Anda di halaman 1dari 22

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PENYULUHAN UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR


PADA KASUS KANKER PARU BAGI MASYARAKAT DI DESA
TOHUDAN KECAMATAN COLOMADU KABUPATEN
KARANGANYAR PROVINSI JAWA TENGAH

Oleh :

Adhar Wahyu Purnama (P27226017050)


Devi Auria Kusumawati (P27226017063)
Faysa Oktavian Damayanti (P27226017069)
Meisintiyarani Putri Wahyuningtiyas (P27226017077)
Nanda Hanriko Agil (P27226017079)
Novy Dita Ratnasari (P27226017081)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
JURUSAN FISIOTERAPI
TAHUN 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru mencakup keganasan


dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain
(sekunder). Kanker paru merupakan penyebab utama keganasan di dunia dan
mencapai hingga 13% dari semua diagnosis kanker. Selain itu, kanker paru juga
menyebabkan 1/3 dari seluruh kematian akibat kanker pada laki-laki (Kemenkes RI,
2016:1).

Sebanyak 1,3 juta penduduk dunia meninggal akibat kanker paru dan secara
global kanker paru merupakan kanker yang paling sering terdiagnosa sejak tahun
1985. Memiliki insiden paling tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan kanker
lainnya (WHO, 2004). International Agency for Research on Cancer (IARC)
memperoleh data setidaknya 1,8 juta (12,9%) kasus kanker paru ditemukan di tahun
2012, sehingga menjadi kasus kanker paling umum di dunia. Faktanya, sebagian besar
kasus kanker paru (58%) ditemukan di negara-negara berkembang. Berdasarkan data
Profil Mortalitas Kanker (Cancer Mortality Profile) yang dirilis oleh WHO
menyebutkan, angka kematian yang disebabkan oleh kanker di Indonesia mencapai
195.300 orang, dengan kontribusi kanker paru sebesar 21,8% dari jumlah kematian
(Global BurdenCancer, 2012).
Kanker paru memang sudah menjadi ancaman yang mematikan bagi kaum
laki-laki dan perempuan di seluruh dunia terutama laki-laki. Penyebab utama kanker
paru adalah asap rokok karena mengandung lebih dari 4.000 zat kimia, dimana 63
jenis diantaranya bersifat karsinogen dan beracun (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia, 2003:2). American Cancer Society mengemukakan bahwa 80% kasus
kanker paru disebabkan oleh rokok (perokok aktif) sedangkan perokok pasif berisiko
20% sampai 30% untuk terkena kanker paru. Penyebab kanker paru lainnya adalah
radiasi dan polusi udara (American Cancer Society, 2017).
Kanker paru diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu kanker paru primer
dan kanker paru sekunder. Kanker paru primer adalah sel kanker yang berasal dari
paru, sedangkan kanker paru sekunder adalah sel kanker yang menyebar dari anggota
tubuh lain, termasuk kanker payudara dan kanker kolorektal.
Faktor risiko penyakit kanker paru yaitu merokok (faktor utama), umur 40
tahun ke atas, berjenis kelamin laki-laki, menghirup gas radon, riwayat kanker pada
keluarga, riwayat penyakit paru lainnya yaitu PPOK dan fibrosis paru, konsumsi
alkohol, bahan karsinogen di tempat kerja.
Kanker paru adalah kondisi yang serius yang dapat menyebabkan komplikasi
fatal. Kanker paru-paru bisa menyebabkan komplikasi yang paling sering yaitu
anemia. Secara keseluruhan prognosis kanker paru buruk. Angka harapan hidup
sampai 5 tahun pasien kanker paru jenis karsinoma sel kecil dengan tahap batasan
sekitar 20%, sedangkan yang tahap ekstensif sangat buruk < 1%. Angka harapan
hidup sampai 5 tahun pasien kanker paru jenis sel karsinoma bukan sel kecil
bervariasi berdasarkan stadium, 60%-70% pasien dengan stadium I, dan < 1% pada
pasien dengan stadium IV.
Prinsip upaya pencegahan lebih baik dari sebatas pengobatan. Terdapat 3
tingkatan pencegahan dalam epidemiologi penyakit kanker paru, yaitu pencegahan
tingkat pertama, kedua dan ketiga. Pengobatan kanker paru-paru bisa mencakup
tindakan operasi, radioterapi eksternal, kemoterapi, dan langkah-langkah pengobatan
paliatif lainnya, seperti laser, terapi radiasi internal, dan penggunaan obat-obatan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat disimpulkan rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan kanker paru?
2. Bagaimana epidemiologi kanker paru di luar negeri maupun di Indonesia?
3. Bagaimana patofisiologi terjadinya kanker paru?
4. Apa saja klasifikasi dari kanker paru?
5. Bagaimana gambaran klinis terjadinya kanker paru?
6. Faktor risiko apa yang mempengaruhi terjadinya kanker paru?
7. Komplikasi apa saja yang bisa terjadi akibat kanker paru?
8. Bagaimana prognosis seseorang yang telah tekena kanker paru?
9. Bagaimana pencegahan agar seseorang tidak terkena kanker paru?
10. Bagaimana penanganan seseorang yang telah terkena kanker paru?
C. Tujuan
Pada penulisan makalah ini ada beberapa tujuan yang hendak penulis capai
antara lain :
1. Untuk mengetahui definisi dari kanker paru
2. Untuk mengetahui epidemiologi kanker paru di luar negeri maupun di Indonesia
3. Untuk mengetahui patofisiologi terjadinya kanker paru
4. Untuk mengetahui klasifikasi dari kanker paru
5. Untuk mengetahui gambaran klinis terjadinya kanker paru
6. Untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kanker paru
7. Untuk mengetahui komplikasi yang bisa terjadi akibat kanker paru
8. Untuk mengetahui prognosis seseorang yang telah tekena kanker paru
9. Untuk mengetahui pencegahan agar seseorang tidak terkena kanker paru
10. Untuk mengetahui cara penanganan seseorang yang telah terkena kanker paru

