Anda di halaman 1dari 13

Tugas Ujian Tengah Semester

Teknologi Minyak dan Lemak

Oleh:
Bryan (1610511060)

Ilmu dan Teknologi Pangan


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Udayana
2018
Soal Ujian Tengah Semester
1.Cari Kliping Koran/Majalah dan lain-lainnya tentang masalah Industri Minyak
Lemak. Boleh di print/sobek majalah!

2.Mencari Negara atau Provinsi di Indonesia Produsen Potensial Minyak Lemak


Pangan,beserta Produksinya 3 Tahun Terakhir. Beserta Deskripsinya!

3.3 Sumber minyak/lemak potensial (minyak yang memiliki keunggulan) dan


rendemennya beserta komposisi asam lemaknya.
Waspadai Lemak Trans
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Waspadai Lemak Trans",
https://nasional.kompas.com/read/2008/09/19/17095893/waspadai.lemak.trans.

Biskuit dan camilan ringan yang digemari anak-anak dan dewasa kebanyakan ternyata
mengandung lemak trans. BELUM lama ini Badan Pengawasan Makanan dan Obat Amerika
Serikat (US-FDA) dan British Nutrition Foundation (BNF) mempersoalkan kembali soal
lemak trans. Berbagai hasil studi menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi lemak
trans dengan peningkatan kolesterol darah.
Lemak trans diduga menjadi penyebab utama obesitas dan jantung koroner, yang kini
banyak diderita oleh golongan usia muda, antara 30-40 tahun. Karena efek negatif yang
merugikan bagi kesehatan itulah US-FDA mengharuskan produsen ma-kanan di sana
mencantumkan label lemak trans dalam produk pangannya. Sebetulnya, apa sih lemak trans
tersebut? Berikut tanya jawab dengan Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, dari Departemen Gizi
Masyarakat, Institut Pertanian Bogor dan Dr. Nuri Andarwulan dari Departemen Ilmu dan
Teknologi Pangan, Seafast (Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology)
Center IPB:
Apa itu lemak trans, apakah sama dengan lemak biasa? Setiap produk pangan pasti
memiliki kandungan lemak. Selain lemak dari bahan bakunya sendiri (misal olahan daging)
juga dari ingredient lain, seperti minyak ataupun lemak semipadat (margarin) yang digunakan
untuk menggoreng. Lemak yang dikandung minyak/margarin merupakan trigliserida yang
tersusun atas lemak jenuh (saturated fat) dan tak jenuh. Lemak trans lebih sering dijumpai
dalam margarin. Lemak trans merupakan minyak yang diolah melalui proses hidrogenasi
parsial (yakni dengan menambahkan hidrogen ke dalamnya). Pengolahan ini dilakukan untuk
meningkatkan stabilitas oksidatif agar tak mudah mengalami proses oksidasi. Sebetulnya
proses hidrogenasi parsial dilakukan industri pangan untuk membuat margarin. Secara
natural, lemak trans juga terbentuk dalam rumen/lambung ternak besar seperti sapi. Jadi,
produk-produk seperti mentega atau susu mengandung lemak trans dalam jumlah 2-5%.
Apa semua minyak mengandung lemak trans? Minyak-minyak yang berasal dari negara
subtropis seperti minyak kedelai, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, dan minyak
zaitun memiliki kandungan lemak jenuh yang sedikit. Sementara kandungan lemak tak
jenuhnya tinggi dan berada dalam konfigurasi cis. Artinya, susunan kimianya sejajar jadi
tidak berbahaya bagi kesehatan. Nah, pada proses hidrogenasi ikatan rangkap minyak tadi
mengalami isomerisasi dari konfigurasi cis menjadi trans. Ini membuat susunan kimiawinya
