Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit tidak menular (PTM) menjadi penyebab utama kematian secara global.
Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada
tahun 2011, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh Penyakit
Tidak Menular. PTM juga membunuh penduduk dengan usia yang lebih muda. Di
negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan menengah, dari seluruh
kematian yang terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29%
disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju, menyebabkan 13%
kematian. Proporsi penyebab kematian PTM pada orang-orang berusia kurang dari
70 tahun, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab terbesar (39%), diikuti
kanker (27%), sedangkan penyakit pernafasan kronis, penyakit pencernaan dan
PTM yang lain bersama-sama menyebabkan sekitar 30% kematian, serta 4%
kematian disebabkan diabetes.
Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, kematian akibat Penyakit Tidak
Menular (PTM) diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan
terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan miskin. Lebih dari dua pertiga
(70%) dari populasi global akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti
kanker, penyakit jantung, stroke dan diabetes. Dalam jumlah total, pada tahun 2030
diprediksi akan ada 52 juta jiwa kematian per tahun karena penyakit tidak menular,
naik 9 juta jiwa dari 38 juta jiwa pada saat ini.
Secara global, regional dan Nasional pada tahun 2030 transisi epidemiologi dari
penyakit menular menjadi penyakit tidak menular semakin jelas. Diproyeksikan
jumlah kesakitan akibat penyakit tidak menular dan kecelakaan akan meningkat dan
penyakit menular akan menurun. PTM seperti kanker, jantung, DM dan paru
obstruktif kronik, serta penyakit kronik lainnya akan mengalami peningkatan yang
signifikan pada tahun 2030. Sementara itu penyakit menular seperti TBC,
HIV/AIDS, Malaria, Diare dan penyakit infeksi lainnya diprediksi akan mengalami
penurunan pada tahun 2030. Peningkatan kejadian PTM berhubungan dengan
peningkatan faktor risiko akibat perubahan gaya hidup seiring dengan
perkembangan dunia yang makin modern, pertumbuhan populasi dan peningkatan
usia harapan hidup.

1
Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan,
miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan
seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar kematian terjadi setiap tahunnya
disebabkan oleh TBC.
Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir menghadapi masalah Triple
Burden Diseases. Di satu sisi, penyakit menular masih menjadi masalah ditandai
dengan masih sering terjadi KLB beberapa penyakit menular tertentu , munculnya
kembali beberapa penyakit menular lama (Re-Emerging Diseases). Di sisi lain,
PTM menunjukkan adanya kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke
waktu.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi prevalensi
PTM di Indonesia, namun belum sepenuhnya mencapai derajat kesehatan yang
optimal. Sebagai seorang perawat, peran kita tidak hanya sebagai pemberi
pengobatan ataupun perawatan di rumah sakit, namun juga dapat berperan sebagai
perawat komunitas yang berperan meliputi pendidik, pengamat kesehatan,
koordinator pelayanan kesehatan, peran pembaharu, role model dan fasilitator
kesehatan. Peran perawat komunitas dalam mengurangi PTM yaitu dengan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat seoptimal mungkin melalui praktik
keperawatan komunitas, dilakukan melalui peningkatan kesehatan (Promotif), dan
pencegahan penyakit (preventif) di semua tingkat pencegahan (levels of prevention)
tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitative.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui
bagaimana asuhan keperawatan agregat komunitas pada kelompok laki-laki
terkhusus pada penderita TBC.

