Anda di halaman 1dari 9

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN........................................................................ .ii
KATA PENGANTAR................................................................................ iii
DAFTAR ISI ...........................................................................................i v
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang........................................................................... 1
B.Tujuan.........................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.pengertian ............................................................................. ...3
B.penyebab....................................................................................3
C.patofisiologi................................................................................5
D.epidimiologi................................................................................7
E.manifestasi klinik.........................................................................8
F.diagnosis.....................................................................................10
H.Penatalaksanaan........................................................................11
I.pencegahan..................................................................................13
J.komplikasi....................................................................................14
BAB III TINJAUAN KASUS.........................................................................15
BAB IV PENUTUP
A.Kesimpulan..................................................................................17
B.Saran ...........................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Preeklampsia merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante, intra dan
post partum. Dari gejala-gejala klinik pre eklampsia dapat dibagi menjadi preeklampsia ringan
dan preklampsia berat. Pembagian preeklampsia menjadi beratdan ringan tidaklah berarti
adanya dua penyakit yang jelas berbeda, sebab seringkali ditemukan penderita dengan
preeklampsia ringan dapat mendadak mengalami kejang dan jatuh dalam koma (Sarwono,
2010). Preeklampsia (dahulu disebut gestosis) merupakan hipertensi yang dipicu oleh kehamilan
dan terjadi pada 5-20% perempuan khususnya primigravida, ibu hamil dengan kehamilan
kembar, ibu yang menderita diabetes mellitus dan hipertensi essensial. Bahaya dari
preeklampsia meliputi solutio placenta, kegagalan ginjal, jantung, hemorargi serebral,
insupisiensi placenta dan gangguan pertumbuhan janin (Denis Tiran, 2006).
Preeklampsia berat (PEB) dan eklampsia masih merupakan salah satu penyebab utama
kematian maternal dan perinatal di Indonesia. Mereka diklasifikasikan ke dalam penyakit
hipertensi yang disebabkan karena kehamilan. PEB ditandai oleh adanya hipertensi sedang-
berat, edema dan proteinuria yang masif. Sedangkan eklampsia ditandai oleh adanya koma
dan/atau kejang di samping ketiga tanda khas PEB. Menurut World Health Organization (WHO),
salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu dan janin adalah pre-eklamsia (PE), angka
kejadiannya berkisar antara 0,51%-38,4%. Di negara maju angka kejadian pre-eklampsia berkisar
6-7%dan eklampsia 0,1-0,7%. Sedangkan angka kematian ibu yang diakibatkan pre-eklampsia
dan eklampsia di negara berkembang masih tinggi (Amelda, 2008). Berdasarkan Survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, rata-rata angka kematian ibu (AKI) tercatat
mencapai 359/100.000 kelahiran hidup. Menurut Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun
2010, penyebab langsung kematian ibu di Indonesia terkait kehamilan dan persalinan terutama
yaitu perdarahan 28%, eklampsi 24%, infeksi 11%, partus lama 5% dan abortus 5%.
Di Indonesia, angka kejadian preeklamsi berkisar antara 2,1-8,5% dan kelainan ini masih
merupakan penyebab kematian ibu nomor dua tertinggi (24%), setelah pendarahan (Depkes RI,
2001).
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengambil judul laporan
Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan preeklampsi berat.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mempersiapkan peserta didik untuk menjadi kandidat bidan dalam mengaplikasikan ilmu
diperkuliahan agar menjadi bidan yang profesional.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengetahui pengkajian secara sistematis yang dilakukan pada pasien dengan
Preeklampsia berat di Poliklinik Kebidanan RSUP Sanglah Denpasar.
b. Mahasiswa mengetahui pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan pada pasien
dengan Preeklampsia berat di Poliklinik Kebidanan RSUP Sanglah Denpasar.
c. Mahasiswa mengetahui diagnosis pada pasien dengan Preeklampsia berat di Poliklinik
Kebidanan RSUP Sanglah Denpasar.
d. Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan pada pasien dengan Preeklampsia

