Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dari bahasa bemacam-macam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua
fakta yang menonjol, yaitu semua manusia mempunyai unsur-unsur kesamaan di dalam
pola perkembangannya dan di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk
warisan manusia secara biologis dan sosial, tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan
berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat
kuantitatif dan bukan kualitatif. Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang
dewasa, dan apakah ia berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut
individu. Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau
perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perseorangan,
berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan.
Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut
perbedaan individu atau perbedaan individual. Maka “perbedaan” dalam “perbedaan
individual” menurut Landgren S. & Olsson KA. (1982: 578) menyangkut variasi yang
terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis. Seorang ibu yang memiliki
seorang bayi, bertutur bahwa bayinya banyak menangis, banyak bergerak, dan kuat
minum. Ibu lain yang juga memiliki seorang bayi, menceritakan bahwa bayinya pendiam,
banyak tidur, tetapi kuat minum. Cerita kedua ibu itu telah menunjukkan bahwa kedua
bayi itu memiliki ciri dan sifat yang berbeda satu sama lainnya.
Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa siswa yang
berbeda satu sama lain. Siswa-siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapat
seorang pun yang sama. Mungkin sekali dua orang dilihatnya hampir sama atau mirip,
akan tetapi pada kenyataannya jika diamati benarbenar antara keduanya tentu terdapat
perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang siswanya
adalah perbedaan fisiknya, seperti tinggi badan, bentuk badan, wurna kulit, bentuk muka,
dan semacamnya. Dari fisiknya seorang guru cepat mengenal siswa di kelasnya satu per
satu. Ciri lain yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begitu
pula suara mereka. Ada siswa yang lincah, banyak gerak, pendiam, dan sebagainya. Ada

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 1
siswa yag nada suaranya kecil dan ada yang besar atau rendah, ada yang berbicara cepat
dan ada pula yang pelan-pelan. Apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan
yang lain memiliki sifat psikis yang berbeda-beda.
Model pembelajaran dikembangkan dewasa ini kelihatan masih belum peduli dan
bahkan belum mampu mengapresiasi serta mengakomodasi perbedaan-perbedaan
individual siswa, berarti di dalam melaksanakan proPentingnya proses belajar mengajar
guru memberikan layanan pembelajaran yang sama untuk semua siswa, baik yang
memiliki kemampuan tinggi, sedang ataupun rendah. Dengan perlakuan demikian, siswa
yang berbeda kecepatan belajarnya belum mendapatkan layanan pembelajaran yang
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Siswa yang lambat tetap saja tertinggal dari
kelompok sedang. Sementara siswa yang cepat belum mendapatkan layanan yang optimal
dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas cenderung belum
bisa mendorong mereka maju dan berkembang sesuai dengan kemampuan masing-
masing. Salah satu prinsip atau asas mengajar menekankan pentingnya “Individualitas”,
yaitu menyesuaikan pembelajaran dengan perbedaan individual siswa.

B. Rumusan Masalah
1. Kemampuan- kemampuan apakah yang dicakup oleh intelegensi?
2. Manfaat apa sajakah yang diperoleh apabila kita mengetahui skor IQ siswa?
3. Apa sajakah yang dapat anda lakukan untuk membantu siswa bertindak lebih cerdas?
4. Bagaimanakah pengetahuan akan gaya kognitif dan disposisi siswa dapat membantu
anda menyesuaian instruksi anda dengan cara mereka memikirkan dan menangani
tugas-tugas akademik?
5. Mengapa sebagian besar siswa berkebutuhan khusus menjalani pendidikan di kelas
umum dibandingkan di kelas atau sekolah khusus?
6. Karakteristik- karakteristik apa sajakah yang mungkin anda jumpai pada siswa yang
menyandang berbagai jenis ketidakmampuan (disabilities) ?
7. Bagaimanakah cara anda mengadaptasi instruksi dan latihan dikelas agar sejalan
dengan kelebihan dan keterbatasan mereka yang unik?
8. Apa yang dapat anda lakukan untuk memaksimalkan pertumbuhan siswa yang
memperlihatkan bakat dan talenta yang luar biasa?

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 2
C. Tujuan Penulisan
1. Mampu menempatkan perbedaan individual pada Perspektif yang sebenarnya.
2. Mampu memahami bagaimana cara mendidik siswa berkebutuhan khusus dis sekolah
umum.
3. Mampu memahami siswa dengan perkembangan kognitif yang tinggi

D. Manfaat
Dengan disusunya makalah psikologi pendidikan mengenai materi perbedaan
individual dan kebutuhan memperoleh pendidikan khusus, diharapkan dapat bermanfaat
bagi pembaca untuk mengetahui lebih dalam tentang materi ini. Materi ini diharapkan
dapat memberikan ilmu pengetahuan tentang perbedaan individual dan kebutuhan
memperoleh pendidikan khusus.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Menempatkan Perbedaan Idividual pada Perspektif yang Sebenarnya