D. Manfaat
1. Terhadap institusi pendidikan
Untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang kanker
paru-paru sehingga menjadi bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
2. Masyarakat umum
Masyarakat bisa mendapat informasi tentang penyakit kanker paru, menambah
wawasan tentang bahaya kanker paru, dan menjadi dasar bagi masyarakat untuk
melakukan pencegahan terhadap kanker paru.
3. Bagi mahasiswa
Untuk menambah pemahaman dan pengetahuan secara terperinci mengenai
segala aspek yang berkaitan dengan kanker paru.
4. Manfaat bagi peserta penyuluhan
Untuk menambah pengetahuan bagi peserta penyuluhan untuk belajar
melakukan pencegahan penyakit kanker paru.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru mencakup keganasan
dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain/sekunder
(Depkes, 2003). Kanker paru merupakan penyebar dari kematian utama di antara
penderita kanker paru di dunia, bahkan jika angka kematian kanker paru digabung.
Perkembangan kanker paru tidak dapat dipisahkan dari banyaknya perokok usia
muda, pajanan zat – zat industri serta pengaruh genetik.
Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker yang mempunyai tingkat
insidensi yang tinggi di dunia, sebanyak 17% insidensi terjadi pada pria (peringkat
kedua setelah kanker prostat) dan 19% pada wanita (peringkat ketiga setelah kanker
payudara dan kanker kolorektal) (Ancuceanu and Victoria, 2004). Di Indonesia,
kanker paru menjadi penyebab kematian utama kaum pria dan lebih dari 70 % kasus
kanker itu baru terdiagnosis pada stadium lanjut (Anonim, 2006).

