Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa.
Kualitas bangsa di masa depan ditentukan oleh kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan
Kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan.
Tumbuh kembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan
kualitas dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian
nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna.
Sering timbul masalah gizi terutama dalam pemberian makanan yang tidak benar dan
menyimpang. Pemberian makanan yang baik harus sesuai dengan jumlah, jenis dan jadwal
pada umur anak tertentu. Sarapan bagi anak usia sekolah sangatlah penting, karena waktu
sekolah adalah penuh aktivitas yang membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Untuk
sarapan pagi harus memenuhi sebanyak 1/4 kalori sehari. ( Judarwanto, 2008 ).
Namun selain pemberian makan yang menyimpang dari orang tua, kebiasaan buruk anak
usia sekolah juga perlu diperhatikan. Dimana anak-anak suka mengkonsumsi makanan tidak
sehat yang tinggi lemak, gula, garam, randah serat yang dapat meningkatkan resiko hipertensi,
diabetes militus, obesetas dan sebagainya. Salah satu upaya yang strategis untuk meningkatkan
kualitas manusia Indonesia adalah upaya pendidikan dan kesehatan, sehingga upaya ini paling
tepat dilakukan melalui institusi pendidikan. Lewat program Kantin sekolah berdasarkan
standarisasi UKS atau melalui Trias UKS yang meliputi Pendidikan Kesehatan, Pelayanan
kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah yang sehat. Hal tersebut yang membuat penulis
tertarik untuk melakukan penelitian di SD Inpres Oeba 2.

B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang diatas maka disusunlah permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana status gizi dan kebutuhan energy (kalori) yang dibutuhkan oleh anak-anak
SD Inpres Oeba 2 Kupang?
2. Bagaimana pelaksanaan dan peranan UKS di SD Inpres Oeba 2 Kupang?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Status Gizi, Kebutuhan Energi dan Pelaksanaan UKS di SD Inpres
Oeba 2.
2. Tujuan Khusus
1) Mengetahui hubungan usia, jenis kelamin dan pekerjaan orang tua dengan status
gizi.
2) Mengetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan Kebutuhan energi.
3) Peranan dan pengelolaan UKS SD Inpres Oeba 2 meliputi :
- Pelaksanaan Program Kerja.
- Ketersediaan sarana dan prasarana.
- Faktor penghambat dalam pelaksanaan UKS SD Inpres Oeba 2.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. STATUS GIZI
1. Pengertian Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi di bedakab menjadi gizi kurang, baik dan lebih (Almatsier,
2002). Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak
yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga
didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara
kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang
didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000: 1).
Secara klasik kata gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk
menyediakan energi, membangun, dan memelihara jaringan tubuh, serta mengatur
proses-proses kehidupan dalam tubuh. Tetapi, sekarang kata gizi mempunyai
pengertian lebih luas; disamping unutk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi
ekonomi seseorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan
belajar, dan produktivitas kerja.

2. Penilaian Status Gizi


 Penilaian Gizi secara Langsung
 Antropometri: adalah ukuran tubuh manusia. Sedangkan antropometri gizi adalah
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dan tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri sebagai indicator status gizi
dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter, antara lain: umur, berat
badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar pinggul dan tebal lemak
di bawah kulit.
 Pemeriksaan klinis: adalah metode untuk menilai status gizi berdasarkan atas
perubahanperubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi,
seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau organ yang dekat dengan
permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
 Biokimia: Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang
diuji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan.
 Biofisik: Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi
dengan melibat kemamapuan fungsi dan melihat perubahan struktur dari jaringan.

 Penilaian Status Gizi secara tidak langsung


 Survey Konsumsi Makanan, adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat dan gizi yang dikonsumsi.
 Statistik Vital, Yaitu dengan menganalisis data beberapa statistik kesebatan seperti
angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian karena penyebab
tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
 Faktor Ekologi, Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi antara
beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang
tersedia sangat tergantung dan keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-
lain.
3. Baku acuan (data reference)
Terdapat dua jenis baku acuan, yaitu lokal dan internasional. Ada berbagai macam baku
acuan internasional seperti Tanner, Harvard, atau NCHS. Indonesia menggunakan baku acuan
internasional WHO-NCHS zscore. Ada 2 cara penghitungan status gizi dengan cara Z-score,
yaitu:
a) Bila “Nilai Riel” hasil pengukuran ≥ “Nilai Median” BB/U, TB/U, atau BB/TB,
maka rumusnya:

