Anda di halaman 1dari 11

.

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya bisa menyelesaikan sebuah karya tulis ini
dengan tepat waktu.

Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul “TANGGUNG JAWAB
HUKUM AUDIT”, yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita semua.

Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bilamana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang penulis buat
kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi tercapainya kesempurnaan dalam
penyusunan makalah ini. Dengan ini penulis mempersembahkan makalah ini dengan penuh
rasa terima kasih dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi makalah ini sehingga dapat
memberikan manfaat kepada kita semua.

Semoga makalah ini bermanfaat.

Amin

Serang, 26 Oktober 2018

Penulis

3
BAB I

PENDAHUALUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

4
5
BAB II PEMBAHASAN
TANGGUNG JAWAB HUKUM AUDITOR

I. Tanggung Jawab Hukum


Tanggung jawab seorang akuntan public biasanya berkenaan dengan perikatan asuransi, khususnya
perikatan audit. Namun, KAP yang memberikan jasa nir-asuransi seperti konsultasi perpajakan, juga
berpotensi menghadapi tuntutan hukum. Penyebab akuntan publik terkena tuntutan hukum, biasanya
karena ketidakpatuhan nya terhadap undang-undang atau juga penyebab lain akuntan public
berhadapan dengan tuntutan hukum karena ia merupakan sasaran empuk untuk tuntutan ganti rugi.
Khususnya, jaringan kantor akuntan global dan internasional yang melindungi diri mereka dengan
asuransi atau pertanggungan professional atau professional indemnity insurance (PII)

Dalam hal terjadinya pelangaran hukum yang dilakukan oleh seorang Akuntan Publik dalam
memberikan jasanya, baik atas temuan-temuan bukti pelanggaran apapun yang bersifat pelanggaran
ringan hingga yang bersifat pelanggaran berat, berdasarkan PMK No. 17/PMK.01/2008 hanya
dikenakan sanksi administratif, berupa:

 sanksi peringatan
 sanksi pembekuan ijin,dan
 sanksi pencabutan ijin.

Penghukuman dalam pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru dilakukan dalam hal seorang
Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam SPAP dan termasuk
juga pelanggaran kode etik yang ditetapkan oleh IAPI, serta juga melakukan pelanggaran peraturan
perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang jasa yang diberikan, atau juga
akibat dari pelanggaran yang terus dilakukan walaupun telah mendapatkan sanksi pembekuan izin
sebelumya, ataupun tindakan-tindakan yang menentang langkah pemeriksaan sehubungan dengan
adanya dugaan pelanggaran profesionalisme akuntan publik.

Akan tetapi, hukuman yang bersifat administratif tersebut walaupun diakui merupakan suatu
hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan dari seorang Akuntan Publik , ternyata
masih belum menjawab penyelesaian permasalahan ataupun resiko kerugian yang telah diderita oleh
anggota masyarakat, sebagai akibat dari penggunaan hasil audit dari Akuntan Publik tersebut.

Bank Dunia mendokumentasikan temuan-temuan PPAJP dalam suatu laporannya mengenai


accounting dan auditing di Indonesia. Laporan ini (ROSC 2010) mengistilahkan temuan-temuan PPAJP,
yang merupakan ketidakpatuhan, sebagai compliance gap. Temuan PPAJP ini tidak terkesan dahsyat,
namun mengindikasikan tantangan akuntan public kita dalam melaksanakan penugasan audit.

6
II. ROSC: Temuan PPAJP
Laporan Bank Dunia (Report on the Observance of Standards and Codes tahun 2010 disingkat ROSC
2010) tentang Accounting and Auditing membuat catatan tentang kualitas akuntan public di
Indonesia.

ROSC 2012 melibatkan berbagai pemangku kepentingan dibidang akuntansi dan audit di
Indonesia. ROSC tersebut menyebutkan tingkat kesesuaian dengan standar audit yang berbeda
diantara Kantor Akuntan Publik dengan ukuran yang berbeda. KAP kecil biasanya lebih sulit
menerapkan pengendalian mutu karena keterbatasan sumber daya, sedangkan KAP besar yang
berafilasi dengan the Big Four dianggap mampu memenuhi standar internasional, namun ada
beberapa kasus dimana pengendalian mutu juga tidak diterapkan dengan baik karena proses audit
lebih banyak dilakukan oleh akuntan junior.

ROSC 2010 tersebut berisi wawancara dengan PPAJP pada Kementerian Keuangan.

PPAJP menemukan bahwa dari KAP yang ada (lebih dari 400) hanya sedikit yang mampu memenuhi
standar audit dengan baik.