B. Epidemiologi
Di Indonesia, kanker paru menempati peringkat ke-3 penyakit kanker
terbanyak. Kanker paru masuk dalam 10 besar penyakit neoplasma ganas pada pasien
rawat inap dan rawat jalan di rumah sakit (Profil Kesehatan Indonesia, 2004&2005).
Di RS Dharmais Jakarta pada tahun 2007, kanker paru menempati kasus ke-3
terbanyak setelah kanker payudara dan kanker serviks dengan jumlah 113 kasus,
sedangkan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), kanker paru menempati
peringkat ke-5 penyakit kanker terbanyak dengan jumlah 124 kasus pada tahun 2011
dan meningkat menjadi 141 kasus pada tahun 2012.

C. Patofisiologi
Penyebab pasti kanker paru belum diketahui, namun paparan atau inhalasi
berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab
utama, disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik,dan lain-lain.
Dari beberapa kepustakaan, telah dilaporkan bahwa etiologi kanker paru sangat
berhubungan dengan kebiasaan merokok. Lombard dan Doering (1928) melaporkan
tingginya insiden kanker paru pada perokok dibandingkan dengan yang tidak
merokok. Terdapat hubungan antara rata-rata jumlah rokok yang dihisap per hari
dengan tingginya insiden kanker paru. Dikatakan bahwa 1 dari 9 perokok berat akan
menderita kanker paru. Laporan beberapa penelitian mengatakan bahwa perokok pasif
pun berisiko terkena kanker paru. Diperkirakan 25% kanker paru dari pasien bukan
perokok berasal dari perokok pasif. Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang
berperanan dalam kanker paru, yakni proto oncogen, tumor supressor gene, dan gene
encoding enzyme. Etiologi lain dari kanker paru yang pernah dilaporkan adalah
sebagai berikut:
a. Paparan zat karsinogen, seperti :
• Asbestos, sering menimbulkan mesotelioma
• Radiasi ion pada pekerja tambang uranium
• Radon, arsen, kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, vinil klorida
b. Polusi udara
Paparan industri ini biasanya baru tampak pengaruhnya setelah 15-20 tahun.
Lapangan pekerjaan lain yang dikaitkan dengan peningkatan risiko karsinoma
bronkogenik adalah: penambang nikel, industri ion exchange resins yang
menggunakan chloromethyl methyl ether dan bis chloromethyl ether, penambang
biji chromite, industri pemakai arsenikum, gas mostar, jelaga, tir dan hidrokarbon
aromatik polisiklik.
c. Penyakit paru seperti pneumonitis intersisial kronik
d. Riwayat paparan radiasi daerah torak
e. Genetik
Pada tahun 1954, Tokuhotu dapat membuktikan adanya pengaruh keturunan
yang terlepas dari pada faktor paparan lingkungan. Hal ini membuka pendapat
bahwa karsinoma bronkogenik dapat diturunkan. Penelitian akhir-akhir ini
cenderung bahwa faktor yang terlibat adalah, enzim Aryl Hidrokarbon Hidroksilase
(AHH).
f. Umur 40 tahun ke atas
Usia lebih dari 40 tahun merupakan salah satu faktor risiko kanker paru.
Penderita kanker paru berusia lanjut memerlukan perhatian khusus karena sering
telah terjadi penurunan fungsi ginjal, jantung, hati, dan mempunyai cukup banyak
penyakit komorbid lain yang perlu diperhatikan dalam memberi terapi ter utama
yang sistemik. Kondisi psikis, keuangan, dan sosial juga turut membatasi penderita
kanker paru berusia lanjut.
Ciri-ciri kanker paru adalah nyeri pada dada saat batuk atau tertawa, adanya
batuk yang tidak lekas sembuh/kronis, adanya dahak yang berubah warna atau
bahkan bercampur darah, timbul emosi yang tidak stabil, sering sakit kepala, tulang
terasa nyeri, berat badan menurun, dan terasa sakit pada ujung jari. Pada laki-laki
juga ditandai dengan terjadinya pembesaran tidak normal pada bagian dada.