Skor Z =

b) Bila “Nilai Real” hasil pengukuran ≤ “Nilai Median” BB/U, TB/U, atau BB/TB,
maka rumusnya:

Skor Z =

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi


a. Faktor External
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
a) Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga,
yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso,
1999).
b) Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan
perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang
baik (Suliha, 2001).
c) Lingkungan
Lingkungan adalah suatu faktor yang mempengaruhi kesehatan dan tumbuh
kembang sang anak. Akibat dari kebersihan yang kurang akan mengakibatkan
anak jadi sering sakit seperti diare, cacingan, tifus dll (Soetjiningsih,1998).
b. Faktor Internal
Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :
a) Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua
dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
b) Kondisi Fisik
Mereka yang sakit akhirnya menyababkan berat badannya menurun, apabila
masalah ini terus berlangsung maka anak akan menjadi kurus dan timbulah
masalah kurang gizi. (Suhardjo, et, all, 1986).
c) Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau
menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all, 1986).
B. ENERGI (KALORI)
1. Perhitungan Energi (Kalori)
Untuk menjaga dan mempertahankan fungsi tubuh maka perlu keseimbangan antara energi
yang dikeluarkan (Calory output/calory expenditure/keluaran energi) dengan energi yang
berasal dari makanan (calory intake/ calory input/asupan makanan). Keseimbangan Energi =
Energy Output = Energi Input.

 Hal-hal yang mempengaruhi perhitungan energy :


- Hasil laboratorium : Lemak, Darah (HB)
- Umur dan jenis kelamin
- Riwayat makanan
- Data antropometri (umur dan jenis kelamin)
- Status gizi

 Komponem utama dalam perhitungan :


- BMR (Basal Metabolic Reat) adalah kebutuhan kalori minimum yang dibutuhkan
seseorang hanya untuk sekedar mempertahankan hidup, dengan asumsi bahwa orang
tersebut dalam keadaan istirahat total, tidak melakukan aktifitas sedikit pun. Faktor-
faktor yang mempengaruhi BMR meliputi : luas permukaan tubuh, jenis kelamin, dan
komposisi tubuh.
Rumus untuk menghitung energy BMR :
1. Balita – dewasa (Wanita)
= 655,1 + 9,6 W + 1,9S – 4,7A

2. Balita – dewasa (Laki-laki)


= 66,5 + 13,8 W + 5 S + 6,8 A

3. Bayi (L + P)
= 22,1 + 31,05 W + 1,16 H

- SDA (Specifik Dinamic Action yaitu energy yang dibutuhkan untuk metabolisme
makanan. Seperti pencernaan, absorpsi, dan transportasi zat gizi di ukur berdasarkan
10% besar nya BMR.

- Aktifitas
1. Ringan = 30%
2. Ringan tapi semi sedang (penjahit, sopir, perawat) = 50%
3. sedang = 75%
4. Berat (buruh, petani, atlet) = 100%

- Total akhir Kebutuhan Energi


= BMR + SDA + Aktifitas
C. USAHA KESEHATAN SEKOLAH
1. Pengertian
Pengertian Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah segala usaha yang dilakukan
untuk meningkatkan kesehatan anak usia sekolah pada setiap jalur, jenis dan jenjang
pendidikan mulai dari TK/RA sampai SMA/SMK/MA/MAK. Usaha Kesehatan Sekolah
(UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah. Anak usia sekolah
adalah anak yang berusia 5-21 tahun, yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya
dibagi menjadi 2 sub kelompok yakni pra remaja (5-9 tahun) dan remaja (10-19 tahun).
Menurut Effendi (1998), UKS adalah bagian dari usaha pokok yang menjadi beban
petugas puskesmas yang ditujukan pada sekolah-sekolah dan anak beserta lingkungan
hidupnya dalam rangka mencapai keadaan kesehatan anak sebaik-baiknya dan sekaligus
meningkatkan prestasi belajar anak sekolah setinggitingginya.

2. Tujuan
Tujuan UKS adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pretasi belajar peserta
didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta
didik dan menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan
perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia
seutuhnya. Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah untuk memupuk kebiasaan hidup
sehat dan mempertinggi derajat kesehatan peserta didik yang didalamnya mencakup:
 Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup
sehat, serta berpartisipasi aktif dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah, di
rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat.
 Peningkatan kesehatan peserta didik baik fisik, mental, maupun social.
 Meningkatkan kecakupan pelayanan kesehatan terhadap anak sekolah.
 Dapat mencegah kebiasaan hidup yang tidak sehat.