2
1.2.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah
1.2.2.1 untuk mengetahui defenisis tuberculosis
1.2.2.2 untuk mengetahui etiologic tuberculosis
1.2.2.3 untuk mengetahui kasifikasi tuberculosis paru
1.2.2.4 untuk mengetahui tanda dan gejala tuberculosis paru
1.2.2.5 untuk mengetahui cara penularan tuberculosis paru
1.2.2.6 untuk mengetahui penegakan tuberculosis paru
1.2.2.7 untuk mengetahui pengkajian keperawatan laki-laki dengan
tuberculosis paru
1.3 Manfaat Penulisan
Menambah pengetahuan dan wawasan dalam memberikan asuhan keperawatan
keluarga yang komprehensif pada keluarga dengan penyakit asma. Bagi Institusi
Pendidikan sebagai wacana bagi institusi pendidikan dalam pengembangan dan
peningkatan mutu pendidikan di masa yang akan datang.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Tuberkulosis paru
Tuberculosis adalah penyakit disebabkan mycobacterium tuberculosa yang hampir
seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi paling banyak adalah paru-paru.
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
TBC (Depkes RI, 2002). Definisi lain menyebutkan bahwa Tuberkulosis paru adalah suatu
penyakit infeksi menahun yang menular yang disebabkan oleh mybacterium tuberculosis
(Depkes RI, 1998). Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara
(pernapasan) ke dalam paru. Kemudian kuman tersebut menyebar dari paru ke organ tubuh
yang lain melalui peredaran darah, kelenjar limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung
ke organ tubuh lain (Depkes RI, 2002).
2.2 Etiologi Tuberculosis Paru
2.2.1 Tuberculosis merupakan penyakit paru yang disebabkan mycobacterium tuberculosis
ditemukan oleh Robert Koch (1882).
2.2.2 Kuman berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
pewarnaan, oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman
TB cepat mati dengan sinar matahari langsung.
2.2.3 Basil tuberculosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan
kering tetapi dapat mati pada suhu 60 derajad C dalam 15 – 20 menit.
2.3 Klasifikasi Tuberculosis Paru
Tuberkulosis dibedakan menjadi dua yaitu tuberkulosis primer dan tuberkulosis post
primer. Pada tuberkulosis primer penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman
dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Dalam suasana
gelap dan lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel
ini terhisap oleh orang yang sehat maka akan menempel pada jalan nafas atau paru.
Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag yang keluar dari cabang
trakheo-bronkhial beserta gerakan silia dengan sekretnya. Sedangkan Tuberculosis Post
Primer dari TBC primer akan muncul bertahun-tahun lamanya menjadi TBC post Primer.
Post Primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di sebagian apical posterior atau
inferior pada paru. (Soeparman, 1990; Snieltzer, 2000).

4
2.4 Patofisiologi Tuberculosis Paru
Bakteri juga dapat masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tetapi jarang sekali
terjadi. Bila bakteri menetap di jaringan paru, akan tumbuh dan berkembang biak dalam
sitoplasma makrofag. Bakteri terbawa masuk ke organ lainnya. Bakteri yang bersarang di
jaringan paru akan membentuk sarang tuberculosis pneumonia kecil dan disebut sarang
primer atau efek efek primer. Sarang primer ini dapat terjadi di bagian-bagian jaringan paru.
Dari sarang primer ini akan timbul peradangan saluran getah bening hilus (limfangitis
lokal), dan diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis hilus). Sarang
primer, limfangitis local, limfadenitis regional disebut sebagai kompleks primer
(Soeparman, 1990; Snieltzer, 2000).
Kompleks primer selanjutnya dapat menjadi sembuh dengan meninggalkan cacat atau
sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus
atau kompleks (sarang) Ghon, ataupun bisa berkomplikasi dan menyebar secara
perkontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya, secara bronkhogen pada paru yang
bersangkutan maupun paru di sebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan
ludah sehingga menyebar ke usus, secara limfogen, secara hematogen, ke organ lainnya
(Soeparman, 1990; Snieltzer, 2000).
2.5 Tanda Dan Gejala
Gejala-gejala klinis yang muncul pada klien TBC paru adalah sebagai berikut :
1. Demam yang terjadi biasanya menyerupai demam pada influenza, terkadang sampai
40-410 C.
2. Batuk terjadi karena iritasi bronchus, sifat batuk dimulai dari batuk non produktif
kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif. Keadaan lanjut dapat
terjadi hemoptoe karena pecahnya pembuluh darah. Ini terjadi karena kavitas, tapi dapat
juga terjadi ulkus dinding bronchus.
3. Sesak nafas terjadi pada kondisi lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru.
4. Nyeri dada timbul bila sudah terjadi infiltrasi ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
5. Malaise dengan gejala yang dapat ditemukan adalah anorexia, berat badan menurun,
sakit kepala, nyeri otot, keringat malam hari (Soeparman, 1990; Heitkemper, 2000).

5
2.6 Cara Penularan
2.6.1 Penyakit TBC menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri mycobacterium
tuberculosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak
sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa.
2.6.2 Bakteri bisa masuk dan terkumpul dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi
banyak (terutama daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui
pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itu infeksi TBC menginfeksi
hampir seluruh organ tubuh sesperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan,
tulang, kelenjar getah bening.
2.6.3 Factor lain adalah kondisi rumah lembab karena cahaya matahari dan udara tidak
bersirkulasi dengan baik sehingga bakteri tuberculosis berkembang dengan baik dan
membahayakan orang yang tinggal didalam rumah.
2.7 Penegakan Diagnostic TB Paru
Diagnosis tuberkulosis paru ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan
fisik, foto thoraks, uji tuberkulin, laboratorium, dan pemerikasaan patologi anatomi (PA).
Di Indonesia sebagai standar untuk penegakan diagnosis tuberkulosis paru adalah
pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis sangat cocok dengan kondisi
Puskesmas dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis paru (Depkes RI, 2002). Oleh karena
itu untuk deteksi kuman TBC digunakan pemeriksaan mikroskopis dalam menetapkan
diagnosis dan pengobatan.
2.8 Penatalaksanaan Medis
Pengobatan Tuberkulosis Paru mempunyai tujuan :
1. Menyembuhkan klien dengan gangguan seminimal mungkin;
2. Mencegah kematian klien yang sakit sangat berat
3. Mencegah kerusakan paru lebih luas dan komplikasi yang terkait
4. Mencegah kambuhnya penyakit
5. Mencegah kuman TBC menjadi resisten ( Crofton, Norman & Miller, 2002 ).