D. Klasifikasi
Diantara beberapa klasifikasi karsinoma paru, yang paling banyak diterima adalah
klasifikasi WHO tahun 1999. Berdasarkan klasifikasi ini, terdapat empat jenis
histologi karsinoma paru yaitu adenokarsinoma, karsinoma epidermoid (karsinoma sel
skuamosa), karsinoma sel besar dan karsinoma sel kecil. Keempat tipe ini merupakan
95% dari keseluruhan kanker paru. Di luar keempat tipe tersebut, ditemukan beberapa
sub tipe yang lain, tetapi sebagian besar diantaranya tidak bernilai klinis maupun
radiologis yang siknifikan. Karsinoma paru yang terdiri lebih dari 1 tipe
histopatologis diklasifikasikan sebagai tumor campuran.

Klasifikasi histologi kanker paru menurut WHO tahun 1999 :

1. Squamous Carcinoma (epidermoid carcinoma)


2. Small Cell Carcinoma
3. Adenocarcinoma
4. Large Cell Carcinoma
5. Aden squamous Carcinoma
6. Carcinoma with pleomorphic sarcomatoid atau sarcomatous elements
7. Carcinoid Tumor
8. Salivary Gland type Carcinoma
9. Unclassified Carcinoma

(World Health Organization, 1999 )

Karsinoma Epidermoid
Angka kejadian karsinoma epidermoid sekitar 30% dari kasus kanker paru.
Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk
metaplasia atau dysplasia akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului
timbulnya tumor. Gambaran mikroskopisnya ditandai adanya keratinisasi disertai
pembentukan ‘bridge’ intraselular yang prominent.
Adenokarsinoma
Menempati sekitar 35-40% kanker paru.Khas dengan bentuk formasi
glandular dan kecenderungan kearah pembentukan konfigurasi papilari. Biasanya
membentuk musin, sering tumbuh dari bekas kerusakan jaringan paru (scar). Dengan
penanda tumor CEA (Carcinoma Embrionic Antigen) karsinoma ini bias dibedakan
dari mesothelioma.

Karsinoma Sel Besar


Ini suatu subtype yang gambaran histologisnya dibuat secara ekslusi.Dia
termasuk NSCLC tapi tak ada gambaran diferensiasi skuamosa atau glandular, sel
bersifat anaplastic, tak berdiferensiasi, biasamya disertai oleh infiltrasi sel netrofil.

Karsinoma Sel Kecil (SCLC)


Karsinoma sel kecil terjadi 15% dari semua jenis kanker paru, kanker ini
cukup agresif, frekuensinya berhubungan dengan jarak metastasis dan mempunyai
prognosis yang buruk pada semua kanker paru primer. Gambaran histologinya yang
khas adalah dominasi sel-sel kecil yang hampir semuanya diisi oleh mukus dengan
sebaran kromatin yang sedikit sekali tanpa nukleoli. Sel-sel yang bermitosis banyak
sekali ditemukan begitu juga gambaran nekrosis.

Tahapan Klasifikasi Stadium Kanker Paru


Menurut Global Bioscience (2013) tahapan kanker paru adalah sebagai berikut:
a. Tahap Perkembangan SCLC
1) Tahap terbatas merupakan tahapan kanker yang hanya ditemukan pada satu
bagian paru-paru saja dan pada jaringan di sekitarnya.
2) Tahap ekstensif merupakan tahapan kanker yang ditemukan pada jaringan dada
di luar paru-paru ataupun ditemukan pada organ-organ tubuh yang jauh.
b. Tahap Perkembangan NSCLC
1) Tahap tersembunyi merupakan tahap ditemukannya sel kanker pada dahak
(sputum) pasien di dalam sampel air saat bronkoskopi, tetapi tidak terlihat
adanya tumor di paru-paru.
2) Stadium 0 merupakan tahap ditemukannya sel-sel kanker hanya pada lapisan
terdalam paru-paru dan tidak bersifat invasif.
3) Stadium I merupakan tahap kanker yang hanya ditemukan pada paru-paru dan
belum menyebar ke kelenjar getah bening sekitarnya.
4) Stadium II merupakan tahap kanker yang ditemukan pada paru-paru dan
kelenjar getah bening di dekatnya.
5) Stadium III merupakan tahap kanker yang telah menyebar ke daerah di
sekitarnya, seperti dinding dada, diafragma, pembuluh besar atau kelenjar getah
bening di sisi yang sama atau pun sisi berlawanan dari tumor tersebut.
6) Stadium IV merupakan tahap kanker yang ditemukan lebih dari satu lobus paru.
Sel-sel kanker telah menyebar juga ke organ tubuh lainnya, misalnya ke otak,
kelenjar adrenalin, hati, dan tulang.

