Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Congenital Rubella Syndrome (CRS) merupakan suatu kumpulan kelainan

kongenital yang terjadi pada anak-anak sebagai akibat dari infeksi rubella pada

ibu selama kehamilan. Ketika ibu hamil mendapatkan infeksi virus rubella maka

janin yang dikandung akan ikut terpapar, sehingga dapat menyebabkan

komplikasi yang serius. Manifestasi klinis CRS dapat bersifat sementara, dapat

sembuh sendiri, bersifat permanen dan kadang-kadang tidak menimbulkan gejala

sampai usia remaja atau dewasa. Manifestasi tersebut disebut juga sebagai “late

manifestation” atau “delayed manifestation”, yang terdiri dari kelainan

pendengaran dan penglihatan, kelainan jantung, kelainan endokrin, kelainan

pencernaan serta kelainan saluran kemih bahkan dapat terjadi aborsi atau bayi

lahir mati.1`

Berdasarkan data dari WHO, paling tidak 236.000 kasus CRS terjadi

setiap tahun di negara-negara berkembang dan dapat meningkat 10 kali lipat pada

saat terjadi epidemi. Sebelum vaksin Rubella ditemukan, epidemik Rubella di

negara maju muncul pada interval 3-10 tahun. Setelah penemuan vaksin pada

tahun 1969, insidensi Rubella menurun drastis menjadi hanya 4 penderita per

100.000 populasi per tahun di dunia dengan 237-2450 kasus per tahun.2

Sejak adanya imunisasi terhadap rubela, data surveilans WHO Asia

Tenggara menunjukkan penurunan jumlah kasus rubela, tetapi kasus CRS naik

setiap tahunnya.3 Data WHO, kasus rubela di Asia Tenggara pada tahun 2017

sebanyak 4,386, turun dari 10,361 kasus di tahun 2016; tetapi terdapat 754 kasus

1
SRK pada tahun 2017 dibandingkan 319 kasus pada tahun 2016.3 Menurut data

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 2015 terjadi penurunan

cakupan imunisasi dari tahun sebelumnya.4 Kasus rubela dilaporkan masih tinggi

dan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan upaya

pencegahan efektif. Indonesia berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak

dan pengendalian rubela/ CRS pada tahun 2020 dengan salah satu strategi

kampanye vaksinasi pada usia 9-15 tahun sejak Agustus 2017.4

Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya kurang dari dua belas

minggu maka risiko janin tertular mencapai 80%-90%. Jika infeksi dialami ibu

saat usia kehamilan lima belas samapi tiga puluh minggu, maka risiko janin

terinfeksi turun yaitu 10%-20%. Namun, risiko janin tertular meningkat hingga

100% jika ibu terinfeksi saat usia kehamilan lebih dari tiga puluh enam minggu.

Janin yang tertular berisiko mengalami CRS, terutama bila infeksi terjadi pada

usia janin < 4 bulan.5

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Congenital Rubella Syndrome (CRS) merupakan gabungan beberapa

