Anda di halaman 1dari 6

PENGUSULAN PROPOSAL EBP

PENGARUH REFLEKSOLOGI KAKI TERHADAP SENSITIVITAS


KAKI PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSI
JAKARTA SUKAPURA

Pembimbing : DR. Yani Sofiani, S.Kp, Ns, M.Kep, Sp. Kep. MB

SARI WAHYUNI MUSTARIM


NPM. 2017980020

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
JAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan masyarakat dimasa kini menyebabkan
perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia bahkan di dunia. Perubahan
gaya hidup seperti pola makan, kurangnya aktivitas fisik dan perilaku
tidak sehat berkontribusi besar menyebabkan timbulnya berbagai macam
penyakit. Salah satu penyakit tersebut diantarannya adalah Diabetes
Mellitus (DM). Diabetes mellitus atau yang lebih dikenal sebagai kencing
manis merupakan suatu kelainan pada seseorang yang ditandai dengan
naiknya kadar glukosa dalam darah dikarenakan akibat dari kekurangan
insulin dalam tubuh (Padila, 2012). Insulin adalah hormon yang
dihasilkan oleh sel beta di pulau langerhans yang berfungsi untuk
mengubah glukosa dalam darah menjadi glikogen yang kemudian akan
disimpan di dalam hati (Wijaya & Putri, 2013).
Diabetes mellitus sebagai suatu kelainan metabolik akibat
gangguan hormonal yang ditandai dengan kenaikan kadar glukosa darah
(hiperglikemia) dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada
mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah (Mansjoer dkk., 2005). Secara
epidemiologi, DM sering kali tidak terdeteksi dan dikatakan mulai
terjadinya DM adalah tujuh tahun sebelum diagnosis ditegakkan sehingga
morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi ini.
Penelitian lain menyatakan bahwa dengan adanya urbanisasi, populasi
DM Tipe II akan meningkat 5 sampai 10 kali lipat karena terjadi
perubahan perilaku rural-tradisional menjadi urban. Faktor resiko yang
berubah secara epidemiologi diperkirakan adalah : bertambahnya usia,
lebih banyak dan lebih lamanya obesitas, distribusi lemak.
Estimasi terakhir Internasional diabetes Federation (IDF) tahun
2014 terdapat 382 juta orang di dunia hidup dengan diabetes pada tahun
2013. Diperkirakan dari 382 juta orang tersebut, 175 juta diantaranya belum
terdiagnosis, sehingga terancam perkembangan progresif menjadi
komplikasi tampa disadari serta tanpa pencegahan. IDF memperkirakan
pada tahun 2023 jumlah tersebut meningkat menjadi 592 juta orang dan
Indonesia diperkirakan akan menduduki peringkat ke 3 penderita diabetes
melitus terbesar didunia pada tahun 2025 mendatang. Jumlah penderita
penyakit diabetes melitus di Indonesia tahun 2000 sebnayak 8,4 juta orang,
tahun 2003 sebnayak 13,7 juta orang dan diperkirakan akan terus meningkat
pada tahun 2030 adalah sebnayak 21,3 juta orang ( Internasional Diabetes
Federation, 2014 ).
Dibetes melitus merupakan Silent killer yang ditandai dengan
peningkatan kadar gula darah (Hiperglekemia) yang disebabkan kegagalan
sekresi insulin atau penggunaan insulin dalam metabolisme yang tidak
adekuat. Ketidakmampuan sekresi dan penggunaan insulin dalam
memetabolisme tersebut meninmbulkan gejala hiperglekemia.
Hiperglikemia jangka panjang dan tidak terkontrol dapat menyebabkan
komplikasi mikrovaskuler yang kronis (penyakit ginjal dan mata) dan
komplikasi neoropati (penyakit pada saraf) diabetes melitus juga disertai
dengan peningkatan insiden penyakit makrovaskuler yang mencangkup
infark miokard, stroke dan penyakit arteri perifer. Dampak yang paling
umum biasanya ditimbulkan oleh penyakit arteri perifer yaitu, timbulnya
ulkus, gangren, dan penyembuhan luka yang sulit untuk di sembuhkan
akibat sirkulasi darah yang buruk yang juga biasanya ditandai dengan
kurangnya sensasi proteksi pada ekstremitas. Hal ini terjadi karena suplai
darah yang membawa nutrisi dan oksigen mengalami pengurangan yang
diakibatkan oleh penyumbatan aliran darah terutama pada daerah kaki
(Smeltzer & Bare, 2002: Brunner & Sudarth 2001: Melisa 2015: Lorensi
2015).
Kehilangan sensasi proteksi nyeri dan kelemahan otot dapat
menyebabkan peningkatan resiko terjadinya cedera dan ulkus yang
berujung pada diabetic foot (DF) pada penderita DM. Apabila ulkus DF
meluas sampai ke tulang atau sendi dan terjadi infeksi yang tidak dapat
dikendalikan, maka tindakan amputasi merupakan penanganan yang harus
dilakukan. Selain menyebabkan amputasi, DF merupakan penyebab pasien
DM mengalami mortalitasSebuah penelitian di Amerika Serikat
menunjukkan bahwa sekitar 15% dari penderita DM setidaknya terjadi satu
kasus DF selama masa hidup mereka, dan penelitian tersebut juga
menemukan sekitar 60-70% DF berawal dari kejadian neuropati(Gordois,
2003).
Insidensi neoropati diabetik terjadi antara 60% sampai 70% pada
pasien diabetes melitus dengan adanya komplikasi neorologi (Lemone &
Burke 2008). Neoropati perifer diabetik akan menimbulkan gejala umum,
meliputi : berkrangnya sensasi proteksi; nyeri, suhu, sentuhan dan getaran.
Berkurangnya sensasi proteksi menyebabkan pasien diabetes melitus
berisiko mengalami injuri pada daerah perifer khususnya kaki (Kholne,
2008).
Pasien diabetes melitus dengan luka gangren yang terus menerus dapat
berisiko amputasi, Diabetes melitus mengalami amputasi ektremitas bawah
15 kali lebih besar di bandingkan tidak menderita diabetes melitus
(Greenstain dan wood, 2010).
Untuk mencegah terjadinya DF yang lebih lanjut akan berdampak pada
tindakan amputasi dan kematian, diperlukan suatu strategi penanganan
gejala DPN. Salah satu penanganannya adalah messase therapy,di dalam
masase therapy terdapat beberapa perlakuan salah satunya perlakuan
terhadap titik – titik sentrareflek di kaki dan hal ini disebut Refleksologi.
Terapi refleksologi menurut Chaundhary (2007) merupakan salah satu
terapi yang berguna untuk penanganan klien DM. Artikel tersebut
mengungkapkan penatalaksanaan klien DM yaitu Program diet, jaga berat
badan ideal, olahraga yang adekuat, pengobatan yang adekuat, chek up
teratur, bebas dari tekanan mental dan dilakukannya terapi refleksologi
secara teratur. Pada dasarnya refleksologi adalah metode untuk
memperlancar kembali aliran darah. Adanya pijatan – pijatan terhadap titik
sentrarefleks diharapkan terputusnya jalan aliran darah, penyempitan,
penyumbatan pada pembuluh darah menjadi normal kembali.
Dengan latar belakang diatas maka peneliti ingin mengetahui
pengaruh refloksologi kaki terhadap sensitivitas kaki pada pasien DM tipe
II di RSIJ Sikapura.