E. Faktor Risiko
Terdapat beberapa faktor risiko dari kanker paru yaitu :
a. Merokok insidensi kanker paru-paru sangat berkorelasi dengan faktor merokok.
Sekitar 90% kanker paru terjadi akibat daripada penggunaan tembakau.Risiko
kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia seseorang individu mulai
merokok, jumlah batang rokok dihisap dalam setiap hari, lamanya kebiasaan
rokok dan lamanya berhenti merokok. (Melissa Stoppler, 2013).
b. Perokok pasif atau menghirup asap tembakau yang ditemukan oleh orang lain di
dalam ruang tertutup merupakan faktor risiko terjadinya pengembangan kanker
paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahawa pada orang- orang yang
tidak merokok yang tinggal dengan perokok atau berdekatan dengan perokok
memiliki risiko terjadi kanker paru sekitar 24% (Melissa Stoppler 2013).
c. Jenis kelamin. Sebagian besar kanker paru mengenai laki-laki (65%) dengan
risiko 1:13 dan pada perempuan 1:20. Perbandingan laki-laki terhadap perempuan
adalah 4:1. Pada suatu penelitian yang dilakukan di RSUPH. Adam Malik Medan
diketahui bahwa berdasarkan jenis kelamin, pada kasus kanker paru ditemukan
lebih banyak jenis kelamin laki-laki sebanyak 73.3% daripada jenis kelamin
perempuan yaitu sebanyak 26,7%.
d. Paparan Zat Karsinogen pada Pekerja
1) Asbestos sering menimbulkan mesothelioma

2) Radiasi ion pada pekerja tambang uranium


3) Pekerja yang terpajan dengan debu yang mengandung radon, arsen, kromium,
nikel, polisiklik hidrokarbon, vinil klorida dan gas mustard. (Amin, 2009)
e. Diet Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap
betakarotene, selenium dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena
kanker paru. The International Agency for Research on Cancer (IARC)
menentukan bahwa cat juga merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker
terutama kanker paru di samping kanker esophagus, abdomen dan kandung
kencing. Cat jenis tertentu diduga mengandung beberapa zat yang bersifat
karsinogenik. Beberapa bahan dalam cat yang dapat menyebabkan kanker paru
antara lain timah, kromium, molybdenum, asbestos, arsenik, titanium, dan
mineral oil (polycylic aromatic hydrocarbon).

F. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis baik tanda maupun gejala kanker paru sangat bervariasi.
Faktor-faktor seperti lokasi tumor, keterlibatan kelenjar getah bening di berbagai
lokasi, dan keterlibatan berbagai organ jauh dapat mempengaruhi manifestasi klinis
kanker paru.

Manifestasi klinis kanker paru dapat dikategorikan menjadi :