6
2.9 Asuhan Keperawatan Tuberculosis Paru
Asuhan Keperawatan Tuberculosis paru
kesehatan pria dalam komunitas
Asuhan keperawatan yang dilakukan di wilayah Bilalang 2 kelurahan bilalang,
Kecamatan kota Mobagu Utara menggunakan pendekatan proses keperawatan community
as partner yang meliputi pengkajian status kesehatan masyarakat, perumusan diagnosa
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pemberian asuhan keperawatan
melibatakan kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, pimpinan wilayah tersebut.
A. Pengkajian
Data inti komunitas meliputi :
1. Data Geografi
a. Lokasi
Provinsi daerah tingkat 1 : Sulawesi Utara
Kabupaten / kotamadya : Kota Mobagu
Kecamatan : Mobagu Utara
Kelurahan : Bilalang II
b. Luas Wilayah : ±3000m2
c. Batas daerah/wilayah
Utara : Pontodon
Selatan : Bilalang 4
Barat : Bilalang 3
Timur : Pontodon
d. Keadaan tanah menurut pemanfaatannya
Semua tanah digunakan untuk pemukiman

7
2. Data Demografi
Jumlah Penduduk : 529 jiwa
a. Berdasarkan jenis kelamin
No Jenis Kelamin Bilalang 2 %
1 Laki-laki 258 49
2 Perempuan 271 51
Total 529 100
Berdasarkan tabel diatas distribusi jenis kelamin, menunjukan bahwa sebagian
besar penduduk berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 271 orang (51%), dan
laki-laki 258 0rang ( 49%). Hal ini dikarenakan banyak laki-laki yang bekerja diluar
daerah.
b. Berdasarkan kelompok usia
No Umur/ tahun Bilalang 2 %
1 Bayi / balita (0-5) 19 4
2 Anak – anak 60 11
3 Remaja 69 13
4 Dewasa 343 65
5 Lansia 38 7
Total 529 100
Berdasarkan tabel distribusi umur, menunjukkan bahwa kelompok umur tertinggi
yaitu dewasa berjumlah 343 orang (65%) , sedangkan kelompok umur yang
terendah adalah kelompok umur 0-5 tahun berjumlah 19 orang (4%).
3. Ethnicity
Distribusi keluarga berdasarkan ethnicity atau suku
No Suku Bilalang 2 %
1 Mongondow 450 85
2 Jawa 50 9
3 Bugis 29 6
Total 529 100
Berdasarkan hasil wawancara masyarakat Bilalang 2 menunjukkan bahwa suku
mongondow 450 orang (85%), Jawa 50 orang (9%), Bugis 29 orang (6%)

8
4. Berdasarkan agama
Distribusi penduduk berdasarkan agama
No Agama Bilalang 2 %
1 Islam 465 88
2 Kristen 35 7
3 Katolik 29 5
4 Hindu 0 0
5 Budha 0 0
Total 529 100
Berdasarkan hasil wawancara penduduk berdasarkan agama, menunjukkan bahwa
yang beragama islam yaitu 465 orang (88%) sedangkan yang beragama katolik 29
orang (5%), Kristen 35 0rang (7%) , hindu, budha tidak ada.
5. Pendidikan
No Pendidikan Frekuensi Persen
%
1 Tidak tamat SD 80 15
2 SD 180 34
3 SMP 100 19
4 SMA 115 22
5 Tidak tamat D1,D2,D3 10 1,8
6 Tamat S1 24 4,5
7 >S1 1 0,1
8 Belum sekolah 19 3,5
Total 529 100
Berdasarkan table distribusi tingkat pendidikan terakhir diketahui bahwa tingkat
pendidikan terakhir tertinggi yaitu SD sebanyak 180 orang (32%), sedangkan yang
terendah yaitu >S1 sebanyak 1 orang (0,1%).
DS = dari hasil wawancara ternyata warga masyarakat belum pernah mendapatkan
informasi tentang penyakit TB paru baik dari tenaga kesehatan maupun melalui
leaflet. Pada daerah tersebut belum pernah diadakan penyuluhan kesehatan tentang
penyakit TB Paru.