Ada kesenjangan dalam kepatuhan terhadap standar (compliance gap) sebagai berikut:

a. Banyak auditor tidak melakukan audit planning dengan baik


b. Banyak dokumentasi yang diperlukan tidak disiapkan. Bahkan, meskipun proses audit
dilakukan benar, dokumentasi yang seharusnya mendukung hasil audit tersebut, tidak
lengkap.
c. Banyak auditor tidak berupaya mendeteksi manipulasi (fraud)
d. Banyak auditor tidak memeriksa asumsi going concern yang digunakan oleh manajemen
e. Banyak auditor tidak menerapkan prosedur untuk mengenal, menilai, dan menanggapi risiko
salah saji yang material, misalnya yang timbul akibat hubungan istimewa (related-party
transactions)
f. Auditor sering kali menerima begitu saja penilaian manajemen
g. Auditor juga sering menerima begitu saja penilaian auditor lain.

III. SRS dan Tanggung Jawab Hukum

Sro (self-regulating organization) dan SRS (self-regulating system) adalah salah satu ciri organisasi
professional. Dengan SRS profesi menegluarkan aturan-aturan internal seperti kode etik, standar
pengendalian mutu, standar audit and ansurans, pengembangan professional berkelanjutan, dst.

Namun, perikatan KAP baik asurans maupun nir-asurans, dilakukan dengan pihak lain yang tidak
berkaitan dengan profesi. Dalam melaksanakan perikatan ini, KAP berpotensi membuat kekeliruan,
baik dengan sengaja maupun yang tidak disengaja yang dapat merugikan pihak lain.

Pihak-pihak yang merasa dirugikan, dapat menyeret ke meja hijau.


 Rekan KAP yang memimpin penugasan
 Rekan lain

7
 Staff pada jenjang yang tinggi
 Pimpinan KAP (CEO/managing partner, umumnya pada KAP yang tidak terlalu besar)
 KAP itu sendiri (partnership, biasanya KAP besar)

Istilah “meja hijau” digunakan dalam arti seluas-luasnya, bisa:

 Didalam pengadilan maupun diluar pengadilan (arbritage)


 Dipengadilan pun bisa bermacam-macam seperti, pengadilan perdata,pengadilan
pidana, pengadilan administrative (PPAJP, SEC, OJK, BPK untuk KAP yang memeriksa
untuk dan atas nama BPK)
 Dipengadilan Indonesia atau diluar Indonesia.

Jika ada beberapa pengadilan yang menangani kasus yang dihadapi akuntan public,
pengadilan yang berhak lebih dulu:

Ketentuan hokum yang berlaku di yurisdiksi yang bersangkutan


Siapa yang menemukan kasus tsb, misalnya PPAJP di Indonesia, PCAOB untuk
emiten yang tercatat di pasar modal Amerika Serikat yang berdomisili dimana saja.
“Kelincahan” pengadilan professional setempat, yang seringkali membatasi
pemeriksaan sebatas pelanggaran kode etik, dan sanksinya sebatas peringatan,
teguran, larangan praktik dalam jangka waktu tertentu atau larangan praktik
seumur hidup.

IV. Pemahaman Hukum Auditor


Banyak profesional akuntansi dan hukum percaya bahwa penyebab utama tuntutan hukum terhadap
kantor akuntan publik adalah:

a. kurangnya pemahaman pemakai laporan keuangan tentang kegagalan bisnis


b. kegagalan audit
c. risiko audit.

Berikut ini defenisi mengenai kegagalan bisnis, kegagalan audit dan risiko audit :

8
 Kegagalan Bisnis

Adalah kegagalan yang terjadi jika perusahaan tidak mampu membayar kembali utangnya atau tidak
mampu memenuhi harapan para investornya, karena kondisi ekonomi atau bisnis, seperti resesi,
keputusan manajemen yang buruk, atau persaingan yang tak terduga dalam industri itu.

 Kegagalan audit

Adalah kegagalan yang terjadi jika auditor mengeluarkan pendapat audit yang salah karena gagal
dalam memenuhi persyaratan-persyaratan standar auditing yang berlaku umum.

 Risiko Audit

Adalah risiko dimana auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar tanpa
pengecualian, sedangkan dalam kenyataannya laporan tersebut disajikan salah secara material.

Bila di dalam melaksanakan audit, akuntan publik telah gagal mematuhi standar profesinya, maka
besar kemungkinannya bahwa business failure juga dibarengi oleh audit failure. Dalam hal yang
terakhir ini, akuntan publik harus bertanggung jawab. Sementara, dalam menjalankan tugasnya,
akuntan publik tidak luput dari kesalahan.

