Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MAKALAH ISU KEBIJAKAN KETENAGAKERJAAN

” MEMPERJUANGKAN NASIB BIDAN VOKASI :


MENINJAU DRAF RUU KEBIDANAN TENTANG ISU KEBIJAKAN
LULUSAN BIDAN VOKASI TIDAK BISA PRAKTIK MANDIRI MULAI
TAHUN 2030”

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu tugas Mata Kuliah Kebijakan dan Kepemimpinan
Kesehatan
Dosen Pengampu : Dr. Bedjo Santoso, S.SIT., M.Kes

Disusun oleh :

Shinta Wurdiana Rhomadona P1337424716040

PROGRAM MAGISTER SAINS TERAPAN KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2016
MEMPERJUANGKAN NASIB BIDAN VOKASI :
MENINJAU DRAF RUU KEBIDANAN TENTANG ISU KEBIJAKAN
LULUSAN BIDAN VOKASI TIDAK BISA PRAKTIK MANDIRI MULAI
TAHUN 2030

Pada tahun lalu di suatu kesempatan yang membahas Rancangan Undang


– Undang (RUU) Kebidanan, Ketua PP IBI Emi Nurjasmi sempat mengatakan
bahwa lulusan bidan vokasi tidak bisa praktik mandiri mulai tahun 2030. Bidan
vokasi diberikan izin untuk melakukan Praktik Kebidanan di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan sedangkan Bidan profesi diberikan izin untuk melakukan
Praktik Kebidanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan praktik mandiri (NN,
Majalah Bidan, 28 Juli 2016). Melalui pernyataan tersebut tentu saja membuat
gelisah dan kuatir bagi para bidan yang sudah lulus D3 Kebidanan dan sudah
mempunyai Ijin melakukan praktik mandiri, mereka merasa pernyataan tersebut
yang sesuai di dalam RUU kebidanan merugikan mereka.
Dalam RUU Kebidanan yang kini tengah dibahas anggota DPR ini
terdapat ketentuan mengenai praktik kebidanan. Jika draft RUU Kebidanan ini
tidak mengalami perubahan maka lulusan pendidikan vokasi kebidanan tak bisa
praktik mandiri. Sesuai pengamatan penulis pada draf RUU Kebidanan yang
beredar bahwa dalam pasal 4 disebutkan untuk menjadi bidan harus mengikuti
pendidikan kebidanan yang terdiri dari pendidikan vokasi, pendidikan akademik
dan pendidikan profesi.
Pendidikan vokasi itu merupakan program diploma kebidanan (paling
rendah program D3 kebidanan). Pendidikan akademik terdiri dari program
sarjana kebidanan, program magister kebidanan dan program doktor kebidanan.
Pendidikan profesi dilaksanakan setelah lulus pendidikan akademik program
sarjana kebidanan. Kemudian pada pasal 5 disebutkan bahwa lulusan
pendidikan vokasi disebut Bidan vokasi. Apabila bidan vokasi akan menjadi
bidan profesi, maka harus melanjutkan pendidikan pada program sarjana
kebidanan atau melalui penyetaraan. Pada pasal 6, lulusan pendidikan akademik
mendapat gelar akademik sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-
undangan dan apabila akan menjadi bidan profesi harus melanjutkan pendidikan
profesi. Lulusan pendidikan profesi disebut bidan profesi.
Pada pasal 7, ditegaskan kembali bahwa sebelum menjadi bidan vokasi
atau bidan profesi, mahasiswi kebidanan pada akhir masa pendidikan vokasi
atau pendidikan profesi harus mengikuti Uji Kompetensi yang bersifat nasional.
Selanjutnya pada pasal 13 disebutkan bahwa setiap bidan yang akan
menjalankan Praktik Kebidanan wajib memiliki STR (Surat Tanda Registrasi)
yang diberikan oleh Konsil Kebidanan. Mengenai ijin praktik terdapat pada
pasal 18. Bidan yang akan menjalankan Praktik Kebidanan wajib memiliki izin
Praktik dalam bentuk SIPB. SIPB berlaku hanya untuk satu tempat Praktik
Kebidanan dan Bidan paling banyak mendapatkan dua SIPB.