Perbedaan individual biasanya merupakan hasil interaksi antara pengaruh
keturunan dan pengaruh lingkungan secara bersamaan, yang akhirnya menghasilkan
manusia yang unik.
A.1. Inteligensi
Para ahli mendefinisikan dan merumuskan istilah intelegensi secara beragam, namun
sebagian besarnya sepakat bahwa definisi dan rumusan istilah inteligensi memiliki
sejumlah kualitas tertentu sebagai berikut :
1. Bersifat adaptif artinya dapat digunakan secara fleksibel untuk merespon berbagai
situasi dan masalah yang dihadapi.
2. Berkaitan dengan kemampuan belajar, orang yang inteligen dibidang tertentu
dapat mempelajari informasi-informasi dan perilaku-perilaku baru dalam bidang
tersebut secara lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan orang yang kurang
inteligen.
3. Istilah inteligensi juga merujuk pada penggunaan pengetahuan yang sebelumnya
telah dimiliki untuk menganalisis dan memahami situasi-situasi baru secara
efektif.
4. Istilah inteligensi melibatkan interaksi dan koordinasi yang kompleks dari
berbagai proses mental
5. Istilah inteligensi terkait dengan budaya tertentu (culture-spesific). Perilaku yang
dianggap inteligen dalam suatu budaya tertentu tidak selalu dianggap perilaku
yang inteligen dalam budaya lain.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 4
A.2 Perpektif Teoritis tentang Inteligensi
Beberapa psikolog berpendapat bahwa inteligensi merupakan suatu kemampuan
tunggal dan umum yang dimiliki seorang dalam taraf yang berbeda-beda dan
diterapkan ke berbagai jenis tugas.
Konsep g menurut Spearman. Diawal tahun 1900-an, Charles Spearman
berpendapat bahwa inteligensi terdiri dari :
a) Kemampuan bernalar yang sifatnya alamiah dan tunggal ( faktor umum
atau general factor) yang digunakan untuk menyelesaikan berbagai tugas.
b) Sejumlah kemampuan khusus ( faktor-faktor spesifik) yang digunakan
untuk menyelesaikan tugas-tugas spesifik.
Inteligensi Majemuk menurut Gardner. Howard Gadner menyatakan bahwa
orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, atau disebut juga inteligensi
majemuk, yang relatif independen satu sama lain. Gardner berpendapat bahwa
berbagai inteligensi memiliki menifestasi yang berbeda-beda dalam budaya-budaya
yang berbeda. Sebagai contoh, dalam aliran utama budaya Barat, inteligensi spasial
mungkin tercermin dalam lukisan, seni pahat, atau geometri.
Triarchic Theory menurut Strenberg. Strenberg berpendapat bahwa perilaku
yang inteligen melibatkan interaksi ketiga faktor, yang bervariasi dari peristiwa yang
satu ke peristiwa lain:
a) Konteks lingkungan di mana perilaku muncul
b) Cara melibatkan pengalaman sebelumnya untuk mengerjakan tugas tertentu
c) Proses- proses kognitif yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas

A.3. Distributed Intelligence


Siswa dapat ‘’mendistribusikan’’ suatu tugas yang menantang. Artinya mereka
dapat membagi sebagian beban kognitif ke sesuatu yang lain atau ke orang lain,
setidaknya melalui tiga cara.
Pertama, mereka dapat menggunakan benda-benda fisik, khususnya teknologi
untuk menangani dan memanipulasi sejumlah besar informasi.
Kedua, mereka dapat menyajikan dan berpikir tentang situasi-situasi yang
dijumpai dengan menggunakan berbagai sistem simbolik budaya mereka, kata-kata,
grafik, diagram, persamaan matematika.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 5
Ketiga, mereka dapat bekerja sama dengan orang-orang lain untuk
mengeskplorasi gagasan- gagasan dan memecahkan masalah-masalah, sebagaimana
sering kita dengar, dua kepala itu biasanya lebih baik dibandingkan satu kepala.

A.4. Mengukur Inteligensi


a) Skor IQ
Skor-skor dalam tes inteligensi awalnya dihitung dengan menggunakan rumus
yang melibatkan pembagian. Hasilnya disebut intelligence quotient scores atau
IQ.
b) IQ dan Prestasi Sekolah
Tes inteligensi modern yang telah dirancang oleh Binet awalnya bertujuan
memprediksikan seberapa baik performa setiap siswa dikelas dan dalam situasi-
situasi serupa. Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan
hubungan antar skor tes inteligensi dan prestasi sekolah :
i. Inteligensi tidak niscaya mempengaruhi prestasi, melainkan hanya sekedar
berkorelasi.
ii. Hubungan antara skor-skor IQ dan prestasi tidaklah sempurna, terdapat
banyak pengecualian.
iii. Skor IQ bisa berubah.