C. Manfaat
1. Bagi Institusi
Dapat digunakan sebagai informasi bagi institusi pendidikandalam pengembangan dan pe
ningkatan mutu pendidikan dimasa yang akan datang.
2. Bagi Petugas Kesehatan
Dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan, keterampilan danmutu pelayanan yang
profesional oleh tenaga kesehatan untukmemberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
preeklampsia berat.
3. Bagi Mahasiswa
Menambah wawasan keilmuan dan pengalaman sertaketerampilan dalam melakukan asu
han kebidanan pada ibu dengan preeklampsia berat.
4. Bagi Klien
Dapat mengetahui dan mengerti asuhan yang diberikan selama masa hamil dengan
preeklampsi berat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu/ 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan
dibagi menjadi tiga triwulan. Triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan
kedua dari bulan ke 4 sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke 7 sampai 9 bulan
(Prawirohardjo, 2008).
Tanda bahaya yang perlu diperhatikan dan diantisipasi dalam kehamilan lanjut, adalah :
1. Perdarahan pervaginam
2. Sakit kepala yang hebat
3. Penglihatan kabur
4. Bengkak diwajah dan tangan
5. Keluar cairan pervaginam
6. Gerak janin terasa dan nyeri perut yang hebat (Suryati, 2011)
Preeklampsia (PE) adalah gangguan yang terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan dan
ditandai dengan hipertensi dan proteinuria (Silasi Michele, 2010). Penyakit digolongkan berat
bila satu atau lebih tanda gejala dibawah ini :
1. Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih.
2. Proteinuria 5 g atau lebih dalam 24 jam; 3 atau 4 + pada pemeriksaan kualitatif.
3. Oliguria, air kencing 400 ml atau kurang dalam 24 jam.
4. Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium.
5. Edema paru dan sianosis (Ilmu Kebidanan : 2005).

Memberikan konseling tentang tanda-tanda persalinan


1. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
2. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada
servik.
3. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4. Pada pemeriksaan dalam: servik mendatar dan pembukaan telah ada (Rustam Mochtar, 2009).
Preeklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya
hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan atau disertai udema pada
kehamilan 20 minggu atau lebih (Asuhan Patologi Kebidanan : 2009).
Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang di tandai dengan timbulnya
hipertensi 160/110 mmHg atau lebih di sertai proteiuria dan/atau edema pada kehamilan 20
minggu atau lebih.(Asuhan Kebidanan IV:2010).
Jadi, preeklampsia berat adalah suatu kondisi yang spesifik pada kehamilan yang ditandai
dengan timbulnya hipertensi ≥ 160/110 mmHg disertai proteinuria > 5 gr/24 jam atau oedem
yang terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih.

B. Etiologi
Penyebab pasti terjadinya pre-eklampsi masih belum diketahui. Penyakit ini dianggap
sebagai sesuatu “Maladaptation syndrome” dengan akibat suatu vasospasme general dengan
segala akibatnya (Abadi et al, 2008; Shah, 2009).
Preeklampsi dikaitkan dengan komponen genetik, meskipun mekanisme aktual masih
diperdebatkan. Pre eklamsi juga dikaitkan dengan mekanisme plasentasi, namun pre eklamsi
tidak selalu muncul pada keadaan patologis plasenta (Abadi et al, 2008; Wilson, 2004).
C. Patofisiologi
Patofisiologi pre-eklamsi merupakan suatu disfungsi/ kerusakan sel endotel vaskuler
secara menyeluruh dengan penyebab multifaktor, seperti: imunologi, genetik, nutrisi (misalnya
defisiensi kalsium) dan lipid peroksidasi. Kemudian berlanjut dengan gangguan keseimbangan
hormonal prostanoid yaitu peningkatan vasokonstriktor (terutama tromboxan) dan penurunan
vasodilator (prostasiklin), peningkatan sensitivitas terhadap vasokonstriktor agregasi platelet
(trombogenik), koagulopati dan aterogenik. Perubahan level seluler dan biomolekuler di atas
telah dideteksi pada umur kehamilan 18-20minggu, selanjutnya sekurang-kurangnya umur
kehamilan 24 minggu dapat diikuti perubahan/ gejala klinis seperti hipertensi, oedema dan
proteiuria.
Awalnya adalah defisiensi invasi sel-sel trofoblas atas arteri spiralis pada plasenta yang
dimediasi/ dipengaruhi proses imunologis, dan hal ini mengakibatkan gangguan perfusi unit
fetoplasental. (Abadi et al, 2008)

D. MANIFESTASI KLINIS
Kehamilan 20 minggu atau lebih dengan tanda-tanda:
1. Desakan darah sistolik ≥160 mmHg, diastolik ≥110 mmHg. Desakan darah ini tidak menurun
meskipun ibu hamil sudah dirawat di rumah sakit dan menjalani tirah baring
2. Protein urine ≥5 gram/ 24jam atau kualitatif 4+ (++++).
3. 500cc/ 24jam atau disertai kenaikan kadar kreatinin darah.Oliguri jumlah produksi urine
4. Adanya gejala-gejala eklampsia impending: gangguan visus, gangguan serebral, nyeri
epigastrium, hiper refleksia.
5. Adanya sindroma HELLP (Hemolysis Elevated Liver enzyme Low Platelet) (Abadi et al, 2008).