3. Sasaran
Menurut tim Pembina kesehatan sekolah (2010: 9), sasaran pembinaan dan pengembangan
UKS meliputi:
1. Sasaran Primer : Peserta didik.
2. Sasaran Sekunder : guru, pamong belajar/tutor orang tua, pengelola pendidikan serta
TP UKS di setiap jenjang.
3. Sasaran Tertier : Lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra-sekolah sampai pada
sekolah lanjutan tingkat atas, termasuk satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan
agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya.

Sasaran lain UKS adalah sarana dan prasarana pendidikan keseharan dan pelayanan
kesehatan serta lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat
sekitar sekolah. Sekolah sebagai lembaha pendidikan merupakan media yang penting untuk
menyalurkan segala bentuk pembaharuan tata cara dan kebiasaan hidup sehat, agar lebih
mudah tertanam pada anak-anak. Dengan demikian, akan dapat memberikan pengaruh
terhadap kehidupan keluarga, masyarakat sekitarnya, bahkan masyarakat yang lebih luas
lagi.
4. Program UKS
Ada beberapa jenis kegiatan UKS dan jenis kegiatan UKS dikelompokkan menjadi dua
macam, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan UKS dan Trias UKS. Ruang
lingkup UKS adalah ruang lingkup yang tercermin dalam tiga program pokok usaha
kesehatan sekolah (Trias UKS), yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan
pembinaan lingkungan sekolah sehat. Bagian-bagian jenis kegiatan tersebut termasuk
dalam program kegiatan UKS. Bentuk-bentuk kegiatan pengelolaan UKS meliputi:
1) Pembentukan Tim pelaksana UKS.
2) Keterlibatan unsure guru dan petugas.
3) Laporan pembinaan dari Puskesmas.
4) Penyuluhan tentang UKS.
5) Pelaksanaan rapat koordinasi dengan tim pelaksana program.
6) Penyediaan sarana dan prasarana kesehatan.

 Penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan


 Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk senantiasa berperilaku
hidup sehat,
 Penanaman perilaku/kebiasaan hidup sehat dan daya tangkal terhadap pengaruh
buruk dari luar,
 Pelatihan dan penanaman pola hidup sehat agar dapat diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
Jenis-jenis kegiatan yang termasuk dalam program kegiatan UKS pada Pendidikan
Kesehatan seperti :
 Lomba pengetahuan tentang kesehatan sekolah (Ekstrakurikuler).
 Pendidikan kesehatan
 Pengadaan lomba kebersihan kelas (Ekstrakurikuler).
 Penyuluhan kesehatan dari petugas kesehatan/puskesmas.

 Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Sekolah


Mencangkup pemeriksaan kesehatan perorangan dan lingkungan secara berkala yang
meliputi: Pemeriksa kesehatan gigi dan mulut, mata, telinga, dan tenggorokan, kulit dan
rambut, dan sebagainya. Pemberian imunisasi, penemuan gangguan penyakit dini, dan
pengobatan sederhana.
Pelaksanaan pelayanan kesehatan meliputi kegiatan-kegiatan antara lain :
1) Pembinaan sarana lingkungan sekolah, antara lain:
a. pembinaan warung sekolah
b. lingkungan sekolah yang terpelihara
c. dan pembinaan keteladanan berperilaku hidup sehat
2) Kegiatan pencegahan (preventif)
3) Memelihara kesehatan yang bersifat umum dan khusus.
4) Usaha pencegahan penyakit menular

 Penyelenggaraan Lingkungan Kehidupan Sekolah Yang Sehat


Pembinaan, lingkungan sekolah sehat merupakan salah satu unsure penting dalam
membina ketahanan sekolah harus dilakukan, karena lingkungan kehidupan yang sehat
diperlukan untuk meningkatkan kesehatan seluruh komunitas sekolah serta peningkatan
daya serap siswa dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini pembinaan lingkungan
hidup sehat dapat dilaksanakan melalui 7K (Kebersihan, keindahan, kenyamanan,
ketertiban, keamanan, kerindangan dan kekeluargaan).