keabnormalan fisik yang berkembang di bayi sebagai akibat infeksi virus rubella

maternal yang berlanjut dalam fetus. Ketika infeksi rubella terjadi selama awal

kehamilan, konsekuensi serius seperti abortus, IUFD dan cacat lahir yang parah

selama 12 minggu pertama kehamilan dan menurun setelah minggu ke 12

kehamilan; cacat jarang terjadi setelah infeksi pada minggu ke-20 (atau

sesudahnya) kehamilan. Cacat kongenital (congenital defect) yang paling sering

dijumpai ialah tuli sensoneural, kerusakan mata seperti katarak, gangguan

kardiovaskular, dan retardasi mental.1,6,7

2.2 Epidemiologi

Sebelum vaksin Rubella ditemukan, epidemik Rubella di negara maju

muncul pada interval 3-10 tahun. Setelah penemuan vaksin pada tahun 1969,

insidensi Rubella menurun drastis menjadi hanya 4 penderita per 100.000

populasi per tahun di dunia dengan 237-2450 kasus per tahun.8

Pada tahun 1964 terjadi pandemi dengan sekitar 12,5 juta kasus rubela,

11.000 kematian janin, dan sekitar 20.000 kasus CRS.6,9 Sejak akhir tahun 1960,

saat 40.000–60.000 kasus rubela dilaporkan tiap tahun, kasus yang dilaporkan

menurun 99,8%, menjadi hanya 9 kasus pada tahun 2004.9 Kejadian CRS di

Amerika Serikat turun 0,45 per 100,000 menjadi 0,1 per 100,000 kelahiran di

1999.10 Sejak diperkenalkannya program vaksin yang komprehensif, rubela tidak

lagi endemik di Amerika Serikat pada tahun 2004.9 Selama 1998 hingga 2000,

3
angka median kasus rubela dilaporkan 287, sedangkan selama 2001 hingga 2004,

angka median adalah 13. Insidens rubela turun dari 0,1 per 100,000 kelahiran

pada tahun 1998 menjadi 0,005 per 100,000 kelahiran pada tahun 2004. Sejak

2004, CRS jarang dilaporkan di Amerika Serikat.5

Berdasarkan data dari WHO, paling tidak 236.000 kasus SRK terjadi

setiap tahun di negara-negara berkembang dan dapat meningkat 10 kali lipat pada

saat terjadi epidemi.7 Risiko CRS bervariasi bergantung pada usia gestasi ibu

hamil saat terkena. Infeksi maternal pada trimester pertama 80% akan

menyebabkan infeksi fetus, bila terjadi pada trimester kedua, hanya 25% fetus

yang akan terinfeksi, dan bila terjadi pada trimester 3, 35-100%.11,12

Di Indonesia, setiap tahun dilaporkan lebih dari 11,000 kasus diduga

campak, dan dari hasil laboratorium didapatkan 16- 43% adalah rubela pasti.13

Dari tahun 2010 hingga 2015, diperkirakan terdapat 30,463 kasus rubela, jumlah

ini masih lebih rendah dibandingkan angka sebenarnya di lapangan. 13 Data

surveilans selama lima tahun terakhir menunjukkan 70% kasus rubela terjadi pada

kelompok usia <15 tahun. Berdasarkan studi estimasi beban penyakit CRS di

Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan terdapat 2,767 kasus CRS, 82 per

100,000 pada usia ibu 15-19 tahun dan turun menjadi 47 per 100,000 pada usia

ibu 40-44 tahun.13

2.3 Etiologi

Virus Rubella merupakan jenis virus RNA, genus Rubivirus, dalam famili

Togaviridae, dengan jenis antigen tunggal yang tidak dapat bereaksi silang dengan

sejumlah grup togavirus lainnya. Virus Rubella berbentuk bulat (sferis) dengan

4
diameter 60-70 nm, memiliki inti (core) nukleoprotein padat yang dilapisi oleh

dua lapis lipid yang mengandung glikoprotein envelope E1 dan E2.14

Virus bersifat termolabil, cepat menjadi tidak aktif pada temperatur 37◦C

dan pada temperatur -20◦C dan relatif stabil selama berbulan bulan pada

temperatur -60◦C. Virus Rubella dapat dihancurkan oleh enzim proteinase, pelarut

lemak formalin, sinar ultraviolet, PH rendah, panas dan amantadine tetapi relatif

rentan terhadap pembekuan, pencairan atau sonikasi.15

Meskipun Virus Rubella dapat dibiakkan dalam berbagai biakan (kultur)

sel, infeksi virus ini secara rutin didiagnosis melalui metode serologis yang cepat

dan praktis. Berbagai jenis jaringan, khususnya ginjal kera paling baik digunakan

untuk mengasingkan virus, karena dapat menghasilkan paras (level) virus yang

lebih tinggi dan secara umum lebih baik untuk menghasilkan antigen.

Pertumbuhan virus tidak dapat dilakukan pada telur, tikus dan kelinci dewasa.14

5
Berbeda dengan togavirus yang lain, virus Rubella hanya terdapat pada

manusia. Penularan virus ini terjadi terutama melalui kontak langsung atau

droplet dengan sekret nasofaring dari penderita. Meskipun Virus Rubella dapat

dibiakkan dalam berbagai biakan (kultur) sel, infeksi virus ini secara rutin

didiagnosis melalui metode serologis yang cepat dan praktis. Berbagai jenis

jaringan, khususnya ginjal kera paling baik digunakan untuk mengasingkan

virus, karena dapat menghasilkan level virus yang lebih tinggi dan secara

umum lebih baik untuk menghasilkan antigen.8,9

Virus Rubella mengalami replikasi di dalam sel inang. Siklus replikasi

yang umum terjadi mulai dari adhesi, penetrasi, uncoating, biosintesis,

maturasi, dan pelepasan. Setelah adhesi dan penetrasi, asam nukleat virus harus

sudah uncoating di permukaan sel dalam virus oleh enzim lisosom. Kemudian,

akan terjadi replikasi dan maturasi dan virus baru siap dilepaskan.10

Virus Rubella ditransmisikan melalui pernapasan dan mengalami

replikasi di nasofaring dan kelenjar getah bening. Viremia terjadi antara hari

ke-5 sampai hari ke-7 setelah terpajan virus Rubella. Masa inkubasi virus

Rubella berkisar antara 14-21 hari. Masa penularan 1 minggu sebelum 4 hari

munculnya ruam.8,9,10

2.4 Patogenesis

Sumber infeksi Rubella janin adalah dari plasenta wanita hamil yang

menderita viremia. Pada saat viremia, dapat terjadi infeksi transplasenta vertikal.

Virus dalam tubuh bayi dengan CRS dapat bertahan hingga beberapa bulan atau

6
kurang dari 1 tahun setelah kelahiran. Viremia maternal bisa dimulai 1 minggu

sebelum serangan ruam dan dapat menimbulkan infeksi plasenta.16

Infeksi fetus terjadi secara hematogen yang menyebar melalui aliran darah

uteroplasenta. Proses replikasi yang menyebabkan nekrosis lokal di epitel villi

korialis dan endotel dapat menyebabkan kerusakan pada organ janin yang sedang

berkembang. Apalagi ditambah dengan adanya proses inflamasi yang hebat. Janin

yang terinfeksi Rubella berisiko besar meninggal dalam kandungan, lahir

prematur, dan abortus spontan.11

Pembentukan organ terjadi dalam minggu kedua sampai keenam setelah

konsepsi, sehingga infeksi sangat berbahaya untuk jantung dan mata pada saat itu.

Dalam trimester kedua, janin mengalami peningkatan kemampuan imunologi dan

tidak lagi peka terhadap infeksi kronis yang merupakan khas Rubella intrauterin

dalam minggu-minggu awal.17

Ketika Rubella memasuki tubuh, respon pertama diambil alih oleh sistem

imun alami. Envelop virus dikenali oleh reseptor fagosit saluran pernafasan atas

fagosit akan memakan virus kemudian akan terjadi sekresi sitokin IL-1, IL-6, IL-

12. Sitokin dilapaskan dari fagosit, sel-sel yang terinfeksi, ke uteroplasenta.

Penelitian menyatakan bahwa sitokin IL-6 akan sitokin kunci yang esensial untuk

infeksi Rubella, merangsang IL-2 dan proliferasi/diferensiasi sel T. IL-6 juga

ditemukan bersama dengan TG-Fbeta dan IL-23 merangsang perkembangan dan

differensiasi kelompok sel Th17 dan ekspansinya untuk regulasi keseimbangan

Th1/Th2, IFN-gamma, dan IL-4/ TNF-alfa dan GM-CSF akan meningkatan reaksi

inflamasi. Aktivitas komplemen berhubungan secara primer dengan envelope.18

7
Sistem imun spesifik akan terangsang akibat interaksi E1 dan protein pada

permukaan sel dendritik. MHC kelas I kemudian akan mengaktivasi sel T

sitotoksik CD8+ dan MHC kelas II akan mengaktivasi sel T helper CD4+ untuk

memicu sel B untuk memulai respon imun humoral. Sel dendritik akan berjalan

sepanjang KGB untuk aktivasi dan merangsang lebih banyak sel T untuk respon

adaptif. Neutrofil juga akan terpicu oleh sitokin dan meningkatkan reseptor ICAM

pada endotel untuk lebih merespon terhadap antigen virus.5

Ketiak sel dendritik berjalan di KGB. Mereka mempresentasikan antigen

atau peptide dari envelop virus dan MHCI ke sel T CD4+ serta B7 ke reseptor

CD28. Sel T kemudian akan berproliferasi, differensiasi, dan berkespansi menjadi

Th1 dan Th2. Sel T kemudian dikeluarkan dari limfatik efferen ke sirkulasi

sistemik. Pada daerah yang baru akan terjadi pelepasan dan perangsang kemokin

IL-2 dan IFN-gamma. Sel The akan memproduksi IL-4 dan IL-10 untuk aktivasi

respon imun humoral sel B. IFN ditemukan berperan dalam aktivasi sel NK,

meningkatkan molekul MHC1, dan IFN-alfa melalui kinase dan protein STAT.6

2.5 Manifestasi Klinis

Rubella merupakan penyakit infeksi diantaranya 20–50% kasus bersifat

asimptomatis. Gejala rubella hampir mirip dengan penyakit lain yang disertai

ruam. Gejala klinis untuk mendiagnosis infeksi virus rubella pada orang dewasa

atau pada kehamilan adalah:7

1. Infeksi bersifat akut yang ditandai oleh adanya ruam makulopapular.

2. Suhu tubuh >37,2⁰C

3. Artralgia/artrhitis, limfadenopati, konjungtivitis.

8
CRS yang meliputi 4 defek utama yaitu :

a. Gangguan pendengaran tipe neurosensorik. Timbul bila infeksi terjadi

sebelum umur kehamilan 8 minggu. Gejala ini dapat merupakan satu-

satunya gejala yang timbul.

b. Gangguan jantung meliputi PDA, VSD dan stenosis pulmonal.

c. Gangguan mata : katarak dan glaukoma. Kelainan ini jarang berdiri

sendiri.

d. Retardasi mental dan beberapa kelainan lain antara lain:

 Purpura trombositopeni ( Blueberry muffin rash )

 Hepatosplenomegali, meningoensefalitis, pneumonitis, dan lain-

lain.

Kriteria Klinis Congenital Rubella Syndrome

Risiko infeksi janin beragam berdasarkan waktu terjadinya infeksi maternal.

Infeksi terjadi pada 0–12 minggu usia kehamilan, maka terjadi 80–90% risiko

infeksi janin. Infeksi maternal yang terjadi sebelum terjadi kehamilan tidak

mempengaruhi janin. Infeksi maternal pada usia kehamilan 15–30 minggu risiko

infeksi janin menurun yaitu 30% atau 10–20%.

Bayi di diagnosis mengalami CRS apabila mengalami 2 gejala pada kriteria A

atau 1 kriteria A dan 1 kriteria B, sebagai berikut:3

A. Katarak, glaukoma kongenital, penyakit jantung kongenital (paling sering

adalah PDAatau peripheral pulmonary artery stenosis), kehilangan pendengaran,

pigmentasi retina.

9
B. Purpura, splenomegali, jaundice, mikrosefali, retardasi mental,

meningoensefalitis dan radiolucent bone disease (tulang tampak gelap pada hasil

foto roentgen).

Beberapa kasus hanya mempunyai satu gejala dan kehilangan pendengaran

merupakan cacat paling umum yang ditemukan pada bayi dengan CRS. Definisi

kehilangan pendengaran menurut WHO adalah batas pendengaran ≥26 dB yang

tidak dapat disembuhkan dan bersifat permanen.7

Klasifikasi Kasus

Berdasarkan kriteria diagnosis klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium, kasus

CRS dapat digolongkan menjadi 4 kelompok yaitu:

1. Kasus kecurigaan (Suspected case)


Suspected case adalah kasus dengan beberapa gejala klinis tetapi tidak

memenuhi kriteria klinis untuk diagnosis CRS tetapi yang memiliki 1 atau lebih

banyak temuan berikut:

 Katarak,
 Glaukoma kongenital
 Penyakit jantung kongenital (paling sering paten duktus arteriosus atau
arteri pulmonalis perifer stenosis),
 Gangguan pendengaran,
 Retinopati pigmen,
 Purpura,
 Hepatosplenomegali,
 Sakit kuning
 Mikrosefali,
 Keterlambatan pengembangan,
 Meningoencephalitis, atau