Mengenai aturan bidan yang akan membuka praktik mandiri terdapat
dalam pasal 21. Bidan vokasi diberikan izin untuk melakukan Praktik
Kebidanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan sedangkan Bidan profesi diberikan
izin untuk melakukan Praktik Kebidanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan
praktik mandiri.
Pada dasarnya RUU Kebidanan di buat untuk mendukung dan
memberikan payung hukum bagi para bidan dalam melaksanakan peran dan
tugasnya, terutama bidan yang bekerja di daerah terpencil. Dengan Undang –
Undang ini diharapkan dapat memberikan status dan kepastian kenyamanan dan
keamanan dalam bekerja didaerah dan desa terpencil. Selain itu dalam RUU ini
akan mengatur tentang pendidikan, pelayanan dan registrasi serta bagaimana
bidan menjalankan kewajibanya sesuai dengan UU. Mengapa pentingnya RUU
Kebidanan ini segera disyahkan dapat dilihat sebagai seorang bidan dimana
mempunyai tugas sebagai ujung tombak dan garda terdepan dalam pelayanan
kesehatan yang berada di tengah-tengah masyarakat sering dihadapkan pada
kasus-kasus dilematis seperti budaya, kepercayaan, nilai-nilai, termasuk
masalah geografis, transportasi dan komunikasi yang dapat berlanjut menjadi
masalah hukum. Bahkan dapat membahayakan keselamatan dan keamanan
dirinya dan masyarakat yang dilayani. Agar bidan dapat memberikan pelayanan
yang optimal dan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan ibu dan
anak balita, oleh karena itu perlu didukung dengan kebijakan yang jelas dan
tegas dengan sarana & prasarana yang memadai serta kesempatan
pengembangan diri untuk menjaga dan meningkatkan kemampuannya.
Antusiasme terwujudnya RUU Kebidanana tersebut tentunya disambut
bahagia oleh para bidan di Indonesia seharusnya, akan tetapi beberapa isi dari
RUU Kebidanan tersebut ada yang membuat kegelisahan sebagian bidan-bidan
di Indonesia yaitu tentang pengaturan pendidikan dimana berpengaruh pada
bidan mana yang boleh memberikan pelayanan secara mandiri atau hanya dapat
memberikan pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan. Seperti tertulis dan
sudah dijelaskan di alinea awal pada pasal 21 yaitu bidan vokasi (Paling rendah
lulusan D3 Kebidanan) diberikan izin untuk melakukan Praktik Kebidanan di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan sedangkan hanya bidan profesilah ( lulusan
pendidikan akademik program sarjana kebidanan yang melanjutkan pendidikan
profesi yang telah diatur UU yang berlaku) yang diberikan izin untuk
melakukan Praktik Kebidanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan sekaligus
praktik mandiri. Sedangkan kenyataanya yang ada sekarang masih banyak
bidan-bidan yang sudah mendirikan praktik mandiri masih berstatus bidan
vokasi (lulusan D3 Kebidanan atau D4 Kebidanan) yang tidak semua memiliki
kesempatan yang baik untuk dapat melanjutkan pendidikan di bidan akademik
dan profesi karena terganjal biaya, tempat yang terpencil serta masih sedikitnya
ketersediaan institusi pendidikan akademik kebidanan di Indonesia (tercatat
masih ada 3 institusi pendidikan Sarjana Kebidanan) tentunya hal ini juga yang
membuat akan semakin sulitnya terwujudnya harapan seperti yang ada di RUU
pasal 4, 5, 7 dan 21 tersebut.
Selama ini menurut peraturan yang berlaku seperti yang ada di
Permenkes RI Nomer 1464/menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Bidan pada pasal 1 disebutkan bahwasana yang