5. Sarana dan Prasarana UKS


Sarana dan prasarana Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) meliputi :
a)Ruang UKS atau Klinik Sekolah
Saran yang ada diruang UKS adala seperti meja obat/ meja alat kedokteran, bed
pemeriksa, Meja dan kursi petugas UKS, sekat pembatas/ gurden, Lemari obat atau
kotak obat, Alat pengukur tinggi badan, Wastafel atau waskop, Ember plastik untuk
menampung kotoran bekas.
b) Alat-alat Pemeriksa
Alat pemeriksa yang diperlukan adalah seperti Stestoskop, Tensimeter,
Thermometer, Lampu senter.
c) Alat-alat PPPK
Alat-alat PPPK yang diperlukan adalah seperti Kapas, Perban atau Kasa seteril, Plester,
Tensoplas, Obat merah< gunting kecil, dan besar, Pinset, dan lain-lain (Suparyanto,
2012). Perlengkapan P3K dibutuhkan pada saat perjalanan untuk menghindari masalah
yang lebih serius jika terjadi kecelakaan. Berikut beberapa perlengkapan P3K:
1. Plester luka (band aid).
2. Obat antiseptik (obat merah atau betadine) dan alcohol.
3. Kain pembalut, kapas steril, kasa steril, perban kain, perban plastik, plester.
4. Bidai atau spalk.
5. Gunting, pisau kecil, peniti.
6. Sabun antiseptic.
7. Obat antimalaria.
8. Obat-obatan yang umum digunakan (obat penghilang rasa sakit, sakit kepala,
demam, influenza, batuk, maag, alergi, sakit perut, dan lain-lain).
9. Krim antisinar matahari (sunscreen).
10. Krim untuk luka bakar (bioplacenton), serta
11. Obat-obatan pribadi.

d) Obat-obatan
Obat-obatan yang diperlukan adalah seperti obat penawar nyeri atau sakit kepala, obat
mules, obat alergi, obat merah, dan obat kulit (minyak gosok), dan lain-lain.

6. Dana dan Biaya UKS


Usaha kesehatan sekolah dalam pelaksanaanya tidak terlepas dari biaya atau dana,
sebagai penunjang tercapainya program yang telah direncanakan sebelumnya. Kegiatan
yang memerlukan dana, perlu dipertimbangkan dan diatur sehingga dana yang diperlukan
tidak membertkan orangtua peserta didik (disesuaikan dengan kemampuan). Sumber dana
kegiatan pada sekolah diperoleh dari orang tua peserta didik, dan SBPP.
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Wilayah
SD Inpres Oeba 2 merupakan salah satu SD di kota Kupang yang berlokasi di jl. Irian Jaya no.
2 yang dikepalai oleh Ibu Sophia Lakipera. Ada 16 kelas di sekolah ini terdiri dari kelas 1 A,1B
hingga 6A,6B. Halaman sekolah tidak begitu luas namun bersih dan sejuk karena di depan
setiap kelas tumbuh pepohonan rindang, ruang kelas SD ini tertata rapi, terdapat sebuah lemari
di sudut kelas dan tempat sampah di depan pintu masuk setiap kelas.

