Anda di halaman 1dari 41

STRUKTUR PENDUDUK

by
Jeffry RHS
 Struktur/komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk
yang dibuat berdasarkan pengelompokkan penduduk menurut
karakteristik-karakteristik yang sama.

 Beberapa contoh struktur/komposisi penduduk dapat dibuat, seperti


struktur/komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, status
perkawinan, tingkat pendidikan, lapangan pekerjaan, dan agama.
 Tujuan dari pengelompokkan penduduk menurut karakteristik
adalah:

1. Mengetahui sumber daya manusia (SDM) atau human resources

2. Mengambil kebijakan bidang kependudukan

3. Membandingkan keadaan penduduk dengan penduduk lainnya

4. Mengetahui proses demografi dengan menggambarkan piramida


penduduk
 Komposisi penduduk dapat diklasifikasikan menurut:

1. Umur, jenis kelamin (ciri-ciri biologis)

2. Tingkat pendidikan, status perkawinan (ciri-ciri sosial)

3. Lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan (ciri-


ciri ekonomi)

4. Tempat tinggal, seperti propinsi, kabupaten, kecamatan,


kelurahan/desa, daerah perkotaan/perdesaan atau U/R (ciri-ciri
geografis)
UMUR PENDUDUK

 Dalam pengetahuan tentang kependudukan dikenal istilah


karakteristik penduduk yang berpengaruh penting terhadap proses
demografi dan tingkah laku sosial ekonomi penduduk. Karakteristik
penduduk yang paling penting adalah umur dan jenis kelamin, atau
yang sering juga disebut struktur umur dan jenis kelamin.

 Komposisi umur dan jenis kelamin sering digunakan untuk analisis


perencanaan pembangunan dibidang kependudukan (jumlah
pasangan usia subur), ketenagakerjaan (jumlah angkatan kerja dan
bukan angkatan kerja), dan pendidikan (usia sekolah/wajib belajar).
 Struktur umur penduduk dapat dilihat dalam umur satu tahunan
atau yang disebut juga umur tunggal (single age), dan yang
dikelompokkan dalam lima tahunan.

 Dalam pembahasan demografi pengertian umur adalah umur pada


saat ulang tahun terakhir.

 Misalnya, Ani lahir pada bulan Januari tahun 1998 dan Sensus 2000
dilaksanakan pada bulan Juli. Jadi pada saat Sensus 2000
dilaksanakan Ani berusia 2 tahun 6 bulan, tetapi dalam perhitungan
demografi Ani dicatat sebagai berumur 2 tahun saja.
DIGITAL PREFERENCE

 Sensus maupun survey yang dilaksanakan di Indonesia mencatat


adanya digital preference, yakni kecenderungan penduduk
menyebut umurnya dengan angka berakhiran 0 atau 5.
 Hal ini menyebabkan penumpukan penduduk dengan umur-umur
berakhiran 0 dan 5 (age heaping), sebaliknya terdapat kekurangan
cacah pada umur-umur lain terutama umur yang berakhiran 1, 4, 6,
dan 9.
 Untuk menanggulangi hal ini demografer memakai struktur umur
yang dikelompokkan dalam umur lima tahunan yakni: 0-4; 5-9; 10-
14; 15-19; 20-24; 25-29; 30-34; 35-39; 40-44; 45-49; 50-54; 55-59;
60-64; 65-69; 70-74; 75 tahun ke atas.
Catatan:
 Harap diperhatikan bahwa penulisan kelompok umur adalah 0-4, 5-

9, … dst, dan bukan 0-5, 6-10, dll.


 Penulisan pengelompokan 0-4 berarti kelompok penduduk umur 0

sampai dengan umur 4 tahun 11 bulan 29 hari, yakni tepat sehari


sebelum umur 5 tahun.
 Demikian juga untuk usia 9, 14, dst.

 Ini berkaitan dengan definisi umur saat ulang tahun terkahir yang

telah diterangkan sebelumnya.


PENDUDUK MUDA DAN PENDUDUK TUA

 Pengelompokkan penduduk menurut umur dapat digunakan untuk


mengetahui apakah penduduk di suatu wilayah termasuk
berstruktur umur muda atau tua.
 Penduduk suatu wilayah dianggap penduduk muda apabila
penduduk usia dibawah 15 tahun mencapai sebesar 40 persen atau
lebih dari jumlah seluruh penduduk.
 Sebaliknya penduduk disebut penduduk tua apabila jumlah
penduduk usia 65 tahun keatas diatas 10 persen dari total
penduduk.
 Suatu bangsa yang mempunyai karakteristik penduduk muda akan
mempunyai beban besar dalam investasi sosial untuk pemenuhan
kebutuhan pelayanan dasar bagi anak-anak dibawah 15 tahun ini.
 Dalam hal ini pemerintah harus membangun sarana dan prasarana
pelayanan dasar mulai dari perawatan Ibu hamil dan kelahiran bayi,
bidan dan tenaga kesehatan lainnya, sarana untuk tumbuh
kembang anak termasuk penyediaan imunisasi, penyediaan
pendidikan anak usia dini, sekolah dasar termasuk guru-guru dan
sarana sekolah yang lain.
 Sebaliknya bangsa dengan ciri penduduk tua akan mengalami beban
yang cukup besar dalam pembayaran pensiun, perawatan kesehatan
fisik dan kejiwaan lanjut usia (lansia), pengaturan tempat tinggal
dan lain-lain.
 Penduduk Indonesia belum dianggap sebagai penduduk tua karena
persentase penduduk diatas 65 tahun masih kecil, namun karena
jumlah penduduk yang besar, maka jumlah orang tua juga cukup
besar untuk memperoleh perhatian dari pemerintah pusat maupun
lokal.
 Penggolongan penduduk muda/young population (berstruktur umur
muda) dan penduduk tua/old population (berstruktur umur tua)
dapat dilakukan dengan cara:
1. Melihat komposisi umur di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun

Kel. Umur Penduduk Tua Penduduk Muda


0-14 < 30%  40%
15-64  60% ≤ 55%
65+  10% ≤ 5%
2. Melihat umur median

Umur Median Kategori


≤ 20 Penduduk Muda
20-30 Penduduk “Intermediate”
 30 Penduduk Tua
 Struktur umur penduduk dipengaruhi oleh tiga variabel demografi,
yaitu: kelahiran, kematian, dan migrasi.
 Faktor sosial-ekonomi suatu negara akan memengaruhi struktur
umur penduduk melalui ketiga variabel demografi tersebut.
 Perbedaan struktur umur akan menimbulkan pula perbedaan dalam
aspek sosial-ekonomi, seperti masalah angkatan kerja, pertumbuhan
penduduk, dan masalah pendidikan.
KARAKTERISTIK PENDUDUK MENURUT UMUR DAN
JENIS KELAMIN

 Karakteristik penduduk menurut umur dapat ditabulasi silang


dengan jenis kelamin atau dapat juga ditabulasi silang dengan
karakteristik sosial misalnya penduduk menurut umur dan tingkat
pendidikan tertinggi yang ditamatkan, penduduk menurut umur
dengan tempat tinggal, penduduk menurut umur dengan status
pekerjaan, dll.
 Di bawah ini adalah Tabel jumlah penduduk Indonesia berdasarkan
hasil SP2000 yang dikelompokkan menurut jenis kelamin laki-laki
dan perempuan, dan menurut kelompok umur 5 tahunan.
Penduduk Indonesia menurut Umur dan
Jenis Kelamin (dalam ribuan)

Rasio Jenis
Kel. Umur Laki-laki Perempuan Total
Kelamin

0-4 10188,7 9832,7 20021,4 104


5-9 11157,3 10788,9 21946,2 103
10-14 10824,1 10413,9 21238,0 104
15-19 10652,3 10611,7 21264,0 100
20-24 9759,0 10333,2 20092,2 94
25-29 9135,4 9596,1 18731,5 95
30-34 8455,4 8507,0 16962,4 99
35-39 7537,0 7454,4 14991,4 101
40-44 6495,3 6143,6 12638,9 106
45-49 5170,3 4689,9 9860,2 110
50-54 3880,6 3625,7 7506,3 107
55-59 2995,3 2941,5 5936,8 102
60-64 2481,5 2592,1 5073,6 96
65-69 1810,6 2012,2 3822,8 90 Sumber:
SP2000, BPS
70-74 1267,6 1392,3 2659,9 91 2005, (Data
75+ 1369,2 1728,2 3097,4 79 Dirapihkan)
Jumlah 103179,9 102663,4 205843,3 101
 Kegunaan
 Informasi tentang jumlah penduduk untuk kelompok usia

tertentu penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan


sesuai kebutuhan penduduk sebagai pelaku pembangunan.
 Keterangan atau informasi tentang penduduk menurut umur

yang terbagi dalam kelompok umur lima tahunan, sangat penting


dan dibutuhkan berkaitan dengan pengembangan kebijakan
kependudukan terutama berkaitan dengan pengembangan
sumber daya manusia.
 Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban

sekaligus juga modal dalam pembangunan.


 Dengan mengetahui jumlah dan persentase penduduk di tiap
kelompok umur, dapat diketahui berapa besar penduduk yang
berpotensi sebagai beban, yaitu penduduk yang belum produktif
(usia 0-14 tahun) termasuk bayi dan anak (usia 0-4 tahun) dan
penduduk yang dianggap kurang produktif (65 tahun ke atas).
 Juga dapat dilihat berapa persentase penduduk yang berpotensi
sebagai modal dalam pembangunan, yaitu penduduk usia
produktif atau yang berusia 15-64 tahun.
 Selain itu, dalam pembangunan berwawasan gender, penting
juga mengetahui informasi tentang berapa jumlah penduduk
perempuan terutama yang termasuk dalam kelompok usia
reproduksi (usia 15-49 tahun), partisipasi penduduk perempuan
menurut umur dalam pendidikan, dalam pekerjaan, dll.
INDIKATOR KARAKTERISTIK PENDUDUK

 Indikator penting tentang umur dan jenis kelamin maupun jumlah


penduduk adalah:
1. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio)

2. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio)

3. Tingkat pertumbuhan penduduk


RASIO JENIS KELAMIN

 Definisi
Rasio Jenis Kelamin (RJK) adalah perbandingan jumlah penduduk
laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk
perempuan.
 Kegunaan
 Data mengenai rasio jenis kelamin berguna untuk

pengembangan perencanaan pembangunan yang berwawasan


gender, terutama yang berkaitan dengan perimbangan
pembangunan laki-laki dan perempuan secara adil.
 Misalnya, karena adat dan kebiasaan jaman dulu yang lebih

mengutamakan pendidikan laki-laki dibanding perempuan, maka


pengembangan pendidikan berwawasan gender harus
memperhitungkan kedua jenis kelamin dengan mengetahui
berapa banyaknya laki-laki dan perempuan dalam umur yang
sama.
 Informasi tentang rasio jenis kelamin juga penting diketahui oleh
para politisi, terutama untuk meningkatkan keterwakilan
perempuan dalam parlemen.
 Cara Menghitung
RJK diperoleh dengan membagi jumlah penduduk laki-laki dengan
jumlah penduduk perempuan dan hasilnya dikalikan dengan 100.

∑L
RJK = x k
∑P
Dimana:
∑L : Jumlah penduduk laki-laki di suatu daerah
pada suatu waktu
∑P : Jumlah penduduk perempuan di suatu
daerah pada suatu waktu
k : 100
 Contoh
Jumlah penduduk laki-laki menurut Sensus Penduduk tahun 2000
adalah 103,179,900 orang, dan jumlah penduduk perempuan dari
data yang sama adalah 102,663,400 orang. Jadi rasio jenis kelamin
Penduduk Indonesia tahun 2000 adalah 101. Artinya, tiap-tiap 100
penduduk perempuan ada sebanyak 101 penduduk laki-laki.
 Rasio jenis kelamin lebih dari seratus untuk Indonesia baru pertama
kali terjadi pada tahun 2000 ini. Sebelumnya rasio jenis kelamin
berada sedikit dibawah 100, misalnya 98 atau 97. Artinya untuk tiap
100 penduduk perempuan hanya ada 97 atau 98 penduduk laki-laki.
 Di daerah di mana diperlukan banyak tenaga laki-laki untuk bekerja
seperti di daerah pertambangan mempunyai rasio jenis kelamin
lebih tinggi dari 100, artinya di daerah itu terdapat penduduk laki-
laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.
 Daerah yang ditinggalkan merantau oleh para laki-laki cenderung
mempunyai rasio jenis kelamin dibawah 100 yang menunjukkan
jumlah perempuan lebih banyak dari pada penduduk laki-laki.
RASIO KETERGANTUNGAN

 Konsep
 Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap

sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis


masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang
menanggungnya.
 Selain itu, penduduk berusia diatas 65 tahun juga dianggap tidak

produktif lagi sesudah melewati masa pensiun.


 Penduduk usia 15-64 tahun, adalah penduduk usia kerja yang

dianggap sudah produktif.


 Atas dasar konsep ini dapat digambarkan berapa besar jumlah

penduduk yang tergantung pada penduduk usia kerja.


 Meskipun tidak terlalu akurat, rasio ketergantungan semacam ini
memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi.
 Definisi
 Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah perbandingan

antara jumlah penduduk berumur 0-14 tahun ditambah dengan


jumlah penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah
penduduk usia 15-64 tahun.
 Rasio ketergantungan dapat dilihat menurut usia yakni Rasio

Ketergantungan Muda dan Rasio Ketergantungan Tua.


 Rasio Ketergantungan Muda adalah perbandingan jumlah

penduduk umur 0-14 tahun dengan jumlah penduduk umur 15-64


tahun.
 Rasio Ketergantungan Tua adalah perbandingan jumlah
penduduk umur 65 tahun keatas dengan jumlah penduduk di usia
15-64 tahun.
 Kegunaan
 Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan

sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan


ekonomi suatu negara, apakah tergolong negara maju atau
negara yang sedang berkembang.
 Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi

yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio


menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung
penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang
belum produktif dan tidak produktif lagi.
 Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah
menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung
penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang
belum produktif dan tidak produktif lagi.
 Cara Menghitung
Rasio Ketergantungan didapat dengan membagi total dari jumlah
penduduk usia belum produktif muda (0-14 tahun) dan jumlah
penduduk usia tidak produktif tua (65 tahun keatas) dengan jumlah
penduduk usia produktif (15-64 tahun).
P(0-14)
RKMuda = x k
P(0-14) + P(65+) P(15-64)
RKTotal = x k
P(15-64)
P(65+)
RKTua = x k
P(15-64)
Dimana:
RKTotal : Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Muda dan Tua
RKMuda : Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Muda
RKTua : Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Tua
P(0-14) : Jumlah Penduduk Usia Muda (0-14 tahun)
P(65+) : Jumlah Penduduk Usia Tua (65 tahun keatas)
P(15-64) : Jumlah Penduduk Usia Produktif (15-64 tahun)
k : 100
 Contoh:
 Untuk memudahkan pemahaman tentang perhitungan Rasio

Ketergantungan (Dependency Ratio), di bawah ini diberikan


contoh perhitungan dengan menggunakan data SP2000 (lihat
Tabel 1).
 Langkah pertama adalah menghitung jumlah penduduk yang

dikelompokkan menjadi tiga yaitu kelompok umur muda (0-14


tahun), kelompuk usia kerja 15-64 tahun (umur produktif) dan
kelompok umur tua (65 tahun keatas).
Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Muda,
Umur Produktif, dan Umur Tua, Tahun 2000

Kel. Umur Jumlah Penduduk


0-14 63.206.000
15-64 13.057.000
65+ 9.580.000
 Setelah jumlah penduduk kelompok umur muda (0-14 tahun),
umur produktif (15-64 tahun) dan umur tua (65 tahun keatas)
diperoleh. Selanjutnya dapat dihitung rasio ketergantungan
(dependency ratio) dengan hasil seperti yang disajikan pada
Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Rasio Ketergantungan Muda, Tua, dan Total, Tahun 2000

Keterangan Rasio Ketergantungan


RKTotal 54,7
RKMuda 47,0
RKTua 7,2
 Interpretasi
 Dari contoh perhitungan di atas, rasio ketergantungan total

adalah sebesar 54,7 persen, artinya setiap 100 orang yang


berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan
sebanyak 55 orang yang belum produktif dan dianggap tidak
produktif lagi.
 Rasio sebesar 54,7 persen ini disumbangkan oleh rasio

ketergantungan penduduk muda sebesar 47,0 persen, dan rasio


ketergantungan penduduk tua sebesar 7,2 persen.
 Dari indikator ini terlihat bahwa pada tahun 2000, penduduk usia
kerja di Indonesia masih dibebani tanggung jawab akan
penduduk muda yang proporsinya lebih banyak dibandingkan
tanggung jawab terhadap penduduk tua.
 Rasio ketergantungan ini sudah jauh berkurang dibandingkan
dengan keadaan pada saat sensus 1971. Pada tahun 1971 rasio
ketergantungan total adalah sebesar 86 per 100 penduduk usia
kerja, dan kemudian menurun secara pasti sampai tahun 2000.
 Penurunan ini terjadi terutama karena penurunan tingkat
kelahiran sebagai dampak dari keberhasilan program Keluarga
Berencana selama 30 tahun terakhir.
TERIMA KASIH