1. Manifestasi Lokal Kanker Paru (Intrapulmonal Intratorakal)

Gejala yang paling sering adalah batuk kronis dengan/tanpa produksi sputum.
Produksi sputum yang berlebih merupakan suatu gejala karsinoma sel
bronkoalveolar (bronchoalveolar cell carcinoma). Hemoptisis (batuk darah)
merupakan gejala pada hampir 50% kasus. Nyeri dada juga umum terjadi dan
bervariasi mulai dari nyeri pada lokasi tumor atau nyeri yang lebih berat oleh
karena adanya invasi ke dinding dada atau mediastinum. Susah bernafas (dyspnea)
dan penurunan berat badan juga sering dikeluhkan oleh pasien kanker paru.
Pneumonia fokal rekuren dan pneumonia segmental mungkin terjadi karena lesi
obstruktif dalam saluran nafas. Mengi unilateral dan monofonik jarang terjadi
karena adanya tumor bronkial obstruksi. Stridor dapat ditemukan bila trakea sudah
terlibat.
2. Manifestasi Ekstrapulmonal Intratorakal

Manifestasi ini disebabkan oleh adanya invasi/ekstensi kanker paru ke


struktur/organ sekitarnya. Sesak nafas dan nyeri dada bisa disebabkan oleh
keterlibatan pleura atau perikardial. Efusi pleura dapat menyebabkan sesak nafas,
dan efusi perikardial dapat menimbulkan gangguan kardiovaskuler. Tumor lobus
atas kanan atau kelenjar mediastinum dapat menginvasi atau menyebabkan
kompresi vena kava superior dari eksternal. Dengan demikian pasien tersebut akan
menunjukkan suatu sindroma vena kava superior, yaitu nyeri kepala, wajah
sembab/plethora, lehar edema dan kongesti, pelebaran vena-vena dada. Tumor
apeks dapat meluas dan melibatkan cabang simpatis superior dan menyebabkan
sindroma Horner, melibatkan pleksus brakialis dan menyebabkan nyeri pada leher
dan bahu dengan atrofi dari otot-otot kecil tangan. Tumor di sebelah kiri dapat
mengkompresi nervus laringeus rekurens yang berjalan di atas arcus aorta dan
menyebabkan suara serak dan paralisis pita suara kiri. Invasi tumor langsung atau
kelenjar mediastinum yang membesar dapat menyebabkan kompresi esophagus
dan akhirnya disfagia.

3. Manifestasi Ekstratorakal Non Metastasis

Kira-kira 10-20% pasien kanker paru mengalami sindroma paraneoplastik.


Biasanya hal ini terjadi bukan disebabkan oleh tumor, melainkan karena zat
hormon/peptida yang dihasilkan oleh tumor itu sendiri. Pasien dapat menunjukkan
gejala-gejala seperti mudah lelah, mual, nyeri abdomen, confusion, atau gejala
yang lebih spesifik seperti galaktorea (galactorrhea). Produksi hormon lebih sering
terjadi pada karsinoma sel kecil dan beberapa sel menunjukkan karakteristik neuro-
endokrin. Peptida yang disekresi berupa adrenocorticotrophic hormone (ACTH),
antidiuretic hormone (ADH), kalsitonin, oksitosin dan hormon paratiroid.
Walaupun kadar peptide-peptida ini tinggi pada pasien-pasien kanker paru, namun
hanya sekitar 5% pasien yang menunjukkan sindroma klinisnya. Jari tabuh
(clubbing finger) dan hypertrophic pulmonary osteo-arthropathy (HPOA) juga
termasuk manifestasi non metastasis dari kanker paru. Neuropati perifer dan
sindroma neurologi seperti sindroma miastenia Lambert-Eaton juga dihubungkan
dengan kanker paru.
4. Manifestasi Ekstratorakal Metastasis

Penurunan berat badan >20% dari berat badan sebelumnya (bulan


sebelumnya) sering mengindikasikan adanya metastasis. Pasien dengan metastasis
ke hepar sering mengeluhkan penurunan berat badan. Kanker paru umumnya juga
bermetastasis ke kelenjar adrenal, tulang, otak, dan kulit. Keterlibatan organ-organ
ini dapat menyebabkan nyeri local. Metastasis ke tulang dapat terjadi ke tulang
mana saja namun cenderung melibatkan tulang iga, vertebra, humerus, dan tulang
femur. Bila terjadi metastasis ke otak, maka akan terdapat gejala-gejala neurologi,
seperti confusion, perubahan kepribadian, dan kejang. Kelenjar getah bening
supraklavikular dan servikal anterior dapat terlibat pada 25% pasien dan sebaiknya
dinilai secara rutin dalam mengevaluasi pasien kanker paru.