B. Data Hasil Observasi

C. Perhitungan Status Gizi


Perhitungan dilakukan berdasarkan Baku Acuan diatas sebagai berikut :
Pekerjaan Status Gizi
NO Nama Siswa L/P Usia Ortu BB/U TB/U BB/TB
1 Abraham Kale L 7,2 thn Buruh Normal Normal Normal
2 Angielian Mada P 6,9 thn Swasta Normal Normal Normal
3 Dedy A. Dimu L 7,4 thn Wiraswasta Gizi Kurang Normal Normal
4 Exel W. Mudin L 7,4 thn Nelayan Normal Normal Normal
5 Grace Kelly P 6,8 thn Wiraswasta Gizi Kurang Normal Kurus
6 Iren Koen L 7,7 thn Wiraswasta Gizi Kurang Pendek Normal
7 Johanis Silla L 7,7 thn Wiraswasta Normal Normal Normal
8 Jovan Kadafuk L 7 thn Wiraswasta Gizi Kurang Normal Normal
9 Langina Tefu P 9 thn Nelayan Gizi Kurang Pendek Kurus
10 Maria Liwu P 7,5 thn PNS Gizi Kurang Normal Normal
11 Max Kawulusan L 6,8 thn Honor PU Gizi Kurang Normal Kurus
12 Nazwa P 6 thn Nelayan Normal Tinggi Normal
13 Relvalinda P 6,8 thn Swasta Normal Normal Normal
14 Samuel Nakmofa L 7 thn Wiraswasta Normal Normal Normal
15 Virgi Malelak L 7,8 thn Swasta Gizi Kurang Pendek Kurus
D. Perhitungan Kebutuhan Energi
Perhitungan BMR usia anak dihitung dalam tahun (bukan bulan), jenis aktifitas yang dipakai
adalah Aktifitas Ringan Semi Sedang dengan kenaikan BMR 30% alasannya Pada anak usia 7-
12 tahun kebutuhan tubuh akan energi jauh lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya,
karena anak lebih banyak melakukan aktivitas fisik seperti bermain, berolahraga, atau
membantu orang tua.
Berdasarkan rumus diatas maka didapatlah hasil sebagai berikut :
Aktivita TOTAL
No Nama Siswa Usia BB TB BMR SDA s (Kal)
1 Abraham 7,2 thn 18 kg 114 cm 837.3 83.73 418.65 1339.68
2 Angielian 6,9 thn 17 kg 112 cm 1002.9 100.29 501.45 1604.64
3 Dedy Alsay 7,4 thn 18 kg 117 cm 852.3 85.23 426.15 1363.68
4 Exel Wellem 7,4 thn 20 kg 122 cm 904.9 90.49 452.45 1447.84
5 Grace Kelly 6,8 thn 15 kg 113 cm 985.6 98.56 492.8 1576.96
6 Iren Koen 7,7 thn 17 kg 112,5 cm 816 81.6 408 1305.6
7 Johanis Silla 7,7 thn 22 kg 119 cm 917.5 91.75 458.75 1468
8 Jovan Kadafuk 7 thn 17 kg 114 cm 823.5 82.35 411.75 1317.6
9 Langina Tefu 9 thn 17 kg 119 cm 1002.1 100.21 501.05 1603.36
10 Maria Liwu 7,5 thn 17 kg 113,5 cm 1001 100.1 500.5 1601.6
11 Max Kawulusan 6,8 thn 16 kg 118 cm 836.5 83.65 418.25 1338.4
12 Nazwa 6 thn 23 kg 125 cm 1085.2 108.52 543.6 1737.32
13 Relvalinda 6,8 thn 16 kg 112 cm 993.3 99.33 496.65 1589.28
14 Samuel 7 thn 18 kg 115 cm 842.3 84.23 421.15 1347.68
15 Virgi Malelak 7,8 thn 15 kg 110 cm 775.9 77.59 387.95 1241.44

E. Hasil Penelitian
Penelitian mengenai Status Gizi dan Kebutuhan Energi anak-anak di SD. Inpres Oeba 2
dilakukan pada Sabtu 14 Juni 2014 sekitar pukul 08.30 Wita. Penelitian ini menggunakan jenis
penelitian Observasional dengan rancangan Cross Sectional, populasinya anak-anak SD. Inpres
Oeba 2 dengan Sampel anak-anak kelas 1 A. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode
Simple Random Sampling. Jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian 15 orang anak, dari
pengukuran dan perhitungan Status Gizi dan Kebutuhan Energi data yang di yang di dapat
sebagai berikut :

Tabel 1.1 Hubungan Jenis Kelamin dengan Status Gizi anak-anak kelas 1A
Jenis Status Gizi Total
Kelamin BB/U TB/U BB/TB
Gizi Krg Normal Pendek Normal Tinggi Kurus Normal
n % n % n % n % n % n % n % n %
Laki-laki 5 33.3 4 26.7 2 13.3 7 46.6 0 0 2 13.3 7 46.7 9 60
Perempuan 3 20 3 20 1 6.7 4 26.7 1 6.7 2 13.3 4 26.7 6 40
Total 8 53.3 7 46.7 3 20 11 73.3 1 6.7 4 26.6 11 73.4 15 100
Dari data diatas dapat dilihat bahwa status gizi anak laki-laki yang terdiri dari 9 anak, 5
(33.3%) anak diantaranya mengalami “Gizi Kurang” menurut BB/U, 2 (13.3%) anak memiliki
tubuh “Pendek” dan “Kurus” menurut TB/U dan BB/TB. Sedangkan Status Gizi anak
perempuan yang terdiri dari 6 anak, 3 (20%) anak diantaranya mengalami “Gizi Kurang”
menurut BB/U, 1 anak memiliki tubuh “Pendek” dan 1 anak memiliki tubuh “Tinggi”, serta 2
(13.3%) anak memiliki tubuh “Kurus”. Hal ini membuktikan bahwa Jenis Kelamin tidak
mempengaruhi status gizi anak-anak kelas 1A di SD Oeba.