yang sejajar menjadi berseberangan dan berbahaya bagi kesehatan. Salah satu minyak yang
mengandung lemak trans adalah beberapa produk margarin (yang terbuat dari minyak
kedelai). Sementara margarin made in Indonesia yang terbuat dari minyak sawit konon tidak
melalui proses hidrogenasi parsial namun proses emulsi dari hasil blending (campuran)
minyak sehingga diperoleh konsistensi seperti yang diinginkan dan tidak memunculkan
lemak trans. Apakah lemak trans banyak beredar di pasaran? Di Indonesia, orang dapat
menemukan lemak trans di pasaran dalam bentuk mentega putih atau yang biasa disebut
shortening. Jenis produknya ini bervariasi dari tekstur yang sangat lunak sampai yang sangat
keras. Mentega putih biasanya digunakan oleh industri pangan, terutama pada pembuatan
biskuit. Variasi dalam ingridientnya antara lain shortening, coco butter alternatif dan lain-lain.
Keistimewaan lemak trans adalah bisa membuat makanan bertekstur enak di mulut atau
mudah leleh, terasa krispi atau renyah, serta rasa dan aromanya gurih dan sedap. Anak-anak
umumnya menyukai camilan ini.
Bagaimana dengan minyak goreng yang biasa kita temui di pasar? Minyak goreng
yang kuning jernih yang biasanya beredar di pasaran (dan umum digunakan untuk
menggoreng) umumnya berasal dari minyak kelapa sawit (palm oil) dan pengolahannya tidak
melalui proses hidrogenasi. Jadi ibu-ibu tak perlu khawatir dengan minyak goreng tersebut
karena tidak mengandung lemak trans. Namun perhatikan minyak-minyak dari kedelai,
jagung dan bunga matahari khusus untuk menggoreng (frying oil bukan yang salad oil)
karena umumnya proses pengolahannya melalui hidrogenasi parsial sehingga mengandung
lemak trans. Sebaliknya minyak-minyak yang diperuntukkan sebagai salad oil biasanya aman
dari lemak trans.
Bagaimana cara konsumen mengetahui bahwa suatu produk mengandung lemak trans?
Konsumen tidak pernah tahu apakah suatu makanan kemasan mengandung lemak trans atau
tidak. Karena ciri lemak trans pada kandungan bahan pangan yang dikonsumsi tidak bisa
terdeteksi dengan indra. Kita hanya dapat mengenali lewat nama-nama samaran dalam
komposisi ingredient seperti partially hydrogenated vegetables oil (minyak sayur yang
dihidrogenasi), shortening, dan lemak terhidrogenasi. Selama tidak ada peraturan tentang
kewajiban mencantumkan komposisi lemak trans maka kita tidak akan mengetahuinya. Oleh
sebab itu perlu ada ketegasan peraturan dari pemerintah tentang perlunya label gizi yang
menunjukkan ada tidaknya kandungan lemak trans dalam produk kemasan makanan
Mengapa lemak trans berbahaya? Lemak trans dianggap lebih berbahaya daripada
lemak jenuh sebab dicurigai berperan cukup penting dalam meningkatkan kolesterol darah
secara progresif. Studi-studi tahun 1980-an menunjukkan orang Skandinavia yang banyak
mengonsumsi lemak jenuh tinggi ternyata memiliki insiden penyakit jantung koroner yang
lebih rendah dibandingkan orang-orang Amerika yang meski mengonsumsi lemak jenuh lebih
rendah, namun tingkat konsumsi lemak trans-nya tinggi. Data dari Institute of Shortening and
Edible Oils (ISEO) menyebutkan konsumsi lemak trans yang tinggi akan meningkatkan
kolesterol LDL (jahat) dan menurunkan kolesterol HDL (baik), tetapi asal konsumsinya tidak