A.5. Nature, Nurture, dan Perbedaan Kelompok dalam Inteligensi


Hasil penelitian menyatakan bahwa keturunan mungkin turut berperan dalam
menentukan inteligensi seseorang. Sebagai contoh, kembar identik cenderung
memiliki skor-skor IQ yang kurang lebih serupa dibandingkan kembar fraternal,
bahkan kalaupun anak kembar tersebut diadopsi oleh orang tua yang berbeda sejak
lahir dan tumbuh besar dalam lingkungan rumah yang berbeda pula.
Faktor lingkungan juga turut mempengaruhi inteligensi, entah pengaruh baik
ataupun faktor buruk. Kekurangan gizi di tahun-tahun awal perkembangan (termasuk
Sembilan bulan sebelum lahir) dapat menyebabkan skor IQ yang lebih rendah.
Sebagian ahli sepakat bahwa setiap perbedaan kelompok dalam hal IQ mungkin
berkaitan dengan perbedaan lingkungan dan secara lebih khusus, lingkungan ekonomi
yang memengaruhi kualitas gizi baik sebelum maupun setelah kelahiran,

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 6
ketersediaaan buku dan mainan yang menstimulasi, akses terhadap kesempatan untuk
memperoleh pendidikan.

A.6. Cerdas Menyikapi Skor Inteligensi dan IQ


Sebagai guru, kita harus menguasai cara-cara terbaik memelihara perkembangan
intelektual siswa dab bagaimana kita dapat memberikan tafsiran yang masuk akal
mengenai performa mereka dalam tes inteligensi.
Berikut ini terdapat beberapa cara yaitu :
a. Sediakan lingkungan yang dapat mendukung pertumbuhan intelektual dan
perilaku inteligen
b. Anggaplah tes-tes inteligensi sebagai suatu bentuk pengukuran yang berguna
namun tidak sempurna
c. Gunakan pengukuran- pengukuran yang lebih terfokus ketika anda ingin
menilai kemampuan spesifik
d. Carilah perilaku-perilaku yang memperlihatkan talenta yang luar biasa dalam
konteks budaya siswa.
e. Ingatlah bahwa terdapat banyak faktor yang juga mempengaruhi prestasi
siswa di kelas.

B. Gaya Kognitif dan Disposisi


Para siswa yang memiliki inteligensi yang sama seringkali menangani tugas-tugas
dan memikirkan topic-topik yang diberikan di kelas dengan cara yang berbeda.
Beberapa diantara perbedaan individual ini menyangkut gaya kognitif, atasnya siswa
tidak perlu memiliki control yang sadar.
Perbedaan individual tersebut juga berkaitan dengan disposisi, dimana siswa
secara sadar dan sengaja mengerahkan segenap usaha untuk menguasai mata
pelajaran di sekolah.
Beberapa gaya kognitif dan disposisi tertentu mempengaruhi bagaimana siswa
belajar dan apa yang dipelajarinya. Sebagai contoh, setidaknya terdapat dua dimensi
gaya kognitif yang agaknya memiliki dampak yaitu :

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 7
a. Pemrosesan analitik versus pemrosesan holistic
Beberapa siswa cenderung memilah stimulus- stimulus dan tugas-tugas
baru kedalam bagian-bagian (pendekatan analitik), sementara beberapa siswa
lainnya cenderung memandangnya terutama sebagai keseluruhan yang
terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. secara keseluruhan,
pendekatan analitik agaknya lebih bermanfaat dalam kegiatan belajar di
sekolah, meskipun hasil penilitian tidak sepenuhnya mendukung hal tersebut.
b. Belajar secara verbal versus belajar secara visual
Beberapa siswa tampaknya belajar lebih baik apabila informasi disajikan
dalam bentuk kata-kata (pelajar verbal), sementara beberapa siswa lain
agaknya belajar lebih baik apabila informasinya disajikan dalam bentuk
gambar ( pelajar visual). Dalam hal ini tidak ada yang baik dan yang buruk.
Melainkan, keberhasilan belajar tergantung modalitas mana yang lebih banyak
digunakan dalam aktivitas dikelas dan dalam materi instruksional. Salah satu
cara yang mudah untuk mengakomodasi kedua gaya belajar ini adalah dengan
menggunakan baik materi verbal maupun materi visual untuk menyajikan
gagasan-gagasan yang penting.

Meskipun para psikolog seringkali enggan menunjukkan bahwa beberapa gaya


kognitif lebih adaptif dibandingkan gaya-gaya lainnya, terdapat jenis-jenis disposisi-
disposisi tertentu yang jelas bermanfaat dikelas. Berikut ini adalah disposisi yang
produktif yang telah diidentifikasi oleh para peneliti :

1) Mencari stimulasi ( stimulation seeking), memiliki keinginan yang sangat


besar untuk berinteraksi dengan lingkungan fisik dan lingkungan
sosialnya.
2) Kebutuhan akan tantangan (need for cognition), selalu mencari dan terlibat
dalam tugas-tugas kognitif yang menantang.
3) Berpikir kritis (critical thinking), secara konsisten mengevaluasi informasi
atau argument menurut ketepatan, logika, alih-alih menerimanya begitu
saja

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 8
4) Berpikiran terbuka ( open mindedness), bersedia mempertimbangkan
berbagai perspektif alternative dan sumber-sumber bukti yang banyak
serta tidak terburu-buru membuat kesimpulan.

