Anda di halaman 1dari 6

PERBEDAAN PELEDAKAN SURFACE DAN UNDERGROUND

Peledakan surface memiliki perbedaan dengan peledakan underground,


perbedaannya terletak pada arah bidang bebas ledakannya. Pada peledakan surface
dilakukan dengan dua atau lebih arah bidang bebas, sedangkan pada peledakan
underground hanya dilakukan dengan satu arah bidang bebas.

A. Metode Peledakan Underground


Penambangan underground dilakukan dengan berbagai macam cara untuk
membuat lubang bukaannya. Untuk membuat lubang bukaan dilakukan dengan melalui
peledakan, peledakan di sini adalah pekerjaan memisahkan bijih dari batuan induknya
menggunakan bahan peledak sehingga dihasilkan bentuk dan ukuran yang
memudahkan dalam proses pengangkutan kepermukaan menggunakan peralatan
yang tersedia.
Peledakan di underground dimulai dengan peledakan pemula untuk
menciptakan bolongan yang akan ditembus yang disebut cut. Cut ini berfungsi sebagai
bidang bebas terhadap peledakan selanjutnya. Diperbesar dengan peledakan susunan
lubang tembak yang disebut easer. Peledakan yang menentukan bentuk dari
terowongan disebut peledakan lubang trimmer. Jenis – jenis pola lubang tembak yang
sering dan pernah dipakai pada peledakan underground, yaitu :
a. Drag Cut
Pola ini cocok digunakan pada batuan yang memiliki struktur bidang
perlapisan seperti batuan lempung. Lubang cut di desain menyudut
terhadap bidang perlapisan pada bidang tegak lurus, sehingga batuan akan
terpisah sesuai dengan bidang perlapisan. Drag cut ini sesuai untuk
terowongan berukuran kecil dengan lebar 1,5 – 2 m dimana kemajuan
besar tidak terlalu penting.
b. Fan Cut
Pola ini lubang tembaknya di desain menyudut pada bidang mendatar. Cut
diledakkan maka batuan disekitarnya akan terpisah, lalu lubang easer dan
trimmer akan memperbesar lubang cut membentuk geometri terowongan.
Cut ini sesuai untuk digunakan pada batuan perlapisan.
c. V-Cut
Pola ini diatur pada tiap dua lubang membentuk V. sebuah cut terdiri dari 2
hingga 3 pasang V, dimana masing – masing V pada posisi horizontal.
Lubang tembak cut biasanya di desain membentuk sudut 60o terhadap
permukaan terowongan.
d. Pyramid Cut
Pola ini terdiri dari 4 buah lubang tembak yang saling berpapasan pada satu
titik tengah terowongan. Tetapi khusus batuan keras, dapat ditambah
hingga 6 buah.
e. Burn Cut
Pola ini berbeda dengan pola yang sebelumnya, perbedaannya berada
pada posisi lubang cut. Pada burn cut lubang cut di desain sejajar satu
sama lain dan tegak lurus terhadap permukaan terowongan. Lalu pada
lubang cut tidak diisi dengan bahan peledak, dan lubang cut yang kosong
dapat lebih dari satu dan berukuran lebih besar dari lubang cut yang diisi
bahan peledak.

B. Pemilihan Bahan Peledak Underground


Pada dasarnya bahan peledak memiliki komposisi yang terdiri dari campuran
tiga bahan, yaitu :
a) Oksidator yang berfungsi memberikan oksigen, seperti KClO3, NaClO3, NaNO3.
b) Zat kimia yang mudah bereaksi berfungsi sebagai bahan peledak dasar, seperti
Nitrogliserin (NG), Trinitrotiliene (TNT), Ethylene glycoldinitrate.
c) Zat penyerap atau tambahan, seperti serbuk kayu dan serbuk batubara.
Adapun faktor – faktor yang perlu diperhatikan dalam menggunakan bahan
peledak di underground, antara lain :
1) Sifat dari bahan peledak, seperti api peledaknya kecil, peledakan berlangsung
cepat, suhu peledakan relatif rendah dan tidak menghasilkan gas beracun.
2) Bahan peledak disesuaikan dengan material yang diledakkan;
3) Particular set dari standard blasting (OB dan BR);
4) serta besarnya biaya peledakan.
C. Pola Peledakan Pada Surface
Peranan pola peledakan pada tambang terbuka sangat penting mengingat area
peledakan pada tambang terbuka atau quarry yang cukup luas, maka jangan sampai
urutan peledakannya tidak logis. Urutan peledakan yang tidak logis dapat disebabkan
oleh penentuan waktu delay yang terlalu dekat, penentuan urutan ledaknya salah,
dimensi geometri peledakan tidak tepat, dan bahkan bahan peledak yang kurang atau
tidak sesuai dengan perhitungan.
Ada beberapa kemungkinan untuk patokan dasar penentuan pola peledakan
pada tambang terbuka, diantaranya sebagai berikut :
a. Peledakan delay antar baris;
b. Peledakan delay antar beberapa lubang;
c. Dan peledakan delay antar lubang.
Keadaan retakan di lapangan cukup besar pengaruhnya terhadap penentuan
pola pemboran dan peledakan yang pelaksanaannya diatur melalui perbandingan
spasi (S) dan burden (B). Beberapa contoh kemungkinan perbedaan pola peledakan
dan kondisi di lapangan sebagai berikut :
1) Jika keadaan antar retakan hampir tegak lurus maka sebaiknya S = 1,41 B

Gambar 1
Peledakan Pojok Dengan Pola Staggered dan Sistem Inisiasi Echelon Serta Keadaan
antar retakan 90o

2) Jika keadaan antar retakan mendekati 60o maka sebaiknya S = 1,15 B dan
menerapkan jenjang waktu long delay.
Gambar 2
Peledakan Pojok Dengan Pola Staggered dan Sistem Inisiasi Echelon Serta Keadaan
antar retakan 60o

3) Jika peledakan dikerjakan bersamaan antar baris, maka ratio antara spasi dan
burden (S/B) dengan pola bujur sangkar (square pattern).

Gambar 3
Peledakan Pojok Antar Baris Dengan Pola Bujur Sangkar Dan Sistem Inisiasi Echelon

Ganbar 4
Peledakan Pojok Antar Baris Dengan Pola Staggered
4) Jika peledakan dilakukan pada bidang bebas yang memanjang maka sistem
inisiasi dan S/B diatur seperti gambar berikut.

Gambar 5
Peledakan Pada Bidang Bebas Memanjang Dengan Pola V-cut Bujur Sangkar dan Waktu
Tunda Close-interval (Chevron)

Gambar 6
Peledakan Pada Bidang Bebas Memanjang Dengan Pola V-cut Persegi Panjang Dan
Waktu Tunda Bebas
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. “Pola Peledakan Pada Tambang Terbuka”. http://www.realminers.


com/2014/07/pola-peledakan-pada-tambang-bawah-tanah.html. Diakses pada
tanggal 2 Oktober 2016.
Anonim. 2011. “Peledakan Tambang” http://tambangunsri.blogspot.co.id/2011/05/
peledakan-tambang.html. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2016.
Risejet, Rachmat. 2013. “Metode Peledakan Tambang Bawah Tanah”.http://rachmat
risejet.blogspot.co.id/2013/11/metode-peledakan-tambang-bawah-tanah.html.
Diakses pada tanggal 2 Oktober 2016.