berlebihan maka tidak menimbulkan efek kesehatan yang negatif. ISEO menganggap
kekhawatiran terhadap lemak trans rasanya terlalu berlebihan, apalagi melihat kenyataan
bahwa konsumsi lemak trans hanya memberikan kontribusi 2-4% dari total konsumsi lemak.
Bandingkan dengan kontribusi lemak jenuh yang mencapai 12-14%. Namun perlu diketahui
konsumsi harian lemak trans 1-3% sudah bisa memunculkan serangan jantung bagi dewasa.
Apalagi buat anak-anak. Jadi, perlu diperhitungkan dan dilihat berapa besar ingredient lemak
trans yang dicantumkan dalam suatu produk pangan. Fakta lain, lemak trans mengganggu
konversi asam lemak esensial linoleat menjadi arakidonat dalam sintesa lemak tubuh. Secara
keseluruhan, hal ini akan mengganggu sistem reaksi enzimatik dalam metabolisme lemak.
Terganggunya sistem enzimatik akan berpengaruh juga dalam perkembangan sistem saraf.
Sebab, sel saraf sangat membutuhkan jenis asam lemak esensial ini. Oleh karena itu
kandungan lemak trans dalam produk pangan perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari
informasi yang harus disampaikan kepada konsumen melalui label kemasan.
Jadi apa yang mesti dilakukan? Mengingat lemak trans maupun lemak jenuh sering
diasosiasikan dengan munculnya penyakit kolesterol tinggi, maka industri di AS secara
bertahap telah mengurangi kandungan lemak trans khususnya dalam produk-produk pangan
olahan. Produk pangan stick/spreadable (olesan) semisal margarin yang pada tahun 1989
mengandung 26,9% lemak trans (rata-rata), telah turun kandungannya menjadi 16,9% pada
tahun 1999. Mengurangi kandungan lemak trans dalam produk pangan dapat dilakukan
dengan menggunakan teknologi reformulasi hidrogenasi. Jika semula digunakan multiple
basestock system dengan tiga kali hidrogenasi, maka kini industri hanya menggunakan
hidrogenasi tunggal. Klasifikasi pangan yang mengandung lemak trans adalah sebagai
berikut: lemak trans rendah bila kandungannya kurang atau sama dengan 5%, dan zero-trans
bila kandungannya sangat sedikit (1-2%). Dari produk margarin yang dipasarkan di 11 negara
di Eropa dan AS diketahui bahwa berkurangnya kandungan lemak trans biasanya disertai
dengan meningkatnya lemak jenuh. Barangkali inilah trade-off yang harus diterima oleh
konsumen, kita belum dapat memperoleh produk margarin yang rendah lemak trans dan
sekaligus rendah lemak jenuh. Di Indonesia sendiri, kini beberapa industri sudah mulai
menghindari proses hidrogenasi parsial yang dapat memunculkan lemak trans. Salah satu
caranya, pengolahan minyak goreng dari kelapa sawit (palm oil) atau minyak kelapa (coconut
oil) dilakukan dengan cara difraksinasi (dipecahkan atau diturunkan) dengan suhu maupun
penyaringan, sehingga dihasilkan produk-produk bebas lemak trans.
Berikut jenis-jenis makanan yang mengandung lemak trans: Makanan cepat saji dan
makanan beku: * French Fries, frozen * Breaded fish burger * Breaded chicken nuggets *
Enchilada * Burrito * Pizza Snack kemasan * Tortilla (corn) chips * Popcorn, microwave *
Granola bar * Breakfast bar Produk bakery * Pie * Danish or sweet roll * Donat * Cookies *
Cake * Brownies * Muffin Margarin * Vegetable shortening * Hard (stick) * Soft (tub) Lain-
lain * Pancakes * Crackers * Tortillas * Chocolate bar * Peanut butter

* Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Waspadai Lemak Trans",
https://nasional.kompas.com/read/2008/09/19/17095893/waspadai.lemak.trans.
Produksi TBS Sumut 18,5 Juta Ton
MedanBisnis - Medan. Produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit Sumatera Utara
(Sumut) tahun 2016 mencapai 18,5 juta ton dengan luas 1,2 juta hektare. Dari total produksi
TBS tersebut, minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang dihasilkan sebanyak 4,2
juta ton.Kepala Dinas Perkebunan Sumut Herawati mengatakan, Sumut masih berada di
posisi kedua sebagai provinsi penghasil kelapa sawit di Indonesia setelah Riau.
"Potensi Sumut memang cukup besar dalam perkebunan kelapa sawit. Tapi untuk saat ini,
penambahan lahan perkebunan sawit tidak ada sehingga pengembangannya difokuskan pada
intensifikasi. Termasuk juga salah satunya replanting untuk perkebunan rakyat," katanya, di
Medan, Selasa (19/9).Dikatakannya, Sumut memiliki 14 kabupaten penghasil kelapa sawit di
antaranya Simalungun, Deliserdang, Serdang Bedagai, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara,
Labuhanbatu Selatan, Asahan, dan Padanglawas.

Herawati mengatakan, kelapa sawit memang masih menjadi tanaman kebun yang
sangat menarik di Sumut. Apalagi, pasarnya masih cukup luas sehingga produksi akan
terserap pasar. Sejauh ini, kata dia, permasalahan fenomenal dalam industri sawit nasional
masih soal black campaign. Isu yang diusung mulai dari lingkungan, perambahan hutan,
kesehatan, sampai pada isu-isu sosial.Untuk menghempang kampanye hitam tersebut,
sebenarnya pemerintah sudah menelurkan berbagai solusi. Hanya saja, masih terus terjadi dan
menyerang industri sawit. "Semua pemangku kepentingan harus mencari solusi terbaik untuk
melestarikan minyak sawit sebagai produk premium. Dengan begitu, tidak akan mengganggu
industri sawit kita lagi. Apalagi potensinya sangat besar," katanya.Salah satu "aksi" terbaru
untuk menjaga industri sawit adalah Rencana Aksi Nasional (RAN) Kelapa Sawit
Berkelanjutan yang saat ini sedang digodok. RAN merupakan bentuk komitmen dan
koordinasi di antara pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mempercepat pencapaian
perkebunan kelapa sawit berkelanjutan."Tentu dengan adanya aksi ini, akan ikut mendorong
pengembangan industri sawit di Sumut. Apalagi, sektor perkebunan yang memiliki unggulan
kelapa sawit, masih memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Sumut," kata Herawati.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) DPW Sumut Gus
Dalhari Harahap, potensi Sumut yang sangat besar memang masih belum tergali secara
maksimal. "Kami (petani) juga masih bermasalah dengan produktivitas. Ada gap yang besar
dengan perusahaan perkebunan dan yang dikelola pemerintah. Tapi petani berusaha untuk
mengelola kebunnya dengan lebih baik. Dengan begitu, produksinya akan meningkat dan bisa
berkontribusi pada total produksi TBS Sumut," katanya. (elvidaris simamora)

*Artikel ini telah tayang di medanbisnisdaily.com dengan judul “Produksi TBS Sumut
18.5 Juta Ton”. http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2017/09/20/319373/produksi-
tbs-sumut-185-juta-ton/

Dari artikel ini,dilihat bahwa produksi selama 3 tahun terakhir sangatlah besar. Dari
tahun 2016,produksi tandan buah segar kelapa sawit mencapai 18.5 juta ton yang
menghasilkan 4.2 juta ton minyak kelapa sawit (CPO). Hal tersebut merupakan angka yang
luar biasa dan menjadi sumber daya yang sangat berpotensi di Indonesia bahkan untuk
diekspor bersaing di pasar dunia. Namun diartikel ini juga disebutkan bagaimana banyak
sekali isu yang diusung mulai dari lingkungan, perambahan hutan, kesehatan, sampai pada
isu-isu sosial. Hal ini membuat industri minyak lemak di Indonesia yang sebesar ini menjadi
terhambat perkembangannya. Padahal di Sumatera Utara sendiri,ini menjadi tanaman kebun
yang sangat berpotensi dan memiliki pasar yang luas disana. Petani disana mengatakan bahwa
masih ada “gap” yang besar antara perusahaan perkebunan disana dan perusahaan yang
dikelola oleh pemerintah. Padahal jika pemerintah mendukung petani disana untuk
memperluas pasar ataupun membekali mereka dengan ilmu pengolahan yang lebih baik,ini
akan menguntungkan untuk para petani dan industry minyak lemak di Indonesia. Dari sisi
produksi SDA di Indonesia sendiri akan meningkat dan kesejahteraan petani disana juga
semakin baik. Jadi dari sisi ekonomi,sosial,dan lain-lain akan meningkat tanpa kita sadari.
Maka dari itu,petani dan asosiasi perkumpulan mereka masih mengusahakan ajuan ke
pemerintah untuk menggali lebih dalam potensi-potensi industri Minyak Kelapa Sawit di
Sumatera Utara. Saya juga berharap pemerintah dapat merespon dengan segera agar produksi
minyak kelapa sawit di sana dapat lebih berkembang bahkan dapat bersaing di dunia lebih
baik lagi.
3 Sumber Minyak/Lemak Potensial dan Rendemennya beserta
Komposisi Asam Lemaknya