C. Mendidik Siswa Berkebutuhan Khusus di Sekolah Umum


Sekolah-sekolah umum setempat harus seoptimal mungkin memberikan
pendidikan kepada siswa-siswa berkebutuhan khusus dalam kelas reguler di sekolah
setempat, termasuk mereka yang mengalami hambatan(disabilities) yang parah dan
beragam.
Pada tahun 1975, Kongres U.S. mengesahkan Public Law 94-142, yang sekarang
dikenal sebagai Individual with Disabilities Education Act (IDEA). IDEA telah
menjamin beberapa hak bagi siswa yang mengalami hambatan sebagai berikut :
a. Bebas memperoleh pendidikan yang sesuai
b. Menjalani evaluasi yang fair dan tidak diskriminatif
c. Memperoleh pendidikan dalam suasana yang tidak mengekang
d. Memperhatikan kekhususan setiap individu program pendidikan
e. Menghargai hak asasi individu
perkembangan kognitif yang tinggisebagai berada dalam suatu
kontinumkemampuan

D. Siswa yang Mengalami Hambatan Kognitif atau Akademik yang Spesifik


Beberapa sisiwa berkebutuhan khusus bisa saja tidak dilihat tanda hambatan fisik
namun mungkin mengalami hambatan kognitif yang mengganggu kemampuan
mereka mempelajari materi pelajaran atau mengerjakan tugas tertentu dikelas. Siswa
semacam itu mencakup mereka yang mengalami kesulitan belajar, attetion-deficit
hyperaktivity disorder (ADHD), serta gangguan bicara dan komunikasi.

D.1. Kesulitan belajar


Siswa yang mengalami kesulitan belajar merupakan suatu kategori yang
paling banyak dialamisiswa. Kriteria berikut ini biasanya digunakan untuk
mengidentifikasi siswa semacam itu:

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 9
1) Siswa mengalami hambatan yang signifikan dalam satu atau lebih
proses kognitif tertentu.
2) Hambatan kognitif tidak dapat diatribusikan ke hambatan lain, seperti
keterbelakangan mental, gangguan emosi atau perilaku, gangguan
visual, atau kehilangan pendengaran.
3) Hambatan kognitif dapat mengganggu prestasi akademik, oleh karena
itu sampai pada taraf tertentu siswa perlu mendapatkan layanan
pendidikan khusus.

Karakteristik umum diantara siswa yang mengalami kesulitan belajar


juga terdapat lebih banyak perbedaan satu sama lain dibandingkan
kesamaan.mereka biasanya memiliki kekuatan tapi mungkin mengalami
tantangan sebagai berikut:

1. Kesulitan mempertahankan atensi ketika menghadapi distraksi


2. Keterampilan membaca yang buruk
3. Strategi belajar dan memori yang tidak efektif
4. Kesulitan menyelesaikan tugas yang melibatkan penalaran abstrak
5. Kurangnya pemahaman akan diri dan memiliki motivasi yang
rendah
6. Keterampilan motorik yang buruk
7. Keterampilan sosial yang buruk

Mengadaptasi instruksi bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar


harus disesuaikan dengan kelebihan dan kelemahan spesifik mereka.
Meskipun demikian, beberapa strategi seharusnya berguna:

1) Minimalkan stimulus yang potensial mengganggu konsentrasi mereka


2) Gunakan berbagai modalitas untuk menyajikan informasi
3) Analisislah kesalahan siswa menangkap petunjuk mengenai cara
memproses berbagai kesulitan
4) Ajarkan keterampilan dan strategi belajar
5) Sediakan alat bantu belajar

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 10
D.2. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Hampir semua siswa pernah bersikap tidak perhatian, hiperaktif, dan
implusi. Namun mereka yang mengalami Attention-Deficit Hyperactivity
Disorder biasanya memperlihatkan kekurangan luar biasa dalam area ini,
sebagaimana tercermin:
1) Tidak perhatian (inattention) siswa mengalami kesulitan memusatkan dan
mempertahankan perhatian terhadap tugas yang diberikan.
2) Hiperaktif (hyperactivity) siswa yang memiliki energi yang besar sekali.
3) Implusif (implusivity) siswa yang mengalami kesulitan mencegah perilaku
yang tidak sesuai.

Karakteristik umum selain sikap tidak perhatian, hiperaktif, dan


implusif, siswa yang diidentifikasi mengalami ADHD juga memperlihatkan
karakteristik berikut ini:

a) Imajinasi dan kreativitas yang luar biasa


b) Kesulitan dalam pemrosesan kognitif dan prestasi sekolah yang buruk
c) Masalah perilaku dikelas
d) Kesulitan menafsirkan dan menganalisis berbagai situasi sosial
e) Memperlihatkan reaksi emosional yang lebih besar dalam interaksi dengan
teman sebaya
f) Jarang sekali menjalin hubungan pertemanan
g) Memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengomsumsi tembakau dan
alkohol di masa remaja

Mengadaptasi instruksi para peneliti dan praktisi menawarkan


beberapa saran untuk membantu siswa yang mengalami ADHD:

1) Modifikasikanlah jadwal siswa dan lingkungan kerja.