disebut Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang
telah teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan. Dan pada
pasal ke -2 dijelaskan bahwa Bidan dapat menjalankan praktik mandiri dan/atau
bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan. Bidan yang menjalankan praktik
mandiri harus berpendidikan minimal Diploma III (D III) Kebidanan. Dan
persyaratan-persyaratan mengenai perizinan dalam menjalankan Praktik
Mandiri juga sudah diatur dalam Permenkes tersebut secara lengkap. Dan untuk
menstandarisasi agar sesuai dengan mutu pelayanan kesehatan IBI sebagai
organisasi profesi pun telah mengadakan program Bidan delima dimana salah
satu misi Bidan Delima yaitu meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan di
BPM. Bidan Delima merupakan suatu sistem standarisasi kualitas pelayanan
BPM dengan penekanan pada kegiatan monitoring dan evaluasi serta kegiatan
pembinaan & pelatihan yang rutin dan berkesinambungan.Walaupun program
ini sudah cukup lama ada (kurang lebih 13 tahun saat ini) tetapi masih banyak
BPM di Indonesia di 34 provinsi yang belum terstandarisasi dengan “Bidan
Delima” ini. Dari sekitar 200.000 bidan, hanya ada sekitar 40.000 BPM di
Indonesia, dan ternyata baru 35% ( sekitar 14.200) BPM tersebut yang
bersertifikat dan terakreditasi bidan delima. Disemarang saja dari 500 BPM
yang ada , hanya 172 BPM yang sudah terakreditasi sebagai bidan delima.
Nah jika dilihat dari fakta- fakta yang ada maka jika RUU Kebidanan tersebut
disyahkan akan banyak BPM di Indonesia yang akan ditutup perizinanya karena
terganjal masalah syarat pendidikan yang harus ditempuh seorang bidan vokasi
untuk dapat praktik secara mandiri. Padahal Indonesia masih membutuhkan
bidan-bidan dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Anak guna menurunkan AKI
dan AKB yang masih tinggi. Padahal bidan vokasi tidaklah kalah bermutu jika
dibanding bidang akademik, bukan bermaksud membuat perbedaan skil hanya
saja sesuai pengertianya pendidikan vokasi selama ini dibuat untuk
mempersiapkan tenaga yang dapat menetapkan keahlian dan ketrampilan di
bidangnya, siap kerja dan mampu bersaing secara global.
Secara umum pendidikan vokasi (program diploma) bertujuan
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan tenaga ahli profesional dalam menerapkan, mengembangkan, dan
menyebarluaskan teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan
penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan
memperkaya kebudayaan nasional. Secara khusus, program diploma III
diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang menguasai kemampuan dalam
bidang kerja tertentu sehingga dapat langsung diserap sebagai tenaga kerja di
industri/swasta, lembaga pemerintah atau berwiraswasta secara mandiri, hal ini
karena beban pengajaran pada program pendidikan vokasi telah disusun lebih
mengutamakan beban mata kuliah ketrampilan dibandingkan dengan beban
mata kuliah teori. Apalagi sekarang sudah berdirinya pendidikan lanjutan bagi
para bidan vokasi yaitu ke jenjang Magister Sains Terapan yang pertama
kalinya diadakan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang yang kemudian
diikuti beberapa institusi pendidikan mendirikan jurusan yang sama karena
memang saat ini perkembangan pendidikan vokasi sangat dibutuhkan di dunia
kerja bahkan sampai kualifikasi Magister Terapan sebagai pemenuh kebutuhan