Tabel 1.2 Hubungan Pekerjaan Ortu dengan Status Gizi anak-anak kelas 1A
Jenis Status Gizi Total
pekerjaan BB/U TB/U BB/TB
Gizi Krg Normal Pendek Normal Tinggi Kurus Normal
n % n % n % n % n % n % n % n %
Buruh 0 0 1 6.7 0 0 1 6.7 0 0 0 0 1 6.7 1 6.7
Swasta 1 6.7 2 13.3 1 6.7 2 13.3 0 0 1 6.7 2 13.3 3 20
Nelayan 1 6.7 2 13.3 1 6.7 1 6.7 1 6.7 1 6.7 2 13.3 3 20
Wiraswasta 4 26.6 2 13.3 1 6.7 5 33.3 0 0 1 6.7 5 33.3 6 40
PNS 1 6.7 0 0 0 0 1 6.7 0 0 0 0 1 6.7 1 6.7
Honor PU 1 6.7 0 0 0 0 1 6.7 0 0 1 6.7 0 0 1 6.7
8 53.4 7 46.6 3 20 11 73.4 1 6.7 4 26.6 11 73.4 15 100
Ket : Wiraswasta (Penjahit, Satpam, Sopir, Bengkel, Tukang Bangunan)

Dari data dapat disimpulkan bahwa Pekerjaan Orang tua berpengaruh terhadap Status
Gizi anak-anak kelas 1A SD. Oeba, Hal ini berdasarkan perhitungan terdapat 8 (53.4%) anak
dari masing-masing pekerjaan Orang Tua yang mengalami “Gizi Kurang”, 3 (20%) anak
memiliki tubuh “Pendek” dan 4 (26.6%) memiliki tubuh “Kurus”. Hal ini berdasarkan data
yang didapat dimana rata-rata pekerjaan orang tua anak-anak kelas 1A SD. Oeba adalah
Buruh, nelayan, sopir, satpam, montir, tukang bangunan dan penjahit.
Sedangkan Status Gizi menurut umur, berdasarkan data di atas dapat di simpulkan
bahwa umur anak tidak begitu berpengaruh terhadap Status Gizi anak, dimana ada 8 anak
berusia 6,8 hingga 9 tahun justru memiliki status gizi kurang baik, sedangkan seorang anak
yang baru berusia 6 tahun pas justru memiliki gizi yang baik bahkan memiliki tubuh yang
“tinggi” mencapai 125 cm dan menjadi yang tertinggi di kelas.

Sedangkan untuk perhitungan Kebutuhan Energi dari siswa-siswi kelas 1 A Kebutuhan


Energi siswi perempuan lebih tinggi dibandingkan siswa laki-laki dimana kebutuhan Energi
siswi perempuan berkisar antara 1576.96 hingga 1737.32 kal sedangkan kebutuhan energy
siswa laki-laki berkisar antara 1241.44 – 1468 kal. Berdasarkan umur, dibagi menjadi 2 yaitu:
siswi dengan umur tertinggi Lagina 9 thn justru kebutuhan Energinya dibawah Nazwa yang
berumur 6thn dimana kebutuhan Energi Lagina 1603.36 dan Nazwa 1737.32. Sedangkan
Siswa dengan umur tertinggi Virgi 7,8 thn memiliki Kebutuhan Energi dibawah Max yang
berusia 6,8 thn dimana kebutuhan Energi Virgi 1241,44 sedangkan Max 1338,4. Hal ini
menunjukan bahwa umur dan jenis kelamin tidak mempengaruhi Kebutuhan Energi siswa-
siswi Kelas 1A SD Oeba 2.
F. Laporan Hasil Observasi UKS

Metode penelitian yang digunakan adalah Observasional, instrument yang digunakan dalam
penelitian ini berupa Kuesioner dan observasi untuk mengetahui peleksanaan UKS di Sd Inpres
Oeba 2. Berdasarkan hasil Observasi yang dilakukan diketahui bahwa UKS di SD. Ipres Oeba 2
sudah direncanakan sejak 10 tahun yang lalu namun baru pada tahun 2006 UKS di sekolah ini
resmi beroperasi. Berdasarkan Struktur Organisasi, Pembina UKS adalah Kepala sekolah yaitu
Ibu Sophia Lakipera, yang menjabat sebagai Ketua UKS Ibu Sulfina Bapa S.pdk, Sedangkan
sekertaris merangkap bendahara dipercayakan kepada Ibu Margaretha Mare S. Ag.