E. Faktor Resiko
Menurut Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo (2005), faktor resiko pre- eklamsia berat
adalah :
1. Riwayat Preeklampsia
2. Primigravida, karena pada primigravida pembentukan antibody penghambat (blocking
antibodies) belum sempurna sehingga meningkatkan resiko terjadinya Preeklampsia
3. Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih per minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu)
4. Kehamilan ganda, Preeklampsia lebih sering terjadi pada wanita yang mempunyai bayi kembar
atau lebih.
5. Riwayat penyakit tertentu. Penyakit tersebut meliputi hipertensu kronik, diabetes, penyakit
ginjal atau penyakit degenerate seperti reumatik arthritis atau lupus.

F. Diagnosis
Diagnosis di tegakkan berdasarkan kriteria preeklamsia berat sebagaimana tercantum di
bawah:
1. Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan diastolic ≥ 110 mmHg.
2. Protein uria lebih dari positif 2 (++)
3. Oliguria yaitu produksi urine kurang dari 400 cc/ 24 jam
4. Edema paru : Nafas pendek, sianosis, ronkhi +
5. Nyeri daerah epigastrium
6. Gangguan penglihatan
7. Nyeri kepala hebat (maternal & neonatal, 2007).
8. Terdapat mual sampai muntah (Manuaba, 2010).

G. Macam-Macam Hipertensi Dalam Kehamilan


Hipertensi pada kehamilan dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori, yaitu:
1. Hipertensi kronik: hipertensi (tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg yang diukur setelah
beristirahat selama 5-10 menit dalam posisi duduk) yang telah didiagnosis sebelum kehamilan
terjadi atau hipertensi yang timbul sebelum mencapai usia kehamilan 20 minggu.
2. Preeklamsia-Eklamsia: peningkatan tekanan darah yang baru timbul setelah usia kehamilan
mencapai 20 minggu, disertai dengan penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh
membengkak dan pada pemeriksaan laboratorium dijumpai protein di dalam air seni
(proteinuria). Eklamsia: preeklamsia yang disertai dengan kejang.
3. Preeklamsia superimposed pada hipertensi kronik: preeklamsia yang terjadi pada perempuan
hamil yang telah menderita hipertensi sebelum hamil.
4. Hipertensi gestasional: hipertensi pada kehamilan yang timbul pada trimester akhir kehamilan,
namun tanpa disertai gejala dan tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan darah
kembali normal setelah melahirkan (postpartum). Hipertensi gestasional berkaitan dengan
timbulnya hipertensi kronik suatu saat di masa yang akan datang.

