampuan yang diukur
Pemecahan Masalah Matematis
Pendekatan Pembelajaran PKTJ PK
Tinggi 0,6495 0,4912
Sedang 0,5121 0,4665
Kategori Siswa
Rendah 0,3893 0,3455
Total 0,5129 0,4364
Yelli Oktavien, Yaya S. Kusumah, dan Jarnawi A. Dahlan, Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa Sekolah Menengah Atas melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 161

Siswa Sekolah Menengah Pertama


Dari Tabel 3, memperlihatkan gambaran kooperatif tipe Jigsaw yang mewajibkan
tentang peningkatan kemampuan pemecahan setiap siswa yang menjadi wakil diskusi pada
masalah matematis
Mathematical siswa,
Thinking Siswa Sma dimana siswa yang kelompok ahli untuk menerangkan kembali
memperoleh pembelajaran kooperatif tipe kepada anggota kelompok lain, sehingga
Jigsaw secara umum menunjukkan setiap anggota kelompok menyiapkan dirinya
peningkatan lebih baik dari dari pembelajaran untuk tampil dengan penguasaan konsep yang
konvensional. Hasil yang sama juga mapan, hal ini merupakan refleksi atas aksi-
diperlihatkan untuk setiap kategori tinggi, aksi mental yang dialakukan selama siswa
sedang dan rendah. melakukan diskusi dan kerja sama dengan
temannya. Kegiatan ini antara lain dapat
Dari Tabel 3, juga terlihat bahwa
dilihat dari kemampuan siswa membicarakan
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberi
dan menjelaskan hasil aksi dari aksi mental
pengaruh yang cukup untuk kategori tinggi.
yang telah dilakukan terhadap sejumlah
Ini terlihat pada rata-rata peningkatan
kognitif terkait.
kemampuan pemecahan masalah siswa, yaitu
sebesar 0,6495. Berdasarkan pengkategorian Pada saat diskusi kelompok asal, guru
Hake (1999), maka nilai ini masuk kategori dapat melakukan intervensi secara tidak
sedang. Pengaruh pembelajaran kooperatif langsung dengan meminta siswa menjelaskan
tipe Jigsaw untuk meningkatkan kemampuan kinerja siswa dalam menyelesaikan suatu
pemecahan masalah matematika siswa pada persoalan, melalaui intervensi ini, siswa
kategori sedang dan rendah tidak begitu besar, diarahkan agar memiliki kemampuan untuk
baik pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw melakukan refleksi atas sejumlah proses
maupun pada pembelajaran konvensional. Ini mental yang telah dilakukan sehingga mereka
terlihat dari rata-rata peningkatan kemampuan mampu merangkum menjadi obyek mental
pemecahan masalah matematis siswa lebih yang baru. Hal inilah yang tidak terdapat
rendah dari rata-rata gabungan. Jika dalam pembelajaran konvensional.
didasarkan pada pengkategorian Hake (1999),
Selain itu pada pembelajaran kooperatif
maka rata-rata kemampuan pemecahan
tipe Jigsaw pada akhir pembelajaran setiap
masalah matematis siswa masuk kategori
siswa diberi tes individu. Pemberian tes ini
sedang. Namum, kategori sedang pada
diharapkan sebagai penguatan terhadap materi
pembelajaran kooparatif tipe Jigsaw mampu
yang telah dipelajari siswa. Hal ini sejalan
lebih tinggi dari kategori tinggi pada
dengan Vygotsky (Suryadi, 2008) yang
pembelajaran konvensiaonal. Hal ini
mengatakan bahwa proses belajar terjadi pada
dipengaruhi oleh sikap siswa kategori sedang
dua tahap: tahap pertama terjadi pada saat
yang lebih positif dari kategori tinggi.
berkolaborasi dengan teman, dan tahap
Jika diperhatikan selisih peningkatan berikutnya dialkukan secara individual yang
pemecahan masalah matematis selisih didalamnya terjadi proses internalisasi.
tertinggi terdapat pada kategori tinggi. Dari
hasil observasi selama pembelajaran bahwa
siswa kategori tinggi pada pada pembelajaran 2. Tanggapan Siswa Terhadap Model
Kooperatif tipe Jigsaw sangat aktif bediskusi Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
dalam kelompoknya. Selama pembelajaran
berlangsung siswa berasal dari kategori tinggi Untuk mengetahui tanggapan siswa
mengambil peran untuk membimbing teman- terhadap penerapan model pembelajaran
teman mereka dalam satu kelompok dalam kooperatif tipe jigsaw dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan dari situasi yang membagikan angket yang berisi butir-butir
diberikan. Dengan seringnya mereka pernyataan tentang model pembelajaran yang
membimbing teman dalam diskusi akan dibuat. Rata-rata sikap siswa terhadap
berdampak pada peningkatan kemampuan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
mereka. berdasarkan indikator dari skala sikap dapat
dilihat pada Tabel 4 berikut.
Dengan adanya diskusi yang terencana
dan pola dalam bentuk pembelajaran
162 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 17, Nomor 2, Oktober 2012, hlm. 157-163