1.Minyak Kepala (Virgin Coconut Oil)

Minyak Kelapa adalah minyak kelapa yang dibuat dari bahan baku kelapa segar,
diproses dengan pemanasan terkendali atau tanpa pemanasan sama sekali, tanpa bahan kimia
dan RDB. Penyulingan minyak kelapa seperti di atas berakibat kandungan senyawa-senyawa
esensial yang dibutuhkan tubuh tetap utuh. Minyak kelapa murni dengan kandungan utama
asam laurat ini memiliki sifat antibiotik, anti bakteri dan jamur.

Minyak kelapa murni, atau lebih dikenal dengan Virgin Coconut Oil (VCO), adalah
modifikasi proses pembuatan minyak kelapa sehingga dihasilkan produk dengan kadar air dan
kadar asam lemak bebas yang rendah, berwarna bening, berbau harum, serta mempunyai daya
simpan yang cukup lama yaitu lebih dari 12 bulan.

Pembuatan minyak kelapa murni ini memiliki banyak keunggulan, yaitu:

 tidak membutuhkan biaya yang mahal, karena bahan baku mudah didapat dengan
harga yang murah
 pengolahan yang sederhana dan tidak terlalu rumit, serta
 penggunaan energi yang minimal, karena tidak menggunakan bahan bakar, sehingga
 kandungan kimia dan nutrisinya tetap terjaga terutama asam lemak dalam minyak.

Pada percobaan VCO dengan fermentasi ini diperoleh rendemen minyak sebesar 33,2%
dengan warna bening; berat jenis 0,9160 gr/cm3; kekentalan 0,4717 gr/cm.s; bilangan asam
0,472; bilangan penyabunan 214,58; dan bilangan peroksida 1,287 meq/kg.Sedangkan untuk
analisa VCO pasaran diperoleh; berat jenis 0,9160 gr/cm3; kekentalan 0,4106 gr/cm.s;
bilangan asam 1,663; bilangan penyabunan 212,89; dan bilangan peroksida 5,841 meq/kg

Asam lemak yang terkandung dalam VCO tersebut yaitu asam kaproat (0,187%), asam
oktanoat (1,12%), asam siklopropanapentanoat (0,54%), asam laurat (32,73%), asam miristat
(28.55%), asam palmitat (17,16%), asam oleat (14,09%), dan asam stearat (5,68%).
2.Minyak Kedelai

Minyak kedelai adalah minyak nabati yang dihasilkan dari biji kedelai. Minyak kedelai
merupakan salah satu minyak goreng yang paling banyak digunakan. Selain itu, minyak
kedelai juga digunakan sebagai minyak pengering (drying oil), yaitu minyak yang mampu
mengeras seiring waktu selama terpapar dengan udara dan membentuk lapisan kedap air.
Sehingga minyak ini juga digunakan sebagai salah satu bahan baku tinta dan cat lukis.

Untuk menghasilkan minyak kedelai, biji kedelai dihancurkan, diatur kadar airnya,
dipanaskan hingga 88 oC, digiling, dan minyaknya diekstraksi dengan bantuan heksana.
Setelah itu minyak kedelai dimurnikan dengan membuang heksananya lalu diberikan bahan
tambahan sesuai dengan tujuan penggunaannya, terkadang dihidrogenasi. Minyak kedelai
murni maupun terhidrogenasi berada dalam wujud cair pada temperatur ruang. Limbah sisa
pengolahan (tepung kedelai) dijadikan bahan pakan hewan ternak. Hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa rendemen yang dihasilkan dari biji kedelai putih dalam pembuata
minyak kedelai adalah sebesar 9.5%.