H. Penatalaksanaan
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre-eklamsia berat selama
perawatan maka perawatan dibagi menjadi perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau
diterminasi ditambah pengobatan medicinal dan perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap
dipertahankan ditambah pengobatan medicinal (AYeyeh.R, 2011). Adapun penjelasannya adalah
sebagai berikut :
1. Perawatan aktif
Pada setiap penderita sedapat mungkin sebelum perawatan aktif dilakukan pemeriksaan
fetal assesment yakni pemeriksaan nonstrees test (NST) dan ultrasonograft (USG), dengan
indikasi (salah satu atau lebih), yakni :
a. Pada ibu
Usia kehamilan 37 minggu atau lebih, dijumpai tanda-tanda atau gejala impending
eklamsia, kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan
desakan darah atau setelah 24 jam perawatan edicinal, ada gejala-gejala status quo (tidak ada
perbaikan).
b. Janin
Hasil fetal assesment jelek (NST dan USG) yaitu ada tanda intra uterine growth retardation
(IUGR)
c. Hasil laboratorium
Adanya HELLP sindrom (haemolisis dan peningkatan fungsi hepar dan trombositopenia).
2. Penanganan kejang
a. Beri obat antikonvulsan
b. Pelengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedotan, masker oksigen, oksigen)
c. Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
d. Aspirasi mulut dan tenggorokan
e. Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi trandelenburg untuk mengurangi resiko aspirasi
f. Beri O2 4-6 liter/menit
3. Penanganan umum
a. Jika tekanan diastolik >110 mmHg, berikan anti hipertensi, sampai tekanan diastolik antara
90-100 mmHg
b. Pasang infus RL dengan jarum besar (16 gauge atau lebih)
c. Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
d. Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria
e. Jika jumlah urine <30 ml per jam :
1) Infus cairan dipertahankan 1 1/8 jam
2) Pantau kemungkinan edema paru
f. Jangan tinggalkan pasien sendirian, kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu
dan janin
g. Observasi tanda-tanda vital, reflex, dan DJJ setiap jam
h. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru (Maternal dan Neonatal, 2010)
4. Pengobatan dengan MgSO4
a. Dosis awal
1) MgSO4 4gr IV sebagai larutan 20% 5 menit
2) Diikuti dengan MgSO4 (50%) 5gr IM dengan 1 ml ligonain 2%
b. Dosis Pemeliharaan
1) MgSO4 (50%) 5gr + ligonokain 2% 1 ml IM setiap 4 jam
2) Sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang berakhir (Maternal dan Neonatal, 2007).
5. Pengobatan Obstetrik
Pengobatan obstetri dilakukan dengan cara terminasi terhadap kehamilan yang belum
inpartu, yaitu :
a. Induksi persalinan: tetesan oksitocyn dengan syarat nilai bishop 5 atau lebih dan dengan fetal
heart monitoring.
b. Seksio Sesaria (dilakukan oleh dokter ahli kandungan), bila: fetal assessment jelek. Syarat
tetesan oksitocyn tidak dipenuhi (nilai bishop < 5) atau adanya kontraindikasi tetesan oksitocyn;
12 jam setelah dimulainya tetesan oksitocyn belum masuk fase aktif. Pada primigravida lebih
diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesaria.

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Preeklampsia berat adalah suatu kondisi yang spesifik pada kehamilan yang ditandai dengan
timbulnya hipertensi ≥ 160/110 mmHg disertai proteinuria > 5 gr/24 jam atau oedem yang
terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih.
2. Jumat 07 November 2014, Ny. M datang ke Poliklinik Kebidanan bersama suaminya ingin
memeriksakan kehamilannya atas rujukan dari bidan. Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan
fisik dan laboratorium ibu mempunyai riwayat preeklampsi, tekanan darah 170/100 mmHg,
oedema pada tungkai dan protein urine positif (++++). Ibu diantar ke Ruang VK Bersalin, ibu
mendapatkan terapi Nifedipine 10 mg per oral dan akan direncanakan untuk dilakukan tindakan
persalinan melalui operasi section caesarea pada hari Jumat 07 November 2014.
3. Asuhan kebidanan yang dilakukan pada Ny. M umur 25 tahun G IIIP0AII hamil 39 minggu dengan
preeklampsi berat mulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik, laboratorium, analisa data serta
penatalaksanaan sesuai dengan teori yang ada.

B. Saran
1. Bagi Institusi
Diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan
informasi bagiinstitusi pendidikan dalam pengembangan dan peningkatan mutupendidikan dim
asa yang akan datang.

2. Bagi Petugas Kesehatan


Diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan,
keterampilan dan mutu pelayanan yang profesional oleh tenagakesehatan untuk memberikan
asuhan kebidanan khususnya pada ibu hamil dengan preeklampsia berat.
3. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa dapat
menambah wawasan keilmuan danpengalaman serta keterampilan dalam melakukan asuhan
kebidanan pada ibu dengan preeklampsia berat.
4. Bagi Klien
Diharapkan klien dapat mengetahui dan mengerti asuhan yang diberikan selama masa
hamil dengan preeklampsi berat.

DAFTAR PUSTAKA
Chapman, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan Persalinan & Kelahiran. ECG. Jakarta
Manjoer, Arif, dkk. 2009. Kapita Selekta Edisi Ketiga Jilid Ketiga. Media Aesculapius. Jakarta.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2010. Ilmu Penyakit Kandungan dan KB. ECG. Jakarta
Prawirohardjo, S. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBP.
Jakarta.
Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan. YBP. Jakarta.
Romauli, Suryati. Buku Ajar Asuhan Kehamilan. Nuha Mediha : Yogyakarta.