9
6. Data status kesehatan
A. Kesehatan ibu dan anak
Jumlah ibu hamil : 3 orang
a. Pemeriksaan kehamilan
Teratur :3 orang (100%)
Tidak teratur : - orang (0%)
b. Kelengkapan imunisasi TT
Lengkap : 18 orang ( 94,74%)
Belum lengkap : 1 orang (5,26 %)
Jumlah balita : 19 orang
c. Pemeriksaan balita ke posyandu/puskesmas
Teratur :16 orang (84,2 %)
Tidak teratur : 3 orang (15,8 %)
d. Kelengkapan imunisasi sesuai usia balita
Lengkap : 16 orang (84,2%)
Belum lengkap : 3 orang (15,8 %)
DS: Hasil wawancara dengan orang tua balita menyatakan imunisasi anaknya
belum lengkap (pada usia yang seharusnya sudah lengkap) dan tidak teratur
karena takut dengan efek imunisasi yaitu demam dan merasa rumit untuk
mengurus semuanya
e. Status gizi balita berdasar KMS
Garis hijau : 10orang (52,6 %)
Garis kuning : 9 orang (47,3 %)
Garis merah : - orang (0%)
DS=Dari hasil wawancara dengan orang tua balita , mengatakan tidak ada
balita yang pernah berada di garis merah pada status gizinya.
B. Keluarga berencana
a. Jumlah PUS : 69 orang
b. Keikutsertaan PUS pada program KB
Ikut program KB : 48 orang (69,5%)
Belum ikut program KB : 21 orang (30,4%)
c. Jenis kontrasepsi yang diikuti
IUD : 1 orang (1,4%)

10
PIL : 7 orang (10,1%)
Kondom : 6 orang (8,7%)
Suntik : 34 orang (49,3%)
Tidak KB : 21 orang (30,4%)
DS= dari hasil wawancara dengan warga, mayoritas dari PUS tidak ikut KB
karena takut dengn efek/dampak dari kontrasepsi itu sendiri.
DO= Dari jumlah PUS tersebut 67 % kurang mengerti tentang KB dan 33 %
cukup mengerti tentang KB.
Alasan lain karena ingin memiliki anak lagi, serta malas melakukn KB
karena merasa rumit.
C. Kesehatan remaja
a. Jumlah penduduk remaja : 69 orang (13 %)
b. Jenis kegiatan penduduk remaja mengisi waktu luang
Kumpul-kumpul : 34 orang ( 49,3 %)
Kursus : 2 orang ( 2,9 %)
Olahraga : 15 orang ( 21,7%)
Remaja masjid/gereja : 8 orang (11,6 %)
Lain-lain { di rumah } : 10 orang ( 14,5 %)
D. Kesehatan lansia
a. Jumlah penduduk lansia :38 orang (2,07 %)
b. Keadaan kesehatan lansia
Ada masalah : 17 orang (44,7%)
HT,Gout Atritis,Jantung,
RPD : Strok,Paru-Paru
Tidak ada masalah :21 orang (55,26%)
E. Distribusi penyakit di masyarakat
a. TB Paru : 23 orang (43,5%)
b. ISPA : 5 orang (11,3%)
c. Hipertensi : 21 orang (47,7%)
d. DM : 8 orang (18,18%)
e. Asma : 2 orang (4,5%)
f. Vertigo : 1 orang (2,27%)
g. Gastritis : 2 orang (4,5%)

11
h. Otot Dan Tulang : 11 orang (25%)
i. Hipotensi : 1 Orang (2,27%)
j. Faringitis : 1 Orang (2,27%)
k. Batu Ginjal : 2 orang (4,5%)
DS= Masyarakat yang menderita TB Paru tidak memeriksakan / mengontrol
kesehatannya ke puskesmas. Dan bahkan mereka tidak rutin mengambil obat
TB ke Puskesmas sehingga sebagian warga banyak yang mengalami putus
obat dan kambuh akibat pengobatan yang tidak tuntas atau juga karena bosan/
lupa tidak minum obat TB akibat kesibukan kerja. Mayoritas masyarakat
tidak tahu tentang perawatan TB Paru sehingga mereka kadang-kadang
meludah/ berdahak di sembarang tempat (kadang di got, di jalan umum),
Tidak ada pengkhususan alat tenun dan alat makan antara penderita dengan
orang yang sehat.
DO= warga yang memiliki pengetahuan tentang TB paru sebanyak 23%
Warga yang tidak memilki cukup pengetahuan TB paru sebanyak 57%
Data Subsystem meliputi
l. Lingkungan Fisik
A. Sumber air dan air minum
a. Penyediaan air bersih
i. PAM : 136 KK(99,3%)
ii. Sumur : 1 KK(0,7%)
b. Penyediaan air minum
i. PAM : 75 KK(54,7%)
ii. Aqua : 62 KK(45,3%)
c. Pemanfaatan air minum
i. PAM :75KK (54,7%)
ii. Air minum steril :62 KK (45,3%)
d. Pengelolaan air minum
i. Selalu dimasak : 118 KK (86,1%)
ii. Kadang dimasak dimasak :14 KK (10,2%)
iii. Tidak pernah dimasak : 5 KK (3,6%)