a. Sarana Prasaran
Berdasarkan hasil observasi dan data kuesioner, Sarana dan Prasarana di UKS sekolah ini
dalam factor Ruang UKS, Toilet, dan ketresediaan Obat-obatan (alat Medis) sangat Kurang baik
dimana :
 Ruang UKS : Tidak adanya dipan/kasur bagi siswa/siswi, meja-kursi untuk petugas UKS,
Sekat pembatas/gorden, kotak atau lemari obat dan wastafel. Ruang UKS sendiri di
gabung dengan ruang guru sehingga ruang UKS sangat sempit dan pengap.
 Toilet : dimana toilet yang ada untuk seluruh siswa hanya ada 2 dibagi untuk siswa laki-
laki dan siswa perempuan, hal ini sangat memprihatinkan dimana seharusnya dalam
sebuah sekolah menimal harus ada 4 WC untuk siswa laki-laki dan 4 WC untuk siswa
perempuan, lalu tidak tersedianya sabun untuk cuci tangan, dan kebersihan WC yang tidak
terjaga. Serta ketersediaan air bersih (air mengalir) yang belum memadai.
 Ketersediaan Obat-obatan : juga sangat kurang baik bahkan bisa dibilang tidak ada dimana
yang disediakan hanya minyak gosok/urut dan obat merah serta peralatan medis biasa
seperti kapas, perban dan gunting. Hal ini dikarenakan petugas UKS di SD ini adalah guru
sehingga ada ketakutan akan pemberian obat minum yang tidak sesuai.

b. Program UKS
a) Pengelolaan UKS
Pengelolaan UKS di Sd Inpres Oeba 2 meliputi adanya pembentukan tim pelaksana
UKS, Laporan pembinaan UKS dari Puskesmas (Puskesmas Pasir Panjang), adanya
penyuluhan UKS dari puskesmas dan adanya keterlibatan guru dalam pengelolaan
UKS.
b) Trias UKS
 Program Pendidikan Kesehatan
Yang dilaksanakan di SD Inpres Oeba 2 meliputi : Pend. Kesehatan
(Penjaskes), diadakannya kegiatan ekstrakurikuler seperti Lomba kebersihan
Kelas setiap 17 agustus dan penyuluhan dari Puskesmas yang dilakukan setiap
bulan.
 Program Pelayanan Kesehatan Sekolah
Belum terlalu banyak pelayanan kesehatan yang dilaksanakan, dimana warung
sekolah masih belum tersedia, sehingga mengakibatkan siswa-siswi
mengkonsumsi makanan-makanan yang di beli dari kios-kios di luar
lingkungan sekolah, lalu Lingkungan sekolah yang terpelihara dimana setiap
pagi sebelum memulai pelajaran siswa-siswi biasanya membersihkan ruang
kelas dan halaman depan kelas berdasarkan piket harian yang telah dibagi.
Penyuluhan dilakukan oleh puskesmas setiap 6 bulan sekali, di antaranya
pemberian imunisasi, pengobatan sederhana dan penemuan ganguan penyakit
dini.

 Program Lingkungan Sekolah Yang Sehat


Program lingkungan sehat yang dilakukan berdasarkan kegiatan 7 K meliputi :
Kebersihan, keindahan, kenyamanan, ketertiban, keamanan, kerindangan dan
kekeluargaan. Berdasarkan hasil observasi kebersihan, keindahan dan
kerindangan nampak jelas dimana lingkungan halaman dan kelas yang rapi dan
bersih serta tumbuhnya pepohonan dan taman kecil didepan setiap sudut, lalu
keamanan (satpam) serta kekeluargaan yang antara guru dan siswa membuat
suasana sekolah terasa nyaman dan menyenangkan sebagai rumah kedua siswa-
siswi.