dosen, peneliti, manajer, di bidang kesehatan. Ditunjang baru-baru ini sesuai ijin
dari MENRISTEK DIKTI RI sesuai dengan SK No 451/KPT/I/2016, Tanggal 1
November 2016 telah dibuka juga pendidikan profesi Bidan lulusan vokasi.
Belum lagi dilihat fenomena jumlah bidan semakin bertambah banyak
karena semakin banyaknya kampus-kampus yang menghasilkan lulusan
kebidanan di Indonesia (paling banyak bidan vokasi tentunya). Diprediksi
Indonesia akan mengalami kelebihan bidan pada tahun 2017 akibat
membludaknya lulusan kebidanan. Kebutuhan bidan yang ideal adalah 1 bidan
untuk 1.000 warga. Dengan perkiraan populasi Indonesia pada tahun 2012
adalah 250 juta jiwa, maka kebutuhan pada saat itu adalah 250 ribu orang
tenaga bidan untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia. Menurut PP IBI, saat
ini sudah ada sekitar 200 ribu lulusan kebidanan dan sudah tercatat sekitar 101
ribu yang terdaftar sebagai anggota PP IBI. Padahal dengan sekitar 726 akademi
kebidanan, 3 universitas dengan jurusan S-1 kebidanan dan 2 instansi untuk S-2
maka tiap tahun ada 29 ribu bidan baru. Dengan perbandingan tersebut,
diperkirakan pada tahun 2017 akan terjadi surplus bidan.
Dari ulasan diatas “Apakah masih ada prospek lulusan bidan vokasi
negeri ini akibat hal tersebut untuk mengembangkan ketrampilannya dalam
memberikan pelayanan secara mandiri?” Oleh karena itu harapan yang
terbaik hendaknya pihak yang terkait baik dari organisasi profesi dan
pemerintah meninjau kembali kebijakan pada draf RUU Kebidanan khusunya
pada pasal-pasal yang terkait dengan pendidikan bidan sehingga nantinya tidak
tumpang tindih dengan peraturan/kebijakan yang sudah berlakudan tidak saling
merugikan satu sama lain khususnya lulusan bidan vokasi yang kurang
mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan akademik kebidanan
padahal dari segi mutu dan kualitas sudah ada yang terstandarisasi oleh
“Program Bidan Delima” yang layak untuk mendirikan BPM. Didukung juga
oleh MENRISTEK DIKTI RI yaitu atas ijin pembukaan prodi pendidikan
profesi bagi lulusan vokasi tanpa harus melanjutkan dulu ke pendidikan
akademik terlebih dahulu, tentunya sanggat disayangkan calon bidan yang
bermutu dan berdaya saing tersebut tidak dapat berpartisipasi dalam
menurunkan AKI dan AKB dengan memberikan pelayanan secara mandiri dan
prima di daerahnya masing-masing yang masih membutuhkan bidan.
DAFTAR PUSTAKA

Bryar, R. 1995. Theory for Midwifery Practie, Edisi I. Mac Millan:Houndmillo.


Cahyani, A, 2003. Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen. PT. Grasindo,
Jakarta.
Depkes RI. 1995. Pusdiknakes, Konsep Kebidanan , Jakarta.
www.Profesi Bidan di Masa Depan.com
Makalah Pelatihan Manajemen Asuhan Kebidanan (2002) Tim Pusat
Pengembangan Keperawatan Corolus (PPKC), Yogyakarta
Prawiroharjo, Suryono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo.
Henderson, Christine dkk. 2006. Konsep Kebidanan. EGC. Jakarta.
Draf Rancangan Undang-Undang Kebidanan Kesra, 18 Mei 2016
Permenkes RI Nomer 1464/menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Bidan.
NN. 2016. Ketua PP IBI : Lulusan Bidan Vokasi Tidak Bisa Praktik Mandiri
Mulai Tahun 2030.Majalah Bidan , edisi 28 Juli 2016.
Poltekes Kemenkes Semarang. 2015. Berita : Bibuka Program Pasca Sarjana
Poltekes. http://www.poltekkes-smg.ac.id/index.php/306-dibuka-program-
pascasarjana-poltekkes, diakses tanggal 01 Januari 2017