2) Ajarkan strategi mempertahankan atensi.
3) Berikan wadah bagi mereka untuk menyalurkan energinya yang
berlebihan.
4) Bantulah bicara dan komunikasi

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 11
D.3. Gangguan Bicara dan Komunikasi

Gangguan dalam bahasa lisan dan pemahaman bacaan yang secara


signifikan mengganggu performa siswa dikelas. Contohnya :
1) Masalah artikulasi yang persistem
2) Gagap
3) Pola sintaksis yang abnormal
4) Kesulitan memahami pembicaraan orang lain

Karakteristik umum yang kadangkala, meskipun tidak selalu, terlihat di


antara siswa yang mengalami kesulitan bicara dan komunikasi:

1) Enggan untuk berbicara


2) Malu ketika berbicara
3) Mengalami kesulitan membaca dan menulis

Mengadaptasi instruksi biasanya seorang spesialis terlatih akan


membantu mereka memperbaiki atau mengatasi gangguan bicara dan
komunikasinya. Meskipun demikian, guru pendidikan umum juga dapat turut
membantu melalui beberapa cara sebagai berikut:

1) Doronglah komunikasi lisan yang teratur


2) Jadilah pendengar yang sabar
3) Mintalah penjelasan ulang ketika suatu pesan yang mereka sampaikan
tidak jelas

D.4. Rekomendasi umum


Selain strategi yang dideskripsikan di bagian sebelumnya, terdapat
beberapa rekomendasi umum yang dapat diterapkan ke banyak siswa yang
mengalami kesulitan kognitif dan akademik yang spesifik:
a) Berilah dorongan agar berhasil menyelesaikan tugas akademik
b) Pertimbangkan tingkat keterampilan mereka
c) Deskripsikan secara jelas harapan mengenai performa akademik
d) Ambillah langkah untuk meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 12
E. Siswa yang Mengalami masalah sosial dan perilaku
Banyak siswa pernah mengalami mesalah sosial, emosi, atau perilaku yang tidak
begitu parah disuatu masa dalam hidupnya, dan khususnya ketika sedang dilanda stres
atas perubahan hidup yang besar dan tidak biasa.
Meskipun demikian, beebrapa siswa memperlihatkan pola perilaku bermasalah
yang konsisten mengganggu kegiatan belajar dan performa mereka kendati guru dan
lingkungan kelasnya kondusif. Dalam pembahasan ini, kami akan meninjau dua
kelompok siswa yang termasuk dalam kategori ini. Mereka yang mengalami masalah
emosi dan perilaku serta mereka yang tergolong dalam gangguan spektrum autisme.

E.1. Gangguan Emosi dan Perilaku


Siswa yang mengalami gangguan emosi dan perilaku termasuk dalam
kategori siswa berkebutuhan khusus dan karenanya berhak memperoleh layanan
pendidikan khusus ketika masalah mereka memiliki pengaruh negatif yang
substansial terhadap kegiatan belajar di kelas. Gangguan emosial dan perilaku
biasanya dapat di golongkan menjadi dua kategori:
a) Perilaku ke luar (Externalizing behaviors) memiliki pengaruh langsung
maupun tidak langsung terhadap orang lain.
b) Perilaku ke dalam (internalizing behaviors) terutama mempengaruhi siswa
yang mengalami gangguan ini.
Karakteristik umum siswa yang mengalami gangguan emosi dan perilaku
cukup berbeda dalam hal kemampuan dan kepribadiannya banyak dari antara
mereka memperlihatkan karakteristik yang sama sebagai berikut:
a) Rasa harga diri yang rendah
b) Keterampilan sosial yang buruk
c) Kesulitan mencapai dan membina relasi interpersonal secara memuaskan
d) Sering tidak masuk sekolah
e) Memperlihatkan penurunan prestasi akademik seiring meninkatnya usia
f) Kurang menyadari parahnya masalah yang mereka hadapi

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 13
Mengadaptasi instruksi intervensi yang efektif harus disesuaikan dengan
kebutuhan tiap siswa yang unik, tetapi beberapa strategi dapat membawa manfaat
bagi banyak siswa seperti ini:

a) Perlihatkan minat terhadap kebaikan dan kemajuan siswa.


b) Buatlah aktivitas kelas yang relevan dengan minat siswa.
c) Berikan kepada siswa pengertian bahwa mereka memiliki kendali atas situasi
yang mereka alami.
d) Waspadailah tanda kemungkinan siswa berencana melakukan bunuh diri.