Per 100 gram minyak kedelai mengandung lemak jenuh 16 gram, lemak tak jenuh
tunggal 23 gram, dan lemak tak jenuh majemuk 58 gram. Konstituen asam lemak tak tenuh
utama dalam minyak kedelai asam alfa-linoleat 7-10 persen, asam linoleat 51 persen, dan
asam oleat 23 persen. Minyak ini juga mengandung asam lemak jenuh asam stearat 4 persen
dan asam palmitat 10 persen. Asam linoleat begitu mudah teroksidasi sehingga menjadi
kurang nyaman ketika digunakan sebagai bahan memasak, sehingga berbagai perusahaan
bioteknologi mengembangkan kedelai transgenik yang menghasilkan biji dengan kadar asam
linoleat yang rendah. Dahulu, proses hidrogenasi dilakukan untuk menjenuhkan asam
linoleat.

3.Minyak Jagung

Minyak jagung adalah minyak yang diekstraksi atau diperas dari biji jagung, bersifat
setengah kering, berwarna kekuningan dan digunakan untuk membuat sabun, dan pelumas.
Minyak ini mulai mengeluarkan asap pada kisaran suhu 204 °C - 213 °C. Karena tahan dalam
suhu tinggi tanpa mengeluarkan asap, minyak jagung cocok digunakan untuk memasak
banyak jenis makanan. Minyak jagung seringkali digunakan sebagai alternatif pengganti
minyak sawit karena diduga memiliki kandungan asam lemak jenuh yang lebih rendah.
Minyak jagung juga memiliki rasa yang hampir hambar. Minyak jagung diperoleh dari bagian
bakal biji dari butiran-butiran jagung. Di pabrik, biji jagung direndam dalam air panas selama
satu atau dua hari. Setelah selesai dari tahap perendaman, dilakukan penggilingan kasar untuk
melepaskan bakal buahnya. Bakal tanaman kemudian dipisahkan dengan cara diapungkan
lalu dipres untuk menghasilkan minyak jagung. Rendemen minyak yang diperoleh mencapai
14,28 % untuk lama waktu ekstraksi 3 jam dan 14,50 % untuk lama waktu ekstraksi 6 jam.
Minyak jagung mengandung asam oleat 20%-50%, asam linoleat 35%-60%, fosfolipid
2% serta bahan tak tersabunkan 2% (tokoferol,sitosferol dan lilin). Selain itu, zat-zat yang
terkandung dalam minyak jagung murni adalah 99% triasilgliserol dengan asam lemak tak
jenuh ganda (PUFA) 59%, Asam lemak tak jenuh tunggal 24% dan asam lemak jenuh (SFA)
13%. Yang tak kalah penting, minyak jagung juga mengandung ubiquinon, alfatokoferol
tinggi dan gamma-tokoferol yang tinggi sehingga dapat menghindarkan dari "ketengikan"
oksidatif. Nutrisi penting lain dalam minyak jagung yang tidak kalah penting adalah vitamin
E yang sangat baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan juga bertindak sebagai
antioksidan dengan mencegah kerusakan akibat radikal bebas.
Daftar Pustaka

Novilla,A.2017. KOMPOSISI ASAM LEMAK MINYAK KELAPA MURNI (VIRGIN


COCONUT OIL) YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTI KANDIDIASIS.
https://www.researchgate.net/publication/320987387_KOMPOSISI_ASAM_LEMAK_MIN
YAK_KELAPA_MURNI_VIRGIN_COCONUT_OIL_YANG_BERPOTENSI_SEBAGAI_
ANTI_KANDIDIASIS . Ditelusuri pada 3 Oktober 2018 oleh anonim.

https://idtesis.com/pembuatan-minyak-kelapa-murni-virgin-coconut-oil-dengan-metode-
fermentasi-dengan-ragi-tempe/ . Ditelusuri pada 3 Oktober 2018 oleh anonim.

https://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_jagung . Ditelusuri pada 3 Oktober 2018 oleh


anonim.

Redaksi.2017. Minyak goreng sawit lebih sehat dibandingkan minyak nabati lain. Kandungan
nutrisi minyak goreng sawit lebih tinggi dan stabil saat digunakan untuk menggoreng
makanan. https://sawitindonesia.com/rubrikasi-majalah/sajian-utama/lebih-sehat-minyak-
goreng-sawit-ketimbang-minyak-kedelai/ . Ditelusuri pada 3 Oktober 2018 oleh anonim.