B. Rumusan Masalah

Prevalensi penyakit DM terus meningkat setiap tahunnya. baik yang

telah terdiagnosa maupun yang belum terdiagnosa. DM merupakan

penyakit kronis yang memerlukan perawatan dan edukasi jangka panjang

guna mengurangi risiko komplikasi. Salah satu komplikasi yang sering

dialami pasien DM adalah neuropati diabetik yang terjadi sebanyak 60-70%

dari semua kasus DM.

Refleksologi merupakan terapi alternatif dan komplementer yang

banyak digunakan dalam mengatasi berbagai masalah gangguan tubuh

termasuk. refleksologi merupakan terapi alternatif dan komplementer yang

banyak digunakan dalam mengatasi berbagai masalah gangguan tubuh

termasuk pada pasien DM dengan neuropati diabetik dan penyakit

pembuluh darah vaskuler perifer. Beberapa penelitian dengan

menggunakan jenis masase dengan alat bantu (mekanik) telah membuktikan


pengaruh pada pasien DM, namun masih jarang penelitian tentang masase

tanpa alat/ manual.

Berdasarkan hal tersebut maka dapat dirumuskan masalah penelitian

sebagai berikut: Sejauh mana pengaruh refleksologi kaki terhadap

sensitivitas kaki pada dibetes melitus tipe 2 di Rumah sakit Islam Jakarta

Sukapura

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Teridentifikasi pengaruh refleksologi kaki terhadap sensitivitas di

Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura.

2. Tujuan Khusus

a. Teridentifikasi gambaran karakteristik responden DM tipe 2 di

Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura

b. Teridentifikasi perbedaan sensitivitas kaki sebelum dan setelah

dilakukan refleksologi kaki di Rumah Sakit Islam Jakarta

Sukapura