Kegagalan audit yang dilakukan dapat dikelompokkan menjadi ordinary negligence, gross negligence,
dan fraud.

 Ordinary Negligence
merupakan kesalahan yang dilakukan akuntan publik, ketika menjalankan tugas audit, dia
tidak mengikuti pikiran sehat (reasonable care). Dengan kata lain setelah mematuhi standar
yang berlaku ada kalanya auditor menghadapi situasi yang belum diatur standar. Dalam hal
ini auditor harus menggunakan “common sense” dan mengambil keputusan yang sama
seperti seorang (typical) akuntan publik bertindak.

 Gross Negligence
merupakan kegagalan akuntan publik mematuhi standar profesional dan standar etika.
Standar ini minimal yang harus dipenuhi. Bila akuntan publik gagal mematuhi standar minimal
(gross negligence) dan pikiran sehat dalam situasi tertentu (ordinary negligence), yang
dilakukan dengan sengaja demi motif tertentu maka akuntan publik dianggap telah
melakukan FRAUD yang mengakibatkan akuntan publik dapat dituntut baik secara perdata
maupun pidana.

Sebagian besar profesional akuntan setuju bahwa bila suatu audit gagal mengungkapkan kesalahan
yang material dan oleh karenanya dikeluarkan jenis pendapat yang salah, maka kantor akuntan publik
yang bersangkutan harus diminta mempertahankan kualitas auditnya.

9
Jika auditor gagal menggunakan keahliannya dalam pelaksanaan auditnya, berarti terjadi kegagalan
audit, dan kantor akuntan publik tersebut atau perusahaan asuransinya harus membayar kepada
mereka yang menderita kerugian akibat kelalaian auditor tersebut.

Kesulitan timbul bila terjadi kegagalan bisnis, tetapi bukan kegagalan audit.

Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan bangkrut, atau tidak dapat membayar hutangnya, maka
umumnya pemakai laporan keuangan akan mengklaim bahwa telah terjadi kegagalan audit,
khususnya bila laporan audit paling akhir menunjukkan bahwa laporan itu dinyatakan secara wajar.
Lebih buruk jika terdapat kegagalan bisnis dan laporan keuangan yang kemudian diterbitkan salah saji,
para pemakai akan mengklaim auditor telah lalai sekalipun telah melaksanakannya sesuai dengan
standar auditing yang berlaku umum.

Akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya, termasuk audit, pajak, konsultasi
manajemen, dan pelayanan akuntansi, sehingga jika benar-benar terjadi kesalahan yang diakibatkan
oleh pihak akuntan publik dapat diminta pertanggung jawabannya secara hukum.

Beberapa faktor utama yang menimbulkan kewajiban hukum bagi profesi audit diantaranya
adalah :

o Meningkatnya kesadaran pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan public
o Meningkatnya perhatian pihak-pihak yang terkait dengan pasar modal sehubungan dengan
tanggung jawab untuk melindungi kepentingan investor
o Bertambahnya kompleksitas audit yang disebabkan adanya perubahan lingkungan yang
begitu pesat diberbagai sektor bisnis, sistem informasi, dsb
o Kesediaan kantor akuntan publik untuk menyelesaikan masalah hukum diluar pengadilan,
untuk menghindari biaya yang tinggi.

Pemahaman terhadap hukum tidaklah mudah mengingat pemahaman tersebut menuntut suatu
kesadaran dari perilaku-perilaku yang terlibat di dalamnya dan juga adanya kemungkinan interpretasi
yang berbeda-beda terhadap keberadaan suatu hukum.

Hal ini juga yang terjadi pada profesi akuntan publik di mana perilaku-perilaku yang terlibat terkadang
kurang memahami secara benar apa yang telah menjadi kewajiban yang nantinya akan mempunyai
konsekuensi terhadap hukum. Suatu pemahaman yang baik terhadap hukum akan membawa profesi
akuntan publik minimal ke dalam praktek-praktek yang sehat, yang dapat meningkatkan performance
dan kredibilitas publik yang lebih baik.

Sebaliknya apabila akuntan publik kurang memahaminya pada iklim keterbukaan di era reformasi
seperti sekarang ini maka akan dapat membawa perkembangan fenomena ke dalam konteks yang
lebih luas pada publik yang sudah mulai berani melakukan tuntutan hukum terhadap berbagai profesi
termasuk profesi akuntan publik.

10
Litigation Culture

Istilah budaya tuntut-menuntun atau budaya litigasi diterjemahkan dari Bahasa Inggris, “litigation
culture”.