10
 Penyakit tulang radiolusen

2. Kasus berpeluang (Probable case).

Pada kasus ini, hasil pemeriksaan laboratorik tidak sesuai dengan kriteria

laboratorium untuk diagnosis CRS, tetapi mempunyai 2 penyulit (komplikasi)

yang tersebut pada kriteria A atau satu penyulit pada kriteria A dan satu

penyulit pada kriteria B dan tidak ada bukti etiologi. Pada kasus berpeluang

(probable case), baik satu atau kedua kelainan yang berhubungan dengan mata

(katarak dan glaukoma kongenital), dihitung sebagai penyulit tunggal. Jika

dikemudian hari ditemukan/terkenali (identifikasi) keluhan atau tanda yang

berhubungan seperti kehilangan pendengaran, kasus ini akan digolongkan

ulang.

3. Kasus hanya infeksi (Infection only-case)

Kasus hanya infeksi (Infection only-case) adalah kasus yang diperoleh dari

hasil pemeriksaan laboratorik terbukti ada infeksi tetapi tidak disertai tanda dan

gejala klinis CRS.

4. Kasus terpastikan (Confirmed case). Dalam kasus ini dijumpai gejala

klinis dan didukung oleh hasil pemeriksaan laboratorik yang positif.

2.6 Penegakan Diagnosis

a. Anamnesis

Untuk mendiagnosa rubella congenital maka harus ada riwayat terjadi rubella

pada ibunya, yang ditandai dengan gejala-gejala di atas

11
b. Pemeriksaan fisik

Untuk CRS dapat diidentifikasikan dari pemeriksaan fisik, yaitu dari kepala

dapat kita temukan adanya microcephali, pada mata biasanya ditemukan tanda

kelainan di bola mata berupa adanya katarak dan peningkatan tekanan intra okuler

atau biasa disebut glaucoma. Pada telinga terdapat kelainan pendengaran yaitu

ketulian yang dapat dideteksi setelah usia masa pertumbuhan. Kemudian pada

pemeriksaan jantung dapat ditemukan adanya kelainan berupa patent duktus

arteriosus ditandai dengan adanya murmur derajat I-IV. Namun tanda-tanda diatas

tidak patoknomonik untuk diagnosis klinis sering kali sukar dibuat untuk seorang

penderita oleh karena tidak ada tanda atau gejala yang patognomik untuk

rubella.19,19

c. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menunjang diagnosis infeksi virus

rubella dan untuk status imunologis. Karena prosedur isolasi virus sangat lama

dan mahal serta respon antibodi inang sangat cepat dan spesifik maka

pemeriksaan serologis lebih sering dilakukan. Bahan pemeriksaan untuk

menentukan adanya infeksi virus rubella dapat diambil dari apusan (swab)

tenggorok, darah, urin dan lain-lain. Berikut tabel yang memuat jeni pemeriksaan

dan spesimen yang digunakan untuk menentukan infeksi virus rubella.19

12
Tabel 1. Jenis pemeriksaan & spesimen untuk menentukan virus rubella20

Secara garis besar, pemeriksaan laboratorik untuk menentukan infeksi

virus rubella dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Isolasi virus

Virus rubella dapat diisolasi dari sekret hidung, darah, apusan tenggorok, urin,

dan cairan serebrospinalis penderita rubella. Virus juga dapat diisolasi dari faring

1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu setelah munculnya ruam. Meskipun

metode isolasi ini merupakan diagnosis pasti untuk menentukan infeksi rubella,

metode ini jarang dilakukan karena prosedur pemeriksaan yang rumit. Hal ini

menyebabkan metode isolasi virus bukan sebagai metode diagnostik rutin. Untuk

isolasi secara primer spesimen klinis, sering menggunakan kultur sel yaitu Vero;

African green monkey kidney (AGMK) atau dengan RK-13. Virus rubella dapat

ditemui dengan adanya Cytophatic effects (CPE).

13
2. Pemeriksaan serologi

Pemeriksaan serologis digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus rubella

kongenital dan pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan orang dewasa

muda) dan untuk menentukan status imunologik terhadap rubella.

Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah bersentuhan dengan

penderita rubella, memerlukan upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti.

Jika penderita memperlihatkan gejala klinis yang semakin memberat, maka harus

segera dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim (ELISA) terhadap serum

penderita untuk menetukan adanya IgM spesifik-rubella, yang dapat dipastikan

dengan memeriksa dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita

tanpa gejala klinis tetapi terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah masalah

khusus. Mereka mungkin sedang mengalami infeksi primer atau re-infeksi karena

telah mendapatkan vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG

rubella dengan ELISA juga dapat membantu membedakan infeksi primer dan re-

infeksi.19

Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis rubella, yaitu:19

 Membantu menetapkan diagnosis rubella kongenital. Dalam hal ini

dilakukan imunoasai IgM terhadap rubella

 Membantu menetapkan diagnosis rubella akut pada penderita yang

dicurigai. Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap penderita

 Memeriksa ibu dengan anamnesis ruam “rubellaform” di masa lalu,

sebelum dan pada awal kehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini, dapat

disebabkan oleh berbagai macam virus yang lain

14
 Memantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksi rubella selama kehamilan

sebab seringkali ibu tersebut pada awal kehamilannya terpajan virus

rubella (misalnya di BKIA dan Puskesmas)

 Mengetahui derajat imunitas seseorang pascavaksinasi. Adanya antibodi

IgG rubella dalam serum penderita menunjukkan bahwa penderita tersebut

pernah terinfeksi virus dan mungkin memiliki kekebalan terhadap virus

rubella. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji

saring untuk kehamilan adalah sebagai berikut: sebelum kehamilan, bila

positif ada perlindungan (proteksi) dan bila negatif berarti tidak diberikan,

kehamilan muda (trimester pertama). Kadar IgG ≥15 IU/ml, umumnya

dianggap dapat melindungi janin terhadap rubella. Setelah vaksinasi; bila

positif berarti ada perlindungan dan bila negatif berarti tidak ada.

3. Pemeriksaan RNA Virus

Jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengenali RNA virus rubella

antara lain:

a. Polymerase Chain Reaction (PCR): PCR merupakan teknik yang paling umum

digunakan untuk menemukan RNA virus. Di Inggris, PCR digunakan sebagai

metode evaluasi rutin untuk menemukan virus rubella dalam spesimen klinis.

Penemuan RNA rubella dalam cairan amnion menggunakan RT-PCR mempunyai

sensitivitas 87–100%. Amniosintesis seharusnya dilakukan kurang dari 8 minggu

setelah onset infeksi dan setelah 15 minggu konsepsi. Uji RT-PCR menggunakan

sampel air liur merupakan alternatif pengganti serum yang sering digunakan untuk

kepentingan pengawasan (surveillance).

15
b. Reverse Transcription-Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP)

RT- LAMP adalah salah satu jenis pemeriksaan untuk mengenali RNA virus

rubella. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan sensitivitas antara

pemeriksaan RT-LAMP, RT-PCR dan isolasi virus yang dilakukan di Jepang,

ternyata didapatkan hasil 77,8% untuk RT-LAMP, 66,7% untuk RT-PCR dan

33,3% untuk isolasi virus. Pemeriksaan RT-LAMP mirip dengan pemeriksaan

RT-PCR tetapi hasil pemeriksaan di RT-LAMP dapat diketahui dengan melihat

tingkat kekeruhan (turbidity) setelah dilakukan inkubasi di alat turbidimeter

2.7 Tatalaksana

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk CRS, pengobatannya hanya bersifat

suportif.

a. Jika tidak terjadi komplikasi bakteri, pengobatan adalah simptomatis.

Adamantanamin hidroklorida (amantadin) telah dilaporkan efektif in vitro dalam

menghambat stadium awal infeksi rubella pada sel yang dibiakkan.

b. Upaya untuk mengobati anak yang sedang menderita CRS dengan obat ini tidak

berhasil. Karena amantadin tidak dianjurkan pada wanita hamil, penggunaannya

amat terbatas. Interferon dan isoprinosin telah digunakan dengan hasil yang

terbatas.

c. Pada bayi yang dilakukan tergantung kepada organ yang terkena:

 Gangguan pendengaran diatasi dengan pemakaian alat bantu dengar, terapi

wicara dan memasukkan anak ke sekolah khusus atau implantasi koklea

 Penyakit jantung bawaan diatasi dengan pembedahan

16
 Gangguan penglihatan sebaiknya diobati agar penglihatan anak berada

pada ketajaman yang terbaik seperti operasi

 keterbelakangan mentalnya diatasi dengan fisioterapi, terapi wicara,

okupasi atau jika sangat berat, mungkin anak perlu dimasukkan ke institusi

khusus.

2.8 Pencegahan

Program vaksinasi atau imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan

terhadap Rubella yang diberikan sebagai vaksin MMR. Sejak tahun 1979 vaksin

virus hidup RA 27/3 (fibroblas paru embrional manusia deretan WI-38) telah

digunakan hanya pada imunisasi aktif terhadap Rubella di Amerika Serikat.

Vaksin RA 27/3 menghasilkan antibodi nasofaring dan berbagai variasi antibodi

serum, memberikan proteksi yang lebih baik terhadap reinfeksi. Vaksin sensitif

terhadap panas dan cahaya, karenanya vaksin harus disimpan dalam lemari es

pada suhu 4ºc dan digunakan sesegera vaksin ini dilarutkan kembali. Vaksin

diberikan sebagai satu injeksi subkutan.21

Pada orang yang rentan, proteksi pasif dari atau pelemahan penyakit

dapat diberikan secara bervariasi dengan injeksi intramuskuler Globulin Imun

Serum (GIS) yang diberikan dengan dosis besar (0,25-0,50 mL/kg atau 0,12-

0,20 mL/lb) dalam 7-8 hari pasca pemajanan. Efektivitas globulin imun tidak

dapat diramalkan. Tampaknya tergantung pada kadar antibodi produk yang

digunakan dan pada faktor yang belum diketahui. Manfaat GIS telah

dipertanyakan karena pada beberapa keadaan ruam dicegah dan manifestasi

klinis tidak ada atau minimal walaupun virus hidup dapat diperagakan dalam

17
darah. Bentuk pencegahan ini tidak terindikasi, kecuali pada wanita hamil

nonimun.21

Imunisasi Rubella harus diberikan pada wanita pasca pubertas yang

kemungkinan rentan pada setiap kunjungan perawatan kesehatan. Untuk wanita

yang mengatakan bahwa mereka mungkin hamil imunisasi harus ditunda. Uji

kehamilan tidak secara rutin diperlukan, tetapi harus diberikan nasehat

mengenai sebaiknya menghindari kehamilan selama 3 bulan sesudah imunisasi.

Kebijakan imunisasi sekarang telah berhasil memecahkan siklus epidemik

Rubella yang biasa di Amerika Serikat dan menurunkan insiden CRS yang

dilaporkan pada hanya 20 kasus pada tahun 1994. Namun imunisasi ini tidak

mengakibatkan penurunan presentase wanita usia subur yang rentan terhadap

Rubella.21

Sebelum hamil sebaiknya memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella,

seperti juga terhadap infeksi TORCH lainnya. Jika anti-Rubella IgG saja yang

positif, berarti pernah terinfeksi atau sudah divaksinasi terhadap Rubella, tidak

mungkin terkena Rubella lagi, dan janin 100% aman. Jika anti-Rubella IgM saja

yang positif atau anti-Rubella IgM dan anti-Rubella IgG positif, berarti baru

terinfeksi Rubella atau baru divaksinasi terhadap Rubella. Pasien disarankan

untuk menunda kehamilan sampai IgM menjadi negatif, yaitu selama 3-6 bulan.

Jika anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM negatif berarti tidak mempunyai

kekebalan terhadap Rubella. Pasien bila belum hamil akan diberikan vaksin

Rubella dan menunda kehamilan selama 3-6 bulan. Bila sudah terlanjur hamil,

hanya dapat menghindari faktor risiko.21

18
BAB III
KESIMPULAN

1. Congenital Rubella Syndrome (CRS) merupakan suatu kumpulan kelainan

kongenital yang terjadi pada anak-anak sebagai akibat dari infeksi rubella

pada ibu selama kehamilan

2. Berdasarkan data dari WHO, paling tidak 236.000 kasus CRS terjadi setiap

tahun di negara-negara berkembang dan dapat meningkat 10 kali lipat pada

saat terjadi epidemi.

3. Penyebab Rubella adalah virus Rubella dari genus togaviridae.

4. Diagnosis CRS sulit dikonfirmasi akibat gejalanya yang asimptomatik atau

subklinis pada maternal sehingga tidak ada alarm untuk memperhatikan

khusus janin yang dikandung.

5. Terapi dari CRS biasanya suportif dan self limited disease.

6. CRS hanya dapat dicegah dengan imunisasi sebelum kehamilan.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Ezike, E. & Steele, R. W. Pediatric Rubella. Medscape (2013). Available

at: https://emedicine.medscape.com/article/968523-overview. (Accessed:

25th June 2019)

2. WHO. Rubella and Congenital Rubella Syndrome (CRS). WHO (2018).

Available at:

https://www.who.int/immunization/monitoring_surveillance/burden/vpd/su

rveillance_type/passive/rubella/en/. (Accessed: 25th June 2019)

3. WHO. Global and Regional Immunization Profile. WHO (2018). Available

at:

https://www.who.int/immunization/monitoring_surveillance/data/gs_glopro

file.pdf. (Accessed: 25th June 2019)

4. Kemenkes. Petunjuk teknis kampanye imunisasi measles rubella (MR).

(2017).

5. Riley, L. E. Rubella in Pregnancy. UpToDate (2017). Available at:

https://www.uptodate.com/contents/rubella-in-

pregnancy?topicRef=6047&source=see_link. (Accessed: 25th June 2019)

6. Handryastuti, S. Sindrom Rubela Kongenital. IDAI (2016). Available at:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sindrom-rubela-

kongenital. (Accessed: 25th June 2019)

7. Darmadi, S. Telaah Pustaka Gejala Rubela Bawaan (Kongenital)

Berdasarkan Pemeriksaan Serologis dan RNA Virus. Indones. J. Clin.

Pathol. Med. Lab. 13, 63–71 (2007).

20
8. Giambi, C. et al. Congenital rubella still a public health problem in Italy:

analysis of national surveillance data from 2005 to 2013. Surveill. Outbreak

Reports (2014).

9. Reef, S. et al. The changing epidemiology of rubella in the 1990s: on the

verge of elimination and new challenges for control and prevention. 2002.

JAMA 287, 464 (2002).

10. Reef, S., Redd, S., Abernathy, E., Zimmerman, L. & Icenogle, J. The

epidemiological profile of rubella and congenital rubella syndrome in the

United States, 1998-2004: the evidence for absence of endemic

transmission. Clin Infect Dis 43, 126 (2006).

11. Dontigny, L., Arsenault, M. & Martel, M. Rubella in pregnancy. SOGC

Clin. Pract. Guidel. 2008 203, 1–5 (2008).

12. ECDC. Survey on rubella, rubella in pregnancy and congenital rubella

sureillance systems in EU/EEA contries. ECDC 1–39 (2013).

13. Kemenkes. Status Rampak dan rubella Saat Ini di Indonesia. (2018).

14. Battisti, A. et al. Cryo-electron tomography of rubella virus. J Virol 20, 78–

85 (2012).

15. Kujala. The togavirus RNA Replication Complex. Univ. Helsinki 1–20,

(2000).

16. Nasiri, R., Yoseffi, J., Khajedaloe, M., Yadi, M. & Delgoshaei, F.

Congenital rubella syndrome after rubella vaccination in 1-4 weeks

periconceptiona period. Indian J Ped 76, 279–282 (2009).

17. Enders, G., Nickerl-Pacher, U., Miller, E. & Cradock-Watson, J. Outcome

21
of confirmed periconceptional maternal rubella. Lancet 1, (1988).

18. Dhiman, N. et al. Predominant Inflammatory Cytokine Secretion Pattern In

Response To Two Dose Of Live Rubella Vaccine In Healthy Vaccinees.

Cytokine 50, 24–29 (2010).

19. Tian, C., Ali, S. & Weitkamp, J. Congenital Infections, Part I:

Cytomegalovirus, Rubella and Herpes simplex. Neoroviews 11, 45 (2010).

20. Fitriany, J. & Husna, Y. Sindrom Rubella Kongenital. J. Averrous 4,

(2018).

21. Bar-Oz, B. et al. Pregnancy outcome following rubella vaccination: a

prospective controlled study. Am J Med Genet A 130, 52–54 (2004).

22