Tabel 4. Rata-Rata Sikap Siswa Terhadap Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


Berdasarkan Indikator Skala Sikap
No Indikator Rata-rata Sikap siswa Sikap Siswa
1 Tanggapan siswa yang menyatakan
kesenangan terhadap pelajaran 3,7 positif
matematika
2 Persepsi siswa yang menunjukkan
persetujuan pada pentingnya 3,8 positif
matematika
3 Tanggapan siswa yang
menunjukkkan sikap terhadap kerja 4,1 positif
kelompok
4 Tanggapan siswa yang
menunjukkkan sikap terhadap cara 3,7 positif
belajar bersama
5 Menunjukkan minat terhadap soal
pemahaman dan pemecahan masalah 3,9 positif
6 Manfaat soal-soal pemahaman dan 4,4 positif
pemecahan masalah

Berdasarkan Tabel 4, jika pembelajaran matematika melalui kooperatif


dibandingkan dengan skor netral untuk tipe Jigsaw dan siswa yang mendapatkan
masing-masing indikator, terlihat bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan
untuk setiap indikator rata-rata sikap siswa konvensional, diperoleh kesimpulan bahwa
terhadap pelajaran matematika, pembelajaran terdapat perbedaan peningkatan kemampuan
kooperatif tipe Jigsaw dan soal-soal pemecahan masalah matematis siswa yang
pemahaman dan pemecahan masalah mendapat pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
matematis cukup positif. Sikap siswa yang dan siswa mendapat pembelajaran
menunjukkan kesenangan terhadap pelajaran konvensional. Setelah mendapatkan
matematika adalah 74,58%, persepsi siswa pembelajaran, para siswa menunjukkan sikap
yang menunjukkan persetujuan pada positif terhadap pelajaran matematika,
pentingnya matematika adalah 80,53%, terhadap pembelajaran dengan pendekatan
tanggapan siswa yang menunjukkkan sikap kooperatif tipe Jigsaw, dan terhadap soal-soal
terhadap kerja kelompok adalah 80,03%, pemahaman dan pemecahan masalah
tanggapan siswa yang menunjukkkan sikap matematis yang diberikan. Secara umum
terhadap cara belajar bersama adalah 74,51%, dapat dikatakan bahwa siswa memperlihatkan
menunjukkan minat terhadap soal pemahaman sikap yang positif terhadap keseluruhan aspek
dan pemecahan masalah 78%, serta sikap pembelajaran dengan kooperatif tipe Jigsaw.
siswa yang merasakan manfaat dari soal-soal
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka
pemahaman dan pemecahan masalah adalah
penulis mengemukakan beberapa saran
87,45%. Secara umum dapat dikatakan bahwa
sebagai berikut:
siswa memperlihatkan sikap yang positif
terhadap keseluruhan aspek pembelajaran 1. Bagi para guru matematika, pembelajaran
dengan kooperatif tipe Jigsaw. dengan kooperatif tipe Jigsaw dapat
menjadi variasi di antara banyak pilihan
model pembelajaran matematika yang
KESIMPULAN DAN SARAN mampu meningkatkan kemampuan
pemahaman dan pemecahan masalah
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis matematis siswa.
yang dilakukan mengenai perbedaan
peningkatan hasil belajar terhadap 2. Untuk menerapkan pembelajaran melalui
kemampuan pemecahan masalah matematis pembelajaran kooperatif Jigsaw, yang
siswa, antara siswa yang mendapat perlu diperhatikan guru adalah: (1) Guru
Yelli Oktavien, Yaya S. Kusumah, dan Jarnawi A. Dahlan, Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa Sekolah Menengah Atas melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 163