Disini akan mengungkapkan pendapat dari tiga pakar dari bangsa yang berbeda, mengenai apakah
masyarakatnya litigious society.

 Penjelasan pakar Amerika Serikat


a. Kehebatan system hukum dinegaranya dengan tiga adjektiva: accessible, predictable, and
no corrupt. Butir ini perlu menjadi cerminan system hukum Nusantara
b. Keyakinan orang Amerika pada umumnya, yaitu: Hormati Aturan!
c. Tujuan litigasi, agar masyarakat merangkul hukum untuk menyelesaikan masalah diantara
mereka.
 Penjelasan pakar Inggris
a. Pihak yang kalah wajib membayar fee untuk dirinya dan untuk pihak yang menang.
Singkatnya, legal fee sangat mahal dan ini akan menjadi penghalang seseorang yang benar
sekalipun untuk menuntut.
b. Jika kasusnya berat da nada risiko besar untuk kalah, pihak yang benar sekalipun tidak
berani untuk menuntut.
c. System di UK itu sendiri tidak mendukung (discourages) tuntutan yang remeh.
 Penjelasan pakar Jepang
a. Jepang bukan masyarakat yang suka litigasi.
b. Sifat orang Jepang umumnya menghindari konfrontasi dan tidak suka masalah Internal
dibuka kepada public dan diselesaikan orang luar.
c.

Selama melakukan audit, auditor juga bertanggung jawab:

a. Mendeteksi kecurangan

Tanggung jawab untuk mendeteksi kecurangan ataupun kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja,
diwujudkan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit untuk mendapatkan keyakinan yang memadai
tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material yang disebabkan oleh kesalahan
ataupun kecurangan.

Tanggung jawab untuk melaporkan kecurangan jika terdapat bukti adanya kecurangan. Laporan ini
dilaporkan oleh auditor kepada pihak manajemen, komite audit, dewan direksi

b. . Tindakan pelanggaran hukum oleh klien

Tanggung jawab untuk mendeteksi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien. Auditor
bertanggung jawab atas salah saji yang berasal dari tindakan melanggar hukum yang memiliki
pengaruh langsung dan material pada penentuan jumlah laporan keuangan. Untuk itu auditor harus

11
merencanakan suatu audit untuk mendeteksi adanya tindakan melanggar hukum serta
mengimplementasikan rencana tersebut dengan kemahiran yang cermat dan seksama.

Tanggungjawab untuk melaporkan tindakan melanggar hukum. Apabila suatu tindakan melanggar
hukum berpengaruh material terhadap laporan keuangan, auditor harus mendesak manajemen untuk
melakukan revisi atas laporan keuangan tersebut. Apabila revisi atas laporan keuangan tersebut
kurang tepat, auditor bertanggung jawab untuk menginformasikannya kepada para pengguna laporan
keuangan melalui suatu pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapa tidak wajar bahwa
laporan keuangan disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

Auditor memiliki beberapa tanggung jawab yaitu:

a. Tanggung jawab terhadap opini yang diberikan.

Tanggung jawab ini hanya sebatas opini yang diberikan, sedangkan laporan keuangan merupakan
tanggung jawab manajemen. Hal ini disebabkan pengetahuan auditor terbatas pada apa yang
diperolehnya melalui audit. Oleh karena itu penyajian yang wajar posisi keuangan, hasil usaha dan
arus kas sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum, menyiratkan bagian terpadu tanggung
jawab manajemen.

b. Tanggung jawab terhadap profesi.

Tanggung jawab ini mengenai mematuhi standar/ketentuan yang telah disepakati IAI, termasuk
mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku, standar auditing dan kode etik akuntan Indonesia.

c. Tanggung jawab terhadap klien.

Auditor berkewajiban melaksanakan pekerjaan dengan seksama dan menggunakan kemahiran


profesionalnya, jika tidak dia akan dianggap lalai dan bisa dikenakan sanksi.

d. Tanggung jawab untuk mengungkapkan kecurangan.

Bila ada kecurangan yang begitu besar tidak ditemukan, sehingga menyesatkan, akuntan publik harus
bertanggung jawab.

e. Tanggung jawab terhadap pihak ketiga

Tanggung jawab ini seperti investor, pemberi kredit dan sebagainya. Contoh dari tanggung jawab ini
adalah tanggung jawab atas kelalaiannya yang bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar, seperti
pendapat yang tidak didasari dengan dasar yang cukup.

f. Tanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kecurangan yang tidak ditemukan.

Dengan melihat lebih jauh penyebabnya, jika kecurangan karena prosedur auditnya tidak cukup,
maka auditor harus bertanggung jawab.

12
DAFTAR PUSTAKA

13