12
B. Saluran pembuangan air/ sampah
a. Kebiasaan membuang sampah
Diangkut petugas : 137 KK (100%)
b. Pembuangan air limbah
Got :137 KK (100%)
c. Keadaan pembuangan air limbah
i. Meluber kemana – mana : 1 KK (0,73%)
ii. Lancar : 136 KK (99,27%)
C. Kandang ternak
a. Kepemilikan kandang ternak
i. Ya : 7 KK (5,1%)
ii. Tidak : 130 KK (94,9%)
b. Letak kandang ternak
Diluar rumah : 7 KK (100%)
D. Jamban
a. Kepemilikan jamban
Memiliki jamban : 137 KK (100%)
b. Macam jamban yang dimiliki
i. Septi tank :129 KK (94,2%)
ii. Sumur cemplung :8 KK(5,9%)
c. Keadaan jamban
i. Bersih : 132 KK (96,4%)
ii. Kotor : 5 KK (3,6%)
DS: sebagian warga membersihkan jambannya tiap seminggu sekali
d. Bila tidak mempunyai jamban berak di
i. WC umum : -KK (%)
ii. Jamban tetangga : -KK (%)
iii. Sungai : -KK (%)
iv. Sawah : -KK (%)
E. Keadaan rumah
a. Type rumah
i. Type A (tembok) : 134 KK (97,8%)
ii. Type B ( ½ tembok) : 3 KK (2,2%)

13
b. Status rumah
i. Milik rumah sendiri : 135 KK (98,5%)
ii. Kontrak : 2 KK (1,5%)
c. Lantai Rumah
Tegel / semen : 137 KK (100%)
d. Ventilasi
i. Ada : 90 KK (65,69%)
ii. Tidak ada : 47 KK (34,31%)
DS=hasil wawancara menunjukan bahwa sebanyak 60 % dari warga yang
memiliki ventilasi, tidak pernah membuka jendela nya
e. Luas kamar tidur
i. Memenuhi syarat :115 KK (83,9%)
ii. Tidak memenuhi syarat :22 KK (16,1%)
f. Penerangan rumah oleh matahari
i. Baik : 70 KK (51,1%)
ii. Cukup : 23 KK (16,79%)
iii. Kurang : 44 KK (32,10%)
DO= hasil survey menunjukan bahwa sekitar 32% rumah warga kurang
pencahayaan sehingga tampak gelap dn ruangan di dalam rumah tampak gelap
g. Halaman rumah
Kepemilikan pekarangan
i. Memiliki : 18 KK(13,1%)
ii. Tidak memiliki : 119 KK(86,9%)
Pemanfaatan pekarangan
Ya : 18 KK(100%)
Jenis pemanfaatan pekarangan rumah
Tanaman : 18 KK(100%)
i. Keadaan pekarangan
Bersih :18 KK (100%)
2. Fasilitas Umum dan Kesehatan
A. Fasilitas umum
a. Sarana Pendidikan Formal
i. Jumlah TK : 1 Buah

14
ii. Jumlah SD/sederajat : 1 Buah
iii.Jumlah SLTP/sederajat : 1 Buah
iv. Jumlah SMU/sederajat : - Buah
v. Jumlah PT/sederajat :- Buah
b. Fasilitas kegiatan kelompok
i. Karang taruna : 1 Kelompok
ii. Pengajian : 1 Kelompok
iii. Ceramah Agama : 2 X/Bulan
iv. PKK : 2 X / Bulan
c. Sarana ibadah
i. Jumlah masjid :2 Buah
ii. Mushola :1 Buah
iii. Gereja : 1 Buah
iv. Pura/vihara : - Buah
d. Sarana olahraga
i. Lapangan sepak bola : 1 Buah
ii. Lapangan bola voli : - Buah
iii. Lapangan bulu tangkis : - Buah
iv. Lain-lain : - Buah
e. Fasilitas kesehatan
Jenis fasilitas kesehatan
i. Puskesmas pembantu :1 buah
Jarak dari desa : 1 Km
Puskesmas : - Buah
Jarak dari desa : - Km
Rumah sakit : - buah
Jarak dari desa : - Km
Praktek Dokter Swasta : - Buah
Praktek Bidan : 1 Buah
Praktek Kesehtan Lain : - Buah
Tukang gigi : - Buah
ii. Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Puskesmas pembantu :1 Buah

15
Puskesmas :Buah
Rumah Sakit :Buah
Praktek Dokter swasta :Buah
Praktek Bidan :Buah
Praktek Kesehtan Lain :Buah
Tukang Gigi :Buah
3. Sosial ekonomi
A. Karakteristik pekerjaan
a. Jenis pekerjaan
i. PNS / ABRI : 9 jiwa (4,1%)
ii. Pegawai swasta : 28 jiwa (12,8%)
iii. Wiraswasta : 17 jiwa (7,8%)
iv. Buruh tani/ pabrik : 162 jiwa (74,3%)
v. Pensiun : 2 jiwa (0,9%)
b. Status pekerjaan penduduk > 18 tahun < 65 tahun
i. Penduduk bekerja : 218 jiwa (52,9%)
ii. Penduduk tidak bekerja : 194 jiwa (47,08%)
c. Pusat kegiatan ekonomi
i. Pasar tradisional : -buah
ii. Pasar swalayan : - buah
iii. Pasar kelontong : - buah
d. Penghasilan rata – rata perbulan
i. < dari 450.000/bulan :7 KK(4,8%)
ii. Rp450.000-Rp 600.000 :28 KK(19,0%)
iii. Rp 600.000-Rp 800.000 :60 KK(40,8%)
iv. >Rp 800.000/bulan :52 KK(35,4%)
e. Pengeluaran rata – rata perbulan
i. Rp150.000-Rp 300.000 :6 KK(4,5%)
ii. 300.000-500.000 :23 KK(17,3%)
iii. >Rp 500.000/bulan :104 KK(78,2%)
B. Kepemilikian industry
Ada

16
C. Jenis industri kecil
Makanan
4. Keamanan dan transportrasi
A. Keamanan
a. Sarana keamanan
i. Poskamling : 1 Buah
ii. Pemadam Kebakaran : Buah
iii. Instansi Polisi : Buah
B. Transportasi
a. Fasilitas Tranportasi
i. Jalan raya :500 m
ii. Jalan tol :-m
iii. Jalan setapak : 300 m
b. Alat transportasi yang dimiliki
i. Tidak Punya : 13jiwa (9%)
ii. Sepeda Pancal : 31 Jiwa (21,7%)
iii. Mobil : 10 Jiwa (6,9%)
iv. Sepeda Motor : 85 Jiwa (59,4 % )
v. Becak : 4 Jiwa (2,8%)
c. Penggunaan sarana transportasi oleh masyarakat
i. Angkutan / kendaraan umum : 13 jiwa (9,5%)
ii. Kendaraan pribadi : 124 jiwa (90,5%)
5. Politik dan Pemerintahan
A. Stuktur organisasi pemerintahan
Ada
B. Kelompok pelayanan kepada masyarakat ( PKK, karang taruna, panti, LKMD,
posyandu)
Ada
C. Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan
Ada
D. Peran serta partai politik dalam pelayanan kesehatan
Tidak ada

17
6. Komunikasi
A. Fasilitas komunikasi yang ada di masyarakat
a. Radio : 54 jiwa (39,4%)
b. TV : 129 jiwa (94,2%)
c. Telepon :137 jiwa (100%)
d. Majalah / Koran : 31 jiwa (22,6%)
B. Teknik penyampaian komunikasi kepada masyarakat
Papan pengumuman (100%)
7. Rekreasi
A. Tempat Wisata Alam :- Buah
B. Kolam Renang :- Buah
C. Taman Kota :- Buah
D. Bioskop :- Buah

18
B. Analisa Data

No Data Etiologi Problem


1. DS: Kurang pengetahuan Resiko
a. Dari hasil wawancara dengan tentang perawatan penularan
warga bahwa Mayoritas penyakit TB paru penyakit TB
masyarakat tidak tahu tentang paru di
perawatan TB Paru sehingga Bilalang 2
mereka kadang-kadang meludah/ Kelurahan
berdahak di sembarang tempat Bilalang
(kadang di got, di jalan umum) kecamatan
b. Tidak ada pengkhususan alat kotamobagu
tenun dan alat makan antara utara
penderita dengan orang yang
sehat.

DO:
1. Warga yang memilki pengetahuan
tentang TB paru sebanyak 23%
2. Warga yang tidak memilki cukup
pengetahuan TB paru
sebanyak 57%
3. Penerangan rumah oleh matahari
yang kurang sebanyak 44 KK
(23,10 %)
Hasil survey menunjukan bahwa
sekitar 32% rumah warga kurang
pencahayaan sehingga tampak gelap
dn ruangan di dalam rumah tampak
gelap

2.

19
2. DS: Kurang pengetahuan Resiko terjadi
1. Dari hasil wawancara dengan tentang penyakit TB paru peningkatan
warga bahwa masyarakat yang prevalensi
menderita TB Paru tidak penyakit TB
memeriksakan / mengontrol Paru di
kesehatannya ke puskesmas Bilalang 2
2. Dari hasil wawancara dengan Kelurahan
warga bahwa mayoritas bilalang
masyarakat tidak rutin kecamatan
mengambil obat TB ke Kotamobagu
Puskesmas utara
3. Dari hasil wawancara dengan
warga bahwa sebagian
masyarakat banyak yang
mengalami putus obat dan
kambuh akibat pengobatan yang
tidak tuntas atau juga karena
bosan/ lupa tidak minum obat TB
akibat kesibukan kerja.
4. Hasil wawancara menunjukan
bahwa sebanyak 60 % dari
warga yang memiliki ventilasi,
tidak pernah membuka jendela
nya
DO:
3. Jumlah penderita TB Paru TB
Paru sebanyak 23 orang (43,5%)
4. Warga yang belum memiliki
ventilasi sebanyak 47 KK (34,31
%)
5. Penerangan rumah oleh matahari
yang kurang sebanyak 44 KK
(23,10 %)

20
Hasil survey menunjukan bahwa
sekitar 32% rumah warga kurang
pencahayaan sehingga tampak gelap
dan ruangan di dalam rumah tampak
gelap
3. DS: Kurangnya peranan Kurang
1. Dari hasil wawancara ternyata fasilitas pelayanan pengetahuan
warga masyarakat belum pernah kesehatan tentang
mendapatkan informasi tentang perawatan TB
penyakit TB paru baik dari tenaga paru di
kesehatan maupun melalui leaflet. Bilalang 2
2. Dari hasil wawancara ternyata Kelurahan
Pada daerah tersebut belum pernah Bilalang
diadakan penyuluhan kesehatan kecamatan
tentang penyakit TB Paru. kotamobagu
DO: utara
1. fasilitas pelayanan kesehatan di
daerah tersebut hanya terdapat 1
buah puskesmas pembantu
2. Pendidikan warga yang lulusan SD
sebanyak 180 KK (47,2 %)
3. Pendidikan warga yang lulusan SD
sebanyak 101 KK (26,5 %)
4. Warga yang tidak bersekolah
sebanyak 24 KK (6,3%)
5. Warga yang memilki pengetahuan
tentang TB paru sebanyak 23%
6. Warga yang tidak memilki cukup
pengetahuan TB paru
sebanyak 57%

21
C. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko penularan penyakit TB paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang kecamatan
kotamobagu utara berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang perawatan
penyakit TB paru
2. Resiko terjadi peningkatan prevalensi penyakit TB Paru di Bilalang 2 Kelurahan
Bilalang kecamatan kotamobagu utara berhubungan dengan Kurang pengetahuan
tentang penyakit TB paru
3. Kurang pengetahuan tentang perawatan TB paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang
kecamatan kotamobagu utara berhubungan dengan Kurangnya peranan fasilitas
pelayanan kesehatan

D. Penapisan Masalah
Perhatian Tingkat Kemungkinan
Poin
Masalah Kesehatan masyarakat bahaya untuk dikelola Skor
prevalensi

Resiko penularan 4 3 4 3 14
penyakit TB paru
Bilalang 2 Kelurahan
Bilalang kecamatan
kotamobagu utara
Resiko terjadi 4 4 4 3 15
peningkatan prevalensi
penyakit TB Paru di
Bilalang 2 Kelurahan
Bilalang kecamatan
kotamobagu utara
Kurang pengetahuan 1 3 3 3 10
tentang perawatan TB
paru di Bilalang 2
Kelurahan Bilalang

22
kecamatan kotamobagu
utara

DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO KRITERIA
1 2 3
1. Sesuai dengan peran perawat komunitas 5 5 5
2. Jumlah yang beresiko 4 5 4
3. Besarnya resiko 5 5 4
4. Kemungkinan untuk penkes 5 5 5
5. Minat masyarakat 2 4 4
6. Kemungkinan untuk diatasi 4 3 4
7. Sesuai dengan program pemerintah 5 5 5
8. Sumber daya tempat 4 4 3
9. Sumber daya waktu 3 4 3

10. Sumber daya dana 4 4 2

11. Sumber daya peralatan 3 4 2


12. Sumber daya orang 2 3 2
Jumlah skor 46 49 43

Keterangan:
1 : Sangat rendah
2 : Rendah
3 : Cukup
4 : Tinggi
5: Sangat Tinggi

E. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas Utama


1. Resiko terjadi peningkatan prevalensi penyakit TB Paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang
kecamatan kotamobagu utara berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang penyakit
TB paru

23
2. Resiko penularan penyakit TB paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang kecamatan
kotamobagu utara berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang perawatan penyakit
TB paru
3. Kurang pengetahuan tentang perawatan TB paru di Bilalang 2 Kelurahan Bilalang
kecamatan kotamobagu utara berhubungan dengan Kurangnya peranan fasilitas pelayanan
kesehatan
F. Perencanaan
No Tujuan jangka pendek Tujuan jangka panjang Intervensi
1 Setelah dilakukan tindakan Setalah dilakukan tindakan 1. Identifikasi factor
keperawatan selama 2 minggu keperawatan masyarakat internal dan eksternal
diharakan tidak terjadi dapat: yang dapat
peningkatan prevalensi 1. Semua penduduk yang meningkatkan atau
penyakit TB menderita TB Paru menurunkan motivasi
memeriksakan untuk memeriksakan
kesehatannya ke puskesmas diri ke puskesmas
2. Masyarakat rutin 2. Identifikasi penyebab
mengambil obat TB di masyarakat tidak
puskesmas engambil obat di
3. Masyarakat yang menderita puskesmas
TB Paru tidak mengalami 3. Identifikasi penyebab
putus obat dan Rutin masyarakat putus obat
minum obat 4. Beri penyuluhan
4. Masyarakat membuka tentang tentang
jendela kamarnya penyakit TB Paru dan
5. Warga yang belum akibat bila tidak
memiliki ventilasi dapat mengkonsumsi obat
membuat ventilasi dengan benar serta
6. Pencahayaan yang cukup penyebab putus obat

2 Setelah dilakukan tindakan Setalah dilakukan tindakan 1. Berikan penyuluhan


keperawatan selama 2 minggu keperawatan masyarakat tentang perawatan
diharakan tidak terjadi penyakit dapat: penyakit TB pru
TB paru

24
1. Masyarakat tahu tentang 2. Jelaskan kepada
perawatan TB Paru masyarakat untuk
2. Masyarakat dapat mengkususkan alat
mengkhususan alat tenun tenun dan makan
dan alat makan antara antara penderita TB
penderita dengan orang dan orang sehat
yang sehat. 3. Jelaskan kepada
4. Warga yang memilki masyarakat pentingnya
pengetahuan tentang TB penerangan rumah oleh
paru matahari
5. Warga memilki cukup 4. Anjurkan masyarakat
pengetahuan TB paru untuk meiliki
6. Penerangan rumah oleh pencahayaan dalam
matahari cukup rumah yang terang
7. Pencahayaan dalam rumah
tampak terang
3 Setelah dilakukan tindakan Setalah dilakukan tindakan 1. Identifikasi
keperawatan selama 2 minggu keperawatan masyarakat pengetahuan
diharapkan pengetahuan dapat: masyarakat tentang
masyarkat meningkat tentang 1. Pengetahuan masyarakat TB Paru
TB Paru serta peranan fasilitas tentang TB Paru meningkat 2. Lakukan penyuluhan
pelayanan kesehatan meningkat (80%) kesehatan tentang TB
2. Masyarakat mengetahui paru(pengertian,
tentang TB paru, penyebab, penyebab, cara
cara pencegahan dan pencegahan dan
penularan penularan)
3. Adanya penyuluhan dari 3. Anjurkan untuk
tenaga kesehatan tentang meningkatkan
TB Paru fasilitas pelayanan
4. Fasilitas pelayanan kesehatan
kesehatan di daerah
tersebut meningkat

25
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tuberculosis adalah penyakit disebabkan mycobacterium tuberculosa yang hampir
seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi paling banyak adalah paru-paru.
Pengobatan Tuberkulosis Paru mempunyai beberapa tujuan yakni menyembuhkan klien
dengan gangguan seminimal mungkin, mencegah kematian klien yang sakit sangat berat,
mencegah kerusakan paru lebih luas dan komplikasi yang terkait, mencegah kambuhnya
penyakit, dan mencegah kuman TBC menjadi resisten
Asuhan keperawatan komunitas di wilayah Bilalang 2 kelurahan bilalang, Kecamatan
kota mobagu utara menggunakan pendekatan proses keperawatan community as partner
yang meliputi pengkajian status kesehatan masyarakat, perumusan diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pemberian asuhan keperawatan melibatakan kader
kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, pimpinan wilayah tersebut.

3.2 Saran
Diharapkan kepada para pembaca dapat memahami dan menerapkan asuhan
keperawatan komunitas ini dalam kehidupan sehari terutama kepada tenaga kesehatan baik
di wilayah kerjanya. Kritik dan saran sangat diharapkan dalam pembuatan makalah ini.

26
DAFTAR PUSTAKA

WHO, 2011. Noncommunicable Diseases Country Profiles 2011.

27