G. Komplikasi
Kanker paru-paru adalah kondisi yang serius yang dapat menyebabkan
komplikasi fatal. Kanker paru-paru bisa menyebabkan komplikasi, seperti:Anemia
merupakan komplikasi yang sering pada penderita kanker paru dengan prevalensi
63%. Anemia berhubungan dengan prognosis yang buruk pada pasien kanker. Anemia
mengganggu respon pengobatan radiasi, karena anemia mengurangi kemampuan
darah untuk mengangkut oksigen sehingga jaringan kekurangan oksigen. Anemia
menyebabkan hipoksia tumor sehingga tumor solid resisten terhadap ionisasi radiasi
dan beberapa bentuk kemoterapi. Penelitian retrospektif oleh Hirarki A dan Maeda T,
di Jepang terhadap 611 pasien kanker paru menunjukan bahwa kadar hemoglobin3,5
g/dl lebih baik dibandingkan kadar albumin.

H. Prognosis

Secara keseluruhan prognosis kanker paru buruk. Angka harapan hidup sampai
5 tahun pasien kanker paru jenis karsinoma sel kecil dengan tahap batasan sekitar
20%, sedangkan yang tahap ekstensif sangat buruk < 1%. Angka harapan hidup
sampai 5 tahun pasien kanker paru jenis sel karsinoma bukan sel kecil bervariasi
berdasarkan stadium, 60%-70% pasien dengan stadium I, dan < 1% pada pasien
dengan stadium IV. Rata-rata pasien kanker paru jenis sel karsinoma bukan sel kecil
yang telah bermetastase jika tidak 25 diterapi angka harapan hidupnya 6 bulan. Saat
ini harapan hidup pasien kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil stadium dini
maupun lanjut meningkat, dari yang didapat harapan hidup pasien dengan stadium
dini apabila diberikan regimen platinum-based setelah dilakukan reseksi. Terapi target
juga meningkatkan harapan hidup pasien dengan stadium IV. Namun pada penyakit
yang telah bermetastase hasilnya masih mengecewakan.

I. Pencegahan
Prinsip upaya pencegahan lebih baik dari sebatas pengobatan. Terdapat 3
tingkatan pencegahan dalam epidemiologi penyakit kanker paru, yaitu :
1. Pencegahan Primordial (Pencegahan tingkat Pertama)
Pencegahan terhadap etiologi (penyebab) penyakit. Pencegahan primer
dilakukan pada orang yang sehat (bebas kanker).Langkah nyata yang dapat
dilakukan adalah memberikan informasi kepada masyarakat tentang pencegahan
kanker. Upaya yang dapat dilakukan adalah upayaPromosi kesehatan, upaya untuk
memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit kanker paru
tidak dapat berkembang karena tidak adanya peluang dan dukungan dari kebiasaan,
gaya hidup maupun kondisi lain yang merupakan faktor resiko untuk munculnya
penyakit kanker paru. Misalnya : menciptakan prakondisi dimana masyarakat
merasa bahwa merokok itu merupakan kebiasaan yang tidak baik dan masyarakat
mampu bersikap positif untuk tidak merokok. Seseorang perokok yang
telah berhasil berhenti 10 tahun lamanya berarti telah dapat menurunkan risiko 30 -
50 persen untuk terkena kanker paru.
Selain itu, senantiasa menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat
(olahraga teratur, tidur cukup, hidup bebas stress serta pola makansehat) , dan
makan suplemen secara teratur.
2. Pencegahan Sekunder ( pencegahan tingkat kedua)
Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang dilakukan padaorang yang
sudah sakit. Tujuannya adalah untuk mencegah perkembangan penyakit lebih
lanjut dari penyakit serta membatasi terjadinya kecacatan. Upaya yang dilakukan
adalah :
a. Diagnosis Dini : misalnya dengan screening.
b. Pengobatan : misalnya dengan Kemotherapi, Pembedahan atau iradiasi.

Adapun tips-tips makanan sehat yang untuk menghindari kanker :

1) Perbanyak konsumsi rumput laut


2) Kurangi makanan berlemak
3) Perbanyak konsumsi serat
4) Perbanyak konsumsi ikan
5) Perbanyak konsumsi produk dari kedelai
6) Hindari makanan yang dibakar arang

3. Pencegahan tingkat ketiga


Pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara rehabilitasi.

J. Penanganan
Pengobatan kanker paru-paru bisa mencakup tindakan operasi,
radioterapi eksternal, kemoterapi, dan langkah-langkah pengobatan
paliatif lainnya, seperti laser, terapi radiasi internal, dan penggunaan
obat-obatan. Perawatan modalitas tunggal atau kombinasi bisa
digunakan, tergantung pada status kesehatan pasien secara umum.
1. Bedah
Metode pengobatan ini menawarkan peluang kesembuhan
terbaik bagi pasien yang menderita kanker paru-paru stadium
awal, yang belum menyebar keluar dari paru-paru. Tingkat kuratif
dari tindakan operasi mencapai lebih dari 60% di antara pasien
penderita penyakit stadium awal. Volume reseksi tergantung pada
status tumor yang ganas. Tindakan operasi mungkin melibatkan
proses pengangkatan tumor bersama dengan beberapa jaringan di
sekitarnya, sementara tindakan lainnya mungkin melibatkan
proses pengangkatan seluruh lobus atau bahkan satu bagian dari
paru-paru.
2. Radioterapi Eksternal
Tindakan ini bisa diberikan sebagai terapi kuratif kanker
paru-paru stadium awal bagi pasien yang tidak bisa menjalani
tindakan operasi karena sudah berusia lanjut atau memiliki
penyakit lainnya. Radioterapi berguna untuk menghancurkan sel-
sel kanker pada pasien jika terdapat penyebaran tumor secara
lokal, sel kanker yang tidak bisa diangkat melalui tindakan
pembedahan pasca operasi, atau gejala yang disebabkan oleh
penyebaran kanker (seperti sakit tulang dan metastasis otak).
3. Kemoterapi
Untuk pasien dengan kanker paru-paru metastatik, obat
kemoterapi (obat antikanker) akan digunakan untuk membantu
menghentikan pembelahan dan perkembangan sel-sel kanker.
Obat antikanker tunggal atau kombinasi akan disuntikkan ke
tubuh pasien dengan metode infus intravena. Pasien perlu
beristirahat selama 3-4 minggu sebelum menerima infus lebih
lanjut, biasanya 4-6 infus akan diberikan selama keseluruhan
tindakan pengobatan ini.
4. Terapi yang ditargetkan
Pengobatan ini ditujukan ke molekul tertentu yang terlibat
dalam jenis tumor tertentu. Tindakan pengobatan ini memberikan
efek samping yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan
kemoterapi tradisional, yang mengurangi dampak negatif pada sel
induk hematopoietik atau sistem kekebalan tubuh. Tindakan ini
sangat cocok bagi pasien penderita kanker paru-paru metastatik
jenis tertentu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan pelaksanaan program ini diharapkan masyarakat khususnya laki-laki
bisa semakin produktif dalam melakukan aktifitas sehari-hari dan dapat
mengurangi risiko terkena kanker paru.
B. Saran
Semoga program ini tidak hanya berhenti disini, tapi bisa tetap terus terlaksana
mengingat pentingnya kesehatan paru-paru. Menyadari bahwa kami masih jauh
dari kata sempurna, kedepannya kami akan lebih fokus dan detail dalam menulis
makalah ini.
LAMPIRAN

a. Poster
b. Materi
c. Presensi
d. Dokumentasi
MATERI (LEAFLET)
PRESENSI