E.2. Gangguan Spektrum Autisme


Mayoritas gangguan spektrum autisme mungkin disebabkan oleh
abnormal di otak. Karkteristik umum dari gangguan ini ditandai oleh:
1) Gangguan dalam kognisi sosial
2) Keterampilan sosial
3) Interaksi sosial

Karakteristik umum selain sifat yang telah dideskripsikan, siswa yang


termasuk dalam gangguan spektrum autisme memiliki karakteristik sebagai
berikut:

1) Kesadaran yang luar biasa akan detil pada sebuah objek atau tampilan visual
2) Keterampilan berfikir visual spesial yang kuat
3) Wawasan yang lemah terhadap pikiran dan perasaannya sendiri
4) Kontak mata yang minim dengan teman sebaya
5) Kurang atau tidak minat sama sekali mencari penghiburan dari orang lain
6) Sikap badan atau gerakan yang abnormal
7) Kebutuhan yang kuat akan lingkungan yang dapat diprediksi

Mengadaptasi intruksi banyak dari strategi dikelas yang dideskripsikan


yang dapat di terapkan ke siswa yang mengalami gangguan spektrum autisme.
Dua strategi tambahan lain yang dapat membantu mereka:

1) Memaksimalkan prediktibilitas dalam penataan kelas dan jadwal mingguan

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 14
2) Gunakan pendekatan visual dalam proses belajar mengajar.

E.3. Rekomendasi Umum


Meskipun penyebab gangguan emosi dan perilaku dan ganggaun
spektrum autisme biasanya sangat berbeda, siswa yang mengalami salah satu dari
kedua bentuk gangguan ini dapat memperoleh manfaat dari berbagai intervensi
kelas yang sama. Para peneliti dan pendidik berpengalaman juga menawarkan
saran berikut ini:
1) Tekanlah berulangkali pentingnya berprilaku sopan di kelas.
2) Kembangkan kognisi sosial dan keterampilan interpersonal yang efektif.
3) Tetap gigih, sabar dan arahkan usaha anda pada perbaikan yang perlahan alih
kesuksesan dalam sekejab.

F. Siswa yang mengalami keterlambatan umum dalam fungsi kognitif dan sosial
Para pendidik kadangkala menggunakan istilah pembelajaran yang lambat untuk
mendeskripsikan siswa yang memperoleh skor inteligensi di sekitar 70 dan terlihat
mengalami kesulitan dalam sebagian besar atau bahkan semua mata pelajaran. Siswa
yang secara khusus mengalami kesulitan yang berat dapat diidentifikasi mengidap
keterbelakangan mental.

F.1 Keterbelakangan mental


Siswa yang mengalami keterbelakangan mental memperlihatkan
keterlambatan yang signifikan di sebagian besar aspek perkembangan kognitif
dan sosialnya. Secara lebih khusus, mereka memperlihatkan karakteristik berikut
ini:
1) Inteligensi umum berada di bawah rata-rata
2) Perilaku adaptif lemah
Keterbelakangan mental seringkali disebabkan oleh kondisi genetik.
sebagai contoh, sebagian besar anak-anak yang mengalami down syndrome
mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitif. dalam kasus lain
penyebabnya yaitu karena faktor biologis tetapi tidak diturunkan, seperti

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 15
kekurangan gizi atau konsumsi alkohol secara berlebihan kehamilan atau
kekurangan oksigen dalam proses kelahiran yang sulit.

F.2. Karakteristik umum


Beberapa siswa yang mengalami keterlambatan mental mengikuti kelas
pendidikan baik separuh maupun sepenuh hari sekolah. Siswa seperti itu
cenderung memperlihatkan banyak atau semua dari karakteristik berikut ini :
1) Hasrat yang tulus untuk menjadi bagian dari sekolah dan merasa cocok berada
di sekolah
2) Kurangnya pengetahuan umum mengenai dunia
3) Keterampilan membaca dan berbahasa yang buruk
4) Kurang atau bahkan sama sekali tidak memiliki strategi belajar dan strategi
memori yang efektif
5) Kesulitan melengkapi detil-detil ketika instruksi yang diberikan tidak lengkap
6) Kemampuan motorik yang rendah

F.3. Mengadaptasi instruksi


Strategi tambahan yang berguna untuk siswa-siswa yang mengalami
keterbelakangan mental yaitu :
1) Berikan instruksi secara perlahan- lahan untuk memastikan mereka dapat
mengikuti materi yang disampaikan.
2) jelaskan tugas-tugas secara konkret, spesifik, dan lengkap.
3) Gunakam scaffolding yang memadai untuk mendorong perhatian dan proses-
proses kognitif efektif yang lain
4) Masukkan keterampilan kejuruan dan keterampilan hidup yang umumke
dalam kurikulum