c. Faktor Penghambat
Yang menjadi faktor penghambat pertama pelaksanaan UKS di SD Inpres Oeba 2 adalah
ketidaktersediaan dana. Sehingga sekolah kesusahan untuk menyediakan sarana dan
prasarana yang memadai demi berjalannya Program UKS. Lalu para latar belakang petugas
UKS yang bukan berasal dari dunia kesehatan, dimana para petugas UKS adalah guru-guru di
SD tersebut sehingga ada ketakutan dari para petugas dalam penyediaan obat-obatan karena
tidak memiliki pengetahuan kesehatan. Serta kurangnya partisipasi baik dari pihak guru
maupun orang tua sehingga walaupun telah beroperasi sekian tahun namun kelengkapan
sarana dan prasarana dari UKS di SD Inpres Oeba 2 masih jauh dari standar UKS pada
umumnya.
BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan dari penelitian ini sebagai
berikut :
a. Jumlah subjek penelitian 15 orang anak, dengan jumlah terbanyak adalah anak laki-laki
yaitu 9 orang anak (60%), sedangkan anak perempuan berjumlah 6 orang (40%). Dari
hasil perhitungan berdasarkan Skor Z untuk BB/U, “Gizi Kurang” sebanyak 8 anak
(53,3) dan “gizi normal” sebanyak 7 anak (46,7%) u, menurut TB/U anak yang
memiliki tubuh “Pendek” sebanyak 3 anak (20%), “Tinggi” 1 anak (6,7%) dan
“Normal” sebanyak 11 anak (73,3%), serta menurut BB/TB anak yang memiliki tubuh
“kurus” sebanyak 4 (26,7%) dan anak yang memiliki berat “Normal” sebanyak 11
(73,3%).
b. Tidak ada hubungan antara umur dan jenis kelamin dengan Status Gizi anak-anak kelas
1A SD Inpres Oeba 2.
c. Ada hubungan antara pekerjaan orang tua dengan Status Gizi anak-anak tersebut.
d. Tidak ada hubungan antara umur dan jenis kelamin dengan Status Gizi anak-anak kelas
1A SD Inpres Oeba 2.
e. Sarana dan prasarana UKS di SD Inpres Oeba 2 yang masih jauh dari standar UKS pada
umumnya, meliputi Ruang kelas, Toilet dan Ketidaktersediaan Obat-obatan.
f. Program UKS yang dijalankan di SD Oeba meliputi pengelolaan UKS, yaitu
terbentuknya Tim Pembinaan. Trias UKS sendiri meliputi Pendidikan Kesehatan,
Pelayanan Kesehatan Dan Lingkungan Sekolah Yang Sehat juga dijalankan dengan baik.
g. Ketidaktersediaan dana, ketiadaan petugas UKS dengan latar belakang pengetahuan
Kesehatan serta kurangnya partisipasi guru dan orang tua menjadi factor penghambat
dalam pelaksanaan UKS SD Inpres Oeba 2.

2. Saran
 Pihak Puskesmas melakukan penyuluhan mengenai pemeriksaan status gizi dan
kebutuhan kalori yang diperlukan murid pada orang tua murid dan siswa itu sendiri.
 Petugas UKS sebaiknya dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan.
 Adanya partisipasi antara orang tua dan pihak sekolah dalam pelaksanaan UKS.
 Pihak sekolah melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) juga memantau kondisi gizi
pada anak didik melalui standarisasi kantin UKS yang sesuai dengan Program Dinas
Kesehatan yaitu :
- Bersih
- Tidak lembab / cukup cahaya
- Ada air bersih
- Tidak ada makanan yang memakai zat pewarna
- Makanan harus ada tambahan kalori ( + 300 – 350 kalori )
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan Makalah dengan judul “Observasi Pelaksanaan Usaha Kesehatan
Sekolah dan Perhitungan Kebutuhan Energi Anak –anak di SD Inpres OEBA 2” dengan baik.

Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas untuk memenuhi persyaratan Ujian Mata Kuliah
Gizi Anak Usia Dini, Program Studi PG.PAUD Universitas Nusa Cendana. Penulis menyadari
bahwa dalam penyusunan Makalah ini tidak lepas dari bantuan, petunjuk dan bimbingan dari
berbagai pihak sehingga penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua
pihak terkait.

Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dalam Makalah ini, sehingga penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan Makalah ini
kedepannya. Akhir kata, semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua
pihak yang berkepentingan.

Kupang,…………2014

Penulis
PERANAN USUHA KESEHATAN SEKOLAH TERHADAP
STATUS GIZI DAN KEBUTUHAN ENERGI
SISWA SISWI KELAS 1A SD INPRES OEBA 2

KELOMPOK VI :

1. ANAMARIA V. SENGGA (1301182044)


2. BERNADETE D. BUSSA (1301182029)
3. NUNIA D.S. GUTURES (1301182041)
4. NURKHAYATI D. ASTUTI (1301181031)
5. PATRESIA BEKAK (1301182024)
6. RATOE C. BENU (1301181001)
7. YEMMIMA KOBBO ( 1301181005)

SEMESTER : II (DUA)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
PG-PAUD
2014