Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH TITRASI

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktikum Teknik Pekerjaan Laboratorium Kimia
(TPLK)

Dosen Praktikum :

Tuti Rustiana, S.Si.

Disusun oleh :

Kelompok 1

Istiqomah 1611E1030

Sartika Dwi Jayanti 1611E1064

Silvia Minhatul M. 1611E1069

D3B ANALIS KESEHATAN

SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH BANDUNG

2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan dengan baik. Makalah ini ditunjukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia Analitik di semester dua.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi
maupun penyajiannya. Hal ini disebabkan kemampuan dan pengetahuan penulis yang masih
sangat terbatas. Walaupun demikian penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan
makalah ini dengan sebaik- baiknya.
Akhir kata Penulis mengharapkan semoga makalah yang disusun ini dapat bermanfaat,
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.

Bandung,30 januari 2018

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. 3
DAFTAR ISI.................................................................................................. Error! Bookmark not defined.
I. LATAR BELAKANG .......................................................................................................................... 5
II. TUJUAN PEMBAHASAN................................................................................................................... 5
III. PERUMUSAN MASALAH ............................................................................................................. 5
IV. DASAR TEORI ................................................................................................................................ 6
4.1 Pengertian titrasi ................................................................................................................................. 6
4.2 prinsip dasar titrasi .............................................................................................................................. 6
4.3 Alat-alat............................................................................................................................................... 6
4.3.1 Buret............................................................................................................................................. 6
4.3.2 Tabung erlemeyer ........................................................................................................................ 9
4.3.3 Labu ukur ................................................................................................................................... 10
4.3.4 Pipet ukur ................................................................................................................................... 11
4.3.5 Pipet penghisap .......................................................................................................................... 11
4.3.7 pipet tetes ................................................................................................................................... 12
4.3.8 Botol semprot ............................................................................................................................. 12
4.5 prosedur titrasi .................................................................................................................................. 13
4. 6 syarat-syarat proses titrasi ............................................................................................................... 13
4.7 cara melakukan titrasi ....................................................................................................................... 14
V. KESIMPULAN ................................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 15
I. LATAR BELAKANG

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan
berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi
asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan
reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi
kompleks dan lain sebagainya.
Titrasi ialah salah satu metode kimia untuk dapat menentukan konsentrasi suatu larutan dengan
cara mereaksikan sejumlah volume larutan itu terhadap sejumlah volume larutan lain yang
konsentrasinya itu sudah diketahui. Larutan yang konsentrasinya itu sudah diketahui disebut dengan
larutan baku. Larutan yang belum diketahui konsentrasinya ditambahkan beberapa tetes indikator,
setelah itu ditetesi dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Titik akhir titrasi ialah tepat
pada saat terjadi sebuah perubahan warna indikator. Titrasi yang melibatkan reaksi asam serta basa
disebut dengan titrasi asam-basa. Terdapat dua jenis titrasi asam basa, yakni asidimetri (penetuan
konsentrasi larutan basa dengan menggunakan larutan baku asam) serta jugalkalimetri (penentuan
konsentrasi larutan asam dengan menggunakan larutan baku basa).
.

II. TUJUAN PEMBAHASAN


Tujuan pembahasan masalah-masalah dalam makalah ini adalah agar kita dapat
mengetahui dan mampu menjelaskan tentng jenis-jenis titrasi dan penerapannya. Selain itu
makalah ini juga dibuat dengan tujuan membuka pola piker srta memenuhi tugas yang diberikan.

III. PERUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah secara singkat dari isi masalah ini adalah sebagai berikut :
 PENGERTIAN TITRASI
 Prinsip
 Alat
 Prosedur titrasi
 Syarat-syarat proses titrasi
IV. DASAR TEORI

4.1 Pengertian titrasi


Titrasi adalah sebuah metode yang digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan.
tujuan dari sebuah titrasi yaitu untuk menentukan kadar suatu sampel. Atau juga dapat
dikatakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang
sudah dikethaui konsentrasinya.

4.2 prinsip dasar titrasi


prinsip dasar sebuah titrasi yaitu NETRALISASI.
Satuan dalam titrasi ada 3 yaitu :
 satuan M ( Molaritas )
 satuan PPM
 satuan Massa
larutan yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “analit” dan biasanya diletakkan di
dalam erlenmeyer, sedangkan larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut
sebagai larutan standart atau titer dan diletakkan didalam buret.

4.3 Alat-alat :

4.3.1 Buret

Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium berbentuk silinder yang memiliki garis
ukur dan sumbat keran pada bagian bawahnya. Ia digunakan untuk meneteskan sejumlah reagen
cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi.
Buret sangatlah akurat, buret kelas A memiliki akurasi sampai dengan ± 0,05 cm3. Oleh
karena presisi buret yang tinggi, kehati-hatian pengukuran volume dengan buret sangatlah
penting untuk menghindari galat sistematik.
Ketika membaca buret, mata harus tegak lurus dengan permukaan cairan. Bahkan
ketebalan garis ukur juga mempengaruhi, pada penggunaan meniskus bawah, digunakan untuk
larutan berwarna jernih, sementara penggunaan meniskus atas, digunakan pada larutan berwarna.
Oleh karena presisinya yang tinggi, satu tetes cairan yang menggantung pada ujung buret harus
ditransfer ke labu penerima, biasanya dengan menyentuh tetasan itu ke sisi labu dan
membilasnya ke dalam larutan dengan pelarut.
Buret dapat dibedakan menjadi beberapa macam bergantung kapasitasnya , fungsi, dan jenisnya.
 Berdasarkan Ukuranya buret dibagi menjadi beberapa macam yaitu :
1. Buret makro yaitu buret yang kapasitasnya 50 ml dan skala terkecilnya dapay dibaca sampai
0.10 ml
2. Buret semimikro mempunyai volume 25 ml dengan skala terkecil dapat dibaca sampai 0.050
ml.
3. Buret makro mempunyai volume 10 ml. Skala terkecilnya adalah 0.020 ml

 Jenis buret berdasarkan peruntukanya:


1. Buret asam ( dengan cerat kaca ) digunakan untuk larutan yang bersifat asam (HNO3, HCl),
netral (Tiosulfat) dam larutan pengoksid (KCrO4)
2. Buret basa digunakan untuk larutan yang bersifat basa seperti NaOH, KOH dll. Memiliki
ujung cerat karet dengan bola kaca yang berfungsi mirip seperti keran.
3. Buret amberglas adalah buret yang terbuat dari bahan kaca yang berwarnacoklatatau
gelap.Buter ini berfungsi untuk larutan yang mudah teroksidasi oleh cahaya matahari seperti
larutan Kalium permanganat atau iodium.
4. Buret Universal yaitu buret yang dapat digunakan untuk semua jenis larutan baik yang
bersifat basa maupun asam, Cerat unungnya terbuat dari teflon.

 Buret berdasarkan jenisnya ada 2 yaitu :


1. Buret yang tidak memiliki alat bantu (Polos)
2. Buret Schellbach, yaitu buret dinding dalam badian belakangnya dilengkapi dengan garis
biru diatas dasar putih.
 Selain itu buret juga dibagi berdasakan tingkat ketelitianya. Ada dua tingkat kelas ketelitian
buret yaitu :
1. Buret Kelas A, mempunyai ketelitian tinggi dan umumnya digunakan dalam penelitian.
Buret ini dibuat dari kaca yang mempunyai nilai muao panjang yang sangat kecil sehingga
pemuanya hanya sedikit dipengaruhi oleh perbedaan suhu. Walaupun buret ini dapat langsung
dipakai tanpa perlu dikalibrasi, namun dianjukan untuk tetap dikalibrasi secara berkala.
2. Buret Kelas B,mempunyai ketelitian lebih rendah dari buret kelas A dan biasanya hanya
digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan yang tidak memerlukan tingkat ketelitain
yang akurat.
Menggunakan Buret :

1. Oleh karena presisi buret yang tinggi, kehati-hatian pengukuran volume dengan buret
sangatlah penting untuk menghindari galat sistematik. Ketika membaca buret, mata harus tegak
lurus dengan permukaan cairan untuk menghindari galat paralaks. Bahkan ketebalan garis ukur
juga mempengaruhi pembacaan. Bagian bawah meniskus cairan harus menyentuh bagian atas
garis. Kaidah yang umumnya digunakan adalah dengan menambahkan 0,02 mL jika bagian
bawah meniskus menyentuh bagian bawah garis ukur. Oleh karena presisinya yang tinggi, satu
tetes cairan yang menggantung pada ujung buret harus ditransfer ke labu penerima, biasanya
dengan menyentuh tetasan itu ke sisi labu dan membilasnya ke dalam larutan dengan pelarut.
2. Untuk mengisi buret, menutup stopcock (keran) di bagian bawah dan menggunakan corong
untuk menghindari terjadinya tumpahan. Anda mungkin perlu untuk mengangkat corong sedikit,
untuk memungkinkan larutan penitar untuk mengalir bebas
3. Anda juga dapat mengisi buret menggunakan pipet transfer sekali pakai. Pipet ini bekerja
lebih baik daripada corong terutama untuk buret berkapasitas kecil (10 burets ml). Pastikan pipet
transfer kering kemudian dibilas dengan titran, sehingga konsentrasi larutan tidak akan berubah.
4. Sebelum titrasi, Perlu diperhatikan kondisi buret dengan larutan titran dan memeriksa bahwa
buret mengalir bebas. Untuk kondisi buret, bilas sehingga semua permukaan yang ada dilapisi
dengan larutan, lalu tiriskan. Pembilasan dua atau tiga kali akan memastikan bahwa konsentrasi
titran tidak diubah oleh setetes air yang tertinggal.
5. Periksa ujung buret dari adanya gelembung udara. Untuk menghilangkan sebuah gelembung
udara,dengan cara memukul sisi ujung buret sementara larutan mengalir. Jika terdapat
gelembung udara yang hadir selama titrasi, pembacaan volume mungkin dalam kesalahan dan
akan mempengarahi keakuratan data tang diperoleh.
6. Bilas ujung buret dengan air dari botol mencuci (labu semprot) dan mengeringkan hati-hati.
Setelah beberapa menit memeriksa larutan pada ujung untuk melihat apakah buret Anda bocor.
Tip(ujung mulut buret) harus bersih dan kering sebelum Anda membaca volume awal.
7. Ketika buret anda diisi dengan larutan, tanpa gelembung udara atau kebocoran, maka
sebelum membaca volume awal (biasanya menginpitkan ke titik 0,00 ml skala). Pastikan bahwa
dinding bagian dalam buret dalam kondisi kering. Kita dapat menggunakan bantuan kertas saring
untuk mengeringkan bagian dalam buret. Hal ini bertujuan untuk menghindari penambahan
volume larutan setelah diimpitkan.
8. Pembacaan buret kartu dengan persegi panjang hitam dapat membantu Anda untuk
mengambil membaca lebih akurat. Baca bawah dari meniskus. Pastikan mata anda pada tingkat
meniskus, bukan atas atau di bawah. Membaca dari sudut, bukan lurus, menghasilkan kesalahan
paralaks.
9. Memberikan larutan untuk labu titrasi dengan memutar stopcock (kran) tersebut. Larutan
penitar harus disampaikan dengan cepat sampai beberapa mL dari titik akhir.
10. Titik akhir harus didekati perlahan-lahan, dengan penambahan tetes demi tetes.. Gunakan
labu semprot untuk membilas/mencuci ujung buret dari larutan. Titik akhir (ekivalen) dapat
menunjukkan kepada Anda bagaimana untuk memberikan setetes sebagian larutan, ketika
mendekati titik akhir.

4.3.2 Tabung erlemeyer


Erlenmeyer adalah tempat penyimpanan larutan primer dalam proses titrasi. Larutan
primer yaitu larutan yang disiapkan dengan cara menimbang secara akurat yang memiliki
kemurnian tinggi dan melarutkannya dengan sejumlah tertentu pelarut dalam labu ukur. Larutan
primer konsentrasinya didapat dari perhitungan.
Syarat zat yang bisa dijadikan standar primer :
 100% zat murni
 Zat tersebut harus stabil pada waktu dilakukan Pemanasan.
 Mudah diperoleh
 Zat standar primer memiliki MR.

4.3.3 Labu ukur

Labu ukur biasanya digunakan untuk mengencerkan zat tertentu hingga batas leher labu
ukur. Dalam sistem pengenceran, untuk zat yg tidak berwarna, penambahan aquadest sampai
menunjukkan garis meniskus berada di leher labu. zat yg berwarna,perlu adanya penambahan
aquadets hingga dasar meniskus yg menyentuh leher labu ( meniskus berada di atas garis leher ).,
tidaklah luar biasa untuk memiliki larutan encer atau mengurangi kepekatan mereka dengan
menambahkan sejumlah pelarut.

Banyak bahan kimia laboratorium dibeli dalam bentuk larutan air yang pekat karena
inilah cara pembelian yg plg ekonomis. Tetapi biasanya bahan kimia ini terlalu pekat untuk
langsung digunakan, dan karenanya hrs diencerkan terlebih dahulu.
4.3.4 Pipet ukur

Untuk mengambil analit dengan volume tertentu misal 10, atau 25 mL maka gunakan
pipet ukur, jangan menggunakan gelas ukur karena pipet ukur lebih presisi. Pipet ukur tersedia
dalam banyak ukuran.

4.3.5 Pipet penghisap

alat untuk menyedot larutan yang biasanya terdapat pada pangkal pipet ukur.filler
memiliki 3 saluran yang masing-masing saluran memiliki katup. Katup yang bersimbol A
(aspirate) berguna untuk mengeluarkan udara dari gelembung. S (suction) merupakan katup yang
jika ditekan maka cairan dari ujung pipet akan tersedot ke atas.
1.3.6 Statif

Statif terbuat dari besi yang betujuan untuk menegakkan buret, corong, corong pisah dan
peralatan gelas lainnya pada saat digunakan atau pada saat sedang titrasi dilakukan.

4.3.7 pipet tetes

pipet tetes biasanya dipakai untuk mengambil indikator yang akan digunakan pada waktu
titrasi.

4.3.8 Botol semprot


Botol semprot merupakan peralatan yang terbuat dari plastik berbentuk botol dengan
penutup yang dilengkapi dengan pipa / slang plastik. Prinsip kerja alat ini sangat sederhana, yaitu
dengan memberikan tekanan pada badang botol dan selanjutnya cairan akan terdesak dan keluar
melalui selang plastik yang ada pada penutupnya.
Botol semprot difungsikan antara lain untuk:

 mengeluarkan (menyemprotkan) cairan yang disimpan dalam botol tersebut


 membilas peralatan kimia lain dalam proses pencucian atau sterilisasi
 pengenceran larutan dalam suatu wadah yang bercelah sempit, seperti: labu ukur,
erlenmeyer,dsb.

4.5 prosedur titrasi


1. pembuatan baku primer
2. pembuatan baku sekunder
3. pembakuan
4. penetapan kadar sampel

4. 6 syarat-syarat proses titrasi yaitu :


1. reaksi yang sedang kita lakukan harus berjalan dengan cepat
2. harus ada penandanya bahwa reaksi antara analit dengan titran tersebut sesuai ekuivalen
secara stokiometri.
3. tidak ada hal yang lain yang akan mengganggu reaksi antara analit dengan titran
4. reaksi antara analit dengan titran harus memiliki keseimbangan yang agak jauh ke daerah
sebelah kanan hal ini untuk memastikan berdasarkan kuantitatif yang di hitung dan memastikan
bahwa titik akhir titrasi tersebut bisa di amati.
Banyak metode yang dapat digunakan untuk mengindikasikan titik akhir dalam reaksi; titrasi
biasanya menggunakan indikator visual (larutan reaktan yang berubah warna). Dalam titrasi
asam-basa sederhana, indikator pH dapat digunakan, sebagai contoh adalah fenolftalein, di mana
fenolftalein akan berubah warna menjadi merah muda ketika larutan mencapai pH sekitar 8.2
atau melewatinya. Contoh lainnya dari indikator pH yang dapat digunakan adalah metil jingga,
yang berubah warna menjadi merah dalam asam serta menjadi kuning dalam larutan alkali.
Larutan baku dapat dibuat dengan cara penimbangan zatnya lalu dilarutkan dalam sejumlah
pelarut(air). Larutan baku ini sangat bergantung pada jenis zat yang ditimbangnya/dibuat.
Larutan yang dibuat dari zat yang memenuhi syarat-syarat tertentu disebut larutan baku primer.

4.7 cara melakukan titrasi adalah sebagai berikut :

1. Untuk melakukan titrasi, kita harus menyiapkan terlebih dahulu peralatan yang dibutuhkan.
2. Selain itu, kita juga harus menyiapkan larutan baku, yaitu larutan standar yang telah
diketahui konsentrasinya. Di laboratorium, konsentrasi larutan baku biasanya sangat pekat.
Untuk menghemat penggunaan, larutan baku dapat diencerkan dengan cara penambahan aquades
dengan volume tertentu.
3. Larutan baku yang konsentrasinya telah diketahui biasanya ditempatkan dalam buret, dan
disebut larutan penitrasi. Konsentrasi larutan penitrasi harus sudah diketahui. Larutan yang akan
ditentukan konsentrasinya, ditempatkan dalam labu titrasi, dan disebut larutan yang dititrasi.
Volume larutan yang akan dititrasi harus sudah diketahui.
4. Selanjutnya, ke dalam larutan yang akan dititrasi diteteskan indikator asam-basa.
Penempatan larutan dalam buret dan labu titrasi boleh ditukar. Larutan baku boleh dijadikan
larutan penitrasi dan boleh juga dijadikan larutan yang akan dititrasi.
5. Teteskan larutan penitrasi perlahan-lahan ke dalam larutan yang akan dititrasi. Penetesan
dihentikan jika sudah tercapai titik akhir titrasi, yaitu saat zat dalam larutan yang dititrasi tepat
habis bereaksi dengan zat dalam larutan penitrasi. Titik akhir titrasi diketahui dari perubahan
warna larutan indikator. Tepat pada saat seluruh zat habis bereaksi, larutan indicator
segeraberubah warna, dan pada saat inilah penetesan dari buret harus segera dihentikan.

V. KESIMPULAN

Titrasi merupakan suatu metda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan
zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi
yang terlibat didalam proses titrasi, sebagai cntoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut
sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan titrasi reduksi oksidasi,
titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi komplek dan lain
sebagainya .

DAFTAR PUSTAKA

Day,R.A., 1981. Analisis kimia kuantitatif.Erlangga. Jakarta.


http://esdikimia.wordpress.com/2011/06/17/titrasi-asam-basa/
http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/sri%20ratisah%20054828/materi.HTM
sukmariah. 1990. Kimia kedokteran edisi 2. Bina rupa aksara, jakarta.
Brady, jsmes E. 1999. Kimia universitas asas dan struktur. Bina rupa aksara, jakarta.
Syukuri. 1999. Kimia dasar 2. ITB, bandung