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 16
G. Siswa yang Mengalami Masalah Fisik dan Sensori
Beberapa siswa berkebutuhan khusus memiliki masalah fisik yang jelasyang
disebabkan oleh kondisi fisiologis yang dapat dideteksi secara medis. Hal ini meliputi
gangguan fisik dan kesehatan, gangguan visual, hilangnya pendengaran, dan berbagai
hambatan lainnya yang parah.
G.1. Gangguan Fisik dan Kesehatan
Kondisi fisik dan medis yang menggangu performa di sekolah sedemikian
rupa sehingga dibutuhkan cara mengajar, bahan ajar, perlengakapan, atau fasilitas
tertentu yang khusus.
i. Karakteristik Umum
1) Kemampuanbelajar yang normal
2) Stamina rendah dan mudah lelah
3) Peluang yang lebih kecil untuk mengalami dan berinteraksi dengan dunia
luar yang berhubungan dengan pembelajaran.
4) Rasa harga diri rendah, rasa tidak aman, atau terlalu bergantung, dengan
bergantung sebagian pada bagaimana orang tua dan orang lain merespon
masalah yang mereka alami.
ii. Mengadaptasi Instruksi
1) Cobalah peka terhadap kebutuhan khusus dan hambatan yang
mereka alami, dan akomodasi kepentingan mereka secara fleksibel.
2) Perlu tahu apa yang harus dilakukan dalam kondisi darurat
3) Apabila para siswa dan orang tua mengizikan, didiklah teman-
teman kelasnya hakikat kondisi ketidakmampuan yang dialami
oleh beberapa siswa tersebut.
G.2. Gangguan Visual
Siswa yang mengalami gangguan visual mengalami malfungsi dimata atau
saraf optik yang menghambat mereka melihat secara normal meskipun
mengenakan kaca mata.
i. Karakteristik Umum
1) Indera lainnya berfungsi normal (pendengaran, sentuhan, dan
sebagainya)

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 17
2) Secara umum memiliki kemampuan belajar yang sama dengan
siswa normal
3) Menurunnya kapasitas untuk meniru perilaku orang lain
4) Tidak mampu mengamati bahasa tubuh orang lain dan tanda-tanda
nonverbal, yang membuat mereka terkadang keliru memahami
pesan-pesan orang lain.
ii. Mengadaptasi Instruksi
1) Memperkenalkan siswa tata ruang dan tata letak ruang kelas
2) Gunakan materi-materi visual dengan warna yang kontras
3) Andalkan modalitas- modalitas lain
4) Berikan waktu ekstra untuk belajar dan memperlihatkan performa

G.3. Kehilangan Pendengaran


Siswa yang kehilanagan pendengaran menalami malfungsi telinga atau saraf-
saraf terkait yang mengganggu persepsi terhadap suara dalam rentang frekuensi
bicara orang normal.
i. KarakteristikUmum
1) Keterlambatan dalam perkembangan bahasa karena kurangnya
exposure (paparan) terhadap bahasa lisan, khususnya apabila
gangguan dialami saat lahir atau terjadi diawal-awal kehidupan
2) Mahir dalam bahasa sandi, seperti American Sign Language (ASL)
atau pengejaan dengan jari
3) Memiliki kemampuan untuk membaca gerak bibir
4) Bahasa lisan tidak berkembang sebaik teman-teman sekelas,
kualitas bicaranya agak monoton atau kaku
5) Keterampilan membaca kurang berkembang, khususnya apabila
perkembangan bahasa terhambat

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 18
ii. Mengadaptasi Instruksi
1) Meminimalkan kebisingan yang tidak perlu
2) Lengkapi presentasi auditori dengan informasi visual dan aktivitas
konkret
3) Berkomunikasilah dengan cara-cara sedemikian rupa sehingga
membantu siswa mendengar dan mampu membaca gerak bibir
4) Ajarkan American Sign Language dan pengejaam dengan jari ke
siswa lainnya.

G.4. Hambatan yang Parah dan Majemuk


Siswa yang mengalami hambatan yang parah dan majemuk mengalami dua
atau lebih hambatan sebagaimana telah dideskripsikan sebelumnya dan perlu
melakukan adaptasi yang ekstra keras sera layanan yang sangat khusus agar dapat
mengikuti suatu program pendidikan.
i. Karakteristik Umum
1) Tingkat fungsi intelektual bervariasi
2) Kesadaran yang terbatas akan stimuli dan peristiwa-peristiwa
disekitarnya, periode kewaspadaan dan sikap responsif pada
beberapa siswa
3) Keterampilan berkomunikasi yang terbatas ( seringkali melibatkan
bahasa tubuh atau cara-cara nonverbal)
4) Perilaku adaptif terbatas (misalnya: keterampilan sosialdan
keterampilan merawat diri)
5) Kerusakan sensoris yang ringan atau berat
6) Keterlambatan yang signifikan dalam perkembangang motorik
7) Kebutuhan medis yang besar ( misalnya: pengobatan,pemasangan
pipa ke pembuluh darah)
ii. Mengadaptasi Konstruksi
1) Ajarkan perilaku dan keterampilan yang sangat penting bagi
kebaikan umum siswa dan keberhasilannya

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 19
2) Pasangkan siswa tersebut dengan siswa yang mengalami
hambatan/ ketidakmampuan ataupun dengan siswa normal dalam
aktivitas yang sama
3) Pertahankan cara berpikir bahwa semua siswa dapat dan
seharusnya berpartisipasi dalam aktivitas di kelas semaksimal
mungkin
iii. Rekomendasi Umum
1) Pastikan bahwa semua siswa memiliki akses untuk memperoleh
sumber daya dan kesempatan pendidikan yang penting
2) Berikan bantuan hanya ketika siswa betul-betul membutuhkannya
3) Gunaka teknologi untuk memfasilitasi kegiatan belajar dan
performa