Siswa Sekolah Menengah Pertama

harus kreatif dan cermat dalam memilih Matematika untuk Meningkatkan


masalah yang cocok untuk CBSA. Bandung: Tarsito.
Mathematical Thinking Siswa Sma
merepresentasikan sebuah konsep; (2)
Slavin, R.E. (1995). Cooperative Learning :
bantuan yang diberikan guru hendaknya
Theory, Research, and Practice,
seminimal mungkin dan tidak terbur-buru
(second ed.). Boston: Allyn and Bacon.
diberikan agar perkembangan kecakapan
potensial siswa dapat berkembang lebih Suherman, dkk. (2003). Evaluasi
optimal; (3) Membuat sebuah skenario dan Pembelajaran Matematika, Bandung:
perencanaan yang matang, sehingga JICA FPMIPA UPI.
pembelajaran dapat terjadi secara Sumarmo, U.(1987). Kemampuan
sistematis sesuai dengan rencana, dan Pemahaman dan Penalaran
pemanfaatan waktu yang efektif dan tidak Matematika Siswa SMA dikaitkan
banyak waktu yang terbuang oleh hal-hal dengan Kemampuan Penalaran Logik
yang tidak relevan. Siswa dan Beberapa Unsur Proses
3. Guru sebagai fasilitator perlu menjaga Belajar Mengajar. Disertasi. UPI:
keheterogenan siswa baik dalam kelompok Tidak diterbitkan.
asal maupun dalam kelompok ahli. Sumarmo, U. (2005). Pengembangan Berfikir
Matematik Tingkat Tinggi Siswa SLTP
dan SMU serta Mahasiswa Strata Satu
DAFTAR PUSTAKA
(S1) melalui Berbagai Pendekatan
Depdiknas. (2006). “Pengembangan Bahan Pembelajaran. Laporan Penelitian
Ujian dan Analisis Hasil Ujian” Materi Lemlit UPI.: Tidak Diterbitkan.
Presentasi Sosialisasi KTSP Jakarta:
Suryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan
Departemen Pendidikan Nasional
Pembelajaran Tidak Langsung serta
Fraenkel, J.R. & Wallen, N. (1993). “How to Pendekatan Gabungan Langsung dan
Design and Evaluate Research in Tidak Langsung dalam Rangka
Education” Singapore: Mc.Gaw-Hill Meningkatkan Kemampuan Matematik
Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Disertasi
Lie, A. (2004). Cooperative Learning.
Doktor pada PPS UPI.: Tidak
Jakarta: PT Grasindo.
Diterbitkan.
Mullis, et.al. (2000). TIMMS 1999:
Suryadi, D. (2008). Metapedadidaktik dalam
International Mathematics Report.
Pembelajaran Matematika: Suatu
Boston: The International Study Center,
Strategi Pengembangan Diri Menuju
Boston College, Lynch School of
Guru Matematika Profesional. Pidato
Education.
pengukuhan Guru Besar dalam
NCTM. (1989). Curriculum and Evaluation Pendidikan Matematika Universitas
Standards for School Mathematics. Pendidikan Idonesia tanggal 22
Reston, VA : NCTM Oktober 2008. Bandung: UPI PRESS.
National Council of Teacher of Mathematics. Wahyudin. (2008). Pembelajaran dan Model-
(2000). Principles and Standards for model Pembelajaran. Bandung: UPI.
School Mathematics. Reston, VA:
NCTM.
Reys, R. E., Suydam, M. N, Lindquist, M. M.,
& Smith, N. L., & (1998). Helping
Children Learn Mathematics (5thed.).
USA: Allyn and Bacon.
Ruseffendi. (1991). Pengantar kepada
Membantu Guru Mengembangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran