Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KEMANDIRIAN PROFESI

PEMETAAN DAN TERASERING

Disusun Oleh :
Nama : Jalu Murti Abdillah
NIM : H0716070

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan berkah, rahmat serta hidayah-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan laporan mata kuliah Kemandirian Profesi Pemetaan dan Terasering.
Di dalam penulisan laporan ini penulis banyak mengalami hambatan dan
kesulitan. Namun berkat bantuan dan bimbingan dari semua pihak maka laporan ini
dapat terselesaikan. Maka dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
2. Dosen pembimbing mata kuliah Kemandirian Profesi Pemetaan dan Terasering.
3. Teman-teman yang telah membantu dan melaksanakan mata kuliah
Kemandirian Profesi.
Semoga amal kebaikan dari semua pihak yang telah penulis sebutkan akan
mendapatkan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya penulis dapat
menyelesaikan laporan ini dan berharap semoga laporan ini bermanfaat khususnya
bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Penulis menyadari dalam penulisan
laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran
dan kritik yang bersifat membangun untuk kemajuan penulisan laporan ini.

Surakarta, Juli 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN ........................................................................................ i


KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Tujuan...................................................................................................... 2
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
ACARA I. PENGAMBILAN FOTO UDARA
A. Metodologi ............................................................................................ 3
1. Alat dan Bahan .................................................................................. 3
2. Cara Kerja .......................................................................................... 3
B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan .................................................. 4
1. Hasil Pengamatan .............................................................................. 4
2. Pembahasan ....................................................................................... 4
ACARA II. TERASERING
A. Metodologi ............................................................................................ 6
1. Alat dan Bahan .................................................................................. 6
2. Cara Kerja .......................................................................................... 6
B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan .................................................. 7
1. Hasil Pengamatan .............................................................................. 7
2. Pembahasan ....................................................................................... 7
ACARA III. ASDSADSADAS
A. Metodologi ............................................................................................ 12
1. Alat dan Bahan .................................................................................. 12
2. Cara Kerja .......................................................................................... 12
B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan .................................................. 13
1. Hasil Pengamatan .............................................................................. 13
2. Pembahasan ....................................................................................... 13
ACARA IV. SUMUR RESAPAN

iii
A. Metodologi ............................................................................................ 17
B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan .................................................. 20
3. Hasil Pengamatan .............................................................................. 20
4. Pembahasan ....................................................................................... 20
ACARA V. DIGITASI HASIL TUTUPAN LAHAN DARI CITRA
DRONE
A. Metodologi ............................................................................................ 25
1. Alat dan Bahan .................................................................................. 25
2. Cara Kerja .......................................................................................... 25
B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan .................................................. 26
1. Hasil Pengamatan .............................................................................. 26
2. Pembahasan ....................................................................................... 26
III. PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................... 28
B. Saran ...................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA

iv
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Unmanned Aerial Vehicle (UAV) merupakan sistem yang dapat


dikendalikan dari jarak jauh menggunakan gelombang radio. Sistem UAV
dijalankan dengan sistem otomatis dengan panduan navigasi GPS yang
terintegrasi pada UAV, ground station dengan perangkat lunak perencanaan
jalur terbang dan telemetri (Suryanta, 2014). Dewasa ini UAV adalah suatu
perangkat yang lebih sering disebut dengan drone. Penggunaan drone pada
awalnya hanya digunakan sebagai pemuas hobi dirgantara, tetapi seiring
perkembangan zaman drone sudah menjadi sebuah alat vital bagi seorang
surveyor dalam hal digitasi dan pemetaan suatu wilayah.
Pemetaan menggunakan drone adalah sebuah aktivitas untuk mendapatkan
sebuah peta wilayah dengan gambar yang dihasilkan oleh drone (Fotogrametri).
Fotogrametri adalah suatu metode pemetaan objek-objek / ruang dipermukaan
bumi (geo-spasial) yang menggunakan foto udara sebagai media. Dimana
dilakukan penafsiran objek dan pengukuran geometri untuk selanjutnya
dihasilkan peta garis, peta digital maupun peta foto. Proses ini menghasilkan
Peta Orthophoto Mosaic (mapping foto). Produk ini masih dapat dikembangkan
lagi menjadi Peta Garis / Peta Topografi yang detail dengan skala yang
diinginkan.
Kegiatan pemetaan memiliki banyak manfaat yang salah satunya adalah
manfaat di bidang pertanian. Pemetaan wilayah dapat memberikan informasi
sumber daya lahan dalam suatu wilayah. Salah satu objek informasi sumber daya
lahan adalah tanah. Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat
penting peranannya bagi kelangsungan hidup semua makhluk hidup yang ada di
permukaan bumi. Tanah berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman
serta kehidupan manusia dan berbagai kehidupan yang menunjang hidupnya
manusia.

1
2

Tanah yang sehat berperan sebagai bank nutrisi dengan menyimpan unsur
hara yang siap untuk digunakan oleh tanaman. Upaya-upaya mempertahankan
dan meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah adalah dengan melakukan
pengelolaan lahan dan tanaman secara terpadu. Pemetaan sumber daya lahan
adalah salah satu cara utama untuk dapat mengatur sebuah rangkaian kegiatan
guna memberi informasi sekaligus menentukan upaya pengelolaan yang tepat
bagi lahan suatu wilayah.
B. Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan kegiatan Kemandirian Profesi Pemetaan dan


Terasering adalah sebagai berikut:
1. Acara 1 Pengambilan Foto Udara bertujuan untuk mengetahui teknik
pengambilan gambar udara menggunakan drone
2. Acara 2 Terasering bertujuan untuk mengetahui teknik pengawetan tanah
dan pembuatan terasering
3. Acara 3 Biopori bertujuan untuk mengetahui dan mampu membuat biopori
4. Acara 4 Sumur Resapan bertujuan untuk mengetahui cara kerja sumur
resapan
5. Acara 5 bertujuan untuk mengetahui dan mampu memetakan dan
mendigitasi peta hasil citra drone
II. HASIL DAN PEMBAHASAN

ACARA I. PENGAMBILAN FOTO UDARA


A. Metodologi

1. Alat dan Bahan


a. Alat
1) Drone DJI Mavic Pro
2) Software Dronedeploy
3) Aplikasi DJI GO 4.0.
b. Bahan
1) Peta UNS
2. Cara Kerja
a. Menginstal software untuk drone (DJI GO 4.0. dan DroneDeploy) pada
perangkat seperti Handphone atau laptop
b. Menyiapkan titik yang akan difoto oleh drone
c. Menyiapkan drone dan mengkalibrasikan drone dengan software yang
telah diinstal
d. Menerbangkan drone
e. Meninjau dan mengamati foto yang di ambil melalui remote control drone
f. Mengunggah foto hasil tangkapan drone untuk dipadukan menjadi sebuah
peta

3
4

B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1. Hasil Pengamatan

Gambar 2.1.1 Hasil Citra Drone


2. Pembahasan
Pemetaan foto udara dengan drone merupakan sebuah kegiatan yang
dapat menghasilkan Peta Citra Udara yang berbasis spasial dengan lebih
cepat, akurat, efektif dengan biaya yang lebih terjangkau bila
dibandingkan dengan pemetaan melakukan metode lainnya. Foto yang
dihasilkan juga memiliki resolusi tinggi yakni hingga 5-10 cm GSD. Data
yang dihasilkan dapat diolah secara fotogrametri (Eisenbeiss 2009)
menjadi Peta Ortophoto, Peta Kontur dan lain sebagainya sesuai dengan
kebutuhan. Informasi yang di dapat melalui Pemetaan Foto Udara Drone
juga lebih akurat bahkan pergeseran yang di dapat hanya berkisar 5 – 10
cm. Kemudahan mendapatkan informasi ini sangat diperlukan bagi
pemilik usaha yang memerlukan tata ruang dan lahan usaha yang luas.
5

Gambar 2.1.2 Pengaturan Penerbangan Drone


Lokasi uji terbang hasil dilakukan di kawasan Universitas Sebelas
Maret Surakarta. Drone terbang dengan ketinggian 75m. Luas lahan yang
akan menjadi luas terbang drone yaitu seluas 8 ha. Waktu yang dibutuhkan
untuk menerbangkan drone seluas 8 ha yaitu 7 menit 54 detik. Hasil foto
udara yang dihasilkan drone dengan luasan 8 ha yaitu sebanyak 129 foto.
Arah terbang drone pada 0o dengan kecepatan 15 m/s. Hasil foto yang
dihasilkan tidak semua terbaca dikarenakan gangguan koneksi. Gangguan
koneksi juga dapat diakibatkan karena jauhnya jarak antara drone dan
remote control. Selain itu gangguan ini juga diakibatkan oleh baterai drone
yang lemah di tengah perjalanan.
6

ACARA II. TERASERING


B. Metodologi

1. Alat dan Bahan


a. Alat
1) Alat ukur (meteran)
2) Tali rafia
3) Patok
4) Kayu penahan
5) Selang
6) Sabit
7) Cangkul
b. Bahan
1) Lahan
3. Cara Kerja
a. Membuat teras yang dimulai dari bagian atas dan terus ke bagian
bawah lahan untuk menghindarkan kerusakan teras yang sedang
dibuat oleh air yang mengalir pada permukaan bila terjadi hujan
b. Menggali tanah bagian atas dan ditimbun ke bagian lereng bawah
sehingga terbentuk bidang olah baru. Tampingan teras dibuat miring,
jika tanah stabil tampingan teras bisa dibuat lebih curam (tegak lurus)
c. Kemiringan bidang olah berkisar antara 0% (datar) sampai 3%
mengarah ke saluran teras, atau mengarah ke bentuk lereng aslinya.
d. Mengukur panjang teras minimal 5 m dan lebar bidang olah yang
disesuaikan dengan tingkat kemiringan lahan.
e. Bibir teras dan bidang tampingan teras ditanami rumput atau legum
pakan ternak.
7

B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1. Hasil Pengamatan

Gambar 2.2.1 Site Praktek Pembuatan Terasering


2. Pembahasan
Menurut Sukartaatmadja (2004), pengertian terasering adalah
bangunan konservasi tanah dan air yang secara mekanis dibuat untuk
memperkecil kemiringan lereng atau mengurangi panjang lereng dengan
cara menggali dan mengurug tanah melintang lereng. Definisi lain dari
terasering adalah suatu pola atau teknik bercocok tanam dengan sistem
bertingkat (berteras-teras) sebagai upaya pencegahan erosi tanah.
Terasering merupakan bangunan konservasi tanah, teras-teras yang dibuat
sejajar dengan garis kontur alam yang dilengkapi dengan saluran
peresapan, saluran pembuangan air, dan tanaman penguat teras. Maka
upaya terasering sangat cocok dilakukan pada lahan yang miring. Bentuk
tanah atau lahan yang miring akan memudahkan pembuatan konsep
penataan terasering, karena yang perlu dilakukan hanya menyesuaikan
derajat kemiringan lahan tersebut. Namun demikian bukan berarti lahan
yang bentuknya datar tidak bisa digunakan untuk upaya terasering.
Pembuatan terasering bermanfaat untuk meningkatkan peresapan air
ke dalam tanah dan mengurangi jumlah aliran permukaan sehingga
memperkecil resiko pengikisan tanah oleh air (Yuliarta et al 2002). Teras
8

berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga


mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, dan memungkinkan
penyerapan air oleh tanah. Selain penghalau kecepatan aliran permukaan,
terasering mempunya beberapa manfaat lain yaitu antara lain:
a. Menambah stabilitas lereng
b. Memudahkan konservasi lereng
c. Memperpendek panjang lereng dan memperkecil kemiringan lereng
d. Bermanfaat untuk landscaping
Jenis-jenis terasering bermacam-macam. Saputro et al (2017)
membedakan terasering menjadi 4 macam yaitu: 1) teras datar, 2) teras
kredit, 3) teras guludan, dan 4) teras bangku. Semua jenis teras harus
disertai dengan penanaman tanaman penguat teras, seperti rumput dan
legum yang juga merupakan sumber pakan ternak (Idjudin 2011).
Berbagai jenis terasering yang telah disebutkan mempunyai
karakteristiknya masing-masing, yaitu antara lain:
Teras datar: Teras dengan bentuk tanggul yang sejajar kontur, serta
di lengkapi saluran air di bagian atas dan bawah
tanggul. Pembuatan teras datar harus memenuhi
beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu kelerengan
lahan harus ≤ 3 %, kedalaman tanah kurang dari 30 cm,
tanaman yang ditanam adalah tanaman musiman dan
berada pada daerah dengan curah hujan rendah. Selain
itu, kondisi permukaan tanah tidak boleh berbatu dan
dibuat di daerah yang tingkat resapan airnya cukup
tinggi sehingga tidak terjadi genangan serta aliran air
melewati tebing teras. Tujuan dari pembuatan teras
datar adalah untuk membuat lapisan tanah tetap lembab
dan memperbaiki aliran air. Selain itu teras datar juga
bertujuan untuk menahan dan mengawetkan air hujan
pada daerah-daerah dengan curah hujan yang rendah
(Pattimahu 2004).
9

Gambar 2.2.2 Penampang Teras Datar


Teras kredit: Teras dengan bentuk guludan tanah atau batu yang
sejajar kontur. Teras ini menggabungkan guludan dan
saluran air menjadi satu. Syarat yang harus dipenuhi
dalam pembuatan teras kredit adalah kemiringan lereng
antara 3 - 10 % (Kustamar f09) dengan kedalaman
tanah lebih dari 30 cm, tanah harus mempunyai daya
resap air yang tinggi dan tidak ada kanal yang rawan
longsor. Pembuatan teras kredit membutuhkan banyak
tenaga kerja dan harus dibuat di daerah yang tidak
sering terjadi hujan lebat.

Gambar 2.2.3 Penampang Teras Kredit


Teras guludan: Teras dengan bentuk guludan yang dibuat melintang
lereng. Teras guludan dibuat pada lereng dengan
kemiringan 10 - 15 % (Kustamar 2009) dan kedalaman
10

tanah lebih dari 30 cm. Seperti halnya teras daratan,


pembuatan teras guludan harus berada pada daerah
dengan daya resapan air yang tinggi. Selain itu,
diperlukan juga saluran pembuangan air yang aman.
Saluran air tersebut dibuat landai dengan kemiringan
0,1 % sehingga dapat menampung endapan tanah hasil
dari erosi.

Gambar 2.2.4 Penampang Teras Guludan


Teras bangku: Teras yang dibuat dengan memotong lereng sehingga
bidang olah miring ke belakang (reverse back slope)
dan membentuk deretan bangku. Teras bangku
dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan
ditanami rumput untuk menguatkan teras. Syarat
pembuatan teras bangku hampir sama dengan teras
guludan, hanya saja teras bangku dapat dibuat di
daerah dengan daya serap air yang rendah. Meski
demikian, teras bangku sulit diterapkan pada pertanian
yang menggunakan mesin pembajak yang besar serta
membutuhkan modal banyak dalam pembuatannya.
Teras bangku tidak dianjurkan pada tanah yang
bersolum dangkal dan kemiringannya sangat terjal
hingga >40% (Idjudin 2011).
11

Gambar 2.2.4 Penampang Teras Bangku


Pada kegiatan kemandirian profesi, mahasiswa diajarkan cara
pembuatan terasering. Pembuatan terasering sederhana membutuhkan
alat-alat berupa alat pengukur (meteran), selang, patok, kayu penahan,
sabit, cangkul, dan tali rafia. Lahan yang digunakan saat percobaan adalah
lahan miring di dekat Argobudoyo UNS. Mahasiswa mulai diajarkan cara
pengukuran lereng dengan selang air dan meteran, serta mematok titik
yang terlah ditemukan.
12

ACARA III. BIOPORI


A. Metodologi

1. Alat dan Bahan


a. Alat
1) Bor Tanah
b. Bahan
1) Seresah/sampah organik
2) Lahan
2. Cara Kerja
a. Membuat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan
diameter 10 sampai 30 cm.
b. Kedalaman lubang kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui
muka air tanah.
c. Jarak antar lubang antara 50 - 100 cm.
d. Mulut atau pangkal lubang dapat diperkuat dengan adukan semen
selebar 2 - 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang, supaya
tanah tidak jatuh ke dalam lubang (longsor).
e. Lubang diisi dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur,
sisa tanaman, dedaunan atau pangkasan rumput.
f. Sampah organik perlu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya
sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.
g. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir
musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.
13

B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1. Hasil Pengamatan

Gambar 2.3.1 Pembuatan Lubang Biopori di FP UNS


2. Pembahasan
Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat
berbagai akitivitas organisme di dalam tanah seperti cacing, perakaran
tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk
akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
Lubang-lubang biopori diharapkan dapat meningkatkan kemampuan
sebidang tanah untuk meresapkan air. Meningkatnya kemampuan tanah
dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di
permukaan tanah atau dengan perkataan lain akan dapat mengurangi
bahaya banjir yang mungkin terjadi.
Pembuatan biopori dapat dilakukan dengan membuat lubang vertical
ke dalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik,
seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau
vegetasi lainnya, dan sejenisnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan
sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehinga aktifitas mereka
akan meningkat. Meningkatnya aktifitas organisme di dalam tanah akan
meningkatkan jumlah biopori yang terbentuk. Sinergisitas antara lubang
14

vertikal yang dibuat dengan biopori yang terbentuk akan memungkinkan


lubang-lubang ini dimanfaatlkan sebagai lubang peresapan air artifisial
yang relatif murah dan ramah lingkungan.
Pembuatan lubang biopori merupakan solusi teknologi ramah
lingkungan untuk mengatasi ketersediaan air tanah dengan memanfaatkan
sampah organik melalui lubang kecil dalam tanah. Pembuatan biopori
tidak memerulkan ketersediaan lahan yang terlalu luas. Brata (2006)
mengutarakan bahwa teknologi biopori sangat cocok diterapkan di
wilayah perkotaan yang tanahnya banyak tertutup bangunan sehingga
penyerapan air menjadi rendah. Memanfaatkan lubang kecil dan sampah
organik maka wilayah perkotaan yang terlihat kering dan gersang akan
berubah menjadi wilayah yang ramah lingkungan. Selain itu sampah
organik yang tersimpan di dalam lubang dapat dijadikan sebagai sumber
penghasil kompos yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Beberapa manfaat teknologi biopori antara lain adalah:
1. Meningkatkan daya peresapan air dan cadangan air tanah.
Pembuatan lubang resapan biopori akan memperluas bidang
permukaan peresapan air seluas permukaan dinding lubang. Diameter
lubang biopori yang kecil akan mempunyai pertambahan luas bidang
peresapan yang lebih besar sehingga lubang resapan biopori dibuat
dengan diameter kecil. Lubang resapan biopori yang dibuat dengan
diameter kecil akan mengurangi beban resapan, sehingga laju peresapan
air dapat dipertahankan. Beban resapan adalah volume air yang masuk
ke dalam lubang dibagi luas permukaan resapan (dinding dan dasar
lubang).
Peningkatan diameter lubang meningkatkan beban resapan dan
mengurangi pertambahan luas bidang resapan. Kombinasi antara luas
bidang resapan dan adanya biopori secara bersama-sama akan
meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air. Peresapan air
hujan ini selain dapat mencegah banjir juga dapat meningkatkan
cadangan air tanah.
15

2. Mengubah Sampah Organik menjadi Kompos


Setiap rumah tangga akan menghasilkan sampah organik yang
berupa sampah dapur atau sampah tanaman pekarangan yang dapat
dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori. Sampah organik ini
merupakan sumber energi dan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh
biota tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi.
Sampah yang telah didekomposisi ini dikenal sebagai kompos. Melalui
proses dekomposisi, lubang resapan biopori akan berfungsi sekaligus
sebagai tempat pembuatan kompos. Kompos yang dihasilkan dapat
dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai
pupuk organik untuk berbagai jenis tanaman.
3. Mengurangi emisi CO2 dan Metan
Sampah organik yang berupa rumput, daun-daun kering dan
ranting-ranting sisa tanaman kaya akan sumber karbon. Pembakaran
sampah organik akan meningkatkan emisi gas-gas seperti CO2 dan
metan yang merupakan salah satu penyusun gas rumah kaca. Disinyalir
peningkatan emisi gas tersebut ke atmosfir merupakan salah satu
penyebab utama adanya pemanasan global yang ramai dibicarakan saat
ini. Pembuangan sampah organik ke dalam lubang resapan biopori
dapat memfungsikan tanah kembali sebagai penyimpan karbon,
sehingga dapat mengurangi emisi karbon ke atmosfir. Karbon yang
tersimpan di dalam tanah dalam bentuk humus tidak akan mudah
diemisikan, bahkan dapat memelihara kesuburan tanah.
4. Mengatasi penyebab penyakit yang ditimbulkan oleh adanya genangan
air.
Permukaan tanah terbuka yang terkena sinar matahari akan
ditumbuhi lumut yang dapat menyumbat pori, apalagi di daerah
pemukiman yang banyak dipenuhi bangunan. Hal ini akan
mengakibatkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah. Air yang tidak
meresap ke dalam tanah akan menimbulkan genangan air. Adanya
genangan air yang terus menerus ini merupakan habitat yang baik bagi
16

berkembang biaknya berbagai jenis nyamuk yang dapat menjadi


pembawa penyakit, seperti malaria dan demam berdarah dengue.
Pembuatan lubang resapan biopori dapat meresapkan genangan air
tersebut, sehingga mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Pada kegiatan kemandirian profesi, mahasiswa diajarkan untuk
membuat lubang biopori sederhana pada lahan kosong di depan Gedung A
Fakultas Pertanian UNS. Alat yang dibutuhkan untuk pembuatan lubang
biopori antara lain bor tanah, dan bahan yang dibutuhkan adalah seresah-
seresah yang diambil dari sekitar lahan tersebut. Pembuatan lubang biopori
dilakukan minimal sedalam 1 meter dengan bor tanah. Setelah menggali
lubang dengan bor tanah, seresah dimasukan ke dalam lubang hingga
penuh. Jadilah 1 lubang biopori.
17

ACARA IV. SUMUR RESAPAN


A. Metodologi

Pembuatan Sumur Resapan Air (SRA)


a. Persiapan
1. Penyiapan kelembagaan
a) Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi
b) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja
2. Pembuatan sarana dan prasarana
Pengadaan peralataan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan
bahan yang habis pakai.
3. Penataan areal kerja
a) Pembersihan lokasi sumur
b) Penentuan letak sumur
c) Pemasangan patok
d) Pembuatan bangunan sumur resapan air di tanah milik masyarakat,
tidak ada ganti rugi.
b. Pembuatan
1. Penggalian tanah
2. Pemasangan dinding sumur
3. Pembuatan saluran air
4. Pembuatan bak control
5. Pemasangan talang air
6. Pembuatan saluran pelimpasan
c. Pemeliharaan. Pemeliharaan bangunan sumur resapan air meliputi :
1. Pembersihan pipa saluran air/talang air bak control dan sal pelimpas
2. Pengerukan lumpur
d. Organisasi pelaksana
Sebagai pelaksana pembuatan sumur resapan air adalah kelompok
masyarakat setempat dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota
yang membidangi kehutanan.
18

e. Jadwal Kegiatan
Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang
tertuang dalam rancangan.
f. Hasil Kegiatan
Hasil kegiatan berupa bangunan sumur resapan yang dibuat dengan jumlah
dan ukuran sesuai dengan rancangan, dan untuk pemeliharaannya
diserahkan kepada masyarakat/penduduk desa.
Cara Mengaplikasikan Sumur Resapan
Untuk mengaplikasikan teknik pembuatan sumur resapan maka diperlukan
tahap sebagai berikut:
1. Melakukan analisis curah hujan. Analisa terhadap curah hujan dimaksudkan
untuk menghitung intensitas curah hujan maksimum pada perioda ulang
tertentu. Dengan mengetahui intensitas curah hujan maksimum maka
kapasitas sumur resapan akan dapat dihitung.
2. Menghitung luas tangkapan hujan. Bersama-sama dengan intensitas curah
hujan maksimum dengan periode ulang tertentu akan dapat dihitung
besarnya debit aliran.
3. Menganalisis lapisan tanah/batuan. Lapisan tanah terdiri dari berbagai
macam lapisan mulai dari tanah belempung, pasir berlempung dan gravel
atau kombinasi dari lapisan tersebut. Sumur resapan akan sangat efisien jika
dibuat sampai pada daerah dengan lapisan batuan yang terdiri dari pasir atau
gravel.
4. Pemasangan sumur. Sumur resapan dapat dibangun dengan menggunakan
bis beton dengan lapisan porus atau susunan batu bata yang disusun secara
teratur.

Untuk membangun sumur resapan agar dapat memberikan kontribusi yang


optimum diperlukan metoda perhitungan sebagai berikut (Sunjoto 1992):
1. Menghitung debit masuk sebagai fungsi karakteristik luas atap bangunan
dengan formula rasional (Q=CIA, Q=debit masuk, C=koefisien aliran (jenis
atap rumah), I=intensitas hujan, A=luas atap)
19

2. Menghitung kedalaman sumur optimum diformulakan sebagai berikut:H =


Q/FK
[1-exp(-(FKT/pR2)]H = Kedalaman air (m)
Q = Debit masuk (m3/dt)
F = Faktor geometrik (m)
K = Permeabilitas tanah (m/dt)
R = Radius sumur.
T = Durasi aliran (dt).
3. Evaluasi jenis fungsi dan pola letak sumur pada jarak saling pengaruh guna
menentukan kedalaman terkoreksi dengan menggunakan multi well system.
20

B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1. Hasil Pengamatan

Gambar 2.4.1 Bangunan Sumur Resapan di Fakultas Pertanian UNS


2. Pembahasan
Sumur resapan merupakan sumur atau lubang pada permukaan tanah
yang dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam
tanah. Sumur resapan ini kebalikan dari sumur air minum. Sumur resapan
merupakan lubang untuk memasukkan air ke dalam tanah, sedangkan air
minum berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan. Dengan
demikian, konstruksi dan kedalamannya berbeda. Sumur resapan digali
dengan kedalaman diatas permukaan air tanah, sedangkan sumur air
minum digali lebih dalam lagi atau dibawah muka air tanah (Kusnaedi
2011).
Sumur resapan adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air
berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai
bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai
tempat menampung air hujan yang jatuh di atas atap rumah atau daerah
kedap air dan meresapkannya ke dalam tanah. Sumur resapan dibuat untuk
meresapkan air hujan dalam rangka menambah cadangan air tanah.
Sasaran lokasi adalah daerah peresapan air di kawasan budidaya,
21

permukiman, perkantoran, pertokoan, industri, sarana dan prasarana olah


raga serta fasilitas umum lainnya.
Sumur resapan ini sangat baik dalam mengurangi besarnya aliran
permukaan sehingga menurunkan peluang terjadinya banjir maupun
kekeringan. Teknik konservasi tanah dan air dengan menggunakan metode
sumur ini dapat mengendalikan dampak dari air hujan dengan
meresapkannya ke dalam tanah sehingga air tidak banyak terbuang sebagai
aliran permukaan, menjaga cadangan air tanah, dan menjaga pemukiman
agar tidak tergenang (Sinaga 2017). Teknik konservasi air ini sangat
penting untuk dilakukan, terutama pada pemukiman yang cukup padat dan
memiliki ruang yang sangat sedikit untuk meresapkan air hujan.
Masyarakat pun dapat merasakan secara langsung manfaat dari adanya
bangunan konservasi tanah dan air ini.
Menurut Widodo (2013) pemanfaatan air tanah sebagai sumber air
bersih menjadi solusi terbaik dan termurah. Air tanah ini dapat
dimanfaatkan dalam kebutuhan sehari-hari baik oleh rumah tangga,
industri, hingga instansi pemerintahan. Berdasarkan Peraturan Gubernur
DKI Jakarta No. 68 Tahun 2005, pembuatan sumur resapan bertujuan
untuk menampung, menyimpan, dan menambah cadangan air tanah serta
dapat mengurangi limpasan air hujan ke saluran pembuangan dan badan
air lainnya, sehingga dapat dimanfaatkan pada musim kemarau sekaligus
mengurangi peluang timbulnya banjir. Adapun manfaat yang dapat
diperoleh dengan pembuatan sumur ini adalah sebagai berikut:
1. Mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air
2. Mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan
air tanah
3. Mengurangi atau menahan terjadinya intrusi air laut bagi daerah
yang berdekatan dengan wilayah pantai
4. Mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat
pengambilan air tanah yang berlebihan
5. Mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah
22

Konsep dasar sumur resapan adalah memberikan kesempatan dan


jalan pada air hujan yang jatuh di atap atau lahan yang kedap air untuk
meresap ke dalam tanah dengan jalan menampung air tersebut pada suatu
sistem resapan dan sumur resapan dalam kondisi yang kosong dalam tanah
dengan kapasitas tampung yang cukup besar sebelum air meresap ke
dalam tanah (Suripin 2004). Di sisi lain menurut Arafat (2008), prinsip
dasar sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung curah hujan ke
dalam sebuah sumur dengan tujuan agar air hujan memiliki waktu tinggal
di permukaan tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat
meresap ke dalam tanah.

Gambar 2.4.2 Ilustrasi Prinsip Kerja Sumur Resapan (Kusnaedi 2011)


Konsep dasar sumur resapan adalah memberikan kesempatan dan
jalan pada air hujan yang jatuh di atap atau lahan yang kedap air untuk
meresap ke dalam tanah dengan jalan menampung air tersebut pada suatu
sistem resapan dan sumur resapan dalam kondisi yang kosong dalam tanah
dengan kapasitas tampung yang cukup besar sebelum air meresap ke dalam
tanah (Suripin 2004). Di sisi lain menurut Arafat (2008), prinsip dasar
sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung curah hujan ke dalam
sebuah sumur dengan tujuan agar air hujan memiliki waktu tinggal di
permukaan tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat
meresap ke dalam tanah.
23

Menurut Kusnaedi (2011), dalam merencanakan pembuatan sumur


resapan perlu diperhitungkan faktor-faktor: iklim, kondisi air tanah, tata
guna lahan, dan kondisi sosial masyarakat. Iklim merupakan faktor yang
perlu dipertimbangkan dalam perencanaan sumur resapan, faktor yang
perlu mendapat perhatian adalah besarnya curah hujan. Semakin besar
curah hujan di suatu wilayah berarti semakin besar sumur resapan yang
diperlukan. Pada kondisi permukaan air tanah yang dalam, sumur resapan
perlu dibuat lebih besar karena tanah benar-benar memerlukan persediaan
air. Sebaliknya pada lahan yang muka airnya dangkal, sumur resapan ini
kurang efektif dan tidak akan berfungsi dengan baik, terlebih pada daerah
rawa dan pasang surut (Mulyana 1998).
Menurut Mulyana (1998), kondisi tanah sangat berpengaruh pada
besar kecilnya daya resap tanah terhadap air hujan. Dengan demikian
konstruksi dari sumur resapan harus mempertimbangkan sifat fisik tanah.
Sifat fisik yang langsung berpengaruh terhadap besarnya infiltrasi adalah
tekstur dan pori-pori tanah. Tanah berpasir dan porus lebih mampu
menginfiltrasikan air hujan dengan cepat. Faktor terakhir adalah
penutupan lahan. Penutupan lahan pun akan sangat berpengaruh terhadap
persentase air yang meresap ke dalam tanah. Tanah yang banyak tertutupi
beton bangunan, aliran permukaan akan lebih besar dibandingkan dengan
air yang meresap ke dalam tanah (Mulyana 1998).
Selain keempat faktor yang telah disebutkan di atas, menurut
Kusnaedi (2011) faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi sosial
ekonomi masyarakat. Pada masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi
yang baik maka akan membuat sumur resapan jenis permanen; berbeda
dengan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang kurang baik,
konstruksi yang akan dibuat tidak akan dibuat permanen dan dibuat dari
bahan-bahan yang murah.
24

Gambar 2.4.3 Contoh Desain Bangungan Sumur Resapan (Setiawan 2017)


25

ACARA V. DIGITASI HASIL TUTUPAN LAHAN DARI CITRA DRONE

A. Metodologi

1. Alat dan Bahan


a. Alat
1) Software ArcGis 10.5
b. Bahan
1) Hasil citra foto drone
2. Cara Kerja
a. Klik kanan pada folder tempat penyimpanan data, pilih New -->
Shapefile
b. Pada dialog Create New Shapefile, ketikkan nama shapefile di Name
dan pilih tipe data yang sesuai di Feature Type.
c. Klik Edit di bagian bawah kotak Spatial Reference, klik Select, pilih
sistem koordinat yang sesuai dan klik Add.
d. Sistem Koordinat terpilih masuk ke Spatial Reference Properties. Klik
OK.
e. Klik OK untuk menutup dialog Create New Shapefile. Shapefile baru
akan muncul di ArcCatalog.
f. Dari toolbar editor klik Editor – Start Editing
g. Pastikan pada drop-down Task : Create New Feature dan drop-down
h. Klik tombol Sketch Tool untuk memulai digitasi
i. Klik pada tepi obyek untuk memulai digitasi sehingga seluruh tepi
obyek terdigitasi
j. Dobel-klik atau tekan F2 untuk mengakhiri. Lakukan langkah yang
sama untuk obyek di tempat lain yang terpisah
k. Jika telah selesai mendigitasi, simpan hasilnya dengan mengeklik
Editor-Save Edits atau Stop Editing
l. Selanjutnya membuat layout untuk memberi keterangan dan identitas,
kemudian Export Data -> simpan file sebagai jpeg
26

B. Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1. Hasil Pengamatan

Gambar 2.5.1 Hasil Digitasi Tutupan Lahan dari Hasil Citra Drone
2. Pembahasan
Fotogrametri merupakan ilmu yang membuat pengukuran dari foto.
Keluaran fotogrametri biasanya berupa peta, gambar atau model 3D dari
beberapa objek dunia nyata atau bahkaan untuk mengetahui massa
tanah. Fotogrametri atau aerial surveying adalah teknik pemetaan melalui
foto udara. Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto dan tidak
dapat langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan peta. Pemetaan
secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara
terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga
kepada pengukuran batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada
peta foto harus diukur di lapangan. Menurut Heisenbeiss (2009)
Fotogrametri adalah suatu metode atau cara untuk mengkonstruksikan
27

bentuk, ukuran dan posisi pada suatu benda yang berdasarkan pemotretan
tunggal maupun stereoskopik.
Hasil kegiatan aerial surveying kemudian diproses dengan software
ArcGIS 10.5. Software ini digunakan untuk mengolah hasil gambar secara
digital dan sangat berguna untuk kepentingan penelitian atau inventarisasi
suatu kawasan. Kegiatan survei udara dilakukan di wilayah Universitas
Sebelas Maret bagian timur. Hasil gambar diolah dengan skala 1:3000.
Tutupan lahan yang didapat setelah mengolah hasil gambar ada 4 yaitu
tutupan vegetasi, gedung, jalan, serta pemukiman warga di luar wilayah
kampus.
III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari laporan mata kuliah Kemandirian


Profesi Pemetaan dan Terasering yaitu antara lain:
a. Pemetaan foto udara dengan drone merupakan sebuah kegiatan yang dapat
menghasilkan Peta Citra Udara yang berbasis spasial dengan lebih cepat,
akurat, efektif dengan biaya yang lebih terjangkau.
b. Pengambilan foto udara dilakukan di wilayah Universitas Sebelas Maret
dengan luas 8 ha.
c. Pembuatan terasering bermanfaat untuk meningkatkan peresapan air ke dalam
tanah dan mengurangi jumlah aliran permukaan sehingga memperkecil
resiko pengikisan tanah oleh air
d. Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai
akitivitas organisme di dalam tanah seperti cacing, perakaran tanaman, rayap
dan fauna tanah lainnya.
e. Sumur resapan adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa
bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur
gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air
hujan yang jatuh di atas atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya
ke dalam tanah.
f. Konsep dasar sumur resapan adalah memberikan kesempatan dan jalan pada
air hujan yang jatuh di atap atau lahan yang kedap air untuk meresap ke dalam
tanah.
g. Tutupan lahan hasil citra drone meliputi gedung, tutupan vegetasi, lapangan,
jalan, serta pemukiman di luar wilayah kampus UNS.
B. Saran

Saran yang dapat diberikan dalam mata kuliah Kemandirian Profesi Pemetaan
dan Terasering adalah agar jadwal yang telah ditentukan lebih dicermati lagi
agar tidak banyak yang kosong dan tidak ada pengarahan bagi mahasiswa.

28
DAFTAR PUSTAKA

Arafat Y. 2008. Reduksi Beban Aliran Drainase Permukaan Menggunakan Sumur


Resapan. J SMARTek 6(3): 144-153.
Eisenbeiss H. 2009. UAV Photogrammetry. Zürich: ETH Zürich.
Idjudin AA. 2011. Peranan konservasi lahan dalam pengelolaan perkebunan. J
Sumberdaya Lahan 5(2): 103-116.
Kusnaedi. 2011. Sumur Resapan untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan.
Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Kustamar. 2009. Konservasi lahan kawasan Kabupaten Sumba Timur. Spectra
13(7): 60-70.
Mulyana R. 1998. Penentuan tipe konstruksi sumur resapan berdasarkan sifat-sifat
fisik tanah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat di kawasan puncak
[tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Pattimahu DV. 2004. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi.
Makalah Falsafah Sains, Program Pascasarjana S3, IPB.
Saputro CD, Djarwanti N, Purwana YM. 2017. Analisis stabilitas lereng dengan
terasering dan perkuatan bronjong di Desa Sendangmulyo, Tirtomoyo,
Wonogiri. Matriks Teknik Sipil 5(2): 137-144.
Setiawan RE. 2017. Analisis Perhitungan Sumur Resapan dan Kebutuhan Air di
Persemaian Permanen, Kampus IPB Dramaga [skripsi]. Bogor (ID):
Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Sinaga TR. 2017. Analisis pengaruh sumur resapan terhadap aliran permukaan di
DAS mikro Cikardipa dengan metode simulasi SWAT [skripsi]. Bogor
(ID): Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Sukartaatmadja. 2004. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.
Sunjoto. 1992. Brosur Sistem Drainase Air Hujan Berwawasan Lingkungan.
Yogyakarta. Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta:
Penerbit Andi
Suryanta J. 2014. Penggunaan Unmanned Aerial Vehicle untuk Validasi Peta
Rawan Banjir di Kabupaten Kudus dan Pati. Cibinong: Badan Informasi
Geospasial.
Widodo T. 2013. Kajian ketersediaan air tanah terkait pemanfaatan lahan di
kabupaten Blitar. Jurnal Pengembangan Wilayah dan Kota 9(2): 122-133.