H. Siswa dengan Perkembangan Kognitif yang Tinggi


Banyak siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi, entah dibidang tertentu
ataupun diberbagai bidang, yang membutuhkan atensi atau dorongan kita. Anda
sebaiknya menganggap siswa dengan alih-alih sebagai kategori yang berbeda, dan
dalam kenyataan kita ingin menumbuhkembnagkan (nurture) bakat dan talenta khusus
yang dibawa semua siswa ke dalam kelas.
H.1. Keberbakatan
Secara umum, keberbakatan didefinisikan sebagai kemampuan atau bakat yang
sangat tinggi disatu atau lebih bidang, misalnya dalam matematika, sains dan
sedemikian rupa sehingga siswa membutuhkan layanan pendidikan khusus agar
dapat mengembangakan potensinya itu sepenuhnya.
H.2. Karakteristik Umum
1) Perbendaharaan kata yang kaya, kemampuan berbahasa yang tinggi, dan
keterampilan membaca diatas rata-rata
2) Pengetahuan umumyang kaya mengenai dunia
3) Kemampuan belajar lebih cepat, mudah, dan mandiri dibandingkan teman-
teman sebayanya
4) Proses kognitif dan strategi belajar yang lebih canggih dan efisien

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 20
5) Fleksibilitas yang lebih besar dalam hal gagasan dan pendekatan terhadap
tugas
H.3.Mengadaptasi Instruksi
1) Berikan tugas-tugas yang terindivualisasi (tugas-tugas yang disesuikan
dengan kemampuan siswa
2) Bentuklah kelompok belajar yang berisikan siswa-siswa yang memiliki
minat dan kemampuan yang serupa
3) Ajarkan keterampilan kognitif yang kompleks dalam konteks mata
pelajaran tertentu
4) Berikan kesempatan untuk melakukan kajian secara mandiri tentang suatu
topik
5) Dorong siswa untuk menetapkan sasaran yang tinggi
6) Carilah sumber daya dari luar

I. Mempertimbangkan Keberagaman Ketika Mengidentifikasi dan Menangani


Kebutuhan- kebutuhan Khusus
Sejumlah besar siswa yang diindentifikasi sebagai siswa yang mengalami
hambatan khusus (disability) berasal dari kelompok minoritas- etnis dan keluarga
berpenghasilan rendah.
Representasi berbagai kelompok yang tidak seimbang dalam berbagai kategori
hambatan khusus menimbulkan dilema bagi para pendidik. Di satu sisi, kita tidak
ingin menggunakan kategori seperti keterbelakangan mental atau gangguan emosi dan
perilaku untuk siswa-siswa yang perilaku dan performanya di kelas mungkin terutama
disebabkan kondisi lingkungan tempat tinggal yang tidak mendukung. Di sisi lain
kitajuga tidak ingin siswa ini tidak memperoleh layanan pendidikan khusus yang
mungkin dapat sangat membantu mereka agar dapat sangat membantu mereka agar
dapat belajar dan berhasil lebih baik dalam jangka panjang.
Dalam situasi semacam itu, kita perlu melakukan evalusi yang fair dan tidak
diskriminatif terhadap kebutuhan-kebutuhan siswa, dan bila sudah dikategorikan
sebagai siswa berkebutuhan khusus. Seharusnya kita menganggap kategori kebutuhan

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 21
khusus ini sebagai klasifikasi yang bersifat temporeryang mungkin tidak dapat lagi
diterapkan ketika performa siswa di kelas membaik.
Demi perkembangan masyarakat kita dalam jangka panjang, adalah suatu
keharusan bahwa kita membantu mengembangkan banyak siswa berbakat dan
bertalenta yang kita temukan di semua budaya dan kelompok.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setiap individu diciptakan berbeda-beda oleh Tuhan, dan setiap makhluk-
Nya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Anak yang
membutuhkan pendidikan khusus tidak selamanya karna ia memiliki kekurangan
dalam dirinya, anggaplah bahwa kekurangan itu merupakan suatu kelebihan dari
anak tersebut. Kita sebagai calon pendidik haruslah memiliki strategi dan cara-
cara yang khusus untuk mendidik anak yang memiliki kelebihan tersebut.
Dalam pembahasan mengenai intelegensi, gaya kognitif, disposisi, dan
kebutuhan khusus, kita telah menemukan bawa siswa-siswa dalamsatu kelas bisa
berbeda satu sama lain. Tugas kita sebagai pendidik adalah mampu mengatasi dan
menyikapi perbedaan itu, serta menguasai strategi-strategi dalam melakukan
proses perndidikan pada anak berkebutuhan khusus.

B. Saran
Untuk kedepannya semoga strategi-strategi dalam pendidik anak-anak
berkebutuhan khusus yang telah ada ini dapat dikembangkan lebih baik agar
anak-anak yang memiliki kelebihan tersebut memperoleh pendidikan yang hampir
sama seperti anak normal lainnya sehingga mereka tidak merasa dibeda-bedakan.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 23
DAFTAR PUSTAKA

Ormrod, Jeanne Ellis.2009.Psikologi Pendidikan.Jakarta:PT Gelora Aksara Pratama.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 24
LAMPIRAN

PSIKOLOGI PENDIDIKAN | 25